The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Modul Koloid Tugas UAS Bahan Ajar Kimia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by 180384204025, 2021-07-01 03:46:41

E-Modul Koloid Tugas UAS Bahan Ajar Kimia

E-Modul Koloid Tugas UAS Bahan Ajar Kimia

Kompeternsi Dasar & Kompetensi Inti

Kompetensi Dasar Indikator

3.14 Mengelompokkan berbagai tipe  Membedakan larutan, koloid, & suspensi.

sistem koloid, & menjelaskan  Mengelompokkan sistem koloid berdasarkan

kegunaan koloid dalam kehidupan fase terdispersi & fase pendispersi.

berdasarkan sifatnya.  Menjelaskan cara pembuatan koloid.

 Menjelaskan sifat-sifat koloid.

 Menjelaskan kegunaan koloid dalam kehidupan

berdasarkan sifat-sifatnya.

4.14 Membuat makanan / produk lain  Merancang pembuatan makanan / produk lain

yang berupa koloid / melibatkan yang berupa koloid.

prinsip koloid.  Membuat makanan / produk lain yang berupa

koloid.

 Menyajikan hasil pembuatan makanan / produk

lain yang berupa koloid.

i

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, Puji Syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta‟ala yang
senantiasa kita kita ucapkan, kepada yang maha melimpahkan rahmat, hidayah dan
karunia-Nya. Tidak lupa shalawat serta salam tercurahkan kepada Baginda Agung
Rasulullah Shallallahu „Alaihi Wasallam yang syafaatnya akan kita nantikan kelak.
Disini penulis sangat berbahagia dapat menyelesaikan “E-Modul Kimia Materi
Koloid” Pada Mata Kuliah “Bahan Ajar Kimia” tepat pada waktunya. E-Modul ini
disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahan Ajar Kimia. E-Modul ini disusun
dengan sederhana, sehingga para pembaca dapat memahami E-Modul ini dengan sangat
mudah.
E-Moudul ini berisikan materi koloid yaitu materi kimia yang sangat erat
kaitannya dengan kehidupan sehari-hari kita semua. Kemudian juga dalam E-Modul ini
juga dilengkapi dengan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berdasarkan tahapan
pendekatan SAVI (Somatic, Auditory, Visual & Intelectual), terhadap peningkatan
kompetensi siswa pada materi koloid.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada ibu Inelda Yulita, S.Pd., M.Pd. selaku
dosen pengampuh mata kuliah Bahan Ajar Kimia, serta pihak yang ikut membantu
dalam penyusunan E-Modul ini baik moril maupun materil hingga selesai.
Akhirul kalam, penulis menyadari bahwa E-Modul ini masih jauh dari kata
sempurna, sehingga masih banyak kekurangan dan kekhilafan. Sehingga kritik dan saran
yang membangun sangat diperlukan untuk Penulis harapannya agar dapat lebih baik
kedepannya. Semoga E-Modul ini dapat memberikan manfaat bagi Para Peserta Didik /
Mahasiswa Pendidikan Kimia serta khususnya kepada semua pihak yang membutuhkan.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Tanjungpinang, 10 Juni 2021

Penulis
Agus Sulistiono
180384204025

ii

DAFTAR ISI

Kompeternsi Dasar & Kompetensi Inti........................................................................................... 1
KATA PENGANTAR ....................................................................................................................ii
DAFTAR ISI................................................................................................................................... iii

A. PENGERTIAN KOLOID ................................................................................................ 0
B. KOMPONEN-KOMPONEN & PENGELOMPOKAN SISTEM PADA KOLOID ....... 0
C. SIFAT- SIFAT PADA KOLOID ..................................................................................... 3
D. KESTABILAN SISTEM PADA KOLOID ..................................................................... 8
E. PEMBUATAN SISTEM PADA KOLOID...................................................................... 9
F. PEMURNIAN KOLOID ................................................................................................... 10
G. PENGGUNAAN KOLOID............................................................................................ 11
H. LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) ............................................................. 14
I. KESIMPULAN .................................................................................................................. 20
J. SARAN & MASUKAN ..................................................................................................... 20
K. UCAPAN TERIMAKASIH ........................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 21

iii

A. PENGERTIAN KOLOID

Koloid merupakan campuran antara larutan dan suspense, yang artinya koloid

bukanlah suspense. Untuk lebih detailnya mengenai ciri-ciri dari koloid, mari kita lihat

dan bandingkan antara larutan, koloid dan juga suspense pada tabel dibawah ini.

Larutan Koloid Suspensi

Tidak dapat disaring Bisa disaring hanya dengan Bisa disaring
membrane semipermiabel

1 Fase 2 Fase 2 Fase

Stabil Stabil Tidak stabil, antara zat pasti
akan memisah

Homogen Heterogen Heterogen

Ukuran diameter partikel Ukuran diameter partikel Ukuran diameter partikel
nya < 10–7 cm nya 10–7 s/d 10–5 cm nya > 10–5 cm

Berdasarkan tabel diatas, disini dapat disimpulkan bahwasannya koloid

merupakan campuran antara larutan & suspense yang bersifat heterogen / tidak

mengalami pengendapan, mengalami 2 fase, stabil & juga ukuran diameternya berkisar
10–7 s/d 10–5 cm.

B. KOMPONEN-KOMPONEN & PENGELOMPOKAN SISTEM PADA KOLOID

1. PENGELOMPOKAN SISTEM PADA KOLOID

Dalam sistem koloid terdapat 3 fase zat baik fase terdispersi maupun pendispersi

dalam sistem koloid dapat berupa padat, cair & gas. Dari ke 3 fase ini terbagi kedalam

8 sistem koloid. Namun perlu dikemukakan bahwa campuran gas dengan gas tidak lah

membentuk sistem koloid karena semua gas akan bercampur homogen dalam segala

perbandingan. Nah dengan demikian disini ada 8 sistem koloid tersebut yang perlu

diketahui adalah :

Fase Medium Nama Contoh
No Terdispesi Pendispersi Koloid

1 Gas Cair Busa / Buih Buih sabun,

krim kocok

2 Gas Padat Busa Padat Batu apung,
karet busa

3 Cair Gas Aerosol Awan, kabut

4 Cair Cair Emulsi Susu, santan

5 Cair Padat Emulsi Padat Keju, mentega,

mutiara

6 Padat Gas Aerosol Padat Asap, debu

7 Padat Cair Sol Cat, kanji, tinta

8 Padat Padat Sol Padat Kaca bewarna,
paduan logam

Dari tabel di atas dapat tampak jelas bahwa proses di alam sekitar kita banyak

yang berhubungan dengan sistem koloid. Kegunaan dari cabang ilmu kimia tentang

koloid terdapat di berbagai bidang. Protoplasma dalam sel makhluk hidup merupakan

sistem koloid, yang dimana sehingga koloid diperlukan untuk menenangkan reaksi

dalam sel. Tanah juga merupakan sistem koloid, & pemahaman tentang koloid sangat

membantu dalam meningkatkan kesuburan lahan.

