SEJARAH KALIMANTAN SELATAD DI SUSUN OLEH 1.FRRY PUTRA ANDIKA 2.RIZKY RISYAN P KELAS 8B
• 8000 SM, migrasi I, manusia mendiami gua-gua di pegunungan Meratus. Kelompok ini melanjutkan migrasi ke pulau Papua dan Australia. Fosilnya ditemukan di Gua Babi di Gunung Batu Buli, Desa Randu, Muara Uya, Tabalong. • 2500 SM, migrasi II, yaitu bangsa Austronesia dari pulau Formosa ke pulau Borneo dengan membawa adat ngayau yang menjadi nenek moyang suku Dayak. • 400, peninggalan tertua yang diketahui dari agama Hindu di Kalimantan berupa yupa yang ditemukan di daerah Kutai. • 242 - 1362, berdirinya Kerajaan Tanjungpuri di Tanjung, Tabalong yang didirikan suku Melayu. Masa Kerajaan Negara Daha[sunting | sunting sumber] • 1025, migrasi suku Melayu dari Kerajaan Sriwijaya akibat serangan tentara Cola Mandala (India). • 1355, Empu Jatmika mendirikan pemukiman dan Candi Agung (Amuntai) dengan pondasi tiang pancang ulin yang disebut kalang-sunduk di wilayah rawa daerah aliran sungai Amas dan menobatkan dirinya sebagai raja Kerajaan Negara Dipa sebagai bawahan Raja Kuripan yang tidak memiliki keturunan. Kemudian Empu Jatmika menaklukan penduduk asli batang Tabalong, Balangan, Pitap, Alai, Labuan Amas, Amandit serta daerah perbukitan yang dihuni suku Bukit, selanjutnya mendirikan Candi Agung (Amuntai) sebagai ibu kota yang baru, tetapi pelabuhan perdagangan tetap di Muara Rampiau. Ia menjadi penguasa Candi Agung, Candi Laras dan Kuripan. • 1360, Lambung Mangkurat, Patih Kerajaan Negara Dipa berangkat ke Majapahit untuk melamar Raden Putra, sebagai calon suami Putri Junjung Buih. • 1362, Wilayah Barito, Tabalong dan Sawuku menjadi daerah taklukan Kerajaan Majapahit. Hancurnya Kerajaan Nan Sarunai, kerajaan Suku Dayak Maanyan karena serangan Majapahit. Pangeran Suryanata dari Majapahit berhasil menjadi raja Negara Dipa. • 1362–1448, berdirinya Kerajaan Negara Dipa dibawah Maharaja Suryanata. • 1385–1421, masa pemerintahan Pangeran Surya Gangga Wangsa. • 1421–1436, masa pemerintah Raden Carang Lalean. • 1436–1448, masa pemerintahan Putri Kalungsu. • 1448-1526, masa Kerajaan Negara Daha, Raden Sekar Sungsang dengan gelar Maharaja Sari Kaburungan menjadi Raja pertama. • 1448, Bandar Muara Bahan ditetapkan sebagai Bandar kerajaan menggantikan Bandar Muhara Rampiau, ditunjuk Patih Arya Taranggana putera Aria Magatsari memimpin di bandar itu. • 1448–1486, masa pemerintahan Raden Sekar Sungsang dengan gelar Maharaja Sari Kaburangan. • 1486–1515, masa pemerintahan Raden Paksa dengan gelar Maharaja Sukarama. • 1511, migrasi suku melayu akibat runtuhnya Kerajaan Malaka diserang Portugis, migrant ini mendiami sepanjang sungai Kuin. • 1515, Maharaja Sukarama wafat, diwasiatkan yang menjadi raja adalah Pangeran Samudera. • 1515-1519, masa pemerintahan Arya Mangkubumi yang kemudian dibunuh Sa’ban atas suruhan Pangeran Tumanggung. Pangeran Samudra melarikan diri ke hilir Barito. • 1518-1521, Pati Unus, Sultan Demak menaklukan kerajaan-kerajaan Kalimantan, seperti Tanjungpura/Sukadana, Lawai dan Sambas sebelum menyerang Portugis di Malaka pada tahun 1521. • 1519–1526, masa pemerintahan Pangeran Tumanggung (Raden Panjang). Masa Kesultanan Banjar[sunting | sunting sumber] Tahun 1520-1668[sunting | sunting sumber]
