The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Pengendalian bahaya kebisingan merupakan suatu hal yang wajib diterapkan dalam suatu area kerja yang menghasilkan kebisingan pada level tertentu.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by alvianmustari057, 2021-08-27 06:11:27

TEORI PENGENDALIAN BAHAYA KEBISINGAN DI INDUSTRI MANUFAKTUR

Pengendalian bahaya kebisingan merupakan suatu hal yang wajib diterapkan dalam suatu area kerja yang menghasilkan kebisingan pada level tertentu.

Keywords: TEORI PENGENDALIAN BAHAYA KEBISINGAN

37

maupun dari segi individual terhadap manusia.
Menurut Tarwaka (2008) dalam Ramdan (2013), secara

konseptual pengendalian bahaya kebisingan yang sesuai dengan hirarki
adalah:
a. Eliminasi

Eliminasi merupakan suatu pengendalian risiko yan bersifat
permanen dan harus dicoba untuk diterapkan sebagai pilihan prioritas
utama. Eliminasi dapat dicapai dengan memindahkan objek kerja atau
sistem kerja yang berhubungan dengan tempat kerja yang kehadirannya
pada batas yang tidak dapat diterima oleh ketentuan, peraturan dan
standart baku K3 atau kadarnya melebihi Nilai Ambang Batas (NAB).
b. Substitusi

Pengendalian ini dimaksudkan untuk menggantikan bahanbahan
dan peralatan yang berbahaya dengan bahan-bahan dan peralatan yang
kurang berbahaya atau yang lebih aman, sehingga pemaparannya selalu
dalam batas yang masih bias ditoleransi atau dapat diterima.
c. Isolasi

Merupakan Teknik pengendalian dengan memindahkan pekerja ke
area yang tingkat kebisingannya lebih rendah atau memperbesar jarak
dari sumber bising sehingga tingkat tekanan suara kebisingan yang
sampai ke alat pendengaranpun berkurang.
d. Rekayasa mesin (engineering)

Teknik pengendalian ini pada umumnya dilakukan dengan

38

membuat atau merekayasa mesin dengan tingkat kebisingan yang tinggi,
seperti penggantian alat dari tingkat kebisingan tinggi dengan alat yang
tingkat kebisingan rendah, memodifikasi alat, menyerap kebisingan yang
dihasilkan alat atau mesin, menempatkan mesin di ruang kedap bunyi
dengan ventilasi yang memadai agar mesin tidak kepanasan.
e. Administratif

Pengendalian ini dapat dilakukan dengan mengurangi waktu
pemajanan terhadap pekerja dengan cara pengaturan waktu kerja dan
istirahat, sehingga waktu kerja dari pekerja masih berada dalam batas
aman. Pengaturan waktu kerja ini disesuaikan antara pemajanan
intensitas kebisingan dengan waktu maksimum yang diijinkan untuk
setiap area kerja. Yang dimaksud dengan pengaturan waktu kerja dan
istirahat adalah jika pekerja sudah berada dilingkungan kerja yang bising
sesuai dengan batas waktu yang diperbolehkan, maka pekerja terserbut
harus istirahat meninggalkan tempat kerja tersebut selama beberapa
menit dan kembali lagi ke tempat kerja tersebut untuk bekerja seperti
biasa.
f. Penggunaan Alat Pelindung Diri

Upaya pengendalian yang dilakukan untuk mengurangi dampak
bahaya dengan cara pemberian Alat Pelindung Diri (APD) untuk
digunakan para pekerja agar terhindar dari bahaya sewaktu bekerja. Alat
Pelindung Diri (APD) yang digunakan merupakan alternatif-alternatif
terakhir yang dilakukan apabila alternatif-alternatif yang diberikan

39

sebelumnya belum dapat mengurangi bahaya dan dampak yang ungkin
timbul (Depnaker RI,1999).
4.2.2. Dampak Bahaya Kebisingan di Industri Manufaktur

Dampak kebisingan terhadap kesehatan di Industri Manufaktur
(Fithri, 2015):

1) Gangguan Fisiologis
Pengaruh kebisingan terhadap Fisiologis, meliputi:
a) Kerusakan pendengaran akibat kebisingan adalah rusaknya organ
organ dalam pendengaran.
b) Penurunan pendengaran (Hearing Loss), penurunan pendengaran
adalah bergesernya ambang batas pendengaran seseorang menjadi
lebih tinggi dari ambang batas manusia normal, sehingga telinga
tidak mampu mendeteksi tingkat tekanan bunyi pada 0 dBA sampai
batas pergeserannya.