Dalam bidang perindustrian, koloid banyak dimanfaatkan pada pembuatan
berbagai produk, antara lain biskuit, keju, mentega, hairspray, cat, tinta, sabun,
keramik, semen, karet, obat-obatan, kosmetik, plastik, insektisida, & tekstil.
Keseluruhan fakta ini menunjukkan betapa luasnya peranan sistem koloid dalam
kehidupan kita sehari-hari.

0

Contoh beberapa gambar yang merupakan 8 sistem pada koloid

2. KOMPONEN-KOMPONEN SISTEM KOLOID
Zat dapat dibagi manjadi 2 golongan besar yaitu, zat murni (kumpulan atom-

atom yang secara kimiawi sama) & zat campuran / mixture substances (zat yang
memiliki 2 / lebih jenis zat yang berbeda walau terdiri dari 2 / lebih zat campuran
masih memiliki sifat asli dari unsurnya).

Banyak yang bisa kita lihat di sekeliling kita termasuk campuran seperti tanah,
bangunan, danau, makanan & sel dalam tubuh makhluk hidup. Ada 3 campuran yang
terdapat yaitu, larutan, koloid, & suspensi. Misalkan sebuah gula yang dilarutkan
kedalam air, molekul gula akan segera larut & kemudian terbentuklah sebuah larutan
yang jernih, yang dimana ukuran partikel gula dalam larutan lebih kecil dari 10-7 cm &
tidak dapat dipisahkan dari air melalui penyaringan. Berikut disajikan gambar-gambar
yang berkaitan dengan sistem koloid :

Dalam sistem koloid, jumlah fase terdispersi lebih sedikit dari pada medium
pendispersi. Dalam sistem dispersi (penguraian) terdapat zat terlarut & zat pelarut
yang mana jumlah zat terlarut lebih sedikit dari pada zat terlarut. Berikut penjelasan
mengenai contoh koloid yang digunakan dalam industry kimia :
A. Aerosol

Digunakan untuk membuat hair spray, obat nyamuk semprot, parfum, cat
semprot / pilox, dan lain-lain. Aerosol dibentuk dari bahan pendorong (propelan
aerosol) berupa senyawa kloro karbon (CFC) & karbondioksida (CO2).

B. Sol
Banyak digunakan dalam industry air sungai (sol dari lempung dalam air),

sol untuk sabun, sol untuk detergen, sol untuk tepung kanji, tinta tulis dan cat.

1

C. Emulsi
Syarat terjadinya emulsi adalah adanya 2 jenis zat cair yang tidak saling

melarutkan, seperti minyak & air, emulsi digolongkan menjadi 2 bagian, yaitu :
 Emulsi minyak dalam air

Contoh : Santan, susu & lateks.
 Emulsi air dalam minyak

Contoh : Mayones, minyak bumi, & ikan.

Emulsi terbentuk karena adanya pengaruh dari pengemulsi / emulgator.
Adapun beberapa contohnya, yaitu :
 Sabun yang dapat mengemulsikan minyak kedalam air. Jika dicampurkan

minyak & air dikocok, maka akan terbentuk campuran yang saling
memisahkan setelah didiamkan. Tetapi, jika sebelum campuran minyak & air
yang dikocok itu ditambahkan detergen dahulu, maka akan diperoleh
campuran yang stabil yang disebut emulsi.
 Contoh lainnya yaitu kasein dalam susu & kuning telur dalam mayones.

D. Buih
Dapat dibentuk dengan mengalirkan zat gas kedalam zat cair yang

mengandung pembuih, seperti sabunm detergen, & protein. Ada kalanya buih
tidak dikehendaki, eter & isoamil alcohol (CH3)2CHCH2CH2OH dapat mencegah
/ memecah terbentuknya buih. Berikut contoh dari buih, yaitu :
 Buih sabun pada pengolahan biji logamm buih sabun pada alat pemadam

kebakaran dan lain-lain.

E. Gel

Dapat terbentuk dari sol dengan zat terdispersi / fase pendispersi yang

menyerap / mengadsorbsi medium pendispersi.
 Contohnya yaitu agar-agar, lem kanji, selai, gelatin, gel sabun, & gel silika.

Berdasarkan sifat elastisnya, gel dibagi menjadi 2 yaitu, gel elastis dan non-

elastis.
 Perhatikan tabel dari jenis-jenis koloid

No Fase Terdispersi Medium Pendispersi
Padat Cair Gas

1 Padat Sol padat Sol Aerosol padat

2 Cair Emulsi padat Emulsi Aerosol

3 Gas Buih padat Buih -

Istilah “koloid” diusulkan oleh Thomas Graham (1805 – 1869) dari inggris
pada tahun 1861. Sewaktu meneliti proses difusi berbagai zat dalam medium cairan,
graham mengamati bahwa zat seperti kanji, gelatin, getah, & albumin berdifusi sangat
lambat & tidak mampu menembus membran tertentu. Kelompok zat ini lalu
dinamainya dengan nama koloid, yang berarti “seperti lem” (bahasa Yunani : Kolla =
lem, Oidos = seperti).

Koloid ialah campuran dari 2 / lebih zat yang salah satu fasanya tersuspensi
sebagai sejumlah besar partikel yang sangat kecil dalam fasa kedua. Zat yang
terdispersi & medium penyangganya dapat berupa kombinasi gas, cairan, / padatan.
(Oxtoby,C.W..1979. hal 178). Saat ini istilah koloid di pakai untuk menyatakan ukuran
partikel serta sistem campuran. Partikel-partikel suatu zat dikatakan berukuran koloid
apabila berdiameter antara 10-5 sampai 10-7 cm. yang disebut sistem koloid adalah
suatu campuran zat dimana suatu zat tersebar merata dengan berukuran koloid dalam
suatu zat lain.

