PENTAS SENI! 2024 MAGZ FRESH Experience Experience JELAJAH ALAM! the JOY Kelompok 4 - 82
Nara 82/1 Nara 82/1 Celine 82/12 Celine 82/12 Joanna 82/15 Joanna 82/15 Jovanka 82/20 Jovanka 82/20 Salam
Redaksi Halo readers! We’re back and publishing our new magazine! Are you guys excited to read this magazine? Tapiii, pertama kalian kepo gak sih siapa para tim redaksi yang kece - kece dari majalah ini? Ada Nara, Celine, Joanna, dan Jovanka! Kita semua dari sekolah SMP Santa Ursula Jakarta khususnya duduk di kelas 82. Edisi majalah kali ini, kita akan mensharingkan pengalaman dan journey kita selama Live In di Magelang. Sesuai judul majalah kita yaitu “Exploring Fresh Experience; the Unexpected Joy” yang mengartikan menjelajahi hal-hal baru dan menemukan kegembiraan yang tak terduga dalam prosesnya. Dalam konteks seni atau kehidupan secara umum, judul tersebut mungkin mencerminkan sebuah perjalanan atau eksplorasi yang membawa kesenangan dan kepuasan yang tak terduga. Intinya, judul tersebut menunjukkan pentingnya menjaga pikiran terbuka terhadap pengalaman baru dan mengakui bahwa kebahagiaan seringkali ditemukan di tempat yang tidak terduga. Tentunya, pengalaman kita pas live in di Magelang seru - seru banget dong! Mulai dari social service, bantu para penduduk disana, sampai… pegang pupuk sapi??? Penasaran banget gak sih siapa yang paling berani pegang pupuk sapi? Makanyaa! Baca majalah ini sampai selesai ya! Happy Reading! ⋅˚₊‧ ୨୧ ‧₊˚ ⋅
Daftar Isi Daftar Isi 1 Bonding Through Ngandong Village 4 Pelajaran Hidup dan Pengalaman Langka dari Desa Ngargomulyo Pelajaran Hidup dan Pengalaman Langka dari Desa Ngargomulyo 3 Pak Supri, Sosok yang Tangguh 6 Fun with Kids from Dusun Bojong 8 Tidak Boleh Berbicara Ketika Memasuki Lorong Ini? Tidak Boleh Berbicara Ketika Memasuki Lorong Ini? 10 Pak Novianto, Sosok yang Menginspirasi Pak Novianto, Sosok yang Menginspirasi Tradisi Diam di Pedotan Sewu dan Nasi Doa Tradisi Diam di Pedotan Sewu dan Nasi Doa 11
11 Games (This or That) 12 Building Community with the Kids from Dusun Bojong Building Community with the Kids from Dusun Bojong 14 Eksplorasi Tradisi Jimpitan di Ngargomulyo Eksplorasi Tradisi Jimpitan di 16 Ngargomulyo Adaptasi Masyarakat Desa Terhadap Pandemi Covid - 19 Adaptasi Masyarakat Desa Terhadap Pandemi Covid - 19 18 The Excitement In Ngandong Village The Excitement In Ngandong Village 20 22 Tari Kuda Lumping 24 Ibu Christina Games (Search The Words) 26 Last Words From Us 25 27 The End
Recount Text - Nara 1 On Monday, March 18, 2024, the 8th grade students of Santa Ursula Middle School had organized a live in activity in Muntilan. Classes 81-83 were in Ngargomulyo village, while classes 84-85 were in Lor Senowo village. After we arrived at Ngargomulyo village, we were divided into several hamlet’s. I was assigned to Ngandong hamlet along with my partner Kimora and other friends. In Ngandong, I stayed at Mr. Istiyo and Mrs. Yuliana's house. During the four days there, we participated in various activities, including a social service project with the children of Ngandong. The second day, after we woke up, we helped our mom to prepare breakfast. After that, we had arranged a food trace activity, where we were taught how to pull out chili plants, pick beans, hoe the soil, spread natural fertilizer on the ground, and plant chili plants. After that, we cooked our food trace results. We made stir fried beans and tempeh. After cooking, we ate together at Celine's house. After the food trace activity, we were given time to break time. But, we used this time to discuss the social service project. RT - Nara! Ngandong Village!” “Bonding Through “Bonding Through
Recount Text - Nara 2 The social service project had been planned since around September 2023. It was organized to be conducted in groups. Initially, my group and I planned a game called "Guess the Move" where one child would describe a word to others. Another activity planned was paper crafting, teaching the children to make animal shapes from origami. However, after presenting our plans, we received many suggestions from teachers to improve our social service project. On the day of the social service activity, it turned out that each hamlet had asked us to combine our projects. So, we decided to integrate all the planned activities. We mainly used activities and materials from Aurel's group, starting with introducing the children to English, followed by an ice breaking game "Guess the Move", painting tote bags, and ending with making bracelets. We had been having some issues during the discussion, particularly Aurel's insistence on conducting their project separately since their group was complete and they had most of the materials. However, before the social service began, the teachers had been giving each group an hour break time after doing a food trace activity. We discussed and resolved the issue by agreeing to merge the projects and contribute equally to cover the costs of materials provided by Aurel's group, during the break time. Before starting the social service, we gathered all the children in Ngandong to participate. They were very excited to join. During the social service, I met a little girl named Kinanthi. She was very kind and reminded me of a friend with the same name. She was in kindergarten. When I struggled to take off my sandals, she helped me. Kinanthi was such a sweet kid, and I enjoyed meeting and playing with her. The social service went so well. The kids there are super chill and totally down to hang out and play together. With social service, I can bond with the kids there and learn so many new things from this live in. RT - Nara!
