REVOLUSI SEPEDA
Disusun oleh Farida Putri Rizky (10) XII IPS 2 *Latar belakang* Sepeda adalah alat tranportasi yang sangat umum dan luas penggunaannya di dunia yang digunakan oleh semua orang dari berbagai kalangan usia. Tidak hanya sebagai alat tranportasi sepeda juga menjadi salah satu hobi yang banyak diminati oleh masyarakat dan sudah merupakan gaya hidup bagi sebagian masyarakat kota. Sepeda juga di anggap sebagai rekreasi dan aktifitas olah raga yang populer (Ismunandar, 1996). Bayak komunitas-komunitas sepeda yang terbentuk, dan tidak sedikit pula komunitas-komunitas sepeda mengcustome sepedanya sesuai keinginan serta penggunaanya. Pengembangan dari sepeda menjadi berbagai macam desain, seperti sepeda gunung, sepeda balap, kemudian sepeda jenis hybrid, sepeda BMX atau Bicycle moto-cross (BMX dan sepeda angkut, serta sepeda lipat yang akrab disapa seli. Sepeda tersebut adalah sepeda standar pabrikan yang di sesuaikan dengan dimensi tubuh manusia serta dapat di setting sesuai keingian penggunya. Sepedasepeda tersebut masing-masing mempunyai fungsi dan kegunaan sesuai dengan jenisnya. Dimensi utama pada sepeda adalah stang (handle bar), bangku (saddle), dan pedal sebagai intinya yang dapat di setting sesuai keinginan. Stang (handle bar) sebagai pengemudi atau mengendalikan arah sepeda, bangku (saddle) sebagai tumpuan posisi duduk yang berada diatas pedal, antara roda depan dan belakang demi menambah stabilitas dan kenyamanan berkendara, pedal untuk menggerakan sepeda secara kayuhan dengan menggerakan kedua kaki di atas pedal seperti berjalan Di samping itu cara untuk menentukan posisi bersepeda yang baik adalah dengan melakukan fitting bike, fiting bike adalah cara pengukuran dimensi tubuh untuk menentukan posisi bersepeda yang nyaman dan aman. Kenyamanan di sini tidak hanya berdasarkan desain sepeda itu sendiri. Tetapi juga berdasarkan bycycle fit-nya. Bicycle fit mencangkup ukuran kerangka sepeda yang disesuaikan dengan variansi dimensi, seperti ketinggian tempat duduk, jarak antara setang dan tempat duduk, sehingga posisi serta kenyamanan yang paling tepat dapat di peroleh. Karena ukuran dimensi tubuh manusia yang berbeda-beda pengendara tetap harus melakukan setting atau penyetelan untuk beberapa komponen sepeda seperti tinggi serta sudut stang (handle bar) secara ekstrim dapat mengganti, bangku (saddle) yang dapat diganti diluar desain pabrikan sesuai dengan keinginan dan kenyamanan Teknik industri mempunyai atensi atau perhatian untuk memperhatikan faktor-faktor ergonomi yang berhubungan antara setasiun kerja atau peralatan kerja dengan manusia. Manusia mempunyai antropometri seperti Bahu, Punggung bagian atas. Siku, Punggung bagian bawah, Pergelangan tangan/tangan, Pinggang/pantat dan Lutut yang dapat di sesuaikan dengan stasiun kerja serta peralatan untuk mengatur permasalahan pada sepeda ketiga bagian dimensi utama sepeda tersebut dapat diubah atau di setel, tetapi ukuran, jarak dan posisi sepeda memegang peran penting dalam penyetelan sepeda, sehingga dibutuhkan alat ukur ergonomi posisi bersepeda yang dapat memudahkan mengatur posisi bersepeda sesusai kenyamanan dengan pendekatan ergonomics