2

Sebagaimana halnya larutan yang tersusun dari zat terlarut & pelarut, maka
sistem koloid juga tersusun dari 2 komponen, yaitu fase terdispersi (zat tersebar
merata), serta fase pendispersi (zat medium tempat partikel-partikel koloid tersebar.
Perbedaan antara larutan, sistem koloid, & suspense dapat dilihat pada tabel berikut :

Sifat Larutan Koloid Suspensi
Ukuran Kurang dari 1 nm
Penyaringan Antara 1 – 1000 nm Lebih dari 1000 nm
Tidak dapat
Jarak disaring Tidak dapat disaring Dapat disaring
pengelihatan
Gerakan Tidak tampak Tampak dengan Tampak pada mata /
mikroskop elektron mikroskop cahaya
Lintasan cahaya Gerakan molekul
Gerakan Brown Gerakan hanya
Jumlah fasa Transparan, tidak dengan gaya berat
Pengelihatan ada efek Tyndall Mungkin transparan,
Contoh kadang tembus Seringkali buram,
Satu mungkin tembus
Jernih cahaya / buram. Ada
Gula dalam air efek Tyndall cahaya
Dua
Tidak jernih Dua
Tidak jernih
Tepung dalam air Pasir dalam air

C. SIFAT- SIFAT PADA KOLOID
1. EFEK TYNDALL (SIFAT OPTIK)
Adalah efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid. Ketika berkas
cahaya diarahkan ke larutan, cahaya tersebut akan diteruskan sehingga kita tidak
bisa melihatnya. Kenapa ? hal ini dikarenakan larutan bersifat homogeny. Disisi
lain, ketika berkas cahaya diarahkan ke partikel-partikel koloid & suspensi, berkas
sinar akan dihamburkan sehingga jejaknya dapat terlihat. Sebab hal ini mula-mula
diterangkan oleh Jhon Tyndall (1820 – 1893), seorang ahli fisika bangsa inggris.

Efek Tyndall dapat digunakan untuk membedakan sistem koloid & larutan
sejati. Partikel dalam larutan yang berupa molekul / ion terlalu kecil untuk
menghamburkan cahaya, sehingga berkas cahaya dalam larutan tidak terlihat.
Sebaliknya, cahaya yang melewati sistem koloid akan terlihat nyata. Partikel-
partikel koloid yang berukuran cukup besar akan menghamburkan cahaya itu ke
segala arah, meskipun partikel koloidnya tidak tampak.

Contoh dari Efek Tyndall dalam kehidupan sehari-hari yaitu saat di
bioskop. Sorot lampu proyektor akan tampak jelas ketika ada asap rokok yang
melewatinya, sehingga gambar film yang ada di layar menjadi tidak jelas. Hal ini

3

karena adanya hamburan cahaya oleh partikel-partikel asap rokok yang
menyebabkan daya tembus lampu proyektor menjadi berkurang.
2. GERAK BROWN (SIFAT KINTETIK)

Adalah gerak acak, gerak tidak beraturan / gerak zig zag partikel koloid.
Gerakan ini terjadi karena benturan tidak teratur antara partikel koloid terdispersi
& medium pendispersi. Benturan ini mengakibatkan partikel koloid bergetar
dengan arah tidak beraturan & jarak yang pendek. Gerak zig zag akibat benturan
dari partikel pendispersi menyebabkan sistem koloid tetap stabil, tetap homogeny,
& tidak mengendap.

Gerak acak dari partikel koloid dalam medium pendispersinya ini disebut
gerak Brown, berdasarkan nama ahli botani bangsa inggris yang menemukan
gerakan ini pada tahun 1827, yaitu Robert Brown (1773 – 1858). Perlu diketahui
bahwa pengamatan gerakan partikel koloid tersebut ternyata merintis jalan bagi
Robert Brown untuk menemukan adanya inti sel pada tahun 1831.

Gerak Brown membuktikan teori kinetic molekul, sebab gerakan tersebut
adalah akibat adanya tabrakan antara partikel koloid dengan molekul medium
pendispersinya dari segala arah. Oleh karena itu momentum partikel koloid jauh
lebih besar dari molekul mediumnya, maka partikel koloid bergerak pada garis
lurus sampai arah & kecepatannya diubah oleh tabrakan berikutnya. Gerak Brown
akan makin cepat jika ukuran partikel koloid makin kecil. Sebaliknya, makin
besar ukuran partikel, gerakannya makin lambat. Itulah sebabnya pada partikel
suspensi gerak Brown tidak lagi dijumpai.

3. ADSORPSI KOLOID
Merupakan peristiwa menempelnya muatan dipermukaan partikel-partikel

koloid. Adsorpsi terjadi karena adanya kemampuan partikel koloid untuk menarik
(ditempeli) oleh partikel-partikel kecil. Kemampuan menarik ini disebabkan
adanya tegangan permukaan koloid yang cukup tinggi. Alhasil, ketika ada partikel
kecil yang menempel pada koloid, partikel itu akan cenderung tidak mudah lepas
(tetap menempel). Zat-zat teradsorpsi dapat terikat kuat membentuk lapisan yang
tebalnya tidak lebih dari 1 / 2 lapisan partikel. Partikel koloid mampu menyerap
molekul netral / ion-ion pada permukaannya. Ketika partikel koloid menyerap ion
bermuatan, ion-ion tersebut akan menempel pada permukaannya & partikel koloid
tersebut menjadi bermuatan.

4

Nah adapun sifat dari adsorpsi dapat dilihat dari beberapa proses berikut
ini, yaitu :
 Proses pemurnian pada gula pasir, gula yang masih kotor (bewarna coklat)

dilarutkan pada air panas, lalu dialirkan melalui sistem koloid yang berupa
tanah diatom / karbon. Kotoran pada gula akan teradsorpsi, sehingga
diperoleh lah gula yang putih serta bersih.
 Pada pencelupan serat wol, kapas / sutera, serat yang akan diwarnai /
dicelupkan dalam larutan aluminium sulfat & larutan basa seperti natrium
karbonat. Endapan Al(OH)3 yang bersifat koloid, melekat pada serat, &
menyerap zat warna tersebut. Tanpa Al(OH)3 serat tidak dapat diberi warna.

4. KOAGULASI KOLOID
Adalah peristiwa terjadinya pengendapan pada koloid. Penggumpalan

partikel terjadi karena adanya kerusakan stabilitas sistem koloid / karena
penggabungan partikel koloid yang berbeda muatan sehingga membentuk partikel
yang lebih besar. Koagulasi dapat dipengaruhi oleh pemanasan, pendinginan,
penambahan elektrolit, pembusukan, pencampuran koloid yang berbeda muatan,
& elektroforesis. Contoh dari koagulasi, yaitu :
 Jika bagian pada tubuh kita mengalami luka, maka ion Al3+ / Fe3+ segera

menetralkan partikel albuminoid yang terkandung dalam darah, sehingga
terjadi penggumpalan yang menutupi luka.
 Penggumpalan susu yang basi serta telur yang direbus hingga membeku /
mengeras.
 Proses penjernihan air, yang dimana ditambahkannya tawas Al2(SO4)3 yang
menyediakan ion-ion Al3+ untuk mengendapkan partikel lumpur, sehingga air
menjadi jernih.

5. MUATAN KOLOID & ELEKTROFORESIS (SIFAT LISTRIK)
Pada partikel-partikel koloid bisa bermuatan listrik yang dimana sebagai

akibat dari adanya penyerapan ion pada permukaan partikel koloid tersebut.
Sebagai sebuah contoh, yaitu Fe(OH)3 dalam air akan menyerap kationnya
sehingga bermuatan positif jadinya. Nah sedangkan As2S3 bermuatan negated
dikarenakan dia mengadsorpsi anionnya.

