ꦏꦫꦶ ꦱꦶ ꦝꦼ ꦤꦤ꧀ ꦥꦼ ꦏꦭꦺꦴ ꦔꦤ꧀
Kata Pengantar Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahka rahmat dan hidayah-Nya. Tak lupa, kami ucapkan terimakasih kepada Bapak/Ibu Guru, Guru Pendamping, dan Teman-teman yang telah mendukung kami. Atas dukungan, rahmat dan hidayah-Nya serta berbagai upaya, kali ini kami dapat menyelesaikan Projek ke-6, membuat ensiklopedia dengan judul “Karesidenan Pekalongan” dengan baik dan tepat waktu. Dalam penyusunan ensiklopedia, kami mencari berbagai informasi melalui berbagai sumber dan melakukan observasi secara langsung. Ensiklopedia yang kami susun ini, bertujuan untuk memberikan pengetahuan yang mendalam tentang berbagai subjek kepada para pembaca. Sehingga kami berharap para pembaca dapat memperluas pemahaman tentang kebudayaan yang ada di Karesidenan Pekalongan. Dengan bangga kami persembahkan enslikopedia ini kepada para pembaca. Mungkin dalam penyusunan enslikopedia ini terdapat kesalahan yang belum kami ketahui. Maka dari itu kami mohon saran dan kritik dari pembaca. Sekian terimakasih Semarang, 16 Mei 2024
Daftar Isi KATA PENGANTAR DAFTAR ISI SEJARAH KARESIDENAN PEKALONGAN BAB I I. Ragam Budaya Kabupaten dan Kota Pekalongan A. Sejarah Kabupaten Pekalongan B. Sejarah Kota Pekalongan C. Geografis kabupaten Pekalongan D. Geografis Kota Pekalongan E. Pakaian Adat F. Rumah Adat G. Bahasa/Dialek H. Upacara Adat II. Ragam Budaya Kabupaten Tegal dan Kota Tegal A. Sejarah Kabupaten Tegal B. Sejarah Kota Tegal C. Geografis kabupaten Tegal D. Geografis Kota Tegal E. Pakaian Adat F. Rumah Adat G. Bahasa/Dialek H. Upacara Adat III. Ragam Budaya Kabupaten Brebes A. Sejarah Kabupaten Brebes B. Geografis kabupaten Brebes C. Pakaian Adat D. Rumah Adat E. Bahasa/Dialek F. Upacara Adat IV. Ragam Budaya Kabupaten Pemalang A. Sejarah Kabupaten Pemalang B. Geografis kabupaten Pemalang C. Pakaian Adat D. Rumah Adat E. Bahasa/Dialek F. Upacara Adat V. Ragam Budaya Kabupaten Batang A. Sejarah Kabupaten Batang B. Geografis kabupaten Batang C. Pakaian Adat E. Bahasa/Dialek F. Upacara Adat BAB II A. Upaya Pelestarian Budaya Karesidenan Pekalongan PROFILE PENULIS DAN SEMUA ANGGOTA
Karesidenan Pekalongan adalah wilayah administratif daerah Jawa bagian Utara yang terbentuk pada zaman revolusi sekitar tahun 1906. Karesidenan Pekalongan meliputi beberapa wilayah di Jawa Tengah yaitu 5 daerah kabupaten dan juga 2 kota. 5 daerah kabupaten tersebut yaitu Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Tegal, Kabupaten Brebes, Kabupaten Pemalang, dan Kabupaten Batang. Sedangkan yang 2 kota yaitu Kota Pekalongan dan Kota Tegal. Sejarah Karesidenan Pekalongan
Budaya Karesidenan Pekalongan A. Sejarah Kabupaten dan Kota Kabupaten Pekalongan secara administratif telah berdiri cukup lama sekitar 3812 tahun yang lalu. Ada beberapa kajian prakiraan tentang sejarah berdirinya Kabupaten Pekalongan itu lahir, lima prakiraan yang menjadi kajian adalah masa prasejarah, masa Kerajaan Demak, masa Kerajaan Islam Mataram, masa Penjajahan Hindia Belanda dan masa Pemerintahan Republik Indonesia (Pekalongan Mulai Dikenal). I. Sejarah Kab. Pekalongan
1. Masa Prasejarah Data permukiman awal dari masa prasejarah dan awal masa sejarah kuno sebagaimana ditunjukan oleh adanya peninggalan megalitik dan lingga yoni dibeberapa tempat di daerah Kabupaten Pekalongan di bagian selatan menunjukan bahwa pemukiman penduduk telah berlangsung lama dan telah mengenal sistem kemasyarakatan dan keagamaan. Sistem kemasyarakatan yang bagaimana tidak dapat diketahui pasti karena terbatasnya sumber informasi. Beberapa peninggalan penting yang dimaksud antara lain: Lingga/ Yoni di Desa Telaga Pakis Kecamatan Petungkriyono. i. Yoni di Dukuh Gondang Desa Telogoindro Kec. Petungkriyono. ii. Lingga di Dukuh Mudal di Desa Yosorejo Kec. Petungkriyono. iii. Lingga Yoni di Dukuh Parakandawa, Desa Sidomulyo Kec. Lebakbarang. iv. Yoni di Dukuh Pajomblangan Kecamatan Kedungwuni. v. Yoni di Dukuh Kaum Desa Rogoselo Kecamatan Doro. vi. vii.Yoni di Desa Batusari Kecamatan Talun. Archa Ghanesha di Desa Kepatihan Kecamatan Wiradesa. viii. Archa Ganesha di Desa Telogopakis Kecamatan Petungkriyono. ix. Batu lumpang di Desa Depok Kecamatan Lebakbarang. x. Batu Lumpang di Dukuh Kambangan di Desa Telogopakis Kecamatan Petungkriyono dan sebagainya xi.
