The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by harinirida5, 2022-12-13 03:32:43

MODUL 1.4 DISIPLIN POSITIF

MODUL 1.4 DISIPLIN POSITIF

MODUL 1.4 DISIPLIN POSITIF
tugas modul 1.4.a.5.2

hasil diskusi ruang kolaborasi
kelas b kelompok 3 cgp angkatan 7

kabupaten cilacap



ANALISIS STUDI
KASUS 1-4

SUDIRA, S.Pd.SD ANITA YUNIARTI, S.Pd
FASILITATOR PENGAJAR PRAKTIK

KELAS B KELOMPOK 3

JAFAR FARIDA YULI ASTUTI S.Pd.SD SRI MARWATI, S.Pd
SARIFUDIN,S.Pd HARININGRUM, S.Pd.SD

ANALISIS STUDI KASUS BERDASARKAN
TEORI DISIPLIN POSITIF

Mari kita ingat kembali materi modul 1.4 yaitu :
Disiplin Positif
Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi
Keyakinan Kelas
5 Kebutuhan Dasar Manusia
5 Posisi Kontrol
Segitiga Restitusi

TUJUAN DISIPLIN POSITIF

Menanamkan motivasi pada murid-
murid kita untuk menjadi orang-
orang yang mereka inginkan dan
menghargai diri sendiri dengan
nilai-nilai yang mereka percaya.

Teori Motivasi, Hukuman dan
Penghargaan, Restitusi


3 Motivasi Perilaku Manusi (Diane Gossen): Untuk menghindari ketidaknyamanan

atau hukuman, .mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, menjadi
orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang
mereka percaya.

Hukuman adalah tindakan pendidikan yang sengaja dan secara sadar di
berikan kepada anak didik yang melakukan suatu kesalahan, agar anak didik
tersebut menyadari kesalahannya dan berjanji dalam hatinya untuk tidak
mengulanginya. (Alisuf Sabri)

Penghargaan (Reward) adalah salah satu alat pendidikan untuk mendidik supaya
anak merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapatkan
penghargaan.

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki
kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan
karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004).

KEYAKINAN KELAS




KEYAKINAN KELAS MERUPAKAN
KESEPAKATAN KELAS YANG DI
YAKINI BERSAMA OLEH GURU DAN

SISWA SELAMA PROSES
PEMBELAJARAN

5 kebutuhan Dasar Manusia

Kebutuhan Cinta dan Kasih sayang
bertahan hidup (kebutuhan unuk diterima)

Penguasaan (Kebutuhan Pengakuan
atas kemampuan)

Kebebasan Kebutuhan untuk
(Kebutuhan akan pilihan) merasa senang

5 POSISI Penghukum
KONTROL
Pembuat orang
merasa bersalah

Teman

Monitor atau
pemantau

Manager

Segitiga Restitusi

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk
memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada
kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen;
2004).
Restitusi adalah proses kolaboratif yang mengajarkan murid
untuk mencari solusi masalah, dan membantu siswa berpikir
tentang orang seperti apa yang mereka inginkan, dan bagaimana
mereka harus memperlakukan oranglain. (Chelsom Gossen, 1996)

