The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Elsa Christy, 2023-12-10 10:49:47

14.ACC

14.ACC

© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 73 Akses ke Perawatan dan Kesinambungan Perawatan (ACC) Gambaran Umum Organisasi pemberi pelayanan kesehatan saat ini berupaya untuk melakukan pendekatan yang lebih komprehensif dan terintegrasi dalam memberikan pelayanan kesehatan. Pendekatan ini ditandai dengan adanya kolaborasi tingkat tinggi dan komunikasi antarpraktisi kesehatan. Rumah sakit perlu mempertimbangkan perawatan yang diberikan sebagai bagian dari sistem yang terintegrasi antara pelayanan, praktisi kesehatan, dan tingkat perawatan, yang membentuk suatu kesatuan rangkaian perawatan. Tujuannya adalah untuk secara tepat mencocokkan kebutuhan perawatan pasien dengan pelayanan yang tersedia, untuk mengoordinasikan pelayanan pasien di rumah sakit secara tepat waktu dan bermutu tinggi, agar kemudian dapat merencanakan pemulangan, transfer, serta tindak lanjut. Hasilnya adalah luaran pasien yang lebih baik dan penggunaan sumber daya yang tersedia dengan lebih efisien. Informasi sangatlah penting dalam membuat suatu keputusan yang tepat mengenai • kebutuhan pasien mana yang dapat dipenuhi oleh organisasi pemberi pelayanan kesehatan; • prioritas untuk pasien yang memiliki kebutuhan yang mendesak atau segera; • alur pelayanan yang efisien untuk pasien; • akses ke perawatan intensif atau pelayanan khusus; • koordinasi dan kesinambungan perawatan; • rujukan, transfer atau pemulangan pasien ke rumah atau ke tempat perawatan lainnya; dan • transportasi pasien dengan aman. Catatan: beberapa standar meminta rumah sakit untuk menetapkan kebijakan, prosedur, program, atau dokumen tertulis lainnya bagi proses-proses spesifik. Standar-standar tersebut ditandai dengan lambang setelah uraian standar tersebut. Standar Berikut ini adalah daftar semua standar untuk fungsi ini. Standar-standar tersebut disajikan di sini untuk memudahkan Anda, tanpa mencantumkan maksud dan tujuan serta elemen-elemen penilaiannya. Untuk informasi lebih lanjut mengenai standar-standar ini, silakan lihat bagian berikutnya dari bab ini, yakni bagian Standar, Maksud dan Tujuan, serta Elemen-elemen Penilaian. Skrining untuk Penerimaan Pasien di Rumah Sakit ACC.1 Pasien yang akan diterima sebagai pasien rawat inap atau yang mencari layanan rawat jalan menjalani proses skrining untuk mengidentifikasi apakah kebutuhan perawatan kesehatan mereka sesuai dengan misi serta sumber daya rumah sakit, dan pengkajian serta tata laksana pasien dengan kebutuhan segera, mendesak, dan darurat diprioritaskan. ACC.1.1 Rumah sakit mempertimbangkan kebutuhan klinis pasien dan memberi informasi kepada pasien ketika ada penundaan yang tidak lazim dalam mendapatkan pelayanan diagnostik dan/atau perawatan. Penerimaan di Rumah Sakit ACC.2 Rumah Sakit memiliki proses untuk mengelola alur pasien di seluruh rumah sakit, termasuk penerimaan pasien rawat inap dan pendaftaran pasien rawat jalan.


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 74 ACC.2.1 Kebutuhan pasien akan layanan preventif, kuratif, paliatif dan rehabilitatif diprioritaskan berdasarkan kondisi pasien pada saat diterima di rumah sakit sebagai pasien rawat inap. ACC.2.2 Ketika masuk sebagai pasien rawat inap, pasien dan keluarga mendapatkan edukasi dan orientasi tentang bangsal rawat inap, informasi tentang perawatan yang diusulkan, perkiraan biaya perawatan yang diusulkan, dan luaran yang diharapkan dari perawatan pasien. ACC.2.3 Rumah sakit menetapkan kriteria untuk masuk dan keluar dari departemen/bangsal yang menyediakan layanan intensif/khusus. Kesinambungan Perawatan ACC.3 Rumah sakit menyusun dan menjalankan proses untuk memberikan pelayanan pasien yang berkesinambungan di seluruh rumah sakit, memastikan adanya koordinasi antarpraktisi kesehatan, dan memberikan akses ke informasi terkait perawatan pasien. ACC.3.1 Selama semua fase perawatan dalam rawat inap, selalu ada individu kompeten yang ditentukan sebagai penanggung jawab atas perawatan pasien tersebut. Pemulangan, Rujukan dan Tindak Lanjut ACC.4 Rumah sakit menyusun dan menerapkan rencana pemulangan dan proses rujukan berdasarkan kesiapan pasien untuk pemulangan. ACC.4.1 Proses perencanaan pemulangan rumah sakit membahas edukasi dan instruksi yang akan diberikan kepada pasien dan keluarga terkait dengan kebutuhan pasien akan perawatan dan layanan yang berkelanjutan. ACC.4.2 Ringkasan pulang lengkap disiapkan untuk semua pasien rawat inap, dan salinan ringkasan pulang dimasukkan dalam rekam medis pasien. ACC.4.2.1 Rekam medis pasien yang menerima perawatan darurat mencantumkan waktu tiba dan waktu transfer dari UGD, kesimpulan pada akhir perawatan di UGD, kondisi pasien saat dipulangkan/ditransfer, dan instruksi perawatan lanjutan. ACC.4.3 Rekam medis pasien rawat jalan yang membutuhkan perawatan yang kompleks atau dengan diagnosis yang kompleks berisi profil perawatan medis dan dapat diakses oleh praktisi kesehatan yang memberikan perawatan pada pasien tersebut. ACC.4.4 Rumah sakit memiliki proses untuk mengelola dan menindaklanjuti pasien yang menyampaikan keinginannya kepada petugas rumah sakit untuk pulang atas permintaan sendiri. ACC.4.4.1 Rumah sakit memiliki proses untuk mengelola pasien yang pulang paksa tanpa memberitahukannya kepada petugas rumah sakit. Transfer Pasien ACC.5 Rumah sakit mengembangkan proses untuk mentransfer pasien ke institusi kesehatan lain berdasarkan status pasien, kebutuhan perawatan pasien selanjutnya, dan kemampuan institusi penerima untuk memenuhi kebutuhan pasien tersebut. ACC.5.1 Rumah sakit penerima diberi rangkuman tertulis tentang kondisi klinis pasien dan tindakan intervensi yang telah dilakukan di rumah sakit perujuk, dan proses tersebut didokumentasikan dalam rekam medis pasien. Transportasi ACC.6 Pelayanan transportasi yang dimiliki rumah sakit mematuhi peraturan dan undang-undang yang berlaku serta memenuhi persyaratan transportasi yang bermutu dan aman.


