The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by airyos1973, 2022-11-09 00:15:56

SEMAR

SEMAR

Siapa yang tak kenal dengan Semar? Setidaknya
kebanyakan orang tahu Semar adalah pimpinan
empat sekawan "Punakawan". Sepintas memang
tokoh Semar sebatas melucu dan pereda
ketegangan penonton di tengah malam. Namun,
menurut Sobirin bahwa dulu Sang Hyang Wenang
menciptakan Hantigo berupa telur. Cangkangnya

itu Togog, sedangkan putihnya menjadi Semar dan
kuningnya menjadi Batara Guru.
Semar yang memiliki badan gemuk tak jelas laki-
laki atau perempuan. Hal tersebut menunjukkan
bahwa manusia pada dasarnya tidak ada yang
sempurna dan masing-masing memiliki ciri khas,
karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik
Tuhan. Umumnya, masyarakat mengenal bahwa
Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa yang mana
memiliki anugerah Mustika Manik Astagina dan 8
Daya, yaitu :

▪ Tidak pernah Lapar
▪ Tidak pernah Jatuh Cinta
▪ Tidak pernah Sedih
▪ Tidak pernah Capek
▪ Tidak pernah Sakit
▪ Tidak pernah Kepanasan
▪ Tidak pernah Kedinginan

Sejarah Semar

Menurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana,

tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya

sastra zaman Kerajaan Majapahit

berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakimpoi,

kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam

Candi Sukuh yang berangka tahun 1439. Semar

juga dikisahkan Sebagai Abdi atau hamba tokoh

utama cerita tersebut, yaitu Sahadewa dari

keluarga humor untuk mencairkan suasana yang

tegang.

Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan

Islam berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun

digunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-

Kisah yang dipentaskan masih seputar

Mahabharata yang saat itu sudah melekat kuat

dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama

yang terkenal sebagai ahli budaya, misalnya Sunan

Kalijaga. Dalam pementasan wayang, tokoh Semar
masih tetap dipertahankan keberadaannya, bukan
peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah
Sudamala.

Lukisan Semar gaya Surakarta

Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar
semakin meningkat lagi. Para pujangga Jawa dalam
karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar
bukan sekedar rakyat jelata biasa, melaikan
penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara
Guru (raja para dewa). Banyak sekali versi yang
mengkisahkan asal usul Semar. Namun sebagian
besar mengatakan bahwa Semar adalah jelmaan
Dewa.
Seperti yang ditulis dalam naskah Serat Kanda
yang mengkisahkan penguasaan kahyangan adalah
Sang Hyang Nurrasa dan memiliki dua putra yang
bernama Sanghyang Tunggal dan Sang Hyang
Wenang. Karena Sang Hyang Tunggal berwajah
jelek, maka tahta kahyangan pun diturunkan ke
Sang Hyang Wenang. Kemudian, tahta diwariskan
lagi ke putranya yang bernama Batara Guru, hingga

Sang Hyang Tunggal pun menjadi pengasuh para
ksatria turunan Batara Guru, dengan nama Semar.
Siapa yang tak kenal dengan Semar? Tokoh yang
selalu muncul di setiap kisah pewayangan, apapun
judulnya dan apapun kondisinya. Dia selalu ada.
Lalu siapa Semar sebenarnya? Di kalangan
masyarakat Jawa, ternyata tokoh wayang Semar
bukan hanya sebagai fakta historis saja, melainkan
lebih ke simbolis dan mitologis tentang ke-Esa-an.
Di mana merupakan simbol dari pengejawantahan
ekspresi, pengertian, dan persepsi tentang ke-
Tuhan-an dan lebih ke konsep spiritual. Bisa
dikatakan bahwa orang Jawa sejak jaman
prasejarah merupakan masyarakat yang religius
dan ke-Tuhanan yang Maha Esa.