Data pemukiman pada periode awal Abad masehi sampai Abad XIV dan XV sangat langka dan terbatas, sehingga sulit dipastikan pertumbuhan dan perkembangan komunitas di wilayah Pekalongan pada masa pengaruh kebudayaan Jawa Hindu berkembang di Jawa. Hal ini terjadi karena sampai masa kini belum ditemukan prasasti peninggalan tertulis yang mampu mengungkapkan kehidupan pada masa itu. Banyak ditemukan toponim, beserta tradisi lisan, berupa legenda mitos, atau cerita rakyat yang berkaitan dengan toponim, akan tetapi sulit untuk memastikan kebenaran data legenda atau cerita rakyat tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh SCHRIEKE, Negara Kertagama, karya tulis penting pada masa Majapahit, sama sekali tidak menyebut nama–nama daerah di Pantai Utara Jawa sebelah barat Lasem, yang mencakup daerah Tegal, Pekalongan dan Semarang, yang pada masa itu diduga masih jarang dihuni penduduk. Sementara daerah lain seperti Demak, Jepara , Kudus dan Pati telah berkembang menjadi daerah penting. 2.Masa Kerajaan Demak Data sejarah pada periode abad ke 15 dan abad ke 16, diperoleh melalui sumber-sumber tertulis disamping sumber-sumber peninggalan bangunan makam kuno, kuburan dan bangunan lain dari masa perkembangan Islam di Jawa. Pada masa abad ke 16 diduga wilayah Pekalongan telah menjadi daerah yang dilewati oleh hubungan komunikasi dari dua kerajaan Islam Demak dan Cirebon, dan pada masa kemudian menjadi wilayah pengaruh kerajaan Mataram Islam pada abad ke 17. Selanjutnya pada abad ke 18 wilayah Pekalongan menjadi pengaruh VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie), Persekutuan dagang di India Timur–Belanda, terutama sejak tahun 1743, yaitu setelah VOC menerima imbalan jasa bantuan yang diberikan VOC kepada Mataram. Sejak 1800-an sampai 1942 Wilayah Pekalongan secara langsung menjadi wilayah administratif wilayah Pemerintahan Hindia Belanda, atau disebut wilayah Gubernemen. Sementara itu setelah lahirnya wilayah Republik Indonesia pada 1945 Wilayah Pekalongan tidak beda dengan wilayah lainnya menjadi Wilayah administrasi Pemerintah
3. Masa Mataram Islam Pada masa Pemerintahan Mataram Islam dibawah kekuasaan Sultan Agung abad ke17, keberadaan Kabupaten Pekalongan secara administratif merupakan Bagian dari wilayah kesatuan kerajaan Mataram Islam. Kerajaan Mataram dibawah tampuk pemerintahan Sultan Agung mencapai kejayaannya. Wilayahnya meliputi wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. Adapun Jakarta belum berhasil ditaklukkan karena dikuasai oleh Belanda dibawah Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoon Coen mulai tahun 1619. Keberhasilan tersebut ditunjang Doktrin Keagungbinataraan, yaitu kekuasaan Raja Mataram harus merupakan ketunggalan, utuh dan bulat. Artinya kekuasaan tersebut tidak tersaingi, tidak terkotak-kotak atau terbagi bagi dan merupakan keseluruhan (tidak hanya bidang-bidang tertentu). Pada bulan Maulud Nabi Muhammad Saw. selalu diadakan Gerebeg Maulud, yaitu peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw. yang biasa jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal, sekaligus diadakan acara “Paseban” (berkumpulnya para Bupati dan Tumenggung serta para pejabat lainnya untuk melaporkan situasi/keadaan di daerah masing-masing dan penyerahan upeti). Pada acara tersebut juga dimanfaatkan oleh Sultan Agung untuk pengangkatan bupati-bupati baru dan pejabat baru lainnya. Menurut pandangan tim, keberadaan Sultan Agung dalam memimpin kerajaan Mataram terlebih pada saat perlawanan terhadap penjajah Belanda sudah tidak diragukan lagi keberadaannya sebagai Raja yang Gung Binatoro sehingga tepat apabila sekarang diangkat sebagai Pahlawan Nasional. Perlawanan Mataram terhadap penjajah Belanda mencapai puncak disaat penyerangan ke Batavia pada tahun 1628, dimana Pangeran Manduraredja dan Bahureksa ditunjuk sebagai Panglima perangnya. Secara geografis Kabupaten Pekalongan terletak pada jalur pantura dan perdagangan laut yang cukup setrategis, sehingga pada saat penyerangan ke Batavia Kabupaten Pekalongan sebagai kantong / lumbung perbekalan. Setrategi ini juga digunakan Sultan Agung untuk mengumpulkan kekuatan-kekuatan didaerah. Dari bukti inilah menunjukan bahwa Kabupaten Pekalongan termasuk daerah yang dipersiapkan dalam rangka penyerangan ke Batavia. Sehingga menurut pandangan tim, dijadikan alternatif dan bukti bahwa secara administratif Kabupaten Pekalongan merupakan bagian dari kesatuan Kerajaan Mataram. Terlebih lagi dengan diangkatnya Pangeran Manduraredja sebagai Bupati Pekalongan yang mempunyai kekuasaan tertinggi di Kabupaten Pekalongan dan bertanggung jawab sebagai penyelenggara pemerintahan, serta secara hirarki wajib melaporkan segala sesuatunya kepada raja termasuk penyerahan upetinya.
4. Masa Penjajahan Hindia Belanda Masa-masa awal perkembangan Pekalongan tidak banyak disebut dan sumber-sumber asing baik Portugis maupun Belanda , seperti dalam Reis Journalen, Suma Oriental (Tome Pires, 1994), Scheep togt van Tristanto d’acunha (Pieter Van Der Aa, 1706) The Voyager of Jonh Huygen van Linschouten to the east Indies (A.C Burnell dan P.A Tiele, 1884), dan catatan perjalanan lainnya. Sumber -sumber tersebut menyebutkan nama kota-kota di pantai Utara Jawa pada Abad XVI seperti Cirebon, Tegal, Kendal, Demak, Jepara, Tuban, Sedayu, Gresik dan Surabaya, akan tetapi tidak menyebutkan Pekalongan. Sementara itu nama Pekalongan dan data historisnya dapat ditelusuri dalam Babad Tanah Jawa, Babad Mataram, Serat Khandaning Ringgit Purwo, Serat Pustaka Raja Purwo, Babad Sultan Agung, Dagh Register (1623 – 1799), Opkomst Van Het Nederlandsch gezag in Oost Indie (J.K.J de Jonge & M.L Van Deventer , eds; 1862 – 1909, 13 jilid), laporan VOC lainnya, laporan Pemerintah Hindia Belanda, Buku-buku dan Publikasi lainnya seperti regering Almanak van Nederlandsch Indie (1820-1850) dan Oud end Nieuw Oost Indie (F. Valentijn) dan Sumber lainnya. Pada masa ini administrasi pemerintahan secara keseluruhan berdasarkan keseluruhan berdasarkan keputusan dari pemerintah Hindia Belanda, misalnya bentuk pemerintahan Kabupaten yang disebut Regent, adalah bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Bupati. 5. Pekalongan Mulai Dikenal Banyak sumber mengatakan bahwa Pekalongan mulai dikenal setelah Bahurekso bersama anak buahnya berhasil membuka Hutan Gambiran/Gambaran, atau dikenal pula Muara Gambaran. Hal ini terjadi setelah Bahurekso gagal didalam penyerangan ke Batavia, bersama anak buahnya kembali ke Pantai Utara Jawa Tengah, namun secara sembunyisembunyi, sebab kalau diketahui oleh Pemerintah Sultan Agung pasti ditangkap dan dihukum mati. Sehingga terus melakukan yang disebut TAPANGALONG. Dari sinilah muncul prediksi-prediksi berkaitan dengan istilahPEKALONGAN.
Menurut penuturan R. Basuki (Putra Almarhum R. Soenarjo keturunan Bupati Mandurorejo) ; nama Pekalongan berasal dari istilah setempat HALONG-ALONG yang artinya hasil. Jadi Pekalongan disebut juga dengan nama PENGANGSALAN yang artinya pembawa keberuntungan. Sehingga prediksi Topo Ngalong itu hanya gambaran/sanepo yang mempunyai maksud siang hari sembunyi, malam hari keluar untuk mencari nafkah. Didalam babad Sultan Agung yang merupakan sumber yang dapat dipercaya istilah pengangsalan nampaknya juga muncul. ”Gegaman wus kumpul dadi siji, samya dandan samya numpak palwa, gya ancal mring samudrane ; lampahe lumintu, ing Tirboyo lawan semawis ; ing Lepentangi, Kendal, Batang, Tegal, Sampun, Barebes lan Pengangsalan. Wong pesisir sadoyo tan ono kari, ing Carbon nggertata” (senjata-senjata telah berkumpul jadi satu. Setelah semuanya siap, para prajurit diberangkatkan berlayar. Pelayarannya tiada henti-hentinya melewati Tirbaya, Semarang, Kaliwungu, Kendal, Batang, Tegal, Brebes, dan Pengangsalan. Semua orang pesisir tidak ada yang ketinggalan (mereka berangkat menyiapkan diri di Cirebon). Sehingga dari beberapa uraian tersebut, prediksi Topo Ngalong hanya gambaran atau sanepo yang mempunyai maksud, pada siang hari sembunyi, dan hanya keluar pada malam hari untuk mencari makan/nafkah.
