NAIMAH SYA'ADAH Sang pengagum Cakrawala
Sang pengagum Cakrawala NAIMAH SYA'ADAH
Mengagumi seseorang dari jauh itu sulit untuk dilakukan, tapi Anvaya suka saat kakak yang ia kagumi menoleh ke arahnya, walaupun An tau kalau kakak itu tidak sedang melihatnya. An hanya menyukai sensasi kegeeran seperti itu. Tapi suatu ketika, rahasia Anvaya terbongkar. Ia harus menelan fakta kalau kekagumannya, mengganggu orang yang ia kagumi, menerima penolakan halus dari orang yang ia kagumi, membuatnya lebih tertutup akan perasaannya. Dan setelah menemukan seseorang yang membuat jatuh kembali, Anvaya tidak bisa mengaguminya dari jauh seperti cara ia mengagumi kakak kelas dulu. Karena, lelaki itu sekelas dengannya. Lebih tepatnya, hal itu terjadi karena An telah lulus dan pindah ke Sekolah baru. Apakah Anvaya raesyati berhasil membuat Altair sanjana balik menyukainya? Tidak seperti kakak kelasnya itu? Atau An harus mengalami kepahitan lagi karena Al menyukai perempuan lain? Atau..., bagaimana jika ternyata selama ini yang jadi pengagum rahasia ternyata bukan Anvaya, melainkan Altair? 1
"Ayok Dita kita cari ruang tesnya." "Ayokk" Ucap Anvaya yang dibalas oleh Dita. Dita adalah teman rumahnya Anvaya, Anvaya masuk ke sekolah tersebut karena ajakan dari temannya itu, saat Dita dan Anvaya sedang melakukan tes ppdb... "Yah An kita nggak seruangan, jadi kita akan berpisah dong?" Ucap Dita setelah mengecek nama mereka. "Eh iyaa, tidak apa-apa nanti kita ketemu lagi ya saat sudah selesai?." "Iyaa An, gue tunggu lo nanti" "Terima kasih." "Ya sudah ayok kita masuk ke ruangan masing-masing sudah mau dimulai sebentar lagi." "Ayokk" Anvaya kini berada di suatu ruangan, lalu Anvaya duduk disalah satu bangku yang ada di depan ruang kelas itu. "Gimana yaa kalau susah nantinya, semoga bisa." Gumam An. Ada salah satu murid yang melihat An sendirian, lalu anak itu memanggilnya, karena merasa kasihan dengan An yang sendirian di sana "Eh, lo sini gabung sama kita," Ucap murid itu sambil teriak. 2
Namun An kira bukan dia yang telah dipanggil oleh anak itu. "mana mungkin dia panggil aku, siapa tahu dia memanggil temannya." Ucap An sambil bergumam. Murid itu memanggil lagi, tetapi masih belum ada jawaban dari Anvaya, karena tidak adanya jawaban, murid tersebut menghampiri Anvaya, Anvaya yang kaget pun berkata. "Oohh.. Jadi dari tadi kamu memanggil aku?, maaf aku kira kamu bukan panggil aku." "Gak apa-apa, kenalin nama aku Valencia, bisa dipanggil Valen, kalau kamu siapa namanya?" "Baiklah, kalau aku Anvaya Raesyati, panggil aja An." "Jangan canggung ya, siapa tau kita sekelas," Ujar valen sambil tertawa. An pun tersenyum,"Iyaa semoga kita sekelas." Setelah tes selesai Valen mengajak Anvaya buat ketemuan lagi kalau sudah masuk sekolah. "An, kita ketemu lagi ya kalau sekolah sudah dimulai" Anvaya menggangguk,"iyaa." Itu adalah teman pertama anvaya di sekolah tersebut. Kemudian setelah tes selesai Anvaya dan Dita bertemu lagi sambil mengobrol tentang soalan tes, lalu mereka pulang bersama. 3