bicycle. Ergonomics Bicycle (alat bantu ergonomi posisi bersepeda) ini sebagai pedoman atau acuan bagi pengendara bersepeda, memudahkan mengatur posisi yang nyaman saat bersepeda. *Fungsi* Fungsi dari sepeda sebagai berikut: Transportasi. Sepeda menjadi alat transportasi utama pada abad 18, seiring perkembangan teknologi kini sepeda hanya digunakan sebagai alat transportasi sekunder. Olahraga dan perlombaan (balap sepeda). Selain digunakan sebagai alat transportasi sepeda juga digunakan untuk kegiatan rekreasi atau olahraga, banyak penggemar bersepeda yang melakukan kegiatan tersebut di berbagai macam medan dengan tujuan berolahraga. Olahraga bersepeda profesional dinamakan balap sepeda. Balap sepeda merupakan kompetisi yang masuk dalam salah satu cabang olahraga dalam olimpiade. Salah satu perlombaan balap sepeda yang terkenal di dunia adalah Tour de France. a. Atraksi. Sepeda yang sering digunakan untuk atraksi antara lain : sepeda roda satu dan BMX. Sepeda roda satu biasanya digunakan untuk sirkus atau pertunjukan lainnya, sedangkan sepeda BMX sering digunakan untuk free style yang biasa ditemui di tempat-tempat umum seperti di jalan atau di taman. Bersepeda merupakan salah satu jenis olahraga yang menarik dan dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa memandang status usia dan jenis-jenis kelamin. Selain sebagai alat untuk rekreasi, bersepeda membuat tubuh bergerak aktif, tubuh yang aktif adalah salah satu syarat penting untuk menjaga kualitas kesehatan. Bersepeda sendiri, jika dilakukan minimal 2,5 jam seminggu secara rutin memiliki dampak positif bagi kesehatan tubuh. Menurut Mulyana dan Giriwijoyo (2012), manfaat bersepeda adalah sebagai berikut: a. Manfaat bagi kesehatan Terdapat beberapa manfaat dari aktivitas bersepeda sebagai alat untuk mempromosikan kesehatan. Bersepeda memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, antara lain yaitu sebagai berikut: Bersepeda baik untuk jantung. Olahraga bersepeda erat hubungannya dengan peningkatan kebugaran kardiovaskular atau kesehatan pembuluh dara dan jantung, serta penurunan resiko penyakit jantung coroner. Bersepeda baik untuk otot-otot. Mengendarai sepeda sangat baik untuk mengencangkan dan membangun otot terutama di bagian bawah tubuh seperti betis, paha dan bagian belakang. Menjaga ukuran pinggang tetap ideal. Pembakaran kalori dapat terjadi saat bersepeda ketika menggowes lebih cepat daripada biasanya, bersepeda tidak hanya efektif dalam membantu menurunkan berat badan, tetapi juga meningkatkan metabolisme tubuh. Baik untuk kesehatan mental. Bersepeda telah dikaitkan dengan peningkatan kesehatan mental. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Bersepeda dapat memperkuat kekebalan tubuh, sekaligus menjadi alat proteksi terhadap jenis penyakit kanker tertentu. b. Manfaat bagi lingkungan Tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan, bersepeda juga sangat bermanfaat bagi lingkungan, antara lain yaitu: Sepeda tidak memerlukan lahan parkir yang luas. Tidak mencemari lingkungan.
Dapat dipakai oleh semua usia. Memberikan kesempatan berinteraksi yang lebih leluasa, baik dengan sesama pemakai jalan, maupun dengan warga masyarakat di sekitarnya. *Perubahan sepeda dari masa ke masa* Sepeda dari masa ke masa (Bagian 1) : Menilik Rancang Bangun Sepeda Pertama di DuniDunia, Replika Celerive Bicara tentang sejarah dan perkembangan sepeda tak bisa dilepaskan dari kiprah para penemu di masanya. Sepeda tak langsung hadir seperti bentuk yang banyak digunakan saat ini yang dikenal dengan nama sepeda keselamatan atau safety bicycle. Bahkan, hal-hal baru dalam penyempurnaan sepeda dilakukan oleh orang yang berbeda. Dari masa ke masa, sepeda terus berevolusi dan mengalami berbagai penyempurnaan baik pada bentuk maupun komponennya. Lalu, sejumlah pertanyaan mengemuka, antara lain kapan sepeda pertama kali dirancang, siapa pembuatnya, bagaimana bentuknya hingga material apa yang digunakan?