II. Sejarah Kota Pekalongan 1. Tahun 1546 Dalam catatan sejarah, pada tahun 1546, Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Demak menganugerahkan wilayah Pekalongan kepada salah satu tokoh bernama Kyai Warna. Kyai Warna merupakan seorang ulama yang kemudian memperoleh wilayah Pekalongan sebagai hasil upayanya dalam menyebarkan agama Islam. Wilayah tersebut kemudian berkembang dan menjadi daerah perkampungan dengan adanya perkebunan tebu dan penenunan kain tradisional. 2. Abad ke-17 Pada abad ke-17, Pekalongan menjadi salah satu daerah penting dalam perdagangan internasional. Belanda menjadikan Pekalongan sebagai salah satu pusat pengumpulan komoditas perdagangan seperti gula, kopi, dan rempah-rempah. Mereka juga mendirikan Benteng Pendem untuk melindungi wilayah tersebut. 3. Abad ke -19 Pada awal abad ke-19, ketika era kolonial Belanda, Pekalongan menjadi pusat industri batik yang penting. Batik Pekalongan sangat terkenal dengan motif dan keindahannya. Batik ini memiliki nilai jual dan ekspor ke berbagai wilayah Indonesia maupun mancanegara. 4. Masa penjajahan Jepang Selama masa penjajahan Jepang pada Perang Dunia II, Pekalongan juga mengalami perubahan signifikan. Pada tahun 1942, Jepang menduduki Pekalongan dan memerintah daerah tersebut hingga berakhirnya perang pada tahun 1945. 5. Setelah Kemerdekaan Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Pekalongan menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejak itu, Pekalongan terus berkembang sebagai kota industri dan perdagangan yang penting di Jawa Tengah. Pada tahun 1950-an, Pekalongan menjadi ibu kota Kabupaten Pekalongan. Namun, pada tahun 1959, statusnya berubah menjadi kota otonom yang dikenal sebagai Kota Pekalongan. Dalam perkembangannya, Pekalongan terus menjadi pusat industri batik yang terkenal di Indonesia. Selain itu, sektor perdagangan, industri tekstil, dan perikanan juga memiliki peran penting dalam perekonomian kota ini. Sebagai kota dengan warisan budaya yang kaya, Pekalongan juga memiliki berbagai museum dan galeri yang memamerkan batik dan karya seni budaya lokal. Selain itu, Pekalongan juga menjadi tujuan wisata yang populer karena keindahan pantai dan kekayaan alamnya. Itulah sekelumit sejarah Kota Pekalongan, dari awal perkembangannya sebagai kawasan hutan hingga menjadi kota industri batik yang terkenal. Perjalanan sejarah ini memberikan gambaran tentang peran dan perkembangan Pekalongan sebagai salah satu kota penting di Jawa Tengah.
B. Geografis Kabupaten dan Kota I. Geografis Kab. Pekalongan Bagian utara Kabupaten Pekalongan merupakan dataran rendah; sedang di bagian selatan berupa pegunungan, bagian dari rangkaian Dataran Tinggi Dieng. Sungai-sungai besar yang mengalir di antaranya adalah Kali Sragi dan Kali Sengkarang beserta anak-anak sungainya, yang kesemuanya bermuara ke Laut Jawa. Kajen, ibu kota Kabupaten Pekalongan, berada di bagian tengah-tengah wilayah kabupaten, sekitar 25 km sebelah selatan Kota Pekalongan. Batas wilayah Kabupaten Pekalongan yaitu Utara: Laut Jawa Timur: Kabupaten Batang dan Kota Pekalongan Tenggara: Kabupaten Purbalingga Selatan: Kabupaten Banjarnegara Barat: Kabupaten Pemalang
Kota Pekalongan membentang antara 6º50’42”–6º55’44” LS dan 109º37’55”–109º42’19” BT. Berdasarkan koordinat fiktifnya, Kota Pekalongan membentang antara 510,00–518,00 km membujur dan 517,75–526,75 km melintang, dimana semuanya merupakan daerah datar, tidak ada daerah dengan kemiringan yang curam, terdiri dari tanah kering 67,48% Ha dan tanah sawah 32,53%. Berdasarkan jenis tanahnya, di Kota Pekalongan memiliki jenis tanah yang berwarna agak kelabu dengan jenis aluvial kelabu kekuningan dan aluvial yohidromorf. Jarak terjauh dari Utara ke Selatan mencapai ± 9 km, sedangkan dari Barat ke Timur mencapai ± 7 km. II. Geografis Kota Pekalongan Batas wilayah Kota Pekalongan yaitu Utara: Laut Jawa Timur: Kabupaten Batang Selatan: Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang Barat: Kabupaten Pekalongan
Ragam Budaya Kabupaten dan Kota Pekalongan A. Pakaian Adat I. Pakaian Adat Kabupaten dan Kota Pekalongan Busana yang dipakai seperti pada umumnya, gaya surakarta tetapi bentuknya dipadukan dengan budaya lokal. Pada pria yang paling menonjol yakni terletak pada pemakaian kopiah, jas, dasi kupu kupu mengenakan celana panjang dan untaian melati. Sedangkan untuk wanita mengenakan hiasan mahkota. Untuk busananya, kebaya berbahan bludru dan hiasan payet, baju kebaya dikenakan dengan kain jarik tapih motif sidomukti pesisir dengan hiasan payet-payet yang menjadi ciri has daerah pekalongan.
B. Rumah Adat II. Rumah Adat Kabupaten dan Kota Pekalongan Omah Lawang Sanga atau ada pula yang menyebutnya Omah Kaji (karena rata-rata pemilik dan penghuninya adalah mereka yang sudah berhaji) merupakan salah satu kekayaan budaya Pekalongan. Ada sembilan pintu utama pada Omah Lawang Sanga. Jumlah ini memiliki kesamaan jumlah lubang pada tubuh manusia. Kesamaan ini seolah mengisyaratkan bahwa rumah adalah seonggok tubuh. Sebagai seonggok tubuh, maka rumah membutuhkan beragam aktivitas agar ia menjadi hidup. Dan hidup, tidak sekadar hidup, ia mesti memberi manfaat dan memiliki kegunaan Dengan kata lain, Omah Lawang Sanga merupakan cara Wong Pekalongan menunjukkan harga diri dan mensejajarkan kedudukan mereka dengan bangsa-bangsa lain. Kesadaran ini timbul melalui konsep dasar tentang rumah sebagai sebatang tubuh. Tubuh tidak akan memiliki guna apa-apa jika tidak difungsikan. Selain itu, juga karena faktor sejarah masa silam, yang mendudukkan Pekalongan sebagai salah satu kota dagang dunia.
C. Dialek daerah pekalongan III. Bahasa/Dialek Kabupaten dan Kota Pekalongan Dialek Pekalongan memiliki fonetik (bunyi bahasa) yang khas, sebab merupakan pertemuan antara dialek bahasa Jawa Semarang (bandek) dan dialek bahasa Jawa Tegal (ngapak). Dalam penuturannya dialek ini menggunakan logat bandek dan terkesan agak ngapak. Logat bandek merupakan fonetik bahasa Jawa yang dalam mengeja huruf /a/ menjadi /ɔ/, misalnya kata apa dieja menjadi ɔpɔ. Meskipun dialek Pekalongan banyak menggunakan kosakata yang sama dengan dialek bahasa Jawa Tegal, namun secara fonetik sebagian besar dialek ini dipengaruhi oleh dialek bahasa Jawa Semarang. Dari pertemuan dua kutub itulah, dialek Pekalongan eksis dengan dinamika dan ciri khasnya tersendiri. Dialek Pekalongan memiliki beberapa unsur-unsur leksikal khas yang dipergunakan di wilayah penuturannya. Di antaranya yaitu penggunaan imbuhan ri, ra, pɔ'ɔ, ha'ah, pɔ', lha, ye pada setiap kalimatnya. Beberapa huruf vokal dan konsonan dalam dialek Pekalongan diucapkan agak kental, umumnya dengan menambahkan huruf /h/ dalam pengucapannya: Contoh penggunaan: banyu (air): diucapkan bhanyu iwak (ikan): diucapkan iwhak enyong (saya): diucapkan enyhong bali (pulang): diucapkan bhalhi
D. Upacara Adat daerah pekalongan IV. Upacara Adat Kabupaten dan Kota Pekalongan Syawalan merupakan tradisi masyarakat Kota Pekalongan khususnya masyarakat daerah Krapyak di bagian utara Kota Pekalongan yang dilaksanakan pada setiap hari kedelapan di Hari Raya Idul Fitri. Bahkan Syawalan yang jatuh pada 8 Syawal merupakan hari yang sangat istimewa dan selalu ditunggu-tunggu oleh warga. Pasalnya, hari itu merupakan hari berkumpulnya ribuan warga untuk bisa silaturahim dan saling berkunjung untuk menikmati segala hidangan yang disediakan secara gratis. Hal paling menarik dalam pelaksanaan tradisi ini adalah dibuatnya Lopis Raksasa yang ukurannya mencapai tinggi 2 meter dengan diameter 1,5 meter dan berat mencapai 225 Kg. Setelah acara doa bersama, Lopis Raksasa kemudian dipotong oleh Wali Kota Pekalongan dan dibagi-bagikan kepada para pengunjung. Para pengunjung biasanya berebut untuk mendapatkan Lopis tersebut yang maksudnya untuk mendapat berkah. Pembuatan Lopis dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahim antaranggota masyarakat Krapyak dan dengan masyarakat daerah sekitarnya, hal ini diidentikkan dengan sifat lopis yang lengket.
