Teknologi Biochar: Konservasi Lahan yang Terdegradasi
lebih tua. Kenaikan biomassa kering tertinggi diperoleh
jagung dengan perlakuan biochar + nitrogen pada 45 sampai
60 hari setelah tanam (160,0 kg / ha / hari), dan yang terendah
diperoleh dengan kontrol jagung (90 g / ha / hari
Tabel 5.3. Pengaruh applikasi biochar pada Rerata pertumbuhan jagung
Paerlakuan CGR (kg/ha/day
Control 15 – 30 30 -45 45 -60 60-75
Nitrogen 21.3 b 2.7 a
Biochar 32.6 c 40.0 b 90.0 a 33.5 b
Biochar + N 16.6 a 3.3 a
36.0 c 61.3 c 133.5 b 76.7 c
9.3 a 96.7 a
66.7 c 142.5 c
Pengaruh aplikasi biochar terhadap hasil jagung dan
indeks panen disajikan pada Tabel 5.4. Aplikasi biochar dan
nitrogen pada pola tanam jagung menghasilkan biomassa
kering dan hasil biji jagung yang lebih tinggi. Namun, berbeda
dengan tinggi tanaman dan biomassa kering sampai 75 hari
setelah tanam, interaksi antara sistem tumpangsari dan aplikasi
biochar secara signifikan mempengaruhi biomassa kering
pada panen dan hasil panen jagung. Jika tidak ada aplikasi
biochar (perlakuan kontrol dan nitrogen), menurunkan hasil
jagung. Penambahan biochar, terutama pada jagung yang
diaplikasikan dengan nitrogen, memperkecil penurunan ini.
Hasil yang disajikan pada Tabel 5.4 juga menunjukkan
bahwa aplikasi biochar meningkatkan pembentukan hasil
jagung, seperti ditunjukkan oleh indeks panen yang lebih
tinggi. Indeks panen jagung perlakuan non biochar bervariasi
dari 0,41 sampai 0,45, sedangkan indeks panen jagung
biochar adalah 0,48. Peningkatan hasil jagung dengan aplikasi
nitrogen atau biochar adalah konsekuensi dari pertumbuhan
jagung yang lebih baik. Hasil jagung nitrogen dan biocahar
yang lebih tinggi, menunjukkan efek signifikan dari kapasitas
pertukaran kation tinggi seperti yang telah disarankan oleh
(Liang et al. 2006).
34
Eny Dyah Yuniwa
Tabel 5.4. Pengaruh aplikasi biochar terhadap berat kering biomass dan hasil biji
jagung.
Perlakuan Biomassa
kering
Pola tanam Biochar (batang, daun Hasil biji Indeks
dan tongkol) (ton/ha) Panen
(ton/ha)
Monokultur Kontrol 3.34 a 2.76 b 0.45 ab
jagung
Nitrogen 5.26 c 4.18 c 0.44 ab
Tumpangsari Biochar 3.40 a 2.87 b 0.46b
jagung Biochar + N 5.25 c 4.97 c 0.48 b
kontrol 3.34 a 2.40 a 0.41 a
Nitrogen 4.96 b 3.60 b 0.42 a
Biochar 3.40 b 2.75 b 0.45 ab
Biochar + N 5.22 c 4.85 c 0.48 b
Hasil percobaan yang disajikan pada Tabel 5.5
menunjukkan bahwa setelah panen jagung, perlakuan aplikasi
biochar dapat memperbaiki status kesuburan tanah. Aplikasi
biochar meningkatkan sifat fisika tanah antara lain pH tanah,
C organik tanah dan kapasitas tukar kation. Selain itu juga
dapat meningkatkan sifat kimia tanah, antara lain kandungan
nitrogen, kandungan unsur hara makro dan mikro tanah
35
Teknologi Biochar: Konservasi Lahan yang Terdegradasi
Tabel 5.5. Pengaruh aplikasi biochar terhadap sifat tanah setelah panen jagung
Perlakuan Sifat Tanah
Pola tanam Biochar
pH C-organik Nitrogen KTK (m
Control (%) (%) mol )
6.40 a 0.90 a 0.08 a 14.95 ab
Monokulture Nitrogen 6.36 a 0.89 a 0.11 b 14.85 ab
Jagung 6.90 b 1.45 c 0.19 c 17.46 c