• 1520, penobatan Raden Samudera oleh Patih Masih sebagai raja di Muara Kuin dengan gelar Pangeran Samudera. • 6 September 1526, pertempuran antara Kerajaan Banjar dipimpin Pangeran Samudera dengan Kerajaan Negara Daha dipimpin Pangeran Tumenggung di Jingah Besar, Pangeran Samudra dibantu Kesultanan Demak. • 24 September 1526, kemenangan Pangeran Samudra dan pembentukan Kesultanan Banjar, dengan memasukkan Kerajaan Nagara Daha, selanjutnya Pangeran Tumenggung menetap ke hulu pada Alai dengan 1000 penduduk. • 1526-1545, masa pemerintahan Pangeran Samudera. • 24 September 1526/6 Zulhijjah 932 H, Pangeran Samudera memeluk Islam dengan gelar di dalam khutbah Sultan Suryanullah/Sultan Suriansyah. • 1550-1570, masa pemerintahan Sultan Rahmatullah (Raja II) di Banjarmasin • 1570-1620, masa pemerintahan Sultan Hidayatullah (Raja III) di Banjarmasin • 1520-1620, masa pemerintahan Marhum Panembahan dengan gelar Sultan Musta'inbillah (Raja IV) di Banjarmasin hingga 1612. • 1596, Belanda merampas 2 perahu lada dari Banjarmasin yang berdagang di Kesultanan Banten. • 14 Februari 1606, Ekspedisi Belanda dipimpin Koopman Gillis Michaelszoon tiba di Banjarmasin, karena perangainya yang buruk Michaelszoon tewas terbunuh. • 1612, Belanda menembak hancur Istana Raja di Kuin, sehingga ibu kota kerajaan dipindahkan dari Banjarmasin ke daerah Kayu Tangi, kota baru ini diberi nama Martapura oleh Sultan Mustainbillah.[1] • 1620 – 1637, masa pemerintahan Ratu Agung dengan gelar Sultan Inayatullah (Raja V). • 1634, VOC-Belanda mengirim 6 kapal dibawah pimpinan Gijsbert van Londensteijn kemudian ditambah beberapa kapal di bawah pimpinan Antonie Scop dan Steven Batrentz. • 29 November 1635, VOC Belanda mendirikan kantor dagang di Banjarmasin di bawah pimpinan Wollebrandt Gelenysen de Jonge. • 1637 – 1642, masa pemerintahan Ratu Anom dengan gelar Sultan Saidulllah (Raja VI). • 1638, seorang Asisten Belanda terbunuh di Benua Anyar, pertempuran juga menewakan 64 orang bangsa Belanda, selanjutnya 27 orang Martapura terbunuh, dibalas 40 orang Belanda tewas. • 1642 – 1660, masa pemerintahan Pangeran Ratu dengan gelar Sultan Rakyat Allah (Raja VII). • 1650 - Di Banjarmasin terdapat perwakilan dagang VOC.[2] • 1660 – 1663, masa pemerintahan Raden Bagus (Suria Angsa) dengan gelar Sultan Amrullah Bagus Kasuma (Raja VIII). • 1660, diadakan perjanjian perdamaian antara Belanda dan Banjar; Pangeran Dipati Tuha (Suria Negara) bin Sultan Saidullah mengamankan wilayah Tanah Bumbu dari pendatang.[3] • 1663 – 1679, masa pemerintahan Pangeran Suryanata II degan gelar Sultan Agung. • 1664, perubahan nama Banjarmasih menjadi Banjarmassingh (dialek Belanda). • 1668, Portugis mendatangkan imam Katolik bernama Ventimiglia ke wilayah Kesultanan Banjarmasin.[4] Tahun 1680-1858[sunting | sunting sumber] • 1680–1700, masa pemerintahan Sultan Amrulllah Bagus Kasuma (Suria Angsa) kembali, sedangkan adiknya menjadi Sultan Negara (bekas Negara Daha) bergelar Suria Negara. • 1714, Kapten Daniel Beeckman mengunjungi Banjar (Kuin).[5] • 1720-an Banjarmasin memiliki pelabuhan perdagangan yang setara dengan Makassar.[6] • 1700–1734, masa pemerintahan Sultan Ilhamidullah (Sultan Kuning). • 1733, panglima perang anak buah dari La maddukelleng gagal merebut Banjarmasin.[7] • 1734-1759, masa pemerintahan Sultan Tamjidillah I di Martapura. • 1734, VOC-Belanda membuat perjanjian monopoli lada dengan Sultan Banjar dan mendirikan benteng di Banjarmasin.[8]