2) Gangguan Psikologis
Pengaruh kebisingan terhadap psikologis, meliputi:
a) Gangguan tidur (Sleep Distrubance) gangguan tidur yang dialami
seseorang akibat kebisingan adalah bergesernya tingkat perasaan
nyenyak saat tidur menjadi lebih rendah. Berkurangnya
kenyamanan dan perasaan nyenyak saat tidur menyebabkan
penurunan kebugaran.
b) Perasaan terganggu (Annoyance) perasaan terganggu oleh
kebisingan adalah suatu respon seseorang terhadap bising

40

disekitarnya. Tingginya tingkat gangguan dan lamanya seseorang
dalam lingkungan yang punya tingkat gangguan bising sangatbesar
menyebabkan seseorang beranggapan bahwa kebisingan tidak
terlalu penting karena sudah terbiasa.
c) Stress kebisingan yang mengenai seseorang sampai 85 dB bisa
berakibat stressnya seseorang. Stress ini ditandai dengan
membesarnya pupil mata, naiknya tekanan darah dan
meningkatnya asam lambung. Lebih jauh, kebisingan yang
mengenai seseorang dengan jangka waktu yang lama
mengakibatkan sakit mental, gelisah dan perasaan mudah marah.

Salah satu gangguan dari kebisingan yaitu menyebabkan stress.
Hal ini didukung dengan suatu studi epidemiologi di Amera Serikat
dalam Huldani menyatakan bahwa pekerja yang terpapar kebisingan,
cenderung memiliki emosi tidak stabil. Ketidak stabilan emosi tersebut
akan mengakikabtkan stress. Stress yang cukup lama akan
menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah, sehingga
memacu jantung untuk memompa darah lebih berat sehingga tekanan
darah akan naik.
4.2.3. Program Pengendalian Kebisingan

Menurut Permenaker No. 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan
dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja Pasal 10 ayat 3, bahwa jika
hasil pengukuran tempat kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
melebihi NAB harus dilakukan pengendalian.

41

1) Pengendalian Teknik (Engineering Control)
Pengendalian faktor bahaya kebisingan yang dapat

dilakukan adalah melalui engineering control untuk mereduksi
intensitas kebisingan yang sudah sesuai dengan hirarki
pengendalian yaitu dengan memberi peredam berupa tembok
yang dilapisi gypsum dan juga spon.

Program ini telah sesuai dengan Permenaker No. 5 Tahun
2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan
Kerja Pasal 10 ayat 4(c) yaitu pengendalian dilakukan dengan
cara memasang pembatas, peredam suara, penutupan sebagian
atau seluruh alat. Tetapi program engineering control tidak dapat
berjalan dengan baik karena peralatan yang digunakan sudah
terlalu tua, tidak menggunakan peralatan yang bagus,
pemeliharaan, dan perawatan yang kurang terhadap peralatan
peredam bunyi.
2) Administratif Control

Karena program engineering control tidak berjalandengan
baik maka PT. XYZ melakukan program administratif control
dengan menjaga agar pemaparan kebisingan bisa masuk kedalam
batas yang aman pada saat diterima. Administratif control yang
dilakukan antara lain dengan cara:

a) Rotasi Kerja
PT. XYZ telah sesuai dengan Peraturan Pemerintah

42

No. 5 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan
Kerja Lingkungan Kerja Pasal 21 ayat 2 (g) yaitu
pengendalian dengan cara merotasi tenaga kerja.
b) SOP (Standard Operation Procedure)