III. Sejarah Kab. Tegal Kkayaan sejarah sebuah kota atau kawasan terlihat dari jejak peninggalan apa yang disebut cultural heritage dan living cultural yang tersisa dan hidup di kawasan tersebut. Keduanya merupakan warisan peradaban umat manusia. Demikian halnya dengan Kabupaten Tegal, Wilayah yang kaya akan jejak peninggalan kesejarahan sebagai penanda bahwa Kabupaten Tegal sebagai tlatah kawasan tak dapat dilepaskan dari keterkaitan garis sejarah hingga membentuk kawasan sekarang ini. Penekanan pada bidang pertanian misalnya, tak dapat dilepaskan dari kondisi wilayah dan akar kesejarahan tlatah Kabupaten Tegal yang mengembangkan kapasitasnya selaku wilayah agraris. Tradisi keagrarisan dimulai dari ketokoan Ki Gede Sebayu juru demung trah Pajang. Bahkan kalau dirunut keagrarisan itu dimulai semenjak Mataram Kuno. Kesaksian ini diperkuat denga ditemukannya artefak kuno dan candi di Pedagangan. Ditambah tlatah Tegal kerapkali dikaitkan dengan kerajaan Pajang dan Mataram Islam yang cenderung kekuasaan dengan basis pada agraris ( De Graaf, 1986). Juru Demung Ki Gede Sebayu Tegal berasal dari nama Tetegal, tanah subur yang mampu menghasilkan tanaman pertanian (Depdikbud Kabupaten Tegal, 1984). Sumber lain menyatakan, nama Tegal dipercaya berasal dari kata Teteguall. Sebutan yang diberikan seorang pedagang asal Portugis yaitu Tome Pires yang singgah di Pelabuhan Tegal pada tahun 1500 –an (Suputro, 1955). Namun sejarah tlatah Kabupaten Tegal tak dapat diepaskan dari ketokohan Ki Gede Sebayu. Namanya dikaitkan dengan trah Majapahit, karena sang ayah Ki Gede Tepus Rumput ( kelak bernama Pangeran Onje) ialah keturunan Batara Katong Adipati Ponorogo yang masih punya kaitan dengan keturunan dinasti Majapahit (Sugeng Priyadi, 2002).
IV. Sejarah Kota Tegal Kota Tegal merupakan penjelmaan dari desa yang bernama TE-TEGAL. Kirakira tahun 1530 telah nampak kemajuannya dan termasuk wilayah Kabupaten Pemalang yang mengakui kerajaan Pajang. Ki Gede Sebayu saudara Raden Benowo pergi ke arah barat dan sampai di tepian sungai GUNG. Melihat kesuburan tanahnya, tergugah dan berniat bersama-sama penduduk meningkatkan hasil pertanian dengan memperluas lahan serta membuat saluran. Daerah yang sebagian besar merupakan tanah ladang tersebut kemudian dimanakan TEGAL.Atas keberhasilan usahanya memajukan pertanian dan membimbing warga masyarakat serta menanamkan rasa keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, ia diangkat menjadi pemimpin dan panutan warga masyarakat. Oleh Bupati Pemalang kemudian dikukuhkan menjadi sesepuh dengan pangkat Juru Demung atau Demang. Pengangkatan Ki Gede Sebayu menjadi pemimpin dilaksanakan pada perayaan tradisional setelah menikmati panen padi dan hasil pertanian lain di bulan purnama tanggal 15 Sapar tahun 1580 yang bertepatan dengan hari Jum?at Kliwon. Dalam perayaan juga dikembangkan ajaran agama dan budaya yang mempengaruhi kehidupan masyarakat pada waktu itu. Hari, tanggal dan tahun Ki Gede Sebayu diangkat menjadi pemimpin ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Tegal dengan peraturan daerah Nomor 5 tahun 1988 tanggal 28 Juli 1988. Di dalam peraturan Daerah tersebut Hari Jadi Kota Tegal diwujudkan dengan ungkapan filsafat sebagai berikut : 1. Tahun EHE 988 Hijrah dengan Cangdra Sengkala : ?MANG ESTI BASUKINING ANGGO?, yang berarti : - MANGESTI Berarti 8 - BASUKI Berarti 8 - Anggo Berarti 9 Secara harfiah berati berdoa untuk keselamatan diri dan bermakna setiap insan Pancasila akan selalu memohon kepada TuhanYang Maha Esa demi keselamatan dirinya, baik di dunia maupun di akhirat.
III. Geografis Kab. Tegal Kabupaten Tegal terletak di bagian barat laut Provinsi Jawa Tengah, dengan letak geografis 108°57'6"–109°21'30" BT dan 6°02'41"–7°15'30" LS. Dan mempunyai letak yang strategis pada jalan Semarang–Tegal–Cirebon serta Semarang–Tegal– Purwokerto dan Cilacap, dengan fasilitas pelabuhan di Kota Tegal. Batas wilayah Kabupaten Tegal yaitu Utara: Laut Jawa dan Kota Tegal Timur: Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Purbalingga Selatan: Kabupaten Brebes dan Kabupaten Banyumas Barat: Kabupaten Brebes dan Kota Tegal
IV. Geografis Kota Tegal Kota Tegal Terletak diantara 109°08’ - 109°10’ Bujur Timur dan 6°50’ - 6°53’ Lintang selatan, dengan wilayah seluas 39,68 Km² atau kurang lebih 3.968 Hektar. Kota Tegal berada di Wilayah pantai utara, dari peta orientasi Provinsi Jawa Tengah berada di Wilayah Barat, dengan bentang terjauh utara ke Selatan 6,7 Km dan Barat ke Timur 9,7 Km. Dilihat dari Letak Geografis, Posisi Kota Tegal sangat strategis sebagai Penghubung jalur perekonomian lintas nasional dan regional di wilayah Pantai Utara Jawa ( Pantura ) yaitu dari barat ke timur (Jakarta-Tegal-Semarang-Surabaya) dengan wilayah tengah dan selatan Pulau jawa (Jakarta-Tegal-Purwokerto-Yogyakarta-Surabaya) dan sebaliknya. Luas Wilayah Kota Tegal, relatif kecil yaitu hanya 0,11 % dari luas Provinsi Jawa Tengah. Secara Administrasi Wilayah Kota Tegal terbagi dalam 4 Kecamatan dan 27 Kelurahan, dengan batas administratif sebagai berikut : • Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa. • Sebelah Timur dan Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tegal. • Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Brebes. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1986 tentang perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Tegal dan Kabupaten Daerah Tingkat II Tegal, Luas Wilayah Kota Tegal adalah 38,50 Km² atau 3.850 Hektar. Namun demikian secara Defacto luas wilayah Kota Tegal mengalami perubahan sejak tanggal 23 Maret 2007 dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2007 tentang Perubahan Batas Wilayah Kota Tegal dengan Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah di Muara Sungai Kaligangsa., sehingga luas wilayah Kota Tegal menjadi 39,68 Km² atau 3.968 Hektar.
