DAFTAR ISI
1. KONJUNGSI
2. KATA SANDANG
3. SISTEMATIKA PIDATO
4. ISTILAH BIDANG KESEHATAN
5. ISTILAH BIDANG SENI BUDAYA
6. ISTILAH BIDANG HUKUM
7. INSTRINSIK CERPEN / NOVEL
8. POLA PENGEMBANGAN PARAGRAF
9. POLA PENGEMBANGAN PARAGRAF TEKS
FANTASI
10. PERBEDAAN BAHASA CERPEN & FABEL
11. IKLAN BARIS
12. KALIMAT AKTIF TRANSITIF & INTRANSITIF
13. KALIMAT TUNGGAL
14. KALIMAT MAJEMUK& KETERANGAN
15. KATA BAKU
16. KALIMAT PERINTAH
17. PENANDA KOHESI
18. REPETISI
19. KATA GANTI
20. KATA BERIMBUHAN
21. PERBEDAAN SASTRA LAMA DAN BARU
22. KALIMAT LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG
KONJUNGSI
Konjungsi disebut juga kata penghubung atau kata sambung. Dengan kata lain,
konjungsi adalah kata atau ungkapan penghubung antarkata, antarfrasa, antarklausa,
dan antarkalimat.
Konjungsi terbagi 2, yaitu sebagai berikut.
1. Konjungsi koordinatif, yaitu kata yang menggabungkan kata atau klausa yang
berstatus sama, misalnya kata dan, tetapi, atau, bahkan, tambahan, namun, dan lain-
lain. Contoh:
Aku ingin berangkat sekolah, tetapi hujan belum reda.
2. Konjungsi subordinatif, yaitu konjungsi yang menghubungkan anak kalimat dan
induk kalimat atau menghubungkan bagian dari kalimat subordinatif, misalnya kata
ketika, pada, saat, jika/jikalau, sebab/karena, agar, supaya, bahwa, yang, untuk,
guna, demi, andai, seandainya, bila, apabila, sementara, dan lain-lain. Contoh:
Ia tertidur ketika guru menjelaskan materi pelajaran.
Kegunaan atau fungsi konjungsi adalah untuk menghubungkan kata dengan kata,
frasa dengan frasa, kalimat dengan kalimat.
Berikut ini dua macam kata penghubung:
1. Kata penghubung yang kedudukannya sederajat atau setara terdiri dari
beberapa hal berikut:
• Menggabungkan biasa : dan, dengan, serta.
• Menggabungkan memilih: atau
• Menggabungkan mempertentangkan: tetapi, namun, sedangkan, sebaliknya
• Menggabungkan membetulkan: melainkan, hanya
• Menggabungkan menegaskan: bahkan, malah (malahan), lagipula, apalagi, jangankan
• Menggabungkan membatasi: kecuali, hanya
• Menggabungkan mengurutkan: lalu, kemudian, selanjutnya
• Menggabungkan menyamakan: yaitu, yakni, bahwa, adalah, ialah
• Menggabungkan menyimpulkan: jadi, karenaitu, olehsebabitu
2. Kata penghubung yang menghubungkan klausa dengan klausa yang
kedudukannya bertingkat dibedakan sebagai berikut:
• Menyatakan sebab: sebab dan karena
• Menyatakan syarat: kalau, jikalau, jika, bila, apalagi, danasal
• Menyatakan tujuan: agar dan supaya
• Menyatakan waktu: ketika, sewaktu, sebelum, sesudah, tatkala.
• Menyatakan akibat: sampai, hingga, dan sehingga
• Menyatakan sasaran: untuk danguna
• Menyatakan perbandingan: seperti, sebagai, dan laksana
• Menggabungkan menyamakan: yaitu, yakni, bahwa, adalah, ialah
• Menggabungkan menyimpulkan: jadi, karena itu, oleh sebab itu
B. Macam-macam Konjungsi Berdasarkan Fungsinya
1. Konjungsi Aditif (gabungan).
Konjungsi aditif (gabungan) adalah konjungsi koordinatif yang berfungsi menggabungkan
dua kata, frasa, klausa, atau kalimat dalam kedudukan yang sederajat, misalnya : dan,
lagi, lagi pula, dan serta.
2. Konjungsi Pertentangan.
Konjungsi pertentangan merupakan konjungsi koordinatif yang menghubungkan dua
bagian kalimat yang sederajat dengan mempertentangkan kedua bagian tersebut.
Biasanya bagian yang kedua menduduki posisi yang lebih penting daripada yang
pertama, misalnya : tetapi, akan tetapi, melainkan, sebaliknya, sedangkan, padahal, dan
namun.
3. Konjungsi Disjungtif (pilihan).
Konjungsi pilihan merupakan konjungsi koordinatif yang menghubungkan dua unsur yang
sederajat dengan memilih salah satu dari dua hal atau lebih, misalnya: ...atau..
4. Konjungsi waktu.
Konjungsi waktu menjelaskan hubungan waktu antara dua hal atau peristiwa. Kata-kata
konjungsi temporal berikut ini menjelaskan hubungan yang tidak sederajat, misalnya :
ketika, sebelum, sampai, sedari, sejak, selama, semenjak, sementara, seraya, waktu,
setelah, sesudah, dan tatkala. Sementara konjungsi berikut ini menghubungkan dua
bagian kalimat yang sederajat, misalnya sebelumnya dan sesudahnya.
5. Konjungsi Final (tujuan).
Konjungsi tujuan adalah semacam konjungsi modalitas yang menjelaskan maksud dan
tujuan suatu peristiwa, atau tindakan. Kata-kata yang biasa dipakai untuk menyatakan
hubungan ini adalah : supaya, guna, untuk, dan agar
6. Konjungsi Sebab (kausal).
Konjungsi sebab menjelaskan bahwa suatu peristiwa terjadi karena suatu sebab tertentu.
Bila anak kalimat ditandai oleh konjungsi sebab, induk kalimat merupakan akibatnya.
Kata-kata yang dipakai untuk menyatakan hubungan sebab adalah sebab, sebab itu,
karena, dan karena itu.
7. Konjungsi Akibat (konsekutif).
Konjungsi akibat menjelaskan bahwa suatu peristiwa terjadi akibat suatu hal yang lain.
Dalam hal ini anak kalimat ditandai konjungsi yang menyatakan akibat, sedangkan
peristiwanya dinyatakan dalam induk kalimat. Kata-kata yang dipakai untuk menandai
konjungsi akibat adalah sehingga, sampai, maka, dan akibatnya.
8. Konjungsi Syarat (kondisional).
Konjungsi syarat menjelaskan bahwa suatu hal dapat terjadi bila syarat -syarat yang
disebutkan itu dipenuhi. Kata kata yang menyatakan hubungan ini adalah jika, jikalau,
apabila, asalkan, kalau, dan bilamana.
9. Konjungsi Tak Bersyarat.
Kata penghubung tak bersyarat menjelaskan bahwa suatu hal dapat terjadi tanpa perlu
ada syarat - syarat yang dipenuhi. Kata - kata yang termasuk dalam konjungsi ini adalah
walaupun, meskipun, dan biarpun.
10. Konjungsi Perbandingan.
Konjungsi perbandingan berfungsi menghubungkan dua hal dengan cara
membandingkan kedua hal itu. Kata kata yang sering dipakai dalam konjungsi ini adalah
sebagai, sebagaimana, seperti, bagai, bagaikan, seakan-akan, ibarat, umpama, dan
daripada.
11. Konjungsi Korelatif.
Konjungsi korelatif menghubungkan dua bagian kalimat yang mempunyai hubungan
sedemikian rupa sehingga yang satu langsung mempengaruhi yang lain atau yang satu
melengkapi yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa kedua kalimat mempunyai hubungan
timbal-balik. Kata kata yang menyatakan konjungsi ini adalah semakin…..semakin,
kian….. kian, bertambah……bertambah, tidak hanya….tetapi juga..., sedemikian rupa...,
sehingga..., baik..., dan maupun.
12. Konjungsi Penegas (menguatkan atau intensifikasi).
Konjungsi ini berfungsi untuk menegaskan atau meringkas suatu bagian kalimat yang
telah disebut sebelumnya. Termasuk di dalam konjungsi hal-hal yang menyatakan rincian.
Kata-kata yang termasuk dalam konjungsi ini adalah bahkan, apalagi, yakni, yaitu,
umpama, misalnya, ringkasnya, dan akhirnya.
13. Konjungsi Penjelas (penetap).
Konjungsi penjelas berfungsi menghubungkan bagian kalimat terdahulu dengan
perinciannya. Contoh kata dalam konjungsi ini adalah bahwa.
14. Konjungsi Pembenaran (konsesif).
Konjungsi pembenaran adalah konjungsi subordinatif yang menghubungkan dua hal
dengan cara membenarkan atau mengakui suatu hal, sementara menolak hal yang lain
yang ditandai oleh konjungsi tadi. Pembenaran dinyatakan dalam klausa utama (induk
kalimat), sementara penolakan dinyatakan dalam anak kalimat yang didahului oleh
konjungsi seperti, meskipun, walaupun, biar, biarpun, sungguhpun, kendatipun, dan
sekalipun.
15. Konjungsi Urutan.
Konjungsi ini menyatakan urutan sesuatu hal. Kata-kata yang termasuk dalam konjungsi
ini adalah mula-mula, lalu, dan kemudian.
16. Konjungsi Pembatasan.
Konjungsi ini menyatakan pembatasan terhadap sesuatu hal atau dalam batas-batas
mana perbuatan dapat dikerjakan, misalnya kecuali, selain, dan asal.
17. Konjungsi Penanda.
Konjungsi ini menyatakan penandaan terhadap sesuatu hal. Kata-katayang ada dalam
konjungsi ini adalah misalnya, umpama, dan contoh. Konjungsi lain yang masih
merupakan konjungsi penanda yaitu konjungsi penanda pengutamaan. Contoh kata-kata
konjungsi ini adalah yang penting, yang pokok, paling utama, dan terutama.
18. Konjungsi Situasi.
Konjungsi situasi menjelaskan suatu perbuatan terjadi atau berlangsung dalam keadaan
tertentu. Kata-kata yang dipakai dalam konjungsi ini adalah sedang, sedangkan,
padahal, dan sambil.
“Kata Sandang”
Kata sandang yaitu
sejenis kata penentu atau pembatas yang letaknya di depan kata benda atau kata sifat. Kata
sandang tidak mempunyai makna tersendiri. Makna atau arti kata sandang bergabung dengan kata
yang berada di belakangnya.
Kata sandang yang masih dipakai dalam Bahasa Indonesia, misalnya:
Si,Sang,Para,Yang,Sri,dan sebagainya.
Kata sandang yang sudah jarang digunakan misalnya, Hang dan Dang
Fungsi kata sandang adalah sebagai berikut:
1)Membendakan
Contoh:
Yang malas pasti menyesal (malas;katasifat, yang;kata benda)
2)Membentukkan
Contoh:
Para dokter membahas penyakit aids (Para;hanya dokter = kata pembentuk)
Pengelompokkan kata sandang dan pemakaiannya:
a)Kata sandang yang menyatakan jumlah tunggal:
1)Sang, dipakai untuk manusia atau benda dengan tujuan untuk meninggikan martabat,juga untuk
sindiran atau gurauan
Contoh: Sang Pangeran mendapatu capan selamat (Sang; menyebut nama hormat)
2)Sri, digunakan untuk manusia yang memiliki martabat tinggi
Contoh:
Sri Baginda memasuki singasana (Sri; panggilan untuk raja/bangsawan)
3)Hang, digunakanuntukseseorang yang dihormati dalam cerita sastra lama.
Contoh:
Dalam cerita sastra lama kita kenal tokoh Hang Bae
4)Dang, digunakan untuk wanita yang dihormati. Sama dengan Hang, hanya terbatas pada sastra
lama.
Contoh:
Dang Ratna sedang berpidato (Dang; pejabat wanita)
5)Hyang, digunakan untuk menyebut dewa-dewi
Contoh:
HyangWidhi mengampuni dosanya
6) Yang, digunakan untuk menyebut Tuhan
Contoh:
Segala sesuatu sesuai dengan kehendak Yang Maha Kuasa
Kata sandang yang mengacu kepada makna kelompok/jamak:
1)Para, digunakan untukmenegaskanmaknakekelompokkanbagi manusia yang memiliki
sfattertentu.
