The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pembelajaran Pertolongan Pertama dan Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga (PP PPCO) Berbasis Blended Learning by Pinton Setya Mustafa (z-lib.org)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by emajulisetyawati, 2021-07-11 21:37:35

Pembelajaran Pertolongan Pertama dan Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga (PP PPCO) Berbasis Blended Learning by Pinton Setya Mustafa (z-lib.org)

Pembelajaran Pertolongan Pertama dan Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga (PP PPCO) Berbasis Blended Learning by Pinton Setya Mustafa (z-lib.org)

Mustafa, P.S.
Pembelajaran Pertolongan Pertama dan Pencegahan Perawatan Cedera
Olahraga (PP & PPCO) Berbasis Blended Learning / Pinton Setya Mustafa,
Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang, © 2017

208 halaman

Judul : Pembelajaran Pertolongan Pertama dan Pencegahan Perawatan

Cedera Olahraga (PP & PPCO) Berbasis Blended Learning

Penulis : Pinton Setya Mustafa

Penerbit : Pascasarjana, Universitas Negeri Malang

Tahun Terbit : 2017

Tempat Terbit : Malang

Jumlah Halaman : 208 halaman

KATA PENGANTAR

Tak ada yang menyangkal jika olahraga baik untuk kebugaran tubuh
dan melindungi kita dari berbagai penyakit. Namun, berolahraga secara
berlebihan dan mengabaikan aturan berolahraga yang benar, malah
mendatangkan cedera yang membahayakan dirinya sendiri.

Cedera sering dialami oleh seorang atlet, seperti cedera goresan,
robek pada ligamen, atau patah tulang karena terjatuh. Cedera tersebut
biasanya memerlukan pertolongan yang profesional dengan segera. Banyak
sekali permasalahan yang dialami oleh atlet olahraga, tidak terkecuali dengan
sindrom ini. Sindrom ini bermula dari adanya suatu kekuatan abnormal
dalam level yang rendah atau ringan, namun berlangsung secara berulang-
ulang dalam jangka waktu lama. Jenis cedera ini terkadang memberikan
respon yang baik bagi pengobatan sendiri.

Ada beberapa hal yang menyebabkan cedera akibat aktivitas olahraga
yang salah. Aktivitas yang salah ini karena pemanasan tidak memenuhi
syarat, kelelahan berlebihan terutama pada otot, dan salah dalam melakukan
gerakan olahraga. Kasus cedera yang paling banyak terjadi, biasanya
dilakukan para pemula yang biasanya terlalu berambisi menyelesaikan target
latihan atau ingin meningkatkan tahap latihan.

Cedera akibat berolahraga paling kerap terjadi pada atlet, tak
terkecuali atlet senior. Biasanya itu terjadi akibat kelelahan berlebihan
karena panjangnya waktu permainan (misalnya ada babak tambahan) atau
terlalu banyaknya partai pertandingan yang harus diikuti.

Cara yang lebih efektif dalam mengatasi cedera adalah dengan
memahami beberapa jenis cedera dan mengenali bagaimana tubuh kita
memberikan respon terhadap cedera tersebut. Juga, akan dapat untuk
memahami tubuh kita, sehingga dapat mengetahui apa yang harus dilakukan
untuk mencegah terjadinya cedera, bagaimana mendeteksi suatu cedera agar
tidak terjadi parah, bagaimana mengobatinya dan kapan meminta pengobatan
secara profesional (memeriksakan diri ke dokter).

Perawatan dan pencegahan cedera di perguruan tinggi. Khususnya
para mahasiswa pendidikan jasmani. Buku ini mencakup agar mahasiswa
mampu melaksanakan dan paham tentang prinsip-prinsip, faktor-faktor
perawatan cedera dalam olahraga serta dapat mempraktekkannya pada saat

i

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

menempuh perkuliahan maupun setelah lulus dan menjadi guru pendidikan
jasmani di sekolah.

Buku ini tidak akan selesai tanpa bantuan dan dukungan dari segenap
pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada segenap pihak yang telah membantu dan memberi
dukungan sehingga pembuatan buku ini dapat terselesaikan. Penulis
berharap, informasi yang ada di dalam buku ini dapat dijadikan pedoman
dalam tindakan pertolongan pertama dan pencegahan pada cidera dalam
kegiatan fisik dan olahraga sehingga dapat menyelamatkan teman-teman,
keluarga, dan orang di sekitar kita.

Penulis menyadari bahwa buku ini jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik, saran dan masukan yang konstruktif
sebagai bahan pertimbangan dan perbaikan di masa mendatang.

Malang, Desember 2017

Pinton Setya Mustafa

ii

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................. iii
DAFTAR TABEL......................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................. ix

PROGRAM PERKULIAHAN ...................................................................... 1
A. Identitas Mata Kuliah................................................................................ 1
B. Rancangan Blended Learning PP & PPCO............................................... 2
C. Analisis Kebutuhan Pemecahan Masalah ................................................. 3
D. Analisis Sumber Belajar dan Kendala ...................................................... 5
E. Identifikasi Karakteristik Pebelajar ........................................................... 7
F. Menetapkan Tujuan Pembelajaran .......................................................... 10
G. Memilih dan Menetapkan Strategi Pembelajaran ................................... 12
H. Mengembangkan Sumber Belajar ........................................................... 21
I. Uji coba..................................................................................................... 23
J. Revisi........................................................................................................ 24
K. Prototipe Pembelajaran Berbasis Blended Learning............................... 24

BAB 1 DASAR-DASAR CEDERA............................................................ 25
A. Pengertian Cedera ................................................................................... 25
B. Pengertian Cedera Olahraga.................................................................... 26
C. Macam-Macam Cedera Olahraga............................................................ 28
D. Klasifikasi Cedera Olahraga ................................................................... 29
E. Penyebab Cedera Olahraga...................................................................... 30
Latihan Soal ................................................................................................. 32

BAB 2 PERTOLONGAN PERTAMA PADA KEADAAN DARURAT... 35
A. Konsep Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) ........................... 35
B. Macam-Macam Penolong Pada Keadaan Darurat .................................. 48
C. Kewajiban Seseorang Penolong .............................................................. 49
D. Tujuan Pertolongan Pertama ................................................................... 49
E. Etika Penolong......................................................................................... 50
F. Alat Pengaman Pada P3K........................................................................ 51

iii

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

G. Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) ............................. 51
Latihan Soal ................................................................................................. 52

BAB 3 PENILAIAN KORBAN .................................................................. 55
A. Penilaian Keadaan................................................................................... 55
B. Penilaian Dini.......................................................................................... 56
C. Pemeriksaan Fisik Dan Pemeriksaan Berkala ......................................... 59
Latihan Soal ................................................................................................. 64

BAB 4 MENGENALI ANATOMI DAN FAAL DASAR .......................... 67
A. Posisi Anatomis....................................................................................... 67
B. Bagian-Bagian Tubuh Manusia............................................................... 68
C. Tentang Rongga ...................................................................................... 70
D. Sistem Sirkulasi Darah............................................................................ 71
E. Sistem Pernapasan ................................................................................... 74
F. Sistem Rangka ......................................................................................... 76
G. Sendi........................................................................................................ 77
H. Sistem Otot.............................................................................................. 78
I. Sistem Saraf.............................................................................................. 80
J. Sistem Tubuh............................................................................................ 81
Latihan Soal ................................................................................................. 83

BAB 5 TINGKATAN CEDERA OLAHRAGA ......................................... 85
A. Klasifikasi Cedera Olahraga ................................................................... 85
B. Strain dan Sprain ..................................................................................... 86
C. Cedera yang Lazim Terjadi dalam Olahraga........................................... 89
Latihan Soal ................................................................................................. 98

BAB 6 PENYEBAB & PENCEGAHAN CEDERA OLAHRAGA.......... 101
A. Penyebab Terjadinya Cedera ................................................................ 101
B. Pencegahan Cedera ............................................................................... 103
Latihan Soal ............................................................................................... 107

BAB 7 PERAWATAN & PENANGANAN CEDERA OLAHRAGA ..... 111
A. Penanganan Perdarahan ........................................................................ 111
B. Penanganan Pertama ............................................................................. 111

iv

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

C. Penanganan Rahabilitasi Medik ............................................................ 112
Latihan Soal ............................................................................................... 117
BAB 8 CEDERA & PENYAKIT KARENA OLAHRAGA .................... 121
A. Olahraga yang Melibatkan Kontak/ Tumbukan Fisik........................... 122
B. Olahraga yang Melibatkan Kontak Fisik Terbatas................................ 139
C. Olahraga yang Tidak Melibatkan Kontak Fisik .................................... 148
Latihan Soal ............................................................................................... 156
BAB 9 PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN (P3K)... 159
A. Konsep Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)......................... 159
B. Perdarahan yang Hebat.......................................................................... 160
C. Pernafasan yang Berhenti...................................................................... 162
D. Keracunan ............................................................................................. 165
E. Gangguan Keadaan Umum.................................................................... 176
Latihan Soal ............................................................................................... 179
BAB 10 RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP) ..................................... 183
A. Fase Resusitasi Jantung Paru ................................................................ 183
B. Prosedur Awal RJP................................................................................ 184
C. Cek Kesadaran dan Aktifkan Sistem Emergensi................................... 185
Latihan Soal ............................................................................................... 194
DAFTAR RUJUKAN................................................................................ 197
LAMPIRAN............................................................................................... 199

v

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

DAFTAR TABEL
Halaman

Tabel 7.1 Terapi Panas Menurut Kedalaman Penetrasinya ....................... 114
Tabel 7.2 Respon Fisiologis Terhadap Panas ............................................ 114
Tabel 7.3 Hydrotherapy ............................................................................. 115

vi

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

DAFTAR GAMBAR
Halaman

Gambar 1. Head Tilt And Chin Lift.............................................................. 38
Gambar 2. Jaw Thrust.................................................................................. 38
Gambar 3. Nadi Carotis Selama 10 Detik.................................................... 40
Gambar 4. Shock Position............................................................................ 41
Gambar 5. Nafas Bantuan ............................................................................ 42
Gambar 6. Center Of Chest.......................................................................... 42
Gambar 7. Pijat Jantung............................................................................... 43
Gambar 8. Tekanlah Dada ........................................................................... 43
Gambar 9. Bidang Tubuh Manusia.............................................................. 68
Gambar 10. Bagian –Bagian Tubuh Manusia.............................................. 69
Gambar 11. Rongga Tubuh Pada Manusia .................................................. 70
Gambar 12. Sistem Peredaran Darah Pada Manusia ................................... 72
Gambar 13. Sistem Pernapasan Pada Manusia ............................................ 75
Gambar 14. Sistem Rangka Pada Manusia .................................................. 76
Gambar 15. Jenis-Jenis Otot Pada Manusia................................................. 78
Gambar 16. Sistem Otot Pada Manusia ....................................................... 79
Gambar 17. Sistem Saraf Pada Manusia...................................................... 80
Gambar 18. Sistem Tubuh Manusia............................................................. 82
Gambar 19. Cedera Hamstring .................................................................... 87
Gambar 20. Warming Up........................................................................... 102
Gambar 21. Skema Penggolongan Cedera................................................. 103
Gambar 22. Jenis atau Bentuk Sepatu........................................................ 106
Gambar 23. Ortesa Leher ........................................................................... 116
Gambar 24. Protesa.................................................................................... 117
Gambar 25. Pentingnya bagi Atlet agar Tetap Bugar ................................ 122
Gambar 26. Akibat Helm Yang Dipakai Tidak Pas................................... 125
Gambar 27. Atlet Hockkey Es Memakai Pelindung.................................. 126
Gambar 28. Alat yang Dipakai Dalam Permainan Lacrosse ..................... 129
Gambar 29. Kontak Fisik yang Sering Terjadi Dalam Seni Bela Diri....... 131
Gambar 30. Permainan Roller Hockey ...................................................... 133
Gambar 31. Benturan dalam Sepak Bola ................................................... 135
Gambar 32. Laga Dalam Olahraga Gulat .................................................. 137
Gambar 33. Perlu Adanya pengawasan Terhadap Sesi Latihan ................ 142
Gambar 34. Pemakaian Topi Dan Kaca Mata Renang .............................. 150