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 75 Standar, Maksud dan Tujuan, serta Elemen Penilaian Skrining untuk Penerimaan Pasien di Rumah Sakit Standar ACC.1 Pasien yang akan diterima sebagai pasien rawat inap atau yang mencari layanan rawat jalan menjalani proses skrining untuk mengidentifikasi apakah kebutuhan perawatan kesehatan mereka sesuai dengan misi serta sumber daya rumah sakit, dan pengkajian serta tata laksana pasien dengan kebutuhan segera, mendesak, dan darurat diprioritaskan. Maksud dan Tujuan ACC.1 Mencocokkan kebutuhan pasien dengan misi dan sumber daya rumah sakit bergantung pada perolehan informasi tentang kebutuhan dan kondisi pasien melalui skrining, yang biasanya dilakukan pada pertemuan pertama. Proses skrining ini dapat melalui kriteria triase di unit gawat darurat atau di poliklinik rawat jalan khusus pasien dengan kebutuhan mendesak/gawat, evaluasi visual, pemeriksaan fisik, atau hasil-hasil pemeriksaan fisik, psikologis, laboratorium klinis, atau pencitraan diagnostik yang dilakukan sebelumnya. Proses skrining ini bisa dilakukan di organisasi perujuk, selama transportasi darurat, atau ketika pasien tiba di rumah sakit. Yang penting adalah bahwa keputusan untuk mengobati, memindahkan atau merujuk dilakukan hanya setelah hasil evaluasi skrining tersedia. Hanya pasien yang kebutuhan perawatan klinisnya bisa ditangani oleh rumah sakit, dan sesuai dengan misi rumah sakitlah yang dipertimbangkan sebagai pasien rawat inap atau didaftarkan sebagai pasien rawat jalan. (Lihat juga AOP.1) Pasien dengan kebutuhan gawat, darurat, atau mendesak harus diidentifikasi oleh staf yang terlatih dalam proses triase yang diakui, guna menentukan pasien mana yang membutuhkan perawatan segera dan bagaimana memprioritaskan perawatan tersebut. Pengenalan dini tanda dan gejala penyakit menular juga termasuk dalam proses triase. Ketika pasien diidentifikasi sebagai pasien dengan keadaan gawat, darurat, atau mendesak, pasien dikaji dan diberikan perawatan secepatnya. Pasien yang berpotensi menderita penyakit menular potensial dipisahkan dan/atau diisolasi sesuai kebutuhan. (Lihat juga PCI.12) Dokter atau individu lain yang kompeten dapat mengkaji pasien ini sebelum pasien lainnya, melakukan layanan diagnostik secepat mungkin, dan memulai perawatan untuk memenuhi kebutuhan pasien-pasien tersebut. Ada pemeriksaan skrining atau pemeriksaan diagnostik yang mungkin diperlukan untuk setiap pasien yang akan diterima sebagai pasien rawat inap, atau rumah sakit bisa saja menetapkan skrining dan pemeriksaan khusus untuk populasi pasien tertentu. Sebagai contoh, semua pasien dengan diare aktif perlu dilakukan skrining terhadap Clostridium difficile, atau tipe pasien tertentu membutuhkan skrining terhadap Staphylococcus aureus resisten metisilin, seperti semua pasien yang sudah mendapatkan perawatan jangka panjang di fasilitas lain. Pemeriksaan atau evaluasi skrining tertentu diidentifikasi ketika rumah sakit mensyaratkannya sebelum registrasi atau penerimaan pasien. Ketika rumah sakit tidak memiliki kemampuan klinis untuk menyediakan pelayanan yang dibutuhkan, pasien ditransfer, dirujuk, atau dibantu dalam mengidentifikasi sumber pelayanan yang bisa memenuhi kebutuhan pasien tersebut. Ketika rumah sakit tidak dapat memenuhi kebutuhan pasien dengan kondisi darurat dan pasien tersebut perlu ditransfer ke tingkat perawatan yang lebih tinggi, rumah sakit yang mentransfer pasien harus menyediakan dan mendokumentasikan perawatan untuk stabilisasi kondisi pasien sesuai kapasitasnya sebelum mentransfer pasien. (Lihat juga ACC.5 and ACC.6) Elemen Penilaian ACC.1 ❑ 1. Berdasarkan hasil skrining, pasien dilayani sebagai pasien rawat jalan atau rawat inap jika kebutuhan pasien sesuai dengan misi dan sumber daya rumah sakit. ❑ 2. Jika kebutuhan pasien tidak sesuai dengan misi dan sumber daya rumah sakit, rumah sakit akan mentransfer, merujuk, atau membantu pasien dalam mengidentifikasi dan/atau mendapatkan


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 76 sumber perawatan yang tepat. ❑ 3. Staf menggunakan proses triase yang diakui yang mencakup pengenalan dini akan penyakit menular, guna memprioritaskan dan merawat pasien dengan kebutuhan mendesak. ❑ 4. Pasien darurat dinilai dan distabilkan sesuai kapasitas rumah sakit sebelum ditransfer, dan perawatan tersebut didokumentasikan dalam catatan yang disimpan oleh rumah sakit yang melakukan transfer. ❑ 5. Ada proses untuk memberikan hasil pemeriksaan diagnostik kepada individu yang bertanggung jawab untuk menentukan apakah pasien akan diadmisi, ditransfer, atau dirujuk. ❑ 6. Pemeriksaan atau evaluasi skrining khusus yang ditentukan rumah sakit harus diidentifikasi sebelum pasien menjalani pendaftaran atau admisi. Standar ACC.1.1 Rumah sakit mempertimbangkan kebutuhan klinis pasien dan memberi informasi kepada pasien ketika ada penundaan yang tidak lazim dalam mendapatkan pelayanan diagnostik dan/atau perawatan. Maksud dan Tujuan ACC.1.1 Pasien diberitahu jika ada waktu tunggu yang lama untuk layanan diagnostik dan/atau perawatan tertentu atau ketika pasien mungkin perlu dimasukkan dalam daftar antrean untuk mendapatkan perawatan yang direncanakan; sebagai contoh, menunggu transplantasi organ, keterlambatan dalam memperoleh hasil uji diagnostik karena janji temu terbatas, atau menunggu prosedur bedah elektif karena terbatasnya ketersediaan ruang operasi. Pasien diberitahu tentang alasan penundaan dan alternatif yang tersedia. Hal ini berlaku untuk seluruh perawatan pasien rawat inap dan rawat jalan dan/atau layanan diagnostik; hal ini tidak berlaku untuk penundaan kecil dalam perawatan jalan atau rawat inap seperti ketika dokter datang terlambat atau bila unit gawat darurat terlalu ramai dan ruang tunggunya penuh. (Lihat juga ACC.2) Untuk layanan tertentu, seperti onkologi atau transplantasi, penundaan mungkin sesuai dengan norma nasional untuk pelayanan tersebut, dan karenanya berbeda dengan penundaan di bidang pelayanan diagnostik dan/atau tata laksana lainnya. Elemen Penilaian ACC.1.1 ❑ 1. Pasien rawat inap maupun rawat jalan diinformasikan bila akan ada penundaan dalam pelayanan dan/atau pengobatan. ❑ 2. Pasien diberikan informasi mengenai alasan penundaan dan mengenai tindakan alternatif yang tersedia sesuai dengan kebutuhan klinis pasien. ❑ 3. Informasi mengenai penundaan dan alasan penundaan tersebut didokumentasikan dalam rekam medis pasien. Penerimaan di Rumah Sakit Standar ACC.2 Rumah Sakit memiliki proses untuk mengelola alur pasien di seluruh rumah sakit, termasuk penerimaan pasien rawat inap dan pendaftaran pasien rawat jalan. Maksud dan Tujuan ACC.2 Alur pasien diartikan sebagai perpindahan pasien di seluruh rumah sakit dari titik masuk hingga ke titik pemulangan; atau dalam kasus pasien rawat jalan, dari titik pendaftaran ke titik disposisi. Mengelola alur pasien di seluruh rumah sakit akan meningkatkan koordinasi perawatan, keselamatan pasien, dan luaran kesehatan serta sangat penting untuk mencegah terkumpulnya pasien di suatu tempat (crowding) pasien di unit gawat