Replika Celerifere Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah perkara mudah. Sebabnya, berbagai literatur pun mencatat perbedaan soal sejarah dan rancang bangun sepeda paling awal ini. Ada yang menyebut célériféré, ada pula yang mengatakan draisienne (hobby horse) sebagai nenek moyangnya sepeda. Lebih jauh, konon, gagasan dan visualisasi sepeda sudah dibuat Leonardo da Vinci pada pertengahan abad ke-15. Akan tetapi, ilmuwan berkebangsaan Italia tersebut tak dapat mewujudkannya secara fisik. Ya, terlepas dari perbedaan pandangan itu, Encyclopedia International mencatat prototipe sepeda pertama dibangun pada tahun 1790 di belahan Eropa. Disebutkan bahwa Monsieur Chevalier Comte Mede de Sivrac, seorang berkebangsaan Perancis, telah membangun alat transportasi sederhana tanpa kuda sebagai penariknya. Rancang bangun sepeda yang diduga paling awal di dunia tersebut diperkenalkan di Palace-Royal, Perancis. Replika Celerife Bentuk célériféré terbilang sangat sederhana dan cenderung kaku, terbuat dari rangka kayu yang dipasang pada dua roda kayu dalam satu baris. Bagian depan umumnya diukir rupa-rupa bentuk hewan semisal burung, ular, buaya, singa hingga kuda. Namun, kendaraan primitif ini tidak memiliki batang kemudi sehingga tidak bisa dibelokan atau diarahkan ke kiri atau kanan. Pendek kata, célériféré hanya mampu bergerak lurus ke depan.
Selain tak punya kemudi, célériféré juga tak dilengkapi rem sebagai komponen utama dan pentingdalam alat tranportasi sepeda modern. Oleh sebab ketiadaan kemudi dan rem inilah, sebagian orang menganggap célériféré lebih cocok dibilang mainan anak-anak ketimbang moda transportasi Replika Celerifere Lalu, bagaimana perangkat tersebut melaju? Jika sepeda modern menggunakan pedal sebagai komponen untuk mengayuh (pedaling), lain halnya dengan célériféré. Ia tak punya pedal. Cara menggerakkannya adalah didorong oleh si penunggang atau pengendara yang “mengangkangi” célériféré seraya kaki menendang ke belakang menyapu permukaan tanah atau jalan, seperti orang berjalan. Sama halnya dengan saat menggerakkan, untuk menghentikan lajunya pun hanya mengandalkan kedua kaki penunggangnya menginjak tanah atau jalan Kendati demikian, pada masa itu hasil karya de Sivrac menjadi sangat revolusioner. Kendaraan ini tak lagi menggunakan hewan sebagai “mesin” atau penggerak yang umum berkembang saat itu. Alhasil, penemuannya menjadi suatu hal baru pada alat transportasi tunggal. Replika Celerifere Meskipun dibilang moda transportasi sederhana, célériféré nyatanya cukup sulit ditunggangi. Setelah de Sivrac memperkenalkannya kepada khalayak, banyak yang enggan menggunakannya lantaran khawatir celaka. Terlebih, célériféré tidak dirancang untuk penunggang anak-anak dan perempuan. Hanya para lelaki berjiwa petualang yang mau mencoba dan melaju di atasnya. Hal lain yang membuat célériféré tidak populer saat itu adalah harganya yang lumayan mahal. Konon, hampir sama dengan harga seekor kuda.