vii

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

Gambar 35. Untuk Menghindari Tabrakan, Latihan Lari Gawang............ 153
Gambar 36. Sabuk Beban yang Digunakan Untuk Angkat Berat.............. 156
Gambar 37. Tekanlah Luka Dengan Kain Tebal Halus Dan Empuk......... 161
Gambar 38. Balutlah tempat perdarahan ................................................... 161
Gambar 39. Resusitasi Cara Schafer.......................................................... 163
Gambar 40. Gerakan Expirasi.................................................................... 164
Gambar 41. Gerakan Inspirasi ................................................................... 164
Gambar 42. Perawatan Otak Shock ........................................................... 177
Gambar 43. Cross Finger .......................................................................... 187
Gambar 44. Finger Sweep.......................................................................... 187
Gambar 45. Heimlich Maneuver................................................................ 188
Gambar 46. Chest Thrust ........................................................................... 188
Gambar 47. Shock Position........................................................................ 189
Gambar 48. Pemberian Nafas Dari Mulut Ke Mulut................................. 190
Gambar 49. Pernafasan Dari Mulut Ke Hidung......................................... 191
Gambar 50. Pernafasan Mulut Ke Stoma .................................................. 191
Gambar 51. Posisi Tangan Di Dada Pasien ............................................... 192
Gambar 52. Posisi Tangan Tegak Lurus.................................................... 192
Gambar 53. Cara Kompres Dada ............................................................... 192

viii

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman

Lampiran 1: Pembelajaran Offline PP & PPCO ........................................ 201
Lampiran 2: Pembelajaran Online PP & PPCO......................................... 205

ix

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

x

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

PROGRAM PERKULIAHAN

PEMBELAJARAN PERTOLONGAN PERTAMA &
PENCEGAHAN DAN PERAWATAN CEDERA OLAHRAGA

(PP & PPCO) BERBASIS BLENDED LEARNING
UNTUK MAHASISWA PENDIDIKAN JASMANI DAN KESEHATAN

A. Identitas Mata Kuliah

Nama Mata Kuliah : Pertolongan Pertama & Pencegahan dan Perawatan

Cedera Olahraga (PP & PPCO)

Kode Mata Kuliah : PJK422

SKS/ JS : 2 SKS, 2 JS

Semester / Tahun : Genap, 2017/2018

Program Studi : S1 Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (PJK)

Status Mata Kuliah : Mata Kuliah Wajib

Prasyarat :-

Dosen Pembina : Pinton Setya Mustafa, S,Pd

1. Deskripsi Mata Kuliah
Dalam perkuliahan ini dibahas model-model konsep transmisi,

transaksi, dan transformasi, paradigma perennial, model-model mengenai
pengorganisasian, pengajaran/pembelajaran, pengembangan, implementasi
dan evaluasi pencegahan dan perawatan cedera, juga mengkaji isu-isu dan
masalah-masalah yang dihadapi dalam penerapan macam-macam model
pencegahan dan perawatan cedera.

2. Tujuan Perkuliahan
Selesai mengikuti perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu

menjelaskan model-model: konseptual, desain, implementasi dan evaluasi
mengenai pencegahan dan perawatan cedera; model-model yang diterapkan
dan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan model-model tersebut di
Indonesia saat ini.

1

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

B. Rancangan Blended Learning PP & PPCO
Pengajar atau dosen mempunyai kedudukan sebagai satu-satunya

sumber belajar, menentukan isi dan metode belajar, serta menilai
kemampuan belajar pebelajar dalam pembelajaran. Maka untuk itu
dikembangkanlah berbagai metode pembelajaran yang sesuai untuk dapat
memperlancar proses belajar dan dapat meningkatkan hasil belajar. Media
pembelajaran yang dipersiapkan secara khusus oleh pengajar yang dapat
berinteraksi dengan pebelajar secara langsung maupun tidak langsung.

Pembelajaran berbasis blended learning dalam mata kuliah
Pertolongan Pertama & Pencegahan dan Perawatan Cedera Olahraga ini
merupakan pembelajaran dengan semua bentuk pencampuran model belajar
yang berbeda dan pendidikan secara klasik yang berkonsentrasi pada
interaksi online antara guru dan pelajar yang sedang dilakukan. Dengan
modifikasi informasi yang diberikan pastinya dapat meningkatkan
kemungkinan komunikasi untuk pertukaran, pendapat, pengalaman dan sudut
pandang antara siswa dan guru mereka, dan antara siswa sendiri, dalam
mengatasi masalah sempitnya ruang kelas, dan memberikan siswa sebuah
umpan balik secara terus menerus selama proses pembelajaran menggunakan
berbagai sumber yang berbeda dari pembelajaran dan pendidikan.

Pembelajaran memiliki dua dimensi, yaitu dimensi strategi dan hasil.
Hasil belajar yang sangat penting adalah pemecahan masalah. Sedangkan
strategi pembelajaran yang berlandaskan pada perkembangan teknologi saat
ini dikenal dengan nama pembelajaran berbasis blended learning,
pembelajaran dengan mengombinasi tatap muka (face to face), offline, dan
online. Model rancangan pembelajaran berbasis blended learning terdiri atas
3 tahap dengan 9 langkah. Tahap 1 Analisis, terdiri atas: (1) analisis
kebutuhan pemecahan masalah, (2) identifikasi sumber belajar dan kendala,
(3) identifikasi karakteristik pebelajar. Tahap 2 Rancangan meliputi: (4)
menetapkan tujuan pembelajaran, (5) memilih dan menetapkan strategi
pembelajaran (mengorganisasi isi, penyampaian, pengelolaan), (6)
mengembangkan sumber belajar (tatap muka, offline, online, mobile). Tahap
3 Evaluasi terdiri atas (7) uji coba, (8) revisi, dan (9) prototipe rancangan
pembelajaran berbasis blended learning.

Tujuan merancang pembelajaran adalah untuk memperbaiki dan
meningkatkan kualitas pembelajaran. Peningkatan kualitas pembelajaran
dilakukan dengan cara memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode

2

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

pembelajaran yang optimal untuk mencapai hasil yang diinginkan (Degeng,
1991:33).

Berikut ini adalah model rancangan pembelajaran berbasis blended
learning

TAHAPAN BALIKAN

1. analisis 2. identifikasi 3. identifikasi
 kebutuhan
ANALISIS  sumber belajar dan  karakteristik
pemecahan
masalah kendala pebelajar

4. 5. memilih dan 6.
menetapkan mengembangkan
RANCANGAN  menetapkan strategi  sumber belajar
tujuan  pembelajaran (tatap muka,
(mengorganisasi offline, online,
pembelajaran isi, penyampaian, mobile)
pengelolaan)



9. prototipe

EVALUASI  7. uji coba  8. revisi rancangan
 pembelajaran

berbasis blended

learning

Diagram Model Rancangan Berbasis Blended learning untuk Hasil

Belajar Pemecahan Masalah (Dwiyogo, 2016:241)

Adapun penjelasan dari 3 tahap dan 9 langkah dalam merancang
pembelajaran blended learning adalah sebagai berikut.

C. Analisis Kebutuhan Pemecahan Masalah
Pada analisis kebutuhan pemecahan masalah meliputi kegiatan: (1)

menganalisis kondisi yang ada, yaitu mencari akar permasalahan dari
kebutuhan yang akan dipecahkan oleh pebelajar (learner) yang merupakan
tujuan dari hasil belajar pemecahan masalah; (2) mengidentifikasi apa yang
perlu dikuasai (pengetahuan, sikap, dan keterampilan) untuk memecahkan
masalah dan tindak lanjut dari kemungkinan munculnya masalah baru yang
perlu dipecahkan; (3) mengidentifikasi perbedaan antara tujuan kondisi yang

3

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

diharapkan dengan kondisi yang ada; (4) menentukan dan
mendokumentasikan kelebihan-kelebihan yang ada yang berhubungan
dengan kinerja, dan (5) menentukan hal apa yang menjadi prioritas dalam
usaha mengatasi permasalahan yang ada. Dalam pengumpulan data,
beberapa teknik yang bisa dilakukan, antara lain melalui telepon, interview
langsung, melalui e-mail, kertas kuesioner, rekaman video, serta observasi
(Dwiyogo, 2016:241).

Pengetahuan tentang cara menolong dan mencegah cedera dalam
olahraga harus dimiliki oleh setiap pelatih maupun guru olahraga. Keadaan
tak terduga bisa kapan dan di mana saja menuntut kita untuk selalu siap,
tanggap dan tangkas dalam mengambil tindakan. Oleh sebab itu, bukan tidak
mungkin dari kondisi tersebut dapat mendatangkan bahaya yang mungkin
dapat berakibat fatal. Salah bertindak dalam memberikan pertolongan
pertama bisa juga akan memperburuk keadaan, dan setiap orang pasti tidak
menginginkannya.oleh sebab itu, sebelum segala hal yang tidak diinginkan
terjadi, kita mesti siap menghadapinya.

Ketika terjadi sakit atau cedera selama pelatihan, olahraga atau
melakukan kegiatan fisik lainnya, kita harus tahu apa yang harus dilakukan.
Kita harus siap menangani kedaruratan yang umum terjadi dalam aktivitas
olahraga dan kegiatan fisik, baik di arena pertandingan, lapangan olahraga,
kolam renang, maupun dilingkungan sekitar. Pertolongan Pertama dan
Pencegahan Cedera Olahraga mengajarkan tentang bagaimana memberikan
pertolongan pertama dasar kepada seseorang yang mengalami sakit dan
cedera pada waktu berolahraga, serta upaya bagaimana mencegah terjadinya
penyakit dan cedera tersebut.

Dalam proses pembelajaran mata kuliah Pertolongan Pertama &
Pencegahan dan Perawatan Cedera Olahraga mahasiswa diharapkan
memiliki kompetensi terdiri atas untuk menguasi kompetensi pertolongan
dan pencegahan cedera sebagai berikut.
1) Aspek Kognitif

Mampu mengetahui jenis-jenis cedera dan cara pertolongannya,
mengetahui alat yang digunakan dalam pertolongan pertama terhadap cedera,
mengetahui tingkatan cedera dalam olahraga, dapat menjelaskan penyebab
terjadinya cedera dan cara menolongnya.
2) Aspek Afektif

Kerjasama, disiplin, tanggungjawab, percaya diri dan sportif.