Pelaksanaan SOP meliputi semua aspek yang
berkaitan dengan K3, contohnya pada mesin-mesin produksi
yang digunakan harus memenuhi standar aman dalam
penggunaan maupun dalam perawatannya agar tidak
menimbulkan terjadinya kecelakaan maupun Penyakit
Akibat Kerja (PAK) pada tenaga kerja.

c) Training
Dalam Undang-undang No. 01 tahun 1970 tentang

Keselamatan Kerja bab V pasal 9 tentang pembinaan,
bahwa pihak perusahaan wajib menunjukkan dan
menjelaskan termasuk didalamnya melakukan pembinaan
terhadap seluruh tenaga kerja tentang:
1) Kondisi-kondisi berbahaya yang dapat timbul dalam

tempat kerjanya.
2) Semua pengaman dan alat-alat pelindung (APD) yang

harus disediakan di tempat kerja bising.
3) Alat-alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kerja yang

sesuai dengan jenis pekerjaannya.
4) Cara-cara dan sikap kerja yang aman dalam melakukan

43

pekerjaannya.
3) Pengendalian Personal

a) Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) ear plug
Pemakaian Alat Pelindung Diri berupa ear plug wajib dipakai

para tenaga kerja yang berada pada area yang mempunyai intensitas
kebisingan tinggi.
b) Penyediaan Alat Pelindung Diri

Alat pelindung diri disediakan oleh pihak perusahaan yaitu
yang bertanggung jawab penuh adalah departemen fire and safety
yang diberikan kepada tenaga kerja

44

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari laporan Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut:
1) Pengendalian bahaya kebisingan merupakan suatu hal yang wajib
diterapkan di area kerja perusahaan yang bertujuan untuk kesehatan
tenaga kerja dan harus sesuai dengan prinsip-prinsip dasar perancangan
perusahaan.
2) Dampak faktor bahaya kebisingan terhadap tenaga kerja di PT. XYZ
meliputi gangguan fisiologis, gangguan psikologis.
3) Program pengendalian terhadap faktor bahaya kebisingan meliputi
engineering control, administrative control, pengendalian personal.

5.2. Saran
Berikut ini adalah saran yang diberikan penulis untuk pihak perusahaan:
1) Untuk mewujudkan tenaga kerja yang sehat dan selamat, maka upaya
pengendalian bahaya kebisingan harus tetap menjadi suatu perhatian
khusus, serta perlu adanya pengawasan yang ketat terhadap tenaga kerja
dalam pemakaian Alat Pelindung Diri (APD).
2) Meningkatkan pemeriksaan kesehatan berupa pemeriksaan audiometri
untuk mengetahui tingkat kemunduran pendengaran pada karyawan lebih
dini sebagai tolak ukur karyawan untuk menjaga kondisi kesehatannya.
3) Program engineering control masih perlu ditingkatkan dengan cara
melakukan pemeriksaan dan perbaikan yang menyeluruh secara rutin

44

45
dan berkala supaya program dapat berjalan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Buchari. 2007. Kebisingan Industri dan Hearing Conservation Program. Medan:
USU Repository.

Fithri, Prima dan Indah Qisty Annisa. 2015. Analisis Intensitas Kebisingan
Lingkungan Kerja pada Area Utilities Unit PLTD dan Boiler di
PT.Pertamina RU II Dumai. Padang: Jurnal Sains, Teknologi dan Industri.
Vol.12. No. 2:278-285.

Harrington, J M dan Gill, F S. 2003. Buku Saku Keselamatan Kerja. Jakarta: EGC.

Jennie. 2007. Hubungan Intesitas Kebisingan di Lingkungan Kerja Dengan
Peningkatan Tekanan Darah Pada Karyawan PT Semen Tonasa di
Kabupaten Pengkep Sulawesi Selatan. Semarang: Universitas Diponogoro
Semarang.

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Nomor: KEP.51/MEN/1996
Tentang Baku Tingkat Kebisingan.

Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. KEP.51/MEN/1999
Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja.