Beberapa minggu kemudian setelah tes ppdb dan mpls berlalu akhirnya pembagian kelas tiba, Ternyata Anvaya, Dita, dan Valen pun sekelas. Anvaya kira, minggu pertama ajaran baru akan belum aktif belajar, tapi ternyata ia salah, tepat ketika ia baru duduk beberapa menit dibangku barunya, guru bahasa Indonesia sudah memasuki kelasnya dan memberi tugas kelompok yang telah ditentukan oleh guru tersebut. Anvaya tidak menyangka kalau dia ternyata satu kelompok dengan seorang laki-laki bernama Altair, setelah itu Anvaya mengirimi pesan chat kepada Altair. "Salam kenal Anvaya yang satu kelompok sama lo." "Salken juga gue Altair", jawab Altair "Jangan lupa sv, ya?." "Iyaa, sudah" Lalu Anvaya dan Altair pun saling mengirim pesan sambil bercerita tentang kejadian tadi, tidak sadar waktu pun berlalu. "Lo ga ngantuk An? Sudah jam segini besok lo bisa telat" "Eh iyaa, gue gak sadar lho, sudah malam sekali." "Ya sudah segera tidur ya?, semoga bermimpi indah, An" "Terimakasih." An pun terdiam dan tersenyum menatap layarnya sambil memikirkan betapa menyenangkannya saat bersama Altair. 4
Tak terasa beberapa bulan telah berlalu, dan kedekatan Antara Anvaya dan Altair pun semakin akrab. "Al, lo tau apa yang sudah ibu guru jelaskan tadi?, Sepertinya gue kurang paham deh," Tanya An dengan kebingungan. "Jadi, seperti ini An," Jawab Altair sambil menjelaskannya kepada Anvaya. " Terimakasih kasih Al, untung ada lo yang baik sekali." "Ahahaha, lo bisa saja An, cuma bantuan kecil kok" Balas Altair sambil tertawa kecil kepada An Anvaya yang melihat pun menjadi tersenyum. Saat jam istirahat pun tiba. "Ngapain lo senyum-senyum, An? Liat apaan lo?" Tegur Valen ketika mendapati Anvaya tersenyum ke arah jendela karena di sana Anvaya melihat Altair yang sedang tertawa bersama temannya. "Keindahan dari semesta dengan bentuk yang lain," Jawab Anvaya. Valen penasaran, "seperti apa?" "Sang pemilik mata indah saat tersenyum." "Siapa?" "Altair Sanjana." Tapi Valen tidak sempat mendengarnya. Perempuan itu dengan sengaja mengecilkan suaranya ketika berbicara. Seolah, tidak membiarkan siapapun tahu. 5
"Akhir-akhir ini gue liat lo kayaknya lagi suka ya sama seseorang, kira-kira siapa orangnyaa yang berhasil membuat seorang Anvaya jatuh hati?, Ahaha," Tanya Valen dengan nada bercanda tetapi penasaran. Anvaya tersenyum,"Teman sekelas kita." Valen sangat penasaran,"ayokk dongg kasih tau gue" "Altair Sanjana." "Anvaya," Valen menatap An dengan serius. "Jadi lo serius ngincer si Al?" An tertawa kecil mendengar pertanyaan Valen, meski benar adanya. "Bukan mengincar, tapi mengagumi." "Tidak apa sih, dia orang yang baik sekali wajar saja kalau lo bisa jatuh cinta", ujar Valen. Secepat detik yang berubah menjadi jam. Waktu pulang tercipta. Di bawah malam, di teras rumah Anvaya, setelah Anvaya menatap langit Anvaya berfikir. "Selalu, butuh waktu yang lama untuk menemui hal yang istimewa sekali, itu pun jika takdir." "Al, semoga lo bukan orang yang salah, yang sedang gue kagumi dengan serius." "Tapi, jika pun lo orang yang salah, senang sekali rasanya memiliki perasaan seperti ini untuk lo." 6