A. Pakaian Adat I. Pakaian Adat Kabupaten dan Kota Tegal Ragam Budaya Kabupaten dan Kota Tegal Pakaian Adat Tegal berwarna hitampasangan orang tua yang menggunakan Pakaian Khas Tegal. Jika pada laki-laki menggunakan ikat kepala wulung, celana komprang, dan ikat pinggang sarung. Sedangkan bagi wanita menggunakan kebaya hitam dengan bawahan jarit batik khas Tegal. Namun sekarang ini, pakaian tersebut mengalami beberapa perubahan, pada laki-laki tidak menggunakan sarung, namun batik khas Tegal yang dililitkan ke pinggang. Untuk wanitanya sendiri penggunaan jarik tidak sampai ke bawah, hanya sampai di bawah lutut, tidak sampai menutup mata kaki. Motif batik yang digunakan pun salah satunya menggunakan motif Parang Akik. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa motif Batik Tegalan didominasi oleh motif flora dan fauna.
B. Rumah Adat II. Rumah Adat Kabupaten dan Kota Tegal Rumah Tradisional ala Tegal masih banyak berdiri di wilayah Kota maupun Kabupaten Tegal namun jumlahnya tentu tidak sebanyak rumah modern. Bisa saja karena tergeser oleh jaman atau memang bangunannya tidak kokoh lagi. Ciri-ciri fisiknya antara lain: Terdapat “saka” di depan rumah yang fungsinya menopang bangunan. Saka bisa terbuat dari kayu ataupun campuran pasir dan semen. Tampak depan, jumlah jendela biasanya berjumlah genap dan posisi pintu biasanya ada di tengah dari jendela. Semuanya terbuat dari kayu. Untuk jendelanya apabila dibuka, maka membuka ke arah luar. Jendelanya juga terdiri dari dua bagian. Pada bagian atap, dibagi menjadi dua. Yaitu Atap untuk teras dan atap untuk bangunan utama. Bentuk bangunanya memanjang ke belakang. Dan biasanya ditengahtengah bangunan ada semacam ruangan terbuka. Ruang tamu dan ruang tengah dibatasi oleh tembok. Tembok dari rumah ini mudah sekali terkelupas. Jadi banyak sekali ditemukan tambal sulam pada bagian tembok. Untuk pemilihan cat, biasanya tembok dicat dengan warna putih. Apabila pintu depan kita buka, maka kita dapat melihat lurus langsung bagian belakang rumah. Karena posisi pintu memang dibuat satu garis. Untuk lantainya, ada beberapa rumah yang menggunakan tegel berpola, bahkan ada yang masih menggunakan semen.
Dialek bahasa Jawa Tegal yang berada di pesisir utara Jawa, juga di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, menjadikan dialek yang ada di Tegal beda dengan daerah lainnya. Pengucapan kata dan kalimat agak kental. Dialek Tegal adalah salah satu kekayaan bahasa Jawa, selain Banyumas. Meskipun memiliki kosakata yang relatif sama dengan bahasa Jawa Banyumasan, pengguna dialek Tegal tidak serta-merta mau disebut ngapak karena beberapa alasan antara lain: perbedaan intonasi, pengucapan, dan makna kata. Sebagai bentuk pelestarian bahasa Jawa dialek Tegal, saat ini salah satu perguruan tinggi yang ada di Kota Tegal pun mulai menggunakan puisi berbahasa Tegal sebagai salah satu bahan ajar di perkuliahan. Selain pada intonasinya, dialek Tegal memiliki ciri khas pada pengucapan setiap frasanya, yakni apa yang terucap sama dengan yang tertulis. Secara positif -seperti dipaparkan oleh Ki Enthus Susmono dalam Kongres Bahasa Tegal I- hal ini dinilai memengaruhi perilaku konsisten masyarakat penggunanya. Untuk lebih jelas, mari kita amati beberapa contoh dan tabel berikut ini: padha, dalam dialek Tegal tetap diucapkan 'pada', seperti pengucapan bahasa Indonesia, tidak seperti bahasa Jawa wéṭanan (Yogyakarta, Surakarta, dan sekitarnya) yang mengucapkan pådhå. saka, (dari) dalam dialek Tegal diucapkan 'saka', tidak seperti bahasa Jawa wéṭanan (Yogyakarta, Surakarta, dan sekitarnya) yang mengucapkan såkå. C. Bahasa/Dialek III. Bahasa/Dialek Kabupaten dan Kota Tegal
D. Upacara Adat daerah Tegal IV. Upacara Adat Kabupaten dan Kota Tegal 1.Tradisi Moci Moci merupakan salah satu tradisi di Tegal yang masih dilestarikan hingga saat ini. Jika mengunjungi Kota Tegal rasanya tidak akan pernah lengkap bila belum menikmati teh poci. Tradisi menikmati teh poci ini bahkan sudah ada sejak zaman penjajahan. Masyarakat biasanya akan menikmati seduhan teh poci saat pagi dan sore hari sembari ditemani camilan ringan sehingga waktu istirahat akan lebih terasa menenangkan. Masyarakat juga biasanya menggunakan gula batu sebagai pemanis tambahan. Poci merupakan wadah yang terbuat dari tanah liat dan biasanya digunakan oleh masyarakat sebagai tempat menyeduh teh. Untuk menjadikan cita rasa pocinya tidak hilang dan menguar begitu saja, biasanya masyarakat akan menutup ujung poci menggunakan bungkus teh.
2. Tradisi Prebegan Tradisi Prepegan menjadi bagian dari warisan adat istiadat Tegal yang masih terjaga kelestariannya sampai sekarang. Warga Kota Tegal akan melakukan tradisi tersebut untuk menyambut datangnya Hari Raya Idul Fitri. Sehari sebelum lebaran biasanya masyarakat akan beramai-ramai ke pasar dengan berjalan kaki guna berbelanja beragam keperluan untuk menjamu para tamu. Ketika Prepegan tentu saja pasar akan menjadi sangat ramai dan cukup sempit. Tetapi masyarakat tetap bersedia berdesak-desakan untuk membeli berbagai kebutuhannya. Sedangkan pada saat hari raya, masyarakat di Kota Tegal akan melakukan Nyadran yang merupakan kegiatan untuk mengunjungi rumah sanak saudara yang jauh. Nyadran dilakukan dengan membawa sirup ataupun kue sebagai bingkisan untuk saudara yang lebih tua. Masyarakat pun akan membuat opor ayam serta kupat sayur untuk sarapan bersama keluarganya.
3. Tradisi Mutih Biasanya calon pengantin wanita di Kota Tegal akan melaksanakan tradisi Mutih sebelum pernikahannya. Calon pengantin wanita juga tidak diperbolehkan makan menggunakan lauk yang enak dan hanya diizinkan untuk mengonsumsi nasi putih ataupun tahu putih yang tidak dimasak atau digoreng terlebih dahulu. Ketika tradisi mutih dilakukan oleh calon pengantin wanita, maka kedua calon pengantin tidak boleh bertemu. Akan tetapi mereka masih diperbolehkan untuk berkomunikasi melalui ponsel dan akan kembali dipertemukan setelah ijab qobul dilaksanakan. Hal tersebut bertujuan agar calon pengantin wanita bisa terlihat lebih cantik setelah dirias. Dengan begitulah pengantin pria pasti akan terpesona setelah melihat pasangannya.
