Nama : Diana Wulandari BIPA 5
PUISI
Kelas : A
Menemukan Informasi terperinci dari teks eksposisi.
Level BIPA Mengungkapkan gagasan dari teks lisan dengan
Materi BIPA fasih.
Sub Materi BIPA Menginterpretasi makna dalam teks eksposisi.
Membuat surat yang sesuai dengan target pembaca.
1. Menyimak Membuat artikel koran yang sesuai dengan target
pembaca.
2. Berbicara Menggunakan gaya bahasa dalam puisi.
3. Membaca Mengenal Sastrawan Indonesia.
4. Menulis
5. Tata Bahasa
6. Wawasan Keindonesian
UNIT 7
PUISI
Setelah mempelajari pada materi ini, pembelajar diharapkan mampu:
1. Menangkap pesan tersirat dan tersurat yang disajikan dalam karya sastra puisi.
2. Memperaktikkan cara membaca puisi yang tepat.
3. Menulis puisi dengan kaidah dan struktur yang tepat
4. Mengenal sastrawan yang ada di Indonesia.
MENYIMAK
https://drive.google.com/file/d/1SkxTeuLI4yWMRigoKolvTfJKyZ0II79v/view?usp=drivesdk
Kegiatan 1
Setelah menyimak pada link di atas. Pasangkan jawaban yang tepat dengan memberikan tanah
panah ke jawabannya. Nomor 1 dijadikan sebagai contoh:
1. Apa yang ditanyakan oleh Diana? A. (Corona)
2. Tema apa yang diangkat untuk
B. (Mengerjakan
minggu depan? tugas terlalu larut)
C. (Tugas Pagelaran)
3. Apa penyebab Diana bangun siang?
Kosa Kata
Pagelaran : Pergelaran, pertunjukkan sastra.
Sajak : Karya sastra yang penyajiannya dilakukan dalam baris-baris yang teratur dan
terkait.
Larik : bait, baris (dalam sajak)
Kegiatan 2
Pada materi kali ini kita akan membahas mengenai puisi. Marilah mengenal puisi karya sastra
dari Sastrawan Indonesia, silahkan simak puisi di bawah ini:
Aku karya Chairil Anwar
https://youtu.be/Y_yb2X--fXY
Peringatan karya Wiji Thukul
https://youtu.be/8eNka7GkjBc
Setelah menyimak lakukan beberapa langkah di bawah ini:
1. Tulislah makna yang terkandung dari kedua puisi di atas.
2. Catatlah kata-kata yang belum di pahami.
3. Tulislah perbedaan dari kedua puisi di atas
Kosa Kata
Peringatan : Nasihat, ingatan, hal yang meemperingati.
Penguasa : Orang yang menguasai, pemegang kekuasaan.
Gawat : genting, berbahaya, kritis, menghawatirkan, sulit, terancam.
BERBICARA
Kegiatan 3
Diana : “Selamat siang Ahmad, maaf mengganggu waktunya aku mau bertanya tugas
pagelaran sastra untuk minggu depan”.
Ahmad : “Selamat siang Diana, oh iya tidak apa-apa untuk tugas minggu depan kita membuat
puisi dengan tema corona. Tadi pagi kenapa kamu tidak masuk kelas?”
Diana : “ Terima kasih Ahmad, tadi pagi aku kesiangan, karena malam aku mengerjakan tugas
terlalu larut,. Sehingga aku bangun terlalu siang”.
Ahmad : “ sama-sama Diana, kalau belum mengerti tanya saja yah. Lain kali tugasnya
Diana dikerjakan siang saja agar waktu tidurnya tidak terganggu”.
: “Iya Ahmad, aku tidak akan mengulanginya lagi”.
Setelah Anda simak percakapan di atas, ikutilah beberapa langkah di bawah ini!
1. Buatlah kelompok dengan jumlah 2 orang dalam 1 kelompok.
2. Praktikan kembali percakapan di atas dengan teman kelompoknya.
3. Unggah vedio tersebut pada akun youtobe Anda dengan #BelajarBerbicaraBIPA.
Kosa Kata
Larut : Hanyut makin jauh, bertambah lama, makin bertambah, tenggelam.
Kritik : Kecaman atau tanggapan, atau kupasan kadang-kadang disertai uraian dan
pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat dan sebagainya.
