KELOMPOK 3 XI KEP 1
KEBUTUHAN DASAR RASA AMAN DAN
NYAMAN
Kelompok Safety: 02
09
1. Amelia Eka Safara 10
2. Faris Satria Raja Putra C. 13
3. Ganesya Rulli Eka Putri 14
4. Isybela Oktaviani 20
5. Mardiatul Munawaroh
6. Risma Syaharani Purnomo
SMK KESEHATAN BINA KARYA MEDIKA
PONOROGO
A. Pengertian
Mempengaruhi cara mereka menginterpretasikan dan merasakan nyeri.Rasa aman
didefinisikan oleh Maslow dalam Potter & Perry (2006) sebagai suatu kebutuhan yang
mendorong individu untuk memperoleh ketentraman, kepastian dan keteraturan dari keadaan
lingkungannya yang mereka tempati. Keamanan adalah kondisi bebas dari cedera fisik dan
psikologis ( P o t t e r & Perry 2006).
Kenyamanan / rasa nyaman adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar
manusia yaitu kebutuhan akan ketentraman (suatu kepuasan yang meningkatkan penampilan
sehari-hari), kelegaan (kebutuhan telah terpenuhi), dan transenden (keadaan tentang sesuatu
yang melebihi masalah dan nyeri) ( Kolcaba, 1992 dalam Potter & Perry 2006) .
Berbagai teori keperawatan menyatakan kenyamanan sebagai kebutuhan dasar klien
yang merupakan tujuan pemberian asuhan keperawatan. Konsep kenyamanan mempunyai
subjektifitas yang sama dengan nyeri. Setiap individu memiliki karakteristik fisiologis, sosial,
spiritual, psikologis, dan kebudayaan yang mempengaruhi cara mereka menginterpretasikan
dan merasakan.1
B. Macam atau Jenis Kebutuhan
Kenyamanan mesti dipandang secara holistik yang mencakup empat aspek yaitu:
1. Fisik, berhubungan dengan sensasi tubuh.
2. Sosial, berhubungan dengan hubungan interpersonal, keluarga, dan sosial.
3. Psikospiritual, berhubungan dengan kewaspadaan internal dalam diri sendiri yang
meliputi harga diri, seksualitas, dan makna kehidupan).
4. Lingkungan, berhubungan dengan latar belakang pengalaman eksternal manusia seperti
cahaya, bunyi, temperatur, warna dan unsur alamiah lainnya.
Perubahan kenyamanan adalah dimana individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan
dan berespon terhadap rangsangan yang berbahaya. Nyeri merupakan perasaan dan
pengalaman emosional yang timbul dari kerusakan jaringan yang aktual dan potensional atau
gambaran adanya kerusakan.2
1 "mk. keperawatan dasar - konsep kebutuhan rasa aman dan nyaman."
https://repository.unmul.ac.id/bitstream/handle/123456789/36880/Bahan%20Ajar%20%20Konsep%20
%20Kebutuhan%20Rasa%20Aman%20dan%20Nyaman%20%202021.pdf?sequence=1. Diakses
pada 28 Jul. 2022.
2 "mk. keperawatan dasar - konsep kebutuhan rasa aman dan nyaman."
https://repository.unmul.ac.id/bitstream/handle/123456789/36880/Bahan%20Ajar%20%20Konsep%20
%20Kebutuhan%20Rasa%20Aman%20dan%20Nyaman%20%202021.pdf?sequence=1. Diakses
pada 28 Jul. 2022.
C. Masalah Pemenuhan Kebutuhan
Faktor yang mempengaruhi keamanan dan keselamatan meliputi:
1. Emosi Kondisi psikis dengan kecemasan, depresi, dan marah akan mudah
mempengaruhi keamanan dan kenyamanan.
2. Status Mobilisasi Status fisik dengan keterbatasan aktivitas, paralisis, kelemahan
otot, dan kesadaran menurun memudahkan terjadinya resiko cedera.
3. Gangguan Persepsi Sensori adanya gangguan persepsi sensori akan mempengaruhi
adaptasi terhadap rangsangan yang berbahaya seperti gangguan penciuman dan
penglihatan.
