KAPAK DAN PENEBANG KAYU
Cerita kali ini berkisah mengenai Kapak dan Penebang Kayu.
Suatu ketika, ada seorang pemuda sangat kuat memohon pekerjaan kepada
seorang saudagar kayu.
Melihat keinginan yang besar dari pemuda itu, saudagar kayu memberikan
pekerjaan sebagai penebang pohon dengan upah yang lumayan.
Untuk menunjukan kesungguhaannya si pemuda bertekad, akan bekerja dengan
sangat keras.
Keesokan harinya si pemuda datang ke hutan dimana dia akan menebang kayu
dengan membawa Kapak yang telah diberikan oleh Saudagar Kayu.
Hari pertama pemuda itu telah berhasil menebang 21 batang pohon.
“Wah, hebat kamu kuat sekali, bisa membawa pulang kayu sebanyak ini dalam satu
hari,” kata saudagar kayu memuji.
Termotivasi oleh perkataan itu, sang pemuda menebang kayu dengan usaha yang
lebih keras keesokan harinya.
Tetapi, hari itu ia hanya berhasil menebang 18 batang pohon.
Hari ketiga dia berusaha lebih keras lagi, tetapi dia hanya bisa membawa 16 pohon.
Hari demi hari, pohonnya makin berkurang.
“Apakah aku telah kehilangan kekuatanku,” si penebang kayu berpikir keras.
Dia kemudian menghadap saudagar kayu untuk meminta maaf.
Si penebang Kayu berkata bahwa dia tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Kemudian si Saudagar kayu bertanya. “Coba katakana kepadaku, kapankah terakhir
kali kamu mengasah kapak yang biasa kamu gunakan?”
“Mempertajam? Saya tidak punya waktu untuk mengasah kapak saya. Saya sangat
sibuk menebang pohon.”
“Cobalah secara rutin asah kapakmu sebelum bekerja dan coba lihat hasilnya.” si
Saudagar memberikan saran.
Setelah si pemuda secara rutin mengasah Kapaknya, hasil kerjanya kembali
meningkat dan sangat memuaskan.
Sahabat BAHAGIA STUDIO, terkadang bekerja keras saja tidaklah cukup untuk
mencapai kesuksesan.
Kita juga harus bekerja dengan cerdas!
Pemuda itu pada dasarnya memiliki potensi yang hebat untuk memotong kayu.
Namun pada awalnya dia tidak memiliki sikap yang tepat untuk dapat berhasil untuk
mendapatkan hasil yang maksimal.
Sama seperti Kapak yang harus terus diasah, kita juga harus melestarikan dan
meningkatkan aset terbesar yang Kita miliki– yaitu Diri kita sendiri.
Ini berarti memiliki kita harus menjaga serta meluangkan waktu memastikan
kebutuhan diri kita tercukupi.
Ada 4 aspek yang harus kita perhatikan untuk hidup yang berkualitas:
1. Fisik : Pastikan kita selalu memakan makanan sehat, olah raga dan istirahat yang
cukup.
2. Sosial/Emosional : yaitu menjalin hubungan yang baik dengan orang2 disekitar
kita.
3. Pikiran dengan cara terus belajar, membaca, menulis, ataupun mengajar
4. Dan yang terakhir adalah Rohani: seperti menikmati keindahan alam,
meditasi, menikmati musik, ataupun seni.
Jika kita bisa memadukan keempat aspek ini dengan kerja keras, maka kita akan
mendapatkan kehidupan yang berkualitas.
Itulah cerita mengenai Kapak dan Penebang Kayu