4

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

3. Aspek Psikomotor
Dapat menyajikan presentasi dan menjelaskan mengenai penyebab

cedera, pencegahan cedera serta cara memberikan pertolongan pertama pada
cedera olahraga.

Walaupun di dalam perkuliahan tetap menggunakan metode tatap
muka, pada saat praktik. Usaha yang digunakan untuk mengatasi hal
tersebut, selain dilakukan perkuliahan dikelas melalui pembelajaran tatap
muka (ceramah, tanya jawab, diskusi dan presentasi juga digunakan metode
online dan mobile (edmodo, facebook, telegram), offline (flipBook,
autoplay) sebagai alternatif sumber belajar yang digunakan untuk belajar
oleh mahasiswa. Dalam pengumpulan data, beberapa teknik yang bisa
dilakukan antara lain, interview langsung, melalui e-mail, kertas kuesioner,
rekaman video, serta observasi.

D. Analisis Sumber Belajar dan Kendala
Pada analisis sumber belajar meliputi kegiatan menganalisis sumber

orang dan media, yaitu: (1) Identifikasi sumber belajar orang meliputi
kemampuan tenaga pengajar, tenaga pengajar lain, teknisi komputer untuk
mengembangkan pembelajar online, offline, dan mobile baik yang dimiliki
sekolah maupun di luar sekolah, (2) identifikasi sumber belajar yang ada
meliputi sumber belajar cetak, audio, audio visual, komputer, internet, dan
telpon pintar (tablet) yang ada di sekolah, (3) identifikasi sumber belajar
yang ada meliputi sumber belajar cetak, audio, audio visual, komputer,
internet, dan telpon pintar (tablet) yang ada di luar sekolah (WEB dan akses
lainnya). Pada tahap ini yang dianalisis adalah ketersediaan jenis teknologi
dalam lingkungan belajar. Dalam analisis ini akan diketahui jenis teknologi
yang ada untuk dijadikan solusi mengatasi permasalahan belajar. Selain itu
akan dilihat seberapa dekat teknologi yang tersedia dengan pebelajar yang
akan menggunakan teknologi tersebut. Adapun hal-hal yang perlu
diperhatikan adalah jenis teknologi yang ada untuk referensi atau yang
mendukung proses pencapaian tujuan, yaitu teknologi yang bisa digunakan
dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil analisis ini, digunakan untuk
menentukan solusi media yang tepat untuk digunakan dalam mengatasi
permasalahan dalam pembelajaran. Di samping itu, langkah berikutnya
adalah menentukan kemampuan yang penting dikuasai oleh pengajar
(Dwiyogo, 2016:242).

5

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

Berdasarkan uraian analisis kebutuhan diperoleh materi yang
digunakan dalam perkuliahan Pertolongan dan Pencegahan Cedera Olahraga,
maka dibutuhkan sumber belajar yang digunakan dalam menyampaikan isi
pembelajaran. Selain itu dari kajian teori di atas maka sumber belajar terdiri
dari sumber belajar orang (tatap muka) dan media (online, offline, mobile).

Identifikasi sumber belajar orang dalam mata kuliah PP dan PPCO
memiliki kualifikasi: (1) berdasarkan kualifikasi lulusan pendidikan, tenaga
pengajar terdiri dari S2 Pendidikan Olahraga dan S3 Pendidikan olahraga
yaitu dosen jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatatan (PJK) Fakultas
Ilmu Keolahragaan (FIK) di Universitas Negeri Malang, selain itu tenaga
pengajar memiliki kemampuan keahlian dibidang PP & PPCO serta mampu
untuk mengembangan pembelajaran yang bisa dilakukan tatap muka, online,
offline, dan mobile baik yang dimiliki fakultas maupun di luar fakultas,

Identifikasi sumber belajar dalam mata kuliah PP dan PPCO yang ada
meliputi sumber belajar cetak (buku) yang relatif sedikit, audio yang bisa di
akses dan disiapkan oleh pengajar, audio vidual (mp4, video yang digunakan
untuk pembelajaran di kelas), komputer (laptop), internet, dan telpon pintar
(smartphone) yang ada di miliki setiap mahasiswa dan yang terjangkau di
fakultas. Sumber belajar yang ada disekolah yang digunakan oleh dosen dan
mahasiswa serta sumber belajar yang mendukung untuk perkuliahan.
Berhubungan dengan komponen: pesan (isi) perkuliahan standar pendidikan
dan pembelajaran, di antaranya ada seorang pengajar (dosen) serta pebelajar
(mahasiswa PJK), yang menggunakan bahan (teknologi cetak , audio, audio
visual, mobile), alat berupa (lcd, sistem audio), dengan teknik (penjelasan,
ceramah, Tanya jawab, tugas) yang dilakukan oleh pengajar dan pebelajar,
latar yang digunakan (dikelas atau digedung)

Berdasarkan sumber belajar yang telah diidentifikasi tersebut diatas,
terdapat kendala dalam sumber belajar matakuliah Pertolongan Pertama &
Pencegahan dan Perawatan Cedera Olahraga. Dari komponen (sumber
belajar orang) yang dijumpai adalah perkuliahan terkadang mengalami
kekosongan jam dan dibatalkan oleh pengajar yang diakibatkan adanya
faktor-faktor (internal dan eksternal).

Faktor internal seperti adanya hari libur nasional, penyelenggaraan
event atau kejuaraan yang diselenggaran di lingkup universitas, Oleh karena
itu, digunakan sumber belajar online, namun dalam pelaksanaannya bahan
yang digunakan dari teknologi cetak yang minim atau terbatas yang ada

6

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

diperpustakaan fakultas, Tidak jarang LCD disetiap kelas yang kualitasnya
sudah menurun sehingga ketika dilakukan presentasi gambar yang dihasilkan
tidak jelas dan lain sebagainya.

Faktor eksternal seperti apabila ada pemadaman listrik dari PLN, dan
lain sebagainya. Oleh karena itu, alternatif yang digunakan untuk
meminimalisir kendala tersebut dengan memodifikasi pembelajaran baik dari
sumber belajar yang digunakan serta bahan untuk maksimalkan perkuliahan
Pertolongan Pertama & Pencegahan dan Perawatan Cedera Olahraga. Oleh
karena itu, digunakan sumber belajar mobile dimana materi yang digunakan
dalam pembelajaran bisa diakses memalui sumber belajar mobile sebagai
alternatuf sumber belajar dalam Pertolongan Pertama & Pencegahan dan
Perawatan Cedera Olahraga.

E. Identifikasi Karakteristik Pebelajar
Pada tahap ini dilakukan analisis kemampuan awal dan karakteristik

pebelajar. Kemampuan awal pebelajar merupakan landasan bagi perancang
untuk menentukan titik awal pembelajaran. Kemudian diambil data tentang
karakteristik dari populasi tersebut. Selain kemampuan awal, perlu juga
analisis karakteristik dari pebelajar yang merupakan sasaran pembelajaran.
Karakteristik pebelajar bisa dilihat dari aspelc usia, tingkat kelas, minat,
pekerjaan. kesehatan, motivasi belajar, taraf prestasi. kemampuan awal,
tingkat keterampilan dalam literasi informasi, kedudukan sosial ekonomi,
dan atau penguasaan bahasa asing. Selain itu perlu diketahui sikap pebelajar
terhadap materi yang akan dipelajari serta cara mereka mempelajarinya
(Dwiyogo, 2016:242).

Kemampuan awal pebelajar merupakan tolak ukur bagi perancang
untuk menentukan rancangan pembelajaran akan digunakan dalam proses
pembelajaran. Kemudian diambil data tentang karakteristik dari populasi
tersebut. Selain kemampuan awal, perlu juga analisis karakteristik dari
pebelajar yang merupakan sasaran pembelajaran. Karakteristik pebelajar bisa
dilihat dari aspek: usia, tingkat kelas, minat, pekerjaan, kesehatan, motivasi
belajar, taraf prestasi, kemampuan awal, tingkat keterampilan dalam literasi
informasi, kedudukan sosial ekonomi, dan atau penguasaan bahasa asing.
Selain itu perlu diketahui sikap pebelajar terhadap materi yang akan
dipelajari serta cara mereka mempelajarinya.

7

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

Dalam pembelajaran Pertolongan Pertama & Pencegahan dan
Perawatan Cedera Olahraga. terdiri dari siswa yang memiliki beragam
karakteristik. Karakteristik tersebut bisa menyebabkan pengaruh terhadap
proses belajar dan mengajar, interaksi pebelajar dengan sumber belajar, dan
interaksi pebelajar dengan lingkungan. Karakteristik tersebut dari aspek:
Usia (perbedaan tingkat usia, akan mempengaruhi tingkat berpikir seseorang
dalam memahami materi yang diberikan. Mahasiswa yang mengikuti mata
kuliah Pertolongan Pertama & Pencegahan dan Perawatan Cedera Olahraga.
Sekarang ini berusia antara 18-21 tahun), aspek ekonomi mahasiswa yang
mengikuti mata kuliah Pertolongan Pertama & Pencegahan dan Perawatan
Cedera Olahraga. memiliki tingkat ekonomi yang berbeda-beda yang
berpengaruh pada aspek kesehatan (Keadaan kesehatan jasmani. Kondisi
kesehatan jasmani pada umumnya sangat memengaruhi aktivitas belajar
seseorang. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh
positif terhadap kegiatan belajar mahasiswa. Sebaliknya, kondisi fisik yang
lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal.
Oleh karena itu keadaan kesehatan jasmani sangat memengaruhi proses
belajar, maka perlu ada usaha untuk menjaga kesehatan jasmani.

Selama proses belajar berlangsung, karena kesehatan yang prima
dapat menumbuhkan semangat dan motivasi dalam melakukan aktifitas
pembelajaran. Dalam proses belajar, merupakan pintu masuk bagi segala
informasi yang diterima. Panca indra yang memiliki peran besar dalam
aktivitas belajar adalah mata dan telinga. Oleh karena itu, baik pengajar
maupun mahasiswa perlu menjaga panca indra dengan baik, baik secara
preventif maupun secara yang bersifat kuratif. Dengan menyediakan sarana
belajar yang memenuhi persyaratan, memeriksakan kesehatan fungsi mata
dan telinga secara periodik, mengonsumsi makanan yang bergizi, dan lain
sebagainya). Karakteristik Gaya Belajar (Karakteristik mahasiswa gaya
belajar visual (belajar dengan cara melihat)) menitik beratkan ketajaman
mata/penglihatan. Artinya bukti-bukti konkret harus diperhatikan terlebih
dahulu agar siswa paham. Ciri-ciri siswa yang memiliki gaya belajar visual
adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan juga menangkap informasi
secara visual sebelum mereka memahami. Karakteristik belajar Auditori
(Auditory Learners) mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami
dan mengingatnya.

8

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan
pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan.
Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan
memahami informasi itu. Karakter pertama orang yang memiliki gaya belajar
ini adalah semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran, kedua
memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara
langsung, ketiga memiliki kesulitan menulis ataupun membaca. Kinestetik
(Kinesthetic Learners) mengharuskan individu yang bersangkutan
menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa
mengingatnya. Tentu saja ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini
yang tak semua orang bisa melakukannya. Karakter pertama adalah
menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus
mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki
gaya ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.
Karakteristik yang disebutkan dari aspek usia, kesehatan dan gaya belajar,
maka karakteristik tersebut secara tidak langsung akan memengaruhi sumber
belajar yang akan digunakan, dari karakteristik tersebut seperti aspek usia,
maka pembelajaran yang dilakukan disajikan dengan tema yang menarik dan
penyampaian pembelajaran interaktif untuk menumbukan dan melatih
respon, kepekaan berpikir dari stimulus yang diberikan.