Disisi lain selain karena adanya gerak Brown, kestabilan pada sistem
koloid juga dipengaruhi oleh adanya muatan listrik di permukaan partikel koloid.
Gaya tolak-menolak antara muatan yang sama akan mencegah pemisahan /
penggumpalan sehingga sistem koloid dalam keadaan stabil. Jika sepasang
elektrode yang dicelupkan kedalam sistem koloid, kemudian dialirkan arus listrik

5

maka partikel koloid yang bermuatan positif akan menuju katode sedangkan yang

bermuatan negatif akan menuju anode. Pergerakan ini dipengaruhi oleh medan

listrik disebut elektroforesis. Pada peristiwa ini partikel kolid akan dinetralkan

muatannya & digumpalkan pada elektrode. Adapun beberapa kegunaan dari

proses elektroforesis, yaitu :
 Untuk pembuatan barang-barang industry yang terbuat dari bahan karet.
 Mengurangi pencemaran udara pada corong uap pada pembakaran batu bara,

metode ini dikembangkan oleh Frederick Cottrell (1877 – 1948)..
 Untuk menentukan muatan suatu partikel koloid.
 Penyaringan debu pada pabrik.
 Pengidentifikasi DNA manusia serta mampu mengidentifikasi kelainan

genetic pada makhluk hidup.

6. KOLOID LIOFIL & KOLOID LIOFOB
Nah berdasarkan dari sifat adsorpsi dari partikel koloid terhadap medium

pendispersinya, terdapat 2 macam koloid, yaitu :
 Koloid liofil

Yaitu koloid yang senang dengan cairan (dalam bahasa Yunani iyo =
cairan & philia = senang). Pada partikel koloid akan mengadsorpsi molekul
cairan, sehingga terbentuk selubung di sekeliling partikel koloid itu. Jika
medium pendispersinya air, adapun istilah yang dapat dipakai adalah hidrofil
(senang air). Beberapa contoh dari koloid liofil adalah, kanji, protein, serta
agar-agar.

Koloid liofil bersifat reversible, karena apabila penggumpalan /
pengendapan, & endapan itu di tambah kembali koloid liofil. Umumnya koloid
liofil lebih kental serta lebih stabil dari koloid liofob, karena fase terdispersinya
dibungkus oleh mediumnya, shingga terhindar dari pengelompokkan (koagulasi)
hal ini disebut sebagai Solvatasi / hidratasi.

 Koloid liofob
Yaitu koloid yang benci dengan cairan (dalam bahasa Yunani phobia

= benci & iyo = cairan). Pada partikel koloid tidak akan mengadsorpsi
molekul cairan. Jika mediumnya air, adapun istilah yang dipakai adalah
hidrofob (benci air). Beberapa conto dari koloid hidrofob adalah, sol sulfida
& sol logam.

Pada koloid liofil lebih stabil dibandingkan dengan koloid liofob. Untuk
menggumpalkan koloid liofil diperukan elektrolit dengan jumlah yang banyak,
karena selubung molekul cairan yang berfungsi sebagai pelindung harus di pecah
terlebih dahulu. Adapun pada koloid liofob mudah digumpalkan dengan diberi
elektrolid sedikit saja.

Adapun agar lebih mudah memahami antara koloid liofil & koloid liofob

dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

No Koloid Liofil Koloid Liofob

1 Stabil / mantap Kurang stabil

2 Gerak Brown & Efek Tyndall Sangat jelas
kurang jelas

3 Umumnya dibuat dengan cara Umumnya dengan cara kondensasi
disperse

4 Stabil Kurang stabil

5 Kekentalan tinggi Kekentalan rendah

6 Fase terdispersi mengabsorsi Mengabsorbsi ion
molekul

6

7 Tidak mudah digumpalkan oleh Mudah digumpalkan oleh elektrolit
elektrolit

Yang terakhir untuk lebih mudah memahami terkait hidrofil & hidrofob

dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

No Hidrofil Hidrofob

1 Mengadsorbsi mediumnya Tidak mengadsorbsi mediumnya

2 Dapat dibuat dengan konsentrasi Hanya stabil pada konsentrasi kecil
yang relative besar

3 Tidak mudah digumpalkan dengan Mudah menggumpal pada
penambahan elektrolit penambahan elektrolit

4 Viskositas lebih besar dari pada Viskositas hamper sama dengan
mediumnya mediumnya

5 Bersifat reversible Tidak reversible

6 Efek Tyndall lemah Efek Tyndall lebih jelas

7. KOLOID PELINDUNG
Adalah suatu sistem koloid yang ditambahkan pada koloid lain, sehingga

dihasilkan koloid yang stabil. Misalnya pada pembuatan es krim, agar dihasilkan
es krim yang lembut diperlukan penambahan gelatin sebagai koloid pelindungnya.

8. SIFAT LISTRIK
Partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik, pergerakan ini lah

yang disebut dengan elektroforesis. Partikel koloid mempunyai muatan di
permukaannya disebabkan oleh pengionan / penyerapan muatan.

Sol hidrofilik seperti protein, muatan diperoleh terutama karena ionisasi
gugus karboksil –COOH & gugus amino NH3+. Pada pH tinggi protein bermuatan
negatif serta pada pH rendah protein bermuatan positif. Adapun beberapa sifat

listrik dari koloid, yaitu :
 Elektroforesis : gerak partikel koloid bermuatan oleh pengaruh medan listrik.
 Elektroosmosis : gerak partikel koloid bermuatan melalui membrane semi-

permeable oleh pengaruh medan listrik.
 Potensial aliran : partikel koloid dipaksa bergerak melalui pori membrane

(kebalikan dari elektroosmosis)
 Potensial sedimentasi : partikel koloid bermuatan mengendap karena

pengaruh perbedaan potensial.

9. EMULSI

Adalah sistem koloid yang pada partikel terdispersinya dan medium
pendispersinya sama-sama cair. Nah ditinjau dari segi kepolarannya, emulsi
merupakan campuran cairan polar & cairan non-polar, misalnya minyak & air.
Syarat terjadinya emulsi adalah adanya 2 jenis zat cair yang tidak saling
melarutkan, seperti minyak & air, emulsi digolongkan menjadi 2 bagian, yaitu :
 Emulsi minyak dalam air

Contoh : Santan, susu & lateks.
 Emulsi air dalam minyak

Contoh : Mayones, minyak bumi, & ikan.

