© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 185 Manajemen dan Penggunaan Obat-obatan (MMU) Gambaran Umum Obat-obatan adalah komponen penting dari perawatan yang diberikan kepada pasien dan digunakan untuk diagnostik, simtomatis, preventif, kuratif, dan terapi paliatif serta tata laksana penyakit dan kondisi. Sistem pengobatan yang mendukung manajemen obat optimal harus mencakup proses yang mendukung penggunaan obat-obatan yang aman dan efektif. Penggunaan obat yang aman dan efektif mencakup upaya praktisi kesehatan yang terkoordinir dan multidisiplin dalam menerapkan prinsip-prinsip desain proses, implementasi, dan pengembangan semua aspek proses manajemen obat, yang meliputi pemilihan, pengadaan, penyimpanan, instruksi/peresepan, transkripsi/penyalinan, distribusi, penyiapan, penyerahan, pemberian, pencatatan, dan pemantauan terapi pengobatan. Walaupun peran praktisi kesehatan dalam manajemen obat sangat bervariasi antar satu negara dengan negara lain, proses manajemen obat yang baik untuk keselamatan pasien bersifat universal, dan harus didukung dengan bukti ilmiah serta petunjuk untuk orang yang meresepkan seperti halnya dalam penyusunan program pengendalian resistensi antibiotik (antibiotic stewardship) dan penggunaan panduan praktik pengobatan yang diterima. Catatan: Obat-obatan didefinisikan sebagai obat apa pun yang diresepkan; obat sampel; obat herbal; vitamin; nutrasetikal; obat bebas (over-the-counter); vaksin; atau agen kontras dan diagnostik yang digunakan pada atau diberikan kepada orang untuk mendiagnosis, untuk mengobati, atau untuk mencegah penyakit atau kondisi abnormal lain; obat radioaktif; pengobatan terapi pernapasan; nutrisi parenteral; turunan darah; dan larutan intravena (polos, dengan elektrolit dan/atau obat), demikian pula larutan yang digunakan/diberikan pada pasien oleh tim bedah selama tindakan invasif/pembedahan. Catatan: beberapa standar meminta rumah sakit untuk menetapkan kebijakan, prosedur, program, atau dokumen tertulis lainnya bagi proses-proses spesifik. Standar-standar tersebut ditandai dengan lambang setelah uraian standar tersebut. Standar Berikut ini adalah daftar semua standar untuk fungsi ini. Standar-standar tersebut disajikan di sini untuk memudahkan Anda, tanpa mencantumkan maksud dan tujuan serta elemen-elemen penilaiannya. Untuk informasi lebih lanjut mengenai standar-standar ini, silakan lihat bagian berikutnya dari bab ini, yakni bagian Standar, Maksud dan Tujuan, serta Elemen-elemen Penilaian. Pengaturan dan Manajemen MMU.1 Obat-obatan yang digunakan di dalam rumah sakit diatur untuk memenuhi kebutuhan pasien dan sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku, dan diarahkan serta dipantau oleh seorang apoteker berizin atau petugas profesional lain yang memenuhi kualifikasi. MMU.1.1 Rumah sakit menyusun dan menerapkan suatu program untuk penggunaan antibiotik secara bijak berdasarkan pada prinsip pengendalian resistensi antibiotik (antibiotic stewardship). Pemilihan dan Pengadaan MMU.2 Terdapat metode untuk mengawasi daftar obat rumah sakit, termasuk bagaimana penggunaan obatobat yang ada dalam daftar tersebut; metode untuk memastikan obat-obatan yang diresepkan atau diinstruksikan sudah tersedia; serta proses untuk obat-obatan yang tidak tersedia atau biasanya tidak tersedia di rumah sakit atau untuk saat-saat ketika unit farmasi tutup. Penyimpanan
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 186 MMU.3 Obat-obatan disimpan dengan baik dan aman. MMU.3.1 Obat-obatan untuk keadaan darurat tersedia, tersimpan secara seragam, terpantau dan aman bila disimpan di luar farmasi rumah sakit. MMU.3.2 Rumah sakit memiliki sistem untuk penarikan kembali obat-obatan. Pemberian Instruksi Pengobatan dan Penyalinan MMU.4 Rumah sakit mengidentifikasi dan mendokumentasikan daftar obat-obatan yang saat ini dikonsumsi oleh pasien di rumahnya dan membandingkan daftar tersebut dengan semua obat baru yang diresepkan atau diserahkan bagi pasien. MMU.4.1 Rumah sakit mengidentifikasi orang-orang yang memenuhi kualifikasi dan diizinkan untuk melakukan peresepan atau membuat instruksi pengobatan. MMU.4.2 Rumah sakit menentukan praktik peresepan, pemberian instruksi obat, dan penyalinan yang aman, serta menetapkan elemen-elemen instruksi pengobatan atau resep yang lengkap. Penyiapan dan Penyerahan MMU.5 Obat disiapkan dan diserahkan dalam lingkungan yang aman dan bersih. MMU.5.1 Resep atau instruksi pengobatan ditelaah kesesuaiannya. MMU.5.2 Digunakan suatu sistem untuk menyerahkan obat dengan dosis yang tepat bagi pasien yang tepat pada saat yang tepat. Pemberian MMU.6 Individu yang kompeten dan diizinkan untuk memberikan obat kepada pasien diidentifikasi dan pemberian obat didokumentasikan dalam rekam medis pasien oleh individu kompeten tersebut. MMU.6.1 Pemberian obat meliputi proses verifikasi bahwa obat tersebut tepat sesuai dengan peresepan atau instruksi pengobatan. MMU.6.2 Terdapat kebijakan dan prosedur yang mengatur obat-obatan yang dibawa masuk ke dalam rumah sakit oleh pasien atau keluarganya dan obat-obatan yang diresepkan untuk dikonsumsi sendiri oleh pasien. MMU.6.2.1 Terdapat kebijakan dan prosedur yang mengatur obat yang dibawa ke rumah sakit sebagai sampel. Pemantauan MMU.7 Efek obat pada pasien dipantau. MMU.7.1 Rumah sakit menetapkan dan menerapkan proses untuk melaporkan dan menindaklanjuti kesalahan pengobatan dan kejadian nyaris/hampir cedera (nearmiss/close call). Standar, Maksud dan Tujuan serta Elemen Penilaian Pengaturan dan Manajemen Standar MMU.1 Obat-obatan yang digunakan di dalam rumah sakit diatur untuk memenuhi kebutuhan pasien dan sesuai
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 187 dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku, dan diarahkan serta dipantau oleh seorang apoteker berizin atau petugas profesional lain yang memenuhi kualifikasi. Maksud dan Tujuan MMU.1 Obat-obatan, yang merupakan sumber daya penting dalam perawatan pasien, harus diatur secara efektif dan efisien. Sistem manajemen obat yang aman membahas proses-proses pengobatan rumah sakit, yang pada banyak rumah sakit mencakup hal-hal berikut ini (sesuai dengan yang dapat diterapkan): a) Perencanaan b) Pemilihan dan pengadaan c) Penyimpanan d) Permintaan/instruksi pengobatan e) Penyiapan dan penyerahan f) Pemberian g) Pemantauan h) Pelaporan kesalahan pengobatan dan kejadian tidak diharapkan i) Evaluasi Manajemen obat bukan hanya tanggung jawab pelayanan farmasi saja, namun juga merupakan tanggung jawab manajer dan praktisi kesehatan. Pembagian tanggung jawab tersebut tergantung pada struktur dan staf rumah sakit. Untuk rumah sakit yang tidak memiliki pelayanan farmasi, obat-obatan dapat dikelola di setiap unit klinis sesuai dengan kebijakan rumah sakit. Untuk