"Al, gue denger katanya lo ikut pemilihan ketua osis ya?" Tanya An kepada Altair. "Iyaa nih, An," "gue takut banget karena saingannya kakel yang cukup terkenal visi dan misinya juga bagus, gue takut gak bisa, " Jawab Al. "Bisa, bisa sekali, doa gue selalu menyertai." "Tapi kalau gue gak menang, gak apa-apa, kan? "Nggak apa-apa." "Menang atau kalahnya, gue terima apapun hasilnya, gue siap apresiasi lo sebanyak-banyaknya," Ujar Anvaya dengan menyakinkan Al bahwa dia pasti bisa. "Terimakasih banyak sekali, karena lo gue cukup lega" "Kapanpun lo butuh, gue selalu ada." Ucap Anvaya sambil tersenyum. Suasana kelas menjadi sangat ramai karena mereka membicarakan tentang Acara debat perdana PEMILIHAN KETUA OSIS yang akan dilaksanakan besok hari. "Altair sih kalau gue, visi dan misinya juga lumayan bagus." Dukung Dean. "Tapi kata yang lain, kak Jean juga bagus banget visi dan misinya, dia juga salah satu murid berprestasi di Sekolah," Sebut Dira. Anvaya tersenyum, "Semua berhak, tapi gue Altair Sanjana." 7
Hari dimana debat pemilihan ketua osis sudah terlaksankan setelat itu pengumuman hasil pemenang ketua osis. "Pemenang telah ditentukan dan juara pertama diraih oleh, Jean dan Liana, juara kedua yaitu Altair dan Fikran, setelah itu juara ketiga oleh Zena dan Gia" "Juara pertama akan menjadi ketua dan wakil osis, juara ke dua akan menjadi sekertaris, dan juara ketiga akan menjadi bendahara" "Selamat, Al. Juara selalu, bangga sedunia. Senangnya harus berlebihan ini." Ucap Anvaya dengan bersemangat. "Terimakasih dukungannya An, tapi gue juara 2," Jawab Al. "Juara 1, 1 dan 2 hanya sebuah angka, semuanya tetap lo pemenangnya, Al. Jangan berkecil hati, lo sudah hebat sekali." Altair pun tersenyum. "Gue terharu banget An, semoga Anvaya Raesyati lama di bumi" "Aamiin, itu selalu ya doanya?." "Iyaa, soalnya lo penyemangat gue, energinya An luar biasa sekali, senang rasanya kalau ada lo" "Senang juga, Al." "Di bumi ada banyak sekali keindahan yang dapat dikagumi, salah satunya Altair," "bumi luas sekali, Al, untungnya kita ketemu." Pikir Anvaya sambil menatap laki-laki itu yang sedang tersenyum. 8
"An, tidak terasa ya sebentar lagi sudah ingin kelas 11," Ucap Altair kepada Anvaya. "Iyaa, Al perasaan baru kemarin kita sekelompok." "Kebetulan yang mendatangkan keberuntungan karena gue bisa ketemu orang baik kayak lo, An" "Terimakasih banyak sekali, Al," Jawab Anvaya sambil tertawa kecil. "Oh iya, An" Dengan mulut sedikit terlihat cukup kaku, pertanyaan ini berhasil keluar,"kira-kira nanti minggu lo bisa temenin gue ke museum gak? Ada museum yang mau gue liat sama lo" "Bisa, Bisa sekali, waktu gue selalu ada buat lo." "Terima kasih, An" "Besok pagi gue jemput, ya? Sekalian mau ajak Anvaya keliling jakarta," Jawab Altair dengan gembira. "Iyaa Al, Gue tunggu." "Eh An, dari mana saja dari tadi, gue nyariin lo, mau gue ajak ke kantin." Tanya Valen. "Barusan Altair ajak gue, katanya besok dia mau ke museum" "Terus gimna?? Lo terima kan? Ciee, Kebetulan banget jadi bisa ngerasain kayak museum date gitu." Ucap Valen sambil meledek. "Terus dehh, kebiasaan." 9