Contoh:
Para Ulama diharapkan berperan penting dalam pembangunan Iman serta mental (Para; kelompok)
2)Umat, digunakan khusus untuk mengkhususkan kelompok yang berlatar belakang agama yang
sama.
Contoh:
Umat Nasrani sedang merayakan hari Natal
3)Kaum, digunakan untuk mengkhususkan kelompok yang berideologi sama atau bergolongan
sama.
Contoh:
Konser boy band asal Korea Selatan, EXO banyak dihadiri oleh kaum Hawa
Kata sandang yang menyatakan makna netral (Netral; seimbang,serasi,original,asli,harmonis)
1)Si, di gunakan untuk mengiringi nama orang, membentuk kata benda dari jenis kata yang lain
(kata sifat atau kata kerja)
Contoh:
Si kelinci, belum makan hari ini (mengiringi nama hewan)
Si gendut tidak bisa diet (membentuk kata benda. Si; kata benda, gendut; kata sifat)
2)Yang, digunakan untuk membendakan dan dipakai untuk manusia.
Contoh:
Yang menjadi dokter di rumah sakit itu bibiku
SISTEMATIKA PIDATO
PEMBUKA
Salam
Sapaan dalam Pidato
Contoh sapaan yang mandiri
Teman-teman yang saya cintai
Para pengurus OSIS yang berbahagia
Umumnya sapaan ini dilakukan saat akan memulai pidato. Sapaan yang digunakan
bergantung dari orang yang akan disapa. Apabila pendengar bersifat homogen kita dapat
menyapa dengan satu kali sapaan. Sebaliknya, apabila yang disapa lebih dari satu, urutkan
dari jabatan yang lebih tinggi, atau orang yang dinggap lebih dihormati baru kemudian pada
pendengar secara umum. Berikut contoh beberapa penggunaan sapaan.
Contoh Sapaan yang diurutkan
Yang saya hormati, Bapak Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Bapak Kepala Sekolah dan
Bapak/Ibu Guru SMP Negeri 8 Jakarta,
Bapak/Ibu Komite Sekolah, dan Bapak/Ibu Wali Siswa, serta anak-anakku,
para siswa kelas 3 yang berbahagia, yang sebentar lagi akan meninggalkan sekolah ini untuk
melanjutkan studi di jenjang sekolah yang lebih tinggi.
A. Membuka Pidato
Setelah memberi salam kepada hadirin, akan diteruskan dengan membuka pidato. Pada
umumnya pembuka pidato berupa ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha
Esa. Berikut contoh ungkapan pembuka pidato.
1. Marilah kita panjatkan puji dan Syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan
perkenan-Nya kita dapat hadir pada upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional, tanggal 2
Mei 2008.
2. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya
karena rahmat-Nya kita bisa hadir di dalam ruangan yang cukup bersejarah ini dalam keadaan
sehat walafiat.
II. Penjabaran Isi
Pada saat menjabarkan isi pidato, kita tidak hanya menjelaskan apa yang ingin kita
jelaskan. Terkadang kita juga meminta maaf, mengucapkan terima kasih, atau
memuji. Berikut ini beberapa contoh tentang hal tersebut.
1) Penjelasan kesan terhadap peristiwa
1. Kami tahu, perjalanan kami masih panjang. Onak dan duri akan banyak kami lewati
dalam perjalanan kami selanjutnya. Untuk itu, kami berharap doa dari Bapak Ibu Guru
semuanya, agar kami dapat menapaki bagian-bagian hidup kami pada sekolah yang lebih
tinggi dengan selamat.
2. Sebagaimana Saudara ketahui jabatan adalah amanah, kepercayaan dan
kehormatan. Junjung tinggi amanah, kepercayaan dan kehormatan yang telah diberikan
oleh negara kepada saudara. Di sisi lain, jabatan adalah tugas dan pengabdian, laksanakan
tugas dengan pengabdian itu sebaik-baiknya, dengan berbuat yang terbaik
setiap pelaksanaan tugas yang Saudara emban
2) Ucapan terima kasih dalam pidato
1. Pada kesempatan ini saya ucapkan terima kasih kepada Bapak dan Ibu Guru yang telah
membimbing kami. Bapak Ibu Guru telah menuntun tangan-tangan mungil kami menapaki
bagian perjalanan hidup kami di sekolah menengah pertama ini. 2. Saya mengucapkan terima
kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para investor, khususnya investor
otomotif di bawah naungan PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing, dan PT Yamaha Motor
Manufacturing West Java, yang telah meningkatkan peranannya dalam pembangunan industri
dan peningkatan ketersediaan lapangan kerja
3) Memohon maaf dalam pidato
Sebagai wakil dari kelas III, kami mohon maaf atas kesalahan yang kami perbuat
kepada Bapak dan Ibu Guru. Kami yakin kesalahan itu tidak terhitung. Kami tahu
kekecewaan sering Bapak Ibu alami karena perbuatan kami. Untuk itu semua, sekali lagi
kami mohon maaf.
4) Ajakan
1. Mari mulai sekarang kita menjadi bangsa yang hemat energi, kita kembangkan alternatif
energi, bukan hanya yang bersumber dari fosil, tapi dari sumber pertanian, perkebunan dan lain-
lain. Kita perlu mengembangkan kebijakan energi yang tepat, yang ramah lingkungan, yang
memeluangkan masa depan generasi kita.
Saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke
hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT. karena hari ini kita dapat berkumpul di
tempat ini untuk bersama-sama meresmikan beroperasinya PT Yamaha Motor
Manufacturing West Java.
5) Penghargaan
Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan ucapan selamat
kepada seluruh direksi dan jajaran PT Yamaha Motor. Mudah-mudahan dengan
peresmian pabrik yang baru ini, perusahaan akan mampu memberikan sumbangan
bagi pembangunan ekonomi nasional dan bagi penyediaan tenaga kerja yang lebih luas
lagi.
III. Menutup pidato
Demikianlah hal-hal yang dapat kami sampaikan pada acara perpisahan ini. Apabila ada kata
yang kurang berkenan atau bahkan menyinggung perasaan hadirin, saya mohon maaf yang
sebesar-besarnya. Sekian dan terima kasih.
CONTOH TEKS PIDATO
Bapak kepala sekolah yang saya hormati.
Bapak /Ibu Guru yang saya hormati.
Para undangan yang saya muliakan, dan para siswa SMP Marsudirini yang saya cintai.
.
Marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Hanya dengan rahmat-Nya semata, pada hari ini kita dapat melaksanakan acara pelepasan siswa-siswa kelas
IX SMP Marsudirini.
Tak lupa saya ucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mewakili teman-teman
kelas IX yang akan meninggalkan sekolah ini.
Tidak terasa tiga tahun telah berlalu. Suka dan duka telah kami alami di sekolah ini. Hari ini, tanggal 12 Juni
2012, kita mengadakan perpisahan kelas IX. Acara ini sangat bermakna bagi kami para siswa kelas 3 yang akan
meninggalkan sekolah yang kami cintai ini. Pada kesempatan yang baik inilah kami atas nama teman-teman
mengucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Bapak dan Ibu Guru yang telah membimbing
kami menyelesaikan satu tahap jenjang pendidikan di sekolah ini. Mudah-mudahan ilmu yang telah Bapak Ibu
berikan kepada kami bermanfaat bagi kami semua. Demikian juga, kami mengucapkan terima kasih kepada
orang tua kami yang telah ikhlas membimbing dan membesarkan kami sehingga kami dapat mendapat
pendidikan yang utuh.
Selain itu, pada kesempatan ini, kami juga mohon maaf dari pada kesalahan yang kami perbuat kepada Bapak
dan Ibu Guru. Kami yakin kesalahan itu tak terhitung. Kami tahu kekecewaan sering Bapak Ibu alami karena
perbuatan kami. Untuk itu semua, sekali lagi kami mohon maaf.
Kami tahu perjalanan kami masih panjang. Onak dan duri akan banyak kami lewati dalam perjalanan kami
selanjutnya. Untuk itu, kami berharap doa dari Bapak Ibu Guru semuanya, agar kami dapat menapaki bagian-
bagian hidup kami pada sekolahan yang lebih tinggi dengan selamat. Kami ingin mewujudkan cita-cita kami
dengan iringan doa para Ibu dan Bapak Guru serta doa orang tua kami.
Kepada teman-teman yang saya cintai….
Marilah kita jaga nama baik sekolah kita ini sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Mari kita jaga nama baik sekolah
kita ini dengan berprestasi yang lebih baik. Kebersamaan kita selama tiga tahun ini sangat bermakna bagi
kita.Semoga hal ini akan selalu terkenang dalam perjalanan hidup kita selanjutnya.
.
Demikianlah hal-hal yang dapat kami sampaikan pada acara perpisahan ini. Apabila ada tutur kata yang kurang
berkenan atau bahkan menyinggung perasaan hadirin, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Sekian dan terima kasih.
Istilah-Istilah Dalam Bidang Kesehatan
(Medis)
A
Adaptasi = penyesuaian diri, baik secara psikis terhadap kondisi atau
keperluan tertentu secara fleksibel
Aerobik = Bersifat memerlukan oksigen bagi kehidupannya
Aerofagi = Menelan udara secara berlebihan
Alergi = 1. Perubahan reaksi tubuh terhadap kuman-kuman
penyakit;
2. Keadaan sangat peka tergadap penyebab tertentu
Amnesia = kehilangan daya ingat, terutama tentang masa lalu atau
tentang apa yang terjadi sebelumnya karena penyakit
cacat atau cedera pada otak
Anaemia = (Penyakit) kekurangan kadar hemoglobin dalam darah
Antibody = Zat yang dibentuk dalam darah untuk memusnahkan
bekteri virus atau untuk melawan toksin yang dihasilkan
oleh bakteri = Kedai tempat meramu dan menjual obat; Toko obat
Apotek
Autopsi = Pemeriksaan tubuh mayat dengan alan pembedahan
untuk mengetahui penyebab kematiannya. Umumnya
berhubungan dengan keperluan forensik
B = Bacteria
= Keadaan tidak sadar (karena pengeruh obat bius atau anestetik)
Bakteri = Tidak dapat melihat karena kerusakan pada mata
Bius = Kabur penglihatan kpada petang hari
Buta = Tidak dapat melihat sama sekali
Buta ayam = Tidak dapat membedakan warna dengan baik
Buta siang
Buta warna
C
Campak = penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang mengakibatkan
suhu badan naik, menimbulkan bintik-bintik merah pada kulit.