4. Tradisi Unggah-Unggahan Masyarakat di Pantura Tegal- Brebes memiliki tradisi tersendiri dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Namanya adalah tradisi unggah-unggahan. Tradisi itu masih menjadi bagian dalam pelaksanaan tradisi ruwahan. Pelaksanaan tradisi unggah-unggahan dimulai pada malam nisfu Syaban, hingga H-1 Ramadhan. Masyarakat akan membagikan makanan beserta lauk-pauk kepada tetangga. Sejarawan Pantura, Wijanarto menjelaskan, unggah-unggahan adalah tradisi yang dilakukan dengan cara berbagi kesalehan dengan tetangga. Masyarakat melakukannya dengan membuat makanan kemudian dibagikan. Tradisi tersebut hingga saat ini masih terawat dan dilakukan di wilayah Tegal- Brebes."Ini dilakukan saat ruwah atau Syaban.
5. Tradisi Mudun Lemah Dari dahulu sampai sekarang Tradisi Mudun Lemah masih tetap dilaksanakan. Tradisi seperti ini biasanya dilakukan ketika bayi sudah mencapai usia satu tahun. Pada saat itulah ibu dari anak tersebut membuat bubur candil dan bubur sumsum yang kemudian dibagikan kepada warga sekitar. Ibu dari bayi juga akan menyiapkan keperluan lainnya seperti kaca, emas, buku, pulpen, dan padi yang kemudian diletakkan di piring bersamaan dengan nasi kuning. Sebelum bubur dibagikan, akan terdapat serangkaian acara. Nantinya bayi akan lebih dulu dipangku oleh anggota keluarganya kecuali sang ibu dan ayah kandungnya. Kemudian bayi akan dimasukkan dalam kurungan ayam. Setelah itu nenek dari bayi akan memutari kurungan sembari membawa ceplik dan membaca doa-doa. Acara dilanjutkan dengan membuka kurungan dan bayi dipersilakan mengambil barang-barang yang sebelumnya telah disiapkan oleh ibunya. Semua yang terdapat pada piring tersebut mempunyai makna yang baik, misalnya jika bayi mengambil pulpen dan buku, itu maknanya si bayi kelak akan menjadi orang yang giat belajar dan membaca. Setelah bayi mengambil barang, barulah bubur akan dibagikan. Acara pun ditutup dengan menyebarkan uang logam. Tradisi ini dilaksanakan dengan tujuan agar bayi tersebut bisa tumbuh dengan baik dan segera berjalan dan cepat lari. Itulah adat istiadat Tegal dan beberapa tradisi uniknya yang masih dilestarikan hingga sekarang. Dalam setiap tradisi tentunya mempunyai pemaknaan yang berbeda-beda dan telah dipercaya oleh masyarakat sampai saat ini.
V. Sejarah Kabupaten Brebes Ada beberapa pendapat mengenai asal - usul nama "Brebes" yang di antaranya berasal dari kata "Bara" dan "Basah", bara berarti hamparan tanah luas dan basah berarti banyak mengandung air. Keduanya cocok dengan keadaan daerah "Brebes" yang merupakan dataran luas yang berair. Karena perkataan bara di ucapkan "bere" sedangkan basah di ucapkan "besah" maka untuk mudahnya di ucapkan "Brebes". Dalam Bahasa Jawa perkataan "Brebes atau mrebes" yang berarti tansah metu banyune yang berarti "Selalu keluar airnya". Nama "Brebes" muncul sejak zaman Mataram. Kota ini berderet dengan kota-kota tepi pantai lainnya seperti Pekalongan, Pemalang, dan Tegal. Brebes pada saat itu merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Tegal. Pada tanggal 17 Januari 1678 di Jepara diadakan pertemuan Adipati Kerajaan Mataram se-Jawa Tengah, termasuk Arya Martalaya, Adipati Tegal dan Arya Martapura, Adipati Jepara. Karena tidak setuju dengan acara penandatanganan naskah kerjasama antara Amangkurat Admiral dengan Belanda terutama dalam menumpas pemberontakan Trunajaya dengan imbalan tanah-tanah milik Kerajaan Mataram, maka terjadi perang tanding antara kedua adipati tersebut. Peristiwa berdarah ini merupakan awal mula terjadinya Kabupaten Brebes dengan Bupati berwenang. Sehari setelah peristiwa berdarah tersebut yaitu tanggal 18 Januari 1678, Sri Amangkurat II yang berada di Jepara mengangkat beberapa Adipati / Bupati sebagai pengagganti Adipati-adipati yang gugur. Untuk kabupaten Brebes di jadikan kabupaten mandiridengan adipati Arya Suralaya yang merupakan adik dari Arya Martalaya. Pengangkatan Arya Suralaya sekaligus titimangsa pemecahan Kadipaten Tegal menjadi dua bagian yaitu Timur tetap di sebut Kadipaten Tegal dan bagian barat di sebut Kabupaten Brebes.
V. Geografis Kab. Brebes Kabupaten Brebes merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang terletak di ujung barat Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Brebes terletak pada posisi kordinat 108° 41'37,7" - 109° 11'28,92" Bujur Timur 6° 44'56'5" - 7° 20'51,48" Lintang Selatan dengan luas wilayah 1.902,37 km2 yang merupakan kabupaten paling luas kedua di Jawa Tengah setelah Kabupaten Cilacap. Kabupaten Brebes terdiri atas 17 Kecamatan, 5 Kelurahan dan 292 Desa. Kabupaten Brebes berbatasan dengan beberapa kabupaten,adapaun batas-batas tersebut adalah sebagai berikut : - Barat : Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan - Selatan : Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Cilacap - Timur : Kota Tegal dan Kabupaten Tegal
Ragam Budaya Kabupaten Brebes A. Pakaian Adat I. Pakaian Adat Kabupaten dan Kota Brebes Ada dua baju pengantin adat Brebesan yaitu Puspanegaran untuk ningrat dan Suralayan untuk masyarakat umum atau pesisiran. Baju Puspanegaran sebagian hampir hampir sama dengan baju adat Solo, ada beberapa modifikasi dibagian baju dan tata rambut. Sedangkan baju Suralayan menggunakan kain batik Salem atau Mangrove, baju berwarna dominan hijau dan berkacamata, sekilas mirip dandanan sintren. Unsur-unsur Brebes sangat dominan disini, dari telor asin, bawang merah dan klengeng menjadi variasi baik tatanan rambut dan hiasan baju. Hasil dari modifikasi baju pengantin ini, menambah koleksi baju adat penganten yang sudah ada selama ini.
B. Rumah Adat II. Rumah Adat Kabupaten dan Kota Brebes Seperti rumah adat Batang, tidak banyak informasi tentang rumah adat batang ini. Rumah adat ini masih sama bermodel kan joglo kayu khas Jawa Tengah. Ciri - ciri fisik rumah adat ini : memiliki bentuk atap seperti kerucut hanya memiliki 2 pintu depan
C. Dialek Daerah Brebes III. Dialek Kabupaten dan Kota Brebes Bahasa Sunda Brebes (ᮘᮞ ᮞᮥ ᮔ᮪ᮓ ᮘᮢᮨ ᮘᮨᮞ᮪, basa Sunda Brebes) atau dialek Brebes[6] adalah sebuah dialek bahasa Sunda yang lazimnya dituturkan oleh penduduk bersuku Sunda di sebagian wilayah Kabupaten Brebes, Jawa Tengah khususnya di bagian selatan dan barat daya. Dalam rumpun bahasa Sunda, bahasa Sunda Brebes termasuk ke dalam rumpun dialek Sunda Timur Laut yang berkerabat dekat dengan bahasa Sunda Kuningan.[7][8] Bahasa ini diperkirakan mempunyai penutur sebanyak 14% dari keseluruhan penduduk Kabupaten Brebes.[2] Meskipun secara fonologis bahasa Sunda Brebes sama dengan bahasa Sunda baku, bahasa Sunda Brebes memiliki keunikan tersendiri berupa kosakata, tata bahasa, dan intonasi yang berbeda dengan bentuk standar bahasa Sunda.