Jika minyak kelapa yang dicampurkan dengan air kemudian diaduk,
kemudian terjadilah campuran yang akan memisah kembali setelah didiamkan
dalam beberapa waktu yang agak lama. Nah untuk menstabilkan emulsi ini perlu
di tambahkan zat pengemulsi (emulgator), yaitu senyawa organic yang dimana
mengandung kombinasi gugus polar & non-polar sehingga ia mampu mengikat
zat polar (air) serta zat non-polar (minyak). Dimisalkan dengan sabun yang
merupakan garam karboksilat. Molekul sabun yang tersusun dari ekor alkil yang

7

non-polar (larut dalam minyak) & kepala ion karboksilat yang polar (larut dalam
air). Prinsip inilah yang menjadikan sabun serta detergen memiliki daya
pembersih. Ketika kita mandi / mencuci pakaian, ekor non-polar dari sabun akan
menempel pada kotoran & kepala polarnya akan menempel pada air. Akibatnya
terjadi tegangan pada permukaan air menjadi berkurang sehingga air jauh lebih
mudah menarik kotoran. Lihat contoh ilustrasi pada gambar di bawah ini.

Salah satu emulsi yang sering kita jumpai pada keseharian hidup kita ialah
susu, yang dimana lemal terdispersi dalam air. Di dalam susu terkandung yang
namanya kasein suatu protein yang berfungsi sebagai zat pengemulsi. Jika susu
menjadi asam ketika diminum, itu terjadi karena laktosa (gula susu) teroksidasi
sehingga menjadi asam laktat, kasein akan terkoagulasi & tidak dapat lagi
menstabilkan emulsi. Sehingga akibatnya lemak bersama kasein akan memisah
dari susu.

D. KESTABILAN SISTEM PADA KOLOID
Koloid karbon dalam air begitu stabil sehingga penampilannya tidak pernah

berubah kurang lebih 30 tahunan. Dalam semua koloid gas & dalam kebanyakan koloid
cairan, partikel-partikel zat terdispersi mempunyai kerapatan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan medium pendispersinya. Apa yang bisa mencegah partikel-partikel
itu untuk berkerumunan serta membentuk partikel besar yang akan mengendap, disini ada
salah satu cara yang biasanya lazim digunakan yaitu dalam partikel koloid distabilkan
ialah dengan, mengadsorpsi suatu lapisan ion. Dimana partikel yang menyerap ion yang
sama akan terstabilkan karena mereka saling menolak, bukannya bergabung membentuk
agregat yang lebih besar.

Ada cara lainnya yang bisa digunakan untuk menstabilkan suatu partikel koloid
ialah dengan cara adsorpsi suatu lapisan molekul. Sehingga zat-zat yang teradsorpsi,
seperti sabun, maupun lainnya yang termasuk koloid. Koloid yang bertindak sebagai
bahan penstabil disebut protektif. Dimana koloid protektif terutama lebih efektif dalam
menstabilkan koloid cair dalam cair, yang disebut emulsi.

Kadang-kadang bisa juga koloid yang diinginkan itu tidak stabil, sering kali
terjadi di laboratorium hal ini di inginkan karena bila endapan yang terbentuk terdiri dari
bubuk sangat halus. Dengan mengendalikan kondisi, diusahakan agar partikel-partikel itu
bergabung sehingga mau mengendap / agar mudah disaring, apabila endapan semacam
itu dicuci secara tidak tepat maka, endapan itu akan dapat berpeptisasi. Jika endapan itu
terdispersi menjadi partikel-partikel koloid kecil. Peptisasi dapat dicegah dengan
menggunakan larutan pencuci yang tepat.

8

E. PEMBUATAN SISTEM PADA KOLOID
1. CARA KONDENSASI
Adapun salah satu cara pembuatan sistem koloid adalah dengan cara
kondensasi, yaitu menggumpalkan partikel larutan yang terlalu kecil menjadi
partikel yang berukuran koloid. Partikel larutan yang berupa ion, aton, / molekul
dapat dikondensasi / digumpalkan menjadi ukuran koloid melalui cara fisis
(penurunan kelarutan) / cara kimia (reaksi tertentu). Cara fisis yang dapat
dilakukan untuk mengkondensasi partikel ialah sebagai berikut :
 Pendinginan
Kelarutan dari suatu zat pada umumnya berbanding lurus dengan suhu,
sehingga ketika proses pendinginan akan menggumpalkan partikel larutan
menjadi koloid.

 Penggantian Pelarut
Andaikan ketika kita ingin membuat sol belerang dalam air, maka

belerang sukar larut dalam air, tetapi melarut dengan baik bila dalam alkohol.
Maka larutan jenuh belerang dalam alkohol diteteskan ke dalam air sambil
diaduk. Kemudian belerang akan menggumpal menjadi partikel koloid,
kemudian alkohol akan di pisahkan dengan metode dialysis.

 Pengembunan Uap
Misalkan ada uap raksa yang dialirkan melalui air dingin, sehingga

terbentuk sol raksa. Yang kemudian ammonium sitrat nya ditambahkan
sebagai penstabil (stabilizer).

Adapun pada pembuatan sistem koloid yang paling sering digunakan
adalah melalui reaksi kimia. Berikut reaksi kimia tersebut antara lain, yaitu :
 Reaksi Pengendapan

Pada 2 buah larutan encer yang masing-masingnya mengandung
elektrolit dicampurkan, sehingga menghasilkan endapan yang berukuran
koloid, sehingga menjadi :

As2O3 + 3H2S  As2S3(s) + 3H2O AgNO3 + NaCl  AgCl(s) + NaNO3

 Reaksi Hidrolisis
Sol besi (III) hidroksida dibuat dengan cara menambahkan larutan besi

(III) klorida pada air panas, sehingga menjadi :
FeCl3(aq) + H2O  Fe(OH)3(sol) + 3HCl(aq) + 3HCL

Selain itu juga pada sol hidroksida seperti Fe(OH)3 & Al(OH)3
diperoleh dengan menambahkan garam klorida ke dalam air mendidih, serta
garam hidrolisis menjadi hidroksida yang berukuran kolid, sehingga menjadi :
FeCl3(aq) + 3H2O  Fe(OH)3(s) + 3HCL AlCl3 + 3H2O  Al(OH)3(s) +
3HCl

 Reaksi Redoks
Sol logam salah satunya seperti sol emas dapat diperoleh dengan

mereduksi larutan garamnya, menggunakan reduktor non-elektrolit seperti
formaldehida.

2AuCl3 + 3HCHO + 3H2O  2Au + 6HCl + 3HCOOH

Selain itu juga pada sol belerang dengan iodin dibuat dengan
mengoksidasi ion sulfida & ion iodide.