Di luar pandangan rancang bangun sepeda pertama, plus kekurangan yang ada dari komponen dan sisi keselamatan, kehadiran célériféré telah menjadi peletak dasar konsep dua roda sejajar dalam perkembangan sepeda/ sepeda motor selanjutnya Sepeda dari masa ke masa (Bagian 2) : Draisienne, Tonggak Penting Inovasi Menuju Sepeda Masa Kini Draisinne, peserta IVCA RALLY 2018 di Bali Sebagaimana disajikan pada bagian pertama artikel “Sepeda dari Masa ke Masa”, inovasi terus berlangsung menuju penyempurnaan hingga tampak seperti sepeda yang kita gunakan secara umum hari ini. Salah satu tonggak penting berkembangnya kendaraan manumotif ini adalah kehadiran draisienne. 202 tahun silam, tepatnya 12 Juni 1817, seorang berkebangsaan Jerman bernama Karl Drais von Sauerbronn mendemonstrasikan alat transportasi hasil penemuannya, draisienne. Saat itu, pria kelahiran Karlsruhe, Baden, 29 April 1785 memperlihatkan buah karyanya kepada khalayak di sepanjang jalan termulus sekaligus terbaik di Mannheim, Jerman. Drais melakukan uji coba pertamanya. Ia menempuh perjalanan dengan menunggang kendaraan barunya itu melalui jalan strategis ke Schwetzinger di sepanjang rute pos. Tak lebih dari satu jam, ia kembali setelah menyelesaikan kayuhan perjalanan pergi pulang sekira 8-9 mil dengan kecepatan 5-6 mil per jam. Uji coba kedua dilakukan dari Gernsbach ke Baden melewati bukit dengan ketinggian 800 kaki yang terkenal curam dengan kecepatan rata-rata 4 mil per jam dan mampu mengurangi separuh waktu perjalanan biasanya. Draisiene
Namun, laufmaschine karya Drais rupanya menuai pro dan kontra dari masyarakat. Kehadiran mesin berjalan atau vélocipédé dengan dua roda sejajar berbingkai kayu tersebut disambut hangat meskipun sebagian menilainya biasa saja. Hal ini tak lepas dari anggapan bahwa draisienne terinspirasi dari célériféré yang dikembangkan pada tahun 1790 di Prancis. Perbedaan yang signifikan, meski cara melajukannya sama persis dengan célériféré, mesin Drais dilengkapi kemudi yang bisa dikendalikan penunggangnya. Oleh sebab kemudi yang mampu diarahkan inilah masyarakat tak lagi menilainya sebagai mainan anak-anak. Begitu juga tali yang terhubung dengan roda belakang yang berfungsi memperlambat laju. Akan tetapi, tali ini tak begitu mumpuni sebagai komponen rem sehingga alas kaki pengendara masih berperan dalam menghentikan gerak roda. Untuk melajukan mesin, penunggang mesti mengangkangi draisienne dan duduk di atasnya, lalu bergerak seperti berjalan atau berlari dengan kaki menyapu permukaan tanah. Tak heran, banyak sindiran yang mengemuka, salah satunya : “Tuan Drais pantas mendapatkan rasa terima kasih dari tukang sepatu karena ia telah menemukan cara yang optimal untuk memakai sepatu.” Drainase Diceritakan, sisi lain dari apa yang Drais temukan berkaitan dengan terjadinya letusan dahsyat Gunung Tambora di Indonesia (dulu Hindia Belanda) pada 5 April 1815 yang dampaknya mempengaruhi iklim global. Ledakan vulkanik terbesar tersebut mengakibatkan awan abu yang mendinginkan suhu rata-rata 3 derajat Celcius di Eropa dan Amerika Utara. Banyaknya kuda yang mati saat itu membuat draisienne kian populer sebagai kendaraan baru pengganti kereta kuda.
Pada Oktober 1817, Drais menerbitkan brosur laufmaschine. Dalam brosur iklan sebanyak tiga halaman itu disebutkan, pelanggan boleh berinvestasi atau memesan desainnya. Tahun berikutnya, ia kembali menerbitkan brosur di Prancis dan mengganti namanya menjadi vélocipédé. Drainase, peserta IVCA RALLY 2013 di Ceko Pada 12 Januari 1818, Drais mendapatkan hak paten atas penemuannya itu dari negara bagian Baden, Jerman. Pada tahun yang sama, draisienne mulai dikembangkan Denis Johnson di Inggris. Di negeri Tiga Singa, rancang bangun sepeda ini dikenal dengan nama hobby horse atau dandy horse. Johnson perlahan meningkatkan desain draisienne dan memproduksi keturunan-keturunannya sehingga makin banyak diminati. Pada masanya, dalam waktu singkat draisienne menjadi sangat populer dan menarik perhatian masyarakat khususnya di Eropa. Namun, lambat laun keberadaannya pun memudar. Salah satu penyebabnya adalah alat transportasi tanpa kuda ini masih; dianggap “kasar” yakni kemampuan kemudi yang minim dan belum mempunyai sistem pengereman yang mumpuni. Drainase,peserta IVCA RALLY 2018 di BALI Meski demikian, draisienne masih banyak digunakan di berbagai negara di Eropa saat ini. Terlebih, ada ajang tahunan internasional bertajuk International Veteran Cycle Association (IVCA) Rally yang banyak menghadirkan para pengguna sepeda veteran dari berbagai dunia. Terlepas dari kelemahan yang ada, draisienne dinilai sebagai tonggak penting inovasi menuju sepeda masa kini. Dalam anatomi kendaraan khususnya sepeda, kemudi merupakan bagian vital sehingga alat transportasi tersebut bisa diarahkan dan dikendalikan.