4. Keadaan Imunitas Daya tahan tubuh kurang memudahkan terserang penyakit.
5. Tingkat Kesadaran Tingkat kesadaran yang menurun, pasien koma menyebabkan
respon terhadap rangsangan, paralisis, disorientasi, dan kurang tidur.
6. Informasi atau Komunikasi Gangguan komunikasi dapat menimbulkan informasi
tidak diterima dengan baik.
7. Gangguan Tingkat Pengetahuan Kesadaran akan terjadi gangguan keselamatan dan
keamanan dapat diprediksi sebelumnya.
8. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional Antibiotik dapat menimbulkan resisten
dan anafilaktik syok.
9. Status nutrisi Keadaan kurang nutrisi dapat menimbulkan kelemahan dan mudah
menimbulkan penyakit, demikian sebaliknya dapat beresiko terhadap penyakit
tertentu.
10. Usia Pembedaan perkembangan yang ditemukan diantara kelompok usia anak- anak
dan lansia mempengaruhi reaksi terhadap nyeri.
11. Jenis Kelamin Secara umum pria dan wanita tidak berbeda secara bermakna dalam
merespon nyeri dan tingkat kenyamanannya.
12. Kebudayaan Keyakinan dan nilai-nilai kebudayaan mempengaruhi cara individu
mengatasi.3
D. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan merupakan tahap awal dari proses keperawatan,
pengkajian keperawatan ini bertujuan untuk menggali atau mendapatkan data
utama tentang kesehatan pasien baik itu fisik, psikologis, maupun emosional
(Debora, 2013).
3 "mk. keperawatan dasar - konsep kebutuhan rasa aman dan nyaman."
https://repository.unmul.ac.id/bitstream/handle/123456789/36880/Bahan%20Ajar%20%20Konsep%20
%20Kebutuhan%20Rasa%20Aman%20dan%20Nyaman%20%202021.pdf?sequence=1. Diakses
pada 28 Jul. 2022.
Menurut (Ardiansyah, 2012) yang harus dikaji pada klien yang mengalami
penyakit gastritis adalah:
a. Pengkajian (Anamnesis)
1) Biodata
Pada biodata, bisa diperoleh data tentang identitas pasien meliputi nama
pasien, tempat tanggal lahir, alamat, umur pasien, jenis kelamin pasien, pekerjaan
pasien, pendidikan pasien, status kawin pasien, agama dan asuransi kesehatan.
Selain itu juga dilakukan pengkajian tentang orang terdekat pasien.
2) Keluhan utama
Selama pengumpulan riwayat kesehatan, perawat menanyakan kepada pasien
tentang tanda dan gejala yang dialami oleh pasien. Setiap keluhan harus ditanyakan
dengan detail kepada pasien disamping itu diperlukan juga pengkajian mengenai
keluhan yang disarasakan meliputi lama timbulnya.
3) Riwayat Penyakit
Sekarang Pada riwayat penyakit sekarang, perawat mengkaji apakah gejala
terjadi pada waktu yang tertentu saja, seperti sebelum atau sesudah makan, ataupun
setelah mencerna makanan pedas dan pengiritasi dan setelah mencerna obat
tertentu atau setelah mengkonsumsi alhohol.
4) Riwayat penyakit dahulu
Untuk mengkaji riwayat penyakit dahulu atau riwayat penyakit sebelumnya,
perawat harus mengkaji apakah gejala yang berhubungan dengan ansietas, stress,
alergi, makan atau minum terlalu banyak, atau makan terlalu cepat. Selain itu
perawat juga harus mengkaji adakah riwayat penyakit lambung sebelumnya atau
pembedahan lambung.
5) Riwayat kesehatan keluarga
Dalam riwayat kesehatan keluarga perawat mengkaji riwayat keluarga yang
mengkonsumsi alkohol, mengidap gastritis, kelebihan diet, serta diet sembarangan.