PLbiochar 0.18 c 17.80 c
+N 6.84 b 1.46 c 0.09 ab 14.16 a
Ccbiochar 6.45 b 0.95 a
+N
Kontrol
Tumpangsa- Nitrogen 6.46 b 1.15 b 0.09 ab 15.80 b
ri Jagung PLbiochar 6.83 b 1.56 c 0.18 c 18.45 c
6.85 b 1.49 c
+N 0.19 c 18.27 c
Ccbiochar
+N
Dari penyajian di Tabel 5.5, dapat di jelaskan bahwa
pH tanah menunjukkan peningkatan setelah di beri aplikasi
biochar, baik pada pola tanam jagung monokultur maupun
tumpang sari. Hal ini di sebabkan karena biochar mengandung
senyawa karbon didalamnya berbentuk alifatik dan bersifat
terbuka, sedangkan senyara karbon dalam biochar sebagian
besar berbentuk “aromatik“ yang bersifat tertutup. Dengan
adanya senyawa karbon tertutup ini menyebabkan biochar
resistent terhadap dekomposisi dan demineralisasi.
Pada pengamatan C-organik (Tabel 5.5), menunjukkan
peningkatan antara 1.45 – 1.56 %, dari control. Hal ini di
sebabkan bahwa kenaikan C organik dalam tanah yang
diolah dengan biochar di karenakan kandungan karbon
organik tinggi dalam biochar. Fenomena ini menunjukkan
bahwa senyawa C yang terdapat di biochar yang tersedia
dalam bentuk slow-realesse , cepat tersedia dalam jangka
waktu lama, sehingga dapat meningkatkan prosentasi
36
Eny Dyah Yuniwa
C-organik dalam tanah. Pengamatan yang sama terjadi
pada kandungan prosentase Nitrogen tanah dan kapasitas
pertukaran kation. Kenaikan prosentase Nitrogen di dalam
tanah akibat perbaikan sifat kimia tanah. Senyawa Biochar
mampu mamberikan respon positif terhadap kandungan
Nitrogen tersedia dalam tanah. Peningkatan kapasitas tukar
kation dengan aplikasi biochar telah ditunjukkan oleh (Liang
et al. 2006). Kapasitas pertukaran kation yang lebih tinggi
ini menghasilkan efisiensi penggunaan nitrogen yang lebih
efisien, sehingga lahan yang di beri aplikasi biochar, sehingga
pertumbuhan dan hasil panen biji jagung lebih baik dan
meningkat berat bijinya. Hal ini sesuai dengan penelitian
Rondon et al., ( 2007) menunjukkan bahwa penggunaan
biochar meningkatkan fiksasi nitrogen pada tanaman polong.
Dengan adanya perbaikan kesuburan kimia, fisik
dan bilogi, banyak penelitian telah membuktikan bahwa
penggunaan biochar dapat memperbaiki pertumbuhan
dan meningkatkan hasil tanaman (Lehman et al., 2003).
Hasil penelitian Yamato et al., (2006) menunjukkan bahwa
penggunaan biochar dapat meningkatkan hasil tanaman
jagung, dan ubikayu. Hasil Penelitian Chan et al. (2008) dan
Tagoe et al. (2008) yang menggunakan biochar berbahan
baku kotoran ayam untuk memperbaiki pertumbuhan dan
meningkatkan hasil tanaman ubikayu. Hal ini sesuai juga
dengan yang di lakukan Agussalim et al. (2010) bahwa
penggunaan biochar dari sekam padi dapat memperbaiki sifat
tanah masam, yaitu meningkatkan kandungan bahan organik
tanah, KTK tanah, kemampuan tanah menyimpan air tersedia
dan menurunkan kelarutan Al serta kekuatan Tanah. Dengan
adanya perbaikan sifat tanah ini, penggunaan biochar abu
sekam dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman padi.
Peningkatan efisiensi pemupukan sebagai akibat
penggunaan biochar telah dilaporkan oleh Steiner et al. (2007).