• 1734, Puana Dekke meminjam tanah di wilayah Tanah Kusan kepada Sultan Tamjidullah I yang dinamakan kampung Pagatan, kemudian Sultan Sulaiman menganugerahi gelar kapitan (panglima) kepada Hasan La Pangewa, yaitu Kapitan Laut Pulo sebagai raja pertama Kerajaan Pagatan. • 1750, Ketua Dewan Mahkota Pangeran Suryanata (sepupu Sultan Sepuh) mangkat di Martapura, kemudian almarhum digantikan oleh puteranya, Pangeran Prabukusuma sebagai ketua Dewan Mahkota Kesultanan Banjar. • 1759–1761, masa pemerintahan Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah dengan gelar Sultan Muhammadillah, mangkat tahun 1761.[9] • Tahun 1747, Belanda menduduki Banjarmasin.[10][11] • 1761–1801, masa pemerintahan Sultan Tahmidullah II/Sunan Nata Alam. • 1762, Saudara Sultan Nata yang bernama Pangeran Prabujaya dilantik sebagai mangkubumi oleh Dewan Mahkota Kesultanan Banjar. • 1767, Pangeran Sulaiman dilantik sebagai Sultan (Muda) Sulaiman II. • 1780, Ratu Intan I menjabat Raja negeri Cantung dan Batulicin, sedangkan Pangeran Prabu menjadi raja negeri Sampanahan, Bangkalaan, Manunggul dan Cengal serta Pangeran Layah menjadi raja negeri Buntar Laut.[3]Kota Banjarmasin di bawah otoritas Pangeran Dupa, putera tertua Sultan Banjar[12] • 1782, Pangeran Adam dilantik sebagai Sultan (Muda) Adam. • 1785, Sepuluh pambakal di Amuntai dibebaskan dari pajak hingga anak cucunya karena telah berjasa melawan laskar yang dipimpin Pangeran Surya dan Pangeran Ahmad, saudara tiri Sultan Nata. Keturunan dari sepuluh datu ini disebut golongan anak cucu orang sepuluh. [13] • 1786, Pangeran Amir (raja Kusan) tertangkap VOC Belanda. • 14 Mei 1787, Pangeran Amir (kakek Pangeran Antasari) diasingkan ke Srilangka. • 13 Agustus 1787, Sultan Tamjidullah I membuat kontrak perjanjian dengan VOC-Belanda. • 1792, VOC menempatkan administrasi sipil (onderkoopman) di Banjarmasin seperti sebelumnya.[14] • 24 April 1792, Sultan Sulaiman I mengirim surat kepada Gubjen. Willem Arnold Alting membicarakan harga barang-barang yang ditukar antara kedua pihak, serta keluhan bahwa hak Sultan atas separuh cukai tidak mau dibayar oleh Fetor setempat.[15] • 7 Oktober 1792, Sultan Sulaiman I mengirim surat kepada Gubjen. Willem Arnold Alting bahwa tugasnya sudah dijalankan sesuai dengan perjanjian, yaitu setiap kepala yang ditunjuk akan membuka kebun lada. Tiap kebun itu dikerjakan oleh 50 orang. Kalau tidak mengerjakan pekerjaan itu, mereka akan dihukum dengan hukuman berat. Juga dinyatakan bahwa mereka sudah menerima kiriman 10 tong obat bedil dan Raja Banjar juga minta dikirimi kertas air emas 12 lembar. • 20 November 1794, Sultan Sulaiman I mengirim surat kepada Gubjen. Willem Arnold Alting tentang penyerangan yang diderita dari orang Pasir dan Kutai. Banyak