Keesokannya, Altair datang menjemput Anvaya, sembari menunggu Anvaya bersiap Altair meminta izin kepada orang tuanya An. "Tante, kalau saya ajak An pergi, tidak apa?," Tanya Altair Dengan senyuman Ibu Anvaya berkata, "Boleh Nak, tapi jangan malam sekali pulangnya, Hati-hati dijalan" "Baik tan, terimakasih," Jawab Altair sambil bersemangat. Setelah itu Altair dan Anvaya berpamitan. Saat setelah menghabiskan waktu bersama, Anvaya tiba-tiba mengajak Altair berbicara. Dengan nada sedih Anvaya berkata, "Al, ada yang mau gue omongin sama lo, ternyata kata ibu gue, gue mau pindah sekolah ke luar kota." Altair kaget, "Serius mau pindah? Lo mau kemana?" "Gue juga belum tau, Al, kalau gue pindah jangan lupain gue ya?" Altair tersenyum sambil menatap dalam kepada Anvaya, "Tapi gue senang, bisa bertemu dengan manusia yang istimewa, bagi gue lo orang paling istimewa, An, bagaimana bisa gue lupain lo" Anvaya yang mendengarnya ikut tersenyum bahagia. Sore pun tiba, Anvaya yang sedang menatap langit senja yang berlipat keindahannya karena ada manusia paling favoritnya itu disebelahnya. 10
"Jadi sudah hampir 1 tahun, seorang An sudah mendapatkan apa saja dengan Altair," Tanya Valen. "Sudah dapat waktunya, sudah dapat bersamanya, sudah dapat pertanyaannya, bahkan sudah dapat ketawanya dia, Val," Jelas Anvaya. Valen bertepuk tangan antusias. "Semoga dapat hatinya segera, ya?" "Semoga." Tak terasa hari dimana Anvaya akan pindah pun tiba. "Terima kasih sudah datang sebagai tawa, senang dan suka, Tolong jangan asing di ujung cerita ini, ya?," Ujar Altair kepada Anvaya. "Pasti, jaga selalu senangnya ya, Al?." Ucap salam perpisahan teman-teman Anvaya,"Yahh, An jangan lupain kita semua ya? Terima kasih, An" "Iyaa, gue juga mau berterima kasih banyak sekali kepada kalian karena selalu ada." Anvaya pun tersenyum. Diperjalanan bumi, people come and go punya pembenarannya. Tentang manusia yang berubah, manusia yang tumbuh, manusia yang berpindah, semua ada benarnya. Altair tidak menyangka, ia bisa jadi senyaman ini berinteraksi dengan Anvaya. Walau dulu, pesan-pesan dari perempuan itu hanya hadir sebagai bentuk pengabaian karena ia sedang memprioritaskan manusia favoritnya. Dulu. 11
Satu tahun berlalu setelah Anvaya pindah sekolah dan tak terasa hari dimana pemilihan ketua osis yang baru pun tiba, Altair juga mencalonkan diri lagi karena teringat seseorang yang pernah mengatakan seperti ini, "Mungkin tahun depan masih bisa mencobanya lagi, harus bersahaja, jangan bersusah, tak elok." Saat pengumuman pun tiba ternyata pemenangnya adalah Altair Sanjana. Altair yang sangat bergembira hati langsung mengirimi pesan chat kepada Anvaya beserta foto dan berkata, "Tahun lalu lo bilang, gue harus coba lagi tahun depan kan? Iyaa, An, gue coba lagi dan sekarang gue pemenangnya, sayangnya lo gak di sini" "Baik-baik di sana, Anvaya Raesyati" Altair yang memandangi langit senja pun tersenyum sambil membayangkan saat-saat bersama dengan Anvaya, dan ia mulai menyadari perasaannya itu. "Perempuan pertama yang membuat gue sadar ternyata ada banyak sekali di bumi yang pantas untuk disyukuri" "Di perjalanan panjang ini jangan jadi milik siapapun dulu ya, An?" "Tunggu gue, gue pasti dateng buat lo" 12