D. Upacara Adat daerah Brebes IV. Upacara Adat Kabupaten dan Kota Brebes Salah satu daerah di Brebes yang hingga kini masih mempertahankan budaya Sunda adalah Dukuh jalawastu yang berada di Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan. Bahkan dalam keseharian mereka, warga Dukuh Jalawastu menggunakan bahasa Sunda untuk berkomunikasi kepada sesama. Selain itu, warga Dukuh Jalawastu setiap tahun selalu menggelar tradisi khas Sunda, yaitu upacara adat Ngasa. Dikutip dari laman Kemendikbud RI, upacara Ngasa ini merupakan ungkapan syukur warga kepada sang Pencipta atas karunia hasil bumi. Dikatakan bahwa upacara Ngasa adalah salah satu tradisi ungkapan rasa syukur masyarakat Jalawastu atas melimpahnya hasil pertanian dalam kurun waktu satu tahun ke belakang. Selain itu, juga merupakan manifestasi penghormatan kepada nenek moyang.
VI. Sejarah Kab. Pemalang Sejarah Kabupaten Pemalang terbentang sejak zaman Prasejarah, Mataram Islam, hingga penjajahan Belanda sampai saat ini. Bukti yang menunjukkan Pemalang sudah dihuni sejak masa Prasejarah melalui beberapa penemuan arkeologis di wilayah tersebut. Salah satunya penemuan patung Ganesha serta situs kuburan di Desa Lawangrejo dan Desa Banyumudal. Sementara pendirian Kabupaten Pemalang sendiri dikaitkan dengan runtuhnya Kesultanan Pajang. Konon sejumlah bangsawan Pajang banyak yang melarikan diri ke arah barat untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Beberapa di antara mereka ada yang sampai ke daerah yang kini masuk wilayah Kabupaten Pemalang. Salah satu bangsawan Pajang itu bernama Raden Sida Wini. Dia membuka daerah Pemalang dan menobatkan diri sebagai Adipati di sana. Pengakuan masyarakat terhadap pemerintahan di Pemalang ini terjadi pada tanggal 22 Januari 1575. Namun sebagian sumber lain menyebutkan bahwa bangsawan Pajang yang membuka daerah Pemalang bernama Pangeran Benawa. Pengeran Benawa adalah putra pendiri Kesultanan Pajang yang bergelar Sultan Hadiwijaya. Dengan demikian, Pangeran Benawa sebenarnya berstatus sebagai Putra Mahkota Pajang, yang berhak atas tahta ayahnya. Kepergian Pangeran Benawa ke Pemalang juga atas perintah dari ayahnya yaitu Sultan Hadiwijaya. Saat itu Sultan Hadiwijaya memerintahkan Pangeran Benawa untuk membuka daerah Pemalang. Namun sebelumnya Pangeran Benawa diminta untuk mengambil keris pusaka dari Kesultanan Banten. Pengeran Benawa menuruti perintah ayahnya. Sepulang dari mengambil keris, dia pun menuju ke satu desa di wilayah Pemalang. Di sana, Pangeran Benawa menggoreskan kerisnya ke cabang pohon. Wilayah ini kemudian disebut Panggarit. Panggarit berasal dari dua kata, pertama pang yang berarti cabang, dan garit yang berarti goresan. Hingga saat ini daerah itu tetap dikenal dengan nama Desa Panggarit, serta terdapat petilasan Pangeran Benawa yang disebut Jambandalem.
VI. Geografis Kab. Pemalang Kabupaten Pemalang merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Dengan Luas wilayah sebesar 111.530 Ha, sebagian besar wilayah merupakan tanah kering seluas 72.836 Ha (65,30%) dan lainnya tanah persawahan seluas 38.694 Ha (34,7%). Adapun Batas-batas wilayah Kabupaten Pemalang, sebagai berikut: Sebelah Utara : Laut Jawa Sebelah Timur : Kabupaten Pekalongan Sebelah Selatan : Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Banyumas Sebelah Barat : Kabupaten Tegal Kabupaten Pemalang terletak pada 1090 17’ 30’– 1090 40’ 30’ Bujur Timur (BT) dan 8052’ 30’ – 7o20’ 11’ Lintang Selatan (LS)
Ragam Budaya Kabupaten Pemalang A. Pakaian Adat Kabupaten Pemalang memiliki ragam kain tradisional yang biasa disebut sarung goyor. Kain ini merupakan kain yang menjadi identitas Pemalang. Penamaan “goyor” diambil dari bahasa Jawa yang memiliki arti lembek. Penamaan ini merujuk pada tekstur sarung yang cenderung halus dan tidak kaku saat digunakan. Masyarakat di sini sudah membuatnya dengan ragam motifnya sejak 1980 hingga sekarang. Kebanyakan perajin menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang berbahan dasar kayu. Alat ini harus digerakkan dengan tenaga manusia dengan cara digenjot dan ditarik. Dengan menggunakan ATBM, kualitas kain yang dibuat lebih terjaga dan motif yang tertanam terlihat lebih autentik. Proses penggulungan benang pun masih menggunakan kerekan, perajin juga memakai baki khusus yang dibuat dari kayu untuk melukis motif pada sarung. Beragam motif yang ada seperti motif kembangan (bunga), prilikan, dan nanasan. Motif nanasan telah menjadi ciri khas sarung goyor Pemalang yang identik dengan nanas. Masing-masing motifnya memiliki makna. Ramainya gambar yang ada pada motif kembangan dan nanasan mengusung keindahan dan estetika bagi para pemakainya. Adapun motif prilikan sendiri bermakna kesederhanaan. I. Pakaian Adat Kabupaten dan Kota Batang
C. Bahasa/Dialek Bahasa Jawa Pemalang atau Basa Pemalangan adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Jawa Tengah khususnya Kabupaten Pemalang bagian tengah. Ciri khas dialek ini yaitu memiliki pengucapan yang mirip dengan Bahasa Jawa Banten maupun Bahasa Malaysia yakni huruf A di ucapkan "e pepet"(eu) seperti sega, pira, apa di ucapkan segê, pirê, apê . hanya saja di dialek Pemalangan pengucapanya secara di tahan. Dialek ini diyakini merupakan pertemuan Bahasa Jawa Tegal yang berdialek A dengan Bahasa Jawa Pekalongan yang berdialek O. Letak Kabupaten Pemalang yang ada di persimpangan kabupaten/kota lainnya juga mempengaruhi timbulnya logat yang sangat asing bagi masyarakat Suku Jawa pada umumnya.
D. Upacara adat Tradisi Jamasan merupakan tradisi yang ada dibeberapa daerah khususnya di daerah pulau Jawa. Tradisi Jamasan banyak dilakukan pada bulan suro atau muharram, seperti pada tradisi jamasan yang dilaksanakan oleh Kabupaten Pemalang meliputi pusaka dan kereta kencana. Tradisi jamasan pusaka dan kereta kencana merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Pemalang dengan tujuan untuk melestarikan dan merawat budaya leluhur.