D
Daya tahan = Kemampuan bertahan terhadap segala pengaruh dari luar
yang merugikan (dalam hal ini daya tahan terhadap
masuknya bibit penyakit)
Dehidrasi = 1. Kehilangan cairan dalam tubuh; 2. Dalam ilmu kimia,
yaitu penyingkiran air dari suatu zat
Demam = Sakit yang menyebabkan suhu badan menjadi lebih tinggi
dari biasanya
Donor = Penderma/penyumbang (ginjal dsb) kepada orang lain
yang memerlukan
E
Efektif = Munjur atau mujarab (hal obat)
Efisiensi makanan = Angka yang menunjukkan rasio atau perbandingan antara
pertambahan berat badan anak dan berat makanan (ransum) yang dikonsumsikan
Eksternal = (bagian) yang paling luar
Endemi = Penyakit yang berjangkit di suatu golongan masyarakat
tertentu atau di suatu daerah tertentu, hawar
Endemik = Secara tetap terdapat di tempat-tempat atau di kalangan
orang-orang tertentu dan terbatas pada mereka saja
(seperti malaria didaerah pesisir penyakit cacing tambang
di kalangan buruh tambang)
Epidemi = Suatu penyakit menular yang memiliki daya jangkit cepat
di daerah yang luar dan menimbulkan banyak korban
wabah
F = Subur
= Ketakutan yang sangat berlebihan dan abnormal terhadap sesuatu hal
Fertil = Zat makanan pokok yang diperlukan bagi pertumbuhan dan
Fobia = Penguraian gula dalam metabolisme
G
Gizi
kesehatan tubuh
Glikosis
H
Herbal = ramu-ramuan; jamu
Higienes = Bebas dari kuman penyakit; sehat
Hipotensi = Tekanan darah rendah
Hormon = Zat yang dibuat dan dikeluarkan dalam jumlah yang sangat terbatas
ke dalam aliran darah oleh kelenjar endokrin atau sel saraf khusu, mengatur pertumbuhan
atau fungsi jaringan atau organ tertentu dari bagian tubuh yang cukup jauh. Misalnya
hormon insulin mengatur laju dan cara bagaimana glukosa digunakan oleh tubuh
I
Identik = sama atau mirip dalam setiap aspek
Ilmu Kedokteran = Ilmu yang mengangkat masalah penyakit pada organisme manusia
(dan atau hewan), serta cara dan metode penanganan atau pengobatannya
Ilmu kesehatan = Pengetahuan tentang hal penjjagaan dan pemeliharaan kesehatan,
serta penceganan penyakit
Imunisasi = Pengimunan; pemberian antigen untuk kekebalan (Imunisasi)
Infeksi = Timbulnya penyakit oleh karena masuknya bibit penyakit atau
mikroorganisme yang patogen kedalam tubuh
Invasi = Peristiwa masuknya kuman, atau serangan penyakit kedalam tubuh
Iritasi = Gangguan, stimulasi
J
Jangar = Penyakit pening kepala
Jantung = Organ dalam tubuh yang merupakan pusat peredaran darah, terletak
idalam rongga dada sebelah atas
L = Mudah berubah, tidak stabil
= Proses keluarnya air susu dari kelenjar susu
Labil
Laktasi
Leukosit = sel darah tanpa warna (berfungsi untuk membinasakan bakteri yang
memasuki tubuh); sel darah putih
M
Masa inkubasi = masa mulai saat penyebab penyakit masuk ke dalam tubuh (saat
penularan) sampai saatnya timbul penyakit; masa tunas
Monofobia = rasa takut yang berlebihan bila berada sendiri
N
Nutrisi = 1. Ilmu tentang gizi 2.makanan yang mengandung gizi;
nutrimen 3. Proses pemasukan, pengolahan, dan penyerapan zat makanan oleh
tubuh
Istilah-sitilah dalam bidang Seni dan Budaya
Istilah-sitilah dalam bidang Seni dan Budaya
Aliran : ciri ekspresi personal yang khas dari seniman dalam menyajikan karyanya – isi
karya (makna).
Alur : rangkaian peristiwa yang direka dan dijalin dengan seksama dan menggerakkan
jalan cerita melalui kerumitan cerita kearah klimaks dan penyelesaian.
Antagonis : tokoh pertentangan, lawan tokoh protagonist.
Babak : bagian besar dari suatu drama atau lakon (terdiri atas beberapa adegan).
Blocking : teknik pengaturan langkah-langkah para pemain di panggung dalam membawakan
sebuah cerita drama.
Casting : cara pemilihan pemain untuk memerankan suatu tokoh.
Design : rancangan, karya rancangan, penggambaran, gagas rancangan, pemecahan rupa,
susunan rupa, tata rupa, konsep rupa, bahas rupa.
Ekplorasi : latihan-latihan pencarian untuk kebutuhan karya seni.
Eksposisi : bagian awal sebuah lakon atau karya sastra yang berisi keterangan tentang tokoh
dan latar pemaparanpengenalan.
Ekspresionisme : aliran seni yang menampilkan kondisi kedalaman hati/perasaan.
Empati : keterlibatan kedalam bentuk atau larut dalam perasaan tokoh.
Expression : mimik, emosi wajah.
Karakter : sifat-sifat kejiwaan ahlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan
yang lain, tabiat, watak.
Komedi : lakon gembira, atau suka cita.
Konflik : berselisih, pertentangan, ketegangan dalam cerita atau lakon (dua kekuatan atau
dua tokoh).
Konsentrasi : pemusatan pikiran.
Konvensional : aliran atau gaya penampilan yang biasa-biasa saja sesuai dengan
kebiasaan yang berlaku.
Skenario : Adalah susunan garis-garis besar lakon drama yang akan diperagakan para
pemain.
Tari teatrikal : tari yang dikemas untuk pertunjukan yang memiliki nilai artisitik yang tinggi.
ISILAH bidang hukum
Abolisi : Penghapusan terhadap seluruh akibat penjatuhan putusan
pengadilan pidana kepada seseorang terpidana, terdakwa yang bersalah
melakukan delik
Advokasi : Tindakan untuk mempermasalahkan suatu hal/ide/topik tertentu
Advokat : Orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik di dalam maupun di
luar yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan undang-undang nomor 18
tahun 2003 ttg advokat
Akta : suatu tulisan yang dibuat dengan sengaja untuk dijadikan bukti tentang
sesuatu peristiwa dan ditandatangani oleh pembuatnya
Alibi : Bukti bahwa tersangka berada ditempat lain pada saat perbuatan hukum
terjadi
Dasar hukum : Peraturan hukum yang melandasi suatu perbuatan
Delik : Suatu tindakan melanggar hukum yang telah dilakukan dengan sengaja
ataupun tidak sengaja oleh seseorang yang tindakannya tersebut dapat
dipertanggungjawabkan dan oleh undang-undang telah dinyatakan sebagai suatu
perbuatan yang dapat dihukum.
Delik aduan : Delik yang hanya dapat dituntut karena adanya pengaduan dari pihak
yang dirugikan (korban)
Deposisi : Bukti saksi atau ahli yang didasarkan atas sumpah yang dilakukan
diluar pengadilan
Domisili : Tempat kediaman tetap
Eksekusi : Pelaksanaan terhadap suatu putusan yang telah berkekuatan hukum
tetap
Grasi : Pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau
penghapusan pelaksanaan pidana kepada yang diberikan oleh presiden
Kasasi : Pembatalan putusan atas penetapan pengadilan-pengadilan dari semua
lingkungan peradilan dalam tungkat peradilan terakhir
Kuasa hukum : Pihak yang diberikan kewenangan untuk melaksanakan proses
hukum di muka pengadilan
KUHAP : Undang-undang nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang
Hukum Acara Pidana
Pailit : Suatu keadaan di mana seseorang sudah tidak mampu lagi membayar
hutang-hutangnya.
Panitera : Pejabat pengadilan yang salah satu tugasnya adalah membantu hakim
dalam membuat berita acara pemeriksaan dalam proses persidangan
Agresi : penyerangan suatu negara kepada negara lain.
Agitasi : hasutan kepada orang lain agar massa memberontak.
Akhlak : budi pekerti.
Aksi : gerakan melawan.
Akulturasi : percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan
saling mempengaruhi.
Aliansi : ikatan antara dua negara atau lebih dengan tujuan politik.
Amnesti : pengampunan presiden kepada seseorang atau kelompok orang
yang telah melakukan tindakan pidana tertentu.
Bujet (budget) : anggaran pemasukan dan pengeluaran uang secara terperinci.
Birokrasi : cara kerja yang serba lamban serba menurut aturan formal.
Demokrasi : suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Demoralisasi : kemerosotan akhlak.
De fakto : pengakuan atas sesuatu pemerintahan ditinjau dari segi kenyataan
yang sebenarnya.
De yure : pengakuan secara hukum.
Grasi : pengampunan presiden kepada seseorang yang tengah menjalani
hukuman.
Hak asasi : hak manusia yang paling dasar.
Hak interpelasi : hak DPR untuk meminta keterangan kepada presiden.
Hak inisiatif : hak DPR untuk mengajukan usul rancangan undang-undang.
Hak amandemen : hak DPR untuk mengadakan perubahan terhadap suatu usul.
Eksekusi : pelaksanaan putusan pengadilan.
Eksekutif : berkaitan dengan pengurusan (pemerintah).
Ekspansi : perluasan wilayah suatu negara dengan menduduki negara
lain.
Keputusan (MPR) : putusan majelis yang mengikat ke dalam anggota majelis.
Konservatif : kolot, mempertahankan kebiasaan yang berlaku.
Konstitusi : undang-undang dasar suatu negara.
Konsensus : kesepakatan kata atau permufakatan bersama (mengenai
pendapat, pendirian, dan sebagainya) yang dicapai melalui kebulatan suara.
Unsur-Unsur Intrinsik Cerpen/Novel
Unsur intrinsik ialah unsur/bagian yang membentuk sebuah cerita (cerpen/novel). Unsur-unsur
intrinsik tersebut adalah: tema, alur, penokohan, latar, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat.
A. ALUR komplikasi
orientasi resolusi
KOMPLIKASI
KLIMAKS
RUMITAN LERAIAN
SELESAIAN
ORIENTASI / PEMAPARAN KODA
B. Penokohan
1. Pengertian
Penokohan sering juga disebut perwatakan, yaitu pelukisan mengenai tokoh cerita. Pelukisan
ini mencakup keadaan lahir dan batin tokoh. Keadaan lahir merupakan bentuk jasad tokoh,
keadaan batin mencakupi pandangan hidup tokoh, sikap tokoh, keyakinan, dan adat istiadat.
DESKRIPTIF
ANALITIK / LANGSUNG
Perilaku Tokoh
PENGGAMBARAN WATAK TOKOH
DRAMATIK / TIDAK LANGSUNG Tanggapan Tokoh Lain
Dialoq Tokoh
Pikiran Tokoh
2. Teknik Penggambaran tokoh Penokohan
Dalam menggambarkan watak tokoh pengarang menggunakan dua cara yaitu
(1)penggambaran langsung dan (2)penggambaran tidak langsung.
(1) Penggambaran Langsung
Dikatakan penggambaran langsung karena penulis langsung menyatakan watak tokoh;
pembaca tidak perlu lagi menafsirkan.
Contoh:
a. Bangkuro lelaki yang tampan. Jejak ketampanannya tampak jelas menutupi garis-garis
ketuaannya. Ia sangat disayangi rakyatnya. Di balik kekerasan watak dan pembawaannya
tersimpan hati yang sangat penyayang. Hutan di mana mereka bermukim sangat dijaga oleh
Bangkuro dengan berbagai peraturan. Tidak ada yang boleh dirusak dan diganggu jika tidak
dibutuhkan. Hewan buruan ditangkap sekedar untuk dimakan, bukan untuk kesenangan. Ia pun
menggalakkan bercocok tanam kepada rakyatnya. Bukan hanya menggantungkan hidup kepada
alam seperti yang selama ini mereka lakukan.
Jurang Perdamaian, Abu Syuhada
Watak tokoh ”Bangkuro” dalam penggalan cerita di atas adalah berwatak keras dan hatinya
penyayang.
b. Badannya sedang, tak gemuk dan tak kurus, tetapi tegap. Pada wajah mukanya yang jernih
dan tenang, berbayang, bahwa ia seorang yang lurus, tetapi keras hati; tak mudah dibantah,
barang sesuatu maksudnya. Menilik pakaian dan rumah sekolahnya, nyata ia anak seorang yang
mampu dan tertib sopannya, menyatakan ia anak seorang yang berbangsa tinggi.
Siti Nurbaya, Marah Rusli
Watak tokoh ”ia” dalam penggalan cerita di atas adalah lurus (jujur) dan keras hati.
(2) Penggambaran Tidak Langsung
Penggambaran watak tokoh secara tak langsung maksudnya pembaca menafsirkan sendiri
watak tokoh. Watak tokoh ditafsirkan berdasarkan: (1) fisik tokoh, (2) dialog antartokoh, (3)
tanggapan tokoh lain, (4) lingkungan tokoh, (5) tindakan/perbuatan tokoh, (6) pikiran tokoh.
a. Dialog antartokoh
Yaitu pembaca dapat mengetahui watak tokoh dari pembicaraan tokoh dengan orang lain.
Bagaimana tokoh itu berbicara, apa isi pembicaraannya dengan tokoh lain, menggambarkan watak
si tokoh.
Contoh:
”Aku tidak peduli! Pokoknya hari ini, malam ini, detik ini juga kalian angkat kaki dari rumah
ini!” Sang juragan menatap Adi dan ibunya dengan mata penuh api.
”Juragan, kasihanilah kami. Beri waktu seminggu lagi, kami akan segera lunasi uang
kontrakan,” ibu memandang sang juragan dengan air mata berlinang.
Dari penggalan cerita di atas, dari apa yang ia ucapkan kita tahu sang juragan adalah seorang yang
berwatak bengis dan tak punya rasa kemanusiaan.
b. Tanggapan (ucapan) tokoh lain
Yaitu pembaca dapat mengetahui watak tokoh dari tanggapan yang dilontarkan oleh tokoh lain
dalam cerita.