2H2S + SO2  3S(s) + 2H2O

9

5HI + HIO  3I2 + 3H2O

2. CARA DISPERSI
Selain dengan cara kondensasi, sistem koloid juga bisa dibuat melalui

cara disperse, yang dimana menghaluskan partikel suspensi yang terlalu besar
menjadi partikel yang berukuran koloid. Adapun beberapa cara dari disperse
adalah sebagai, berikut :
 Cara Mekanik

Adalah melakukan penggerusan (penggilingan) untuk zat padat.
Setelah diperoleh kehalusan yang dikehendaki, barulah zat ini akan
didispersikan ke dalam medim pendispersinya. Jika perlu ditambahkan zat
pemantap (stabilizer) guna penggumpalan kembali. Sol belerang sering dibuat
dengan metode seperti ini.
 Cara Peptisasi

Partikel endapan dipecah kemudian dihaluskan menjadi partikel
koloid dengan menambahkan elektrolit yang mengandung ion sejenis.
Misalnya sol Fe(OH)3 yang dibuat dengan menambahkan FeCl3 & sol NiS
dengan menambahkan H2S.
 Cara Busur Bredig (Cara Elektrodispersi)

Cara ini hanya khusus untuk membuat sol logam dengan cara
disperse. 2 kawat logam yang berfungsi sebagai elektrode dicelupkan
kedalam air, kemudian kedua ujung kawat diberi loncatan aliran listrik.
Sedangkan logam akan mendebu ke dalam air dalam bentuk partikel koloid.

3. DEKOMPOSISI RANGKAP
Sol perak bromide untuk membuat film, kertas / plat fotografi. KNO3

dihilangkan dengan cara dialysis, kemudian ditambahkan gelatin. Emulsi fotografi
adalah suspense butir-butir perak bromide dalam gel gelatin.

AgNO3(aq) + KBr(aq)  AgBr(sol) + KNO3(aq)

F. PEMURNIAN KOLOID
1. Dialisis
Adalah suatu proses untuk menghilangkan ion-ion yang dapat mengganggu
kestabilan koloid. Pada proses ini, sistem koloid yang berada dalam kantong koloid,
dimasukkan ke dalam bejana yang berisi air mengalir.

10

Kantong koloid terbuat dari selaput semi-permeable, yang dapat dilewati oleh
ion-ion tetapi tidak dapat dilewati oleh partikel koloid.
2. Ultra Filtrasi

Pori kertas dapat diperkecil dengan mencelupkan ke dalam kolodian. Pada
penyaringan perlu menggunakan pompa air / pompa vakum.
G. PENGGUNAAN KOLOID

Perkembangan koloid sangat lah pesat karena ilmu pengetahuan ini begitulah
penting peranannnya dalam kehidupan manusia. Berbagai masalah yang merupakan
sebuah proses penting dalam organisme, pembentukan mineral tertentu yang ada di alam,
serta produktivitas tanah banyak kaitannya dengan keadaan koloid. Koloid menjadi dasar
ilmiah di berbagai proses industry yang ada. Misalnya serat buatan, plastik dan
sebagainya.
1. Sifat Adsorbsi Dari Partikel Koloid Dapat Dimanfaatkan Untuk :

 Penjernihan air (misalnya air sungai), yang dimana penambahan tawas pada air
sungai, akan membentuk koloid Al(OH)3, yang akan mengadsorbsi pengotor
dalam air, sehingga menggumpal & mengendap sehingga air akan menjadi jernih.

 Menghilangkan bau badan, produk roll on deodorant menggunakan Aluminium
stearate sebagai adsorben, jika deodorant digosokkan pada anggota badan, maka
Al-stearat akan mengadsorbsi keringat yang menyebabkan bau badan.

11

 Penggunaan norit, norit mengandung arang aktif yang akan menyerap berbagai
racun didalam usus.

2. Sifat Koagulasi Koloid Dapat Dimanfaatkan Untuk Mengurangi Polusi Udara Dari
Pabrik
Asap dari pabrik sebelum meninggalkan cerobong asap dialirkan melalui
ujung-ujung logam yang tajam dan bermuatan pada tegangan tinggi (20.000 - 75.000).
Ujung-ujung yang runcing akan mengionkan molekul-molekul dalam udara. Ion-ion
tersebut akan diadsorbsi oleh partikel asap dan menjadi bermuatan. Selanjutnya,
partikel bermuatan itu akan tertarik dan diikat pada elektroda yang lainnya. Pengendap
Cottrel ini banyak digunakan dalam industri untuk dua tujuan yaitu, mencegah udara
oleh buangan beracun atau memperoleh kembali debu yang berharga (misalnya debu
logam).

3. Prinsip Dialisis Ini Digunakan Dalam Alat Cuci Darah Bagi Penderita Gagal Ginjal,
Fungsi Ginjal Digantikan Dengan Mesin Dialisator
Dari gambar ini, jelas terlihat bahwa ion-ion pengganggu keluar dari sistem
koloid, kemudian hanyut bersama air mengalir, sekarang sistem koloid itu sudah bebas
dari ion pengganggu, sehingga tetap stabil.

12

4. Pada pencelupan tekstil digunakan zat koloid untuk mempermudah pemberian warna.
5. Cat emulsi & emulsi fotografi adalah koloid pengotor yang tidak bercampur dengan

air.
6. Emulsi banyak digunakan dalam kosmetika guna membantu melapisi cat uniform

(merata).
7. Asap dapat berguna dalam membantu koagulasi lateks, seperti asam klorida & asam

asetat. Aerosol lain ialah debu, kabut, uap, dll. Semuanya dapat menarik adhesi
sehingga menimbulkan koagulasi.

13

H. LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

KOLOID

Nama :
Kelas / Semester :
Mata Pelajaran :
Pokok Pembahasan :
Sekolah :
Alokasi Waktu :

Kompetensi Dasar & Kompetensi Inti
3.14 Mengelompokkan berbagai tipe sistem koloid, & menjelaskan kegunaan koloid

dalam kehidupan berdasarkan sifatnya.
4.14 Membuat makanan / produk lain yang berupa koloid / melibatkan prinsip koloid.

Tujuan Pembelajaran

1. Peserta didik mampu menganalisis tentang larutan sejati, koloid, &
suspensi berdasarkan efek Tyndall, Gerak Brwon, dan lainnya.

2. Peserta didik mampu mengelompokkan jenis-jenis koloid berdasarkan
fase terdispersi & fase pendispersi.

3. Peserta didik mampu menjelaskan peristiwa terjadinya muatan listrik pada
partikel koloid.

4. Peserta didik mampu menjelaskan tentang kestabilan koloid & peristiwa
eletroforesis.

5. Peserta didik mampu untuk menjelaskan cara kerja emulgator dalam
menstabilkan koloid.

6. Peserta didik mampu menjelaskan koloid liofil & koloid liofob serta
perbedaan keduanya.

7. Peserta didik mampu menjelaskan kegunaan koloid dalam kehidupan
sehari-hari.

8. Peserta didik mampu menganalisis hasil pengamatan tentang koagulasi
koloid dalam kehidupan sehari-hari serta menjelaskan penyebabnya.