rakyat dibunuh, yang lain dipaksa mendirikan benteng. Sultan menanti perintah dari Kompeni. Harapannya agar Gur. Jen. menulis surat kepada Sultan Pasir untuk mengajak damai. Kalau ditolak, rencananya Pasir akan diserang dari laut oleh Belanda dan dari darat oleh Banjar. Juga diberitahukan tentang kebun lada yang sedang dikerjakan. • 17 Mei 1796, Sultan Sulaiman I mengirim surat kepada Gubjen. Willem Arnold Alting tentang pemberitahuan bahwa Sultan sudah menerima bingkisan, yang isinya didaftarkan satu per satu. • 1797, Pangeran Antasari dilahirkan.[16] • 1801–1825, masa pemerintahan Sultan Sulaiman Saidullah II. • 19 Mei 1809, Gubjen. Hindia Belanda Herman Willem Daendels memerintahkan meninggalkan Banjarmasin karena dianggap tidak menguntungkan.[17] • 1815–1816, Inggris menguasai Maluka, Liang Anggang, Kurau dan Pulau Lamai dibawah Alexander Hare yang menjadi Resident-commissioner sejak 1812. Kelak dinamakan Distrik Maluka[18][19][20][21] • 7 Oktober 1823, Pangeran Mangkoe Boemi Nata mengirim surat kepada Gubjen. G.A.G.Ph. van der Capellen menyatakan bahwa Mangkubumi bersedia diangkat sebagai kepala
pemerintah Banjar dan telah bersumpah sesuai dengan perjanjian antara Kompeni dan negeri Banjar. • 1823, Pemerintah pusat Hindia Belanda melantik Pangeran Husin dengan gelar Pangeran Mangkoe Boemi Nata sebagai mangkubumi menggantikan Ratoe Anom Ismail. • 1825–1857, masa pemerintahan Sultan Adam al-Watsiqu billah. • 1825, bulan Juli, Raja Tanah Bumbu Pangeran Aji Jawi membuat kontrak politik dengan Hindia Belanda. • 1826, Sultan Adam membuat kontrak perjanjian dengan Hindia Belanda. • 1832, Pangeran Haji Musa menjabat raja Batulicin (1832-1840), raja Bangkalaan (1838- 1840). • 1835, 15 Muharam 1251 H, pemberlakuan Undang-Undang Sultan Adam (UUSA 1835). • 1835, Zending dari Jerman mulai bekerja di selatan Kalimantan.[22] • 1841, Pangeran Mangku Bumi (Gusti Ali) menjabat raja Sampanahan sebagai kerajaan mandiri setelah mangkatnya atasannya Raja Aji Jawi. • 1842, Pemerintah pusat Hindia Belanda melantik Pangeran Noch dengan gelar Ratoe Anom Mangkoeboemi Kentjana sebagai mangkubumi Kesultanan Banjar.[23] • 1846, Daerah koloni Belanda di pulau Kalimantan memperoleh pemerintahan khusus sebagai Dependensi Borneo. [24] • 1849, Berdasarkan Staatsblad van Nederlandisch Indië tahun 1849 dibentuk westerafdeeling van Borneo dan zuid-ooster-afdeeling van Borneo[25] • 1851, Ratoe Anom Mangkoeboemi Kentjana mangkat digantikan Pangeran Tamjidullah II sebagai mangkubumi (kepala pemerintahan). • 1852, Sultan Muda Abdul Rahman mangkat karena diracun diduga atas perintah Pangeran Prabu Anom. [26] • 1852, Surat Sultan Adam kepada Gusti Andarun tentang pemberian tanah badatu (tanah lungguh) dan penunjukkannya sebagai pengganti almarhum Sultan Muda Abdul Rahman. [27] • 8 Agustus 1852, pemerintah kolonial Hindia Belanda (dengan sengaja secara salah) melantik Pangeran Tamjidillah II sebagai Sultan Muda Kesultanan Banjar, dan sekaligus tetap menjabat Mangkubumi. Pelantikan ini ditolak Sultan Adam yang mencalonkan Pangeran Hidayatullah II sebagai Sultan Muda dan Pangeran Prabu Anom sebagai mangkubumi. • 1855, Secara diam-diam Sultan Adam melantik Pangeran Prabu Anom sebagai Raja Muda Kesultanan Banjar dan memecat Pangeran Tamjidillah II sebagai mangkubumi.