Biografi - Joanna & Jovanka 3 Bapak Petrus Supriyanto, atau biasa dikenal sebagai Pak Supri adalah ketua lingkungan di dusun Bojong. Pak Supri memiliki istri bernama Bu Yani dan mereka memiliki 1 anak bernama Yoan yang saat ini kelas 1 SD. Pak Supri bekerja sebagai petani sayur cabai. Pak Supri lahir dan dibesarkan di dusun Bojong, desa Ngargomulyo. Pak Supri mengatakan bahwa beliau suka dengan kehidupan di desa. Saat covid, ada beberapa kesulitan-kesulitan yang dialami oleh Pak Supri, seperti misalnya kegiatan di gereja terbataskan, sosialisasi berkurang, serta harus selalu memakai masker. Selain itu, karena musim, hasil dari panennya bisa gagal, misalnya karena banyak ulat yang makan daun serta hama tanah yang memakan akar. Pak Supri juga berkata bahwa cuaca seperti hujan lebat bisa menggagalkan panen karena bisa membuat tanaman layu. Kami memilih Pak Supri sebagai orang yang menginspirasi, karena beliau merupakan pribadi yang tangguh, baik hati, dan menjunjung tinggi nasionalisme. Beliau hidup dalam kesederhanaan dan tidak pernah mengeluh. Pak Supri pernah menceritakan bahwa sebenarnya hidup sebagai petani itu susah, karena gajinya rendah namun pekerjaannya susah dan tidak semua orang mau melakukannya. Beliau berkata bahwa generasi baru tidak banyak yang mau melakukan pekerjaan ini. Selain itu, Pak Supri juga taat dalam menjalankan ibadah agama. Pak Supri terlahir Katolik. Pak Supri selalu mengikuti doa minggu malam, namun sejak ada covid dihentikan. Nama: Pak Supri Umur: 37 tahun Profesi: Petani
Pelajaran Hidup dan Pengalaman Langka Pelajaran Hidup dan Pengalaman Langka dari Desa Ngargomulyodari Desa NgargomulyoNgargomulyo merupakan salah satu desa yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Magelang, Kecamatan Dukun. Kegiatan Live In siswi SMP Santa Ursula Jakarta, diadakan di Kabupaten Magelang. Dalam 1 angkatan, dipecah menjadi ke beberapa dusun sebagai tempat tinggal. Dusun yang ada di Desa Ngargomulyo yaitu Ngandong, Bojong, dan lain - lain. Kebanyakan penduduk yang berada di dusun Ngandong dan Bojong bekerja sebagai petani. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena pengaruh geografis. Kondisi geografis Indonesia yang terletak pada 95º BT -141º BT dan 6º LU dan 11º LS membuat Indonesia menjadi negara agraris. Berikut adalah data mata pencaharian penduduk Desa Ngargomulyo pada tahun 2017. Ngargomulyo merupakan salah satu desa yang terletak di Provinsi Jawa Tengah, Kabupaten Magelang, Kecamatan Dukun. Kegiatan Live In siswi SMP Santa Ursula Jakarta, diadakan di Kabupaten Magelang. Dalam 1 angkatan, dipecah menjadi ke beberapa dusun sebagai tempat tinggal. Dusun yang ada di Desa Ngargomulyo yaitu Ngandong, Bojong, dan lain - lain. Kebanyakan penduduk yang berada di dusun Ngandong dan Bojong bekerja sebagai petani. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena pengaruh geografis. Kondisi geografis Indonesia yang terletak pada 95º BT -141º BT dan 6º LU dan 11º LS membuat Indonesia menjadi negara agraris. Berikut adalah data mata pencaharian penduduk Desa Ngargomulyo pada tahun 2017. Artikel IPS - Kelompok 4
Selain menjadi petani, beberapa penduduk di dusun Ngandong dan Bojong memiliki ternak sapi yang menjadi sumber penghasilan penting bagi penduduk disana. Mereka dengan penuh kesungguhan merawat sapi tersebut dari kecil hingga dewasa dengan tujuan untuk memperoleh pendapatan yang cukup untuk membiayai kebutuhan sehari hari terutama sekolah anak - anak. Intinya, mereka mengandalkan ternak sapi sebagai investasi untuk masa depan keluarga mereka, memberikan pendidikan yang layak bagi anak - anak mereka. Di sana, kami juga diajak untuk mencoba bekerja sebagai seorang petani. Secara tidak langsung, kami juga dapat merasakan pentingnya peran para petani dalam memproduksi makanan untuk komunitas dan masyarakat luas. Di sana, kami juga diajak untuk menjadi sebagai seorang petani seharian. Yang pertama kami diajak untuk mencabut tanaman cabai, memetik buncis, mencangkul tanah untuk dijadikan area tumbuhan ditanamkan kembali, meratakan pupuk alami untuk menjadi salah satu komposisi tanah yang subur, dan menanam tanaman cabai. Keseluruhan pengalaman ini memberi pemahaman yang lebih mendalam tentang proses dan tantangan yang dihadapi para petani serta pentingnya kerja keras dan keberlanjutan dalam menjaga keberhasilan pertanian. Kami jadi belajar untuk lebih menghargai makanan-makanan yang kami makan sehari-hari karena proses untuk mendapatkan bahan makanan tersebut tidak mudah. Artikel IPS - Kelompok 5