Peningkatan efisiensi pemupukan terjadi sebagai akibat
37
Teknologi Biochar: Konservasi Lahan yang Terdegradasi
adanya KTK yang tinggi pada biochar sehingga mampu
menjerap hara pada pupuk, dan selanjutnya memperkecil
kehilangan hara karena pencucian. Dengan semakin
menurunnya pencucian, maka lahan yang terdegradasi juga
semakin menurun. Tetapi sebaliknya terjadi peningkatan
terhadap hasil panen ubikayu dan jagung.
38
BAB 6
PENUTUP
PENERAPAN biochar memperbaiki sifat tanah baik pada
pola tanam monokultur ubikayu maupun pada pola tanam
tumpangsari ubikayu dan jagung. Aplikasi biochar tongkol
jagung dan kotoran ayam dapat memperbaiki sifat tanah:
pH, C-organik, kandungan N dalam tanah, dan stabilitas
agregat. Efek tertinggi untuk sifat fisik tanah pada pola tanam
tumpangsari ubikayu dan jagung dengan penambahan
aplikasi biochar, yaitu C organic sebanyak 2,26 %, Berat isi
tanah sebanyak 1,19 Mg / m3, kapasita tukar kation (KTK)
14,8 me / 100 g dan luas pori total 65,62%. Untuk sifat kimia
tanah, aplikasi biochar secara signifikan mempengaruhi pH
6,30, kandungan N tanah sebanyak 0,15%, kandungan P
sebanyak 6,76 ppm, kandungan K 0,34 / 100g), Calsium 2,44
cmol / 100 dan Mg 1,45 Cmol / 100. Biochar berperan penting
dalam tanah sebagai zat penguat untuk memperbaiki sifat
fisik dan kimia tanah.
Penerapan nitrat dan biochar meningkatkan
pertumbuhan ubikayu dan jagung, menghasilkan keduanya
pola tanam monokultur dan tumpangsari ubikayu dan jagung
lebih tinggi kesuburan tanahnya. Kandungan unsur hara
pada media untuk pola tanam jagung yang diberi biochar
lebih tinggi daripada yang di tanah yang non biochar.
39
Teknologi Biochar: Konservasi Lahan yang Terdegradasi
Hasil panen Jagung bahan kering dan hasil bij jagung
lebih tinggi dengan perlakuan biochar. Hasil jagung yang
ditanam pada sistem pola tanam tumpangsari non biochar
lebih rendah daripada sistem pola tanam monokultur.
Penerapan aplikasi biochar meminimalkan penurunan hasil
biji jagung monokultur. Aplikasi biochar pada kedua pola
tanam monokultur dan tumpangsari jagung menghasilkan
biji jagung tertinggi (5,02 ton / ha), kemudian diikuti oleh
monokultur jagung sebanyak 4,87 t / ha. Setelah panen
jagung, tanah yang diaplikasikan dengan biochar tetap
memiliki pH tanah yang lebih tinggi, bahan organik tanah
lebih tinggi, kapasitas pertukaran kation tanah yang baik,
dan kandungan nitrat tanah yang tinggi. Aplikasi biochar
meningkatkan efisiensi pemupukan nitrogen, baik pada pola
tanam monokultur maupun pada pola tanam tumpangsari
ubikayu dan jagung. Kesimpulannya bahwa dengan aplikasi
biochar tongkol jagung maupun biochar kotoran ayam,
dapat memperkecil degradasi tanah dan meningkatkan hasil
tanaman.
40
DAFTAR PUSTAKA
Amanullah, M.M., Vaiyapuri, K., Sathyamoorthi, K.,
Pazhanivelan, S. and Alagesan A. 2007. Nutrient uptake,
tuber yield of cassava (Manihot esculesnta Cranzt) and
soil fertility as influenced by organic manure. Journal of
Agronomy6: 183-187
Asai, Hidetoshi et al. 2009. “Biochar Amendment Techniques
for Upland Rice Production in Northern Laos: 1. Soil
Physical Properties, Leaf SPAD and Grain Yield.” Field
crops research 111(1–2): 81–84.