[28] • 1855, Pemekaran dan pembentukan beberapa afdeeling baru[29] • 30 April 1856, Belanda menerima konsesi tambang batu bara yang ditandatangani Sultan Adam. • 9 Oktober 1856, Pemerintah kolonial Hindia Belanda melantik Pangeran Hidayatullah sebagai Mangkubumi, sedangkan Sultan Muda tetap Pangeran Tamjidillah II. • 1 November 1857, Sultan Adam wafat.[30] • 3 November 1857 – 25 Juni 1859, masa pemerintahan Sultan Tamjidillah II yang disetujui Belanda sebagai raja Banjar. • 3 November 1857, pertemuan rencana perang melawan Belanda di Martapura, antara Pangeran Hidayatullah, Pangeran Prabu Anom dan Nyai Ratu Kamala Sari (permaisuri Sultan Adam). • 23 Februari 1858, Pangeran Prabu Anom (anak Sultan Adam) dibuang ke Bandung. • September 1858, Tumenggung Jalil tidak mau lagi membayar pajak kepada Belanda. Masa Perang Banjar[sunting | sunting sumber] Tahun 1859[sunting | sunting sumber]
Kapal uap Celebes berperang melawan benteng rakit apung yang disebut Kotamara dikemudikan orang Dayak pada tanggal 6 Agustus 1859 di pulau Kanamit, sungai Barito. • 2 Februari 1859, kedatangan bantuan tentara Belanda dengan Kapal Arjuna, namun 3 hari kemudian dipulangkan lagi ke Batavia. • Februari 1859, Neneksuri Nyai Ratu Kamala Sari dan anak-anaknya menyerahkan kerajaan dengan Pangeran Hidayatullah. • 18 April 1859, pecahnya Perang Banjar, Pasukan Antasari dengan 300 prajurit menyerang tambang batubara milik Belanda di Pengaron. [31] Serangan di Marabahan, Gunung Jabuk dan Tabanio, dipimpin Demang Lehman, Haji Buyasin dan Kiai Langlang. Serangan di Pulau Petak, Pulau Telo dan di sepanjang Sungai Barito, dipimpin Tumenggung Surapati dan Pambakal Sulil. Sweeping di Banua Lima, dipimpin Tumenggung Jalil, Pambakal Gafur, Duwahap, Dulahat dan Penghulu Abdul Gani serta serangan terhadap Kapal Cipanas di Martapura. • 29 April 1859, tambang batu bara Oranye Nassau diserbu. • 1 Mei 1859, pasukan Antasari menyerang tambang batu baru Juliana Hermina, serangan di Kalangan, Banyu Irang dan Bangkal dipimpin Pangeran Arya Ardi Kesuma. • Juni 1859, pertempuran di Sungai Basarah dipimpin Pambakal Sulil. • 8 Juni 1859, Belanda mengumumkan keadaan darurat perang. • 12 Juni 1859, bantuan tentara Belanda datang dengan Kapal Arjuna, Celebes, Montrado, Bone dan van Os. • 14 Juni 1859, pertemuan Pangeran Hidayat dengan Augustus Johannes Andresen, namun buntu. • 15 juni 1859, Sweeping oleh Belanda di Martapura. • 17 Juni 1859, pertempuran di Sungai Raya. • 25 Juni 1859, Sultan Tamjidillah II dimakhzulkan oleh Belanda, terjadi pertempuran di Cempaka. • 30 Juni 1859, serangan ke Martapura dipimpin Demang Lehman, 10 pejuang gugur. • Juli 1859, tenggelamnya Kapal Cipanas di Pulau Kanamit. • 16 Juli 1859, Sultan Tamjidillah II dan Pangeran Adipati Panoto Negoro Adiprojo di buang ke Jawa. • Agustus 1859, serangan ke Banjarmasin dipimpin Kiai Mangun Karsa, pertempuran di benteng Tabanio, dipimpin Demang Lehman dan Haji Buyasin.