Saran : Pendapat (usul, anjuran, cita-cita) yang dikemukakan untuk dipertimbangkan.
MEMBACA
Bacalah puisi salah satu karya Sastrawan Indonesia Taufik Ismail dengan judul “Sebuah Jaket
Berlumur Darah”. Tetap memperhatikan vokal, intonasi, ekspresi dan gestur tubuh!
Sebuah Jaket Berlumur Darah
Taufik Ismail
Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung
Dalam kepedihan berahun-tahun
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja
Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?
Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang
Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN
Kegiatan 4
Setelah Anda membaca puisi karya Taufik Ismail dengan judul “Sebuah Jaket Berlumur
Darah”, cobalah anda praktikkan dengan tetap memperhatikan vokal, intonasi, ekspresi dan gestur
tubuh. Kemudian unggah pada youtobe Anda!
MENULIS
Setelah Anda sudah meyimak, berbicara dan membaca puisi. Selanjutnya untuk memperdalam
materi Anda menulis puisi dengan tema pada gambar di bawah ini!
TATA BAHASA
Puisi merupakan karya sastra yang bisa memberikan makna arti tersirat ataupun tersurat.
Dalam penulisan puisi kita akan mengenal kata kiasan atau kata yang tidak sebenarnya, diksi-diksi dan
gaya bahasa (majas-majas).
Berikut langkah-langkah membuat Puisi:
1. Tentukan Tema dan Judul
Pilihlah satu tema yang kita inginkan sebagai acuan dalam membuat puisi agar puisi
kita lebih menarik. Tema puisi ada banyak sekali. Jadi, sebisa mungkin pilihlah tema yang
benar-benar menarik. Setelah menentukan tema, langkah selanjutnya adalah menentukan judul
yang berpacu pada tema.
Misalnya saja kita menentukan temanya, yaitu kesetiaan.
2. Menentukan Kata Kunci
Setelah menentukan tema, langkah-langkah menulis puisi selanjutnya adalah
menentukan kata kunci dan kemudian mengembangkan kata tersebut. Jika kamu telah
menemukan tema, misalnya tadi kesetiaan, maka selanjutnya adalah menemukan kata kunci
yang berkaitan dengan keabadian tersebut. Apabila sudah dirasa cukup untuk memulai
membuat puisi, maka kamu tinggal mengembangkannya dalam sebuah kalimat atau larik puisi.
Misalnya satu kata kunci digunakan untuk satu larik. Atau bisa saja, satu kata kunci kemudian
dikembangkan menjadi satu bait.
3. Menggunakan Gaya Bahasa
Langkah menulis puisi selanjutnya adalah dengan menggunakan gaya bahasa. Salah
satunya adalah dengan majas misalnya majas perbandingan atau majas metafora misalnya.
4. Kembangkan Puisi Seindah Mungkin
Mengembangkan semua langkah di atas menjadi puisi yang indah. Susun kata-kata,
larik-larik puisi menjadi bait-bait. Kembangkanlah menjadi satu puisi yang utuh dan bermakna.
Kamu harus ingat bahwa puisi bukanlah sebuah artikel. Tulisan yang kamu buat untuk puisi
harus ringkas, padat, sekaligus indah. Pilihlah kata yang sesuai yang mewakili unsur keindahan
sekaligus makna yang padat.
Ingatlah tiga hal yang berkaitan dengan kata dan larik dalam menulis puisi, yaitu:
• Kata adalah satuan rangkaian bunyi yang ritmis atau indah, atau yang merdu
• Makna kata bisa menimbulkan banyak tafsir
• Mengandung imajinasi mendalam tentang hal yang dibicarakan
WAWASAN
KEINDONESIAAN
Selain keindahan alamnya Indonesia juga memiliki keindahan dari karya sastra yang di buat
oleh Para Sastrawan Indonesia dari generasi ke genaerasi. Dibawah ini merupakan Sastrawan
Indonesia dari generasi ke kenerasi:
1. Era Balai Pustaka (1920-1930)
Adanya pembatasan karya oleh Pemerintah Belanda kala itu, membuat mayoritas
sastrawan periode ini didominasi oleh orang Sumatera. Hal ini membuat ciri khas dari karya
sastra Balai Pustaka kental dengan bahasa Melayu Tinggi.