rumah sakit dengan farmasi pusat yang besar, farmasi tersebut dapat mengatur dan mengendalikan obat-obatan di seluruh rumah sakit. Manajemen obat-obatan yang efektif melibatkan seluruh bagian rumah sakit, unit rawat inap, unit rawat jalan, dan unit-unit khusus. Bagaimanapun cara pengaturan obat-obatan di rumah sakit, aktivitas farmasi atau pelayanan farmasi secara langsung diawasi oleh individu yang kompeten. (Lihat juga GLD.9) Individu tersebut telah terlatih, dan memiliki izin dan/atau sertifikasi jika disyaratkan. Struktur organisasi dan pelaksanaan sistem manajemen obatobatan di rumah sakit sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku. Untuk menjamin manajemen dan penggunaan obat-obatan yang efektif dan efisien, sistem ini ditinjau oleh rumah sakit setidaknya setahun sekali. Telaah tahunan mengidentifikasi seberapa baik sistem bekerja dengan menarik semua informasi dan pengalaman terkait manajemen obat sebagaimana yang teridentifikasi dalam a) sampai i) di atas. Telaah tersebut memungkinkan rumah sakit untuk memahami kebutuhan dan prioritas pengembangan sistem berkelanjutan dalam mutu dan keamanan penggunaan obat. Elemen Penilaian MMU.1 ❑ 1. Terdapat dokumen tertulis yang membahas butir a) sampai i) dari maksud dan tujuan yang sesuai, dan mengidentifikasi bagaimana penggunaan obat-obatan diatur dan dikelola di seluruh rumah sakit. ❑ 2. Semua tata cara, pelayanan, dan individu yang mengatur pengelolaan obat-obatan dimasukkan ke dalam struktur organisasi. ❑ 3. Ahli farmasi yang telah memiliki izin atau individu lain yang kompeten mengawasi secara langsung aktivitas farmasi atau pelayanan farmasi dan memastikan adanya kepatuhan terhadap peraturan dan undang-undang yang berlaku. ❑ 4. Rumah sakit mendokumentasikan setidaknya satu telaah yang terdokumentasi mengenai sistem manajemen obat-obatan yang membahas butir a) sampai i) dari maksud dan tujuan yang sesuai, dan hal ini dilakukan setiap tahun. ❑ 5. Sistem penyerahan dan distribusi obat-obatan yang seragam diterapkan di rumah sakit dan sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku. ❑ 6. Tersedia sumber informasi obat untuk orang-orang yang terlibat dalam penggunaan obat-obatan. Standar MMU.1.1 Rumah sakit menyusun dan menerapkan suatu program untuk penggunaan antibiotik secara bijak berdasarkan
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 188 pada prinsip pengendalian resistensi antibiotik (antibiotic stewardship). Maksud dan Tujuan MMU.1.1 Penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan antibiotik telah mengakibatkan pertumbuhan kuman super (superbugs) yang mengalami peningkatan resistensi terhadap antibiotik-antibiotik yang tersedia. Menurut US Centers for Disease Control and Prevention (CDC), bakteri yang resisten terhadap obat menyebabkan 23.000 kematian dan 2 juta kejadian sakit setiap tahunnya. The Institute for Healthcare Improvement melaporkan bahwa 25.000 orang meninggal setiap tahunnya di Eropa akibat resistensi antimikroba, dan resistensi mikroba berkembang di Timur Tengah, Afrika, dan Asia. Beberapa memperkirakan bahwa lebih dari 700.000 kematian terjadi di dunia setiap tahunnya akibat resistensi antibiotik. Selain resistensi dan pertumbuhan kuman super, sering kali ada efek samping dan/atau komplikasi dari terapi antibiotik, termasuk terkena infeksi Clostridioides difficile (C diff), kerusakan ginjal atau hati, kehilangan pendengaran, anemia hemolitik, dan komplikasi lainnya. Ketepatan penggunaan antibiotik penting untuk mencegah komplikasi yang tidak diharapkan dari penggunaan antibiotik secara tidak tepat. Praktisi kesehatan berkontribusi dalam berkembangnya resistensi antibiotik dengan beberapa cara. Sebagai contoh, melanjutkan antibiotik saat sudah tidak lagi diperlukan, menggunakan antibiotik spektrum luas saat tidak dibutuhkan atau melanjutkan antibiotik spektrum luas yang tidak lagi diperlukan saat hasil uji sensitivitas telah diterima, menggunakan antibiotik yang salah atau meresepkan dosis yang salah, atau melanjutkan antibiotik profilaksis setelah sudah tidak lagi direkomendasikan. Untuk mengurangi berkembangnya dan penyebaran bakteri resisten serta menghasilkan luaran pasien yang lebih baik, rumah sakit harus menerapkan tindakan-tindakan untuk memastikan penggunaan antibiotik secara optimal. (Lihat juga PCI.5; PCI.5.1; dan GLD.11.2) Implementasi program pengendalian resistensi antibiotik (antibiotic stewardship) akan membantu rumah sakit mencapai tujuan pemberian antibiotik yang tepat pada pasien yang membutuhkan terapi antibiotik, pada waktu yang tepat, dengan dosis yang tepat, dan dengan durasi yang tepat. Program pengendalian resistensi antibiotik dapat meliputi elemen-elemen berikut ini: melacak pola peresepan dan resistensi antibiotik; menginformasikan kepada staf tentang penggunaan dan resistensi antibiotik secara berkala; dan mengedukasi staf tentang penggunaan antibiotik secara optimal. Program tersebut wajib mendapatkan dukungan dari pimpinan rumah sakit, yang mencakup komitmen pimpinan untuk memberikan dukungan yang mencakup staf, sumber daya finansial, sumber daya berbasis bukti, dan teknologi informasi untuk menjamin suatu program pengendalian resistensi antibiotik. Selain profesional pencegahan dan pengendalian infeksi, program pengendalian resistensi antibiotik meliputi para dokter, perawat, apoteker, peserta didik (trainee), pasien, keluarga, dan lainnya. (Lihat juga PCI.2) Melacak efikasi program adalah elemen penting dari keberhasilan program. Contoh dari mengidentifikasi efikasi dapat mencakup bukti penurunan penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan penurunan organisme yang resisten terhadap banyak jenis obat, dokumentasi bahwa orang-orang yang meresepkan mengikuti panduan praktik yang diterima, dan penggunaan optimal antibiotik profilaksis secara tepat. Berhasilnya pelacakan efikasi program membutuhkan suatu mekanisme pengawasan. Pengawasan dapat meliputi individual, kelompok kerja kecil, komite koordinator, satuan tugas, atau beberapa mekanisme lain. Elemen Penilaian MMU.1.1 ❑ 1. Rumah sakit menyusun dan menerapkan suatu program untuk pengendalian resistensi antibiotik yang mencakup profesional pencegahan dan pengendalian infeksi, dokter, perawat, apoteker, peserta didik (trainee), pasien, keluarga, dan lainnya. ❑ 2. Program didasarkan pada bukti ilmiah, panduan praktik yang diterima, serta peraturan dan undangundang lokal. ❑ 3. Program meliputi panduan penggunaan optimal terapi antibiotik untuk pengobatan infeksi, termasuk penggunaan terapi antibiotik profilaksis secara tepat. ❑ 4. Terdapat suatu mekanisme untuk mengawasi program pengendalian resistensi antibiotik (antibiotic stewardship). ❑ 5. Dilakukan pemantauan terhadap efikasi program pengendalian resistensi antibiotik.