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 77 darurat (UGD), pasien menunggu (boarding) untuk masuk di UGD atau lokasi sementara lainnya di rumah sakit. Manajemen proses yang efektif untuk semua sistem yang mendukung alur pasien (seperti pendaftaran pasien rawat jalan, admisi elektif dan gawat darurat, pengkajian dan perawatan, transfer pasien, pergantian shift, dan pemulangan) dapat meminimalkan keterlambatan dalam pemberian perawatan. Komponen alur pasien membahas hal-hal berikut: a) Ketersediaan tempat tidur rawat inap b) Perencanaan fasilitas untuk alokasi ruang, utilitas, peralatan, peralatan medis, dan persediaan untuk mendukung perawatan untuk pasien yang dirawat di lokasi sementara di rumah sakit c) Rencana kepegawaian untuk mendukung perawatan pasien yang dirawat di lokasi rawat inap sementara di rumah sakit atau di UGD atau ruangan transit sementara d) Alur pasien melalui semua area di mana pasien menerima perawatan, tata laksana, dan layanan (seperti unit rawat inap, laboratorium, ruang operasi, telemetri, radiologi, dan unit perawatan pascaanestesi) e) Efisiensi layanan non-klinis yang mendukung perawatan dan tata laksana pasien (seperti rumah tangga dan transportasi) f) Memberikan tingkat perawatan yang sama kepada pasien yang dirawat di tempat rawat inap ruang transit seperti perawatan yang diberikan kepada pasien yang dirawat di unit rawat inap (Lihat juga COP.1) g) Akses ke layanan dukungan untuk pasien yang sedang di ruang transit (seperti pekerjaan sosial, dukungan keagamaan atau spiritual, dan sejenisnya) Pemantauan dan perbaikan proses ini adalah strategi yang berguna untuk mengurangi masalah terkait alur pasien. Staf dari berbagai departemen dan disiplin ilmu di seluruh rumah sakit - unit rawat inap, UGD, staf medis, keperawatan, administrasi, layanan kesehatan lingkungan, manajemen risiko - dapat memberikan kontribusi yang signifikan untuk memahami dan menyelesaikan masalah dalam alur pasien. Indikator dan sasaran dapat membantu mengidentifikasi dampak lintas unit, mengungkapkan siklus dan tren dari waktu ke waktu, serta mendukung akuntabilitas di semua tingkat organisasi. (Lihat juga GLD.3.1) Transit di UGD harus digunakan hanya sebagai solusi sementara untuk crowding di rumah sakit. Perencanaan rumah sakit harus mengidentifikasi kerangka waktu hingga berapa lama pasien dapat transit di UGD dan tempat perawatan sementara lainnya dari rumah sakit dan kapan ia harus ditransfer ke unit rawat inap yang sesuai. Harapannya adalah untuk memandu rumah sakit dalam menyediakan area yang aman, jumlah staf yang memadai dan sesuai untuk perawatan yang dibutuhkan, serta pengkajian, pengkajian ulang, dan perawatan (sesuai kemampuan rumah sakit) bagi pasien yang dirawat sementara di ruang transit sambil menunggu tersedianya tempat tidur rawat inap. (Lihat juga ACC.1.1) Elemen Penilaian ACC.2 ❑ 1. Rumah sakit mengembangkan dan menerapkan proses yang mendukung alur pasien di seluruh rumah sakit yang membahas setidaknya a) hingga g) dalam bagian maksud dan tujuan. ❑ 2. Terdapat proses untuk penerimaan pasien gawat darurat ke unit rawat inap. ❑ 3. Terdapat proses untuk menunda transfer pasien guna melakukan observasi ketika dibutuhkan. ❑ 4. Rumah sakit merencanakan dan menyediakan perawatan bagi pasien yang harus dirawat di ruang transit di UGD dan ruang perawatan sementara lainnya di rumah sakit. ❑ 5. Rumah sakit mengidentifikasi dan menerapkan batasan waktu transit bagi pasien yang sedang menunggu ruangan tersedia di rumah sakit. ❑ 6. Individu yang mengelola proses alur pasien meninjau efektivitas alur tersebut untuk mengidentifikasi dan menerapkan tindakan perbaikan terhadap proses tersebut.


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 78 Standar ACC.2.1 Kebutuhan pasien akan layanan preventif, kuratif, paliatif dan rehabilitatif diprioritaskan berdasarkan kondisi pasien pada saat diterima di rumah sakit sebagai pasien rawat inap. Maksud dan Tujuan ACC.2.1 Ketika pasien dipertimbangkan untuk masuk sebagai pasien rawat inap di rumah sakit, penilaian skrining dapat membantu praktisi kesehatan untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan layanan preventif, kuratif, rehabilitatif, dan paliatif yang dibutuhkan pasien; kemudian memilih layanan atau unit yang paling sesuai untuk memenuhi kebutuhan pasien yang paling mendesak atau yang paling diprioritaskan. Elemen Penilaian ACC.2.1 ❑ 1. Penilaian skrining membantu praktisi Kesehatan mengidentifikasi kebutuhan pasien. ❑ 2. Layanan atau unit yang dipilih untuk memenuhi kebutuhan tersebut berdasarkan temuan penilaian skrining. ❑ 3. Kebutuhan pasien terkait layanan preventif, kuratif, rehabilitatif dan paliatif diprioritaskan. Standar ACC.2.2 Ketika masuk sebagai pasien rawat inap, pasien dan keluarga mendapatkan edukasi dan orientasi tentang bangsal rawat inap, informasi tentang perawatan yang diusulkan, perkiraan biaya perawatan yang diusulkan, dan luaran yang diharapkan dari perawatan pasien. Maksud dan Tujuan ACC.2.2 Selama proses penerimaan, pasien dan keluarga memperoleh informasi yang cukup untuk membuat keputusan yang tepat. Informasi yang diberikan adalah mengenai usulan perawatan, luaran yang diharapkan, dan semua perkiraan biaya yang harus ditanggung oleh pasien atau keluarganya untuk perawatan tersebut, jika biaya tersebut tidak ditanggung oleh dana dari sumber-sumber pemerintah atau swasta. Ketika terjadi kendala keuangan terkait dengan biaya perawatan, rumah sakit berupaya mengatasi kendala tersebut. Informasi ini dapat disajikan dalam bentuk tertulis atau secara lisan, dan dicatat dalam rekam medis pasien. Keselamatan pasien adalah salah satu aspek perawatan pasien yang penting. Orientasi lingkungan di bangsal rawat inap dan peralatan yang terkait dalam pemberian perawatan dan pelayanan yang diberikan merupakan salah satu komponen penting dari keselamatan pasien. (Lihat juga PCC.2 and COP.3.2) Elemen Penilaian ACC.2.2 ❑ 1. Saat diterima sebagai pasien rawat inap, pasien dan keluarga mendapat edukasi dan orientasi tentang bangsal rawat inap. ❑ 2. Pasien dan keluarga mendapat informasi tentang usulan perawatan. ❑ 3. Pasien dan keluarga mendapat informasi tentang luaran yang diharapkan dari perawatan. ❑ 4. Pasien dan keluarga mendapat informasi tentang perkiraan biaya perawatan yang diusulkan, yang akan ditanggung oleh pasien atau keluarga. Standar ACC.2.3 Rumah sakit menetapkan kriteria untuk masuk dan keluar dari departemen/bangsal yang menyediakan layanan intensif/khusus.


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 79 Maksud dan Tujuan ACC.2.3 Departemen/bangsal yang menyediakan layanan intensif atau khusus (sebagai contoh, unit layanan intensif pascabedah, perawatan pasien dengan luka bakar, atau perawatan pasien transplantasi organ/jaringan) memakan biaya besar dan biasanya memiliki ruang dan petugas yang terbatas, sehingga rumah sakit dapat menetapkan batasan masuk untuk departemen/ruang rawat inap khusus tersebut (sebagai contoh, masuk ke departemen/ruang rawat intensif bisa dibatasi hanya untuk pasien dengan kondisi medis yang dapat pulih, dan tidak diizinkan untuk pasien dengan kondisi yang telah diidentifikasi sebagai kondisi terminal). Pada kasuskasus tersebut, rumah sakit harus menetapkan kriteria untuk menentukan pasien-pasien yang membutuhkan tingkat perawatan yang diberikan dalam departemen/ruang perawatan khusus ini. (Lihat juga GLD.10) Untuk memastikan adanya konsistensi, kriteria harus mencantumkan prioritas dan parameter diagnostik dan/atau objektif termasuk kriteria berdasarkan kondisi fisiologis, jika memungkinkan. Untuk rumah sakit dengan pelayanan psikiatri, masuknya pasien ke departemen/ruang perawatan psikiatri yang terkunci bisa menggunakan kriteria tingkat keparahan penyakit, yang bisa termasuk atau tidak termasuk kriteria fisiologis. Individu dari UGD, unit perawatan intensif, atau unit layanan khusus harus ikut serta dalam menyusun kriteria tersebut. Kriteria itu digunakan untuk menentukan apakah pasien dapat diterima langsung di unit tersebut; sebagai contoh, dapat langsung diterima dari UGD. Kriteria tersebut juga digunakan untuk menerima pasien dari unit lain di rumah sakit atau dari luar rumah sakit (bila pasien ditransfer dari rumah sakit lain). Pasien yang diterima di unit khusus membutuhkan pengkajian ulang dan evaluasi ulang untuk mengidentifikasi apakah kondisi pasien sudah berubah, sehingga layanan khusus sudah tidak dibutuhkan lagi. Sebagai contoh, ketika status fisiologis pasien sudah stabil dan tidak lagi membutuhkan observasi dan pengobatan intensif, atau ketika status pasien benar-benar memburuk sampai pada titik di mana perawatan dan pelayanan khusus tidak akan diberikan lagi, maka pasien dapat ditransfer dari departemen/bangsal khusus ke unit yang menyediakan layanan dengan tingkat kurang intensif (seperti bangsal medis/bedah, hospice, atau departemen/bangsal perawatan paliatif). Elemen Penilaian ACC.2.3 ❑ 1. Rumah sakit telah menyusun sebuah kriteria masuk dan/atau kriteria transfer untuk memasukkan pasien ke departemen/bangsal layanan intensif dan khusus, guna memenuhi kebutuhan khusus pasien. ❑ 2. Kriteria tersebut menggunakan pertimbangan prioritas, parameter diagnosis dan/atau temuan objektif, termasuk kriteria berbasis kondisi fisiologis pasien, bila memungkinkan. ❑ 3. Rumah sakit telah menetapkan kriteria pemulangan dan/atau transfer dari departemen/bangsal layanan intensif/khusus ke tingkat perawatan yang berbeda. ❑ 4. Rekam medis pasien yang dimasukkan ke departemen/bangsal layanan intensif/khusus menunjukkan bukti bahwa pasien memenuhi kriteria untuk layanan tersebut. ❑ 5. Rekam medis pasien yang ditransfer atau dipulangkan dari departemen/bangsal layanan intensif/khusus mencantumkan bukti bahwa pasien tersebut tidak lagi memenuhi kriteria untuk layanan khusus tersebut. Kesinambungan Perawatan Standar ACC.3 Rumah sakit menyusun dan menjalankan proses untuk memberikan pelayanan pasien yang berkesinambungan di seluruh rumah sakit, memastikan adanya koordinasi antarpraktisi kesehatan, dan memberikan akses ke informasi terkait perawatan pasien. Maksud dan Tujuan ACC.3 Pasien dapat ditransfer dalam rumah sakit dari satu unit layanan atau unit rawat inap ke unit layanan atau unit