On March 18 2024 we went to Desa Ngargomulyo for our IL Project: Live In. We went there by bus and it took approximately 10 hours to arrive there. After we arrived, we all gathered in the field. Each of us told each other what we brought that could be used for the social service. For the past 10 minutes we had been thinking about what we could do for the social service and eventually came up with 3 minigames. We began to prepare for the social service as fast as we could. The kids were excited, they had been waiting for us outside. We all hurried becausethe kids were already waiting. Recount Text - Joanna 6 First, we gathered to discuss what we were going to do for the social service, 1 hour before it started. We had agreed to go to Regina and Jeanette ’s house for the social service. We had different ideas for what to do because each one of us had already planned a social service with our respective IL groups. dusun bojong dusun bojong FUN! with kids with kids from
Finally, after the games were done we gave each kid candy. Origami pieces were all over the living room, so we cleaned them all. One of the kids helped us clean too. Then, the kids started to leave the house. We asked Pak Supri about our social service. He said it was fun, and helped the kids learn about teamwork. But we also needed to improve on some aspects, like how we delivered our message to the kids. We also asked one of the kids who participated in our social service. He said he didn’t like it. Recount Text - Joanna 7 After we had prepared for the social service, we let the kids in. We explained the minigames to them. They looked excited to play. As we were doing the social service, the neighborhood chairman of the village, Pak Supri, had been watching over us. We did the social service for approximately 1 hour and a half. dusun bojong dusun bojong FUN! with kids with kids from After the social service, we became closer with the kids. We played volleyball with them during our free time. I think we did well for the social service. There are some things that we need to improve on, but overall we did our best. I hope we can do better in the future.
Kegiatan jimpitan ini tidak kita lakukan di desa, karena tabrakan dengan kegiatan yang dilakukan oleh warga setempat. Tetapi, kita dijelaskan oleh Pak Novianto yang merupakan panitia kegiatan live-in pada saat kita sedang mengobrol santai di pagi hari sebelum memulai jelajah alam. Jimpitan adalah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh para penduduk di desa Ngandong. Melalui Jimpitan, penduduk setempat mengajarkan kepada kami arti pentingnya kerjasama dan gotong royong. Tradisi ini mencerminkan semangat kebersamaan dan solidaritas yang kuat di antara penduduk Dusun Ngandong. Artikel Ppkn - Nara 8 Para siswi kelas 8 SMP Santa Ursula mengikuti kegiatan Live-In di Magelang pada tanggal 18 - 23 Maret 2024. Kelas 81 - 83 di Desa Ngargomulyo, dan kelas 84 - 85 di Desa Lor Senowo. Selama mengikuti kegiatan Live-In di Desa Ngargomulyo, khususnya di Dusun Ngandong, saya sangat kagum oleh keragaman tradisi, kearifan lokal, dan kekayaan budaya yang saya temui di sana. Satu hal yang benar-benar mencolok adalah tidak Boleh berbicara ketikamemasuki lorong INI? kehangatan dan keakraban yang terasa di antara penduduk Dusun Ngandong. Di tempat lain, seringkali kita tidak begitu akrab dengan tetangga di kompleks tempat tinggal kita, namun di Dusun Ngandong, suasana kekeluargaan begitu kental. Para penduduk di sana yang merupakan tim pendamping dari live-in, mengenalkan kita tradisi yang ada disana, yaitu Jimpitan.