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 189 Pemilihan dan Pengadaan Standar MMU.2 Terdapat metode untuk mengawasi daftar obat rumah sakit, termasuk bagaimana penggunaan obat-obat yang ada dalam daftar tersebut; metode untuk memastikan obat-obatan yang diresepkan atau diinstruksikan sudah tersedia; serta proses untuk obat-obatan yang tidak tersedia atau biasanya tidak tersedia di rumah sakit atau untuk saat-saat ketika unit farmasi tutup. Maksud dan Tujuan MMU.2 Semua rumah sakit harus memilih obat-obatan mana yang harus disediakan untuk peresepan dan instruksi pengobatan oleh para praktisi kesehatan. Keputusan ini berdasarkan misi rumah sakit, kebutuhan pasien, dan jenis pelayanan yang disediakan. Rumah sakit menyusun suatu daftar (juga sering disebut sebagai formularium) semua obat-obatan yang disediakan rumah sakit atau yang tersedia dengan mudah dari sumber- sumber di luar rumah sakit. Dalam kasus-kasus tertentu, peraturan dan undang-undang dapat menetapkan obat-obatan yang harus termuat dalam daftar tersebut maupun sumber obat-obatan tersebut. Pemilihan obat-obatan merupakan proses kolaboratif yang mempertimbangkan kebutuhan dan keselamatan pasien selain juga nilai-nilai ekonomis. (Lihat juga GLD.7.1) Terkadang stok obat-obatan dapat habis akibat keterlambatan pengiriman, kekurangan secara nasional, atau alasan-alasan lainnya yang tidak terantisipasi melalui pengendalian inventaris normal. Terdapat proses untuk memberitahu penulis resep mengenai kekurangan ini dan obat pengganti yang disarankan. Rumah sakit memiliki metode, seperti menunjuk komite, untuk memelihara dan memantau daftar obat-obatan dan untuk memantau penggunaan obat-obatan tersebut di rumah sakit; sebagai contoh, memantau penggunaan antibiotik. Individu-individu yang terlibat dalam pengawasan daftar ini meliputi praktisi kesehatan yang terlibat dalam proses permintaan, penyerahan, pemberian, dan pemantauan obat-obatan. Keputusan untuk menambah atau menghapus obat dari daftar tersebut didasarkan pada kriteria yang mencakup indikasi untuk penggunaan, efektivitas, risiko, dan biaya. Terdapat proses atau mekanisme untuk memantau respons pasien terhadap obat yang baru ditambahkan ke dalam daftar obat rumah sakit. Sebagai contoh, ketika diputuskan untuk menambahkan jenis obat baru atau golongan obat baru ke dalam daftar tersebut, terdapat proses untuk mengumpulkan, menggabungkan, dan memantau data terkait dengan kesesuaian indikasi, bagaimana obat tersebut diresepkan (sebagai contoh, bagaimana dosis atau rute pemberian yang diresepkan), dan setiap KTD yang tidak terduga atau kondisi yang terkait dengan obat baru selama periode pengenalan obat baru ini. Daftar ini ditinjau setidaknya setiap tahun berdasarkan informasi keamanan dan efikasi obat yang terbaru dan berdasarkan informasi tentang penggunaan dan KTD terkait obat tersebut. Kadang kala, obat-obatan tidak ada dalam persediaan atau tidak tersedia dengan segera bagi rumah sakit saat dibutuhkan. Sebagai contoh, pasien yang menggunakan infus di rumah yang menjadi pasien rawat inap mungkin tidak memiliki cukup obat untuk melanjutkan infus saat di rumah sakit. Obat-obatan khusus semacam ini dapat meliputi cairan infus yang menyelamatkan nyawa untuk kondisi hipertensi pulmoner dan obat yang digunakan dalam pompa insulin. Terdapat suatu proses untuk menyetujui dan mengadakan obatobatan tersebut. Selain itu, kadang obat-obatan dibutuhkan pada malam hari atau pada saat farmasi tutup. Setiap rumah sakit perlu memiliki perencanaan untuk menghadapi kejadian-kejadian tersebut dan perlu mendidik stafnya mengenai prosedur yang harus dijalankan apabila hal tersebut terjadi. Elemen Penilaian MMU.2 ❑ 1. Di rumah sakit tersedia daftar obat yang mencantumkan nama dagang dan nama generik yang disusun sendiri oleh rumah sakit atau dapat juga berasal dari sumber luar, dan daftar tersebut ditinjau setiap tahun. ❑ 2. Proses yang digunakan untuk menyusun dan memantau daftar ini (kecuali ada ketentuan berbeda berdasarkan oleh peraturan atau otoritas lain di luar rumah sakit) melibatkan perwakilan dari praktisi
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 190 kesehatan yang terlibat dalam proses permintaan, penyerahan, pemberian, dan pemantauan obat bagi pasien di rumah sakit. ❑ 3. Terdapat proses untuk memperoleh obat pada malam hari atau ketika unit farmasi ditutup serta proses untuk mendapatkan obat-obatan yang tidak tersedia atau biasanya tidak tersedia di rumah sakit. (Lihat juga MMU.3.2, EP 1) Penyimpanan Standar MMU.3 Obat-obatan disimpan dengan baik dan aman. Maksud dan Tujuan MMU.3 Obat-obatan dapat disimpan dalam area penyimpanan, dalam farmasi atau layanan farmasitik, atau pada unit farmasi yang terletak di unit perawatan pasien atau pos perawat dalam unit klinis. Standar MMU.1 menyediakan mekanisme pengawasan untuk semua lokasi tempat obat disimpan. Ada beberapa jenis obat yang memerlukan penanganan khusus; Sebagai contoh, obat radioaktif dan obat berbahaya yang dapat menimbulkan risiko keselamatan, serta obat dalam penelitian yang mungkin memerlukan penyimpanan dan/atau persetujuan khusus. Di semua lokasi tempat obat disimpan, hal-hal berikut harus jelas: • Obat-obatan yang disimpan di unit farmasi disimpan dalam kondisi yang sesuai untuk stabilitas produk seperti yang ditentukan oleh produsen. • Ketika obat disimpan di unit perawatan pasien, ambulans, atau area lain di luar unit farmasi, rumah sakit melakukan pengkajian risiko untuk mengidentifikasi kondisi yang sesuai guna menjaga stabilitas produk selama jangka waktu obat disimpan di luar unit farmasi. (Lihat juga ACC.6) • NAPZA (controlled substances) dicatat secara akurat sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku. • Obat atau produk yang memerlukan penanganan khusus, seperti obat radioaktif, obat dalam penelitian, dan obat atau produk serupa lainnya, diberi label secara akurat dan disimpan, dikelola, serta dimonitor dengan aman. • Obat-obatan dan bahan kimia yang digunakan untuk menyiapkan obat-obatan secara akurat dilabeli dengan isi, tanggal kedaluwarsa, dan peringatan yang sesuai. (Lihat juga FMS.7) • Elektrolit pekat tidak disimpan di unit perawatan kecuali obat yang ditentukan dalam bagian maksud dan tujuan IPSG.3.2 (dinilai di standar IPSG.3.2). • Obat-obatan tersebut dilindungi dari kehilangan atau pencurian di semua area rumah sakit. Elemen Penilaian MMU.3 ❑ 1. Obat-obatan disimpan dalam kondisi yang sesuai untuk stabilitas produk, termasuk obat-obatan yang disimpan dalam masing-masing unit perawatan pasien dan ambulans (jika sesuai). ❑ 2. NAPZA dicatat secara akurat sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku. ❑ 3. Terdapat proses untuk mengelola obat atau produk yang memerlukan penanganan khusus, seperti obat berbahaya, obat radioaktif, dan obat yang sedang diteliti. ❑ 4. Obat-obatan dan bahan kimia yang digunakan untuk menyiapkan obat diberi label secara akurat dengan keterangan isi, tanggal kedaluwarsa, dan peringatan. ❑ 5. Semua area penyimpanan obat, termasuk area penyimpanan obat di unit perawatan pasien dan ambulans (jika sesuai), diinspeksi secara berkala sesuai dengan kebijakan rumah sakit untuk memastikan bahwa obat-obat tersimpan secara tepat. ❑ 6. Rumah sakit melindungi obat-obatan dari kehilangan atau pencurian di semua area rumah sakit.
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 191 Standar MMU.3.1 Obat-obatan untuk keadaan darurat tersedia, tersimpan secara seragam, terpantau dan aman bila disimpan di luar farmasi rumah sakit. Maksud dan Tujuan MMU.3.1 Bila ada pasien dengan keadaan darurat, akses cepat ke obat-obatan darurat yang tepat sangat penting. Setiap rumah sakit merencanakan lokasi obat-obatan darurat dan obat-obatan yang harus disediakan di lokasi tersebut. Sebagai contoh, obat untuk membalikkan efek anestesi tersedia di ruang operasi. Lemari, troli, tas atau kotak darurat dapat digunakan untuk meletakkan obat-obatan ini. Obat-obatan kegawatdaruratan disimpan secara seragam untuk memfasilitasi akses cepat terhadap obat-obatan yang tepat. Sebagai contoh, di setiap troli emergensi dalam rumah sakit, obat-obatan kegawatdaruratan berada dalam laci yang sama dan obatobatan ditata dengan cara yang sama dalam laci pada tiap-tiap troli. Hal ini khususnya penting untuk staf yang mungkin membutuhkan akses ke obat-obatan kegawatdaruratan dari troli yang tidak biasa mereka gunakan. Penyimpanan obat-obatan dalam troli emergensi anak berbeda dengan troli emergensi dewasa; namun demikian, obat-obatan disimpan secara seragam pada tiap-tiap jenis troli. Untuk memastikan adanya akses ke obat-obatan darurat bila dibutuhkan, rumah sakit menetapkan suatu prosedur atau proses untuk mencegah penyalahgunaan, pencurian