Contoh:
”Ada masalah apa antara kau dan Leni, Meri?” tanya Mak suatu malam.
”Itulah, Mak. Aku memang tak senang dengan dia. Dia tak bisa menyimpan rahasia. Mulutnya
ember, bocor, tak ada remnya. Aku sudah bilang, tolong jangan cerita pada orang lain. Eh, barus
sehari udah banyak orang yang tahu.”
Dari penggalan cerita di atas, berdasarkan ucapan Meri, watak Leni adalah tidak bisa menyimpan
rahasia.
c. Perbuatan tokoh
Yaitu pembaca bisa menentukan watak tokoh dari apa yang dilakukan tokoh tersebut.
Contoh:
Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk
melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan
memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan. Begitulah Rafli
menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga
Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan
menjenguk sanak famili mereka,melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap
dan bercanda mesra..
Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.
Watak Rafli adalah setia kepada istrinya.
d. Pikiran tokoh
Yaitu pembaca bisa menentukan watak tokoh dari apa yang dipikirkan tokoh tersebut.
Contoh:
Sampai jauh malam Iyen masih terjaga. Ia terus menguatkan hati. Ia tak boleh merasa lemah
oleh masalah dan kesulitan. Ia harus terus melangkah maju. Kehidupan serba sulit yang saat ini
ditanggungkan keluarganya harus ia ubah. Iyen yakin, dengan cara sekolah setinggi-tingginya
kemiskinan yang membalut keluarganya bisa ia lawan.
Watak Iyen yang tidak suka berputus asa tergambar dari pikiran tokoh Iyen di atas.
C. Sudut Pandang
Sudut pandang adalah posisi penulis dalam cerita. Hanya ada dua sudut pandang, yaitu:
1. Sudut pandang orang pertama
Artinya penulis terlibat dalam cerita, ditandai dengan adanya seorang tokoh yang bernama “Aku”.
Terbagi dua:
a. Orang pertama pelaku utama
Penulis, si ”Aku”, adalah tokoh utama dalam cerita. Cerita tersebut adalah peristiwa yang
menimpa penulis.
Contoh:
Mak memandangku dengan mata penuh kasihan dan sayang. Aku lebih kasihan lagi pada Mak.
Membesarkan lima orang anak sendirian bukan pekerjaan mudah. Aku ingin membantu
meringankan beban Mak. Separuh hari sekolah, separuh hari berkuli. Kalau libur, sepanjang hari
aku berkuli.
Aku ingin membahagiakan Mak. Itu citaku.
”Biarlah Adi belajar tentang pahitnya hidup, Mak. Mungkin berguna nanti.”
”Tapi Mak kasihan. Pulang kerja kamu terkapar keletihan. Lagian, nanti belajarmu terganggu.”
”Percayalah pada Adi, Mak. Adi tidak akan mengecewakan Mak. Insyaallah.”
Mak diam. Itu kalimat pamungkasku. Suara hatiku yang paling dalam. Mak selalu terdiam
kalau mendengar kalimat itu. Anjing, karya Abu Syuhada
b. Orang pertama pelaku sampingan
Penulis, si ”Aku”, bukan tokoh utama, tapi tokoh sampingan dalam cerita. Cerita tersebut adalah
pengalaman teman, sahabat, saudara, dll. dari penulis yang penulis— si Aku —ikut terlibat dalam
peristiwa cerita.
Contoh:
Mata Adi menatapku dalam. Aku melihat derita yang sangat pedih di mata itu.
”Aku akan membalaskan apa yang telah mereka lakukan pada keluargaku.”
”Sabarlah, Di. Sehatkanlah dulu badanmu.”
”Terima kasih, Can. Kau sangat banyak membantuku.”
Adi langsung bangkit dari duduknya. Dengan agak sempoyongan ia berdiri dan berjalan
menuju pintu. Sebelum menutup pintu, ia menoleh kepadaku sebagai tanda meminta izin pulang.
Aku mengangguk.
Entah apa yang akan terjadi esok. Adi pasti mencari siapa orang yang telah membantai seluruh
anggota keluarganya.
2. Sudut pandang orang ketiga
Tokoh menggunakan nama
Terbagi dua:
a. Orang ketiga Peninjau
Penulis fokus apa yang dilihat.
Contoh:
Amar duduk sendiri di sudut kelas. Sebentar-sebentar menengok ke arah Melati.
b. Orang ketiga serbatahu
Penulis serbatahu apa yang dipikirkan dan dirasakan seluruh—sebagian besar—dari tokoh-tokoh
dalam cerita. Sebagian besar tokoh cerita ia ungkap pikiran dan perasaannya.
Contoh:
Dodi sangat galau. Wajahnya kusut, dahinya berkerut penuh lipatan. Sedang terjadi pertarungan
batin yang luar biasa di dalam dadanya. Dadanya serasa mau pecah, dan kepalanya seakan mau
berkeping-keping. Ia harus mengumpulkan keberanian sebanyak-banyaknya untuk mengakui
perbuatan salahnya dan mengembalikan hasilnya
POLA PENGEMBANGAN PARAGRAF
A. Pola pengembangan paragraf
Pola pengembangan paragar dibagi menjadi beberapa bagian antara lain adalah ;
1. Pola pengembangan paragaf deduktif
Paragraf deduktif adalah paragraf yang diawali dengan hal-hal yang bersifat
umum dan diperjelas dengan hal-hal yang bersifat khusus. Pada paragraf deduktif
kalimat utamanya berada di awal paragraf.
Contoh:
Memiliki server sendiri memiliki banyak keuntungan. Salah satunya kita dapat
memanfaatkannya secara maksimal. Meskipun demikian biaya yang dikeluarkan jauh lebih besar.
Biaya untuk hardware saja sudah di atas Rp 10 juta, belum lagi biaya perbulan. Selain itu kita juga
membutuhkan tenaga professional untuk menjadi operatornya.
2. Pola Pengembangan Paragaf Induktif,
Paragraf induksi adalah paragraf yang dikembangkan mulai dengan hal-hal yang
khusus ke hal-hal yang umum. Paragraf induktif kalimat utamanya berada di akhir
paragraf. Pola pengembangan paragraf induktif dibagi menjadi beberapa bagian antara
lain :
a. Generalisasi,Paragaraf yang dikembangkan dengan pola hubungan dari khusus
ke umum
contoh:
Gelombang cinta merupakan salah satu jenis anthurium yang mempunyai harga
mahal. Jenmani juga merupakan anthurium yang banyak dicari karena harganya yang
fantastis. Selain karena harganya, jenmani dicari penggemar tanaman hiasa karena
keindahan daunnya. Tidak hanya jenmani dan gelombang cinta yang dicari
penggemar tanaman hias, namun semua jenis anthurium ikut diburu penggemar
tanaman hias karena memiliki harga yang tinggi
b. Analogi, Paragraf yang dikembangkan dengan membandingkan dua atau lebih
benda yang dianggap memiliki kesamaan kemudian menarik kesimpulan.
Contoh:
Gelombang cinta dapat dilihat dari gelombang daunnya. Indahnya gelombang cinta
sama seperti gelombang air. Semakin banyak gelombang yang dihasilkan daunnya,
semakin indah pula gelombang cinta. Begitu juga dengan gelombang air, semakin
bergelombang air semakin indah untuk dinikmati. Dengan demikian, indahnya
gelombang cinta dan air terletak pada gelombang yang dihasilkan
c. Sebab-akibat, Paragraf yang dikembangkan berdasarkan huubungan sebab
akibat. Dalam paragraf ini akibat bertindak sebagai gagasan pokok atau kesimpulan
yang bersifat umum. Sebaliknya sebab bertindak sebagai gagasan penjelas atau
perincian yang bersifat khusus.
Contoh :
Gelombang cinta memiliki daun yang bergelombang, harga gelombang cinta juga
tinggi. Tidak hanya itu, kepopuleran gelombang cinta membuat orang ingin
memilikinya. Tidak heran banyak orang ingin membudidayakan gelombang cinta.
d. Akibat-sebab, Paragraf yang dikembangkan berdasarkan hubungan akibat
sebab. Dalam paragrap ini sebab bertindak sebgai gagasasn pokok tau kesimpulan
yang bersifat umum. Sebaliknya akibat bertindak sebagai gagasan penjelas atau
perincian yang bersifat khusus.
Contoh :
Para pembeli gelombang cinta terpaksa berdesak-desakan di luar took. Mereka juga
berdesak-desakan di dalam took. Mereka ada yang duduk, ada yang berdiri, ada pula
yang antre. Bahkan, ada yang duduk beralaskan Koran. Mereka rela mengantre
karena harga gelombang cinta di took itu sangat murah
3. Pola Pengembangan Paragraf Campuran,
Paragraf campuran adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal dan
di akhir paragraf. Dalam paragraf ini terdapat dua kalimat utama. Dalam hal ini kalimat
terakhir umumnya mengulangi gagasan yang dinyatakan kalimat pertama dengan sedikit
penekanan dan variasi
4. Pola pengembangan paragraf Naratif
Paragraf naratif adalah paragraf yang kalimat utamanya tersebar di seluruh
bagian paragraf.
5. Pola pengembangan paragraf Ineratif
Paragraf ineratif adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di tengah-
tengah bagian paragraf (di antara awal dan akhir paragraf)
Contoh :
Seminggu menjelang hari raya Idhul Fitri, kebutuhan masyarakat semakin
meningkat. Mulai dari harga makanan pokok hingga sandang. Masyarakat khawatir jika
tidak mempersiapkan kebutuhan hari raya dari sekarang, stok kebutuhan menjelang hari
raya semakin sedikit. Seriring meningkatnya kebutuhan orang banyak, rupanya
kekhawatiran masyarakat tersebut dimanfaatkan oleh para pedagang untuk
meningkatkan harga kebutuhan pokok. Karena perbuatan pedagang yang seperti ini,
terpaksa masyarakat harus membeli dengan harga tinggi.
6. Pola pengembangan proses
Merupakan suatu urutan dari tindakan atau perbuatan untuk menciptakan atau menghasilkan suatu
peristiwa.
Contoh:
Pohon anggur selain airnya dapat diminum, daunnya pun dapat digunakan sebagai pembersih
wajah. Caranya, ambillah daun anggur secukupnya. Lalu tumbuk sampai halus. Masaklah hasil
tumbukan itu dengan air secukupnya. Tunggu sampai mendidih. Setelah ramuan mendingin,
ramuan siap digunakan. Oleskan ramuan pada wajah, tunggu beberapa saat, lalu bersihkan.
7. Pola pengembangan ilustrasi
Sebuah gagasan yang terlalu umum memerlukan ilustrasi atau contoh-contoh yang nyata. Ilustrasi
tersebut dipakai untuk menjelaskan maksud penulis.
Contoh:
Sebelas tahun lalu Indonesia mengimpor gerbong kereta api dari Perancis. Gerbong tersebut
tampak mentereng karena dilengkapi dengan alat-alat conditioning. Namun dimanakah sekarang
gerbong-gerbong itu? Ternyata sudah banyak yang rusak. Gerbong-gerbong itu kini hanya dipakai
dalam trayek tingkat tiga untuk mengangkut anak-anak sekolah dan para petani dari desa ke kota.
Siapa yang salah? Penumpangnya atau pegawai PT KAI? Itulah contoh penggunaan teknologi
yang tak dibarengi SDM yang memadai, sehingga teknologi pun lekas rusak sebelum waktunya.
8. Pola pengembangan pertentangan atau perbandingan
Pola ini digunakan ketika membahas dua hal berdasarkan persamaan dan perbedaannya.
Contoh:
Pemerintah telah menyediakan listrik dengan tarif yang murah. Setiap orang dapat menjadi
pelanggan dengan tidak banyak mengeluarkan biaya. Berbeda halnya dengan petromaks.
Meskipun sama-sama membutuhkan bahan bakar, tetapi energi yang dihasilkan petromaks sangat
kecil jika dibandingkan dengan pembangkit listrik biasa. Petromaks hanya digunakan di desa-desa,
sedangkan listrik terdapat di kota-kota.