Artikel Ppkn - Nara 9 Nama tradisi ini berasal dari Bahasa jawa yaitu "jimpit" yang artinya mengambil sesuatu dengan ujung telunjuk dan ibu jari sehingga jumlah yang diambil sedikit. Jimpitan dilakukan dengan mengumpulkan makanan pokok untuk menjaga stok pangan. Jimpitan juga merupakan salah satu jembatan untuk meningkatkan tali silaturahmi yang ada di dalam masyarakat sehingga tidak ada konflik di antara masyarakat. Setelah selesai mengobrol, kita lanjut berkumpul untuk jelajah alam. Pertama, kita dijelaskan tanaman yang ada di sawah. Lalu, kita melewati beberapa air Lorong yang dibuat oleh para petua - tua dahulu. Ketika melewati lorong ini, kita tidak boleh berbicara. Karena dipercaya para petua - tua dahulu membuat lorong ini tidak berbicara dan fokus dalam membuat lorong ini. Lorong ini dibuat untuk mencari sumber air. Sebutan ketika melewati lorong dengan tidak berbicara adalah Topo Bisu. Kita tidak berbicara dari lorong tersebut sampai ke tempat tujuan kita yaitu taman doa. Pengalaman saya ketika melewati lorong itu benar - benar tenang dan lebih menikmati keindahan alam yang kita punya di Indonesia. terjun yang deras dan bermain sedikit games di sana. Setelah itu, kita melanjutkan perjalanan ke taman doa. Di perjalanan, kita melewati satu lorong yang bernama Pedotan Sewu. Pedotan Sewu merupakan sebuah Saya sangat senang karena kegiatan tersebut tidak hanya memberi saya pengalaman seru dan berkesan, tetapi juga membuka mata saya terhadap keindahan dan kearifan lokal yang ada di sekitar kami. Live-in di Desa Ngargomulyo telah memberikan saya pengalaman yang tak terlupakan dan pembelajaran yang berharga tentang keberagaman budaya, solidaritas masyarakat, dan kekayaan alam. Saya merasa bersyukur dan terinspirasi untuk terus menjaga dan memperkaya warisan budaya yang ada di sekitar kita.
Pak Novianto, Nama : Pak Novianto Umur: 27 tahun Profesi: Petani Pak Novianto merupakan seorang petani yang tinggal di dusun Ngandong. Ia sudah mulai bekerja dari kecil karena pekerjaan ini dilakukan turun-temurun oleh para warga desa. Setiap harinya Pak Novi mulai bekerja dari jam 7 pagi sampai selesai. Beliau tidak memperdulikan waktu ketika sedang bekerja. Pak Novi juga memiliki motivasinya sendiri untuk bekerja yaitu keluarga dan anak-anaknya. Selain menjadi petani Pak Novi juga merupakan seorang kepala keluarga. Istri Pak Novi yang bernama Feri mengurus anaknya dirumah. Pak Novi memiliki 2 anak perempuan yang bernama Serlin dan Sania. Sosok yang Menginspirasi Pak Novi menjadi petani untuk keluarganya dan membantu dalam memanfaatkan lahan yang ada karena sayang sekali jika dibiarkan begitu saja. Luas lahan yang ada sangat berguna bagi masyarakat jika digunakan dengan bijak. Semua kebutuhan makanan yang setiap harinya kita nikmati berawal dari sawah. Terutama padi yang seluruh masyarakat di Indonesia butuhkan karena merupakan bahan pembuatan makanan pokok negara kita, nasi. Selain itu, petani lainnya juga memiliki motivasi untuk terus meneruskan pekerjaannya dengan memikirkan orang lain yang membutuhkan makanan untuk bertahan hidup. Dengan motivasi seperti itu mereka bersemangat setiap kali bekerja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Saya memilih Pak Novi untuk menjadi orang yang menginspirasi saya karena dedikasinya dalam melakukan pekerjaannya. Pikiran untuk menjadi petani demi memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari. Walaupun hidup dengan sederhana, Ia bekerja demi kebutuhan warga negara. Selain itu juga Pak Novi merasa bahwa Tuhan adalah segalanya bagi dirinya. Bahkan baginya menjadi umat-Nya adalah suatu mukjizat yang Pak Novi terima. Biografi - Celine 10
Artikel Ppkn - Celine 11 Tradisi diam di Pedotan Sewu dan Nasi Doa Tradisi diam di Pedotan Sewu dan Nasi Doa Indonesia kaya akan keberagaman budaya, tradisi maupun kearifan lokal. Salah satu tradisi yang ada di dusun Ngandong yaitu ketika melewati lorong Pedotan Sewu dengan diam untuk menghargai para nenek moyang mereka. Dulu, nenek moyang mereka membelah lembah yang sekarang dikenal sebagai nama Pedotan Sewu dengan menggunakan metode topo bisu. Topo bisu merupakan metode pengerjaan dengan lebih banyak bekerja dan tidak banyak berbicara. Pedotan Sewu merupakan lembah yang dibelah oleh nenek moyang demi mendapatkan sumber air. Nilai-nilai yang dapat kita ambil sebagai motivasi untuk terus bekerja keras yaitu kerja keras, kesabaran, dan tidak putus asa. Walaupun dulu menggunakan alatalat yang sederhana, para nenek moyang dapat membelah lembah. Menjaga ketenangan ketika melewatinya merupakan salah satu cara untuk menghormati atas kerja keras nenek moyang. Selain itu, hal ini jugalah bentuk u pelestarian budaya yang ada.