atau hilangnya obat-obatan ini. Proses tersebut memastikan bahwa obat diganti jika digunakan, rusak, atau kedaluwarsa. Sebagai contoh, memasukkan pemeriksaan troli emergensi ke dalam uraian pekerjaan harian staf unit guna membantu memastikan integritas troli beserta isinya. Rumah sakit memahami keseimbangan antara ketersediaan akses dan keamanan lokasi penyimpanan obat-obatan darurat itu. Sebagai contoh, bila akses ke obat-obatan kegawatdaruratan membutuhkan individu yang spesifik dalam unit tersebut untuk membuka kunci troli emergensi, dan individu tersebut tidak berada di tempat, obat-obatan menjadi tidak terjangkau walaupun obatobatan tersebut tersimpan aman. (Lihat juga FMS.6) Resusitasi darurat adalah situasi yang sangat menegangkan dan sangat bergantung pada waktu. Akibatnya, risiko kesalahan pengobatan yang terjadi selama resusitasi darurat mungkin lebih tinggi. Institute for Safe Medication Practices (ISMP) mengidentifikasi bahwa faktor-faktor penyebab umum yang dilaporkan untuk risiko kesalahan yang lebih tinggi ini termasuk kemasan produk atau nama obat yang mirip; troli emergensi yang tidak terorganisir dan tidak terstandar; stok berlebih di troli emergensi; gangguan yang disebabkan oleh lingkungan yang sibuk; instruksi verbal yang tidak dikomunikasikan dengan baik; staf yang kurang berpengalaman; obatobatan alternatif di troli emergensi; tidak adanya informasi atau informasi yang membingungkan tentang obatobatan yang ada; dan obat yang disimpan dalam konsentrasi yang berbeda dalam satu laci di troli emergensi. Karena itu, ketika terjadi keadaan darurat pada pasien, akses cepat ke obat-obatan emergensi yang tepat sangatlah penting. (Lihat juga COP.3.3) Kekonsistenan dan keseragaman dalam pendekatan resusitasi darurat dapat secara signifikan mengurangi risiko dan memperbaiki luaran pasien. Sebagai contoh, rumah sakit dapat mengambil pendekatan berbasis risiko untuk meningkatkan keselamatan dan meningkatkan luaran pasien dengan melihat data internal mengenai situasi darurat sebelumnya guna meninjau ketersediaan obat-obatan emergensi atau meninjau literatur tentang subjek tersebut. Contoh strategi yang diidentifikasi dalam literatur termasuk strategi-strategi berikut ini: • • Gunakan strategi untuk membedakan antara obat untuk pasien dewasa dan pediatri; sebagai contoh, menggunakan troli emergensi dewasa dan pediatri yang terpisah atau, saat menggunakan troli universal, menyimpan obat-obatan dan peralatan di laci terpisah untuk pasien dewasa dan pediatri. • Simpan kotak obat khusus untuk neonatus di area yang merawat neonatus. • Membakukan tata letak obat dalam troli dan laci di seluruh rumah sakit. Elemen Penilaian MMU.3.1 ❑ 1. Obat-obatan darurat tersedia dan dapat langsung digunakan dalam unit-unit di mana obat-obatan tersebut dibutuhkan atau dapat tersedia dengan segera dalam rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan darurat. ❑ 2. Rumah sakit menetapkan dan menerapkan proses mengenai bagaimana obat-obatan darurat disimpan secara seragam, dijaga, diganti ketika sudah digunakan atau kedaluwarsa, dan dilindungi dari bahaya
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 192 hilang atau dicuri. ❑ 3. Akses ke obat-obatan emergensi tidak memerlukan individu atau kunci tertentu untuk membuka kunci troli emergensi. ❑ 4. Obat-obatan darurat dipantau dan diganti tepat waktu setelah digunakan, bila kedaluwarsa, atau rusak. ❑ 5. Rumah sakit menggunakan pendekatan berbasis risiko, seperti yang dijelaskan dalam bagian maksud dan tujuan, untuk mengidentifikasi dan menerapkan strategi guna meningkatkan efisiensi dan ketepatan pemberian obat selama resusitasi darurat. Standar MMU.3.2 Rumah sakit memiliki sistem untuk penarikan kembali obat-obatan. Maksud dan Tujuan MMU.3.2 Penarikan obat terjadi ketika suatu obat ditarik kembali dari pasar karena ditemukan adanya defek atau berpotensi berbahaya. Defek pada obat mungkin berhubungan dengan pengemasan yang salah, potensi kontaminasi, atau proses produksi yang buruk, yang mengakibatkan ketidakmurnian atau kesalahan dalam kekuatan/potensi obat. Terkadang, produsen obat akan mengidentifikasi masalah yang terdapat pada obat mereka dan secara sukarela menariknya kembali. Di waktu lain, suatu badan pemerintah akan meminta agar obat tersebut ditarik kembali setelah menerima laporan masalah dari masyarakat. Komunikasi tentang penarikan obat dapat datang langsung dari pabrik atau dari pihak berwenang. Rumah sakit harus memastikan bahwa mereka memiliki proses untuk menerima pemberitahuan penarikan obat dan untuk mengidentifikasi, mengambil, dan mengembalikan, atau dengan aman dan benar menghancurkan, obat-obatan yang ditarik kembali oleh produsen atau distributor tersebut. Proses penarikan meliputi juga obat-obatan yang diracik di dalam rumah sakit yang mungkin telah menggunakan produk yang ditarik tersebut. Terdapat suatu kebijakan atau prosedur yang membahas penggunaan atau pemusnahan obat yang diketahui sudah kedaluwarsa (expired) atau sudah melewati masa pakainya (outdated). Obat-obatan yang kedaluwarsa adalah obat yang telah melampaui tanggal kedaluwarsa yang tertera di kemasan asli dari pabrik. Obat-obatan yang sudah melewati masa pakainya (outdated) adalah obat yang telah dibuka dan secara umum aman dan efektif untuk digunakan dalam jangka waktu pendek tertentu setelah dibuka (shelf life). Obat-obatan outdated ini harus ditandai dengan tanggal kedaluwarsa berdasarkan kapan obat tersebut dibuka agar staf mengetahui kapan batas akhir tanggal penggunaan. Elemen Penilaian MMU.3.2 ❑ 1. Rumah sakit menetapkan dan menerapkan proses untuk menerima dan menindaklanjuti pemberitahuan penarikan obat. ❑ 2. Proses tersebut termasuk mengidentifikasi, mengambil, dan mengembalikan, atau menghancurkan dengan aman dan benar, obat-obatan yang ditarik oleh produsen, distributor, atau pihak berwenang. ❑ 3. Proses penarikan meliputi obat-obatan yang diracik di dalam rumah sakit yang mungkin telah menggunakan produk yang telah ditarik tersebut. ❑ 4. Rumah sakit menetapkan dan menerapkan proses penggunaan obat-obatan kedaluwarsa yang belum dibuka dan obat-obatan yang sudah melewati masa pakainya. ❑ 5. Rumah sakit menetapkan dan menerapkan proses untuk memusnahkan obat yang diketahui sudah kedaluwarsa atau yang sudah melewati masa pakainya.
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 193 Pemberian Instruksi Pengobatan dan Penyalinan Standar MMU.4 Rumah sakit mengidentifikasi dan mendokumentasikan daftar obat-obatan yang saat ini dikonsumsi oleh pasien di rumahnya dan membandingkan daftar tersebut dengan semua obat baru yang diresepkan atau diserahkan bagi pasien. Maksud dan Tujuan MMU.4 Rekonsiliasi obat adalah proses penting dari manajemen obat yang aman guna melindungi pasien dan mengurangi risiko kejadian tak diharapkan. Pasien yang masuk ke rumah sakit sering kali sedang mengonsumsi beberapa obat di rumahnya sendiri dan mungkin berisiko mengalami efek samping jika daftar obat tidak didokumentasikan secara akurat dalam rekam medis pasien. Perbedaan obat dapat memengaruhi luaran pasien. Mungkin sulit untuk mendapatkan daftar obat lengkap dari setiap pasien dalam satu pertemuan saja, dan keakuratan informasi yang diberikan tergantung pada kemampuan dan kemauan pasien untuk menyampaikan informasi ini. Suatu upaya kredibel untuk memperoleh informasi ini sudah dianggap memenuhi maksud dan tujuan standar ini. Contoh upaya yang kredibel dapat termasuk menghubungi apotek tempat pasien membeli obat dan/atau anggota keluarga pasien atau berkonsultasi dengan dokter layanan primer yang merawat pasien. Jenis-jenis informasi yang digunakan klinisi untuk merekonsiliasi obat termasuk, tetapi tidak terbatas pada, nama obat, dosis, frekuensi, rute, dan tujuan pemberian. Rumah sakit harus mengidentifikasi informasi yang perlu diminta untuk merekonsiliasi obat-obatan yang sedang dikonsumsi saat ini dan yang baru diinstruksikan, serta untuk meresepkan obat dengan aman di masa depan. Manajemen obat-obatan yang baik mencakup membandingkan rekomendasi obat baru dengan daftar obat yang saat ini dikonsumsi pasien. (Lihat juga ACC.4.3 dan AOP.1.1). Tujuan dari tinjauan ini adalah untuk meningkatkan mutu dan keselamatan dalam menambahkan obat baru ke dalam rencana perawatan pasien dan mengurangi risiko KTD terkait pengobatan. Dalam rekam medis pasien tercatat daftar semua obat terkini dan daftar ini tersedia bagi unit farmasi rumah sakit, perawat dan dokter. Rumah sakit menerapkan proses untuk membandingkan daftar obat pasien sebelum masuk rumah sakit dengan instruksi pengobatan awal di rumah sakit. Elemen Penilaian MMU.4 ❑ 1. Rumah sakit mengidentifikasi informasi yang diperlukan untuk merekonsiliasi obat-obatan yang sedang dikonsumsi pasien saat ini dan yang baru diinstruksikan. ❑ 2. Rekam medis pasien memuat daftar obat-obatan terkini sebelum masuk atau pendaftaran sebagai pasien rawat jalan, dan informasi ini tersedia bagi unit farmasi dan para petugas medis yang merawat pasien sesuai kebutuhan. ❑ 3. Instruksi pengobatan awal dibandingkan dengan daftar obat yang dikonsumsi sebelum masuk ke rumah sakit, sesuai dengan proses yang ditetapkan rumah sakit. Standar MMU.4.1 Rumah sakit mengidentifikasi orang-orang yang memenuhi kualifikasi dan diizinkan untuk melakukan peresepan atau membuat instruksi pengobatan. Maksud dan Tujuan MMU.4.1 Menentukan obat untuk mengobati pasien membutuhkan pengetahuan dan pengalaman spesifik. Setiap rumah sakit bertanggung jawab menetapkan orang-orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan serta orang-orang yang diizinkan berdasarkan lisensi, sertifikasi, peraturan dan undang-undang untuk melakukan peresepan atau untuk membuat instruksi pengobatan. (Lihat juga COP.2.1; SQE.10; MOI.2; dan MOI.9) Rumah sakit dapat saja menentukan batasan sampai berapa kali seseorang boleh melakukan