Sepeda dari masa ke masa (Bagian 3) : Vélocipédé, Si Kaki Cepat yang Dilengkapi Pedal Vélocipédé rancang bangun Michaux, sepeda pertama yang dilengkapi pedal yang dapat beruputar 360 derajat Ketika era draisienne, sebagian sudah menyebutnya vélocipédé khususnya di Prancis, mulai memudar lantaran kelemahan rancang bangunnya, beragam eksperimen dilakukan sejumlah orang. Tujuannya adalah untuk meningkatkan performa dan cara kerja mesin vélocipédé. Berbagai percobaan tersebut setidaknya dilakukan dalam kurun 1820-1865. Tak hanya mengembangkan atau menyempurnakan konsep dua roda sejajar karya Comte Mede de Sivrac atau Karl Drais von Sauerbronn, mesin dengan tiga hingga empat roda pun ramai diperbincangkan dan didemonstrasikan di sejumlah tempat dan keramaian. Akan tetapi, konsep dua roda sejajar lebih banyak diuji coba dan dikembangkan mengikuti rancang bangun nenek moyangnya. Komponen penting yang melengkapi Si Kaki Cepat vélocipédé adalah hadirnya engkol yang menjadi cikal bakal pedal. Siapa yang menemukan cara baru mengayuh vélocipédé ini? Vélocipédé rancang bangun Kirkpartick Macmillan, nampak engkol yang menjadi cikal bakal pedal terhubung batang kayu ke roda belakang.
Pada tahun 1838, seorang Skotlandia bernama Kirkpatrick Macmillan membuat suatu percobaan. Bermula ketika dia melihat hobby horse yang ditunggangi seseorang di sepanjang jalan. Lalu, suatu hari pria kelahiran Dumfriesshire tahun 1812 itu membuat untuk dirinya sendiri. Setelah selesai, ia menyadari perbaikan apa yang mesti dilakukan agar vélocipédé bikinannya itu bisa digerakkan tanpa kaki menyentuh tanah. Ini merupakan komponen paling menonjol sehingga menjadi pembeda dengan draisienne yang tanpa pedal. Dengan bekal kemampuan dan pengetahuannya sebagai pandai besi, Macmillan mencoba menerapkan engkol (cranks) untuk mendorong roda belakang. Mesin berangka kayu dengan ukiran kepala kuda itu mampu diselesaikannya pada tahun 1839. Inilah cikal bakal sepeda yang menggunakan pedal. Akan tetapi tunggu dulu, pedal yang diterapkan pada vélocipédé Macmillan bukan pedal yang dapat berputar 360 derajat seperti yang lazim kita jumpai sekarang. Pedal Macmillan yang berfungsi sekaligus sebagai pijakan digerakkan dengan cara didorong oleh gerakan kaki pengendara secara resiprokal-horizontal. Gerakan ini ditransmisikan ke roda belakang dengan tongkat atau batang penghubung. Memang, Macmillan masih merasakan kayuhan yang relatif berat sehingga membutuhkan fisik yang memadai untuk menunggangnya. Replika vélocipédé Kirkpartick Macmillan, bentuk kerangka masih ada sentuhan ukiran binatang era draisienne. Dikutip dari laman britannica.com, versi penyempurnaan selanjutnya dilakukan Pierre dan Ernest Michaux asal Prancis sekira tahun 1860-an. Istilah vélocipédé yang sudah umum digunakan selama 40 tahun kian melekat digunakan untuk merujuk nama kendaraan ini. Perusahaan Michaux yang bermitra dengan Olivier Brothers menjadi perusahaan pertama yang memproduksi vélocipédé secara massal antara tahun 1857 hingga 1871. Rancang bangun vélocipédé yang dikembangkan Michaux sudah dilengkapi engkol dan pedal yang dipasang pada as roda depan. Gerak roda dengan sistem pedal semacam itu sampai sekarang pun masih banyak digunakan pada beberapa model sepeda. Sebut saja penny-farthing dan sepeda roda tiga anak-anak. Mekanisme gerak engkol dan pedal vélocipédé Michaux dapat berputar 360 derajat dan laju sepeda menjadi lebih stabil. Diterapkannya pedal tersebut menjadikan vélocipédé Michaux dengan garpu lurus dan dilengkapi rem sendok (spoon brake) sebagai cikal bakal sepeda modern. Hal lain yang menjadi pembeda adalah adanya unsur rangka besi yang dibaut pada keseluruhan rancang bangun kerangkanya sehingga nampak lebih elegan dan memungkinkan produksi massal.