Karakteristik aspek kesehatan, pengajar memberikan alternatif
pembelajaran yang menggunakan gaya mengajar sebagian dan keseluruhan
(parth and whole) dan menggunakan metode distributed practice untuk
memberikan jeda antara pembelajaran dan istirahat, selain itu pengajar
memberikan peluang agar setiap mahasiswa membawa bekal semisalnya
seperti air mineral yang disiapkan untuk melengkapi perlengkapan di
pembelajaran di mata kuliah Pertolongan dan Pencegahan Cedera Olahraga.
Karakteristik dari aspek gaya mengajar, maka pengajar menyiapkan media
belajar yang disesuaikan dengan karakteristik mahasiswa yang memiliki
dominan besar dalam pembelajaran PP & PPCO. Seperti karakteristik gaya
belajar auditori maka perlu disiapkan media audio/audiovisual yang menarik
dan sesuai materi. Untuk gaya belajar visual maka perlu disiapkan gambar-
gambar, audiovisual yang menarik, uptodate dan sesuai dengan materi.
Sedangkan untuk gaya belajar kinestetik, maka perlu diadakan pembelajaran
yang dimodifikasi untuk pembelajaran suapaya menghasilkan kesan baru dan

9

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

inovatif terhadap pebelajaran di mata kuliah Pertolongan Pertama &
Pencegahan dan Perawatan Cedera Olahraga.

F. Menetapkan Tujuan Pembelajaran
Merumuskan tujuan belajar yang telah diidentifikasi berdasarkan

langkah” langkah terdahulu. kemudian disusun secara berurut dari hal yang
paling penting! Tujuan pembelajaran mencakup ranah kognitif, afektif, dan
psikomotorik (berdasarkan taksonomi Bloom) atau meliputi informasi
verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan psikomotorik
(taksonomi Gagne) (Dwiyogo, 2016:242).

Adapun tujuan dari perkuliahan Pertolongan Pertama & Pencegahan
dan Perawatan Cedera Olahraga (PP & PPCO) terdiri dari tujuan umum dan
tujuan khusus. Adapun tujuan umum perkuliahan adalah setelah selesai
mengikuti perkuliahan, mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan model-
model : konseptual, desain, implementasi dan evaluasi mengenai pencegahan
dan perawatan cedera; model-model yang diterapkan dan permasalahan yang
dihadapi dalam pelaksanaan model-model tersebut di Indonesia saat ini.

Adapun tujuan khusus dari mata kuliah Pertolongan Pertama &
Pencegahan dan Perawatan Cedera Olahraga (PP & PPCO) adalah sebagai
berikut.
1) Mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan berkaitan dengan:dasar

dasar cedera
2) Mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan berkaitan

dengan pertolongan pertama pada keadaan darurat
3) Mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan berkaitan

dengan penilaian korban
4) Mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan berkaitan dengan

mengenali anatomi dan faal dasar
5) Mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan berkaitan dengan tingkatan

cedera olahraga
6) Mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan berkaitan

dengan penyebab & pencegahan pada cedera olahraga
7) Mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan berkaitan

dengan perawatan dan penanganan cedera olahraga
8) Mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan berkaitan

dengan mencegah cedera dan penyakit karena olahraga

10

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

9) Mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan berkaitan
dengan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K)

10) Mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan berkaitan
dengan resusitasi jantung paru (RJP)
Berdasarkan tujuan umum dan tujuan khusus di atas maka apabila di

klasifikasikan maka tujuan pembelajaran mencakup ranah kognitif, afektif,
dan psikomotorik (berdasarkan taksonomi Bloom) atau meliputi informasi
verbal, keterampilan intelektual, strategi kognitif, sikap, dan psikomotorik
(taksonomi Gagne) tujuan pembelajaran matakuliah ini: Pengetahuan tentang
konsep atau prinsip-prinsip pengetahuan konsep Pertolongan Pertama dan
Pencegahan Cedera Olahraga. Penjabaran dari rumusan diatas, adalah
sebagai berikut:

Aspek Kognitif, dalam mata kuliah Pertolongan dan Pencegahan
Cedera Olahraga diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan:
1) Mahasiswa mampu menguasai pengetahuan tentang konsep Pertolongan

Pertama & Pencegahan dan Perawatan Cedera Olahraga.
2) Mahasiswa mampu menguasai pengetahuan tentang penyebab dan

penanganan terhadap cedera dalam olahraga.
3) Mahasiswa mampu menguasai pengetahuan tentang cara menolong dan

mencegah terjadinya cedera dalam olahraga.
4) Mahasiswa mampu menguasai pengetahuan tentang ilmu pendukung

ilmu keolahragaan dan kesehatan olahraga.
Aspek Psikomotor, dalam mata kuliah Pertolongan Pertama dan

Pencegahan Cedera Olahraga diharapkan mahasiswa mampu menjelaskan:
1) Mahasiswa mengimplikasikan konsep dasar pertolongan dan pencegahan

cedera olahraga ke dalam kegiatan pembelajaran.
2) Mahasiswa mengimplikasikan ilmu pendukung ilmu keolahragaan dan

jesehatan olahraga ke dalam kegiatan pembelajaran.
Aspek Afektif, dalam mata kuliah Pertolongan Pertama dan

Pencegahan Cedera Olahraga diharapkan mahasiswa bersikap: Mandiri,
disiplin, keberanian, tekun, sportif, percaya diri, saling menghargai dan
bertanggungjawab terhadap konsep yang di berikan dalam mata kuliah
Pertolongan Pertama & Pencegahan dan Perawatan Cedera Olahraga.

11

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

G. Memilih dan Menetapkan Strategi Pembelajaran
Menurut Dwiyogo (2016:243) dalam memilih dan menetapkan

strategi pembelajaran berbasis blended learning meliputi: organisasi isi,
penyampaian pembelajaran, dan strategi pengelolaan.Adapun Organisasi isi
yaitu untuk menguraikan langkah-langkah dalam mencapai tujuan
pembelajaran atau dengan kata lain menjabarkan tujuan pembelajaran
menjadi sub-sub kemampuan dan keahlian yang akan dicapai. Untuk
menjabarkan tujuan pembelajaran umum ke tujuan pembelajaran khusus
maka dilakukan analisis pembelajaran. Selanjutnya penyampaian
pembelajaran merupakan komponen variabel metode untuk melaksanakan
program pembelajaran. Sekurang-kurangnya ada 2 fungsi dari strategi ini,
yaitu: (1) menyampaikan isi pembelajaran kepada pebelajar, dan (2)
menyediakan informasi/bahan-bahan yang diperlukan pebelajar untuk
menampilkan unjuk-kerja (seperti latihan dan tes). Strategi penyampaian
mencakup lingkungan fisik, dosen, bahan-bahan pembelajaran, dan kegiatan-
kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran. Atau, dengan kata lain, media
merupakan satu komponen penting dari strategi penyampaian pembelajaran.
Itulah sebabnya, media pembelajaran merupakan bidang kajian utama
strategi ini. Sedangkan strategi pengelolaan ini berkaitan dengan
pengambilan keputusan tentang strategi pengorganisasian dan strategi
penyampaian mana yang digunakan selama proses pembelajaran, (1)
penjadwalan, (2) pembuatan catatan kemajuan belajar, (3) pengelolaan
motivasi, dan (4) kontrol belajar.

Pengajar sebagai komponen penting dalam kependidikan, memiliki
tugas untuk melaksanakan proses pembelajaran. Dalam pelaksanaan
pembelajaran guru diharapkan paham tentang bagaimana cara mengelola
pembelajaran dengan baik. Pengelolaan pembelajaran merupakan sesuatu
yang penting dalam pendidikan karena, tanpa pengelolaan yang baik maka
proses pembelajaran tidak akan terarah dengan baik sehinga tujuan
pembelajaran yang telah ditetapkan tidak akan tercapai secara optimal.

Sebelum pelaksanaan proses pembelajaran dikelas dilakukan,
pengajar terlebih dahulu harus menata, mengorganisasikan isi pembelajaran
yang akan diajarkan. Hal ini perlu dilakukan agar isi pembelajaran yang akan
diajarkan mdah dipahami siswa. Demikian pula selama proses pembelajaran,
pengajar atau dosen diharapkan mampu menumbuhkan, meningkatan, dan
mempertahankan motivasi belajar siswa. Tanpa adanya motivasi belajar

12

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

siswa yang tinggi, kiranya sulit bagi guru untuk mencapai hasil pembelajaran
yang optimal. Oleh karena itu, guru harus mampu menerapkan strategi
motivasional dalam tindak pembelajarannya. Pada hakikatnya program
pembelajaran betujuan tidak hanya memahami dan menguasai apa dan
bagaimana suatu terjadi, tetapi juga member pemahaman dan penguasaan
tentang mengapa hal itu terjadi. Berpijak pada permasalahan tersebut, maka
pembelajaran pemecahan masalah sangat penting unuk diajarkan.

Hubungannya, Strategi pembelajaran dipengaruhi oleh kondisi
pembelajaran. Strategi pengorgannisasian pembelajaran lebih banyak
dipengaruhi pleh tujuan pembelajaran dan karekteristik bidang studi. Strategi
penyampaian pembelajaran lebih banyak dipengaruhi oleh kendala dan
karakteristik pebelajar. Strategi pengelolaan pembelajaran lebih banyak
dipengaruhi oleh karakteristik pebelajar. Hal ini berarti strategi pembelajaran
apa yang akan diterapkan harus disesuaikan dengan kondisi yang ada. Hal ini
juga menunjukan bahwa tidak ada satupun atrategi pembelajaran yang sesuai
atau cocok diterapkan untuk semua bidang studi atau siswa.

Organisasi isi, langkah-langkah dalam mencapai tujuan pembelajaran
atau dengan kata lain menjabarkan tujuan pembelajaran menjadi sub-sub
bagian dan keahlian yang akan dicapai. Untuk menjabarkan tujuan
pembelajaran umum ke tujuan pembelajaran khusus maka dilakukan analisis
pembelajaran.

Proses yang diatur sedemikian rupa menurut langkah-langkah atau
aturan tertentu secara professional dan proporsional, sehingga pembelajaran
dapat berjalan dengan lancar, logis, wajar, sistematis, efektif dan efisien.
Oleh karena itu perencanaan pembelajaran memiliki fungsi dan kedudukan
yang sentral dalam suatu sistem pembelajaran, dan oleh karenanya
merencanakan pembelajaran termasuk kedalam salah satu tuntutan
kompetensi, terutama terkait dengan kompetensi profesional yang harus
dikuasai dan dimiliki setiap pengajar, baik guru pemula maupun pengajar
yang sudah senior sekalipun.