Kasus # 1

Guru Matematika dan wali kelas 8, Ibu Santi sakit, sehingga tidak dapat masuk dan mengajar. Akhirnya
dicarikan guru pengganti, Ibu Eni. Ibu Eni baru 2 tahun menjadi guru SMP. Beberapa murid perempuan, Fifi dan
Natali, mengetahui hal ini dan mulai menggunakan kesempatan dan bersikap seenaknya, tertawa dan tidak
mengindahkan kehadiran Ibu Eni. Ibu Eni mencoba menyapa Fifi dan Natali dengan ramah, sambil mengingatkan
mereka untuk tetap fokus pada pengerjaan tugas, “Ayolah tugasnya dikerjakan, nanti Ibu ditegur Bapak Kepala
Sekolah kalau kalian tidak kerjakan tugas. Tolong bantu Ibu ya?” Namun Fifi dan Natali malah jadi tertawa, “Ah
Ibu, santai saja bu”. Mereka tetap tidak mengerjakan tugas dan malah mengobrol.
Keesokan harinya, Ibu Santi memanggil Fifi dan Natali serta menanyakan tentang laporan Ibu Eni. Ibu Santi
menanyakan apakah mereka bersedia melakukan memperbaiki permasalahan yang ada? Fifi dan Natali sempat
ragu-ragu dan membela diri, namun pada akhirnya mengatakan akan meminta maaf. Ibu Santi menanggapi
bahwa tindakan itu boleh saja dilakukan bila mereka sungguh-sungguh ingin meminta maaf, namun Ibu Santi
menanyakan kembali, apa yang mereka bisa lakukan untuk menggantikan rasa tidak dihormati Ibu Santi? Baik
Fifi maupun Natali mengakui bahwa perilaku mereka tidak sesuai dengan Keyakinan Kelas. Ibu Santi melanjutkan
kembali apa yang akan mereka lakukan untuk memperbaiki masalah, apakah ada gagasan?
Setelah berpikir sejenak, Natali dan Fifi mengusulkan bagaimana kalau mereka mengadakan sebuah diskusi
kelompok dengan teman-teman sekelasnya. Tema yang mereka pilih adalah penerapan keyakinan kelas,
terutama tentang sikap saling menghormati dan bagaimana penerapannya di kehidupan sehari-hari di sekolah.
Usulan kedua adalah mengirim email kepada Ibu Eni tentang gagasan mereka tersebut. Mereka pun
memberitahu Ibu Eni bahwa mereka telah memberitahu Kepala Sekolah, Pak Hasan, bila lain waktu ada
ketiadaan guru, maka mereka akan mengusulkan Ibu Eni sebagai guru pengganti.

Analisis Studi Kasus #1

By: Jafar Sarifudin

Langkah-langkah Restitusi Ibu Santi :
1. Menstabilkan identitas
: Ibu Santi menanyakan

apakah mereka bersedia memperbaiki permasalahan
yang ada?
2. Validasi tindakan yang salah: Ibu Santi menanggapi
bahwa tindakan itu boleh saja di lakukan bila mereka
bersungguh-sungguh minta maaf.
3. Menanyakan keyakinan: Ibu Santi menanyakan apa
yang akan Fifi dan Natali lakukan untuk memperbaiki
masalah.

Analisis Studi Kasus #1

By: Jafar Sarifudin
Menurut anda, apakah restitusi yang di usulkan Fifi dan Natali sudah
sesuai dengan pelanggaran yang telah dibuat? Apakah langkah-langkah
restitusi yang telah di usulkan mereka?

Pelanggaran 1: Tidak hormat pada Bu
Eni (melanggar keyakinan kelas tentag

sikap saling menghormati). Restitusi Fifi dan Natali : meminta maaf sudah
sesuai.
Pelanggaran 2 : Tidak mengerjakan tugas matematika.
Restitusi Fifi dan Natali : tidak ada
Langkah Restitusi yang dilakukan Fifi dan Natali yaitu;
a. Minta maaf
b. Diskusi kelompok dan mengirimkan email
c. Mengusulkan ke Kepala sekolah agar Ibu Eni sebagai guru pengganti.

Analisis Studi Kasus #1

By: Jafar Sarifudin

Jika anda adalah Pak Hasan, bagaimana anda menyikapi
langkang yang di tempuh Ibu Santi ?




Jika saya adalah Pak Hasan, saya mendukung dan
mengapresiasi sikap Ibu Santi yang sudah tepat. Tapi harus
tetap meminta Fifi dan Natali mengerjakan tugas
matematikanya bukan hanya meminta maaf ke Ibu Eni, serta
meminta Ibu Santi tetap ikut memantau muridnya dalam kelas.