9. Pola pengembangan analisis
pola pengembangan struktur cerita fantasi
Bagian Teks Contoh Pola Pengembangan
orientasi
1. Dikembangkan dari deskripsi latar
Tiga rumah bergaya kerucut menyambut mataku.
Ketika aku memandanginya satu persatu, ternyata rumah
itu memiliki model yang sama. Hanya satu hal yang
membedakan ketiga rumah itu. Warna pintunya. Setiap
pintu mengikuti gradasi warna seperti yang kulihat di
cuctom calor laptopku.
2. Dikembangkan dari pengenalan tokoh
Alien itu berhidung mancung. Dengan hidungnya yang
menjulang, ia mengendus sekeliling. Sepertinya ia bingung
dan mencoba mengenali tempatnya tempat baru. Matanya
yang sebesar biji kemiri berkedip-kedip memamerkan
matanya yang kehijauan. Aku tahu dia bukan manusia
sepertiku. Tapi ia datang bukan untuk mengganggu.
Komplikasi 3. Dikembangkan dari pengenalan konflik
komplikasi “Kau harus membawanya kembali!” Erza berteriak
kalang kabut. Aku gugup. Bingung. Tak tau apa yang
harus kuperbuat, sedangkan manusia dengan wajah
setengah keraitu memandang sekeliling. Manusia purba itu
menemukanku ketika aku menelitinya dan tanpa kusadari
ia mengikutiku. Manusia purba itu akan mati jika tidak kembali dalam
waktu 12 jam.
1. Dikembangkan dengan menghadirkan tokoh lain
Tiba-tiba seorang alien yang berukuran lebih besar
datang. Perutnya buncit dan bibirnya berwarna merah.
Matanya merah. Alien berhidung besar itu tiba-tiba
mengeluarkan cahaya merah dari tangannya yang membuat
alien kecil kepanasan.
2. Dikembangkan dengan mengubah latar
Laut yang tadinya tenang dan berwarna biru muda
kehijauan bergelombang berbuih. Gerakan air itu
menandakan sedang ada yang terjadi di dunia samudera.
Aku harus memeriksa apa yang terjadi. Aku tak ingin
melihat warga bumi terluka karena pertempuran samudera.
3. Dikembangkan dengan melompat pada zaman yang
berbeda (masa lampau atau masa depan).
Di tengah saya asyik mengamati candi, tiba-tiba bumi
bergoncang dan bluuum! Saya terdorong ke sebuah tempat
kemilau yang serba keemasan. Baunya harum dan indah. Sebuah
resolusi kerajaan megah ada di hadapanku.
1. Dikembangkan dengan lompatan waktu
Dua tahun kemudian, Farta telah sampai di galaksi
Andromeda dan bertemu dengan Ozi. Ia akhirnya
menemukan saudaranya di planet yang berbeda. Perjalannya
tak sia-sia.
2. Dikembangkan sebab- akibat yang unik
Setelah saya menyebutkan semua perilaku baik yang
pernah saya lakukan, pintu terbuka. Dan tanpa kuduga saya
sudah berada di depan meja belajarku. Akhirnya, Doni bisa
kembali ke dunia asalnya.
3. Dikembangkan dengan surprise (kejutan)
“Hoooaaii….” Putri Candy menguap. Puteri terbangun dari tiga
tahun tidur panjangnya
SKL.17 Membandingkan penggunaan
bahasa cerpen dan fabel
I. Cerpen
1. Pengertian Cerpen
Cerpen atau dapat disebut juga dengan cerita pendek merupakan suatu bentuk prosa naratif
fiktif. Cerpen cenderung singkat, padat, dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya
fiksi lain yang lebih panjang, seperti novella dan novel.
Cerpen merupakan salah satu jenis karya sastra yang memaparkan kisah atau cerita mengenai
manusia beserta seluk beluknya lewat tulisan pendek dan singkat. Atau pengertian cerpen yang
lainnya yaitu sebuah karangan fiktif yang berisi mengenai kehidupan seseorang ataupun
kehidupan yang diceritakan secara ringkas dan singkat yang berfokus pada suatu tokoh saja.
2. Ciri-ciri / fitur bahasa cerita pendek:
1) Menggunakan tokoh dengan kata ganti orang pertama atau orang ketiga.
2) Menggunakan kata sifat untuk menjelaskan watak tokoh / untuk mengidentifikasi tokoh / objek
lain.
3) Menggunakan kata kerja untuk menunjukan tindakan, gerak-gerik, dan tingkah laku tokoh.
4) Terdapat kata kias / konotasi / gaya bahasa untuk memperindah isi cerita.
5) Terdapat dialog / percakapan ( dijelaskan dalam tanda petik / kalimat langsung )
6) Menggunakan bahasa yang tajam, sugestif, dan menarik.
II. Fabel
1. Pengertian Fabel
Cerita fabel merupakan cerita tentang kehidupan binatang yang berperilaku menyerupai manusia.
Fabel termasuk jenis cerita fiksi, bukan kisah tentang kehidupan nyata. Cerita fabel sering juga
disebut cerita moral karena pesan yang ada di dalam cerita fabel berkaitan erat dengan moral.
Tokoh pada cerita fabel biasanya binatang. Teks cerita fabel tidak hanya mengisahkan kehidupan
binatang, tetapi juga mengisahkan kehidupan manusia dengan segala karakternya.
Binatang-binatang yang ada pada cerita fabel memiliki karakter seperti manusia. Karakter mereka
ada yang baik dan ada juga yang tidak baik. Mereka mempunyai sifat jujur, sopan,
pintar, dan senang bersahabat, serta melakukan perbuatan terpuji. Mereka ada juga yang
berkarakter licik, culas, sombong, suka menipu, dan ingin menang sendiri.
2. Kaidah Kebahasaan Teks Cerita Fabel
Kaidah kebahasaan atau yang biasa disebut juga sebagai unsur kebahasaan merupakan ciri dari
bahasa yang digunakan dalam suatu teks seperti cerita fabel. Adapun unsur kebahasaan atau
kaidah kebahasaan dari teks cerita fabel sebagai berikut
1) Kata Kerja
Salah satu kaidah atau unsur kebahasaan dalam sebuah teks cerita fabel adalah adanya kata kerja.
Kata kerja dalam cerita fabel dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu kata kerja aktif transitif
dan kata kerja aktif intransitif.
2) Penggunaan KataSandang Si dan Sang
Pada teks cerita fabel sering sekali adanya penggunaan kata sandang si dan sang.
3) Penggunaan Kata Keterangan Tempat dan Waktu
Dalam teks cerita fabel biasanya digunakan kata keterangan tempat dan kata keterangan waktu
untuk menghidupkan suasana. Untuk keterangan tempat biasanya digunakan kata depan di dan
keterangan waktu biasanya digunakan kata depan pada atau kata yang menunjukkan informasi
waktu.
4) Penggunaan Kata Hubung Lalu, Kemudian, dan Akhirnya
Kata lalu dan kemudian memiliki makna yang sama. Kata itu digunakan sebagai penghubung
antarkalimat dan intrakalimat. Kata akhirnya biasanya digunakan untuk menyimpulkan dan
mengakhiri informasi dalam paragraf atau dalam teks.Soal
IKLAN BARIS
1. Bacalah ilustrasi berikut!
biasanya kita sring baca" koran.. tpi ad singkatan yg kita tidak ngerti.. berikut singkatan "
bserta artinya.. Moga bermanfaat..
AJB = Akta Jual Beli = akad jual beli antara pihak penjual dan pembeli yg dibuat dan
disahkan oleh notaris
AHT = Akta Hak Tanggungan, dibuat oleh notaris yg digunakan dalam akad kredit bank
Akta Waris = surat yg dibuat oleh Kelurahan untuk menunjukkan siapa sebenarnya yg
berhak sebagai ahli waris dari suatu properti untuk menghindari sengketa dikemudian hari
APHT = Akta Pembebanan Hak Tanggungan, akta yg dibuat oleh notaris yg gunanya
adalah nama yg tertera di buku sertifikat tersebut telah melepaskan haknya untuk
sementara kepada bank karena memiliki kredit dalam jangka waktu tertentu
Apt = apartement
BaruRenov = Baru renovasi, rumahnya seperti baru lagi
BPHTB = Biaya Perolehan Hak Tanah dan Bangunan (pajak yg harus dibayar pembeli
tanah sebelum AJB)
BPN = Badan Pertanahan Nasional (lembaga yg mengurusi terbitnya sertifikat)
B/U = butuh uang
BU CPT = butuh uang cepat
cck u/ush = cocok untuk usaha
Cdmn = condominium (apartement mewah)
Cover Note = surat pernyataan notaris yg diakui negara secara sah
DP = Down Payment = Uang Muka
FasLkp = fasilitas lengkap, biasanya berarti ke fasilitas : PDAM, TLP, PLN
Flat = Rusun
FullBgn = Full Bangunan, bangunannya berdiri diatas seluruh luas tanahnya
FullPrbt = Full Perabot, setiap ruang sdh ada perabotnya, dijual bersama rumahnya
FullGipsum = plafon terbuatan dr gypsumboard
FullJati = semua kusen, pintu jendela, rangka atap dari kayu jati
FullKrmk =semua lantai terbuat dr ubin keramik
Galvalum = kuda2 atap dari baja tahan karat
Jln kembar = boulevard, jalan 2 arah dengan dibatasi oleh taman ditengahnya
J CPT = jual cepat
J/K = dijual atau dikontrakkan
J/S = dijual atau disewakan
JRugi = dijual dibawah harga pasaran (biasanya karena butuh uang cepat)
kav = kavling = tanah kosong saja, misal kav7A = kavling no 7A
KPR = Kredit Kepemilikan Rumah
KPR UM 20% = bisa dibeli dgn KPR, Uang Muka minimal 20% dari harga jual
KPA = Kredit Kepemilikan Apartement
KPM = Kredit Multi Guna
KTA = Kredit Tanpa Agunan
Kredit Konstruksi = kredit yg diberikan ke bank untuk membangun (rumah/ruko/gudang
dll) dgn jaminan tanah kosong yg dibangun itu sendiri
KSB = Kavling Siap Bangun, jual kavling saja tanpa rumah dan fasilitasnya
LT/LB = Luas Tanah / Luas Bangunan, contoh LT72/LB36= tanah 72m2 & bangunan
36m2
NJOP = Nilai Jual Obyek Pajak, dasar perhitungan jual beli yg ada di SPPT tahun berjalan
NJOPTKP = Nilai Jual Obyek Pajak Tidak Kena Pajak
Notaris = pejabat profesional yg ditunjuk oleh negara untuk membuat segala macam
akta/surat
OpenHouse = rumah tsb bisa dikunjungi, biasanya penghuni sdh pindah dan siap huni
O/H = Open House (lihat atas)
Ovr Krd = over kredit, rumah yg dijual masih nyicil KPR
Pav = Pavilliun = rumah yg terpisah dari rumah induk (biasanya terletak di samping atau
belakang)
PBB = Pajak Bumi dan Bangunan
PK = Perjanjian Kredit (disebut juga sbg Akad Kredit, antara Bank dgn
Bebitor/penghutang)
PPAT = Pejabat Pembuat Akta Tanah = pejabat yg berwenang membuat & mengesahkan
AJB, biasanya merujuk ke Notaris atau Camat (sebagai PPAT sementara) apabila di
wilayah tsb belum ada Notaris.