18 Selain itu perawatan juga mananyakan tentang penyakit yang pernah dialami
oleh keluarga. Selain pengkajian riwayat harus bisa diseimbangkan sesuai dengan
kebutuhan seorang pasien. Setiap pola merupakan suatu rangkaian perilaku yang
membantu perawat dalam mengumpulkan suatu data (Wijaya & Putri, 2013).
b. Pengkajian pola-pola fungsi Gordon adalah:
1) Pola Persepsi Kesehatan
Persepti terhadap adanya arti kesehatan, penatalaksanaan kesehatan serta
pengatahuan tentang praktek kesehatan.
2) Pola nutrisi
Mengidentifikasi masukan nutrisi dalam tubuh, balance cairan serta elektrolit.
Pengkajian meliputi: nafsu makan, pola makan, diet, kesulitan menelan, mual,
muntah, kebutuhan jumlah zat gizi.
3) Pola eliminasi
Menjelaskan tentang pola fungsi ekskresi serta kandung kenih dan kulit.
Pengkajian yang dilakukan meliputi: kebiasaan deddekasi, ada tidaknya masalah
defekasi, masalah miksi (oliguria, disuri), frekuensi defekasi dan miksi.
Karakteristik urine dan feses, pola input cairan, masalah bau badan.
4) Pola latihan-aktivitas
Menggambarkan tentang pola latihan, aktivitas, fungsi pernapasan. Pentingnya
latihan atau gerak dalam keadaan sehat maupun sakit, gerak tubuh dan kesehatan
berhubungan dengan satu sama lain. Kemampuan klien dalam menata dirinya
sendiri apabila tingkat kemampuannya:
0: mandiri, 1: dengan alat bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu orang lain dan
alat, 4: tergantung dalam melakukan ADL, kekuatan otot dan ROM, riwayat
penyakit jantung, frekuensi, irama dan kedalaman napas, bunyi napas, riwayat
penyakit paru.
5) Pola kognitif perseptual
Menjelaskan tentang persepsi sendori dan kognitif. Pola ini meliputi pengkajian
fungsi penglihatan, pendengaran, perasaan, pembau dan kompensasinya terhadap
tubuh. Dan pola kognitif memuat kemampuan daya ingat klien terhadap peristiwa
peristiwa yang telah lama atau baru terjadi.
6) Pola istirahat dan tidur
Menggambarkan pola tidur serta istirahat pasien. Pengkajian yang dilakukan pada
pola ini meliputi: jam tidur siang dan malam pasien, masalah selama tidur,
insomnia atau mimpi uruk, penggunaan obat serta mengaluh letih.
7) Pola konsep diri-persepsi diri
Menggambarkan sikap tentan diri sendiri serta persepsi terhadap kemampuan diri
sendiri dan kemampuan konsep diri yang meliputi: gambaran diri, harga diri, peran,
identitas dan ide diri sendiri.
8) Pola peran dan hubungan
Menggambarkan serta mengatahui hubungan pasien serta peran pasien terhadap
anggota keluarga serta dengan masyarakat yang berada dalam lingkungan sekitar
tempat tinggalnya.
9) Pola reproduksi atau seksual
Menggambarkan tentang kepuasan yang dirasakan atau masalah yang dirasakan
dengan seksualitas. Selain itu dilakukan juga pengkajian yang meliputi: dampak 20
sakit terhadap seksualitas, riwayat haid, pemeriksaan payudara sendiri, riwayat
penyakit hubungan seks, serta pemeriksaan genetalia.
10) Pola koping dan Toleransi Stres
Menggambarkan tentang pola cara menangani stress, yang meliputi dengan cara:
interaksi dengan orang terdekat menangis, dam lain sebagainya.
11) Pola keyakinan dan nilai
Menggambarkan tentang pola nilai dan keyakinan yang dianut. Menerangkan
sikap serta keyakinan yang dianaut oleh klien dalam melaksanakan agama atau
kepercayaan yang dianut.
c. Pemeriksaan Fisik menurut (Ardiansyah, 2012) adalah:
1) Kesadaran: pada awalnya compos mentis, adalah perasaan tidak berdaya.