Air yang dicari ternyata benar tepat berada di Pedotan Sewu. Bahkan air tersebut sudah diuji oleh salah satu universitas dari Korea dan air tersebut memang sudah layak untuk diminum. PH (potential of hydrogen) air yang layak untuk dikonsumsi adalah sekitar 7. Air yang ada di lorong Pedotan Sewu memiliki ph lebih dari 7 yang mengartikan air tersebut dapat dikonsumsi. Selain itu, di tengah lorong tersebut ada Gua Maria yang biasa dipakai untuk berdoa. Kemarin saat kegiatan live-in kami memakan nasi doa yang hanya ada di Desa Ngargomulyo. Nasi Doa juga merupakan salah satu tradisi yang ada di Desa Ngargomulyo. Nasi doa merupakan nasi gurih yang mirip dengan nasi uduk. Nasi doa dibungkus dengan daun pisang, yang di dalamnya ada daun singkong dan irisan telur di dalamnya. Nasi doa merupakan hidangan khas Desa Ngargomulyo yang disajikan di Goa Maria yang berada di tengah lembah Pedotan Sewu. Selain itu, kami juga diberikan teh hangat manis untuk mendinginkan badan kita yang telah basah karena melewati sungai-sungai selama perjalanan. Artikel Ppkn - Celine 12 Ketika saya melewatinya, saya dan teman-teman juga mengikuti dan menjaga ketenangan selama perjalanan. Dari pengalaman itu saya belajar untuk menghargai nenek moyang yang dulu bekerja keras agar sekarang kami dapat merasakan dampaknya. Air merupakan salah satu kebutuhan paling penting untuk dimiliki. Dulu ketika mereka tidak dapat air mereka harus bekerja keras untuk mendapatkannya. Dari situ juga saya belajar untuk menghargai apa yang kita miliki sekarang. Bahkan air yang sering sekali dianggap hal yang kecil, tetapi dulu mereka harus berusaha keras untuk mendapatkannya.
Our social service was done on the 2nd day, at Jeanette and Regina’s house. We had been discussing this social service since we were eating lunch. Around 11-12 kids came to our social service. We had planned everything for months but there was one problem. Not everyone is in the same group, so it means that everyone has a different plan on what we would do on social service. In the end, we decided to just divide the activities into a few sessions. For the first session, we did an ice breaking called Guess The Move. We wrote down a few animals along with other random words in a small paper, folded it, and put it in a small hat so the kids can pick it out. One kid was asked to come to the front and pick a paper. Whatever word was written on the paper, they have to act it out and their friends have to guess them. It's quite an easy game and the kids were very enthusiastic. with the kids from building community Recount Text - Jovanka 13 Last March, me and all the 8th graders from SMP Santa Ursula Jakarta went for a live-in. We went to Muntilan sub-district in Magelang. The villages are divided into 2 villages, Ngargomulyo Village and Lor Senowo Village. Class 81, 82, and 83 are in the Ngargomulyo Village, meanwhile class 84 and 85 are in the Lor Senowo Village. In the villages, there are also hamlets, each one consisting of 13-14 students from any class. I got the Bojong Hamlet, along with my classmates from 82. Each house consists of 2-3 students. I was assigned in the same house as Eugenia along with Maima, who was originally housemates with Nadira. However, due to health issues she couldn’t participate in our live-in.
After this part was done, we did one last activity which was to follow the instructions. There were 3 groups that lined up and held each other's shoulders. In the game, we shouted 4 random directions (left, right, front, back). The rule is anyone who doesn’t jump according to the direction that we’ve said, they’re out. It was a very fun game to interact with kids. We gave a few second chances to some kids because they were probably toddlers. The kids seemed to have lots of fun while playing the game, and the parents looked happy because they could take a short break from their kids. The next activity was mosaic-coloring. Eugenia had brought 2 packs of origami, Sinta had brought around 15 pages of coloring paper, and a few of my other friends had also brought glue. We hadn’t actually brought any prizes, so we decided to just use some leftover snacks from the bus that we didn’t eat. So we decided to just make a mosaic-coloring session by cutting the origamis into small pieces, putting them into one place, and let the kids glue the little pieces of origami to the paper. Since 1.30PM, we hadn’t been doing anything except cutting the origamis. It took quite a long time even though we did it together. In fact, when some of the kids came, we weren’t done with our origami-cutting activity. For the drawings, there are around 4 different drawings that Sinta printed, and every group with around 2 kids per group must pick a drawing to color with. We gave Recount Text - Jovanka 14 Dusun bojong When the kids went home, we worked together to tidy up Regina and Jeanette’s living room. We picked up the remaining trash, we helped roll out the mats, and we also made sure nothing was left behind. We also picked up the small origami pieces that maybe fell out of the box. For me, the social service was very fun. The kids were around 3-8 years old, so we learned how to interact with younger kids especially since I’m an only child and I’m not used to interacting with young kids. We did lots of things that we haven’t done before, and we also interacted with lots of new friends there. There are many things that me and my team should fix from our service, but overall, I’m happy that our social service can turn out well. each group a glue to help them stick the papers to the drawing paper. After that, we told them to name the paper and give it to us so we can “grade” it and pick the best one. Where in reality, we had been writing down some motivational words in multiple languages. Then, we gave it back to them after we finished writing down a few things there.