Organisasi pembelajaran yang efektif hanya dapat dibuat apabila isi
telah ditata dengan cara tertentu dan yang lebih penting, karena pada
hakikatnya semua isi memiliki prasyarat belajar yang sesuai dengan
kebutuhan pembelajaran. Berikut ini akan disajikan mengenai isi dari
perkuliahan Pembelajaran Pertolongan Pertama & Pencegahan dan

13

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

Perawatan Cedera Olahraga (PP & PPCO) berbasis blended learning untuk
mahasiswa Pendidikan Jasmani dan Olahraga.
1) Dasar dasar cedera
2) Pertolongan pertama pada keadaan darurat
3) Penilaian korban
4) Mengenali anatomi dan faal dasar
5) Tingkatan cedera olahraga
6) Penyebab & pencegahan pada cedera olahraga
7) Perawatan dan penanganan cedera olahraga
8) Mencegah cedera dan penyakit karena olahraga
9) Pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K)
10) Resusitasi jantung paru (RJP)

Tujuan khusus dengan sub kompetensi tersebut dijabarkan dalam
kompetnsi materi di atas. Mahasiswa mampu memahami dan
mengimplikasikan dalam kegiatan pembelajaran, perlu dikuasai dari aspek
kognitif, afektif dan psikomotor dalam memahami dan menganalisis mata
kuliah Pertolongan Pertama & Pencegahan dan Perawatan Cedera Olahraga.

Penyampaian pembelajaran. Strategi penyampaian isi pembelajaran
merupakan komponen variabel metode untuk melaksanakan program
pembelajaran. Sekurang-kurangnya ada 2 fungsi dari strategi ini, yaitu: (1)
menyampaikan isi pembelajaran kepada pebelajar, dan (2) menyediakan
informasi/bahan-bahan yang diperlukan pebelajar untuk menampilkan unjuk-
kerja (seperti latihan dan tes). Strategi penyampaian mencakup lingkungan
fisik, dosen, bahan-bahan pembelajaran, dan kegiatan-kegiatan yang
berkaitan dengan pembelajaran. Atau, dengan kata lain, media merupakan
satu komponen penting dari strategi penyampaian pembelajaran. Itulah
sebabnya, media pembelajaran merupakan bidang kajian utama strategi ini.
Penyampaian menggunakan cetak, audio, audiovisual, komputer, internet,
mobile.

Penyampaian isi pembelajaran di kelas, menggunakan tatap muka,
online (menggunakan pembelajaran menggunakan internet), offline
(pembelajaran tidak menggunakan jaringan internet), sedangkan
pembelajaran praktik lebih sering menggunakan tatap muka yang
disesuaikan dengan materi yang diberikan.

Strategi Pengelolaan. Strategi ini berkaitan dengan pengambilan
keputusan tentang strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian mana

14

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

yang digunakan selama proses pembelajaran, (1) penjadwalan, (2)
pembuatan catatan kemajuan belajar, (3) pengelolaan motivasi, dan (4)
kontrol belajar.

Proses kemajuan dengan penjadwalan pembelajaran yang disajikan
ke dalam 16 pertemuan, dengan pembagian parktek teori yang seimbang.
Pembuatan catatan kemajuan di lakukan setiap selesai pembelajaran, untuk
memantau kemajuan belajar baik yang dilakukan secara berkelompok, dan
individu oleh mahasiswa (pebelajar) dan pengajar. Pengelolaan motivasi
dilakukan kepada mahasiswa (pebelajar) pada saat pembelajaran
berlangsung, dengan memberikan reinforcement dan punishment sesuai
dengan umpan balik yang dilakukan oleh mahasiswa (pebelajar). Kontrol
belajar dilakukan oleh mahasiswa (pebelajar) dan pengajar yang saling
memberikan umpan balik dan pengajar memberikan review serta evaluasi
yang disesuaikan dengan materi.

Pengelolaan kelas tidak hanya berupa pengaturan kelas, fasilitas fisik
dan rutinitas, melainkan juga mengelola berbagai hal yang tercakup dalam
kompnen pembelajaran. Kegiatan pengelolaan kelas dimaksudkan untuk
menciptakan dan mempertahankan suasana dan kondisi kelas yang kondusif.
Sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan
efesien. Efektif berarti tercapainya tujuan sesuai dengan perencanaan yang
dibuat secara tepat. Efesin adalah pencapaian tujuan pembelajaran
sebagaimana yang direncanakan dengan lebih cepat. Kedua tujuan ini harus
dicapai dalam kelas, karena di kelaslah segala aspek pembelajaran bertemu
dan berproses. Pembelajar dengan segala kemampuannya, pebelajar denan
seala latar belakang dan sifat-sifat individualnya.

Kurikulum dengan segala komponennya, dan materi serta sumber
pelajaran dengan segala pokok bahasanya bertemu dan bepadu serta
berinteraksi di kelas. Bahkan hasil dari pendidikan secara keseluruhan sangat
ditentukan oleh apa yang terjadi di kelas. Oleh sebab itu sudah selakyaknya
kelas dikelola dengan baik, profesional, dan harus terus-menerus dalam
perbaikan (continoues improvment). Adapun strategi pengelolaan materi
Pembelajaran Pertolongan Pertama & Pencegahan dan Perawatan Cedera
Olahraga (PP & PPCO) berbasis blended learning disajikan dalam tabel 1
berikut.

15

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

PENYAJIAN ISI PEMBELAJARAN

Tabel 1. Strategi Pembelajaran PP & PPCO Berbasis Blended learning

TATAP MUKA OFF ON
LINE LINE
Topik Isi Dosen Presentasi Praktik
(Mahasiswa)

1 Pengantar  - -
Perkuliahan

(kontrak

perkuliahan)

2 Dasar-Dasar  - - 
Cedera

3 Pertolongan +   
Pertama Dalam
Keadaan
Darurat

4 Penilaian +  
Korban

5 Mengenali +   
Anatomi Dasar

6 Mengenali Faal +   
Dasar

7 Tingkatan +   
Cedera

Olahraga

8 Ujian Tengah  - -
Semester +   

9 Penyebab Dan
Pencegahan
Pada Cedera
Olahraga

10 Perawatan dan +   
Penanganan
Cedera
Olahraga

11 Penyakit +  - 
Karena
Olahraga 1

12 Penyakit +  - 
Karena
Olahraga 2

16

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

TATAP MUKA OFF ON
LINE LINE
Topik Isi Dosen Presentasi Praktik
(Mahasiswa)  

13 Pertolongan +    
Pertama Pada  

Kecelakaan

PPPK (P3K)

14 RJP (Resusitasi +  
Jantung Paru)

15 Rangkuman + - -

materi dan

tanya jawab

16 Ujian Akhir  - -
Semester

Keterangan:

 : Presentasi

+ : Melengkapi

- : Tidak ada presentasi mahasiswa

Kegiatan Penyajian Isi Pembelajaran:
1) Presentasi baik individual maupun kelompok dipimpin oleh seorang

moderator yang mengatur jalannya presentasi, tanya jawab, maupun
komentar dosen untuk melengkapi makalah yang disajikan baik berkaitan
dengan substansi isi maupun format penyajian.
2) Presentasi yang dilakukan oleh penyaji utama dengan alokasi waktu
paling lama 20 menit, dilanjutkan dengan tanya jawab dengan peserta
dan komentar dari dosen pembina paling lama 15 menit. Selanjutnya
2x45 menit waktu yang tersisa digunakan untuk praktik mengenai materi
presentasi saat itu.
3) Peserta diskusi menilai yang presentasi penyaji yang menyajikan yang
meliputi: teknik presentasi, penguasaan materi yang disajikan, wawasan
pengetahuan dalam menjawab pertanyaan, dan kemampuan komunikasi
ilmiah yang ditampilkan, kemutakhiran sumber.
4) Moderator melaporkan hasil penilaian dari peserta diskusi diserahkan
kepada ketua kelas paling lambat 1 (satu) minggu setelah presentasi
disajikan. Ketua kelas menyerahkan kepada dosen pembina pada akhir
semester.

17

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

FORMAT PENILAIAN PRESENTASI

Nama Mahasiswa/ Kelompok : ……………………………………………

Mata Kuliah : ……………………………………………
Hari / Tanggal : ……………………………………………

Skor
NO Aspek

12345

Kemenarika presentasi (Power Point/ 12345
1

sejenisnya)

2 Isi Makalah 12345

3 Penguasaan isi 12345

4 Wawasan pengetahuan dalam menjawab 1 2 3 4 5
pertanyaan

5 Kemampuan komunikasi ilmiah 12345

6 Kemutakhiran sumber 12345

SKOR RATA-RATA

Keterangan:
Lingkari skor yang diberikan penilai

Yang menilai,

( ___________________ )
Format Penilaian Praktik

Penilaian yang dilakukan kepada mahasiswa merupakan penilaian
objektif dan terukur sesuai kemampuan dan partisipasi setiap mahasiswa.
Pada setiap pertemuan, tim asisten dosen akan melakukan penilaian dan
dicantumkan pada kolom penilaian di modul mahasiswa. Sehingga anda
dapat mengetahui tingkat kemajuan kemampuan menguasai cara
memberikan Pertolongan Pertama & Pencegahan dan Perawatan Cedera
Olahraga.

Hasil penilaian pada pertemuan ketujuh ini perlu anda perhatikan
dengan baik, karena hasil penilaian ini merupakan gambaran sementara
tingkat kemampuan kemampuan menguasai cara memberikan Pertolongan

18

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

Pertama & Pencegahan dan Perawatan Cedera Olahraga anda. Berikut ini
merupakan penilaian kemampuan praktik cara memberikan Pertolongan
Pertama & Pencegahan dan Perawatan Cedera Olahraga:
Tugas kegiatan praktik mahasiswa
 Mahasiswa memperhatikan penjelasan, arahan dan contoh materi

perkuliahan dari dosen atau pemateri.
 Mahasiswa diberikan waktu untuk bertanya mengenai konsep-konsep

yang kurang jelas
 Mahasiswa dapat menjelaskan dan mempraktikan materi yang dibahas

sebelumnya
 Dosen melakukan evaluasi hasil kegiatan pembelajaran/perkuliahan

FORMAT PENILAIAN PRAKTIK

No. Kriteria Penilaian Nilai Bobot Nilai
(%)
1 Pertolongan Pertama Dalam
Keadaan Darurat

2 Penilaian Korban

3 Mengenali Anatomi Dasar

4 Mengenali Faal Dasar

5 Tingkatan Cedera Olahraga

6 Penyebab dan Pencegahan Pada
Cedera Olahraga

7 Perawatan dan Penanganan Cedera
Olahraga

8 Pertolongan Pertama Pada
Kecelakaan PPPK (P3K)

9 RJP (Resusitasi Jantung Paru)

Total Nilai

Tandatangan Dosen Atau Asisten
Dosen

19

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

Refleksi/ Catatan Kemajuan Belajar
Refleksi atau catatan kemajuan belajar wajib di miliki oleh

mahasiswa. Setiap mahasiswa mencatat setiap materi tentang keberhasilan
mencapai kompetensi belajar, menuliskan kendala atau permasalahan yang
dihadapi, sumber belajar yang digunakan kemudian merangkum alternatif
yang digunakan dalam mencapai tujuan. Refleksi kemajuan belajar ini
dilakukan dengan membentuk kelompok. Setiap kelompok yang terdiri dari
minimal 3 mahasiswa dan maksimal 5 mahasiswa. Sehingga dari tabel
tersebut mahasiswa bisa menganalisis dan aktif dalam mengevaluasi
kelompok belajar secara mandiri, kemudian ditunjukkan kepada dosen
(pengajar) guna mendapatkan saran untuk evaluasi diri. Untuk lebih jelasnya
bisa dituliskan dalam bentuk tabel seperti berikut:

SK & KD SK & KD Yang Kendala/ Sumber Solusi
NO Nama Yang Belum Dikuasai Masalah Belajar
Menyebutkan Yang Yang
Telah Alasan Dihadapi digunakan
Dikuasai

1
2
3
4
5
Dst.