Vélocipédé rancang bangun Michaux, nampak komponen pedal yang dipasang pada as roda depan. Kisah vélocipédé tak berhenti di situ. Percobaan juga pernah dilakukan seorang berkebangsaan Prancis lainnya, Pierre Lallemant. Apa yang diupayakannya tak jauh dari rancang bangun vélocipédénya Michaux. Pada tahun 1865, masih di era Michaux, Lallemant memperkuat roda vélocipédé dengan menambahkan pelat besi di sekelilingnya. Apa yang ia usahakan mendapat julukan boneshakers (pengocok tulang). Hal ini merujuk pada ketidaknyamanan roda kayu yang dilapisi pelat besi. Selain konstruksi sepeda yang memang kaku karena belum diterapkan teknologi suspensi semisal per, ban karet dan sebagainya, menjadi tambah kaku dengan tambahan pelat tersebut. Goyangan dan goncangan saat dikayuh membuat pengendaranya merasa sakit pinggang. Lallemant juga memperkenalkan ukuran lingkaran roda depan lebih besar ketimbang roda belakang. Jika diperhatikan, jarak antarroda tak lebih dari sejengkal. Pierre Lallemant dengan vélocipédé-nya pada tahun 1870. Dalam era ini, lagi-lagi di tengah kekurangan dan kesederhanaannya, vélocipédé masih belum diterima dengan baik oleh semua kalangan masyarakat apalagi bagi kaum wanita dan anak-anak.
Selain produksi yang tidak melimpah dan dikerjakan secara manual, tingkat kecelakaan yang masih tinggi menjadi penyebab pamor kereta angin ini kembali meredup. Namun di sisi lain, kekurangan vélocipédé menjadi motivasi para inovator, pandai besi hingga mekanik untuk terus menyempurnakan rancang bangunnya menjelang akhir abad ke-19 hingga lahirnya sepeda keselamatan (safety bicycle). Sepeda dari masa ke masa (Bagian 4) : Si Roda Besar Pennyfarthing yang Melegenda Para peserta melakukan pemanasan sebelum reli kategori pennyfarthing dalam rangkaian IVCA Rally 2018 di Sanur, Bali, Indonesia. Kemunculan pennyfarthing dalam perkembangan sepeda boleh dibilang unik. Dua roda sepeda yang mulanya cenderung sama besar, di era ini lingkaran roda depan justru didesain jauh lebih besar ketimbang roda belakang. Tak sampai di situ, keunikan yang kentara juga terlihat pada rancang bangun bingkai pennyfarthing yang melengkung. Segelintir orang malah ada yang menyebutnya sepeda untuk sirkus. Pennyfarthing atau high wheel merupakan istilah yang menggambarkan jenis sepeda dengan lingkaran roda depan berukuran besar dan roda belakang yang jauh lebih kecil. Penganalogian merujuk pada dua koin Inggris yakni uang sen penny dan farthing. Di Belanda, sepeda ini dikenal dengan nama hoge bi. Pennyfarthing adalah sepeda tua klasik yang melegenda. Di awal kemunculannya demikian populer dan namanya familiar di tengah masyarakat terutama di Benua Biru. Pennyfarthing hadir setelah era boneshaker yang rancang bangunnya dinilai masih perlu penyempurnaan.