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 80 rawat inap yang berbeda selama perawatan dan tata laksana mereka. Sepanjang pasien berada di rumah sakit dari saat diterima sampai dipulangkan atau ditransfer, beberapa unit pelayanan atau departemen serta beberapa praktisi kesehatan dapat ikut terlibat dalam perawatan pasien tersebut. Selama seluruh fase perawatan, kebutuhan pasien disesuaikan dengan sumber daya yang dibutuhkan dan tersedia di rumah sakit, serta juga di luar rumah sakit, apabila diperlukan. Kesinambungan dapat ditingkatkan apabila seluruh praktisi kesehatan memiliki informasi riwayat kesehatan pasien yang lalu dan sekarang guna membantu dalam mengambil keputusan; dan, apabila terdapat beberapa pengambil keputusan dalam perawatan pasien, seluruh pengambil keputusan tersebut setuju dengan perawatan dan layanan yang akan diberikan. Agar perawatan pasien dapat berjalan mulus, rumah sakit perlu merancang dan menerapkan proses untuk menjamin kesinambungan dan koordinasi perawatan di antara dokter, perawat, dan praktisi kesehatan lainnya di a) layanan darurat dan rawat inap; b) layanan diagnostik dan layanan intervensi; c) ) layanan perawatan bedah dan non-bedah; d) program perawatan rawat jalan; dan e) rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya. Rekam medis pasien merupakan sumber utama informasi tentang proses perawatan serta kemajuan pasien sehingga merupakan alat komunikasi yang penting. Agar informasi ini dapat bermanfaat dan mendukung kesinambungan pelayanan kesehatan pasien, rekam medis harus tersedia saat rawat inap, rawat jalan, dan saat lain bila dibutuhkan; serta perlu diperbaharui dengan informasi terkini. Catatan rekam medis dari dokter, perawat dan catatan perawatan pasien lainnya, tersedia untuk semua praktisi kesehatan yang merawat pasien, yang memerlukan rekam medis tersebut untuk merawat pasien. (Lihat juga MOI.5) Ketika tim perawatan berubah karena pasien telah ditransfer, penyampaian informasi penting yang terkait dengan pasien perlu ditransfer bersama dengan pasien tersebut untuk menjaga kesinambungan perawatan pasien sehingga obat-obatan dan perawatan lain bagi pasien tersebut dapat berlanjut tanpa gangguan, serta status pasien dapat dipantau. Untuk memastikan bahwa setiap tim perawatan menerima informasi yang diperlukan untuk memberikan perawatan, rekam medis pasien ditransfer bersama dengan pasien atau informasi dari rekam medis pasien diringkas saat transfer dan diberikan kepada tim perawatan yang menerima pasien. Ringkasan ini meliputi f) alasan admisi; g) temuan signifikan; h) diagnosis; i) prosedur yang telah dilakukan; j) obat-obatan; k) perawatan lain yang diterima pasien; dan l) kondisi pasien saat transfer. Kepala departemen dan unit pelayanan bekerja sama untuk merancang dan menerapkan proses-proses pelayanan yang terkoordinasi dan berkesinambungan. Proses-proses tersebut dapat didukung oleh penggunaan perangkat-perangkat seperti pedoman, alur klinis (clinical pathway), rencana perawatan, formulir rujukan, daftar tilik, dan sejenisnya. (Lihat juga COP.3) Rumah sakit menentukan individu-individu yang bertanggung jawab melakukan koordinasi antar layanan. Individu-individu ini dapat mengoordinasi seluruh perawatan pasien (sebagai contoh, antardepartemen) atau bertanggung jawab melakukan koordinasi perawatan pasien tertentu (sebagai contoh, case manager). Koordinasi perawatan ini dapat tercapai dengan baik bila menggunakan kriteria atau kebijakan baku yang menentukan kelayakan untuk transfer di dalam rumah sakit. (Lihat juga IPSG.2.2; COP.2; COP.9.3; and ASC.7.2) Elemen Penilaian ACC.3 ❑ 1. Kepala departemen dan unit pelayanan merancang dan menerapkan proses-proses yang mendukung kesinambungan dan koordinasi perawatan, termasuk setidaknya butir a) sampai e) dalam bagian Maksud dan Tujuan. ❑ 2. Rekam medis pasien tersedia bagi petugas kesehatan yang berhak memiliki akses dan membutuhkannya untuk merawat pasien. ❑ 3. Rekam medis pasien diperbarui untuk memastikan informasi terkini dapat dikomunikasikan.


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 81 ❑ 4. Rekam medis pasien atau ringkasan informasi perawatan pasien ditransfer bersama pasien ke layanan atau unit lain di rumah sakit. ❑ 5. Jika ringkasan informasi ditransfer dengan pasien, ringkasan berisi setidaknya butir f) sampai l) dalam bagian maksud dan tujuan. ❑ 6. Kesinambungan dan koordinasi proses perawatan didukung oleh penggunaan instrumen seperti lembar rencana perawatan (care plan), pedoman, atau instrumen lain yang serupa. Standar ACC.3.1 Selama semua fase perawatan dalam rawat inap, selalu ada individu kompeten yang ditentukan sebagai penanggung jawab atas perawatan pasien tersebut. Maksud dan Tujuan ACC.3.1 Untuk menjaga kesinambungan perawatan selama pasien dirawat di rumah sakit, harus ditentukan dengan jelas siapa yang bertanggung jawab secara menyeluruh untuk koordinasi dan kesinambungan perawatan pasien atau untuk fase tertentu perawatan pasien. Individu ini mungkin seorang dokter atau individu kompeten lainnya. (Lihat juga COP.2) Penanggung jawab ini diidentifikasi di dalam rekam medis pasien. Seorang individu tunggal yang mengawasi perawatan pasien selama berada di rumah sakit akan meningkatkan kesinambungan, koordinasi, kepuasan pasien, mutu, dan hasil luaran pasien; dan karenanya lebih diperlukan bagi pasien kompleks tertentu atau pasien lain yang ditentukan oleh rumah sakit. Individu ini perlu berkolaborasi dan berkomunikasi dengan praktisi kesehatan lain. Sebagai tambahan, kebijakan rumah sakit mengidentifikasi proses pengalihan tanggung jawab dari seorang penanggung jawab ke penanggung jawab yang lain di hari libur, hari raya, dan periode lainnya. Dalam kebijakan ini diidentifikasi siapa saja para konsultan, dokter jaga, pengganti sementara (locum tenentes) atau orang lain yang akan bertanggung jawab dan bagaimana mereka akan melaksanakan tanggung jawab itu serta mendokumentasikan peran atau cakupan mereka. Ketika seorang pasien berpindah dari satu tempat perawatan ke tempat lain (sebagai contoh, dari unit bedah ke unit rehabilitasi), individu yang bertanggung jawab untuk perawatannya dapat berubah atau dapat juga tetap individu yang sama melanjutkan pengawasan pelayanan pasien tersebut. Elemen Penilaian ACC.3.1 ❑ 1. Individu yang kompeten dan bertanggung jawab untuk melakukan koordinasi terhadap perawatan pasien diidentifikasi dalam rekam medis pasien dan tersedia dalam seluruh fase layanan rawat inap pasien. ❑ 2. Terdapat proses untuk mentransfer tanggung jawab untuk koordinasi perawatan dari individu ke individu. ❑ 3. Proses ini mengidentifikasi bagaimana individu-individu ini memikul tanggung jawab yang ditransfer dan mendokumentasikan partisipasi mereka. Pemulangan, Rujukan dan Tindak Lanjut Standar ACC.4 Rumah sakit menyusun dan menerapkan rencana pemulangan dan proses rujukan berdasarkan kesiapan pasien untuk pemulangan. Standar ACC.4.1 Proses perencanaan pemulangan rumah sakit membahas edukasi dan instruksi yang akan diberikan kepada