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 194 peresepan atau membuat instruksi pengobatan tertentu, seperti misalnya NAPZA, obat kemoterapi atau obatobatan radioaktif dan obat-obatan dalam penelitian. (Lihat juga SQE.12) Individu yang diizinkan untuk melakukan peresepan atau membuat instruksi pengobatan diberitahukan kepada unit farmasi atau lainnya yang mengeluarkan obat. Dalam keadaan darurat, rumah sakit menetapkan individu lain yang diizinkan untuk melakukan peresepan atau membuat instruksi pengobatan. Elemen Penilaian MMU.4.1 ❑ 1. Hanya orang-orang yang diizinkan oleh rumah sakit dan sah berdasarkan lisensi, peraturan, dan undang- undang yang relevan, yang dapat melakukan peresepan atau membuat instruksi pengobatan. ❑ 2. Rumah sakit menetapkan dan menerapkan proses untuk pembatasan, jika sesuai, dalam melakukan peresepan atau membuat instruksi pengobatan oleh individu-individu tertentu. ❑ 3. Individu yang diizinkan untuk melakukan peresepan dan membuat instruksi pengobatan diketahui oleh unit farmasi ataupun orang-orang yang bertugas mengeluarkan obat. Standar MMU.4.2 Rumah sakit menentukan praktik peresepan, pemberian instruksi obat, dan penyalinan yang aman, serta menetapkan elemen-elemen instruksi pengobatan atau resep yang lengkap. Maksud dan Tujuan MMU.4.2 Penyebab umum KTD di suatu rumah sakit adalah kesalahan pengobatan. Suatu penelitian terbaru melaporkan bahwa “Kesalahan pengobatan paling umum terjadi pada tahap permintaan atau peresepan. Kesalahan umum ini meliputi tenaga kesehatan menuliskan obat yang salah, rute atau dosis yang salah, atau frekuensi yang salah. Kesalahan permintaan/peresepan ini mencakup hampir 50% kesalahan pengobatan. " Jika menggunakan kertas, resep atau permintaan obat yang tidak terbaca adalah salah satu penyebab kesalahan pengobatan yang membahayakan keselamatan pasien dan dapat menunda perawatan. Strategi untuk mengurangi ketidakterbacaan instruksi tertulis penting untuk mengurangi risiko kesalahan pengobatan. Peresepan, permintaan/penginstruksian, dan penyalinan resep yang aman harus sesuai dengan kebijakan dan prosedur rumah sakit. Staf medis, keperawatan, farmasi, dan administrasi bekerja sama untuk mengembangkan dan memantau kebijakan dan prosedur ini. Staf yang relevan dilatih tentang praktik peresepan, penginstruksian/permintaan, dan penyalinan yang benar. Untuk mengurangi variasi dan meningkatkan keselamatan pasien, rumah sakit menjabarkan elemen-elemen resep atau instruksi pengobatan yang lengkap. (Lihat juga MOI.9) Semua instruksi obat dan resep harus menuliskan nama obat, dosis, dan frekuensi serta rute pemberian. Selain itu, elemen tambahan berikut juga harus dimasukkan dalam resep dan instruksi obat bila sesuai: a) Data yang diperlukan untuk mengidentifikasi pasien secara akurat (Lihat juga IPSG.1) b) Ketika diperlukan nama generik atau ketika nama dagang dapat diterima (Lihat juga MMU.2) c) Pedoman khusus untuk penggunaan instruksi PRN (pro re nata, atau "kalau perlu") yang mencakup indikasi penggunaan dan arahan terperinci untuk instruksi yang tumpang tindih, seperti jika terdapat lebih dari satu obat untuk nyeri d) Instruksi obat berdasarkan berat atau dengan dosis disesuaikan, seperti untuk anak-anak, orang tua, dan pasien onkologi e) Instruksi obat yang disesuaikan untuk rentang terapeutik; sebagai contoh, dosis obat tertentu mungkin perlu diperbarui berdasarkan nilai laboratorium, seperti infus heparin atau Fenitoin f) Kecepatan pemberian saat memberikan instruksi infus intravena g) Instruksi khusus lain seperti instruksi titrasi, penurunan bertahap (tapering), atau instruksi dengan kisaran dosis Terdapat cara untuk mengatur • instruksi pengobatan yang tidak lengkap, tidak terbaca, atau tidak jelas; (Lihat juga MOI.10) • kewaspadaan/perhatian khusus untuk menginstruksikan obat-obatan dengan bentuk dan nama yang serupa (LASA) (Lihat juga IPSG.3.1)
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 195 • instruksi pengobatan khusus, seperti instruksi pengobatan gawat darurat, instruksi pengobatan tetap, atau instruksi pengobatan yang nantinya akan dihentikan secara otomatis, dan elemen khusus lain yang terkait dengan instruksi pengobatan tersebut; (Lihat juga COP.2.1) dan • instruksi pengobatan secara lisan dan melalui telepon serta proses verifikasi instruksi pengobatan tersebut (dinilai pada bab IPSG.2 dan MOI.12). Oleh karena itu, standar ini mengatur bagaimana ekspektasi instruksi pengobatan di seluruh rumah sakit. Proses tersebut tercermin dari instruksi pengobatan yang lengkap yang dituliskan pada rekam medis, unit farmasi atau unit yang menyerahkan obat mendapatkan informasi yang diperlukan untuk menyerahkan obat, dan pemberian obat didasarkan pada instruksi pengobatan yang lengkap. (Lihat juga MOI.8) Elemen Penilaian MMU.4.2 ❑ 1. Rumah sakit menetapkan, menerapkan, dan melatih staf tentang proses peresepan, permintaan/penginstruksian, dan penyalinan obat yang aman di rumah sakit. ❑ 2. Semua instruksi obat dan resep harus mencantumkan nama obat, dosis, frekuensi dan rute pemberian, indikasi pemberian obat, serta dosis maksimum. ❑ 3. Elemen-elemen tambahan dari suatu instruksi obat atau resep obat yang lengkap meliputi setidaknya butir a) sampai g) yang ditentukan dalam bagian maksud dan tujuan, sebagaimana diperlukan. ❑ 4. Rumah sakit menyusun dan menerapkan proses untuk mengatur instruksi pengobatan yang tidak lengkap, tidak terbaca, atau tidak jelas; termasuk langkah-langkah untuk mencegah hal ini terjadi berulang kali. ❑ 5. Rumah sakit menyusun dan menerapkan proses untuk mengelola instruksi pengobatan khusus, seperti instruksi pengobatan gawat darurat, instruksi pengobatan tetap, atau instruksi pengobatan dengan penghentian otomatis, dan elemen khusus lain yang terkait dengan instruksi pengobatan tersebut. ❑ 6. Obat yang diresepkan atau diinstruksikan didokumentasikan dalam rekam medis pasien atau dimasukkan ke dalam rekam medis pasien pada saat pemulangan atau transfer. Penyiapan dan Penyerahan Standar MMU.5 Obat disiapkan dan diserahkan dalam lingkungan yang aman dan bersih. Maksud dan Tujuan MMU.5 Layanan farmasi atau farmasitik serta unit lainnya yang beranggotakan individu terlatih yang berpengalaman menyiapkan dan menyerahkan obat dalam lingkungan yang bersih, aman, dan sesuai dengan peraturan dan undang-undang serta standar praktik profesional. Rumah sakit menetapkan standar praktik untuk lingkungan penyiapan dan penyerahan obat yang aman dan bersih. (Lihat juga PCI.4) Sebagai contoh, standar praktik dapat mencakup bagaimana seharusnya area penyiapan obat dibersihkan dan kapan masker harus digunakan, atau bagaimana pelindung bertudung (laminar airflow hoods) harus digunakan untuk penyiapan obat. Beberapa obat dan larutan memerlukan penyiapan berdasarkan pedoman yang sangat spesifik. Staf yang meracik dan menyiapkan obat-obatan ini dilatih mengenai prinsip penyiapan obat dan teknik aseptik. Demikian pula, ruang bertekanan positif dan tudung aliran udara laminar (laminar airflow hood) tersedia dan digunakan seusai ketentuan praktik profesional, sebagai contoh, dalam persiapan peracikan steril, pencampuran nutrisi parenteral total (TPN), kemoterapi, epidural, dan obat-obatan berbahaya seperti obat sitotoksik. Karena adanya kebutuhan akan tekanan positif dan laminar airflow hood dalam menyiapkan obat-obatan ini, direkomendasikan bahwa obatobatan tersebut disiapkan secara khusus di farmasi kecuali untuk unit perawatan pasien spesialistis yang memiliki peralatan keselamatan yang dibutuhkan dan staf yang terlatih (sebagai contoh, unit onkologi).