Auerswald, Karl, Max Kainz, and Peter Fiener. 2003. “Soil
Erosion Potential of Organic versus Conventional
Farming Evaluated by USLE Modelling of Cropping
Statistics for Agricultural Districts in Bavaria.” Soil use
and Management 19(4): 305–311.
Chan, K Y et al. 2008. “Agronomic Values of Greenwaste
Biochar as a Soil Amendment.” Soil Research 45(8): 629–
634.
Chan, KY et al. 2007. “Assessing the Agronomic Values of
Contrasting Char Materials on Australian Hardsetting
Soil.” In Proceedings of the Conference of the International
Agrichar Initiative,.
41
Teknologi Biochar: Konservasi Lahan yang Terdegradasi
———. 2008. “Using Poultry Litter Biochars as Soil
Amendments.” Soil Research 46(5): 437–444.
Doan, Thuy Thu et al. 2015. “Impact of Compost, Vermicompost
and Biochar on Soil Fertility, Maize Yield and Soil
Erosion in Northern Vietnam: A Three Year Mesocosm
Experiment.” Science of the Total Environment 514: 147–
154.
Howeler, Reinhardt H, Anuchit Tongglum, Somjate Jantawat,
and Wani Hadi Utomo. 1998. “The Use of Forages of Soil
Fertility Maintenance and Erosion Control in Cassava in
Asia.”
Islami, Titiek, Bambang Guritno, Nur Basuki, and Agus
Suryanto. 2011a. “Biochar for Sustaining Productivity of
Cassava Based Cropping Systems in the Degraded Lands
of East Java, Indonesia.” Journal of Tropical Agriculture
49: 40–46.
———. 2011b. “Maize Yield and Associated Soil Quality
Changes in Cassava+ Maize Intercropping System after
3 Years of Biochar Application.” Journal of Agriculture
and Food Technology 1: 112–15.
Jien, Shih-Hao, and Chien-Sheng Wang. 2013. “Effects of
Biochar on Soil Properties and Erosion Potential in a
Highly Weathered Soil.” Catena 110: 225–233.
Lehmann, Johannes et al. 2003. “Nutrient Availability and
Leaching in an Archaeological Anthrosol and a Ferralsol
of the Central Amazon Basin: Fertilizer, Manure and
Charcoal Amendments.” Plant and soil 249(2): 343–357.
Liang, Biqing et al. 2006. “Black Carbon Increases Cation
Exchange Capacity in Soils.” Soil science society of America
journal 70(5): 1719–1730.
42
Eny Dyah Yuniwa
Masulili, Agusalim, Wani Hadi Utomo, and MS Syechfani.
2010. “Rice Husk Biochar for Rice Based Cropping
System in Acid Soil 1. The Characteristics of Rice Husk
Biochar and Its Influence on the Properties of Acid
Sulfate Soils and Rice Growth in West Kalimantan,
Indonesia.” Journal of Agricultural Science 2(1): 39.
Sukartono, Utomo WH, Z Kusuma, and WH Nugroho. 2011.
“Soil Fertility Status, Nutrient Uptake, and Maize (Zea
Mays L.) Yield Following Biochar and Cattle Manure
Application on Sandy Soils of Lombok, Indonesia.”
Journal of Tropical Agriculture 49(1–2): 47–52.
Sukartono, Utomo WH, WH Nugroho, and Z Kusuma. 2011.
“Simple Biochar Production Generated from Cattle
Dung and Coconut Shell.” J. Basic. Appl. Sci. Res 1(10):
1680–1685.
Tagoe, Seth O, Takatsugu Horiuchi, and Tsutomu Matsui.
2008. “Effects of Carbonized and Dried Chicken Manures
on the Growth, Yield, and N Content of Soybean.” Plant
and soil 306(1–2): 211–220.
Tejada, M, and JL Gonzalez. 2007. “Influence of Organic
Amendments on Soil Structure and Soil Loss under
Simulated Rain.” Soil and Tillage Research 93(1): 197–205.
Utomo, WH, SM Sitompul, and M Van Noordwijk. 1992.
“Effects of Leguminous Cover Crops on Subsequent
Maize and Soybean Crops on an Ultisol in Lampung.”
Agrivita 15: 39–44.