2) Respirasi: tidak mengalami gangguan.
3) Kardiovaskuler: hipotensi, takikardia, disritmia, nadi perifer lemah, pengisian
kapiler lambat (vasokontriksi), warna kulit pucat, sianosis, dan kulit/
membrane mukosa berkeringat (status shock, nyeri akut).
4) Persarafan: sakit kepala, kelemahan, tingkat kesadaran dapat terganggu,
disorientasi/bingung, dan nyeri epigastrium.
5) Pencernaan: anoreksia, mual, muntah yeng disebabkan karena adanya luka
duodenal, nyeri pada ulu hati, tidak toleran terhadap adanya makanan seperti
cokelat dan makanan pedas serta membran mukosa kering.
d. Faktor pencetus
Faktor-faktor pencetus dari gangguan ini menurut (Ardiansyah, 2012) yaitu:
1) Makanan, rokok, alkohol, obat-obatan, dan stresor (faktor-faktor pencetus
stress).
2) Kondisi psikologis.
3) Musculoskeletal (ditunjukkan dengan adanya kelemahan dan kelelahan)
4) Integritas ego, yaitu faktor stress akut, kronis, dan perasaan tidak berdaya.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah suatu penilaian klinis terhadap adanya
pengalaman dan respon individu, keluarga ataupun komunitas terhadap masalah
kesehatan, pada risiko masalah kesehatan atau pada proses kehidupan. Diagnosis
keperawatan adalah bagian vital dalam menentukan proses asuhan keperawatan yang
sesuai dalam membantu pasien mencapai kesehatan yang optimal. Mengingat
diagnosis keperawatan sangat penting maka dibutuhkan standar diagnose keperawatan
yang bisa diterapkan secara nasional di Indonesia dengan mengacu pada standar
diagnosa yang telah dibakukan sebelumnya (PPNI, 2016).
Diagnosa keperawatan menurut (PPNI, 2016) dalam buku Standar Diagnosa
Keperawatan Indonesia adalah Gangguan Rasa Nyaman berhubungan dengan gejala
penyakit. Tanda dam gejala mayor, subjektif: mengeluh mual, merasa ingin muntah,
tidak berminat makan. Gejala dan tanda minor, subjektif: merasa asam di mulut,
sensasi panas/dingin, sering menelan, objektif: saliva meningkat, pucat.
Menurut (Nurarif & Kusuma, 2015) diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
pada penyakit gastritis adalah:
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
masukan nutrient yang tidak adekuat
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan masukan cairan tidak cukup
dan kehilangan cairan berlebihan karena muntah
3. Nyeri akut berhubungan dengan mukosa lambung teriritasi
4. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan penatalaksanaan diet dan proses
penyakit
3. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan adalah suatu tindakan yang dirancang oleh perawat,
atau suatu perawatan yang di lakukan berdasarkan penilaian secara klinis dan
pengetahuan perawat yang bertujuan untuk meningkatkan outcome pasien atau klien.
Perencanaan keperawatan mencakup perawatan langsung serta perawatan tidak
langsung. Kedua perawatan ini ditujukan kepada individu, keluarga, dan masyarakat
dan orang-orang yang dirujuk oleh perawat, dirujuk oleh dokter maupun pemberian
layanan kesehatan lainnya (PPNI, 2018).
Tabel 1
Intervensi Keperawatan Pada Pasien Gastritis
No Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Keperawatan
Keperawatan (SLKI) (SIKI)
12 3 4
1 Ketidakseimbangan SLKI: SIKI:
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh: Status Nutrisi: 1. Managemen Nutrisi
asupan nutrisi a. Asupan gizi cukup a. Monitor terjadinya
dalam tubuh tidak
cukup untuk b. Asupan makanan b.kecenderugan
memenuhi terpenuhi
kebutuhan penurunan dan
metabolism c. Asupan cairan
terpenuhi kenaikan berat badan
Monitor kalori dan asupan
d. Berat badan makanan
23 4
meningkat c.Tentukan status gizi
pasien dan kemampuan
e. Berat ideal sesuai pasien untuk memenuhi
dengan tinggi badan kebutuhan gizi
d. Tentukan
jumlah kalori dan
nutrisi yang
dibutuhkan
e. Managemen
gangguan makan
f. Monitor intake
atau asupan cairan
secara tepat
g. Monitor
berat
badan
sesuai
secara
rutin
h. Berikan
dukungan
terhadap
peningkatan
berat badan
dan
perilaku
yang
meningkatk
an berat
badan
i. Monitor
lingkunga
n selama
makan
j.