Moeljosoedarmo, S. 2008. Higiene Industri. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Pungky, W. 2002. Himpunan Peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Jakarta: Sekretariat ASEAN-OSHNET dan Direktorat PNKK.

Sihar, Tigor Benjamin Tambunan. 2005. Analisis Tingkat Kebisingan di Tempat
Kerja dan Keselamatan Kerja. Jakarta.

SNI 8427-2017, Pengukuran Tingkat Kebisingan Lingkungan.

Suma'mur, P K. 1996. Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta:
CV Gunung Agung.

Sumarji. 2013. Kesehatan dan Keselamatan Kerja Seri Kebisingan. Malang:
Gunung Samudra.

Syukri, Sahab. 1997. Tekhnik Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Jakarta: PT Bina Sumber Daya Manusia.

Tarwaka. 2008. Keselamatan dan Kesehatan Kerja Manajemen dan Implementasi
K3 di Tempat Kerja. Surakarta: PT Harapan Press.

LAMPIRAN

Lampiran 1. NAB Kebisingan
Sumber dari : Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 5 Tahun 2018 Tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Tempat Kerja.

Lampiran 2. Baku Tingkat Kebisingan
Sumber: Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup KEP-

48/MENLH/11/1996

Lampiran 3. Analisis Faktor Bahaya Kebisingan
Sumber: Roesmalasari, Devi Eka. 2012. Analisis Faktor Bahaya Kebisingan Di

Area Mesin Finning PT. X Surabaya. Jawa Tengah. Universitas
Sebelas Maret.

Lampiran 4. Analisis Tingkat Kebisingan Dan Usaha Pengendalian
Sumber: Vera Surtia Bachtiar, Yommi Dewilda dan Berlinda Vaniake

Wemas.2013. Analisis Tingkat Kebisingan Dan Usaha Pengendalian
Pada Unit Produksi Pada Suatu Industri Di Kota Batam.

RIWAYAT HIDUP

Personal

Nama : Alvian Mustari

Tempat, Tanggal Lahir : Bekasi, 01 Oktober 1998

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Tinggi Badan : 175 cm

Berat Badan :60 kg

Kewarganegaraan : Indonesia

Agama : Islam

Alamat : Kp. Lw Malang, RT 07 RW 01, Desa Sukaresmi,

Kec.Cikarang Selatan, Kab. Bekasi, Provinsi Jawa

Barat

No. Telepon 089630052417

Email : [email protected]

Latar Belakang Pendidikan

Pendidikan Formal : SDN Sukaresmi 02
2005 – 2011

2011 – 2014 : SMPN3 Cikarang Selatan
2014 – 2017 : SMAN 1 Cikarang Selatam
2017 – Sekarang : Diploma III Fire & Safety Akamigas Balongan

Kunjungan Lapangan : Pengantar Ekologi dan Perundangan
2) Observasi Lingkungan Lingkungan
: Mangrove Karangsong, Indramayu 2018
Tempat : First Aid
3) Kegiatan Praktek : Kampus Akamigas Balongan 2018
: Proses Industri
Tempat : PT Bekasi Power, 2019
4) Kunjungan Industri : Manajemen Limbah
: PT Masaro, Juntinyuat, 2019
Tempat
5) Kunjungan Industri

Tempat

Seminar dan Pelatihan
1. Seminar Nasional “Oil and Gas Industry and New Paradigm Energy in
Indonesia”

Tanggal : 29 Oktober 2017

Tempat : Hotel Wiwi Perkasa, Indramayu

2. Pelatihan Hose Drill With Nozzle

Tanggal : 2 Juli 2018

Tempat : Fire Ground, Akamigas Balongan

3. Seminar Basic Training Safety Confined Space.

Tanggal : 30 Maret 2018

Tempat : Hotel Wiwi Perkasa, Indramayu

4. Pelatihan Basic Training Safety Confined Space.

Tanggal : 31 Maret 2018

Tempat : Akamigas Balongan, Indramayu

Demikian daftar riwayat hidup ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan
dapat dipertanggung jawabkan, terima kasih.

Hormat Saya,
Alvian Mustari


Click to View FlipBook Version