Widowati, Utomo WH, LA Soehono, and B Guritno. 2011.
“Effect of Biochar on the Release and Loss of Nitrogen
from Urea Fertilization.” Journal of Agriculture and Food
Technology 1(7): 127–132.
43
Teknologi Biochar: Konservasi Lahan yang Terdegradasi
Yamato, Masahide et al. 2006. “Effects of the Application of
Charred Bark of Acacia Mangium on the Yield of Maize,
Cowpea and Peanut, and Soil Chemical Properties in
South Sumatra, Indonesia.” Soil science and plant nutrition
52(4): 489–495.
Yuniwati, ED, WH Utomo, and RH Howeler. 2015. “Farmers’
Based Technology Development for Sustainable Cassava
Production System.” Int. J. Agric. Res 10(2): 54–64.
Yuniwati, ED, N Basuki, EW Wisnubroto, and WH Utomo.
2012. “Combating Land Degradation in Cassava Field
by Crop Yield Improvement.”
Yuniwati, ED, W.H. Utomo, and R.H. Howeler. 2015
Farmers Based Technology Development for
Sustainable Cassava Production System. International
Journal Agriculture Research (IJAR)eISSN: 2152-2553
pISSN: 1816-489 Publisher: Academic Journals Inc.,
44
GLOSARIUM
Biochar atau agri char adalah hasil konversi bahan organik
menjadi arang yang digunakan sebagai amandemen tanah
untuk penyerapan karbon dan manfaat kesehatan tanah.
Perkolasi adalah proses mengalirnya air ke bawah secara
gravitasi dari suatu lapisan tanah ke lapisan di bawahnya,
sehingga mencapai permukaan air tanah pada lapisan jenuh
air.
Infiltrasi adalah peristiwa masuknya air hujan ataupun air
permukaan ke dalam tanah (bawah permukaan) melalui celah
ataupun ruang pori tanah dan batuan.
Stabilitas adalah kemampuan yang dimiliki suatu organisme,
populasi, komunitas, atau ekosistem untuk menghidupi
dirinya sendiri atau meredam sejumlah gangguan maupun
tekanan dari luar.
Biofuel atau bahan bakar hayati adalah setiap bahan bakar
baik padatan, cairan ataupun gas yang dihasilkan dari bahan-
bahan organik.
45
Teknologi Biochar: Konservasi Lahan yang Terdegradasi
Demineralisasi adalah sebuah proses penghilangan kadar
garam dan mineral dalam air melalui proses pertukaran ion
( ion exchange process ) dengan menggunakan media resin/
softener anion dan kation
Farmyard adalah suatu pupuk kandang yang terletak di
pekarangan rumah petani
fenolik adalah senyawa yang memiliki satu atau lebih gugus
hidroksil yang menempel di gugus aromatik.
Kapasitas Tukar Kation (KTK) atau Cation Exchangable
Cappacity (CEC) merupakan jumlah total kation yang dapat
dipertukarkan (cation exchangable) pada permukaan koloid
yang bermuatan negatif.
Komparatif adalah perbandingan
Monokultur atau sistem pertanaman tunggal adalah salah
satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu
jenis tanaman pada satu areal.
Phenomena atau fenomena adalah fakta atau kejadian yang
dapat observasi oleh indera dimana umumnya tidak biasa,
sulit dimengerti atau dijelaskan
Senyawa karbon adalah senyawa yang komponen utamanya
tersusun dari atom karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O),
nitrogen (N), sulfur (S), dan unsur organik lainnya.
Adsorpsi atau penyerapan adalah suatu proses yang terjadi
ketika suatu fluida, cairan maupun gas, terikat kepada suatu
padatan atau cairan dan akhirnya membentuk suatu lapisan
tipis atau film pada permukaannya.
46
Eny Dyah Yuniwa
Erodibilitas adalah ketidak sanggupan tanah untuk
menahan tumbukan butir-butiran hujan. Tanah yang
tererosi cepat pada saat ditumbuk oleh butir-butir huajn
mempunyai erodibilitas yang tinggi. Erodibilitas dapat
dipelajari jika terjadi erosi.