Pennyfarthing Pada pertengahan abad ke-19, proses pengerjaan logam telah mengalami peningkatan dalam industri dan manufaktur di Eropa. Hal ini memberi pengaruh positif terhadap material kerangka sepeda yang mulai dibangun seluruhnya dari bahan logam. Rancang bangun pennyfarthing yang berbahan logam itu perlahan mengubur popularitas model kereta angin sebelumnya yang didominasi bahan kayu. Lantas, siapa yang memperkenalkan Si Roda Besar ini? Adalah James Starley, pelopor pembuatan sepeda di Coventry, Inggris. Pria yang kemudian dikenal sebagai Bapak Industri Sepeda ini menciptakan prototipe sepeda pertamanya yang diberi nama Ariel. Sepeda legendaris tersebut diluncurkan tahun 1870-an sekaligus menandai lahirnya era pennyfarthing. Dengan roda besar, memungkinkan jarak tempuh menjadi lebih cepat. Bukan hanya model bingkai melengkung, Starley juga memperkenalkan roda berjeruji tangen yaitu fitur jari-jari kawat dalam garis lurus yang dihubungkan ke hub. Kehadiran jeruji model ini menambah komponen penting dalam perkembangan sepeda. Roda jauh lebih tangguh dari desain sebelumnya. Para peserta melakukan pemanasan sebelum reli kategori pennyfarthing dalam rangkaian IVCA Rally 2018 di Sanur, Bali, Indonesia. Desain pennyfarthing memang tergolong unik. Kerangka dibangun dengan pipa tunggal yang bentuknya mengikuti lingkar roda depan. Drop out ujung pipa bagian bawah langsung terhubung dengan roda belakang atau trailling wheel. Roda depan dan belakang nampak tak seimbang karena
memiliki ukuran yang jauh berbeda. Konon, pennyfarthing didesain sebagai suatu kebanggaan bahwa bersepeda harus lebih tinggi derajat dan posisinya ketimbang orang yang berjalan kaki. Ukuran roda depan pennyfarthing rata-rata berdiameter 52 inci (1,3 m) hingga ada yang mencapai 64 inci (1,6 m). Sedangkan lingkaran roda belakang umumnya setengah dari diameter roda depan atau lebih kecil lagi. Karena rancang bangunnya tidak menggunakan rantai penggerak, maka laju sepeda digerakkan pedal yang melekat pada roda depan seperti halnya boneshaker. Peserta reli kategori pennyfarthing kelas wanita sedang beradu cepat di lintasan dalam rangkaian IVCA Rally 2018 di Sanur, Bali, Indonesia. Popularitas pennyfarthing memang melaju cepat dan dalam waktu yang relatif singkat banyak menarik minat masyarakat. Popularitasnya juga bertepatan dengan kelahiran tren bersepeda sebagai olahraga, bukan hanya sekadar transportasi dan rekreasi. Namun, nama besarnya itu perlahan meredup oleh karena aspek yang melekat pada karakteristik sepeda beroda depan besar tersebut. Risiko kecelakaan masih meningkat pada masa itu sehingga trennya cenderung berumur pendek. Sisi keselamatan menjadi masalah utama memudarnya pennyfarthing. Roda yang besar nyatanya menjadi dilema bagi orang-orang yang berperawakan mungil dan kaum hawa. Tak pelak, banyak yang mengeluhkan akan hal itu. Posisi mengendara mungkin terlihat menakutkan, kaki berada di ketinggian dan tidak bisa menyentuh tanah sama sekali. Para peserta IVCA Rally 2018 dari berbagai negara bersepeda bersama keliling ka Sanur, Bali, Indonesia dengan mengenakan kostum unik.
Ya, inovasi generasi awal pennyfarthing umumnya dinikmati oleh pemuda yang suka bepergian dengan cepat atau pria dewasa yang bernyali tinggi. Posisi duduk yang terlampau tinggi saat melaju membuat pengendaranya harus pandai memanjat saat hendak menunggangnya dengan bantuan pijakan pada trailling wheel. Maka, para wanita menghadapi kesulitan yang luar biasa agar dapat melaju di atasnya. Terlebih, mekanisme gerak roda masih didominasi fixed gear meski ada pennyfarthing yang dilengkapi rem sendok (spoon brake). Pennyfarthing telah menjadi sebuah desain sepeda yang unik dan melegenda. Tak berlebihan jika model ini populer sebagai mesin pertama yang disebut sepeda yakni ordinary bicycle! Penggunanya masih bersemi hingga hari ini termasuk dari kalangan wanita. Sepeda dari Masa ke Masa (Bagian 5-Habis) : Lahirnya Safety Bicycle Disambut Produksi Massal Sepeda Rover Starley-Sutton Selain kenyamanan, sepeda yang aman tentu menjadi faktor utama bagi setiap pengendaranya demi keselamatan. Ketika penny-farthing meluncur dari dapur produksi dan cukup diminati masyarakat pada dekade 1870-an, segelintir orang masih terus mengupayakan rancang bangun sepeda yang lebih maksimal. Seorang insinyur berkebangsaan Inggris bernama Harry John Lawson merancang desain baru sepeda pada 1876. Rancang bangun yang diupayakannya jauh berbeda dengan penny-farthing. Desain sepeda buah cipta pria yang dikenal dengan panggilan Henry tersebut memungkinkan kaki pengendaranya berada dalam jangkauan tanah. Satu kelebihannya, pengendara lebih mudah menghentikan laju sepeda.