PPh = Pajak Penghasilan (pajak yg harus dibayar penjual tanah sebelum AJB)
Rmh = rumah
RmhMwh = rumah mewah
Rmh Tkt = rumah tingkat
Rm Br = rumah baru
Roya = pernyaataan kalau nama yg ada di sertifikat sdh selesai kreditnya , kebalikan dari
APHT
Ruko = rumah toko, bangunan biasa terdiri 2 lantai atau lebih (lantai 1 buat usaha, lantai
atasnya buat tempat tinggal)
Rukan = rumah kantor, mirip ruko, bedanya lantai 1 bukan buat toko tapi kantor atau
seluruh lantainya buat kantor
Rusun = rumah susun
Rusunami = Rumah Susun Hak Milik (diperjual belikan, ada sertifikat HGB di setiap
unitnya)
Rusunawa = Rumah Susun Sewa (disewakan per bulan atau pertahun, tidak
diperjualbelikan)
RStock = ready stock, ada rumah yg sudah jadi dan siap dihuni
RIndent= rumah masih indent, masih dibangunkan dahulu serah terima bbrp bulan
kemudian
SHM = Surat Hak Milik
SHGB = Surat Hak Guna Bangunan (mirip SHM, bedanya setaip 25 tahun sertifikatnya
harus diperpanjang di BPN)
SHGU = Surat Hak Guna Usaha (biasanya untuk tanah yg luas beruap : perkebunan, hutan
dll)
SHPL = Surat Hak Penggunaan Lahan = mirip kontrak jangka panjang lahan, diatasnya
bole dibangun bangunan
SPPT = Surat Penagihan Pajak Tahunan (nilai NJOP ada disini, dibagikan setiap tahun
oleh kantor pajak lewat kantor kelurahan)
STTS = Surat Tanda Terima Setoran (setelah membayar PBB tahunan atau melunasi PPh
dan BPHTB akan menerima tanda terima ini, dibayarkan di bank yg ditunjuk)
SWH = Solar Water Heater = pemanas air dgn tenaga matahari
tanah ngantong = tanah sebelah belakang lahan ini lebih lebar dari pada tanah depan yg
menghadap jalan, biasanya dipercaya membawa hoky
Tandon = bak penampung air, bisa terbuat dr beton, tembok, stainless steel atau fiberglass
Kalimat Aktif Transitif dan Intransitif Lengkap
a. Kalimat Aktif Transitif
Kalimat Aktif Transitif adalah kalimat aktif yang
predikatnya memerlukan objek.
Ciri-ciri dan
a). Memiliki objek yang dikenai indakan.
b). Dapat diubah menjadi kalimat pasif.
c). Kata kerja pada umumnya berimbuhan meN-
memper-
Contoh :
Ibu mencuci baju kalimat aktif transitif
SP O
Baju dicuci oleh ibu kalimat pasif transitif
SP O
b. Kalimat Aktif Intransitif
Kalimat Aktif intransitif adalah kalimat aktif yang predikatnya tidak
memerlukan objek.
Ciri-ciri
a). tidak memiliki objek.
b). tidak dapa diubah diubah dalam benuk pasif.
c). Kata kerja pada umumnya berimbuhan ber- , ter-, ke-an .
Contoh :
Shina bernyanyi dengan sangat indah.
Boy tertawa terbahak-bahak.
Aktif Transitif Aktif Intransitif
Memerlukan Objek Tidak Memerlukan Objek
Bisa diubah ke dalam Tidak bisa diubah ke dalam
bentuk pasif bentuk pasif
Imbuhan me-, memper-, Imbuhan ber-, ter,-ke-, dan
ke-an
KALIMAT TUNGGAL
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu pola kalimat, yaitu terdiri dari satu subjek,
satu predikat, dan bisa dilengkapi dengan objek dan keterangan.
Contoh:
1. Kakak berlari
2. Pak Arman makan bakso
3. Pak Arman makan bakso di kantin
Perluasan kalimat tunggal dapat dilakukan di antara keterangan tempat, keterangan waktu,
keterangan alat, keterangan cara, dan sebagainya.
Perhatikan contoh berikut.
1. Amir bermain sepak bola di lapangan
2. Paman mengunjungi kami kemarin
3. Ibu menjahit pakaian dengan rapi
4. Rini menulis surat dengan mesin tik
5. Dina menulis puisi untuk ibunda diberanda pada sore hari
KALIMAT MAJEMUK
Kalimat Majemuk adalah kalimat yang memiliki 2 klausa atau lebih.
Macam-macam
1. Kalimat Majemuk Setara
2. Kalimat Majemuk Bertingkat
3. Kalimat Majemuk Campur
I. Kalimat Majemuk Setara
Kalimat ini memiliki dua klausa yang sifatnya sederajat yang digabungkan melalui
konjungsi. Artinya, kedua klausa bersifat koordinatif sehingga masing-masing
dapat berdiri menjadi kalimat sendiri apabila konjungsinya dilepaskan. Konjungsi
yang biasa menggabungkan dua atau lebih klausa pada kalimat ini di antaranya
dan, sementara, dan lalu.
Contoh Kalimat Majemuk Setara:
Klausa 1 : kakak bertanding sepak bola
Klausa 2 : adik menonton di pinggir lapangan
Gabungan : Kakak bertanding sepak bola, sementara adik menonton di
pinggir lapangan.
Baik Klausa 1 maupun Klausa 2 merupakan bentuk klausa utuh yang setidaknya
memiliki subjek dan predikatnya masing-masing. Karena itu, kalaupun tidak
dihubungkan dengan konjungsi sementara, keduanya masih dapat berdiri menjadi
kalimat yang sempurna.
Contoh:
Klausa 1 : Indra menghadiri konferensi ilmiah tersebut
Klausa 2 : Ratih menghadiri konferensi ilmiah tersebut
Gabungan : Indra dan Ratih menghadiri konferensi ilmiah tersebut.
Klausa 1 dan Klausa 2 sebenarnya memiliki predikat dan objek yang sama, namun
subjeknya ( Indra, Ratih) berbeda. Karena itulah, dalam penggabungannnya, hanya
subjeknya yang dirapatkan dengan konjungsi dan
SP Kt S PO Kt
Ibu Memasak di dapur dan ayah membaca Koran di teras
SP Kt S P O Kt
II. Kalimat Majemuk Bertingkat
Majemuk Bertingkat yaitu kalimat yang memiliki dua klausa atau lebih yang hubungannya
tidak sejajar. Karena ketidaksejajaran tersebut, salah satu klausa tidak dapat berdiri
sendiri.
Bagian klausa inilah yang akan menjadi anak kalimat dalam kalimat tersebut. Sementara
itu, klausa yang mampu berdiri sendiri kalaupun dipisahkan dari kalimat majemuk
tersebut disebut sebagai induk kalimat. Kedua bagian kalimatnya biasanya dihubungkan
dengan konjungsi, seperti ketika, walaupun, sebab, karena, dan meskipun.
Contoh Kalimat Majemuk Bertingkat:
Klausa 1 : Lia kerap terlambat datang ke sekolah
Klausa 2 : Lia rumahnya jauh
Gabungan : Lia kerap terlambat datang ke sekolah karena ( Lia )rumahnya jauh.
Klausa 1 : IbuMemasakdi dapur.
Klausa 2 : Ayah membaca koran di ruang tamu.
Gabungan : Ketika Ibu Memasak di dapur, ayah membaca Koran di ruang tamu.
S P Kt S P O Kt
Ketika Ibu Memasak di dapur, ayah membaca Koran di teras
AKP. Keerangan Waktu S PO Kt
III. Kalimat Majemuk Campur
Kalimat Majemuk Campur yaitu gabungan kalimat majemuk bertingkat dan setara.
ketika mereka liburan sekolah, Indramembelibajudan Ratih
AKP. K. W. SP O S
Menghadirikonferensi ilmiah.
PO
KETERANGAN POLA KET. CONTOH AKP KET.
Waktu Ketika/ saat + Ketika ibu memasak,
SPOK ayah bekerja di kantor.
tempat Di/ke/dari + KB+ Ibu memasak di dapur
yang +KK yang baru selesai dicat.
Syarat jika + SPOK Jika kamu peringkat I ,
ayah akan membelikan
sepeda.
Tujuan Supaya / agar + Adik rajin belajar supaya
SPOK ia mendapat peringkat I.
Sebab karena + SPOK Lia tidak masuk sekolah
karena ia sakit
akibat Maka + SPOK Lia kemarin kehujanan
maka ia sakit
Kesertaan Dengan / Alin pergi dengan Aan
bersama + KB yang baru datang dari
Mkh + yang+ Bogor.
KK/KS
Alat Dengan + KB + Ibu memotong kue
yang+ KK/KS dengan pisau yang tajam.
Ibu memotong kue dengan
pisau yang dipinjam dari ...
No. Kata Baku Kata Tidak Baku No. Kata Baku Kata Tidak
Baku
1 abjad abjat 10 analisis analisa
11 andal handal
2 advokat adpokat 12 amfibi amphibi
13 antena antene
3 afdal afdol 14 antre antri
15 apotek apotik
4 akhlak ahlak 16 asas azas
17 astronaut astronot
5 aktif aktip 18 ateis atheis
44 debitur debitor
6 aktivitas aktifitas 45 dekret dekrit
46 depot depo
7 ambeien ambeyen 47 detail detil
48 deviasi defiasi
8 ambulans ambulan 49 diagnosis diagnosa
50 diskotek diskotik
9 amendemen amandemen
19 atlet atlit
20 atmosfer atmosfir
21 azan adzan
22 balans balan
23 balsam balsem
24 batalion batalyon
25 baterai baterei
26 berandal brandal 51 distilasi destilasi
52 dolar dollar
27 belum belom 53 drainase drainage
54 dramatisasi dramatisir
28 besok esok 55 durian duren
56 efektif efektip
29 biosfer biosfir 57 ekstra extra
58 ekstrem ektrim
30 blanko blangko 59 ekstremis ekstrimis
60 ekstrover ektstrovert
31 brankas brangkas 61 elite elit
62 embus hembus
32 budek budeg 63 esai esei
33 bujet budjet
34 bus bis
35 cabai cabe
36 capai capek
37 cedera cidera
38 cendekiawan cendikiawan
39 cendera cinderamata / 64 faksimile faksimil
mata cenderamata
40 cengkeram cengkram 65 februari pebruari
66 fondasi pondasi
41 cengkih cengkeh 67 formal formil
68 foto photo
42 cokelat coklat 93 insaf insyaf
94 isap hisap
43 daftar daptar 95 intelijen inteligen
96 intens inten
69 fotokopi photokopi 97 interpretasi interprestasi
98 interupsi intrupsi
70 fotosintesis fotosintesa 99 islamiah islamiyah
100 istigfar istighfar
71 frasa frase 101 istri isteri
102 itermeso intermezo
72 frekuensi frekwensi 103 izin ijin
104 jadwal jadual
73 gaib ghaib 105 jagat jagad
106 jemaah jamaah
74 geladi gladi 107 jenazah jenasah
108 jenderal jendral
75 gizi giji 109 judo yudo
110 junior yunior
76 griya gria 111 justru justeru
112 kaidah kaedah
77 gua goa 113 kanker kangker
114 karena karna
78 gubuk gubug 115 karier karir
115 karier karir
79 gudeg gudek 140 legalisasi legalisir
141 lembap lembab
80 hadis hadist
81 hafal hapal
82 hakikat hakekat
83 hektare hektar
84 hierarki hirarki
85 hipotesis hipotesa
86 ijazah ijasah
87 ikhlas ihlas
88 influenza influensa
89 inframerah infra merah
90 imbau himbau
91 indera indra
92 infus inpus
116 karisma kharisma
117 katalisis katalisa
118 kedaluwarsa kadaluwarsa 142 lubang lobang
119 kedelai kedelei 143 manajemen managemen
120 kendur kendor 144 manajer manager
121 khotbah khutbah 145 mangkuk mangkok
122 klien client 146 mantra mantera
123 kloter keloter 147 masjid mesjid
124 koboi koboy 148 memengaruhi mempengaruhi
125 komersial komersil 149 mengonsumsi mengkonsumsi
126 kompleks komplek 150 mengubah merubah
127 komplet komplit 151 menteri mentri
128 konfirmasi komfirmasi 152 mencolok menyolok
129 konkret konkrit 153 metode metoda
130 konsekuensi konsekwensi 154 miliar milyar
131 korsleting konsleting 155 motif motip
132 kosakata kosa kata 156 musafir musyafir
133 kreatif kreatip 157 naas nahas
134 kreativitas kreatifitas 158 nakhoda nahkoda
135 kualitas kwalitas 159 tampak nampak
136 kuarsa kwarsa 160 napas nafas
137 kuitansi kwitansi 161 nasihat nasehat
138 kuorum kworum 162 negatif negatip
139 lafal lapal 163 negeri negri
164 nomor nomer 188 provinsi propinsi
165 neto netto 189 putra putera
166 notula notulen 190 putri puteri
167 november nopember 191 ransel rangsel
168 objek obyek 192 rapi rapih
169 objektif obyektif 193 rapor rapot
170 omzet omset 194 rasional rasionil
171 organisasi organisir 195 respons respon
172 orisinal orisinil 196 resistans resistan
173 paham faham 197 reumatik rematik
174 palem palm 198 rezeki rejeki
175 paradoks paradok 199 risiko resiko
176 paramedis paramedi 200 sah syah
177 pasfoto pas photo 201 sahih syahih
178 paspor pasport 202 saksama seksama
179 paviliun pavilion 203 sambal sambel
180 pedas pedes 204 sanksi sangsi
181 peranti piranti 205 saraf syaraf
182 permak vermak 206 saus saos
183 pikir fikir 207 sekadar sekedar
184 produktif produktip 208 sekretaris sekertaris
185 produktivitas produktifitas 209 semifinal semi final
186 prototipe prototif 210 seprai seprei
187 proyek projek 211 sintesis sintesa
236 tripleks triplek
212 sistem sistim 237 trofi tropi
238 urgen urgent
213 sistematis sistimatis 239 urine urin
240 ustaz ustad / ustadz
214 skala sekala 241 utang hutang
242 varietas varitas
215 standardisasi standarisasi 243 wali kota walikota
244 yudikatif judikatif
216 subjek subyek 245 yudisial judisial
246 yurisdiksi jurisdiksi
217 survei survey 247 zaman jaman
248 zamzam zam-zam
218 sutra sutera 259 zona zone
thesis
219 syahid sahid tesis team
tim tradisionil
220 syukur sukur transport
tradisional
221 tafsiran tapsiran transpor
222 teknik tehnik
223 teknisi tehnisi
224 teknologi tehnologi
225 teladan tauladan
226 telepon telpon
227 tenteram tentram
228 teoretis teoritis
229 terampil trampil
230 terima kasih terimakasih
KALIMAT PERINTAH
Kalimat perintah merupakan kalimat yang mengandung makna meminta/ memerintah seseorang
untuk melakukan sesuatu. Arti Kalimat perintah adalah kalimat yang isinya menyuruh orang lain
untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki.