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 82 pasien dan keluarga terkait dengan kebutuhan pasien akan perawatan dan layanan yang berkelanjutan. Maksud dan Tujuan ACC.4 dan ACC.4.1 Rencana pemulangan adalah proses yang digunakan untuk membantu menentukan jenis perawatan dan layanan berkelanjutan apa yang mungkin diperlukan pasien setelah meninggalkan rumah sakit untuk memastikan keberhasilan dan keamanan transisi dari satu tingkat perawatan ke tingkat perawatan lain. Rencana pemulangan yang efektif dapat mengurangi risiko pasien harus dirawat kembali di rumah sakit, meningkatkan pemulihan, memastikan praktik pengobatan yang aman, dan membantu mempersiapkan pasien dan/atau keluarga dalam menyediakan perawatan pasca-rawat inap yang aman. Literatur mengidentifikasi bahwa perbaikan dalam penyusunan rencana pemulangan dari rumah sakit secara signifikan meningkatkan luaran bagi pasien ketika mereka harus pindah ke tingkat perawatan berikutnya. Merujuk atau memulangkan pasien ke praktisi kesehatan di luar rumah sakit, lokasi perawatan lain, ataupun ke rumah atau keluarganya harus didasarkan pada kondisi kesehatan pasien dan kebutuhan layanan atau perawatan lanjutannya. Dokter atau penanggung jawab perawatan pasien harus menentukan apakah pasien sudah siap dipulangkan atau dirujuk, sesuai kebijakan dan kriteria atau indikasi rujukan dan pemulangan yang ditetapkan oleh rumah sakit. Proses penyusunan rencana pemulangan termasuk mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk perawatan atau layanan yang berkelanjutan. Kebutuhan yang berkelanjutan dapat berarti pasien membutuhkan rujukan ke spesialis, terapi rehabilitasi, atau dapat juga berarti pasien membutuhkan layanan kesehatan preventif yang dikoordinasikan di rumah oleh keluarga. Rumah sakit mengidentifikasi kebutuhan apa pun yang mungkin dimiliki pasien terkait perawatan, tata laksana, dan layanan psikososial atau fisik setelah dipulangkan atau dipindahkan. Diperlukan proses yang terorganisir untuk memastikan bahwa setiap kebutuhan yang berkelanjutan dipenuhi oleh praktisi kesehatan yang tepat atau rumah sakit/fasilitas kesehatan lain. Pasien mungkin memerlukan layanan penunjang dan layanan medis saat dipulangkan. Sebagai contoh, pasien mungkin memerlukan dukungan sosial, gizi, keuangan, psikologis, atau lainnya saat dipulangkan. Ketersediaan dan penggunaan aktual dari layanan penunjang ini dapat menentukan kebutuhan untuk melanjutkan layanan medis. Proses penyusunan rencana pemulangan mencakup identifikasi jenis layanan dukungan yang dibutuhkan dan ketersediaan layanan tersebut. Untuk pasien yang tidak secara langsung dirujuk atau ditransfer kepada praktisi kesehatan lain, membuat instruksi yang jelas tentang di mana dan bagaimana pasien dapat menerima perawatan berkelanjutan sangat penting untuk memastikan luaran perawatan yang optimal dan untuk memastikan semua kebutuhan perawatan terpenuhi. Instruksi ini meliputi nama dan lokasi untuk perawatan berkelanjutan, kapan pasien harus kembali ke rumah sakit untuk tindak lanjut (follow up), dan kapan pasien harus mencari perawatan darurat. Proses tersebut termasuk merujuk pasien ke sumber perawatan lain di luar daerah bila diperlukan. Ketika terdapat indikasi, rumah sakit harus mulai merencanakan kebutuhan berkelanjutan sedini mungkin dalam proses perawatan. Pasien, keluarga pasien, praktisi kesehatan, dan staf lain yang terlibat dalam perawatan, tata laksana, dan pelayanan bagi pasien tersebut harus berpartisipasi dalam perencanaan pemulangan atau rencana transfer pasien. Edukasi dan instruksi bagi pasien dan keluarga merupakan komponen penting dari rencana pemulangan dan mendukung kembalinya pasien ke tingkat fungsional sebelum ia sakit dan mendukung pemeliharaan kesehatan yang optimal. Proses pemulangan harus mencakup edukasi kepada pasien dan keluarga tentang bagaimana mengelola kebutuhan perawatan berkelanjutan pasien di rumah. Materi dan proses standar digunakan untuk memberikan edukasi kepada pasien tentang topik yang terkait dengan tata laksana dan perawatan berkelanjutan mereka setelah keluar dari rumah sakit. Edukasi pasien dan instruksi tindak lanjut diberikan kepada pasien dalam bentuk dan bahasa yang dipahami oleh pasien. (Lihat juga PCC.2) Berdasarkan kebutuhan perawatan berkelanjutan yang diidentifikasi, edukasi dan instruksi pemulangan bagi pasien dapat termasuk, tetapi tidak terbatas pada, topik-topik berikut: • Tinjauan mengenai semua obat yang akan diminum di rumah • Penggunaan semua obat secara aman dan efektif, termasuk potensi efek samping obat


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 83 • Potensi interaksi antara obat yang diresepkan dan obat lain (termasuk obat bebas tanpa resep) dan makanan • Diet dan nutrisi • Manajemen nyeri sesuai kebutuhan • Penggunaan peralatan medis yang aman dan efektif, sebagaimana diperlukan • Teknik rehabilitasi, sebagaimana diperlukan. Elemen Penilaian ACC.4 ❑ 1. Rumah sakit menyusun dan menerapkan rencana pemulangan dan proses rujukan yang dimulai pada saat awal perawatan dan didasarkan pada kesiapan pasien untuk pemulangan. ❑ 2. Kesiapan pasien untuk pemulangan ditentukan menggunakan kriteria atau indikasi yang relevan untuk memastikan keselamatan pasien. ❑ 3. Proses penyusunan rencana pemulangan mencakup kebutuhan untuk layanan penunjang dan medis berkelanjutan. ❑ 4. Pasien yang tidak langsung dirujuk atau ditransfer diberikan nama dan lokasi tempat perawatan berkelanjutan dilaksanakan. ❑ 5. Pasien yang tidak langsung dirujuk atau ditransfer diberikan instruksi, secara tertulis tentang kapan ia harus kembali ke rumah sakit untuk perawatan lanjutan, jika perlu, dan kapan serta bagaimana mendapatkan perawatan darurat. ❑ 6. Penyusunan rencana dan instruksi pemulangan didokumentasikan dalam rekam medis pasien dan diberikan kepada pasien secara tertulis. Elemen Penilaian ACC.4.1 ❑ 1. Edukasi dan instruksi untuk pasien dan keluarga harus berhubungan dengan kebutuhan perawatan dan pelayanan berkelanjutan bagi pasien tersebut. ❑ 2 Pasien dan keluarga diberikan daftar obat lengkap untuk dikonsumsi di rumah. ❑ 3. Untuk semua obat yang dibawa pulang, pasien dan keluarga diberikan edukasi tentang cara penggunaan secara aman dan efektif, potensi efek samping, dan pencegahan interaksi potensial dengan makanan dan/atau obat yang dijual bebas. ❑ 4. Pasien dan keluarga diberikan edukasi tentang diet dan nutrisi yang tepat. ❑ 5. Pasien dan keluarga diberikan edukasi tentang manajemen nyeri yang sesuai. ❑ 6. Pasien dan keluarga diberikan edukasi tentang penggunaan peralatan medis dan teknik rehabilitasi yang aman dan efektif, sebagaimana diperlukan. Standar ACC.4.2 Ringkasan pulang lengkap disiapkan untuk semua pasien rawat inap, dan salinan ringkasan pulang dimasukkan dalam rekam medis pasien. Maksud dan Tujuan ACC.4.2 Ringkasan pulang memberikan gambaran umum tentang perawatan pasien selama di rumah sakit. Ringkasan perawatan pasien disiapkan pada saat keluar dari rumah sakit. Setiap individu yang kompeten dapat menyusun ringkasan pulang, seperti dokter penanggung jawab pasien, petugas rumah sakit, atau petugas administrasi. Salinan ringkasan pulang diberikan kepada praktisi yang akan bertanggung jawab untuk perawatan lanjutan atau tindak lanjut pasien. Salinan diberikan kepada pasien ketika ditentukan oleh kebijakan rumah sakit atau dengan praktik umum yang sesuai dengan hukum dan budaya setempat. Dalam kasus di mana rincian perawatan tindak lanjut pasien tidak diketahui, seperti pada pasien yang berkunjung dari daerah atau negara yang lain, salinan ringkasan pulang