THIS tHAT Live In Edition Sayur Buncis Tempe Jelajah Alam Jimpitan Pupuk Alami Cabut tanaman cabai Pentas Seni Latihan Pentas Seni Social Service Istirahat di Rumah Makan Nasi Doa Naik Air Terjun Sampai di Rumah Live In Pamitan Pulang Games (This or That) 15
Di kebanyakan desa-desa, terdapat sebuah tradisi yang bernama Jimpitan. Tradisi ini merupakan sebuah tradisi yang sudah dilaksanakan dari lama dan sudah menjadi kebiasaan bagi para warga desa. Arti kata “Jimpitan ” berarti “ mengambil sedikit” dan diambil dari kata “jumputan ” atau “ menjumput”. Tradisi ini adalah sebuah tradisi menabung kolektif ala masyarakat desa di Jawa untuk kepentingan warga. Hal-hal yang biasa diletakkan pada wadah jimpitan bisa berupa uang, beras, maupun bahan-bahan atau bumbu-bumbu memasak. Kebanyakan warga sana berprofesi sebagai seorang petani, baik petani padi maupun petani sayur-sayuran serta buah-buahan, maka lebih mudah bagi mereka untuk mengumpulkan beras atau bahan lain daripada dalam bentuk uang. Indonesia adalah sebuah negara yang penuh keragaman, salah satunya yaitu keragaman budaya. Setiap desa memiliki tradisi-tradisi serta budaya yang berbeda. Hal itulah yang membuat setiap desa di Indonesia berbeda dan unik. Salah satunya merupakan desa Ngargomulyo. Desa ini terletak di daerah Muntilan Magelang pada lereng Gunung Merapi. Ada dusun-dusun tertentu di desa Ngargomulyo yang terletak sangat dekat dengan Gunung Merapi tersebut, dan ada juga desa-desa yang terletak di bagian bawah. Oleh sebab itu, tradisitradisi yang dimiliki oleh desa Ngargomulyo juga pasti sangat banyak, salah satunya yaitu Jimpitan. Eksplorasi Tradisi di Ngargomulyo Jimpitan Artikel PPKn - Jovanka 16
Warga desa secara sukarela akan menaruh beras dalam wadah yang dibawa oleh orang yang keliling. Biasanya beras yang ditaruh bisa ½ kg per rumah, atau bisa juga bersama dengan bawang putih, masako, dan uang. Beras-beras maupun bahanbahan yang dikumpulkan dari jimpitan akan digunakan untuk kepentingan masyarakat desa. Misalnya, jika ada warga desa yang kesusahan untuk makan, maka bisa digunakan untuk membantu warga tersebut. Tradisi ini dilaksanakan setidaknya sekali sebulan. Jimpitan bukan hanya sekadar aktivitas fisik untuk menyelesaikan tugas bersama, tetapi juga merupakan momen penting untuk memperkuat ikatan sosial dan nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat desa Ngargomulyo. Tradisi ini menjadi simbol keharmonisan dan solidaritas di antara warga desa, serta menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka. Artikel PPKn - Jovanka 17
Pada kegiatan Live In kemarin, kami tinggal di rumah penduduk. Nara dan Celine tinggal di dusun Ngandong, sedangkan Joanna dan Jovanka tinggal di dusun Bojong. Pada waktu luang, kami mewawancarai beberapa penduduk mengenai kehidupan di desa dalam masa pandemi covid-19. Nara mewawancarai Bapak dan Ibu Asuh (Bapak Istiyo & Ibu Christina). Untungnya di Dusun Ngandong tidak ada yang terkena covid-19. Pada masa Covid - 19, di dusun Ngandong tidak ada warga yang terdampak virus Covid - 19. Para warga tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Pergi ke sawah, mengurus anak, dan lain - lain. Tetapi, di dusun Ngandong untungnya sama sekali tidak pernah terkena virus Covid - 19. Tentunya, keluarga Bapak Istiyo selalu menghindari dan melindungi diri dari virus tersebut. Dengan selalu menggunakan masker di setiap kegiatan yang dilakukan. Celine mewawancarai Bapak Asuh (Bapak Novianto). Dan menurut pak Novi orang di dusun jadi jarang sekali menyapa karena takut tertular. Untungnya di Dusun Ngandong tidak ada yang terkena covid-19. Tentunya dengan menjaga protokol kesehatan menggunakan masker dan menjaga jarak. Walaupun begitu orang di dusun Ngandong tetap beraktivitas seperti biasa. Dan karena mereka tetap bekerja sehingga bisa dianggap sebagai olahraga. Sehingga mereka bisa tetap sehat dan tidak terkena Covid–19. Artikel Pendidikan Jasmani - Kelompok 18 Adaptasi Masyarakat Desa Terhadap Pandemi Covid - 19
Artikel Pendidikan Jasmani - Kelompok 19 Joanna mewawancarai bapak asuh sekaligus ketua lingkungan di dusun Bojong yaitu Pak Supri. Pak Supri mengatakan bahwa untuk aktivitas petani sama seperti biasanya, namun menerapkan aturan dari pemerintah. Pada saat pandemi orang asing tidak diperbolehkan ke dusun Bojong. Kegiatan seperti ke gereja, ampun ke dusun diberi jarak waktu. Rata-rata yang sudah sepuh meninggal saat covid. Di setiap rumah pasti ada yang batuk, namun tidak tes swab. Biasanya setiap minggu ada doa minggu malam, namun diberhentikan karena pandemi. Penduduk Dusun Bojong mengatasi adanya pandemi virus covid-19 dengan mengikuti aturan dari pemerintah, misalnya dengan rajin cuci tangan. Di depan setiap rumah diletakkan ember dan sabun untuk cuci tangan. Ketika habis bepergian, mereka langsung mandi dan ganti baju. Setiap warga di Dusun Bojong menerapkan aturan-aturan tersebut sehingga tetap sehat dan tidak terkena virus. Di Dusun Bojong, walaupun ada yang terinfeksi virus covid-19, namun warga masih harus pergi bekerja demi bertahan hidup. Mereka juga ada yang melaksanakan karantina mandiri agar tidak ada warga lain yang terkena virus ini. Banyak warga yang tidak mau melakukan tes coid-19 karena dapat mengganggu pekerjaan mereka. Jovanka mewawancara banyak warga desa, termasuk Pak Darjo. Justru, menurut Pak Darjo, saat covid-19 tak ada hambatan yang dialaminya. Menurut warga lainnya yakni Pak Yohanes Marjo, kegiatan pekerjaannya malahan terhambat akibat virus covid-19. Pak Yohanes berkata bahwa ⅓ dari total kurang lebih 3000 penduduk di Dusun Bojong terinfeksi covid-19. Seperti yang sudah dikatakan, ada wazrga yang memilih untuk tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, ada juga yang memilih untuk karantina mandiri.