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 196 Penggunaan botol sekali pakai dan multidosis pada lebih dari satu pasien adalah situasi yang umum terjadi dalam penyiapan obat, dan berisiko menularkan penyakit. Penyalahgunaan botol-botol ini dapat menyebabkan cedera bagi pasien dalam bentuk KTD ataupun wabah (outbreak) akibat adanya patogen yang ditularkan melalui darah dan infeksi terkait pada pasien rawat inap dan rawat jalan — termasuk virus hepatitis B dan C, meningitis, dan abses epidural. Literatur mengidentifikasi standar dan praktik yang aman untuk penggunaan botol dosis tunggal dan multidosis; sebagai contoh, memastikan bahwa semua jarum dan alat suntik hanya digunakan oleh satu pasien tunggal yang sama dan tidak pernah memasukkan kembali jarum suntik bekas ke dalam botol.. Obat-obatan yang tidak memerlukan pengamanan khusus seperti ruang peracikan steril atau laminar flow hood dan obat-obatan yang disimpan serta diserahkan di lokasi di luar unit farmasi (sebagai contoh, di unit perawatan pasien) harus mematuhi langkah-langkah kebersihan yang sama seperti yang ditentukan untuk unit farmasi. Selain itu, area penyerahan obat yang terletak di unit perawatan pasien haruslah rapi dan bebas dari gangguan. Elemen Penilaian MMU.5 ❑ 1. Penyiapan dan penyerahan obat mematuhi hukum, peraturan, dan standar praktik profesional. ❑ 2. Obat disiapkan dan diserahkan di area yang bersih, rapi, aman, dan terpisah secara fungsional dengan peralatan dan perbekalan medis. ❑ 3. Staf yang menyiapkan/meracik produk/obat steril dilatih dan kompeten dalam prinsip-prinsip penyiapan obat serta teknik aseptik dan sumber daya untuk mendukung proses penyiapan obat sudah disediakan. ❑ 4. Pedoman penggunaan botol sekali pakai dan multidosis diidentifikasi dan diterapkan dalam proses pengobatan. ❑ 5. Obat-obatan yang disimpan, disiapkan, dan diserahkan di lokasi di luar unit farmasi (sebagai contoh, unit perawatan pasien) mematuhi langkah-langkah kebersihan yang sama seperti yang ditentukan untuk unit farmasi. Standar MMU.5.1 Resep atau instruksi pengobatan ditelaah kesesuaiannya. Maksud dan Tujuan MMU.5.1 Manajemen obat yang baik mencakup 2 peninjauan untuk setiap resep atau instruksi pengobatan: • Telaah kesesuaian obat untuk pasien dan kebutuhan klinisnya yang dilakukan pada saat obat tersebut diresepkan atau dimintakan/diinstruksikan • Verifikasi pada saat pemberian bahwa obat tersebut sesuai dengan yang dimintakan/diinstruksikan atau diresepkan (Lihat juga MMU.6.1) Telaah kesesuaian dilakukan untuk setiap resep atau permintaan/instruksi pengobatan ketika baru diresepkan atau diminta, yang meliputi elemen a) hingga g) di bawah ini. Telaah kesesuaian yang baru harus dilakukan saat dosis atau faktor kesesuaian lainnya di bawah ini mengalami perubahan; sebagai contoh, ketika obat baru diresepkan dan terdapat masalah duplikasi terapeutik atau masalah terkait interaksi obat. Rumah sakit menetapkan apa saja informasi spesifik pasien yang dibutuhkan untuk telaah kesesuaian instruksi pengobatan atau resep. Sebagai contoh, jika obat yang baru diresepkan dapat memengaruhi ginjal atau hati, telaah kesesuaian mencakup informasi klinis spesifik tentang fungsi ginjal dan hati pasien, serta kapan terjadi perubahan fungsi organ ini. Proses untuk meninjau permintaan/instruksi pengobatan atau resep sebelum penyerahan meliputi evaluasi oleh petugas profesional yang terlatih dalam segi a) kesesuaian obat, dosis, frekuensi dan jalur pemberian; b) duplikasi terapeutik;
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 197 c) alergi atau sensitivitas yang nyata atau berpotensi terjadi; d) interaksi yang nyata atau berpotensi terjadi antara obat dengan obat-obatan lain atau makanan; e) variasi dari kriteria penggunaan obat yang dikeluarkan oleh rumah sakit; f) berat badan pasien dan informasi fisiologis lainnya; serta g) kontraindikasi lainnya. Rumah sakit menentukan cara untuk melakukan telaah kesesuaian. Sebagai contoh, telaah kesesuaian dapat dilakukan oleh individu yang kompeten sesuai latar belakang pendidikannya, seperti apoteker berlisensi, atau sebagaimana ditentukan melalui kewenangan klinis jika akan dilakukan oleh praktisi independen berlisensi yang sudah dilatih dan kompeten dalam melakukan proses telaah kesesuaian; atau untuk perawat atau tenaga kesehatan profesional lain yang sudah dilatih dan terbukti kompeten dalam melakukan telaah ini. (Lihat juga SQE.5; SQE.10; SQE.14; dan SQE.16) Untuk meningkatkan proses ini, rumah sakit juga dapat memilih untuk menggunakan program komputer pendukung keputusan klinis yang terkait dengan manajemen pengobatan. (Lihat juga MOI.6) Sebagai alternatif, rumah sakit dapat memilih untuk menggunakan program komputer pendukung keputusan klinis untuk melakukan proses telaah kesesuaian. (Lihat juga QPS.3) Sebagai contoh, banyak sistem permintaan obat elektronik dirancang untuk meninjau urutan elemen telaah kesesuaian yang lengkap, termasuk informasi klinis khusus pasien, dan memberikan peringatan kepada individu yang menginstruksikan obat mengenai kontraindikasi untuk meresepkan obat tersebut. Ketika individu yang meminta mengabaikan peringatan ini, rumah sakit mengembangkan proses untuk tinjauan lengkap atas permintaan tersebut yang dilakukan oleh praktisi kesehatan yang terlatih dan kompeten. Telaah kesesuaian harus dilakukan meskipun dalam keadaan tidak ideal. Sebagai contoh, jika farmasi pusat atau unit farmasi tidak buka, atau obat akan diserahkan dari stok yang ada di unit perawatan atau klinik rawat jalan, telaah kesesuaian tetap harus dilakukan bersamaan dengan verifikasi sebelum pemberian obat bila obat diberikan dan pemantauan pemberian obat akan dilakukan oleh individu yang sama dengan yang memberikan instruksi. Saat individu yang menginstruksikan obat tidak berada di tempat untuk memberikan obat dan memantau pasien, elemen penting telaah kesesuaian untuk pemberian dosis pertama obat dapat dilakukan oleh individu lain yang terlatih dan kompeten. Telaah kesesuaian secara menyeluruh harus dilakukan oleh apoteker yang memiliki izin, atau profesional lain yang memiliki izin, seperti seorang perawat atau dokter, berkompeten dalam memiliki pengetahuan yang dibutuhkan untuk telaah kesesuaian secara lengkap, dalam waktu 24 jam setelah pemberian. Elemen penting untuk telaah kesesuaian mencakup setidaknya hal-hal berikut ini: h) Alergi i) Interaksi obat/obat yang membahayakan j) Penentuan dosis berdasarkan berat badan k) Potensi toksisitas organ (sebagai contoh, pemberian diuretik hemat kalium pada pasien dengan gagal ginjal) Elemen penting telaah kesesuaian dapat dilakukan oleh individu terlatih lain yang memiliki izin saat pihak farmasi tidak ada. Individu-individu ini perlu memiliki bukti dokumentasi pelatihan dalam melakukan elemenelemen penting dari telaah kesesuaian dan akan didukung oleh bahan-bahan rujukan, program komputer, dan sumber daya lain. Oleh karena itu, saat seorang dokter menelepon dan memberikan instruksi obat baru untuk pasien di malam hari, individu yang terlatih akan menuliskan dan membacakan kembali instruksi tersebut, kemudian melakukan telaah kesesuaian untuk elemen penting yang diidentifikasi. (Lihat juga IPSG.2) Telaah kedua akan perlu dilakukan oleh apoteker yang memiliki izin atau profesional lain yang memiliki izin, seperti seorang perawat atau dokter yang berkompeten memiliki pengetahuan yang dibutuhkan untuk telaah kesesuaian secara lengkap, dalam 24 jam. Telaah kesesuaian formal mungkin tidak praktis dilakukan pada beberapa keadaan tertentu, seperti saat gawat darurat atau saat dokter yang memberikan instruksi hadir untuk menginstruksikan, memberikan, dan memantau pasien (sebagai contoh, ruang operasi atau unit gawat darurat), atau saat pemberian kontras oral, rektal, atau injeksi yang merupakan bagian dari prosedur di unit radiologi intervensi atau pencitraan diagnostik. Untuk memfasilitasi telaah kesesuaian ini, individu-individu yang melakukan telaah memerlukan akses ke daftar obat pasien serta informasi klinis yang berkaitan dengan proses telaah tersebut; sebagai contoh, informasi yang berkaitan dengan fungsi ginjal atau hati pasien ketika obat yang diberikan dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh organ-organ tersebut. Informasi ini penting untuk telaah kesesuaian. (Lihat juga ACC.3)
