The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-Book ini adalah berisi tentang salah satu kelurahan yang berada di Kota Pasuruan Kec.Gadingrejo penghasil Mebel Yaitu Kelurahan Krapyakrejo.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by , 2021-01-25 02:03:40

Kelurahan Krapyakrejo (Penghasil Mebel)

E-Book ini adalah berisi tentang salah satu kelurahan yang berada di Kota Pasuruan Kec.Gadingrejo penghasil Mebel Yaitu Kelurahan Krapyakrejo.

Keywords: #E-Book#Edukasi#Krapyakrejo#Pasuruan#Gadingrejo

“Kelurahan KrapyaKrejo (perajin Mebel)“

Kota pasuruan adalah kota kecil yang dari demografis wilayahnya dikategorikan
sebagai kawasan strategis dengan luas wilayah 35,29 kilometer persegi. Letak strategis Kota
Pasuruan dikarenakan kota ini merupakan jalur ekonomi utama di Jawa Timur yang akan
melintas menuju Surabaya, Malang, Bali. Lokasi strategis Kota Pasuruan diakui sejak zaman
pra kemerdekaan.Terbukti dari peninggalan sejarah baik benda, bangunan, dan naskah yang
menandakan bahwa Kota Pasuruan dulunya adalah sentra erdagangan di tanah jawa. maka
julukan “Tanjung Tembikar” pun melekat erat pada kota ini. Berada di kawasan pesisir
mempermudah kegiatan perdagangan kala itu. Dan setelah kemerdekaan diraih visi misi
pembangunan daerah masih menaruh fokus pada perdagangan, jasa, dan industry. Ketiga
sektor ekonomi tersebut menjadi andalan bagi pendapatan asli daerah (PAD) Kota Pasuruan.
Dari tahun ketahun angka investasi mengalami peningkatan. Hal itu memunculkan
keoptimisan bahwa kota kecil ini akan mampu berkembang menjadi kota yang menginspirasi
daerah lain dalam visi misi pembangunannya.

Kota pasuruan menyimpan cerita bersejarah sebagai daerah pesisir utara Jawa Timur.
Nama Pasuruan berasal dari versi sejarah yang beredar di masyarakat. Dalam sejarahnya,
Pasuruan adalah sebuah wilayah yang memegang peranan penting dalam jalur perdagangan
laut dengan tujuan Indonesia Timur. Singgahnya berbagai kapal yang membawa misi
perdagangan inilah yang menjadikan Pasuruan menjadi kawasan yang cepat berkembang.
Nama “Pasuruan” memiliki beberapa versi. Versi pertama adalah berasal dari nama
“Paravan” yang kemudian warga Tionghoa menyebutnya dengan ‘Yanwang’ dan ‘Basuluan’.
Namun, versi terkuat tentang asal usul nama Pasuruan adalah dari julukan ‘Pasar Oeang’
(Pasar Uang) yang menggambarkan pelabuhan “Tanjung Tembikar” ini merupakan kawasan
perdagangan strategis. Tanjung Tembikar dalam historinya bukan berada di pelabuhan Kota
Pasuruan saat ini. Melainkan diperkirakan berada disekitar kawasan Kraton yangtersambung
ke wilayah utara Kota Pasuruan lainnya.

Julukannya sebagai “Tanjung Tembikar” berkaitan dengan perajin tembikar yang
banyak berada di sekitar jalur kapal dagang yang melewati Sungai Welang Yakni kawasan
Randusari, Petahunan, dan Krapyakrejo. Maka tak heran jika dijalur tersebut dulunya banyak
ditemukan perajin tembikar karna tanah kampong di Sungai Welang merupakan bahan baku
tembikar dengan kualitas terbaik.

Seiring berjalannya waktu kehadiran kolonial membawa banyak pengaruh bagi
perkembangan Pasuruan. Salah satunya adalam pembuatan logam yang kemudian banyak
dipelajari dan dijual oleh warga di kawasan utara Kota Pasuruan seperti di Kelurahan
Ngemplakrejo, Mayangan, dan Trajeng.

Kisah sejarah lainnya yang tidak terpisahkan dari Kota Pasuruan adalah keberadaan
petilasan Untung Suropati yang merupakan pahlawan nasional kemerdekaan RI. Untung

Suropati menjadi raja di Pasuruan dengan gelar Raden Adipati Wironegoro (1686-1706) yang
selama masa pemerintahannya diisi dengan berbagai pertempuran dengan penjajah.
Petilasan Untung Suropati ini masih dalam kondisi baik dan masih sering dikunjungi oleh
masayarakat Kota pasuruan.

Salah satu unsur menguatkan bahwa Untung Suropati lama tinggal dan memimpin
Kota pasuruan adalah dengan keberadaan kampung pencak silat di Dusun Mancilan,
Kelurahan Pohjentrek yang lokasinya tidak berada jauh dari petilasan Untung Suropati.
Untung Suropati yang dikenal dengan kesaktian dan ilmu bela diri (pencak silat) memiliki
murid dan pengikut yang juga mempelajari bela diri tersebut.