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 84 diberikan kepada pasien. (Lihat juga MOI.4) Salinan ringkasan pulang dimasukkan dalam rekam medis pasien. Ringkasan ini berisi hal-hal tersebut di bawah ini: a) Alasan pasien masuk rumah sakit, diagnosis dan komorbiditas b) Hasil pemeriksaan fisik dan temuan lain yang bermakna c) Tindakan diagnostik dan terapeutik yang dilakukan d) Obat-obatan yang diberikan selama rawat inap beserta potensi efek residual setelah obat dihentikan penggunaannya e) Semua obat pulang pasien yang akan digunakan di rumah f) Kondisi/status pasien saat dipulangkan (contohnya: “kondisi membaik”, “kondisi tidak berubah”, dan sejenisnya) g) Instruksi tindak lanjut Elemen Penilaian ACC.4.2 ❑ 1. Ringkasan pulang disiapkan oleh individu yang kompeten. ❑ 2. Ringkasan pulang memuat paling sedikit butir a) hingga g) dalam bagian maksud dan tujuan. ❑ 3. Salinan ringkasan pulang diberikan kepada praktisi yang bertanggung jawab atas perawatan lanjutan atau tindak lanjut pasien. ❑ 4. Salinan ringkasan pulang diberikan kepada pasien dalam kasus di mana informasi mengenai praktisi yang bertanggung jawab untuk perawatan lanjutan atau tindak lanjut pasien tidak diketahui.. ❑ 5. Salinan ringkasan pulang yang lengkap dimasukkan dalam rekam medis pasien sesuai kerangka waktu yang ditentukan oleh rumah sakit. Standar ACC.4.2.1 Rekam medis pasien yang menerima perawatan darurat mencantumkan waktu tiba dan waktu transfer dari UGD, kesimpulan pada akhir perawatan di UGD, kondisi pasien saat dipulangkan/ditransfer, dan instruksi perawatan lanjutan. Maksud dan Tujuan ACC.4.2.1 Rekam medis setiap pasien yang menerima perawatan darurat mencantumkan waktu tiba dan waktu pemulangan/transfer dari UGD. Informasi ini dicatat untuk semua pasien gawat darurat, termasuk mereka yang dipulangkan dari UGD rumah sakit, ditransfer ke fasilitas kesehatan lain, atau dirawat inap. Waktu pemulangan/transfer dapat berarti waktu saat pasien secara fisik meninggalkan unit gawat darurat untuk pulang atau pergi ke fasilitas lain, atau waktu di mana pasien dipindahkan ke unit lain sebagai pasien rawat inap. Untuk pasien yang dipulangkan dari unit gawat darurat, rekam medis mencakup kesimpulan di akhir perawatan UGD, kondisi pasien saat pulang, dan instruksi perawatan lanjutan. (Lihat juga ACC.1) Elemen Penilaian ACC.4.2.1 ❑ 1. Rekam medis dari semua pasien gawat darurat mencantumkan waktu tiba dan waktu transfer/pemulangan. ❑ 2. Rekam medis pasien gawat darurat yang ditransfer/dipulangkan meliputi kesimpulan di akhir perawatan UGD. ❑ 3. Rekam medis pasien gawat darurat yang ditransfer/dipulangkan mencantumkan kondisi pasien saat ditransfer/dipulangkan. ❑ 4. Rekam medis pasien gawat darurat yang ditransfer/dipulangkan termasuk instruksi perawatan lanjutan.


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 85 Standar ACC.4.3 Rekam medis pasien rawat jalan yang membutuhkan perawatan yang kompleks atau dengan diagnosis yang kompleks berisi profil perawatan medis dan dapat diakses oleh praktisi kesehatan yang memberikan perawatan pada pasien tersebut. Maksud dan Tujuan ACC.4.3 Bila rumah sakit memberikan perawatan dan pengobatan bagi pasien rawat jalan dengan diagnosis yang kompleks dan/atau membutuhkan perawatan yang kompleks (sebagai contoh, pasien yang datang untuk kontrol dengan beberapa penyakit, mendapat beberapa macam terapi, dirawat oleh beberapa klinik, dan/atau sejenisnya), dapat terjadi akumulasi jumlah diagnosis dan obat serta riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik yang selalu berubah. Adalah hal yang sangat penting bagi praktisi kesehatan di semua tempat perawatan yang memberikan layanan rawat jalan bagi pasien tersebut untuk memiliki akses terhadap informasi mengenai perawatan yang telah diberikan. (Lihat juga ACC.3) Informasi bisa terdapat dalam profil pasien atau tinjauan singkat lainnya yang sejenis. Tujuan dari profil ini adalah agar praktisi kesehatan bisa mendapatkan informasi penting dengan cepat dan mudah, terutama jika terdapat beberapa penyedia layanan rawat jalan. Profil ini perlu disusun, baik untuk Unit Rawat Jalan yang menggunakan rekam medis manual ataupun rekam medis elektronik. Proses untuk menyediakan informasi tersebut bagi praktisi kesehatan meliputi • mengidentifikasi tipe pasien yang mendapat layanan kesehatan yang kompleks dan/atau dengan diagnosis yang kompleks (misalnya pasien yang dirawat di klinik jantung dengan berbagai penyakit penyerta, atau pasien dengan gagal ginjal terminal); • mengidentifikasi informasi yang dibutuhkan oleh para klinisi yang merawat pasien tersebut; • menetapkan proses yang akan digunakan untuk memastikan informasi medis yang dibutuhkan oleh klinisi dapat tersedia dalam format yang mudah diakses dan ditinjau; serta • mengevaluasi proses untuk memastikan bahwa informasi dan implementasi yang dilakukan dapat memenuhi kebutuhan klinisi dan meningkatkan mutu dan keselamatan layanan klinik rawat jalan. Elemen Penilaian ACC.4.3 ❑ 1. Rumah sakit mengidentifikasi tipe pasien rawat jalan yang mendapat perawatan yang kompleks dan/atau memiliki diagnosis yang kompleks dan membutuhkan profil pasien rawat jalan. ❑ 2. Klinisi yang merawat pasien-pasien tersebut mengidentifikasi informasi yang perlu disertakan dalam profil pasien rawat jalan ❑ 3. Rumah sakit menggunakan sebuah proses yang memastikan bahwa profil pasien rawat jalan tersedia dalam format yang mudah diakses dan ditinjau. ❑ 4. Proses tersebut dievaluasi untuk menilai apakah dapat memenuhi kebutuhan dan meningkatkan mutu serta keselamatan kunjungan pasien di klinik rawat jalan. Standar ACC.4.4 Rumah sakit memiliki proses untuk mengelola dan menindaklanjuti pasien yang menyampaikan keinginannya kepada petugas rumah sakit untuk pulang atas permintaan sendiri. Standar ACC.4.4.1 Rumah sakit memiliki proses untuk mengelola pasien yang pulang paksa tanpa memberitahukannya kepada petugas rumah sakit. Maksud dan Tujuan ACC.4.4 and ACC.4.4.1 Bila pasien, baik pasien rawat inap maupun rawat jalan, memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit setelah