Analisis Studi Kasus #2

By: Farida Hariningrum

Sabrina hari itu bangun terlambat, dan terburu-buru sampai di sekolah. Dia pun akhirnya sampai di gerbang
sekolah, tapi baru menyadari kalau tidak menggunakan sepatu hitam seperti tertera di peraturan sekolah. Di
depan pintu kelas, Bapak Lukman memperhatikan sepatu Sabrina yang berwarna coklat. Sabrina berusaha
menjelaskan bahwa dia terburu-buru dan salah mengenakan sepatu.
Pak Lukman menanyakan Sabrina, apa peraturan sekolah tentang seragam warna sepatu. Sabrina menjawab
sudah mengetahui sepatu harus berwarna hitam, namun terburu-buru dan salah mengenakan sepatu, selain tidak
mungkin kembali pulang karena rumahnya jauh sekali. Pak Lukman tetap bersikeras pada peraturan yang
berlaku dan mengatakan, “Ya sudah, kamu sudah melanggar peraturan sekolah. Kamu salah. Sudah terlambat,
salah pula warna sepatunya. Segera buka sepatumu kalau tidak bisa mengenakan warna sepatu sesuai peraturan”.
Sabrina meminta maaf dan memohon kembali kepada pak Lukman agar tetap dapat mengenakan sepatunya dan
berjanji tidak akan mengulang kesalahannya. Namun pak Lukman tidak mau tahu, “Tidak, kamu telah
melanggar peraturan sekolah, kalau tidak sanggup ambil sepatu di rumah atau diantarkan sepatu ke sekolah, ya
sudah kamu tidak bersepatu saja seharian di sekolah. Sekarang copot sepatumu dan silakan belajar tanpa sepatu
seharian.” Sabrina pun dengan berat hati mencopot sepatunya dan memberikannya kepada pak Lukman. Seharian
dia tidak berani berkeliling sekolah karena malu, dan lebih banyak berdiam diri di kelas tanpa alas sepatu.

Analisis Studi Kasus #2

By: Farida Hariningrum

1. Posisi Pak Lukman : Penghukum
Indikator :
a. Menggunakan hukuman fisik (menyita sepatu Sabrina)
b. Mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem

atau alat melanggar aturan sekolah: "copot sepatumu dan silahkan
belajar tanpa sepatu seharian)."
2. Contoh pertanyaan Pak Lukman sebagai manager :
a. Bagaimana aturan sekolah tentang sepatu ?
b. Jika kamu sudah tahu, apakah kamu bersedia
memperbaikinya?
c. Apa rencanamu untuk memperbaiki hal ini?

Analisis Studi Kasus #2

By: Farida Hariningrum

1. Sebagai Manager harus menerapkan disiplin restitusi agar
dapat menciptakan lingkungan positif, aman, dan nyaman dan
dapat menghasilkan murid-murid yang lebih mandiri,
merdeka dan bertanggung jawab.

2. Sebagai Manager harus memahami restitusi melalui
tahapan dalam segitiga restitusi sebagai salah satu cara
menanamkan disiplin positif pada murid sebagai bagian dari
budaya positif di sekolah agar menjadi murid merdeka.

Analisis Studi Kasus #2

By: Farida Hariningrum

1. Kira-kira bila anda adalah Kepala Sekolah di sekolah tersebut,
Nilai kebajikan apa yang ingin di tuju oleh peraturan yang
mengharuskan sepatu berwarna hitam?
2. Bagaimana anda menyikapi langkah-langkah yang diambil
Pak Lukman mengenai kasus tersebut?
Jawaban :
1. Menghindari kesenjangan sosial
2. Sikap sebagai Kepala Sekolah : mengajak Pak Lukman
berdiskusi 4 mata tentang dampak hukumannya ke Sabrina
dan mencari solusi atau alternatif lain yang mendukung disiplin
positif/ segitiga restitusi.

Analisis Studi Kasus #3
By: Yuli Astu

ti, S.Pd.SD

Ibu Dani sedang menjelaskan pelajaran Bahasa Inggris di papan tulis, namun beliau
memperhatikan bahwa Fajar malah tidur-tiduran dan tampak acuh tak acuh pada
pelajarannya. “Fajar coba jawab pertanyaan nomor 3. Maju ke depan dan kerjakan di papan
tulis”. Fajar pun tampak malas-malasan maju ke depan, dan sesampai di depan papan tulis
pun, Fajar hanya diam terpaku, sambil memegang buku bahasa Inggrisnya dan memainkan
spidol di tangannya. “Ayo Fajar makanya jangan tidur-tiduran, lain kali perhatikan! Sudah
sana, duduk kembali, kira-kira siapa yang bisa?”