Ajarka
n
pasien
tentang
konsep
nutrisi
yang
baik
k. Kolaborasi
untuk
23 4
mengembangkan
rencana perawatan
dengan melibatkan
klien dan
orang-orang
terdekat dengan
tepat
Kekurangan SLKI: SIKI:
volume
cairan: Keseimbangan 1. Managemen
penurunan Cairan: cairan
volume
cairan baik a. Berat badan stabil a. Monitor
cairan status hidrasi
intravaskuler
, interstisial, b. Intake dan Monitor makanan atau
dan output seimbang
intraseluler Turgor kulit normal
minuman yang
dikonsumsi dan hitung
asupan kalori harian
b. Monitor status gizi
c. Timbang berat
badan setiap hari
Dukung pasien dan
membantu dalam
pemberian makanan
dengan baik
d. Berikan
cairan yang
tepat
2. Managemen
Muntah
23 4
a. Identifikasi faktor-
faktor yang
menyebabkan
muntah
b. Monitor
keseimbangan cairan
dan elektrolit
c. Ajarkan pasien
untuk menghilangkan
factor-faktor yang
memicu, dapat
menyebabkan muntah
d. Berikan informasi
penggunaan teknik non
farmakologi
e. Ajarkan penggunaan
tehnik non farmakologi
untuk mengelola
muntah (seperti,
relaksasi, akupresur)
Nyeri akut: SLKI: SIKI:
pengalaman Managemen Nyeri
yang Kontrol Nyeri
berhubunga 4
n dengan a. Mengenali
kerusakan kapan nyeri terjadi
23
pada jarungan b. a. Lakukan
aktual Melapork
maupun an nyeri pengkajian kembali
fungsional berkurang
yang secara dan tentang
mendadak terkontrol
atau lambat Melapork nyeri yang
dan an
berintensitas perubahan dirasakan
ringan sampai terhadap
dengan gejala b. Berikan info
berat yang nyeri mengenai nyeri
berlangsung
lebih dari c. Berikan
tiga bulan.
informasi yang
akurat untuk
meningkatkan
pemahaman dan
respon keluarga
terhadap pengalaman
nyeri
d. Kolaborasi dengan
pasien, orang terdekat,
tim keseha tan untuk
memilih tindakan
penurun nyeri
nonfarmakologi sesuai
kebutuhan
1. Pemberian Analgesik
Tentukan
lokasi,karakteristik,
kualitas, keparahan
nyeri
a. Cek adanya
riwayat alergi obat
23
4
b. Monitor
tanda-tanda vital
sebelum memberikan
analgesic
c. Berikan
kebutuhan
kenyamanan dan
aktivitas lain yang
dapat membantu
reaksi untuk
memfasilitasi
penurunan nyeri
d. Berikan analgesik
sesuai waktu
terutama pada saat
nyeri memberat
Defisiensi SLKI: SIKI:
pengetahuan
: ketiadaan Pengetahuan: 1. Pengajaran:
atau Proses Proses penyakit
kurangnya
suatu Penyakit Berikan penilaian
inforasi
kognitif a.Pasien tentang tingkat
yang mengetahui faktor
berhubungan penyebab pengatahuan pasien
dengan topik
tertentu b.Klien tentang proses
mengetahui tanda penyakit yang
dan gejala spesifik
komplikasi
penyakit gastritis a. Jelaskan
patofisiologi dari
penyakit
2 34
b. Gambarkan tanda
dan gejala yang biasa
muncul pada penyakit
gastritis, dengan cara
yang tepat
Identifikasi
kemungkinan
penyabab penyakit
gastritis
c. Berikan informasi
pada pasien tentang
kondisi,dengan cara
yang tepat
d. Diskusikan
pilihan terapi atau
penanganan
e. Instruksikan
pasien mengenal
tanda dan gejala
untuk melaporkan
pada pemberi
perawatan kesehatan,
dengan cara yang
tepat
Gangguan SLKI: SIKI:
