The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by airyos1973, 2022-11-09 00:22:51

GARENG

GARENG

Gareng adalah salah satu punakawan, dimana
dalam kisah pewayangan khususnya di daerah
Jawa Tengah, Gareng adalah anak Pertama atau
Sulung dari Punakawan Semar, namun sebenarnya
Gareng bukanlah anak kandung dari Semar.
Terdapat banyak versi dan kisah cerita dari

munculnya tokoh bernama Gareng.

Dalam suatu carangan, Gareng dikisahkan sebagi
seseorang yang mempunyai nama Bambang
Sukskati, putra Resi Sukskadi dari padepokan
Bluluktiba. Bertahun-tahun Bambang Sukskati
bertapa di bukit Candala untuk mendapatkan
kesaktian. Setelah selesai tapanya, ia kemudian
minta ijin pada ayahnya untuk pergi menaklukan
raja-raja.
Di tengah perjalanan Bambang Sukskati bertemu
dengan Bambang Panyukilan, putra Bagawan
Salantara dari padepokan Kembangsore. Karena
sama-sama congkaknya dan sama-sama
mempertahankan pendiriannya, terjadilah
peperangan antara keduanya. Mereka mempunyai
kesaktian yang seimbang, sehingga tiada yang
kalah dan menang. Mereka juga tak mau berhenti
berkelahi walau tubuh mereka telah saling cacad
tak karuan. Perkelahian baru berakhir setelah
dilerai oleh Semar/Sanghyang Ismaya. Karena

sabda Sanghyang Ismaya, berubahlah wujud
keduanya menjadi sangat jelek. Tubuh Bambang
Sukskati menjadi cacad. Matanya juling, hidung
bulat bundar, tak berleher, perut gendut, kaki
pincang, tangannya bengkok/tekle/ceko (Jawa).
Oleh Sanghyang Ismaya namanya diganti menjadi
Nala Gareng, sedangkan Bambang Panyukilan
menjadi Petruk. Karena Batara Ismaya ini adalah
pamong para ksatria Pandawa yang berjalan di atas
kebenaran, maka dalam bentuk Jangganan Samara
Anta, dia (Ismaya) memberi nasihat kepada kedua
ksatria yang baru saja berkelahi itu.
Karena kagum oleh nasihat Batara Ismaya, kedua
ksatria itu minta mengabdi dan minta diaku anak
oleh Lurah Karang Dempel, titisan dewa (Batara
Ismaya) itu. Akhirnya Jangganan Samara Anta
bersedia menerima mereka, asal kedua kesatria itu
mau menemani dia menjadi pamong para kesatria
berbudi luhur (Pandawa), dan akhirnya mereka
berdua setuju. Gareng kemudian diangkat menjadi
anak tertua (sulung). Seperti halnya Punakawan

yang lain, bentuk dan nama lain (alias) Gareng-pun

memiliki banyak makna filosofisnya.

Gareng mempunya beberapa nama lain, yaitu :
Pancalpamor (artinya menolak godaan duniawi) -
Pegatwaja (artinya gigi sebagai perlambang bahwa
Gareng tidak suka makan makanan yang enak-enak
yang memboroskan dan mengundang penyakit) -
Nala Gareng (artinya hati yang kering, kering dari
kemakmuran, sehingga ia senantiasa berbuat baik).
Sedangkan ciri fisik dari tokoh Gareng adalah:
1. Mata juling - artinya tidak mau melihat hal-hal

yang mengundang kejahatan/ tidak baik.
2. Tangan ceko (melengkung) - artinya tidak mau

mengambil/ merampas hak orang lain.
3. Sikil gejik (seperti pincang) - artinya selalu penuh

kewaspadaan dalam segala perilaku.
Gareng senang bercanda, setia kepada tuannya, dan
gemar menolong. Dalam pengembaraannya pernah
menjadi raja bernama Prabu Pandu Bergola di
kerajaan Parang Gumiwang. Ia sakti mandraguna,

semua raja ditaklukkannya. Tetapi ia ingin mencoba
kerajaan Amarta ( tempat ia mengabdi ketika
menjadi punakawan).Semua satria pandawapun
dikalahkannya. Sementara itu Semar, Petruk dan
Bagong sangat kebingungan karena kepergian
Gareng.
Untunglah Pandawa mempunyai penasehat yang
ulung, yaitu Prabu Kresna. Ia menyarankan kepada
Semar, jika ia ingin bertemu dengan Gareng
relakanlah Petruk untuk untuk menghadapi Pandu
Bergola. Semar tanggap dengan ucapan Krena,
sedangkan hati Petruk menjadi ciut nyalinya. Petruk
berfikir Semua raja juga termasuk Pandawa saja
dikalahkan Pandu Bergola, apa jadinya kalau dia
yang menghadapinya. Melihat kegamangan Petruk,
Semar mendekat dan membisikkan sesuatu
kepadanya. Setelah itu petruk menjadi
semangat dan girang, kemudian ia berangkat
menghadapi Pandu Bergola.
Saat Pandu Bergola sudah berhadapan dengan
Petruk, ia selalu membelakangi ( tidak mau bertatap

muka), jika terpaksa bertatap muka ia selalu
menunduk. Tetapi Petruk senantiasa mendesak
untuk bertanding. Akhirnya terjadilah perang
tanding yang sangat ramai, penuh kelucuan dan
juga kesaktian. Saat pergumulan terjadi Pandu
Bergola berubah wujud menjadi Gareng. Tetapi
Petruk belum menyadarinya. Pergumulan terus
berlanjut, sampai pada akhirnya Semar
memisahkan keduanya. Begitu tahu wujud asli
Pandu Bergola, Petruk memeluk erat-erat
kakaknya (Gareng) dengan penuh girang. semua
keluarga Pandawa ikut bersuka cita karena abdinya
telah kembali.
Gareng ditanya oleh Kresna, mengapa melakukan
seperti itu. ia menjawab bahwa dia ingin
mengingatkan tuan-tuannya (Pandawa), jangan
lupa karena sudah makmur sehingga kurang/
hilang kehati-hatian serta kewaspadaannya.
Bagaimana jadinya kalau negara diserang musuh
dengan tiba-tiba? negara akan hancur dan rakyat
menderita. Maka sebelum semua itu terjadi Gareng

mengingatkan pada rajanya. Pandawa merasa
gembira dan beruntung punya abdi seperti Gareng.
Makna yang terkandung dalam kisah Gareng adalah
:
1. Jangan menilai seseorang dari wujud fisiknya.

Budi itu terletak di hati, watak tidak tampak pada
wujud fisik tetapi pada tingkah dan perilaku.
Belum tentu fisiknya cacat hatinya jahat.
2. Manusia wajib saling mengingatkan.
3. Jangan suka merampas hak orang lain.
4. Cintailah saudaramu dengan setulus hati.
5. Kalau bertindah harus dengan penuh
perhitungan dan hati-hati.


Click to View FlipBook Version