Setelah kepergian kolonial Belanda dan Jepang, maka sejak tanggal 14 Agustus 1950
dinyatakan Kotamadya Pasuruan sebagai daerah otonom yang terdiri dari desa dalam satu
kecamatan . Pada 21 Desember 1982 Kotamadya Pasuruan diperluas menjadi 3 kecamatan
dengan 19 kelurahan dan 15 desa. Kemudian pada tahun 1999 Kotamadya Pasuruan resmi
berubah menjadi Kota Pasuruan. Pada 12 Januari 2002 status desa berubah menjadi kelurahn
yang menjadikan kota pasuruan hingga saat ini memiliki 34 kelurahan. Ada empat suku yang
tinggal di Kota Pasuruan yaitu suku Madura, Arab, Jawa, dan Tionghoa.

Dari Sejarahnya yang tidak lepas sebagai jalur perdagangan menjadikan kota berjuluk
“Kota Santri” ini, masih identik menaruh focus pembangunannya pada bidang industry, jasa,
dan perdagangan. Dari tahun ke tahun tiga fokus pembangunan tersebut mengalami
kenaikan signifikan. Agar tidak melupakan sejarah, maka Pemerintah Kota Pasuruan juga
berupaya menyusun program untuk memanfaatkan peninggalan sejarah yang ada. Semoga
kedepannya Kota pasuruan tetap menjaga identifikasinya sebagai kota tua kaya peninggalan
sejarah.maka julukan “Tanjung Tembikar” pun melekat erat pada kota ini.

Berada di kawasan pesisir mempermudah kegiatan perdagangan kala itu. Dan setelah
kemerdekaan diraih visi misi pembangunan daerah masih menaruh fokus pada perdagangan,
jasa, dan industry. Ketiga sektor ekonomi tersebut menjadi andalan bagi pendapatan asli
daerah (PAD) Kota Pasuruan. Dari tahun ketahun angka investasi mengalami peningkatan.
Hal itu memunculkan keoptimisan bahwa kota kecil ini akan mampu berkembang menjadi
kota yang menginspirasi daerah lain dalam visi misi pembangunannya.

Kota pasuruan menyimpan cerita bersejarah sebagai daerah pesisir utara Jawa Timur.
Nama Pasuruan berasal dari versi sejarah yang beredar di masyarakat. Dalam sejarahnya,
Pasuruan adalah sebuah wilayah yang memegang peranan penting dalam jalur perdagangan
laut dengan tujuan Indonesia Timur. Singgahnya berbagai kapal yang membawa misi
perdagangan inilah yang menjadikan Pasuruan menjadi kawasan yang cepat berkembang.
Nama “Pasuruan” memiliki beberapa versi. Versi pertama adalah berasal dari nama

“Paravan” yang kemudian warga Tionghoa menyebutnya dengan ‘Yanwang’ dan ‘Basuluan’.
Namun, versi terkuat tentang asal usul nama Pasuruan adalah dari julukan ‘Pasar Oeang’
(Pasar Uang) yang menggambarkan pelabuhan “Tanjung Tembikar” ini merupakan kawasan
perdagangan strategis. Tanjung Tembikar dalam historinya bukan berada di pelabuhan Kota
Pasuruan saat ini. Melainkan diperkirakan berada disekitar kawasan Kraton yang ersambung
ke wilayah utara Kota Pasuruan lainnya.

Julukannya sebagai “Tanjung Tembikar” berkaitan dengan perajin tembikar yang
banyak berada di sekitar jalur kapal dagang yang melewati Sungai Welang Yakni kawasan
Randusari, Petahunan, dan Krapyakrejo. Maka tak heran jika dijalur tersebut dulunya banyak
ditemukan perajin tembikar karna tanah kampong di Sungai Welang merupakan bahan baku
tembikar dengan kualitas terbaik.

Seiring berjalannya waktu kehadiran kolonial membawa banyak pengaruh bagi
perkembangan Pasuruan. Salah satunya adalam pembuatan logam yang kemudian banyak
dipelajari dan dijual oleh warga di kawasan utara Kota Pasuruan seperti di Kelurahan
Ngemplakrejo, Mayangan, dan Trajeng.

Kisah sejarah lainnya yang tidak terpisahkan dari Kota Pasuruan adalah keberadaan
petilasan Untung Suropati yang merupakan pahlawan nasional kemerdekaan RI. Untung
Suropati menjadi raja di Pasuruan dengan gelar Raden Adipati Wironegoro (1686-1706) yang
selama masa pemerintahannya diisi dengan berbagai pertempuran dengan penjajah.
Petilasan Untung Suropati ini masih dalam kondisi baik dan masih sering dikunjungi oleh
masayarakat Kota pasuruan.