Nama sastrawan kesohor pada periode ini adalah Armijn Pane, M. Kasim, Nur Sutan
Iskandar, Marah Rusli, Asrul Sani, Hans Bague Jassin, dan Amir Hamzah. Salah satu karya
paling fenomenal dari periode Balai Pustaka adalah novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli.
2. Era Pujangga Baru
Sebutan Pujangga Baru berawal dari sebuah majalah sastra dan budaya “Poedjangga
Baroe” yang terbit 29 Juli 1933. Salah satu karya sastra dari angkatan Pujangga Baru yang
masih fenomenal hingga hari ini adalah Layar Terkembang, karya Sutan Takdir Alisyahbana.
Umumnya sastrawan era Pujangga Baru berkarya tanpa ingin campur tangan kolonial
Belanda. Adapun nama-nama sastrawan besar yang hidup pada periode Pujangga Baru antara
lain: Ali Hasymi, J.E Tatengkeng, Selasih, Mozasa, Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane,
dan Armijn Pane.
3. Angkatan 45
Jenis karya sastra pada periode ini bercorak realistis, di mana konteks tulisan lebih
dipentingkan dibandingkan kaidah kebahasaan. Periode ini melahirkan banyak nama sastrawan
besar Indonesia yang masih terkenal hingga hari ini.
Adapun nama tokoh yang menandai periode sastra Angkatan 45 adalah Chairil Anwar,
Pramoedya Ananta Toer, Usmar Ismail, Ida Nasution, Utuy Tatang Sontani, Balfas, J.E.
Tatengkeng, dan Asrul Sani. Salah satu karya sastra paling fenomenal yang lahir pada periode
ini adalah kumpulan puisi berjudul Aku, karya Chairil Anwar.
4. Angkatan 50-an
Angkatan 50 merupakan periode sastra peralihan dari situasi perang ke perdamaian. Hal
tersebut juga disebutkan oleh Andri Wicaksono dalam bukunya: Pengkajian Prosa Fiksi.
Umumnya karya sastra Angkatan 50 didominasi cerita pendek dan kumpulan puisi.
Sastrawan Indonesia yang berhasil menorehkan karya terbaiknya pada era 50-an
merupakan sastrawan-sastrawan muda, antara lain Taufik Ismail, Umar Kayam, Goenawan
Mohamad, WS Rendra, NH Dini, Sapardi Djoko Damono, dan masih banyak lagi.
5. Angkatan 70-an
Sastrawan pada periode sastra 70-an umumnya lebih berani melakukan eksperimen.
Angkatan 70-an lahir karena titik tolak dari sesuatu yang bersifat tradisional. Pada periode ini
penerbitan perlahan bangkit dan mencetak karya para sastrawan. Beberapa sastrawan Indonesia
pada era 70-an masih didominasi oleh sastrawan dari generasi 50-an yang di tahun 70-an sudah
lebih dewasa, seperti Putu Wijaya, Arifin C. Noer, Sutardji Calzoum Bachri, Iwan Simatupang,
Danarto, dan Rendra.
6. Era Reformasi
Munculnya angkatan reformasi ditandai maraknya karya sastra bertema sosial politik
dan seputar reformasi. Sastrawan era Reformasi merefleksikan keadilan sosial dan politik yang
terjadi pada akhir 1990-an. Nama-nama sastrawan yang menorehkan karya monumental pada
periode ini, antara lain Rendra, Taufik Ismail, Seno Gumira Ajidarma, Joko Pinurbo, Widji
Thukul, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan masih banyak lagi.
7. Angkatan 2000
Memasuki angkatan 2000 gaya bersastra semakin mengandalkan kekuatan literasi dan
mengungkapkan cerita secara estetik. Banyak nama sastrawan Indonesia yang lahir dan besar
pada periode sastra 2000-an. Tokoh-tokoh tersebut adalah Ayu Utami, Afrizal Malna, Andrea
Hirata, Habiburrahman El Shirazy, dan masih banyak lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI V)
Buku BIPA 5
https://youtu.be/Y_yb2X--fXY
https://youtu.be/8eNka7GkjBc
https://www.ruangguru.com/blog/cara-membuat-puisi-yang-baik-dan-benar
https://kemenparekraf.go.id/ragam-ekonomi-kreatif/Mengenal-Sastrawan-Indonesia-dari-
Generasi-ke-Generasi