Search THE Word 1. JIMPITAN 2.AIR TERJUN 3.MERAPI 4.CAKALELE 5.SUNGAI 6.BUNCIS 7.NGARGOMULYO 8.JELAJAH ALAM 9.PUPUK 10. KUDA LUMPING 11. SAWAH 12. TOPO BISU 13. GOA MARIA 14. PEDOTAN SEWU 15. TEH MANIS 16. LIVE IN 17. NASI DOA 18. DUSUN Games - Search the Words 20
I went to do an activity that is done by all of the 8th graders in Santa Ursula Jakarta called Live-In. We went using a bus on Monday,18th March 2024. There we had been divided into 2 villages, Ngargomulyo and Lor-Senowo. Which we were assigned by class. Because I was in class 82 I was assigned to Ngargomulyo village, Ngandong hamlet. With my partner Bianca I stayed in Mr. Novianto and Mrs. Feri’s house. There were also kids named Serlin and Sania. We stayed there for 4 days. There we had a program called social service. There we played with the children there and interacted with them. First we had gathered the children which we called them one by one. It took quite an effort and some time. But after that we gathered in Kathleen and Dea’s house. First we introduced ourselves and then we taught the kids to introduce themselves in english. We had taught them to say their name, age, class, and also hobbies. Then we also gave them candies and stickers after they introduced themselves. After that we had an ice breaking session and we played guess the moves. There we formed 2 groups and formed a line. We told 1 person in the back of the line the word and then they had to pass it through without saying anything. After that we moved on to do another activity which was enjoyed by all the children there. We painted tote bags and most of them would write their name and design it. And some of them just scribbled the bag. The Excitement Recount Text - Celine 21
They are the only group that are complete in our hamlet which consists of Aurel, Devinna, Aya, and Nina. But because we told them that there aren’t many children in the area and that if we divided it by two it would just be 2 or 3 kids, they decided to join and that we do the social service together. But after that we decide what we can do with the material that we brought. And we also made the rundown to be more specific. And we all agreed to the rundown that we made together. We actually already planned this social service last September. But we can’t do the social service as we planned because of the condition there. But regardless we still think that we did a pretty great job considering that we planned it a few days before. And the feedback was also good. When we were playing with the kids many people watched us as they passed by saying that they were happy with the program we did. Some of the parents came to watch, when they had already done it. But if we asked them which activity they enjoyed the most would be painting the tote bags. After that we moved on to the next activity where we made bracelets and headbands. That was also enjoyed but not as much as the painting activity. There I was really happy that we interacted with them. It was a wonderful experience. And we became close with them. They were also really happy about the activity we played. There we learned that we can be happy by playing together even without gadgets. We played with a total of 10 children. Named Vincent, Febi, Talita, Cindy, Ketlin, Serlin, Putri, Ovi, Kinan, Brian. In Ngandong Village Recount Text - Celine 22 We each tried to play with all of them but then of course we each had guided the smaller kids first. And the kids even though some of them can't really draw well we still tried our best to let them do their drawing with their own creation. Because we as a group were in a separate hamlet we can’t do the social service as we planned it. So our teacher, Ms.Yohana and Bu Thres recommended that we stay in the same hamlet to do social service together. There was also a problem with the social service as Aurel’s group didn’t want to do it all together at first.