Salah satu unsur menguatkan bahwa Untung Suropati lama tinggal dan memimpin
Kota pasuruan adalah dengan keberadaan kampong pencak silat di Dusun Mancilan,
Kelurahan Pohjentrek yang lokasinya tidak berada jauh dari petilasan Untung Suropati.
Untung Suropati yang dikenal dengan kesaktian dan ilmu bela diri (pencak silat) memiliki
murid dan pengikut yang juga mempelajari bela diri tersebut.

Setelah kepergian kolonial Belanda dan Jepang, maka sejak tanggal 14 Agustus 1950
dinyatakan Kotamadya Pasuruan sebagai daerah otonom yang terdiri dari desa dalam satu
kecamatan . Pada 21 Desember 1982 Kotamadya Pasuruan diperluas menjadi 3 kecamatan
dengan 19 kelurahan dan 15 desa. Kemudian pada tahun 1999 Kotamadya Pasuruan resmi
berubah menjadi Kota Pasuruan. Pada 12 Januari 2002 status desa berubah menjadi kelurahn
yang menjadikan kota pasuruan hingga saat ini memiliki 34 kelurahan. Ada empat suku yang
tinggal di Kota Pasuruan yaitu suku Madura, Arab, Jawa, dan Tionghoa. Dari Sejarahnya
yang tidak lepas sebagai jalur perdagangan menjadikan kota berjuluk “Kota Santri” ini,
masih identik menaruh fokus pembangunannya pada bidang industry, jasa, dan

perdagangan. Dari tahun ke tahun tiga fokus pembangunan tersebut mengalami kenaikan
signifikan. agar tidak melupakan sejarah, maka Pemerintah Kota Pasuruan juga berupaya
menyusun program untuk memanfaatkan peninggalan sejarah yang ada. Semoga
kedepannya Kota pasuruan tetap menjaga identifikasinya sebagai kota tua kaya peninggalan
sejarah.

Kota Pasuruan

Makam Pahlawan Untung Suropati

Kota Pasuruan terdiri dari 4 kecamatan dan 34 kelurahan (dari total 666 kecamatan,
777 kelurahan, dan 7.724 desa di Jawa Timur). Pada tahun 2017, jumlah penduduknya
mencapai 209.104 jiwa dengan luas wilayah 35,29 km² dan sebaran penduduk 5.925 jiwa/km².

1. Kecamatan Gading Rejo
a. KarangKetug
b. Gentong
c. Sebani
d. Petahunan
e. Bukir
f. Randusari
g. Krapyakrejo
h. Gadingrejo

2. Kecamatan Purworejo
a. Pohjentrek
b. Wirogunan
c. Tembokrejo
d. Purutrejo
e. Kebonagung
f. Purworejo
g. Sekargadung

3. Kecamatan Bugul Kidul
a. Kepel
b. Blandongan
c. Tapa’an
d. Bakalan
e. Krampyangan
f. Bugul Kidul

4. Kecamatan Panggung rejo
a. Karanganyar
b. Tamba’an
c. Trajeng
d. Bangilan
e. Kebonsari
f. Mayangan
g. Ngemplakrejo

h. Petamanan
i. Pekuncen
j. Bugul Lor
k. Kandangsapi
l. Panggungrejo
m. Mandaranrejo

Dalam bidang industry pengelolahan kayu khususnya produk mebel di Kota Pasuruan
sudah lama keberadannnya. Sejarah meriwayatkan bahwa awal mula tukang tukang kayu
berada di kawasan Kelurahan Bukir, Kelurahan Randusari, Kelurahan Petahunan yang
dulunya dijadikan sentra dagang di sekitar kawasan Jalan Jawa dan Pasar Pancol Lama.
Lambat Laun perajin mebel kemudian membuka toko mebel dilokasi yang tak jauh dari
tempat perajin mengerjakan mebel yang kemudain juga muncul satu persatu pedagang
mebel. Menariknya, karena terkenalnya kawasan mebel yang berada di Kota Pasuruan,
menjadikan perajin mebel dari kota lain seperti Jepara juga dating kesini membuka usaha
yang sama. Produk yang dihasilkan dan yang dijual berupa mimbar masjid, Figura, Ornamen
Kaligrafi bias dipesan.

Kelurahan Krapyakrejo adalah salah satu kelurahan yang terletak dekat dengan
produksi mebel tersebut. Untuk kepala keluarga terdiri dari berbagai macam jenjang
pendidikan. Berikut kami laporkan jumlah kepala keluarga menurut pendidikan terakhir,
Agama Status Perkawinan, Jenis Kelamin, Golongan Darah, Penyandang Cacat Desa
/Kelurahan Krapyakrejo –Kecamatan Gadingrejo Kota Pasuruan pada bulan Desember 2020
berdasarkan perhitungan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan.





Sedangkan untuk kelahiran menurut jenis kelamin di Kota Pasuruan Bulan Desember
2020berdasarkan perhitungan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan sebagai berikut
:

Kantor Kelurahan Krapyakrejo

Kantor Kelurahan Krapyakrejo

Foto Bersama Pak Lurah Krapyakrejo
Lurah Krapyakrejo Nurbit, S.H (lima dari kiri) bersama staf


Click to View FlipBook Version