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 86 selesai diperiksa atau diberi rencana pengobatan; hal ini termasuk dalam kategori ‘pulang atas permintaan sendiri’. Pasien rawat inap dan rawat jalan (termasuk pasien UGD) memiliki hak untuk menolak pengobatan dan/atau pulang atas permintaan sendiri. Namun, pasien-pasien tersebut berisiko mendapatkan pelayanan yang tidak adekuat dan dapat mengakibatkan kecacatan permanen atau bahkan kematian. Ketika pasien rawat inap maupun rawat jalan yang kompeten memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit atas permintaan sendiri, dokter yang memberikan rencana perawatan atau wakil yang ditunjuk, harus menjelaskan risiko medis yang dapat terjadi sebelum pasien meninggalkan rumah sakit. Prosedur pemulangan pasien dilakukan seperti biasa, apabila pasien mengizinkan. (Lihat juga ACC.4.1) Apabila pasien memiliki dokter keluarga yang tidak terlibat sebelumnya namun dikenal oleh rumah sakit, maka dokter keluarga tersebut harus diinformasikan mengenai keputusan pasien. Upaya harus dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab pasien pulang atas permintaan sendiri. Rumah sakit perlu memahami alasan tersebut guna memperbaiki komunikasi kepada pasien dan/atau keluarga serta untuk mengidentifikasi kemungkinan untuk perbaikan proses. Mungkin ada keadaan khusus di mana seorang pasien dapat diberikan izin untuk meninggalkan rumah sakit selama perawatan. Sebagaimana diizinkan oleh kebijakan rumah sakit serta undang-undang dan peraturan setempat, rumah sakit dapat mengembangkan proses untuk mengizinkan pasien meninggalkan rumah sakit untuk jangka waktu tertentu (seperti pada “izin” akhir pekan). Keputusan untuk memberikan cuti/izin harus didasarkan pada status fisik dan mental pasien dan pada kemampuan keluarga untuk memberikan perawatan yang aman (jika keluarga akan menemani pasien), dan hal keputusan tersebut harus diambil setelah mempertimbangkan masukan dari tim perawatan dan—jika sesuai—pasien/keluarga. Bila pasien meninggalkan rumah sakit atas permintaan sendiri, tanpa menyampaikan keinginannya ke petugas rumah sakit, atau bila pasien rawat jalan dengan perawatan yang kompleks atau pengobatan untuk menyelamatkan nyawa, seperti hemodialisis, kemoterapi atau radioterapi, tidak kembali untuk menjalani pengobatan, rumah sakit harus melakukan usaha untuk menghubungi pasien dan menginformasikan kepada pasien risiko yang dapat terjadi. Bila pasien memiliki dokter keluarga yang dikenal oleh rumah sakit, rumah sakit harus memberikan informasi kepada dokter keluarga tersebut untuk mengurangi risiko atau bahaya yang mungkin terjadi. Rumah sakit merancang sebuah proses yang sesuai dan sejalan dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku. Pada kondisi tertentu, rumah sakit melaporkan kasus-kasus penyakit menular dan memberikan informasi yang menyangkut kemungkinan pasien membahayakan diri sendiri atau orang lain kepada dinas kesehatan setempat atau tingkat nasional sesuai kebutuhan. (Lihat juga PCI.1) Elemen Penilaian ACC.4.4 ❑ 1. Terdapat proses untuk mengelola pasien rawat inap dan rawat jalan yang menyampaikan keinginannya ke petugas rumah sakit untuk pulang atas permintaan sendiri. ❑ 2. Proses tersebut termasuk menginformasikan kepada pasien mengenai risiko medis bila tidak dilakukan pengobatan yang tepat. ❑ 3. Pasien dipulangkan sesuai dengan proses pemulangan pasien yang berlaku di rumah sakit. ❑ 4. Dokter keluarga pasien diinformasikan mengenai keputusan pasien untuk pulang atas permintaan sendiri, bila dokter keluarga pasien tersebut dikenal dan tidak terlibat dalam proses sebelumnya. ❑ 5. Proses ini sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku, termasuk persyaratan untuk melaporkan kasus penyakit menular dan kasus di mana pasien dapat menjadi ancaman bagi diri mereka sendiri atau orang lain. ❑ 6. Jika sesuai dengan undang-undang dan peraturan setempat, rumah sakit mengembangkan proses untuk mengizinkan pasien meninggalkan rumah sakit selama perawatan yang dengan "izin pulang" untuk periode waktu tertentu. Elemen Penilaian ACC.4.4.1 ❑ 1. Terdapat proses untuk mengelola pasien rawat inap maupun rawat jalan yang meninggalkan rumah sakit atas permintaan sendiri tanpa memberitahukannya kepada petugas rumah sakit. ❑ 2. Terdapat proses untuk mengelola pasien rawat jalan yang sedang menjalani pengobatan yang kompleks namun tidak datang untuk pengobatan tersebut.


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 87 ❑ 3. Apabila terdapat dokter keluarga yang dikenal oleh rumah sakit, dan belum terlibat dalam proses perawatan, rumah sakit menginformasikan kondisi pasien ke dokter keluarganya. ❑ 4. Proses tersebut sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku, termasuk kewajiban untuk melaporkan kasus penyakit infeksi menular dan kasus di mana pasien dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain di dalam masyarakat. Transfer Pasien Standar ACC.5 Rumah sakit mengembangkan proses untuk mentransfer pasien ke institusi kesehatan lain berdasarkan status pasien, kebutuhan perawatan pasien selanjutnya, dan kemampuan institusi penerima untuk memenuhi kebutuhan pasien tersebut. Maksud dan Tujuan ACC.5 Transfer pasien ke institusi di luar rumah sakit didasarkan atas status pasien dan kebutuhan pasien akan perawatan kesehatan lanjutan. Transfer dapat dilakukan sebagai respons atas kebutuhan pasien akan konsultasi dan penanganan khusus, layanan kegawatdaruratan, atau layanan lain yang kurang intensif (seperti layanan subakut atau rehabilitasi jangka panjang) atau berdasarkan permintaan pasien dan/atau keluarga karena alasan pribadi. Kriteria digunakan untuk mengidentifikasi apakah dibutuhkan transfer untuk memastikan kebutuhan pasien dapat terpenuhi. (Lihat juga ACC.1) Saat merujuk pasien ke organisasi lain, rumah sakit yang merujuk harus menentukan apakah organisasi yang akan menerima dapat memberikan pelayanan yang dibutuhkan oleh pasien dan memiliki kapasitas untuk menerima pasien. Penentuan ini biasanya dilakukan sebelumnya, dan persetujuan untuk menerima pasien serta prasyarat kondisi selama transfer dijabarkan dalam perjanjian formal maupun nonformal. Penentuan di awal ini dapat memastikan adanya kesinambungan perawatan dan terpenuhinya kebutuhan pasien. Transfer dapat ditujukan ke sumber pelayanan atau pengobatan khusus tanpa perjanjian transfer, baik formal maupun nonformal. Transfer pasien secara langsung ke fasilitas kesehatan lain dapat menjadi proses singkat bagi pasien yang sadar dan dapat berbicara, namun bagi pasien koma, proses transfer membutuhkan perawatan berkelanjutan atau pengawasan medis. Dalam kedua kasus ini, pasien memerlukan pemantauan dan mungkin memerlukan peralatan medis khusus, tetapi kompetensi individu yang melakukan pemantauan dan jenis peralatan medis yang dibutuhkan berbeda secara signifikan. Oleh karena itu, kondisi dan status pasien menentukan kompetensi anggota staf yang memantau pasien dan jenis peralatan medis yang diperlukan selama proses transfer. Diperlukan proses yang konsisten untuk mentransfer pasien dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain untuk memastikan bahwa pasien dipindahkan dengan aman. Proses tersebut harus meliputi • bagaimana dan kapan tanggung jawab dialihkan antara praktisi satu ke praktisi lain dan dari lokasi satu ke lokasi lainnya; • kriteria kapan diperlukan transfer untuk memenuhi kebutuhan pasien; • siapa yang bertanggung jawab atas pasien selama proses transfer; • obat-obatan, perbekalan, dan peralatan medis apa yang diperlukan selama transfer; • mekanisme tindak lanjut di mana kondisi pasien selama pemindahan dan pada saat kedatangan ke rumah sakit rujukan disampaikan kepada penerima; dan • apa yang dilakukan ketika transfer ke sumber perawatan lain tidak memungkinkan. Rumah sakit mengevaluasi mutu dan keselamatan proses transfer untuk memastikan bahwa pasien ditransfer dengan didampingi staf yang kompeten beserta peralatan medis yang tepat untuk menangani kondisi pasien. Elemen Penilaian ACC.5 ❑ 1. Rumah sakit mengembangkan proses transfer yang didasarkan pada kriteria untuk memenuhi kebutuhan pasien akan perawatan berkelanjutan.