Ciri-ciri kalimat perintah yaitu
1. Kalimat perintah jika dilisankan berintonasi naik di awal dan berintonasi rendah di akhir.
2. Kata yang berintonasi naik biasanya kata dasar.
3. Berpola kalimat inversi (PS).
4. Menggunakan partikel -lah atau -kan.
5. Menggunakan tanda seru (!) bila digunakan dalam bahasa tulis.
Contoh Kalimat Perintah:
1. Tolong matikan kran air itu!
2. Jangan membuat ribut, anak-anak!
3. Buang sampah itu!
KOHESI
Kohesi Ialah keserasian hubungan antar unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana.Kohesi
atau kepaduan wacana ialah hubungan antar kalimat didalam sebuah wacana,
Dalam kohesi menggunakan penanda yang dipakai untuk menandai kohesif.
Penanda Kohesi dapat berupa :
a. Kata ganti diri
Dalam bahasa Indonesia meliputi : aku, kami, kita, engkau, kau, kamu, kalian, anda, ia, dan
mereka.
-nya
b. Kata ganti petunjuk
Dalam bahasa Indonesia meliputi : ini, itu, di sana, di situ, di sini.
MAJAS REPETISI
Repetisi berasal dari bahasa latin, repetitio yang berarti, re: kembali, lagi dan petere:
mengarahkan, sehingga arti dari kata repetisi ialah pengulangan kembali. Majas repetisi
merupakan kelompok majas perulangan, bila ditinjau dari bentuknya.
Dan jika dilihat dari maknya, majas repetisi digolongkan menjadi majas penegasan. Majas repetisi
merupakan gaya bahasa yang mengungkapkan pengulangan kata, frasa atau klausa yang sama
untuk mempertegas makna dari kalimat atau wacana.
•Ia akan terus bekerja, bekerja dan bekerja untuk melunasi hutang keluarhanya pada rentenir.
• Aku akan selalu bersamamu, selalu bersamamu, selalu bersamamu dan akan terus selalu
bersamamu disetiap kehidupan yang Tuhan ciptakan.
• Ditengah malam adik berteriak,”ibu, ibu, ibu” lantas akupun memanggil ibu untuk
menolongnya.
• Salah lagi, salah lagi dan salah lagi, kenapa sulit sekali menemukan penyelesaikan dari soal
kalkulus ini sungguh membuatku gelisah.
• Aku sudah mengingatkanmu untuk mejauh dari alkohol tapi kau tak pernah mau
mendengarkanku, kau meminumnya, meminumnya, meminumnya dan meminumnya lagi
sepanjang waktu, itu akan membuat kesehatanmu menurun.
KATA GANTI
1. Kata ganti orang (pronomina persona). Terbagi tiga dan dapat bersifat tunggal maupun jamak,
baik kata maupun frasa pronomial. Hanya dapat digunakan untuk mengganti nomina orang, nama
orang, atau hal-hal lain yang dipersonifikasikan.
o Pronomina perlu dibedakan dari sapaan, seperti Saudara, Bapak, Ibu, Tuan, Nyonya, Yang
Mulia, dsb. Sebagian dari mereka termasuk nomina.
2. Kata ganti pemilik. Misalnya -ku, -mu, -nya. Untuk "-nya" dapat digunakan untuk kata ganti selain
nomina orang.
3. Kata ganti penanya; berfungsi menanyakan benda, waktu, tempat, keadaan, atau jumlah,dsb.
Misalnya apa, kapan, mengapa, siapa, bagaimana, berapa, di mana, ke mana.
4. Kata ganti petunjuk. Misalnya ini, itu.
5. Kata ganti penghubung. Misalnya yang.
6. Kata ganti tak tentu. Misalnya barang siapa.
KATA BERIMBUHAN
Pengertian
Kata berimbuhan adalah kata yang telah mengalami proses pengimbuhan atau (afiksasi). Imbuhan
atau afiksasi adalah morfem terikat yang digunakan dalam bentuk dasar untuk membentuk kata. Hasil
dari proses pengimbuhan itu disebut kata berimbuhan atau kata turunan. Proses pembentukan kata
sering disebut proses gramatikal.
Jenis-jenis Imbuhan
Imbuhan menurut posisinya terbagi ke dalam empat bentuk
1. Awalan atau prefiks
Contoh: meN-, ber-, di-, ter-, peN-, per-, se-, dan ke-.
2. Sisipan atau infiks
Contoh: -el, -er, -e-, dan –in-
3. Akhiran atau sufiks
Contoh: -kan, -an, -I, dan –nya
4. Konfiks atau simulfiks : berupa awalan dan akhiran yang pemakaiannya sekaligus.
Contoh: ke-an, per-an, peN-an, ber-an, dan se-nya.
Imbuhan yang diserap dalam bahasa asing.Imbuhan tersebut di antaranya sebagai berikut:
a. Dari bahasa Arab:-ah, -i.Fungsinya sebagai penbentuk atau penanda kata sifat.
Contohnya; manusiawi, alamiah, alami
b. Dari bahasa Sansekerta: -man, -wan, -wati,.Fungsinya sebagai pembentuk kata benda. Contohnya,
budiman, wartawan, pragawati.
c. Dari bahasa Inggris: -is, -if, -al. Fungsinya sebagai pembentuk kata sifat.
Contohnya, egois, deskriptif, formal
Fungsi Imbuhan
a. Membentuk kata benda, yakni
peN-, pe-, per-, ke-, -isme, -wan, -sasi, -tas, peN-an, pe-an, per-an, dan ke-an.
Contoh: pelaut, penyapu, wartawan, dll.
b. Membentuk kata kerja, yakni me-, ber-, per-, ter-, di, -kan, ter-kan,dan di-i.
Contohnya: melaut berlayar, terlihat diminum, bawakan, lempari, menaiki.
c. Membentuk kata sifat,yakni –I, -wi,-iah, dan –is.
Contohnya: manusiawi, duniawi, ilmiah, agamis
d. Membentuk kata bilangan yakni se- dan ke-.
Contohnya: sepuluh dan kedua.
Penggunaan Imbuhan secara benar
Awalan peN-
Imbuhan peN- merupakan salah satu awalan yang pemakaiannya sangat produktif.
Makna yang dikandung awalan peN- bermacam- macam antara lain:
1) Menyatakan yang melakukan perbuatan. Contoh: penulis, & pembaca.
2) Menyatakan pekerjaan. Contoh: pengusaha, pedagang.
3) Menyatakan alat. Contoh: pengerat, penggaris
4) Menyatakan memiliki sifat. Contoh: pemaklum, penggembira.
5) Menyatakan penyebab. Contoh: pemanis, pemutih.
Pemakaian Awalan ber-
Awalan ber- mempunyai kaidah sebagai berikut:
1) Apabila diikuti kata dasar yang berawalan dengan huruf /r/ dan beberapa kata dasar yang suku
pertamanya berakhir dengan /er/, maka ber- menjadi be-.
Contoh: beramal, bekerja
2) Apabila diikuti kata dasar ajar, maka ber- menjadi bel-.
Contoh: bel + ajar = belajar
3) Apabila diikuti kata dasar selain yang disebutkan di atas, maka ber- tetap tanpa perubahan.
Contoh: ber + balik = berbalik
Maknayang terkandung oleh awalan ber-, antara lain:
1. Mempunyai, contoh: beratap, beranak, berhasil.
2. Menggunakan contoh: bersepeda, bersepatu
3. Mengeluarkan contoh: bertelur, berbau, berkata.
4. Menyatakan sikap mental, contoh: berbahagia, berhati-hati,
5. Dalam jumlah, contoh berdua, bertiga.
Dalam beberapa tulisan atau berbagai percakapan sering dijumpai pelesapan-pelesapan imbuhan ber-.
Perhatikan kalimat berikut:
1. Usahanya belum hasil.
2. Pendapat kita memang beda
3. Murid-murid sudah kumpul di muka kelas.
Bentuk-bentuk tanpa ber- seperti pada contoh di atas merupakan pemakaian kalimat yang tidak baku. Hal
tersebut antara lain merupkan unsur pengaruh dari bahasa daerah. Kalimat-kalimat tersebut seharusnya
diucapkan:
4. Usahanya belum berhasil
5. Pendapat kita memang berbeda
6. Murid-murid sudah berkumpul di muka kelas
Awalan meN-
Imbuhan meN- apabila ditambahkan pada kata dasar berfonem awal vokal, /J/ /k/, /h/, /g/ , /kh/
berubah menjadi meng- Contoh:
• meN- + ambil = mengambil
• meN- + elak = mengelak
• meN- + kalah = mengalah
• meN- + harap = mengharap
• meN- + khawatirkan = mengkhawatirkan
Jika imbuhan meN- ditambahkan pada kata dasar dengan fonem awal /l/, /m/, /n/, /ng/, /ny/, /r/, /y/,
atau /w/, bentuknya berubah menjadi me-
• meN- + lamar = melamar
• meN- + makan = memakan
• meN- + nikah = menikah
• meN- + nganga = menganga
• meN- + nyanyi = menyanyi
• meN- + raih = meraih
• meN- + yakini = meyakini
• meN- + wajibkan = mewajibkan
Jika meN- ditambahkan pada kata dasar yang berfonem awal /c/ , /d/, /j/ , /sy/ atau /t/ bentuknya
berubah menjadi men-
• meN- + datang = mendatang
• meN- + tanam = menanam
• meN- + cari = mencari
• meN- + jadi = menjadi
• meN- + syukuri = mensyukuri
Jika meN- ditambahkan pada kata dasar berfonem awal /b/, /p/, atau /f/, bentuknya berubah
menjadi mem-
• meN- + babat = membabat
• meN- + pukul = memukul
• meN- + fokuskan = memfokuskan
meN- + produksi = memproduksi
(proses peluluhan kata-kata yang berasal dari bahasa asing tidak berlaku. Namun, jika kata dasar
itu tidak asing lagi, proses penggabungan mengikuti kaidah yang umum )
Jika meN- ditambahkan pada kata dasar berfonem awal /s/ bentuknya berubah menjadi meny- .
• meN- + satu = menyatu
Jika meN- ditambahkan pada kata dasar yang bersuku satu, bentuknya berubah menjadi menge-.
• meN- + bom = mengebom
• meN- + cek = mengecek
Jika kata kerja berkata dasar tunggal direduplikasi, kata dasarnya diulangi dengan
mempertahankan peluluhan konsonan pertamanya.