Kontrol Pembelajaran
Kontrol Pembelajaran dilakukan dengan tugas pembelajaran: Setiap

mahasiswa dinyatakan berhasil menyelesaikan mata kuliah teori dan parktek,
apabila mengikuti sekurang-kurangnya 80% program kegiatan pembelajaran
yang telah dirancang baik tatap muka dikelas, presentasi, tugas individu, dan
tugas lain yang telah disepakati bersama pada awal pembelajaran.

Tugas Individu:
1. Membuat makalah dan menyajikan 1 makalah kelompok. Jadwal

penyajian sesuai dengan program pembelajaran yang telah dirancang.
2. Mengerjakan soal-soal yang diberikan pembina mata kuliah pada setiap

pertemuan sesuai agenda pembahasan. Dikumpulkan pada pertemuan
selanjutnya.

20

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

Nilai Hasil Belajar Siswa
Penilian meliputi aspek pembelajaran: Partisipasi dalam pelaksanaan

program, tugas-tugas, dan ujian. Peluang pencapaian menggunakan acuan
klasifikasi kualitas A sampai D. Contoh sebagai berikut:
 Nilai A: Apabila siswa mengikuti program kegiatan pembelajaran

sekurang-kurangnya 80%. Mengikuti ujian tengah semester dan ujian
akhir semester. Menyelesaikan tugas (makalah) individu / kelompok
sesuai waktu yang telah ditetapkan. Kualitas makalah dinilai oleh peserta
lainnya dan dosen matakuliah.
 Nilai D: Apabila mengikuti kurang dari 80%. Tidak mengikuti ujian
tengah semester dan ujian akhir semester. Tidak menyelesaikan tugas
individu atau tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.

H. Mengembangkan Sumber Belajar
Sumber belajar untuk memfasilitasi belajar bagi pebelajar pada

pembelajaran berbasis blended learning pada dasarnya terdiri atas: tatap
muka, offline, dan online. Dalam tahap ini akan dilakukan pemilihan media
sebagai sumber belajar sesuai ketersediaan teknologi dalam lingkungan
belajar yang dianggap terbaik dalam menyampaikan informasi atau materi
pembelajaran. Analisis ini didasarkan pada ketersediaan dan akses teknologi
dalam lingkungan belajar, kedekatan pebelajar dan kemudahan dalam
menggunakan terknologi tersebut, serta kemampuan media dalam
menyampaikan materi. Dari hasil analisis ini akan ditentukan media yang
paling cocok untuk dikembangkan.

Untuk mengembangkan sumber belajar, dilakukan dalam 4 tahap,
yaitu: 1) pembuatan storyboard, dalam tahap ini perancang menggambarkan
proses penyajian materi dalam bentuk gambar untuk memperjelas program
yang akan diproduksi. Proses ini merupakan menyusun bagian-bagian visual
(tampilan) dan audio sehingga menjadi urutan yang sesuai untuk tahapan
pembelajaran. 2) Tahap produksi, dalam tahapan ini melakukan
memproduksi setiap elemen program yang kemudian setiap elemen
disatukan menjadi satu bentuk program. 3) Tahap uji coba dan review
program dilakukan dalam tiga tahap, yaitu: review editorial, fungsi, teknis.
Dalam review editorial dilakukan review terhadap kesalahan-kesalahan
penulisan kata. Uji coba berfungsi untuk memeriksa kesalahan program
seperti fungsi tombol dan sebagainya. Review teknis dilakukan untuk

21

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

memastikan bahwa koreksi-koreksi terhadap program dilakukan dengan
benar. 4) Implementasi merupakan tahap penerapan media dalam kegiatan
pembelajaran. Dalam tahap pengembangan ini digunakan beberapa
perangkat lunak untuk memproduksi multimedia, Untuk antarmuka tampilan
dapat menggunakan perangkat lunak VideoMakerFX. Perangkat lunak ini ini
mampu membuat antarmuka yang interaktif dengan animasi-animasi pada
setiap elemen tampilan. Untuk tampilan keseluruhan multi media interaktif
digunakan perangkat lunak AutoPlay Studio Versi 8. Perekaman video akan
dilakukan berbasiskan tampilan desktop dengan menggunakan perangkat
lunak ScreenCast O-Matic. Sedangkan untuk tampilan e-book dengan
menggunakan perangkat lunak Ncesoft Flip Book Maker (Dwiyogo,
2016:243-244).

Pembelajaran merupakan suatu proses yang sistematik yang meliputi
banyak komponen. Komponen tersebut antara lain adalah tujuan, bahan
pelajaran, metode, alat dan sumber belajar serta evaluasi. Sumber belajar dan
bahan ajar merupakan suatu unsur yang memiliki peranan penting
dalammenentukan proses belajar agar pembelajaran menjadi efektif dan
efisien dalam pencapaian tujuan. Sebuah kegiatan belajar mengajar akan
lebih efektif dan efisien dalamusaha pencapaian tujuan instruksional jika
melibatkan komponen proses belajar secara terencana, sebab sumber belajar
sebagai komponen penting dan sangat besar manfaatnya.

Berdasarkan dengan pengertian di atas, sumber belajar dan bahan
yang terdapat di dalam laboratorium komputer antara lain sebagai tempat
menyajikan materi pembelajaran lainnya. Sebagai alat, laboratorium
komputer dapat dijadikan pengganti guru untuk menjelaskan materi melalui
pemutaran CD pendidikan di komputer. Selain itu, laboratorium komputer
juga dapat dijadikan alat bantu menyelesaikan tugas guru atau siswa yang
bisa diselesaikan melalui penggunaan komputer.

Sumber belajar untuk memfasilitasi belajar bagi pebelajar pada
pembelajaran berbasis blended learning pada dasarnya terdiri atas: tatap
muka, offline, dan online. Dalam tahap ini akan dilakukan pemilihan media
sebagai sumber belajar sesuai ketersediaan teknologi dalam lingkungan
belajar yang dianggap terbaik dalam menyampaikan informasi atau materi
pembelajaran. Analisis ini didasarkan pada ketersediaan dan akses teknologi
dalam lingkungan belajar, kedekatan pebelajar dan kemudahan dalam
menggunakan terknologi tersebut, serta kemampuan media dalam

22

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

menyampaikan materi. Dari hasil analisis ini akan ditentukan media yang
paling cocok untuk dikembangkan.
I. Uji coba

Evaluasi yang dilakukan merupakan evaluasi formatif yang bertujuan
untuk memperbaiki. Dalam penelitian ini yang akan dilakukan adalah
evaluasi formatif, sehingga evaluasi hanya sebatas review para ahli, uji coba
perorangan, kelompok kecil, maupun lapangan (Dwiyogo, 2016:244).
Adapun uji coba dalam penelitian pengembangan pembelajaran PP & PPCO
berbasis blended learning adalah sebagai berikut.
1) Uji coba produk perorangan dilakukan pada ahli isi, pembelajaran, dan

media yang berkaitan dengan matakuliah Teori dan Praktik Pertolongan
Pertama & Pencegahan dan Perawatan Cedera Olahraga.
2) Merevisi hasil uji coba (sesuai dengan hasil uji coba perorangan).
3) Uji coba kelompok kecil (dilakukan pada mahasiswa yang mengikuti
matakuliah Teori dan Praktik Pertolongan Pertama & Pencegahan dan
Perawatan Cedera Olahraga dengan menggunakan 5-7 subjek).
4) Merevisi hasil uji coba (sesuai dengan hasil uji coba perorangan).
5) Uji lapangan utama (dilakukan pada yang mengikuti matakuliah Teori
dan Praktik Pertolongan Pertama & Pencegahan dan Perawatan Cedera
Olahraga dengan menggunakan 30 subjek).

Diagram Evaluasi untuk Uji Coba

23

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

J. Revisi
Berdasarkan uji coba yang dilakukan baik uji ahli maupun uji

perorangan, kelompok kecil, dan lapangan akan diperoleh informasi pada
bagian mana pada setiap tahapan rancangan pembelajaran yang masih perlu
diperbaiki. Pengembangan pembelajaran kemudian diperbaiki dan
dikonfirmasikan lagi kepada yang memberi saran perbaikan (Dwiyogo,
2016:244). Dengan demikian setiap masukan dan saran dari uji coba
digunakan sebagai dasar untuk revisi produk yang dikembangkan berupa
pembelajaran PP & PPCO berbasis blended learning untuk mahasiswa PJK.

K. Prototipe Pembelajaran Berbasis Blended learning

Setelah proses perbaikan dilakukan dan dikonfirmasi kembali, hasil

dari rancangan tersebut merupakan prototipe yang dapat dilaksanakan untuk

kepentingan pembelajaran berbasis blended learning untuk hasil belajar

pemecahan masalah (Dwiyogo, 2016:244).

Dari sembilan langkah yang telah dilakukan maka prototipe

pembelajaran mata kuliah PP dan PPCO berbasis blended learning memiliki

spesifikasi sebagai berikut:

Tatap muka : Buku

Offline : Multimedia interaktif

Online : Edmodo

Hasil akhir adalah rancangan program mata kuliah Pertolongan

Pertama & Pencegahan dan Perawatan Cedera Olahraga (PP & PPCO) untuk

mahasiswa jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (PJK) Fakultas Ilmu

Keolahragaan Universitas Negeri Malang.

24

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

BAB 1
DASAR-DASAR CEDERA

A. Pengertian Cedera
Cedera adalah suatu akibat daripada gaya-gaya yang bekerja pada

tubuh atau sebagian daripada tubuh dimana melampaui kemampuan tubuh
untuk mengatasinya, gaya-gaya ini bisa berlangsung dengan cepat atau
jangka lama. Dapat dipertegas bahwa hasil suatu tenaga atau kekuatan yang
berlebihan dilimpahkan pada tubuh atau sebagian tubuh sehingga tubuh atau
bagian tubuh tersebut tidak dapat menahan dan tidak dapat menyesuaikan
diri. Harus diingat bahwa setiap orang dapat terkena celaka yang bukan
karena kegiatan olahraga, biarpun kita telah berhati-hati tetapi masih juga
celaka, tetapibila kita berhati-hati kita akan bisa mengurangi resiko celaka
tersebut

Sport Injuries ialah segala macam cedera yang timbul, baik pada
waktu latihan maupun pada waktu berolahraga (pertandingan) ataupun
sesudahnya, dan tulang, otot, tendon, serta ligamentum. Olahraga bertujuan
untuk menyehatkan badan, memberi kebugaran jasmani selama cara-cara
melakukannya sudah dalam kondisi yang benar. Apakah semua macam
olahraga bisa menimbulkan cedera? tentu ini tergantung dari macamnya
olahraga, dari olahraga jalan santai, tenis meja (pimpong), balapan (racing),
tentu memberikan resiko yang berbeda.

Adapun pengertian cedera dapat diartikan sebagai suatu akibat
daripada gaya-gaya yang yang bekerja pada tubuh atau sebagian daripada
tubuh dimana melampaui kemampuan tubuh untuk mengatasinya, gaya-gaya
ini bisa berlangsung dengan cepat atau jangka lama.