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 88 ❑ 2. Proses transfer membahas bagaimana dan kapan tanggung jawab atas perawatan berkelanjutan ditransfer ke praktisi atau lokasi lain dan bagaimana menentukan bahwa rumah sakit penerima dapat memenuhi kebutuhan pasien yang akan ditransfer. ❑ 3. Proses transfer mengidentifikasi siapa yang bertanggung jawab untuk memantau pasien selama transfer dan kompetensi staf yang diperlukan untuk jenis pasien yang ditransfer. ❑ 4. Proses transfer mengidentifikasi obat-obatan, perbekalan, dan peralatan medis yang diperlukan selama transportasi. ❑ 5. Proses transfer membahas mekanisme tindak lanjut untuk memberikan informasi tentang kondisi pasien pada saat kedatangan ke rumah sakit penerima. ❑ 6. Proses transfer juga membahas mengenai situasi di mana transfer tidak mungkin dilakukan. Standar ACC.5.1 Rumah sakit penerima diberi rangkuman tertulis tentang kondisi klinis pasien dan tindakan intervensi yang telah dilakukan di rumah sakit perujuk, dan proses tersebut didokumentasikan dalam rekam medis pasien. Maksud dan Tujuan ACC.5.1 Untuk memastikan kesinambungan perawatan, informasi tentang pasien ditransfer bersama pasien. Salinan resume medis pasien pulang atau catatan klinis lainnya diberikan kepada organisasi penerima, bersama dengan pasien. (Lihat juga MOI.4) Resume tersebut setidaknya mencantumkan a) kondisi atau status klinis pasien; b) berbagai prosedur dan tindakan intervensi lain yang diberikan; serta c) kebutuhan pasien selanjutnya. Rekam medis dari setiap pasien yang ditransfer ke fasilitas kesehatan lain berisi dokumentasi transfer. Dokumentasi mencakup nama fasilitas kesehatan dan nama individu yang setuju untuk menerima pasien, alasan transfer, dan segala kondisi khusus untuk transfer (seperti kapan ruangan di rumah sakit penerima akan tersedia, atau status pasien). Selain itu, dicatat juga apakah kondisi atau status pasien berubah selama transfer (sebagai contoh, pasien meninggal atau membutuhkan resusitasi). Dokumentasi lain yang diperlukan oleh kebijakan rumah sakit (sebagai contoh, tanda tangan perawat atau dokter penerima, nama individu yang memantau pasien selama transportasi) dimasukkan dalam rekam medis. (Lihat juga MOI.8) Elemen Penilaian ACC.5.1 ❑ 1. Dokumen resume klinis pasien ditransfer bersama dengan pasien dan mencantumkan paling sedikit butir a) hingga c) pada bagian maksud dan tujuan. ❑ 2. Rekam medis dari pasien yang ditransfer mencantumkan nama institusi kesehatan yang menerima dan nama individu yang setuju untuk menerima pasien. ❑ 3. Rekam medis dari pasien yang ditransfer berisi dokumentasi atau catatan lain yang diperlukan sesuai dengan kebijakan rumah sakit yang merujuk. ❑ 4. Rekam medis pasien yang ditransfer mencatat alasan transfer tersebut dilakukan dan setiap kondisi khusus yang berhubungan dengan transfer.


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 89 Transportasi Standar ACC.6 Pelayanan transportasi yang dimiliki rumah sakit mematuhi peraturan dan undang-undang yang berlaku serta memenuhi persyaratan transportasi yang bermutu dan aman. Maksud dan Tujuan ACC.6 Proses untuk merujuk, mentransfer, dan/atau memulangkan pasien termasuk memahami kebutuhan transportasi mereka dan memastikan transportasi yang aman bagi mereka saat pulang ke rumah atau pergi ke fasilitas kesehatan berikutnya. Selain itu, perlu juga menilai kebutuhan transportasi pasien yang membutuhkan bantuan. Sebagai contoh, pasien dari fasilitas perawatan jangka panjang atau pusat rehabilitasi yang membutuhkan layanan rawat jalan atau evaluasi di unit gawat darurat dapat tiba dengan ambulans atau kendaraan medis lainnya. Setelah menyelesaikan layanan, pasien mungkin memerlukan bantuan transportasi untuk kembali ke rumahnya atau fasilitas kesehatan lain. Dalam situasi lain, pasien datang sendiri ke rumah sakit untuk menjalani prosedur yang dapat mengganggu kemampuan mereka untuk mengemudi (seperti operasi mata atau prosedur yang memerlukan sedasi prosedural). Menilai kebutuhan transportasi pasien dan memastikan transportasi yang aman bagi pasien yang membutuhkan bantuan adalah tanggung jawab rumah sakit. Bergantung pada kebijakan rumah sakit serta undang-undang dan peraturan setempat, biaya transportasi dapat menjadi tanggung jawab rumah sakit. Jenis transportasi yang digunakan dapat bervariasi; dapat berupa ambulans atau kendaraan lain yang dimiliki atau dikontrak oleh rumah sakit, atau dari sumber lain yang dipilih oleh keluarga. Rumah sakit memastikan bahwa staf yang melakukan pemantauan atas pasien atau memberikan perawatan pasien selama transportasi memiliki kualifikasi yang diperlukan untuk merawat pasien yang ditransfer. (Lihat juga SQE.3) Bila rumah sakit memiliki kendaraan transpor, operasional, kondisi, dan pemeliharaan kendaraan tersebut harus sesuai dengan peraturan dan undang-undang yang berlaku. Rumah sakit mengidentifikasi situasi transportasi yang memiliki risiko penularan infeksi dan menerapkan strategi untuk mengurangi risiko infeksi tersebut. (Lihat juga PCI.4) Jenis obat-obatan dan perbekalan lain yang diperlukan di dalam kendaraan ditentukan oleh jenis pasien yang akan diangkut. (Lihat juga MMU.3 and PCI.6) Sebagai contoh, terdapat perbedaan antara mengantar pasien geriatrik pulang setelah kunjungan rawat jalan dengan mentransfer pasien dengan penyakit infeksi atau luka bakar ke rumah sakit lain. Bila rumah sakit mengontrak perusahaan lain untuk layanan transportasi, rumah sakit harus memastikan bahwa perusahaan tersebut menyediakan transportasi yang memenuhi standar keamanan untuk pasien dan kendaraan. Bila layanan transportasi disediakan oleh Kementerian Kesehatan, perusahaan asuransi, atau organisasi lain yang tidak berada dalam kendali atau supervisi dari rumah sakit, maka rumah sakit perlu memberikan laporan ketika terjadi masalah terkait mutu dan keselamatan, kepada organisasi tersebut, untuk memberikan masukan dan umpan balik yang dapat membantu dalam membuat keputusan yang terkait dengan mutu transportasi pasien. Dalam semua kondisi tersebut, rumah sakit melakukan evaluasi terhadap mutu dan keamanan layanan transportasi. Hal ini termasuk penerimaan, evaluasi, dan respons terhadap keluhan terkait transportasi yang disediakan atau diaturkan. Elemen Penilaian ACC.6 ❑ 1. Proses untuk merujuk dan/atau memulangkan pasien meliputi penilaian kebutuhan transportasi untuk pasien yang mungkin memerlukan bantuan. ❑ 2. . Layanan transportasi, termasuk layanan yang dikontrak, dan kendaraan transportasi yang dimiliki oleh rumah sakit memenuhi undang-undang dan peraturan yang relevan serta persyaratan rumah sakit untuk transportasi yang berkualitas dan aman. ❑ 3. Seluruh kendaraan yang digunakan untuk transportasi, baik yang dikontrak maupun yang dimiliki rumah sakit, harus sesuai dengan program pengendalian infeksi, dan memiliki peralatan medis,


© The Joint Commission 2020 Prepublication Copy – Not for Distribution page 90 perbekalan, serta obat-obatan yang memadai, sesuai dengan kebutuhan pasien yang dipindahkan. ❑ 4. Transportasi yang disediakan atau diatur sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien. ❑ 5. Terdapat proses untuk memantau mutu dan keselamatan transportasi yang disediakan atau diatur oleh rumah sakit, termasuk proses untuk mengatasi keluhan pasien.


Click to View FlipBook Version