Struktur amorf menyerupai pola hampir sama dengan kristal,
akan tetapi pola susunan atom-atom, ion-ion atau molekul-
molekul yang dimiliki tidak teratur
Terra Preta merupakan gabungan dari arang+kompost+kapur
yang digunakan untuk menjaga kesuburan tanah.
Yield adalah hasil panen
Tumpangsari adalah suatu bentuk pola tanam yang
mencampurkan 2 atau lebih tanaman atau makhluk hidup
lainnya dalam satu areal lahan tanam dalam waktu yang
bersamaan atau agak bersamaan yang bertujuan untuk
memanfaatkan lahan semaksimal mungkin.
Permeabilitas adalah kemampuan yang dimiliki oleh suatu
zat/ membran untuk meloloskan sejumlah partikel untuk
menembus atau melaluinya.
47
INDEKS
A D
Adsorpsi 64 dekomposisi 20, 28, 29, 30,
afinitas 31
agregat 8, 41, 43, 44, 57 31, 43
amandemen 5, 22, 44, 47, Demineralisasi 44
amorf 31, 55 dosis 38
arang organik 20, 25, 29 E
aromatik 30, 31, 43, 44 efisiensi 9, 21, 44, 45, 47
B Erodibilitas 65
bahan organik 8, 20, 21, 24, erosi 7, 18, 22, 23, 24, 25, 27,
25, 27, 28, 29, 30, 33, 34, 28, 33, 37, 38, 41, 42, 45
45, 45, 48, 49 F
bakteri 50 Farmyard 44
biochar 7, 8, 20, 21, 22, 23, fenolik 46, 44
24, 25, 29, 30, 31, 32, 33, I
35, 37, 38, 41, 42, 43, 44, indikator 25, 34, 37, 38
45 Infiltrasi 43
bioenergi 25 ISTRC 19
Biofuel 37
Biomassa 38
49
Teknologi Biochar: Konservasi Lahan yang Terdegradasi
KR
kapasitas 8, 22, 33, 35, 36, 37, Renstra Penelitian 17, 25
41, 42, 43, 44, 48 retensi 37, 41
S
karboksilat 36 serapan 7, 8, 43
karbon 20, 29, 30, 31, 37, 43, sifat fisik 7, 8, 21, 22, 25, 32,
44 33, 37, 38, 41, 43, 45, 47
kation 8, 31, 23, 26, 27, 31, signifikan 8, 33, 39, 40, 41,
32, 33, 34, 37, 38, 44 42, 47
komposit 41 SIMPOSIUM 19
L stabilitas 8, 33, 37
Land Husbandry 25, 34, 35, T
Teknologi 5, 22, 24, 25, 34, 35
38 terdegradasi 6, 20, 22, 23, 24,
limpasan 7, 22, 33, 41
M 25, 27, 37, 38, 39, 45
marginal 24, 25 terra pretta 20
monitoring 37, 38, 39 tumpangsari 7, 8, 28, 31, 35,
monoculture 46, 47
N 36, 37, 42, 47, 48
nitrogen 8, 9, 23, 30, 31, 32, U
ubikayu 5, 7, 8, 18, 19, 20, 21,
33, 34, 38, 44
nutrisi 36 22, 23, 24, 25, 27, 33, 34,
O 35, 37, 38, 39, 41, 43, 46,
oksidasi 36 47
Urgensi 17, 23, 24
P
panen 8, 22, 31, 33, 39, 41, 42,
43, 44, 45, 48, 49
perkolasi 21, 33
Permeabilitas 35
petak 21
produktivitas 20, 24, 27, 31
Pyrolisis 29
50
BIODATA PENULIS
TAK KENAL MAKA TIDAK SAYANG,
ungkapan tersebut benar adanya.
Seringkali orang lain tidak tahu apa yang
sudah kita perbuat dan bisa mengambil
manfaat dari karya yang kita hasilkan.
Untuk itulah, Eny Dyah Yuniwati,
putri seorang petani dari Kediri terus
mengepakkan sayapnya terbang melintasi
berbagai kota dan negara agar karyanya terasa nyata bagi kita
semua.