Sifat Perwatakan Tokoh Semar
Kalau dalam istilah Jawa-nya, Semar ini
sifatnya Nyegara yang artinya hatinya seluas
samudra. Dimana ia dipercaya kapraman dan
kewaskitaannya sedalam samudra. Tak heran, jika
hanya ksatria sejati saja yang bisa menjadi asuhan
Semar.
Jika dilihat dari karakter fisiknya, Semar memiliki
karakter fisik yang cukup unik. Tapi, keunikan fisik
inilah yang dijadikan simbol dari kehidupan ini oleh
masyarakat Jawa. Semar memiliki bentuk tubuh
bulat yang mana mengibaratkan bahwa bumi itu
bulat. Raut wajah yang selalu tersenyum juga mata
yang sembab mengeluarkan air mata ini merupakan
simbol anatara suka dan duka yang selalu ada
dalam kehidupan kita. Wajahnya yang tua tetapi
potongan rambutnya bergaya kuncung seperti
anak kecil, sebagai simbol tua dan muda.

Religius
Dalam filosofi Jawa, Semar disebut
sebagai Badranaya yang merupakan dua istilah di
antaranya Bebadra yang artinya membangun
sarana dari awal, dan Naya yang artinya utusan
mangrasul. Jika diartikan secara sederhana,
membangun dan melaksanakan perintah Allah demi
kesejahteraan manusia di muka bumi.
Semar sendiri juga memiliki istilah lain
yaitu Haseming samar-samar yang artinya makna
kehidupan Sang Penuntun. Semar bukan laki-laki,
bukan juga perempuan. Tangan kanannya ke atas
yang bermakna sang Maha Tunggal, dan tangan
kirinya ke belakang yang bermakna berserah pada-
Nya.

Filosofi Kata Bijak dari Tokoh Semar
Di setiap pementasan wayang, Semar selalu
menyampaikan kata-kata bijaknya yang sifatnya
lebih ke umum. Sehingga kata-kata bijak Semar
masih relevan dengan siapapun dan kapanpun.
Berikut ini adalah beberapa kata bijak Semar.
Uip Iku Uruo
Yang dalam bahasa Indonesai berarti Hidup itu
Menghidupi. Hidup itu harus bisa memberikan
manfaat pada semua orang disekitar kita. Disinilah
kenapa hidup itu menghidupi. Agar hidup kita lebih
bermakna, maka kita harus bermanfaat bagi
setiap orang disekitar kita.
Sura Dira Jaya Jayaningrat, Leburing Dening
Pangastuti
Jika artikan ke dalam Indonesia, maka artinya
semua sifat picik, keras hati, dan angkara murka
di dalam diri kita hanya bisa dikalahkan dengan

sikap bijaksana, sabar, dan lembut hati. Ibarat api
tidak bisa dipadamkan dengan api. Perlu ait untuk
memadamkannya. Begitu juga dengan sifat jelek
kita, harus kita redam dengan sifat baik kita, yaitu
dengan kebijaksanaan, rendah hati, dan sabar.
Datan Sering Lamun Ketaman, Datang Susah
Lamun Kelangan
Kata bijak Semar yang satu ini memiliki makna,
bahwa jangan bersedih saat mengalami musibah
yang menimpa kita, juga jangan bersedih jika kita
sedang kehilangan sesuatu. Karena semua akan
kembali kepada-Nya, inilah hakikat hidup.
Kesaktian Semar : Senjata Kentut
Meskipun Semar hanya rakyat biasa dan menjadi
Punakawan para ksatria dan raja, tapi Semar
memiliki kesaktian yang melebihi kemampuan
Batara Guru, rajanya para dewa. Di mana Semar
selalu bisa mengatasi kesaktian Batara Guru yang

selalu mengganggu Pandawa Lima saat dalam
asuhan Semar.
Ada lagi senjata yang paling ampuh yang dimiliki
Semar, yaitu ‘kentut’. Kentut berasal dari dalam
diri Semar itu sendiri, sehingga senjata ini
bersifat dari pribadi Semar dan bukan alat yang
dibuat oleh manusia. Senjata ini pun bukan untuk
membunuh, melainkan untuk menyadarkan.
Dalam satu kisahnya, Semar menggunakan senjata
‘kentut’ saat melawan resi yang tidak bisa
dikalahkan oleh Pandawa Lima. Di mana ujungnya
tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang,
melainkan semuanya sadar kembali dalam
perwujudan semula. Semar sendiri menggunakan
senjata ‘kentut’ ini ketika ia sudah tidak bisa
mengatasi masalah dengan senjata lain.


Click to View FlipBook Version