Adapun soal yang diberikan ialah sebanyak
10 buah soal essay dan 15 buah soal pilihan ganda
Perhatikan, pahami, simak baik-baik agar dapat menjawab soal tersebut

dengan maksimal 

14

Essay

Secara makroskopis campuran antara susu instan dengan air tampak seperti
homogen. Susu terlarut namun larutan tidak bening, melainkan keruh. Jika didiamkan
campuran ini tidak memisah serta tidak dapat dipisahkan menggunakan penyaring (hasil
penyaringan tetap keruh).

Secara makroskopis campuran ini tampak homogen akan tetapi, jika di amati
menggunakan mikroskop ultra ternyata masih dapat dibedakan partikel-partikel lemak
susu yang tersebar didalam air. Campuran ini disebut koloid, ukuran partikel-partikel
koloid berkisar antara 1 nm – 100 nm. Jadi, koloid tergolong campuran heterogen serta
merupakan sistem 2 fase. Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi, sedangkan
medium yang digunakan untuk mendispersikan zat disebut dengan medium pendispersi.

Untuk lebih memahami jenis-jenis koloid, maka jawablah pertanyaan-pertanyaan,

berikut ini :

1. Ditinjau dari ukuran partikelnya, tunjukkan perbedaan antara larutan, koloid, serta

suspensi

Hal Larutan Koloid Suspensi

Dapat
disaring

Fase

Kestabilan

Homogen /
Heterogen

Ukuran
terdispersi

2. Adapun untuk mengetahui jenis-jenis koloid dapat dengan melengkapi tabel berikut

ini.

Fase Medium Nama Contoh
No Terdispesi Pendispersi Koloid

1 Gas Cair

2 Gas Padat

3 Cair Gas

4 Cair Cair

5 Cair Padat

6 Padat Gas

7 Padat Cair

8 Padat Padat

3. Nyatakanlah jenis-jenis koloid berikut yang tergolong dalam (sol, emulsi, gel,

aerosol & Buih) berdasarkan data yang disediakan.

A. Kabut F. Batu apung

B. Lem kanji G. Air susu

C. Cat H. Air sungai

D. Tinta I. Minyak ikan

E. Mutiara J. Air sabun

15

4. Sistem koloid memiliki sifat-sifat yang berbeda dari sifat larutan maupun suspensi.
Jelaskan beberapa sifat yang ada yaitu :
 Efek Tyndall
 Apakah yang dimaksud dengan Efek Tyndall ?
 Bagaimana sifat koloid dengan cahaya ?
 Sebutkan beberapa contoh dari Efek Tyndall dalam kehidupan sehari-hari ?

 Gerak Brown
 Apakah yang dimaksud dengan Gerak Brown ?
 Apa yang menyebabkan peristiwa Gerak Brown terjadi serta sebutkan proses
terjadinya ?
 Sebutkan beberapa contoh dari Gerak Brown dalam kehidupan sehari-hari ?

 Adsorpsi Koloid
 Apakah yang dimaksud dengan Adsorpsi ?
 Apa yang menyebabkan peristiwa Adsorpsi terjadi serta sebutkan proses
terjadinya ?
 Sebutkan beberapa contoh dari Adsorpsi dalam kehidupan sehari-hari ?

 Koagulasi Koloid
 Apakah yang dimaksud dengan Koagulasi ?
 Apa yang menyebabkan peristiwa Koagulasi terjadi serta sebutkan proses
terjadinya ?
 Sebutkan beberapa contoh dari Adsorpsi dalam kehidupan sehari-hari ?

 Elektroforesis
 Apakah yang dimaksud dengan Elektroforesis ?
 Apa yang menyebabkan peristiwa Elektroforesis terjadi serta sebutkan proses
terjadinya ?
 Sebutkan beberapa contoh dari Elektroforesis dalam kehidupan sehari-hari ?

 Dialisis
 Apakah yang dimaksud dengan Dialisis ?
 Apa yang menyebabkan peristiwa Dialisis terjadi serta sebutkan proses
terjadinya ?
 Sebutkan beberapa contoh dari Dialisis dalam kehidupan sehari-hari ?

5. Rangkailah nama-nama koloid dalam Words Square berikut ini !

E B T A B U I H A A NA
M B U I H P A D A T RI
U R A N I U M B E B AS
L E T P A R R A R O SO
S I S T E M N A O S IL
I D O L E M U L S I AP
P E L E B U R N O R SA
A M P E L T R I L O AD
D A M P E R S I C A SA
A E R O S O L P A D AT
T E R I S P E R I K AL
R O B I N A K O R S IN

16

6. Isilah tabel di bawah ini dengan nama-nama sistem koloid yang telah anda temukan

dari Words Square serta lengkapilah dengan fase terdispersi, fase pendispersi, & 3

contoh dari sistem koloid !

No Fase Medium Nama Contoh
Terdispesi Pendispersi Koloid

1

2

3

4

5

6

7

8

7. Jelaskan apa yang dimaksud dengan koloid pelindung serta sebutkan 3 contoh dari
koloid pelindung ?

8. Perhatikan gambar dibawah ini :

Gambar 1 Gambar 2

Nah pastinya kalian semuanya pernah melihat / mengalami kejadian seperti pada

gambar diatas. Mari amati apa yang bisa kalian simak dari kejadian di atas ?
 Gambar 1

 Gambar 2

9. Mengapa cahaya pada gambar di atas bisa dihamburkan mengapa, jelaskan ?

10. Simpulkan sifat koloid pada kejadian gambar di atas !

17

Pilihan Ganda

1. Petnyataan dibawah ini sebgai berikut :

a) Susu tampak putih, keruh & homogeny

b) Larutan gula pasir tidak bewarna

c) Kapur didalam air membetuk sebuah endapan

d) Agar-agar yang ada didalam air panas menggumpal

Yang merupakan sistem koloid ialah ?

A. 1 & 2 D. 2 & 4

B. 1 & 4 > E. 1, 2, & 3

C. 1 & 3

2. Adapun salah satu perbedaan antara koloid & suspensi adalah ?
A. Koloid bersifat homogen sedangkan suspensi bersifat heterogen
B. Koloid menghamburkan cahaya sedangkan suspensi meneruskan cahaya >
C. Koloid stabil sedangkan suspensi tidak stabil
D. Koloid 1 fase sedangkan suspensi 2 fase
E. Koloid transparan sedangkan suspensi keruh

3. Koloid yang mengandung fase terdispersi cair & fase pendispersi cair adalah ?

A. Emulsi > D. Aerosol

B. Sol E. Buih

C. Sol padat

4. Hal-hal berikut yang merupakan ciri-ciri sistem koloid, kecuali ?

A. Tidak dapat disaring D. homogen >

B. Stabil E. Menghamburkan cahaya

C. Terdiri dari 2 fase

5. Dibawah ini yang termasuk kedalam koloid aerosol, ialah ?

A. Batu apung D. Mentega

B. Kabut > E. Mutiara

C. Busa sabun

6. Banyak produk industry dalam bentuk gel, diantaranya yaitu ?

A. Emas D. Cat

B. Jok mobil E. Mayonase >

C. Karet

7. Dalam perindustrian cat dibuat dalam bentuk koloid, tujuannya adalah ?
A. Memudahkan penggunaan
B. Mempercepat proses produksi
C. Menghasilkan warna yang bagus
D. Agar bahan pewarna, pelapis, & pengkilap terdapat dalam satu campuran tanpa
saling melarutkan >
E. Agar dapat menempel dipermukaan

8. Suatu partikel koloid dapat dapat bermuatan positif / negative hal ini terjadi karena ?
A. Partikel koloid mengadsorpsi ionik >
B. Zat pendispersinya bermuatan
C. Partikel koloid termasuk senyawa ionik
D. Partikel terionisasi
E. Partikel koloid berupa ion

18

9. Ion yang diadsorpsi oleh partikel Fe(OH)3+ sehingga bermuatan listrik ialah partikel

dari ion ?

