UJIAN AKHIR SEMESTER(UAS)
PROGRAM STUDI DESAIN KOMIKASI VISUAL
FAKULTAS SENI RUPA
INSTITUT KESENIAN JAKARTA TA 2020/2021
Mata kuliah: PPKN
Hari/tanggal: Rabu,6 januari 2021
Pengampuh: Firman Lie, M.Sn.
Bengkulu adalah salah satu nama provinsi di Pulau Sumatera yang mempunyai
rumah adat resmi bernama Rumah Bubungan Lima.
Bengkulu ditempati berbagai suku dengan keanekaragaman budaya yang
tinggi, termasuk bentuk rumah adat dari masing-masing suku bangsa
tersebut.
Akibatnya, selain Bubungan Lima masih terdapat beberapa rumah adat
Bengkulu lain sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan.
Bagaimana detail berbagai rumah adat Bengkulu tersebut?
Ikuti ulasannya, ya!
Asal usul Rumah Adat Bengkulu (Bubungan
Lima)
Rumah adat Bubungan Lima mengacu pada suatu arsitektur tradisional
berbentuk rumah panggung yang dibuat dari bahan kayu.
Nama Bubungan Lima dirujuk dari kata bubung yang dalam bahasa Melayu
berarti atap, kemudian mendapat imbuhan sesuai dengan bentuk atap yang
digunakan.
Oleh karena itu, rumah adat khas Bumi Rafflesia ini juga biasa dikenal dengan
nama-nama lain seperti Bubungan Limas, Bubungan Haji, dan Bubungan
Jembatan.
Rumah adat Bubungan Lima ini lebih identik dengan suku Melayu Bengkulu
dan beberapa ornamen dipengaruhi budaya suku Lambak yang merupakan
suku bangsa asli dari daerah ini.
Sketsa bentuk atap rumah adat bengkulu “Bubungan Lima”. Sumber:
https://prestylarasati.wordpress.com
Bentuk atap rumah adat bengkulu Bubungan Limas. Sumber:
https://prestylarasati.wordpress.com
Bentuk atap rumah adat bengkulu Bubungan Jembatan. Sumber:
https://prestylarasati.wordpress.com
Bentuk atap rumah adat bengkulu Bubungan Haji. Sumber:
https://prestylarasati.wordpress.com
Mulanya, rumah Bubungan Lima hanya diperuntukkan sebagai hunian para
tetua adat atau yang dibangun demi kebutuhan khusus.
Sebagai contoh kegunaan rumah Bubungan Lima di masa lalu adalah tempat
kegiatan ritual adat seperti penyambutan tamu agung, pelaksanaan
pernikahan, prosesi kelahiran, dan upacara kematian.
Sedangkan untuk rakyat secara umum rumahnya dinamai rumah Umeak
Potong Jang dan rumah Patah Sembilan, mengadopsi rumah suku Rejang
yang saat ini banyak berdomisili di Lebong, Bengkulu Tengah dan Bengkulu
Utara.
Pakaian Adat Bengkulu – Provinsi Bengkulu terletak di sebelah Barat Daya
Pulau Sumatera. Provinsi adalah sebuah daerah yang sangat kaya akan unik.
Kekayaan nilai-nilai budaya adat di provinsi Bengkulu telah terpupuk
semenjak nenek moyang dan masih tetap terjaga hingga jaman sekarang
misalnya bisa kita jumpai pada pakaian adatnya.
Pakaian adat Bengkulu yang unik ini mungkin semakin asing dan tidak
populer oleh kebanyakan masyarakat terutama generasi muda. Padahal
sesungguhnya sarat dengan makna filosofis disamping menyimpan keunikan
yang menarik. Anda akan mengetahui dimana keunikan pakaian tradisional
Provinsi Bengkulu ini setelah membaca pembahasan ini.
Suku asli penduduk Bengkulu misalnya suku Rejang, Serawai, Lembak, dan
Pekal sebenarnya ialah bagian dari sub suku Melayu. Oleh karena itu, pada
masing-masing adat dan budaya yang mengalir dari setiap suku tersebut
berasal dari budaya yang sejenis, yakni budaya Melayu.
Budaya masyarakat Melayu di Bengkulu tentunya mempunyai beberapa
perbedaan dibandingkan dengan budaya Melayu pada umumnya. Perbedaan
ini terjadi akibat adanya pencampuran budaya dengan pengaruh kekhasan
alam sekitarnya.
Salah satu bentuk akulturasi atau pencampuran budaya ini misalnya bisa kita
temui dari pakaian adat masyarakat Bengkulu yang unik seperti bisa Anda
lihat pada gambar di bawah ini.
Pakaian adat provinsi Bengkulu atau bisa disebut sebagai pakaian tradisional
Melayu Bengkulu tampaknya memang mempunyai kemiripan dengan pakaian
yang berasal dari suku Melayu Riau, Melayu Deli, Palembang, atau
Lampung.
Pakaian Adat Pria Bengkulu
Para pria di Bengkulu memakai pakaian adat yang terdiri dari jas, celana
panjang, alas kaki dan tutup kepala. Untuk jas dibuat dari bahan wol atau
beludru dengan warna hitam, celana dibuat dari bahan kain satin yang
berwarna gelap.
Untuk tutup kepala dibuat dengan bentuk mancung ke atas mirip dengan tutup
kepala pada pakaian adat Melayu Riau. Tutup kepala ini dikenal dengan
sebutan detar.
Penggunaan celana panjang pada umumnya juga disertai dengan lipatan
sarung yang dipasang pada pinggang setinggi lutut sebagai aksesoris. Sarung
ini ialah sarung songket dan menggunakan motif emas yang ditenun.
Sesuai cara pemakaiannya, oleh masyarakat Melayu Bengkulu, sarung
tersebut dinamai sarung segantung. Sebagai aksesori, pemakain busana adat
Bengkulu pada pria umumnya juga dilengkapi hiasan gelang emas pada
tangan kanan, serta sebilah keris yang merupakan senjata tradisional sebagai
sarana perlindungan diri.
Pakaian Adat Wanita Bengkulu
Untuk pakaian adat wanita Bengkulu mempunyai kesamaan dengan pakaian
adat Melayu pada lazimnya, yaitu berwujud baju kurung lengan panjang yang
terbuat dari kain beludru.
Baju kurung ini berhiaskan motif sulaman emas dengan bentuk bulat-bulat
seperti lempengan uang logam. Warna yang paling dominan yang dipakai
untuk baju kurung ini biasanya warna-warna tua, seperti merah tua,
lembayung, biru tua, dan hitam.
Baju kurung dipadupadankankan dengan busana bawahan, yaitu kain songket
dengan bahan sutra yang dihiasi motif benang-benang emas. Sarung yang
dipakai para wanita Bengkulu umumnya mirip dengan sarung yang dipakai
pada pakaian adat pria.
Untuk semakin menambah cantik penampilan, selain memakai pakaian adat,
para wanitra juga akan mengenakan beberapa aksesoris lain, antara lain
sanggul lengkap dengan tusuk kondenya, anting atau giwang emas, serta
mahkota dengan hiasan kembang goyang, ikat pinggang, kalung bersusun,
gelang emas pada pergelangan tangan, serta sepasang alas kaki berupa slop
bersulam emas.
Dengan aksesoris-aksesoris yang unik ini, wanita Bengkulu akan semakin
terlihat cantik dan penampilan menjadi lebih sempurna.