[32] • September 1859, pertemuan Pangeran Hidayat dengan panglima-panglima, Pangeran Hidayat dinobatkan menjadi Raja. • 27 September 1859, pertempuran di Gunung Lawak, dipimpin Demang Lehman, Aminullah, Antaludin dan Ali Akbar. • 28 September 1859, bantuan tentara Belanda dari Surabaya. • 13 November 1859, Gustave Verspijck, mengeluarkan ultimatum agar Pangeran Hidayatullah menyerah dalam 20 hari. • 14 November 1859, gugurnya Pambakal Sulil di Sungai Basarah. • 23 Desember 1859, pertempuran di Kuala Kapuas oleh suku Dayak. • 26 Desember 1859, tenggelamnya Kapal Onrust oleh Tumenggung Surapati di Lontontour. • Desember 1859, Tumenggung Antaluddin bersama dengan Demang Lehman, Pangeran Aminullah, Kusin dan Ali Akbar, mempertahankan Benteng Munggu Tayur.
Tahun 1860[sunting | sunting sumber] • 2 Januari 1860, serangan terhadap Kapal van Os di Pulau Petak • 9 Februari 1860, serangan terhadap Kapal Suriname di Lontontour hingga mengalami kerusakan dan pertempuran Masjid Amuntai. • 22 Februari 1860, serangan terhadap Kapal Montrado di Lontontour. • 31 Maret 1860, penyerbuan Benteng Amawang, dipimpin Demang Lehman. • 18 Maret 1860, pertempuran di Pamangkih, Walangku, Kasarangan, Pantai Hambawang, Barabai dan Aluan. • 15 Mei 1860, pertempuran di Tanjung, dipimpin Tumenggung Jalil. • 11 Juni 1860, Kesultanan Banjar dihapuskan secara sepihak oleh Belanda dengan proklamasi yang ditandatangani Residen Surakarta Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen yang merangkap Komisaris Pemerintah Belanda untuk Daerah Afdeeling Borneo Selatan-Timur. • 9 Agustus 1860, serangan terhadap Benteng Kelua, dipimpin Pangeran Antasari. • 17 Agustus 1860, Pangeran Antasari mendirikan Benteng Tabalong. • 27 Agustus 1860, serangan di Martapura dipimpin Pangeran Muda. • September 1860, pertempuran di Rumpanang dan Tambarangan, dipimpin Singa Jaya. • 3 September 1860, Pertempuran Benteng Madang pertama, dipimpin Demang Lehman dan Tumenggung Antaludin. • 4 September 1860, pertempuran Benteng Madang kedua. • 13 September 1860, pertempuran Benteng Madang ketiga. • 15 September 1860, pertempuran di Sungai Malang, Amuntai, dipimpin H. Abdullah. • 18 September 1860, pertempuran Benteng Madang keempat. • 22 September 1860, pertempuran Benteng Madang kelima. • 13 Oktober 1860, pertempuran Benteng Batu Mandi, dipimpin Tumenggung Jalil. • 17 Oktober 1860, pertempuran di Jati, dipimpin Kyai Jayapati. • 25 Oktober 1860, pertempuran di Bulanin, dipimpin Demang Lehman. • 27 Oktober 1860, pertempuran di Jati lagi, dipimpin Kyai Jayapati dan Demang Jaya Negara Seman. • November 1860, pertempuran di masjid Jati, dipimpin Tumenggung Diparaksa. • 1 November 1860, Belanda mendinamit bangkai Kapal Onrust di Lontontour. • 10 Desember 1860, Sultan Hidayatullah II membuat surat yang berisi pelantikan Gamar dengan gelar Tumenggung Cakra Yuda dan 3 orang lainnya untuk melancarkan Perang Jihad melawan Belanda.[33] Tahun 1861[sunting | sunting sumber] Benteng Gunung Tungka. • 24 Februari 1861, pertempuran di Amalang dan Maleno, dipimpin Demang Lehman dan Guna Wijaya. • 3 Maret 1861, pertempuran di Rantau, dipimpin Jaya Warna. • 19 Maret 1861, pertempuran di Karang Intan, dipimpin Tumenggung Gamar.