Tari Artikel ppkn - Joanna 23 Pada tanggal 18 Maret 2024, kami, siswi-siswi kelas 8 SMP Santa Ursula melaksanakan Live In di desa Ngargomulyo dan Lor Senowo, Muntilan. Pada saat Live In, kami mengadakan pentas seni bersama dengan warga sekitar. Kami menyajikan beberapa tarian tradisional. Semua tarian tersebut memiliki keunikan masing-masing. Salah satunya adalah tari Kuda Lumping. Tari Kuda Lumping adalah tarian tradisional yang ada di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Tarian ini memiliki nama yang berbeda di setiap daerahnya. Contohnya, Kuda Lumping di Jawa Barat, Jathilan Hamengkubuwono di Jawa Tengah, Jaran Kepang di Surabaya, Jaranan Sang Hyang di Bali, Jaranan Buto di Banyuwangi, sampai Jaranan Turonggo Yakso di Trenggalek. Sesuai dengan namanya, tarian ini menampilkan sekelompok prajurit yang tengah menunggang kuda. Hal yang unik dari tarian ini, yaitu pada saat tampil penari menggunakan properti kuda lumping. Kuda lumping tersebut terbuat dari bambu atau bahan lainnya yang dipotong dan dianyam sehingga berbentuk kuda, dengan hiasan rambut tiruan dari tali plastik yang digelung atau dikepang, atau sejenisnya. Kemudian kuda lumping dihias dengan menggunakan cat. Tarian ini memiliki sejarah yang tidak begitu jelas, sehingga ada beberapa teoriteori tentang sejarah tarian ini.
Artikel ppkn - Joanna 24 Biasanya, tarian ini ditampilkan di berbagai acara umum ataupun khusus, misalnya perayaan hari besar, pesta pernikahan, dan sebagainya. Tarian ini memiliki 2 makna tersendiri, yaitu: 1.Kenyataan Alam Ghoib Pada tarian ini, penari tampil seolah-olah ada kekuatan supernatural. Tarian ini memiliki ciri khas yaitu perpaduan alam nyata dengan alam gaib. Dalam tarian ini, penari ingin menunjukkan bahwa alam gaib benarbenar ada. 2. Watak Manusia Meskipun dalam tarian ini banyak hal dengan unsur-unsur magis dan mistis, namun juga terdapat makna tentang sifat manusia. Makna ini muncul pada saat awal tarian, saat penari bersikap anggun, lembut, dan tenang. Kemudian, sikap mereka berubah ketika roh gaib masuk.
Biografi - Nara 25 Selama kegiatan Live In di Desa Ngargomulyo, saya tinggal di rumah Pak Istiyo dan Ibu Christina. Bapak Istiyo dan Ibu Christina adalah seorang buruh. Ibu Christina menjadi buruh karena memanfaatkan lingkungan sekitar. Ibu Christina mulai menjadi seorang buruh, ketika Ibu Christina sudah selesai masa sekolahnya. Mereka mempunyai kebun di dekat rumah. Di hari pertama, saya dan kimora diajak ke kebun untuk memetik singkong dan rumput. Setelah itu, kita diajak ke kandang sapi milik mereka untuk memberi makan sapi dengan rumput yang sudah dipetik tadi. Spot favorite Ibu Christina ketika bekerja adalah di sawah. Saya memilih Ibu Christina sebagai inspirasi saya karena Ibu Christina adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus buruh yang pasti sangat capek untuk mengurus rumah dan pekerjaan nya. Tetapi, Ibu Christina tidak pernah mengeluh setiap melakukan pekerjaannya. Salah satu hal yang ibu Christina lakukan agar tidak keteteran antara rumah dan pekerjaan nya adalah membagi waktu dengan baik. Ibu Christina biasanya bangun subuh untuk menyiapkan sarapan anak nya. Setelah anaknya berangkat sekolah, Ibu Christina langsung melakukan pekerjaannya sebagai buruh. Ibu Christina pastinya sering merasa capek dan lelah dalam melakukan pekerjaannya. Tetapi, Ibu Christina selalu ingat akan suaminya dan anaknya yang selalu menjadi motivasi Ibu Christina untuk selalu bekerja. Ibu Christina juga selalu mengingatkan saya untuk selalu berdoa sebelum makan dan tidur. Nilai moral yang bisa saya ambil dari Ibu Christina adalah tidak boleh patah semangat dalam melakukan tugas atau kewajiban. IBU Desa Ngargomulyo - Dusun Ngandong Christina Christina Nama : Christina Yuliana Umur : 34 tahun Profesi : Buruh Nama : Christina Yuliana Umur : 34 tahun Profesi : Buruh
from us, Nara 82/1 Nara 82/1 Celine 82/12 Celine 82/12 Joanna 82/15 Joanna 82/15 Jovanka 82/20 Jovanka 82/20 Hi readers! Akhirnya sampai juga di halaman terakhir... Gimana perasaan readers sekarang nih? Semoga setelah membaca majalah yang kami buat ini, bisa menginspirasi para readers semua! Sampai jumpa di majalah selanjutnya, Readers! Xoxo ⋆˚✿˖° Hiii readers! Terima kasih sudah membaca sampai halaman terakhir ini! Kami berharap majalah kami ini dapat menginspirasi dan menghibur banyak orang. Until we meet again! Hai readers! Wah sampai juga di halaman terakhir, terima kasih karena sudah membaca majalah kami sampai akhir! Semoga kami menginspirasi kalian semua untuk jadi lebih berani. This is Jovanka, signing out! Last Words From US 26 Hii readers! Ga kerasa yaa udah di halaman terakhir ajaa. Gimana perasaan kalian setelah membaca majalahnya? Semoga kalian bisa terinspirasi dengan majalah kita. Terima kasih juga sudah membaca sampai akhir. See you next time!