Seseorang melakukan olahraga dengan tujuan untuk mendapatkan
kebugaran jasmani, kesehatan maupun kesenangan bahkan ada yang sekedar
hobby, sedang atlet baik amatir dan profesional selalu berusaha mencapai
prestasi sekurang-kuragnya utuk menjadi juara tidak menutup kemungkinan
akan mengalami cedera. Namun adapun beberapa faktor yang mempunyai
peran perlu diperhatikan agar dapat memperkecil cedera antara lain:
1. Usia Kesehatan Kebugaran

Menurut pengetahuan yang ada pada saat ini, apa yang disebut proses
digenerasi mulai berlangung pada usia 30 tahun, dan fungsi tubuh akan
berkurang 1% pertahun (Rule of One), ini berarti bahwa kekuatan dan
kelentukan jaringan akan mulai berkurang akibat proses degenerasi, selain

25

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

itu jaringan jadi rentan terhadap trauma. Untuk mempertahankan kondisi
agar tidak terjadi pengurangan fungsi tubuh akibat degenerasi, maka
“exercise”/latihan sangat diperlukan guna mencegah timbulnya Atrofi,
dengan demikian jelas bahwa usia memegang peranan.
2. Jenis Kelamin
Sistem hormon dalam tubuh pria berbeda dengan wanita, demikian pula
bentuk tubuh, mengingat perbedaan dan perubahan fisik, maka tidak
semua jenis olahraga cocok untuk semua golongan, usia/jenis kelamin.
Hal ini apabila dipaksakan, maka akan timbul cedera yang sifatnya pun
juga tertentu untuk jenis olahraga tertentu.
3. Jenis Olahraga
Kita tahu bahwa tiap macam olahraga; apapun jenisnya, mempunyai
peraturan permainan tertentu dengan tujuan agar tidak menimbulkan
cedera, peraturan tersebut merupakan salah satu upaya mencegahnya.
4. Pengalaman Teknik Olahraga
Untuk melaksanakan olahraga yang baik agar tujuan tertentu tercapai
perlupersiapan dan latihan antara lain:
 Metode atau cara latihanya
 Tekniknya agar tidak terjadi “over use”
5. Sarana/Fasilitas
Walaupun telah diusahakan dengan baik kemungkinan cedera masih
mungkin timbul akibat sarana yang kurang memadai.
6. Gizi
Olahraga memerlukan tenaga dan untuk itu perlu gizi yang baik, selain itu
gizi menentukan kesehatan dan kebugaran.

B. Pengertian Cedera Olahraga
Kegiatan olahraga yang sekarang terus dipacu untuk dikembangkan

dan ditingkatkan bukan hanya olahraga prestasi atau kompetisi, tetapi
olahraga juga untuk kebugaran jasmani secara umum. Kebugaran jasmani
tidak hanya punya keuntungan secara pribadi, tetapi juga memberikan
keuntungan bagi masyarakat dan negara. Oleh karena itu kegiatan olahraga
sekarang ini semakin mendapat perhatian yang luas.

Bersamaan dengan meningkatnya aktivitas keolahragaan tersebut,
korban cedera olahraga juga ikut bertambah. Sangat disayangkan jika hanya

26

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

karena cedera olahraga tersebut para pelaku olahraga sulit meningkatkan
atau mempertahankan prestasi.

“Cedera Olahraga” adalah rasa sakit yang ditimbulkan karena
olahraga, sehingga dapat menimbulkan cacat, luka dan rusak pada otot atau
sendi serta bagian lain dari tubuh.

Cedera olahraga jika tidak ditangani dengan cepat dan benar dapat
mengakibatkan gangguan atau keterbatasan fisik, baik dalam melakukan
aktivitas hidup sehari-hari maupun melakukan aktivitas olahraga yang
bersangkutan. Bahkan bagi atlit cedera ini bisa berarti istirahat yang cukup
lama dan mungkin harus meninggalkan sama sekali hobi dan profesinya.
Oleh sebab itu dalam penaganan cedera olahraga harus dilakukan secara tim
yang multidisipliner.

Dalam ilmu kedokteran sangat jelas bahwa dengan olahraga yang
teratur memegang peranan untuk memperoleh badan yang sehat,
menghindari penyakit-penyakit seperti penyakit jantung, serta menunda
proses-proses degeneratif yang tidak bisa dihindari oleh proses penuaan.
Keadaan akan pentingnya serta keuntungan yang diakibatkan oleh olahraga
adalah sesuai dengan perubahan-perubahan kondisi sosial dan ekonomi bila
kita menilai beragam olahraga, ada permainan-permainan tertentu yang yang
bersifat kompetitif untuk dipertandingkan dimana masing-masing individu
harus bisa mencapai prestasi maksimal untuk mencapai kemenangan, ini
yang sering mengundang terjadinya cedera olahraga, namun dapat dihindari
bila faktor-faktor penyebab serta peralatan olahraga tersebut diperhatikan.

Kegiatan olahraga sekarang ini benar-benar telah menjadikan bagian
masyarakat kita, baik masyarakat atau golongan dengan sosial ekonomi yang
rendah sampai yang lebih baik, telah menyadari kegunaan akan pentingnya
latihan-latihan yang teratur untuk kesegaran dan kesehatan jasmani dan
rohani. Seperti apayang diungkapkan Hippocrates (460-377 S M), bila tiap
individu memperoleh makanan yang cukup dan latihan yang cukup pula,
tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, kita akn memperoleh kesehatan
dengan cara yang aman.

Lebih dari 2.000 tahun yang lalu Hipocrates menulis: “if we could
give every individual the right a mount of naurisment and exercise, not too
little and not too much, we would have found the safest way to health”

27

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

Dapat dipertegas bahwa hasil suatu tenaga atau kekuatan yang
berlebihan dilimpahkan pada tubuh atau sebagian tubuh sehingga tubuh atau
bagian tubuh tersebut tidak dapat menahan atau meneyesuaikan diri.

Harus diingat bahwa semua orang dapat terkena celaka yang bukan
karena kegiatan olahraga, biarpun kita telah berhati-hati masih juga celaka,
tetapi bila kita berhati-hati kita akan bisa mengurangi resiko cedera tersebut.

C. Macam-Macam Cedera Olahraga
Didalam menangani cedera olahraga (sport injury) agar terjadi

pemulihan seorang atlit untuk kembali melaksanakan kegiatan dan kalau
perlu ke prestasi puncak sebelum cedera.

Kita ketahui penyembuhan penyakit atau cedera memerlukan waktu
penyembuhan yang secara alamiah tidak akan sama untuk semua alat (organ)
atau sistem jaringan ditubuh, selain itu penyembuhan juga tergantung dari
derajat kerusakan yang diderita, cepat lambat serta ketepatan
penanggulangan secara dini.

Dengan demikian peran seseorang yang berkecimpung dalam
kedokteran olahraga perlu bekal pengetahuan mengenai penyembuhan luka
serta cara memberikan terapi agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih
parah, sehingga penyembuhan serta pemulihan fungsi, alat dan sistem
anggota yang cedera dapat dicapai dalam waktu singkat untuk mencapai
prestasi kembali, maka latihan untuk pemulihan dan peningkatan prestasi
sangat diperlukan untuk mempertahankan kondisi jaringan yang cedera agar
tidak terjadi penecilan otot (atropi).

Agar selalu tepat dalam menangani kasus cedera maka sangat
diperlukan adanya pengetahuan tentang macam-macam cedera. Cedera
olahraga dapat digolongkan 2 kelompok besar :
1. Kelompok kerusakan traumatik (traumatic disruption) seperti : lecet,

lepuh, memar, leban otot, luka, “stram” otot, “sprain” sendi, dislokasi
sendi, patah tulang, trauma kepala-leher-tulang belakang, trauma tulang
pinggul, trauma pada dada, trauma pada perut, cedera anggota gerak atas
dan bawah.
2. Kelompok “sindroma penggunaan berlebihan” (over use syndromes),
yang lebih spesifik yang berhubungan dengan jenis olahraganya, seperti :
tenis elbow, golfer’s elbow swimer’s shoulder, jumper’s knee, stress
fracture pada tungkai dan kaki.

28

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

D. Klasifikasi Cedera Olahraga
Secara umum cedera olahraga diklasifikasikan menjadi 3 macam,

yaitu :
1. Cedera tingkat 1 (cedera ringan)

Pada cedera ini penderita tidak mengalami keluhan yang serius,
namun dapat mengganggu penampilan atlit. Misalnya: lecet, memar, sprain
yang ringan.
2. Cedera tingkat 2 (cedera sedang)

Pada cedera tingkat kerusakan jaringan lebih nyata berpengaruh pada
performance atlit. Keluhan bias berupa nyeri, bengkak, gangguan fungsi
(tanda-tanda inplamasi) misalnya: lebar otot, straing otot, tendon-tendon,
robeknya ligament (sprain grade II).
3. Cedera tingkat 3 (cedera berat)

Pada cedera tingkat ini atlit perlu penanganan yang intensif, istirahat
total dan mungkin perlu tindakan bedah jika terdapat robekan lengkap atau
hamper lengkap ligament (sprain grade III) dan IV atau sprain fracture) atau
fracture tulang.
4. Strain dan Sprain

Strain dan sprain adalah kondisi yang sering ditemukan pada cedera
olahraga. Strain adalah menyangkut cedera otot atau tendon. Straing dapat
dibagi atas 3 tingkat, yaitu :
a) Tinkat 1 (ringan)

Straing tingkat ini tidak ada robekan hanya terdapat kondisi inflamasi
ringan, meskipun tidak ada penurunan kekuatan otot, tetapi pada kondisi
tertentu cukup mengganggu atlit. Misalnya straing dari otot hamstring (otot
paha belakang) akan mempengaruhi atlit pelari jarak pendek (sprinter), atau
pada baseball pitcher yang cukup terganggu dengan strain otot-otot lengan
atas meskipun hanya ringan, tetapi dapat menurunkan endurance (daya
tahannya).
b) Tingkat 2 (sedang)

Strain pada tingkat 2 ini sudah terdapat kerusakan pada otot atau
tendon, sehingga dapat mengurangi kekuatan atlit.
c) Tingkat 3 (berat)

Straing pada tingkat 3 ini sudah terjadi rupture yang lebih hebat
sampai komplit, pada tingkat 3 diperlukan tindakan bedah (repair) sampai
fisioterapi dan rehabilitasi.

29

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

Sprain adalah cedera yang menyangkut cedera ligament. Sprain dapat
dibagi 4 tingkat, yaitu :
a) Tingkat 1 (ringan)

Cedera tingkat 1 ini hanya terjadi robekan pada serat ligament yang
terdapat hematom kecil di dalam ligamen dan tidak ada gangguan fungsi.
b) Tingkat 2 (sedang)

Cedera sprain tingkat 2 ini terjadi robekan yang lebih luas, tetapi 50%
masih baik. Hal ini sudah terjadi gangguan fungsi, tindakan proteksi harus
dilakukan untuk memungkinkan terjadinya kesembuhan. Imobilisasi
diperlukan 6-10 minggu untuk benar-benar aman dan mungkin diperlukan
waktu 4 bulan. Seringkali terjadi pada atlit memaksakan diri sebelum
selesainya waktu pemulihan belum berakhir dan akibatnya akan timbul
cedera baru lagi.
c) Tingkat 3 (berat)

Cedera sprain tingkat 3 ini terjadinya robekan total atau lepasnya
ligament dari tempat lekatnya dan fungsinya terganggu secara total. Maka
sangat penting untuk segera menempatkan kedua ujung robekan secara
berdekatan.
d) Tingkat 4 (Sprain fraktur)

Cedera sprain tingkat 4 ini terjadi akibat ligamennya robek dimana
tempat lekatnya pada tulang dengan diikuti lepasnya sebagian tulang
tersebut.