Sebuah karya konservasi lahan Bidang Pertanian telah
dihasilkan berupa Teknologi Pemeliharaan Lahan (Land
Husbandry) Berbasis Prakarsa Petani untuk Produksi Ubi
Kayu Secara Berkelanjutan.
Tepat tiga tahun, pendidikan doktor diselesaikannya
di Program Studi Sumber Daya Lahan dan Lingkungan
Pascasarjana Universitas Brawijaya (2010) dengan predikat
Cumlaude. Sebelumnya menyelesaikan S1 UPN Veteran
Jatim (1994) dan S2 di Bidang Pertanian, Minat Pengelolaan
Tanah dan Air, di Pascasarjana Universitas Brawijaya (1996).
Karier sebagai dosen dimulainya di Universitas Islam
51
Teknologi Biochar: Konservasi Lahan yang Terdegradasi
Mojopahit Mojokerto, lalu menjadi dosen tetap di Fakultas
Pertanian Universitas Wisnuwardhana Malang. Jabatan
pertamanya Sekretaris Prodi di Fakultas Pertanian, dan
sekarang mengemban amanat sebagai Ketua LPPM Unidha
Malang. Selain itu, ibu dua orang putri ini juga aktif sebagai
Reviewer Penelitian Ristekdikti, Selain sebagai reviewer, juga
sebagai Ketua Pengelola Jurnal Unidha, Ketua Pusat Studi
Lingkungan Unidha, Ketua Forum Layanan Ipteks bagi
Masyarakat Flipmas Legowo Jawa Timur, Reviewer Kawasan
Ekonomi Masyarakat, Flipmas Indonesia bekerjasama dengan
PT Pertamina Indonesia.
Sejak tahun 2011, aktif sebagai peneliti dan
pengabdi masyarakat melalui Hibah Kemendikbud dan
Kemenristekdikti. Minatnya pada konservasi lahan Bidang
Pertanian terus ditekuni dan saat ini meraih hibah multitahun
untuk mengembangkan teknologi konservasi lahan pertanian
organik, agar terwujud pertanian organik yang ramah
lingkungan demi menjaga keseimbangan dan kelestarian
lingkungan. Konsep Konservasi Land Husbandry yang
merupakan buah karya dari disertasinya terus berkembang
dan menghasilkan karya lain yakni “BIOCHAR”. Suatu arang
organik hasil pengolahan limbah biomassa untuk unsur
amandemen media tanah (pengganti pupuk) yang dapat
meningkatkan kesuburan tanah dan hasil tanaman organik.
Selain itu, perempuan yang betah berlama-lama di
kebun anggrek ini juga sedang menyusun seperangkat alat
untuk memproduksi Biochar, teknologi pengolah limbah
biomassa dan penghasil arang hitam ajaib. Paten Sederhana
HKI diraihnya untuk unsur hara yang terkandung dalam
biochar kotoran ayam. Hasil karyanya juga telah diterbitkan
dalam buku berjudul “Biochar: Si Arang Organik, Peningkat
Kualitas Tanah dan Produksi Tanaman. Buku sebelumnya
berjudul ““Pemeliharaan Lahan dan Diseminasi Ubi Kayu
Berkelanjutan”, dan “Manajemen Tanah: Menuju Perbaikan
52
Eny Dyah Yuniwa
Kualitas Tanah”. Sejak tahun 2017, karyanya telah muncul di
Jurnal Internasional Bereputasi dan terindeks Scopus dengan
ID 56904144900.
Sebagai pengabdi masyarakat, Eny Dyah begitu
sapaannya telah aktif dalam program pengembangan wilayah
Program Iptek di beberapa daerah di Jawa Timur. Salah
satunya di Jombang yang ditandai dengan dibukanya Wisata
Petik jambu Gondangmanis oleh Bupati Jombang. Selain itu,
15 HKI lain telah diraih. Wanita yang juga duduk sebagai
Wakil Ketua 2 Ikatan Penyaji Lingkungan Indonesia Jawa
Timur ini terus mengepakkan sayapnya dan telah mengikuti
berbagai konferensi internasional di beberapa negara seperti
Thailand, Philipina, dan Brunei Korespondensi: nieyuniwati@
wisnuwardhana.ac.id.
53