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 198 Bila untuk pemeriksaan silang (cross-check) obat-obatan dalam hal interaksi obat dan alergi obat digunakan program peranti lunak pada komputer, program tersebut diperbarui menurut rekomendasi dari produsen program tersebut. Selain itu, bila menggunakan bahan rujukan tertulis, harus menggunakan bahan dengan versi yang terkini. Elemen Penilaian MMU.5.1 ❑ 1. Rumah sakit menetapkan informasi spesifik pasien yang dibutuhkan untuk proses telaah yang efektif, dan sumber serta ketersediaan dari informasi ini selalu siap untuk digunakan setiap waktu bila unit layanan farmasi tersebut buka ataupun tutup. ❑ 2. Selain pengecualian yang disebutkan dalam maksud dan tujuan, setiap resep atau instruksi pengobatan ditelaah kesesuaiannya dengan cara tertentu yang ditentukan rumah sakit sehingga dapat memastikan dilakukannya telaah kesesuaian secara lengkap sebelum penyerahan dan pemberian serta mencakup elemen a) sampai g) dari maksud dan tujuan. ❑ 3. Individu yang diizinkan untuk menelaah instruksi pengobatan atau resep dinilai kompeten untuk melakukannya, dapat melakukan telaah sesuai dengan kewenangan klinis atau uraian tugasnya, dan dilengkapi dengan sumber daya yang dapat menunjang proses telaah. ❑ 4. Saat tenaga kesehatan profesional berizin yang ditunjuk tidak ada di tempat untuk melakukan telaah kesesuaian secara lengkap, individu yang terlatih melakukan telaah elemen-elemen penting h) sampai k) dari maksud dan tujuan untuk dosis pertama, dan telaah kesesuaian secara lengkap dilakukan dalam 24 jam oleh profesional berizin yang ditunjuk. ❑ 5. Telaah difasilitasi dengan menyediakan informasi klinis yang sesuai untuk semua pasien yang menerima obat, dan informasi klinis ini tersedia setiap waktu, baik saat unit layanan farmasi buka maupun tutup. ❑ 6. Program komputer pendukung keputusan klinis yang digunakan untuk melakukan telaah kesesuaian lengkap, program komputer lainnya, serta bahan referensi cetak yang digunakan untuk memeriksa ulang elemen-elemen penting dari telaah kesesuaian, selalu terkini dan diperbarui. Standar MMU.5.2 Digunakan suatu sistem untuk menyerahkan obat dengan dosis yang tepat bagi pasien yang tepat pada saat yang tepat. Maksud dan Tujuan MMU.5.2 Penggunaan obat-obatan telah menjadi semakin kompleks, dan kesalahan pengobatan (medication errors) merupakan penyebab terbesar cedera pada pasien yang sebenarnya dapat dicegah. Sistem yang seragam untuk menyerahkan dan mendistribusikan obat-obatan dapat membantu menurunkan risiko kesalahan pengobatan. Rumah sakit menyerahkan obat dalam bentuk yang paling siap diberikan untuk mengurangi peluang terjadinya kesalahan pada saat distribusi dan pemberian. Masalah tentang bentuk obat yang paling siap untuk diberikan menjadi penting saat situasi darurat di mana pemberian obat-obatan dengan segera bersifat menyelamatkan jiwa (sebagai contoh, saat resusitasi). Farmasi pusat dan titik distribusi obat-obatan lain di seluruh bagian rumah sakit menggunakan sistem yang sama. Sistem mendukung penyerahan obat secara akurat dengan waktu yang tepat. Saat obat-obatan disiapkan oleh orang yang berbeda dengan orang yang memberikan obat-obatan tersebut, risiko kesalahan pengobatan menjadi meningkat. Oleh karena itu, saat obat-obatan dikeluarkan dari kemasan aslinya dan diserahkan dalam bentuk/wadah yang berbeda—dan tidak segera diberikan kepada pasien—obatobatan harus dilabeli dengan nama obat, dosis/konsentrasi obat, tanggal penyiapan, tanggal kedaluwarsa, dan dua penanda identitas pasien (identifier). Saat obat-obatan disiapkan untuk digunakan dalam prosedur pembedahan di kamar operasi dan bagian yang tidak digunakan akan segera dibuang setelah prosedur pembedahan, nama pasien dan tanggal kedaluwarsa dapat tidak diperlukan. (Lihat juga IPSG.1)
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 199 Elemen Penilaian MMU.5.2 ❑ 1. Obat diserahkan dalam bentuk yang paling siap diberikan. ❑ 2. Sistem tersebut mendukung penyerahan yang akurat dan tepat waktu serta dokumentasi praktik penyerahan. ❑ 3. Setelah penyiapan, obat diberi label dengan nama obat, dosis/konsentrasi obat, tanggal penyiapan, tanggal kedaluwarsa dan dua penanda identitas (identifier) pasien Pemberian Standar MMU.6 Individu yang kompeten dan diizinkan untuk memberikan obat kepada pasien diidentifikasi dan pemberian obat didokumentasikan dalam rekam medis pasien oleh individu kompeten tersebut. Maksud dan Tujuan MMU.6 Pemberian obat untuk mengobati pasien membutuhkan pengetahuan dan pengalaman khusus. Rumah sakit bertanggung jawab menetapkan orang-orang dengan pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan dan mereka yang diizinkan oleh lisensi, sertifikasi, atau peraturan dan undang-undang untuk memberikan obat. (Lihat juga SQE.3 dan SQE.10) Rumah sakit dapat saja menetapkan pembatasan penyerahan obat oleh individu, seperti untuk NAPZA atau obat-obatan radioaktif dan obat-obatan dalam penelitian. Rumah sakit menetapkan siapa saja orang lain yang diizinkan untuk memberikan obat dalam keadaan darurat. Rekam medis setiap pasien yang menerima obat berisi daftar obat yang diresepkan atau diinstruksikan untuk pasien tersebut, dengan mencantumkan dosis serta waktu pemberian diberikan. (Lihat juga COP.2.1) Hal ini meliputi juga obat-obatan yang diberikan "kalau perlu." Jika informasi ini dicatat pada lembar pengobatan terpisah, lembar tersebut dimasukkan dalam rekam medis pasien pada saat pemulangan atau transfer. Elemen Penilaian MMU.6 ❑ 1. Rumah sakit menetapkan orang-orang yang berdasarkan uraian tugas atau proses pemberian kewenangan, memiliki wewenang untuk memberikan obat. ❑ 2. Jika sesuai, rumah sakit membatasi pemberian obat oleh individu tertentu. ❑ 3. Pemberian obat dicatat untuk setiap dosis. Standar MMU.6.1 Pemberian obat meliputi proses verifikasi bahwa obat tersebut tepat sesuai dengan peresepan atau instruksi pengobatan. Maksud dan Tujuan MMU.6.1 Pemberian obat yang aman mencakup verifikasi • obat yang tertera di resep atau instruksi pengobatan (Lihat juga MMU.5.1); • waktu dan frekuensi pemberian dengan yang tertera di resep atau instruksi pengobatan; • besarnya dosis dengan yang tertera di resep atau instruksi pengobatan; • rute pemberian dengan yang tertera di resep atau instruksi pengobatan; dan • identitas pasien (dinilai di IPSG.1). Rumah sakit menetapkan proses verifikasi untuk digunakan pada pemberian obat. Proses telaah kesesuaian yang dijabarkan dalam MMU.5.1 juga harus dilaksanakan oleh individu yang memenuhi kualifikasi, bila obat