E. Penyebab Cedera Olahraga
Beberapa faktor penting yang ada perlu diperhatikan sebagai penyebab
cedara olahraga.
1. Faktor olahragawan/olagragawati
a. Umur

Faktor umur sangat menentukan karena mempengaruhi kekuatan
serta kekenyalan jaringan. Misalnya pada umur 30-40 tahun raluman
kekuatan otot akan relative menurun. Elastisitas tendon dan ligament
menurun pada usia 30 tahun. Kegiatan-kegiatan fisik mencapai puncaknya
pada usia 20-40 tahun.
b. Faktor pribadi

Kematangan (motoritas) seorang olahraga akan lebih mudah dan
lebih sering mengalami cedera dibandingkan dengan olahragawan yang
sudah berpengalaman.

30

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

c. Pengalaman
Bagi atlit yang baru terjun akan lebih mudah terkena cedera

dibandingkan dengan olahragawan atau atlit yang sudah berpengalaman.
d. Tingkat latihan

Betapa penting peran latihan yaitu pemberian awal dasar latihan fisik
untuk menghindari terjadinya cedera, namun sebaliknya latihan yang terlalu
berlebihan bias mengakibatkan cedera karena “over use”.
e. Teknik

Perlu diciptakan teknik yang benar untuk menghindari cedera. Dalam
melakukan teknik yang salah maka akan menyebabkan cedera.
f. Kemampuan awal (warming up)

Kecenderungan tinggi apabila tidak dilakukan dengan pemanasan,
sehingga terhindar dari cedera yang tidak di inginkan. Misalnya : terjadi
sprain, strain ataupun rupture tendon dan lain-lain.
g. Recovery period

Memberi waktu istirahat pada organ-organ tubuh termasuk sistem
musculoskeletal setelah dipergunakan untuk bermain perlu untuk recovery
(pulih awal) dimana kondisi organ-organ itu menjadi prima lagi, dengan
demikaian kemungkinan terjadinya cedera bisa dihindari.
h. Kondisi tubuh yang “fit”

Kondisi yang kurang sehat sebaiknya jangan dipaksakan untuk
berolahrag, karena kondisi semua jaringan dipengaruhi sehingga
mempercepat atau mempermudah terjadinya cedera.
i. Keseimbangan Nutrisi

Keseimbangan nutrisi baik berupa kalori, cairan, vitamin yang cukup
untuk kebutuhan tubuh yang sehat.
j. Hal-hal yang umum

Tidur untuk istirahat yang cukup, hindari minuman beralkohol, rokok
dan yang lain.
2. Peralatan dan Fasilitas

Peralatan : bila kurang atau tidak memadai, design yang jelek dan kurang
baik akan mudah terjadinya cedera.

Fasilitas : kemungkinan alat-alat proteksi badan, jenis olahraga yang bersifat
body contack, serta jenis olahraga yang khusus.

31

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

3. Faktor karakter dari pada olahraga tersebut
Masing-masing cabang olahrag mempunyai tujuan tertentu. Missal

olahraga yang kompetitif biasanya mengundang cedera olahraga dan
sebagainya, ini semua harus diketahui sebelumnya.

Latihan Soal

Petunjuk Mengerjakan
Berilah tanda silang (x) pada huruf A, B, C, D, atau E di depan jawaban yang
benar.

1. Segala macam cedera yang timbul, baik pada waktu latihan maupun
pada waktu berolahraga (pertandingan) ataupun sesudahnya, dan
tulang, otot, tendon, serta ligament disebut...
A. Injuries
B. Sport Injuries
C. Injuries Centre
D. Salah Semua
E. Ligamen Injuries

2. Menyehatkan badan, memberi kebugaran jasmani selama cara-cara
melakukannya sudah dalam kondisi yang benar. Penyataan tersebut
merupakan...
A. Tujuan Olahraga
B. Manfaat Olahraga
C. Fungsi Olahraga
D. Efek Olahraga
E. Dampak Olahraga

3. Sebagai suatu akibat daripada gaya-gaya yang yang bekerja pada tubuh
atau sebagian daripada tubuh dimana melampaui kemampuan tubuh
untuk mengatasinya. Pernyataan tersebut merupakan...
A. Luka
B. Pengertian Strain
C. Sprain
D. Pengertian Cedera
E. Dislokasi Sendi

4. Beberapa faktor yang mempunyai peran perlu diperhatikan agar dapat

32

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

memperkecil cedera antara lain...
A. Sarana Fasilitas
B. Jenis Kelamin
C. Usia
D. A dan C
E. Semua Benar
5. Dalam ilmu kedokteran sangat jelas bahwa dengan olahraga yang
teratur memegang peranan...
A. Untuk memperoleh badan yang sehat
B. Menghindari penyakit-penyakit
C. Menunda proses-proses degeneratif yang tidak bisa

dihindari oleh proses penuaan
D. Semua Jawab Benar
E. A dan B
6. Kegiatan olahraga sekarang ini benar-benar telah menjadikan bagian
masyarakat kita, baik masyarakat atau golongan dengan sosial ekonomi
yang rendah sampai yang lebih baik, telah menyadari kegunaan akan
pentingnya latihan-latihan yang teratur untuk...
A. Menghindari cedera
B. Menjaga stamina
C. Kesegaran dan kesehatan jasmani dan rohani
D. Meningkatkan kemampuan
E. Benar semua
7. Rasa sakit yang ditimbulkan karena olahraga, sehingga dapat
menimbulkan cacat, luka, dan rusak pada otot atau sendi serta bagian
lain dari tubuh disebut...
A. Kram
B. Cedera olahraga
C. Sprain
D. Strain
E. Ligamen
8. Cedera olahraga apabila tidak ditangani dengan cepat dan benar dapat
mengakibatkan...
A. Infeksi pada bagian yang cedera
B. Cedera semakin parah
C. Memar dan nyeri

33

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

D. Gangguan atau keterbatasan fisik
E. Semua benar
9. Cedera olahraga yang termasuk dalam kelompok kerusakan traumatik
(traumatic disruption) yaitu...
A. Sprain sendi
B. Stress fracture
C. Tenis elbow
D. A dan B
E. Benar semua
10. Cedera olahraga yang termasuk dalam kelompok “sindroma
penggunaan berlebihan” (overuse syndromes), yaitu...
A. Cedera anggota gerak atas dan bawah
B. Sprain sendi
C. Jumper's knee
D. B dan C
E. Benar semua

34

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

BAB 2
PERTOLONGAN PERTAMA PADA KEADAAN DARURAT

A. Konsep Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD)
Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat (PPGD) adalah

serangkaian usaha-usaha pertama yang dapat dilakukan pada kondisi gawat
darurat dalam rangka menyelamatkan pasien dari kematian.

Penolong pertama adalah masyarakat awam yang sudah dibekali
pengetahuan teori dan praktek bagaimana merespon dan melakukan
pertolongan pertama di lokasi kejadian
 Kita tidak dapat selalu mengandalkan layanan ambulan atau para medik

segera tiba dilokasi kejadian
 Alat dan waktu yang kita miliki terbatas

Tujuan pertolongan pertama adalah:
1. menyelamatkan nyawa korban
2. Meringankan penderitaan korban
3. Mencegah cedera/penyakitmenjadi lebih parah
4. Mempertahankan daya tahan korban
5. Mencarikan pertolongan yang lebih lanjut

Rantai penyelamatan rantai penyelamatan adalah konsep yang
menjelaskan tahapan secara prioritas untuk memastikan korban memiliki
kesempatan terbaik untuk bertahan hidup. Realita menunjukkan bahwa bila
kita dapat segera mengidentifikasi masalah, akses dini ke unit gawat darurat
dan memberikan bantuan dengan benar dan baik kepada korban maka besar
pula kesempatan korban terselamatkan

Akses dini (rantai pertama), keadaan darurat diketahui dan
melaksanakan prosedur keadaan darurat. Saksi mata yang mengetahui
kejadian menghubungi pihak yang berwenang (bila di tempat kerja sesuai
dengan prosedur keadaan darurat yang sudah ditetapkan)
pelaporan berisi :
 Nama pelapor
 Lokasi kejadian
 Kondisi korban (sadar/tidak sadar)
 Cidera yang dialami
 Jumlah korban, dst

35

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga

Bantuan hidup dasar dini (rantai kedua), adalah cara mempertahankan
jalan napas, memberikan bantuan napas dan mempertahankan sirkulasi yang
merupakan dasar kehidupan tanpa menggunakan peralatan medis. Henti
jantung mendadak adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia
(700.000 orang/tahun). Kasus henti jantung mendadak di luar rumah sakit
menunjukkan ventricular fibrillation (jantung kehilangan kemampuan untuk
berkoordinasi dan berhenti memompakan darah secara efektif)

Defibrilasi dini (rantai ketiga), adalah upaya agar mengembalikan
agar irama/fungsi jantung kembali normal dengan defibrillator. Penolong
pertama dan petugas medis harus sudah terlatih dalam penggunaan
defibrillator. Defibrillator yang digunakan sebaiknya defibrillator ekternal
otomatis (operator/petugas hanya menempelkan elektroda ke dada korban
dan diaktifkan dengan satu tombol) bantuan hidup lanjut dini (rantai
keempat), adalah tindakan khusus lanjutan yang diperlukan untuk
meningkatkan kemungkinan korban bertahan hidup. Tim bantuan hidup
lanjut adalah tim dokter, para medik, dan tenaga kesehatan yang kompeten

1. Prinsip Utama
Prinsip utama PPGD adalah menyelamatkan pasien dari kematian

pada kondisi gawat darurat. Kemudian filosofi dalam PPGD adalah ”Time
Saving is Life Saving”, dalam artian bahwa seluruh tindakan yang dilakukan
pada saat kondisi gawat darurat haruslah benar-benar efektif dan efisien,
karena pada kondisi tersebut pasien dapat kehilangan nyawa dalam hitungan
menit saja (henti nafas 2-3 menit dapat mengakibatkan kematian)

2. Langkah-langkah Dasar
Langkah-langkah dasar dalam PPGD dikenal dengan singkatan A-B-

C-D (Airway – Breathing – Circulation – Disability). Keempat poin-poin
tersebut adalah poin-poin yang harus sangat diperhatikan dalam
penanggulangan pasien dalam kondisi gawat Darurat.

3. Alogaritma Dasar PPGD
1) Ada pasien tidak sadar
2) Pasikan kondisi tempat pertolongan aman bagi pasien dan penolong
3) Beritahukan kepada lingkungan kalau anda akan berusaha menolong
4) Cek kesadaran pasien lakukan dengan metode AVPU

36

Pertolongan Pertama & Pencegahan Perawatan Cedera Olahraga


Click to View FlipBook Version