Fajar pun kembali duduk di bangkunya. Hal seperti ini sudah seringkali terjadi pada Fajar,
seperti tidak memperhatikan, acuh tak acuh, dan nilai-nilainya pun tidak terlalu baik
untuk pelajaran Bahasa Inggris. Pada saat ditegur oleh Ibu Dani, Fajar hanya menjawab,
“Tidak tahu Bu”. Ibu Dani pun menjawab lirih, “Gimana kamu Fajar, kamu tidak kasihan sama
Ibu ya, Ibu sudah capek-capek mengajarkan kamu. Tidak kasihan sama Ibu?” dan Fajar pun
diam membisu.

Analisis Studi Kasus #3

Posisi Kontrol
By: Yuli Astuti, S.Pd.SD
apa yang diambil
oleh Ibu Dani dalam IPosisi Penghukum :

pendekatannya
Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman melalui fisik maupun
kepada Fajar? verbal. Posisi penghukum bisa kita lihat pada ucapan Ibu Dani "Ayo Fajar,
makannya jangan tidur-tiduran. Lain kali perhatikan! Sudah sana, duduk
kembali.

IPosisi Pembuat oranglain merasa bersalah :

Ini bisa kita lihat pada ucapan Ibu Dani "Gimana sih Fajar, kamu gak

kasian sama ibu ya, Ibu sudah capek-capek mengajarkan kamu. Gak

kasian sama Ibu?

Analisis Studi Kasus #3
By: Yuli Astu

ti, S.Pd.SD

Membaca sikap Kebutuhan dasar Fajar yang tidak
Fajar, kira-kira terpenuhi : Kesenangan dan kasih sayang.
kebutuhan apa yang Indikator : Sikap Fajar tidak memperhatikan,
diperlukan oleh acuh tak acuh, sering tidur-tiduran dalam
kelas bahkan nilai bahasa inggrisnya yang
Fajar? kurang bagus.

Analisis Studi Kasus #3
By: Yuli Astu

ti, S.Pd.SD

Bilamana Ibu Dani mengambil Posisi pemantau, nada suara datar,
posisi pemantau, apa yang akan menggunakan bahasa tubuh yang
formal. Pertanyaan yang diajukan :
dilakukan atau dikatakan a. Apa yang telah kamu lakukan ?
olehnya? Pertanyaan- b. Sanksi atau konsekuensinya apa?
pertanyaan seperti apa yang
akan di ajukan? Jelaskan!

Analisis Studi Kasus #3
By: Yuli Astu

ti, S.Pd.SD

Apabila anda adalah Tindak lanjut Kepala Sekolah : mencari
Kepala sekolah disana tahu penyebab masalah Fajar melalui
dan mengetahui hal diskusi bersama Bu Dani, wali kelas,
ini, bagaimana tindak guru BK dan orangtua Fajar. Mencari
solusi bersama dengan menerapkan
lanjut anda ? segitiga restitusi untuk
menumbuhkan disiplin positif.

Studi

By : Sri Marwati, S.Pd











REFLEKSI

FACT : Di ruang kolaborasi ini kita melihat 4 kasus
dengan cara penanganan dan solusi yang berbeda.
Finding : Kasus 1 dan 4 penerapan budaya positif sudah
sesuai teori perubahan paradigma stimulus kontrol ke
teori kontrol. Kasus 2 dan 3 tidak menunjukan
penerapan budaya positif sesuai teori tersebut
Fealing : Terbuka pikiran untuk menangani masalah
dan mencari solusi, guru memposisikan diri sebagai
manager melalui segitiga restitusi.
Future : Membangun budaya positif disekolah sesuai
dengann filosofi KHD agar mencapai visi sekolah.

KESIMPULAN

Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan
dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya
dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Posisi kontrol yang paling tepat dilakukan oleh guru adalah sebagai
manajer.
Manajer adalah posisi dimana guru berbuat sesuatu bersama murid,
mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat
menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.
Seorang manajer telah memiliki keterampilan diposisi teman atau
pemantau dan sewaktu-waktu akan kembali ke posisi tersebut bila
diperlukan.
Guru sebagai manajer menjadikan murid pribadi yang mandiri, merdeka,
bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya, serta dapat
menciptakan lingkungan positif, nyaman, dan aman.

Thank
You!


Click to View FlipBook Version