• 21 April 1861, Pertempuran benteng Amawang, 2 tahun Perang Banjar, dipimpin Tumenggung Antaludin dan Demang Lehman, tewasnya Von Ende. • 23 April 1861, serangan di Bincau. • April 1861, penangkapan dan hukuman mati untuk Pangeran Kasuma Ningrat (paman Pangeran Hidayat), Kyai Nakut dan Pambakal Matamin serta pertempuran di Binuang, Tumpakan Mati, Karang Jawa, Kandangan dan Nagara. [34] • 4 Mei 1861, pertempuran Paringin antara pasukan Antasari melawan Belanda. • 13 Mei 1861, pertempuran di Gunung Wowong, Karau, Dayu dan Sihong. • 16 Mei 1861, serangan di Paringin, dipimpin H. Dulgani. • 18 Mei 1861, pertempuran di Pagat. • 27 Mei 1861, pertempuran di Barabai, dipimpin Gusti Wahid. • Mei 1861, pertempuran di Martapura, Tanah Laut, Rantau, Kandangan, Barabai, Amuntai, Paringin, Tabalong dan daerah Barito. • 10 Juni 1861, pertempuran di Gunung Kupang, Awang Bangkal dan Batu Mahalon. • 18 Juni 1861, serangan awal di Martapura. • 19 Juni 1861, pertempuran di Gunung Pamaton, dipimpin Pangeran Hidayatullah. • 20 Juni 1861, pertempuran di Kuala Tambangan, dipimpin Tumenggung Gamar. • 22 Juni 1861, serangan di Mataraman dan Suwatu, dipimpin Pambakal Mail dan Tumenggung Buko. • 3 Juli 1861, serangan di benteng Barabai, dipimpin Raksa Yuda. • 18, 22, 24 Juli 1861, pertempuran di Buntok. • Agustus 1861, pertempuran di Gunung Pamaton dan Gunung Halau-halau, dipimpin Tumenggung Antaludin dan Kiai Cakrawati (Galuh Sarinah). • 1 Agustus 1861, pertempuran di benteng Limpasu, tewasnya Letnan Hoyyel. • 10 Agustus 1861, pertempuran di benteng Pagger, dipimpin Pangeran Singa Terbang. • 2 September 1861, pertempuran di benteng Batu Putih, gugurnya Pangeran Singa Anum dan Gusti Matali. • 24 September 1861, gugurnya Tumenggung Jalil pada pertempuran Benteng Tundakan. • 2 Oktober 1861, Demang Lehman masuk Martapura menemui Regent Martapura. • 6 oktober 1861, Demang Lehman ke Banjarmasin berunding dengan Resident Verpyck, perundingan secara empat mata, selesai perundingan rombongan kembali ke Martapura. • 8 Oktober 1861, pertempuran di Habang dan Kriniang, dipimpin H. Badur. • 18 Oktober 1861, pertempuran di Banua Lawas dipimpin H. Badur. • Oktober 1861, pertempuran di Banua Lawas dan Teluk Pelaeng, gugur 18 orang. • 6 November 1861, pertempuran di Pelari, dipimpin Pangeran Antasari dan Tumenggung Surapati. • 8 November 1861, pertempuran di Gunung Tungka dipimpin Pangeran Antasari, Tumenggung Surapati dan Gusti Umar, tewasnya Kapten Van Vloten. • 9 November 1861, serangan di Teluk Selasih, tewasnya Regent Amuntai. • 25 Nopember 1861, pertemuan Pangeran Hidayatullah dengan Demang Lehman dan diputuskan Pangeran Hidayatullah menemui Ibu Ratu Siti di Martapura. • November 1861, pertempuran di Gunung Marta Niti Biru dan Kria Wijaya Bepintu, dipimpin Kyai Karta Nagara. • 5 Desember 1861, pertempuran di Jatuh dipimpin Penghulu Muda, tewasnya Opsir Koch. • 15 Desember 1861, pertempuran di Banua Lawas, tewasnya Letnan Ajudan I Cateau van Rosevelt. • 16 Desember 1861, terbunuhnya Kontrolir Fujick di Margasari dan Letnan Croes juga tewas di Sungai Jaya, oleh Tagab Obang. Tahun 1862-1905[sunting | sunting sumber] • 28 Januari 1862, Pangeran Hidayatullah dan Ratu Siti masuk Martapura, berdiam di rumah Residen Martapura.