rasa
nyaman: Status kenyamanan: 1. Managemen
perasaan Kenyamanan:
tidak a. Menyatakan
nyaman, rasa nyaman
dalam
dimensi
23 4
fisik, perasaan b. Rasa a. Ciptakan lingkungan
tidak nyaman yang tenang dan
yang mual mendukung
dirasakan bisa berkurang
berupa mual
hingga b. Tentukan tujuan
muntah
pasien dalam
mengelola
lingkungan dan
kenyamanan
c.Berikan sumber-
sumber edukasi yang
relevan dan berguna
mengenai managemen
penyakit
2. Managemen
pengobatan:
a. Berikan tindakan
akupresur (tekanan atau
pemijatan pada lokasi
tubuh tertentu
untuk menurunkan nyeri,
menghasilkan relaksasi
serta mencegah dan
menurunkan mual.
Pemijatan dilakukan
pada titik
ST36 lokasinya
empat
23 4
jari dibawah
tempurung
lutut sebelah
luar tulang
kering yang
berfungsi
untuk
memperbaiki
fungsi fungsi
lambung,
titik K11
lokasinya
pada telapak
kaki bagian
depan sejajar
dengan jari
tengah, dan
titik SP4
tentang
tindakan
komplementer
yang
diharapkan
bagian dalam
kaki dekat
dengan garis
jempol (kedua
titik berfungsi
secara
kuat untuk
menyeimbang
kan energi
dalam tubuh,
meningkatkan
aliran darah ke
pusat
tubuh
sehingga
membuat
tubuh
menjadi
rileks)
Titik RN13
lokasinya
digaris
tengah perut
antara
23
4
pusar dan
tulang dada
atau lima jari
diatas
umbilicus,
kemuadian
titik RN11
terletak tiga
jari diatas
umbilicus,
ST22 terletak
dua
jari disamping
RN11. Titik
PC6
lokasinya tiga
jari diatas
pergelangan
tangan dan
PC8 yang
terletak pada
garis telapak
tangan antara
metacarpal.
b. Ajarkan
pasien
tentang
tindakan
kompleme
nter yang
diharapka
n
c. Berikan
dan
ajarkan
tentang
obat
tradisional
(obat
herbal:
jamu
kunyit)
d. Berikan
informasi
tentang
pengguna
an obat
Sumber: (PPNI, 2018).
3. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan suatu proses keperawatan yang dilakukan setelah
perencanaan keperawatan. Implementasi keperawatan adalah langkah keempat dari
proses keperawatan yang telah direncanakan oleh perawat untuk membantu pasien
yang bertujuan mencegah, mengurangi, dan menghilangkan dampak ataupun respon
yang dapat ditimbulkan oleh adanya masalah keperawatan serta kesehatan.
Implementasi keperawatan membutuhkan fleksibilitas dan kreativitas perawat
(Debora, 2013).
4. Evaluasi keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan tahap kelima atau proses keperawatan terakhir
yang berupaya untuk membandingkan tindakan yang sudah dilakukan dengan kriteria
hasil yang sudah ditentukan. Evaluasi keperawatan bertujuan menentukan apakah
seluruh proses keperawatan sudah berjalan dengan baik dan tindakan berhasil dengan
baik (Debora, 2013). Evaluasi yang diharapkan dapat dicapai pada pasien gastritis
dalam pemenuhan kebutuhan rasa nyaman adalah dapat mengontrol terhadap adanya
gejala, menyatakan rasa nyaman, tidak adanya mual.4
4 "BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Dasar Nyeri Akut pada ...."
http://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/2392/3/BAB%20II.pdf. Diakses pada 29 Jul. 2022.