Iklan sepeda safety bicycle tahun 1887 di Wolverhampton Inggris. Model asli sepeda rancangan Henry menggunakan treadles untuk mentransfer daya dorong dari belakang. Pada 1879, model diperbaharui dengan menggunakan rantai sebagai penggerak roda. Waktu itu, penggunaan mekanisme rantai penggerak hanya digunakan pada sepeda roda tiga (tricycle). Namun, rancangan Henry dinilai masih belum maksimal. Apa sebab? Ada peningkatan dari sisi berat, biaya dan kompleksitas ketimbang penny-farthing yang lagi populer. Masa penting perkembangan dunia sepeda terjadi pada tahun 1885. Sepeda keselamatan (safety bicycle) lahir menjawab semua keinginan masyarakat. Penemuan model sepeda modern ini demikian cepat mempengaruhi desain sepeda secara global dan disambut produksi besar-besaran alias poduksi massal. Lantas, siapa sosok di belakang penemuan ini? Sepeda Rover tahun 1885 di London Science Museum. Seorang industrialis asal Inggris John Kemp Starley meneruskan keberhasilan Henry dari sisi bingkai sepeda yang kemudian dikenal sebagai model diamond. Hingga sekarang, pakem model bingkai ini masih terus diproduksi oleh berbagai produsen sepeda di dunia. JK Starley yang turut mengembangkan penny-farthing bersama pamannya yakni James Starley, membuat rasio perhitungan gear dan wheel. Alhasil, sepeda keselamatan JK Starley yang dikenal dengan nama Rover lebih diterima masyarakat. Bingkai sepeda lebih stabil, pengendara lebih nyaman karena bisa menjangkau tanah saat
menunggangnya, dikayuh lebih ringan, mekanisme rem lebih mumpuni dan risiko kecelakaan menurun drastis. Kehadirannya juga menjadi motivasi kaum wanita untuk kembali bersepeda karena dinilai lebih nyaman dan aman. Sepeda Rover Starley-Sutton tahun 1887. Bisnis sepeda JK Starley dimulai pada tahun 1877 bersama William Sutton, penggemar sepeda lokal dengan memproduksi sepeda roda tiga. Hadirnya Rover pada 1885 membuat perusahaan Starley Sutton & Co berkembang pesat. Pada 1889 perusahaan ini berubah menjadi JK Starley & Co Ltd dan pada akhir 1890 berubah lagi menjadi Rover Cycles Company Ltd. Rover Starley seringkali digambarkan oleh para sejarawan sebagai sepeda modern pertama. Sebuah majalah sepeda lokal Inggris menyebut Rover telah “mengatur pola ke seluruh dunia”. Ungkapan ini digunakan Starley dalam iklannya selama bertahun-tahun. Nyatanya, safety bicycle karya Starley adalah sebuah kesuksesan besar, diekspor ke berbagai dunia dan disambut produksi massal. Starley dan sepeda Rover buatannya
DAFTAR PUSAKA Universitas Muhammadiyah Surakarta.(2021). https://eprints.ums.ac.id/63635/3/BAB%20I.pdf Diakses pada 9 Septermber 2023 Pukul 18.00-22.00 Riadi Muchlisin.(Agustus 06 2020).Sepeda(Sejarah,Bagian,Prinsip kerja,Jenis-jenis dan Manfaat) https://www.kajianpustaka.com/2020/08/sepeda.html?m=1#:~:text=Selain%20digunakan% 20sebagai%20alat%20transportasi,macam%20medan%20dengan%20tujuan%20berolahraga . Diakses pada 9 September 2023 Pukul 18.00-22.00 Akhmad Irwan.(2019).Evaluasi Sepeda DariMasa ke masa https://portalsepeda.com/evolusi-sepeda-dari-masa-ke-masa/ Diakses pada 9 September 2023 Pukul 18.00-22.00