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 200 disiapkan dan diserahkan oleh unit perawatan pasien. Untuk mendukung keterlibatan pasien dalam semua aspek perawatan dan tata laksana medisnya, pasien diberi tahu tentang obat yang diberikan kepada mereka dan diberikan kesempatan untuk bertanya tentang obatobatan tersebut. (Lihat juga PCC.2) Obat diberikan kepada pasien secara tepat waktu dan pemberian obat dicatat dalam rekam medis pasien. (Lihat juga COP.2.1) Elemen Penilaian MMU.6.1 ❑ 1. Obat diverifikasi apakah sesuai dengan resep atau instruksi pengobatan. ❑ 2. Besarnya dosis obat diverifikasi apakah sesuai dengan resep atau instruksi pengobatan. ❑ 3. Jalur pemberian diverifikasi apakah sesuai dengan resep atau instruksi pengobatan. ❑ 4. Pasien diberikan informasi tentang obat-obatan yang akan mereka dapatkan dan diberikan kesempatan untuk bertanya. ❑ 5. Obat diberikan sesuai resep dan secara tepat waktu, dan pemberian obat dicatat dalam rekam medis pasien. Standar MMU.6.2 Terdapat kebijakan dan prosedur yang mengatur obat-obatan yang dibawa masuk ke dalam rumah sakit oleh pasien atau keluarganya dan obat-obatan yang diresepkan untuk dikonsumsi sendiri oleh pasien. Standar MMU.6.2.1 Terdapat kebijakan dan prosedur yang mengatur obat yang dibawa ke rumah sakit sebagai sampel. Maksud dan Tujuan MMU.6.2 dan MMU.6.2.1 Untuk mengawasi penggunaan obat dalam rumah sakit, pihak rumah sakit harus terlebih dahulu memahami sumber dan penggunaan obat-obatan yang tidak diserahkan oleh unit farmasi rumah sakit yang bersangkutan, seperti obat-obatan yang dibawa masuk oleh pasien dan keluarganya maupun obat-obatan sampel. Jenis obatobatan ini memerlukan proses khusus untuk pelabelan, penyimpanan, dan mengendalikan penggunaannya. Rumah sakit mengendalikan ketersediaan obat ini dan untuk menggunakan obat-obatan yang dibawa pasien atau obat-obatan sampel, rumah sakit memiliki proses untuk menentukan identitas, keamanan, dan kontraindikasi relatif lainnya. Rumah sakit harus mewaspadai tren regional terkini terkait dengan prevalensi obat palsu dan penarikan obat aktif serta bahan-bahan farmasitik aktif terkait. (Lihat juga MMU.3.2 dan GLD 7.1) Dokumentasi tertulis atas obat-obatan yang dibawa oleh pasien / keluarga dan obat sampel harus membahas a) Tanda terima (untuk menandakan bahwa rumah sakit telah menerima obat dari pasien atau sumber lain); b) identifikasi; c) pelabelan; d) penyimpanan; dan e) kontrol dan distribusi. Selain itu, rumah sakit melakukan pengkajian risiko untuk obat yang dibawa oleh pasien yang membahas di mana pasien mendapatkan obat tersebut, kapan obat itu diperoleh, dan bagaimana obat itu disimpan di rumah pasien. Obat yang dibawa ke rumah sakit oleh pasien atau keluarganya atau diresepkan di dalam rumah sakit untuk diminum sendiri diketahui oleh dokter penanggung jawab pasien dan dicatat dalam rekam medis pasien. Elemen Penilaian MMU.6.2 ❑ 1. Rumah sakit menetapkan dan menerapkan proses yang mencakup butir a) melalui e) dalam bagian maksud dan tujuan untuk semua obat yang dibawa oleh pasien/keluarga. ❑ 2. Rumah sakit melakukan pengkajian risiko untuk obat-obatan yang dibawa oleh pasien/keluarga yang
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 201 membahas di mana dan kapan obat itu diperoleh dan bagaimana obat itu disimpan di rumah pasien. ❑ 3. Rumah sakit menetapkan dan menerapkan proses untuk mengatur obat yang diminum sendiri oleh pasien. ❑ 4. Rumah sakit menetapkan dan menerapkan proses untuk mengatur penggunaan, konsumsi, dan dokumentasi obat-obatan yang dibawa ke rumah sakit oleh pasien/keluarga. Elemen Penilaian MMU.6.2.1 ❑ 1. Rumah sakit menetapkan dan menerapkan proses yang mencakup butir a) sampai e) dalam maksud dan tujuan untuk semua obat sampel. ❑ 2. Rumah sakit melakukan pengkajian risiko untuk obat sampel yang dibawa oleh pasien atau disediakan oleh sumber lain yang membahas di mana dan kapan obat itu diperoleh dan bagaimana obat itu disimpan sebelum pasien datang. ❑ 3. Rumah sakit menetapkan dan menerapkan proses untuk mengatur ketersediaan, pengelolaan, penggunaan, dan dokumentasi obat sampel. Pemantauan Standar MMU.7 Efek obat pada pasien dipantau. Maksud dan Tujuan MMU.7 Pasien, dokter yang merawat pasien, perawat dan petugas medis lainnya bekerja sama untuk memanta u pasien yang menjalani pengobatan. Tujuan pemantauan ini ialah untuk mengevaluasi efek obat terhadap gejala-gejala atau penyakit pasien, serta jumlah sel darah, fungsi ginjal, fungsi hati, dan pemantauan lainnya dengan obat pilihan, selain juga mengevaluasi efek yang tidak diharapkan. (Lihat juga AOP.2) Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, dosis atau jenis obat dapat disesuaikan jika diperlukan. Respons pasien terhadap dosis pertama obat baru perlu dipantau secara ketat. Pemantauan tersebut dimaksudkan untuk mengidentifikasi respons terapi yang diantisipasi, serta respons alergi, interaksi obat yang tidak terduga, atau perubahan sistem keseimbangan pasien yang dapat meningkatkan risiko jatuh dan sebagainya. Pemantauan efek obat mencakup pengamatan dan dokumentasi setiap efek yang tak diharapkan. Rumah sakit memiliki kebijakan untuk mengidentifikasi semua efek tak diharapkan yang harus dicatat dan yang harus dilaporkan. Jika disyaratkan, rumah sakit menetapkan mekanisme pelaporan kejadian tidak diharapkan, dan kurun waktu untuk pelaporan tersebut. (Lihat juga QPS.7.1) Elemen Penilaian MMU.7 ❑ 1. Efek obat pada pasien dipantau dan didokumentasikan jika sesuai. ❑ 2. Efek obat yang tidak diharapkan pada pasien dipantau dan didokumentasikan. ❑ 3. Rumah sakit menggunakan suatu proses baku untuk mencatat efek yang tidak diharapkan terkait penggunaan obat dalam rekam medis pasien, dan melaporkan efek yang tidak diharapkan kepada rumah sakit. ❑ 4. Rumah sakit menggunakan proses standar untuk melaporkan KTD terkait obat sebagai bagian dari program mutu rumah sakit. ❑ 5. Efek yang tidak diharapkan dilaporkan begitu teridentifikasi dalam kurun waktu yang disyaratkan.
© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 202 Standar MMU.7.1 Rumah sakit menetapkan dan menerapkan proses untuk melaporkan dan menindaklanjuti kesalahan pengobatan dan kejadian nyaris/hampir cedera (near-miss/close call). Maksud dan Tujuan MMU.7.1 Rumah sakit memiliki proses untuk mengidentifikasi dan melaporkan kesalahan pengobatan dan kejadian nyaris cedera (near-miss). (Lihat juga QPS.7.1 dan QPS.8) Rumah sakit memiliki proses untuk mengidentifikasi dan melaporkan kesalahan pengobatan dan kejadian nyaris cedera (near-miss). Proses tersebut mencakup definisi kesalahan pengobatan dan kejadian nyaris cedera, penggunaan format yang distandardisasi untuk pelaporan, dan penyuluhan staf mengenai proses dan pentingnya pelaporan. Definisi dan proses disusun melalui suatu proses kerja sama yang mengikutsertakan semua yang terlibat di tingkat-tingkat yang berbeda-beda dalam manajemen obat-obatan. Proses pelaporan merupakan bagian dari program mutu dan keselamatan pasien rumah sakit. Laporan tersebut ditujukan ke satu atau lebih orang yang bertanggung jawab untuk mengambil tindakan. Fokus program tersebut adalah mencegah terjadinya kesalahan pengobatan dengan memahami jenisjenis kesalahan yang terjadi di rumah sakit dan di rumah sakit lain serta mengapa kejadian nyaris cedera bisa terjadi. (Lihat juga IPSG.3) Perbaikan dalam proses pengobatan dan pelatihan staf bertujuan mencegah terjadinya kesalahan di masa mendatang. Unit farmasi rumah sakit turut berpartisipasi dalam pelatihan staf semacam itu. Elemen Penilaian MMU.7.1 ❑ 1. Rumah sakit menetapkan definisi untuk kesalahan pengobatan dan kejadian nyaris cedera. ❑ 2. Rumah sakit menetapkan dan menerapkan proses untuk melaporkan dan menindaklanjuti kesalahan pengobatan dan kejadian nyaris cedera. ❑ 3. Rumah sakit menetapkan individu yang bertanggung jawab untuk mengambil tindakan atas laporan tersebut. ❑ 4. Rumah sakit menggunakan informasi pelaporan kesalahan pengobatan dan kejadian nyaris cedera untuk memperbaiki proses penggunaan obat.