• tulis = menulis-nulis; tulis-menulis
• karang = mengarang-ngarang; karang-mengarang
• cek = mengecek-ngecek
• ulangi = mengulang-ulangi
Makna awalan meN- adalah sebagai berikut:
• Melakukan perbuatan, tindakan; Contoh: mengambil, menjual
• Melakukan perbuatan dengan alat: Contoh: mengambil, menyabit
• Menjadi atau dalam keadaan; contoh: menurun, meluap
• Membuat kesan; contoh: mengalah, membisu
• Menuju ke; contoh;mendarat, menepi
• Mencari;contoh: mendamar
Fonem /p/ menjadi luluh ke dalam fonem /m/. Namun, peluluhan tidak terjadi jika fonem /p/
adalah permulaan dari prefiks per- atau kata dasarnya mulai dengan per- atau pe- tertentu.
• meN- + pertinggi = mempertinggi
• meN- + pertaruhkan = mempertaruhkan
Awalan di-
Awalan di- bermakna suatu perbuatan yang pasif, sebagai kebalikan dari awalan (me-(N)) yang bermakna
aktif.
Contoh: di- + baca = dibaca ; ambil = diambil ; jual = dijual
Jika di- diikuti oleh kata yang menunjukkan tempat, maka penulisannya dipisah.
Awalan ter-
Imbuhan ter- menyatakan makna sebagai berikut:
1. Sudah di- atau dapat di-; contoh: tertutup, terbuka.
2. Ketidaksengajaan; contoh: terbawa, terambil.
3. Tiba-tiba; contoh: teringat, terjatuh
4. Paling/superlatif; contoh: terindah, terbagus
Awalan se-
Awalan se- mengalami variasi-variasi makna, yakni sebagai berikut:
1. Satu; contoh: seeekor, sebutir
2. Seluruh, seisi; contoh: serumah, sekampung.
3. Sama-sama; contoh: sepermainan, seperjuangan.
4. Sama dengan, seperti; contoh: setinggi, selebar, seenaknya, semaumu.
5. Menyatakan waktu; contoh: sesudah, selagi
Awalan per-
1. Imbuhan per- berubah menjadi pe-, apabila ditambahkan pada kata dasar yang berfonem awal /r/ atau
kata dasar yang suku pertamanya berakhir /er/
per- + ringan peringan
per- + kerja pekerja
2. Imbuhan per- berubah menjadi pel- apabila ditambahkan pada bentuk dasar ajar
per- + ajar pelajar
Awalan –an
Pada umumnya akhiran –an membentuk kata benda misalnya, pukulan, manisan, satuan, ratusan.
Makna akhiran –an adalah sebagi berikut;
1. Menyatakan tempat: contoh: pangkalan, kubangan
2. Menyatakan alat; contoh: timbangan, ayunan
3. Menyatakan hal atau cara: contoh: didikan, pimpinan.
4. Menyatakan akibat, hasil perbuatan: contoh: hukuman, balasan.
5. Menyatakan sesuatu yang di; contoh: catatan,suruhan.
6. Menyatakan seluruh, kumpulan; contoh: lautan, sayuran.
Awalan –kan dan -i
Fungsi
a. Membentuk kata kerja. Semua kata yang berakhiran –kandan –i dengan atau tanpa awalan merupakan
kata kerja. Tanpa awalan, akhiran –kandan –i itu merupakan kata kerja bentuk imperatif.
Contoh: panas (kata sifat) panaskan (kata kerja) panasi (kata kerja)
b. Menjadikan kata kerja taktransitif menjadi kata kerja transitif.
Contoh: Didi duduk di kursi (traktransitif)
Didi menduduki kursi (transitif)
Didi mendudukkan Adik di kursi (transitif)
c. Mengintensifkan arti.
Contoh: Polisi menangkap penjahat
Polisi menangkapi penjahat (pekerjaan itu dilakukan berulng-ulang karena objeknya lebih dari satu)
Perbedaan-perbedaan
a. Objek yang mengikkuti kata kerja berakhiran –kan berpindah tempatnya dan objek itu merupakan alat.
Objek yang mengikuti kata kerja berakhiran –i tetap tempatnya, tak berpindah, dan objek itu merupakan
tempat berlakunya pekerjaan itu:
Contoh: Petani itu menanamkan benih di sawahnya.
Petani itu menanami sawahnya.
b. Kata kerja berakhiran –kan diikuti oleh objek penderita, sedangkan kata kerja berakhiran –i diikuti objek
penyerta.
Contoh: Dia menawarkan pekerjaan kepada saya.
Dia menawari saya pekerjaan.
c. Adakalanya perbedaan kedua akhiran itu kurang jelas sehingga pemakaiannya seolah-olah sama saja dan
dapat saling menggantikan.
Contoh: Dia menamai anaknya Alam (menamai = memberi nama)
Dia menamakan anaknya Alam (menamakan = menyebabkan bernama)
Konfiks ke-an
Konfiks ke-an berfungsi sebagai pembentuk kata benda abstrak. Misalnya, kepandaian, kecepatan,
keindahan, kesehatan.
Konfiks ke-an memiliki makna sebagai berikut:
1. Menyatakan keadaaan: contoh; kedinginan, kesakitan
2. Menyatakan intensitas (terlalu, terlampau); contoh: kebesaran, kemahalan.
3. Menyatakan agak, menyerupai: contoh: kehijau-hijauan, kebarat-baratan.
Konfiks pe(N)-an
Konfiks pe(N) –an mempunyai variasi bentuk pe-an, pem-an, peng-an, peny-an.
Makna konfiks pe(N)-an adalah sebagai berikut:
1. Menyatakan hal yang berhubungan dengan kata dasar. Contoh: penanaman, pendidikan.
2. Menyatakan proses/perbuatan. Contoh pemberontakan, pendaftaran.
3. Menyatakan hasil. Contoh: penyamaran, pengakuan.
4. Menyatakan alat. Contoh: penciuman.
5. Menyatakan tempat. Contoh: penampungan, pemandian.
Konfiks per-an
Makna konfiks per-an adalah sebagai berikut:
1. Menyatakan tempat. Contoh: perhentian, percetakan
2. Menyatakan daerah. Contoh: perkebunan.
3. Menyatakan hasil perbuatan. Contoh: pernyataan, pertahanan
4. Menyatakan perihal. Contoh: peristilahan, perhukuman
5. Menyatakan banyak, bermacam-bermacam. Contoh; peralatan, persyaratan.
Konfiks se-nya
Konfiks se-nya umumnya disertakan pada kata ulang. Fungsinya membentuk kata keterangan.
Contoh: Se-nya +putih = seputih-putihnya ; pintar = sepintar-pintarnya
Konfiks se-nya menyatakan superlative atau tingkat paling tinggi yang dapat dicapai.
Contoh: Seputih-putihnya = seputih mungkin ; sepintar-pintarnya = sepintar mungkin
Klitika –ku, -mu, nya
Fungsi
1. Sebagai penunjuk kepunyaan.
Contoh: rumahku, rumahmu, rumahnya
2. Sebagai alat pembentuk kata benda.
Contoh: salah (kata sifat) = salahmu (kata benda);
duduk (kata benda) = duduknya(kata benda)
3. Sebagai objek penderita
Contoh: Sudah beberapa kali iamembujukku.
Iamemandangnya tajam-tajam.
4. Sebagai objek penyerta
Contoh: Surat itu telah kukirimkan kepadanya.
Barang-barang ini sengaja dia bel untukmu.
Khusus untuk –nya, selain sebagai klitika atau kata ganti orang, juga berfungsi sebagai imbuhan.
Fungsi imbuhan –nya adalah sebagai berikut;
1. Sebagai pembentuk kata keterangan
Contoh:
Agaknya akan turun hujan hari ini.
Tidak selamanya orang menderita.
2. Sebagai penunjuk
Contoh:
Penyakit seperti ini sukar dicari obatnya.
Rumah kami besar, kamar-kamarnya luas.
3. Bersama-sama dengan awalan se- menyatakan superlative
Contoh:
Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali gagal juga.
Sepeda adik yang baru dibeli bercat merah.
Perbedaan Antara Sastra Baru Dengan Sastra Lama
A. Sastra Lama
Sastra lama adalah sastra yang berbentuk lisan atau sastra melayu yang tercipta dari suatu ujaran
atau ucapan. Sastra lama masuk keindonesia bersamaan dengan masuknya agama islam pada abad
ke-13. Peninggalan sastra lama terlihat pada dua bait syair pada batu nisan seorang muslim di
MinyeTujuh, Aceh.
Ciridarisastralama yaitu :
- Anonim atau tidak ada nama pengarangnya
- Istana sentris (terikat pada kehidupan istana kerajaan)
- Tema karangan bersifat fantastis
- Karangan berbentuk tradisional
- Proses perkembangannya statis
- bahasa klise
Contohsastralama :fabel, sage, mantra, gurindam, pantun, syair, dan lain-lain.
B. SastraBaru
Sastra baru adalah karya sastra yang telah dipengaruhi oleh karya sastra asing sehingga sudah
tidak asli lagi.
Ciri dari sastra baru yakni :
- Pengarang dikenal oleh masyarakat luas
- Bahasanya tidak klise
- Proses perkembangan dinamis
- tema karangan bersifat rasional
- bersifat modern / tidak tradisional
- masyarakat sentris (berkutat pada masalah kemasyarakatan)
Contoh sastra baru : novel, biografi, cerpen, drama, soneta, dan lain sebagainya.
KALIMAT LANGSUNG DAN KALIMAT TIDAK LANGSUNG
A. Kalimat Langsung
Kalimat langsung adalah kalimat yang menirukan ucapan atau ujaran orang lain. Kalimat hasil kutipan
pembicaraan seseorang persis seperti apa yang dikatakannya. Bagian ujaran/ucapan diberi tanda
petik (“…” ) dapat berupa kalimat perintah, berita, atau kalimat tanya.
Ciri ciri kalimat langsung
1. Bertanda kutip dalam bahasa tertulis.
2. Intonasi: bagian kutipan bernada lebih tinggi dari bagian lainnya.
3. Berkemungkinan susunan:
o pengiring/kutipan
o kutipan/pengiring
o kutipan/pengiring/kutipan
4. Huruf pertama pada petikan langsung ditulis dengan menggunakan huruf kapital.
5. Bagian kutipan ada yang berupa kalimat tanya, kalimat berita, atau kalimat perintah.
6. Bagian pengiring dan bagian petikan langsung dipisah dengan tanda baca koma (,).
7. Jika di dalam petikan langsung menggunakan kata sapaan, maka sebelum kata sapaan
diberi tanda baca koma (,) dan huruf pertama kata sapaan menggunakan huruf kapital.
8. Kalimat langsung yang berupa dialog berurutan, wajib menggunakan tanda baca titik dua
(:) di depan kalimat langsung.
Contoh kalimat langsung
Berikut beberapa contoh kalimat langsung:
1. Robi berkata, “Panas sekali cuaca hari ini.”
2. “Tolong ambilkan obat!” kata Ibu kepada Rani.
3. “Kamu harus isitirahat yang cukup dan jangan dulu keluar rumah selama beberapa hari,”
kata dokter kepadaku.
4. Bu Guru bertanya, “Di antara kalian, siapa yang bercita-cita ingin menjadi astronot?”
5. Desmon berkata, ”Ani nanti pulangnya saya antar!”
6. ” Kapan bukuku kamu kembalikan?“ tanya Samid.
B. Kalimat tidak Langsung
Kalimat tidak langsung adalah kalimat yang dikutip dari perkataan seseorang, dan disampaikan
kembali yang bersifat memberitahukan atau melaporkan.
Ciri-ciri kalimat tidak langsung
1. Tidak menggunakan tanda kutip ( “....”)
2. Pembacaan kalimatnya menggunakan intonasi yang datar.
3. Menggunakan kata ganti orang.
4. Dan biasanya menggunkan tambahan kata konjungsi.
Perubahan Kata Ganti Kalimat Langsung ke Tak Langsung
Dalam perubahan bentuk ini perhatikan perubahan kata gantinya:
Kata Ganti Kalimat Langsung —> Kata Ganti Kalimat Tak Langsung
• Saya —> Dia
• Kamu —> Saya
• Kalian —> Kami
• Kami —> Mereka
• Kita —> Kami
Contoh :
1. Robi berkata, bahwa cuaca hari ini panas sekali .
2. Samid menanyakan, kapan bukunya saya kembalikan.