A. Cl- D. Fe2+
B. OH- E. Fe2+ >

C. H+

10. Beberapa sifat koloid yang ada :
 Elektrolisis
 Efek Tyndall
 Koagulasi

 Dialysis

Proses cuci darah merupakan contoh penerapan sifat koloid pada nomor ?

A. 1 D. 4

B. 2 E. 5

C. 3

11. Cara pembuatan sistem koloid dengan jalan mengubah partikel-partikel kasar

menjadi partikel-partikel koloid disebut dengan cara ?

A. Dispersi > D. Koagulasi

B. Elektrolisis E. Hidrolisis

C. Kondensasi

12. Cara pembuatan koloid dengan menggabungkan larutan sejati menjadi partikel

koloid melalui reaksi kimia disebut dengan cara ?

A. Dispersi D. Kondensasi >

B. Koagulasi E. Elektroforesis

C. Hidrolisis

13. Sistem koloid yang partikel-partikelnya tidak dapat menarik molekul padat disebut ?

A. Elektrofil D. Liofil

B. Liofob > E. Hidrofil

C. Dialisis

14. Sabun merupakan emulgator yang baik untuk campuran minyak & air, karena sabun?
A. Merupakan koloid liofil >
B. Merupakan koloid liofob
C. Merupakan ujung liofob & liofil
D. Bercampur homogen dengan minyak & air
E. Merupakan senyawa polar yang bisa menarik minyak

15. Pemberian tawas pada air yang diolah untuk air minum berguna untuk ?
A. Menghilangkan kesadahan air
B. Menghilangkan bau air
C. Mencegah pencemaran air
D. Mengendapkan kotoran dalam air >
E. Membunuh bakteri yang berbahaya

19

I. KESIMPULAN
Berdasarkan ukuran partikel yang ada dikenal lah 3 macam sistem, yakni

larutan, koloid, & suspensi. Kemudian ada fase terdispersi yang dimana zat menyebar
keseluruh medium dispersinya. Sistem koloid pertama kali di pelajari serta kemukakan
oleh seorang yang bernama Graham pada tahun 1861. Koloid adalah suatu campuran zat
heterogen antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang brukuran koloid
tersebar merata dalam zat lain. Sistem koloid adalah suatu campuran yang keadaannya
terletak di antara campuran homogen (larutan) dan heterogen (suspensi). Sistem koloid
terdiri atas dua fase yakni fase terdispersi (fase dalam) dan fase pendispersi (fase luar,
medium). Zat yang fasenya tetap, disebut zat pendispensi . Sementara itu, zat yang
fasenya berubah merupakan zat terdispensi . Sifat-sifat Koloid yaitu : efek tyndall, gerak
brown, adsorpsi koloid, muatan koloid sol, koagulasi, dan koloid pelindung.

Dalam sistem ini, partikel koloid dirujuk sebagai zat terdispersi (tersebarkan)
serta materu kontinue dimana partikel itu tersebar disebut dengan zat pendispersi /
medium pendispersi. Dalam bidang perindustrian koloid sangat banyak di manfaatkan
pada pembuatan berbagai macam produk antara lain, biscuit, keju, mentega, susu, hair
spray, cat, tinta, sabun, karet, keramik, semen, obat-batan, kosmetika, insektisida, plastic
& tekstil. Yang dimana seluruh fakta ini menunjukkan betapa luasnya peran dari sistem
koloid dalam kehidupan kita sehari-hari.

J. SARAN & MASUKAN
Sebelumnya saya memohon maaf apabila dalam pembuatan E-Modul ini

terdapat kekurangan-kekurangan dan ketrbatasan dalam pemikiran sehingga sekiranya
untuk para pembaca dapat lebih memahami Materi Kimia Tentang Koloid. Sehingga
semoga dengan membaca ini bisa menjadikan pembaca memiliki minat untuk membaca
dan menambah wawasan untuk berdiskusi bersama teman maupun lainnya. Sehingga
dalam hal ini saya sebagai penulis meminta saran dan masukkan kepada yang lainnya
agar kedepannya penulis dalam membuat E-Modul ini lebih baik lagi.

K. UCAPAN TERIMAKASIH
Saya ucapkan terimakasih kepada Dosen Pengampuh Mata Kuliah Bahan Ajar

Kimia, Prodi Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan (FKIP)
Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH). Karena telah memberikan saya
kesempatan untuk mempelajari terkait marteri serta membuat E-Modul ini & bergabung
di Perkuliahan Semester 6 ini, semoga dimasa mendatang saya bisa berhasil menjadi
seorang tenaga pendidik yang berkompeten di Tanjungpinang maupun lainnya serta
mampu untuk menggali ilmu pengetahuan yang lebih banyak lagi dalam mengembangkan
diri, sekali lagi saya ucapka terimakasih yang sebesar-besarnya.

20

DAFTAR PUSTAKA
Budi Utami, A. N. (2009). Kimia Untuk SMA dan MA Kelas XI. Jakarta: Departemen

Pendidikan Nasional, CV. HaKa MJ.
Charles W. Keenan, D. C. (1986). Edisi Keenam Kimia Untuk Universitas Jilid 1.

Jakarta: ERLANGGA.
Demes Nurmayanti, S. M. (2017). Kimia Lingkungan. Jakarta Selatan: Kementrian

Kesehatan Republik Indonesia, Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia
Kesehatan.
Dr. Yusnidar Yusuf, M. S. (2018). Kimia Dasar. Jakarta: EduCenter Indonesia.
Dra. Ernavita, M. (2018). Koloid Dalam Kehidupan Sehari-hari. Jakarta: Direktorat
Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Ditjen Pendidikan Anak
Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan, 2018.
Purwanti Widhy H, M. (-). Koloid. -: Staf UNY.
Yogyakarta, F. T. (2013). Bahan Ajar Kimia Dasar. Diktat Kimia Dasar, 1 - 113.

21


Click to View FlipBook Version