• 30-31 Januari 1862, perundingan antara Pangeran Hidayatullah dengan Regent Letnan Kolonel Verpyck di pendopo rumah Asisten Resident, Pangeran Hidayatullah tertipu oleh janji Belanda. • 3 Februari 1862, Pangeran Hidayatullah menuju ke Pasayangan. • 4 Februari 1862, Pangeran Hidayatullah meninggalkan Pasayangan menuju Gunung Pamaton serta Masjid Pasayangan yang berumur 140 tahun dibakar Belanda. • 22 Februari 1862, tertangkapnya Ratu Siti serta dibawanya Pangeran Wira Kasuma ke Banjarmasin. • 28 februari 1862, Pangeran Hidayatullah masuk Martapura menemui Ratu Siti di pendopo Regent Martapura. • 3 Maret 1862, Pangeran Hidayatullah dibawa dengan Kapal Bali menuju Batavia, dikawal Kontrolir Kuin Letnan Verstege.[35] • 14 Maret 1862 (13 Ramadhan 1278 H), Pangeran Antasari dinobatkan sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, sebagai kepala pemerintahan, pemimpin agama, dan panglima tertinggi pengganti Sultan Banjar. [36] • 11 Oktober 1862, wafatnya Pangeran Antasari di Tanah Kampung Bayan Begok Sampirang, Murung Raya.[37][38] • 1862 – 1905, masa pemerintahan Sultan Muhammad Seman. • 19 Oktober 1863, tertangkapnya Sultan Kuning. • 1864, serangan Tumenggung Surapati di Muara Teweh dan Montalat. • 27 Februari 1864, Demang Lehman dihukum gantung di lapangan Martapura, ketika tertangkap ia memegang pusaka Keris Singkir dan Tombak Kalibelah. • 1865, Penghulu Rasyid gugur di Kelua, Tumenggung Naro gugur di Gunung Kayu, Balangan. • 26 Januari 1866, Haji Buyasin gugur. • 1867, serangan Tagap Kurdi di Amuntai. • 1870, serangan Panglima Wangkang di Marabahan dan Banjarmasin. • 1875, wafatnya Tumenggung Surapati karena sakit. • 1883, serangan Sultan Muhammad Seman di Tanjung, Amuntai dan Balangan. • 1 Juli 1883, serangan di Lampihong. • 1885, tertangkapnya Pangeran Perbatasari di Pahu, Kutai, kemudian ia dibuang ke Kampung Jawa Tondano, Minahasa. • 1886, serangan Tumenggung Gamar di Tanah Bumbu. • 1898, perubahan susunan pembagian administratif di Kalimantan menurut Staatblaad tahun 1898 no. 178 • 1899, Residen C.A Kroesen memimpin Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo. • 1899, peristiwa Amuk Hantarukung dipimpin Bukhari • 1903, Banjarmasin dan Amuntai sudah mendapatkan jalur telegraf.[39] • 1904, wafatnya Pangeran Hidayatullah di Cianjur serta dibuangnya Gt. Muhammad Arsyad ke Bogor. • 24 Januari 1905, Sultan Muhammad Seman, putra Pangeran Antasari gugur melawan Belanda di benteng Baras Kuning. • 24 Agustus 1905, Panglima Batur ditangkap di Muara Teweh. https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Kalimantan_Selatan#Tahun_1862-1905