VII. Sejarah Kab. Batang Asal-usul nama BATANG Menurut kamus Kawi-Indonesia karangan Prof. Drs. Wojowasito, Batang berarti : (1) Plataran, (2) Tempat yang dipertinggi, (3) Dialahkan, (4) Kata bantu bilangan. Dalam bahasa Indonesia (juga bahasa Melayu) berarti sungai, dalam kamus jawaIndonesia karangan Prawiroatmojo berarti terka, tebak. Atas dasar arti kata tersebut diatas maka dalam hubungan alami yang ada dilokasi yang ada disekarang ini maka yang agak tepat adalah: plataran (platform) yang agak ketinggian dibandingkan dengan dataran disekitarnya maupun bila dilihat dari puncak pegunungan di sekitarnya juga bila dipandang dari laut jawa. Menurut legenda yang sangat populer, Batang berasal dari kata = Ngembat - Watang yang berarti mengangkat batang kayu. Hal ini diambil dari peristiwa kepahlawanan Ki Ageng Bahurekso, yang dianggap dari cikal bakal Batang. Menurut sejarah, Batang telah memiliki dua kali periode pemerintahan Kabupaten. Periode I diawali zaman kebangkitan kerajaan Mataram Islam (II) sampai penjajahan asing, kira-kira dari awal abad 17 sampai dengan 31 Desember 1935. Sedang periode II, dimulai awal kebangkitan Orde Baru (8 April 1966) sampai sekarang, bahkan Batang dapat ditelusuri sejak prasejarah. Sejak dihapuskan status Kabupaten (1 Januari 1936) sampai tanggal 8 April 1966, Batang tergabung dengan Kabupaten Pekalongan.
VII. Geografis Kab. Batang Kabupaten Batang terletak pada 6° 51' 46" sampai 7° 11' 47" Lintang Selatan dan antara 109° 40' 19" sampai 110° 03' 06" Bujur Timur di pantai utara Jawa Tengah dan berada pada jalur utama yang menghubungkan Jakarta-Surabaya. Luas daerah 78.864,16 Ha. Batas-batas wilayahnya sebelah utara Laut Jawa, sebelah timur Kabupaten Kendal, sebelah selatan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara, sebelah barat Kota dan Kabupaten Pekalongan. Posisi tersebut menempatkan wilayah Kabupaten Batang, utamanya Ibu Kota Pemerintahannya pada jalur ekonomi pulau Jawa sebelah utara. Arus transportasi dan mobilitas yang tinggi di jalur pantura memberikan kemungkinan Kabupaten Batang berkembang cukup prospektif di sektor jasa transit dan transportasi.
Ragam Budaya Kabupaten Batang A. Pakaian Adat I. Pakaian Adat Kabupaten dan Kota Batang Pakaian adat kabupaten batang mempunyai ciri khas yang hampir sama dengan pakaian adat khas melayu yang di kombinasikan dengan dengan jawi jangkep dan kebaya. Ciri-ciri ini bisa dilihat dari bentuk baju perempuan dengan potongan longgar, berlengan panjang dan berpesak serta melebar bagian bawahnya. Dan tentunya dilengkapi dengan berbagai macam aksesoris untuk menambah keindahan baju adat tersebut. ciri-ciri yang lainnya, bisa dilihat dari penggunaan ornamen rok yang terbuat dari kain songket atau kain sarung. Keduanya adalah gulungan kain yang terlipat di sekitar pinggang pemakainya. Tutup kepala berwarna hitam legam atau gelap yang disebut songkok juga bisa dipakai untuk melengkapi pakaian.
B. Rumah Adat II. Rumah Adat Kabupaten dan Kota Batang Seperti rumah adat Brebes, tidak banyak informasi tentang rumah adat batang ini. Rumah adat ini masih sama bermodel kan joglo kayu khas Jawa Tengah. Ciri - ciri fisik rumah adat ini : Model rumah ini sangatlah sederhana Jendela rumah ini memiliki penyekat 3 blok kayu pada masing masing jendela, ditambah dengan penutup luar jendela sebagai pelindung jendela bagian dalam memiliki 3 pintu depan
C. Dialek Daerah Batang III. Dialek Kabupaten dan Kota Batang Masyarakat Kabupaten biasanya menggunakan Bahasa Jawa Dialek Pekalongan yang merupakan ciri khas tersendiri dengan memiliki fonetik (bunyi bahasa) yang khas, sebab merupakan pertemuan antara dialek bahasa Jawa Semarang (bandek) dan dialek bahasa Jawa Tegal (ngapak). Dalam penuturannya dialek ini menggunakan logat bandek dan terkesan agak ngapak. Logat bandek merupakan fonetik bahasa Jawa yang dalam mengeja huruf /a/ menjadi /ɔ/, misalnya kata apa dieja menjadi ɔpɔ. Namun, selain itu juga Bahasa Jawa Banyumasan (ngapak) juga dituturkan oleh penduduk di wilayah timur, selatan dan sebagian tengah Kabupaten Batang yang mayoritas wilayah pegunungan dan dataran tinggi dengan ciri khas logatnya tersendiri. Jika dilihat dari peta persebaran bahasa disamping, maka diperkirakan Bahasa ngapak dituturkan di delapan kecamatan diantaranya Wonotunggal, Bandar, Blado, Pecalungan, Limpung, Tersono, Reban dan Bawang. Tidak hanya itu, banyak kata berakhiran vokal a dibaca dengan vokal e seperti dalam kata padha bae dibaca padhe bae. Bahkan di Kecamatan Subah, ada satu desa yakni Adinuso, yang menggunakan vokal i di beberapa kosakatanya. Misalkan kata andhi dibaca andhi, sega dibaca segi.
D. Upacara adat Daerah Batang IV. Upacara Kabupaten dan Kota Batang Kliwonan adalah tradisi malam Jumat Kliwon untuk mengenang jasa leluhur dan nenek moyang yang telah membangun wilayah Batang, Jawa Tengah. Tradisi Kliwonan di Batang sebagai tradisi turun temurun yang dilakukan dari dahulu hingga saat ini. Bagi masyarakat Batang, malam Jumat Kliwon sangat dinanti dengan penuh kegembiraan. Tradisi Kliwonan awalnya untuk mengenang leluhur masyarakat Batang, yaitu Bahurekso. Sang leluhur tersebut pernah bersemedi di Sungai Lojahan atau Kramat. Pemilihan waktu pelaksaan pada Jumat Kliwon, tidak lain meniru masyarakat yang berziarah di makam Sunan Sendang atau Sayid Nur pada malam Jumat Kliwon. Masyarakat Batang, khususnya para orang tua, sering melakukan semedi di Sugai Kramat. Dalam tradisi Kliwonan juga berupa ngelap berkah atau mencari berkah untuk kesembuhan dan kesehatan anak kecil dengan melakukan beberapa ritual. Ritual yang dilakukan berupa gulingan, mandi di Masjid Agung Batang, dan membuang pakaian bekas pakai saat pelaksaan gulingan, membagi-bagikan uang, dan makanan khas jajan pasar.
Upaya Pelestarian Budaya Kerasidenan Pekalongan Banyak upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga budaya yang ada di Kabupaten dan Kota Batang. Contohnya seperti memeriahkan upacara adat Kliwonan yang diselenggarakan sebagai upaya pelestarian budaya di daerah Batang. Selain itu ada juga upaya pelestarian bahasa, di daerah Brebes yang hingga kini masih mempertahankan budaya sunda adalah Dukuh Jalawastu yang berada di Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan. Dimana mereka masih menggunakan bahasa sunda untuk berkomunaksi kepada sesama. Sebagai upaya pelestarian bahasa Tegal maka dilakukanlah cara untuk terus melestarikan bahasa Tegal. Salah satunya dalam bentuk pementasan Sampak Tegalan, dimana sampak Tegalan adalah pentuk pertunjukan drama dengan membawakan menggunakan bahasa Tegal, ide cerita yang melekat dimasyarakat Tegal, juga music dan lagu-lagu pengiringnya meggunakan lagu dan bahasa Tegal. Upaya pelestarian budaya di daerah pekalongan, contohnya di daerah krapyak dengan memeriahkan acara syawalan yang biasa di lehat pada tanggal 8 Syawal, atau seminggu setelah jatuhnya Hari Raya Idul Fitri dengan membuat lopis raksasa.
Profile penulis & semua anggota ADILA SAQIBA XI-11/01 JESSICA MARETA S. XI-11/14 PUTRI ARYO N.F. XI-11/16 PUTRI ROSITARI M. XI-11/17
Disusun Oleh: Adila Saqiba, Jessica Mareta, Putri Aryo, Putri Rosita SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang