SALMA... ISTRIKU Denny B Roha Cerpen
Dua bocah kecil. Joko dan Gendis, usia mereka terpaut 2 tahun. Joko baru duduk di kelas 2 Sekolah dasar, adiknya Gendis di kelas 1, sekolah yang sama. Sejak pagi tadi mereka asyik bermain di ruang tamu. Ruang tamu sudah menjadi lahan mereka berdua, semenjak diberlakukannya Home Learning oleh sekolahnya. Sarapan sudah disiapkan neneknya sejak pagi tadi. Segelas susu hangat dan sepotong roti bakar masing-masingnya. SALMA... ISTRIKU Ruang tamu seperti kapal pecah, setiap pojok ada saja mainan mereka. Lukisan yang biasanya dipajang di dinding, sengaja dipindahkan ke dalam, tak ketinggal vas bunga ikut serta ngungsi ke ruang tengah. Dandi, adalah sosok ayah yang penuh pengertian. Seluruh barang-barang yang akan membahayakan anak-anaknya, segera disingkirkan dari ruang tamu. Ruang tamu sengaja disulap jadi area bermain dua bocah cilik. “Hayoo anak anak, sekarang kalian mandi. Gendis mandi duluan sama nenek ya?” Dandi menyampaikan dengan gembira. “Joko nanti ayah yang mandiin, setelah adikmu.” Joko dan Gendis sangat mengerti, dan segera berlari meninggalkan area mereka. Dandi segera menutup pintu ruang tamu dari dalam yang sebelumnya menyemprotkan disinfektan ke seluruh ruang tamu. SALMA... ISTRIKU
“Hmmm… seger, wangiii.” Sorak Dandi mencium kedua buah hatinya seusai berpakaian. Berempat mereka menghadapi meja makan, di atasnya sudah tersedia Mie kuah yang asapnya masih mengepul, empat telor ceplok, empat gelas the manis. Dandi menyuruh Joko memimpin doa untuk makan, “Gendis aja Yah?” Gendis menawarkan diri. “Ya boleh, sekarang Gendis yang pimpin doa.” Semua anggota mengaminkan doa yang dibaca Gendis. Lalu mereka makan mie yang sudah disiapkan neneknya. Selama makan, tidak ada satupun yang bicara. Mereka sudah terbiasa dan dibiasakan demikian, semua berkat didikan Salma istri Dandi. Gadis kampung yang ia nikahi sepuluh tahun lalu. SALMA... ISTRIKU Gendis dan Joko kembali berlarian ke ruang tamu, setelah meletakkan piring kotornya ke watafel. Dandi membanatu ibu mertuanya membereskan meja makan. “Nak Dandi, hari ini Salma pulang nggak?” Ibu mertuanya bertanya kepada Dandi dengan wajah yang letih. “Ya bu, sejak subuh tadi Salma belum berkabar.” Jawab Dandi sambil mengambil handphone nya. “Kok ibu tiba tiba kangen dia ya? Sejak pagi kemaren dia belum pulang.” Komentar ibu mertua Dandi, kini dia duduk di kursi dekat sekat ruang tengah dan ruang tamu. “Baik bu, nanti saya coba telpon Salma, mudah2an dia sedang tidak sibuk.” Dandi memberikan janji pada ibu mertuanya yang sudah dianggapnya pengganti almarhum ibunya. “Assalammualaikum Salma, Bagaimana khabar mu dek?” Dandi berujar dari ujung handphonenya yang terhubung pada Salma, istrinya. “Waalaikumsalam Uda. Iya maaf kemaren Salma gak sempat berkhabar. Alhamdulillah Salma baik-baik saja.
Bagaimana ibu dan anak anak?” Salma menjawab dari seberang sana. “Alhamdulillah mereka baik baik saja.” Singkat jawab Dandi. “Uda bagaimana? Kalau tidak ada hal yang sangat penting, jangan keluar rumah uda.” Salma menanyakan suaminya dan menyampaikan pesan. “Insha Allah baik dek. Baik Uda akan mematuhi peringatanmu dek.” Dandi pandai benar menjawabnya. SALMA... ISTRIKU “Apakah hari ini dek Salma bisa pulang agak sejenak?” Dandi bertanya dengan penuh harap. “Insha Allah kalau sudah bisa kerja ini ditinggalkan, Salma pulang uda. Salma kangen ibu dan anak anak, rindu sama uda juga.” Salma tau, kalau rindu sama udanya gak disampaikan pasti akan ditanya Dandi. Memang begitulah keseharian mereka, selalu saja seperti orang pacaran, selalu mesra. “Baik, Salma lanjut kerja ya uda. Salam buat ibu dan anak anak. Muaaachhh.” Salma mengakhiri percakapan dengan ciuman jarak jauhnya (hehehehe semua jarak jauh ya?). Kondisi negeri ini sudah sedikit mengkhawatirkan, hampir semua wilayah berada pada zona merah covid19. Corona adalah virus yang penyebarannya begitu cepat. Selang beberapa waktu semenjak diketemukannya di Wuhan bulan Nopember 2019, kini sudah lebih seratus lima puluh negara terjangkit. Negeri ini sudah pula mengumumkan untuk pegawai agar bekerja dari rumah (Work From Home), untuk anak sekolah dan mahasiswa berlaku juga Belajar di rumah (Home Learning). Lock Down? Ouh… kondisi itu membutuhkan konsekuensi yang besar, yang mungkin saja negeri ini belum siap memberlakukannya.
Cara yang terbaik untuk mencegahnya adalah Stay at home atau tetap berdiam di rumah. Jangan keluar rumah kalau tidak begitu penting. Toko toko banyak yang tutup, kecuali toko makanan dan toko obat atau apotik. SALMA... ISTRIKU Tenaga medis sudah mulai kewalahan, beberapa orang dokter sudah ada yang menjadi korban keganasan covid19, perawat dan tenaga medis lainnya banyak yang terpapar covid19. Salma kini menjadi salah seorang tenaga medis di salah satu rumah sakit di kotanya. Dia tidak mempunyai pilihan lain, bekerja siang malam membantu pasien covid19. Pekerjaannya menantang maut. Hanya senyum dan doa keluarganyalah yang membuat Salma mampu bertahan dan bertahan. Rumah sakit sudah overload pasien. Setiap hari bertambah saja pasien terinfeksi covid19. Bahkan asrama atlet pun sudah disulap menjadi rumah sakit untuk pasien covid19. Berbagai alkes seperti masker, baju hazmat, menjadi barang langka. Anehnya, masih ada saja orang yang menimbun masker dengan harapan menjual kembali dengan harga yang tinggi. Dimana hati nuraninya?
“Assalammualaikum ibu. Ibu bagaimana khabarnya? Ibu sudah makan? Jangan lupa minum vitamin yang Salma bawankan itu ya?” Bertubi tubi kalimat Salma ketika menelpon ibunya. “Iya anakku. Kamu baik baik saja khan? Kapan kamu pulang nak? Ibu kangen kamu.” Jawab ibunya pelan dan lirih. Ada sekelebat wajah kekhawatiran ibunya. “Iya bu, nanti Salma pulang bu. Salma kangen semuanya. Semoga hari ini Salma dapat menyelesaikan pekerjaan hari ini, Salma pulang bu.” Ujar Salma menenangkan hati ibunya. “Kamu mau ibu buatkan masakan apa nak? Mau dendeng balado?” Tanya ibunya. “Nggak usah bu, yang ada saja, telor ceplok juga nggak apa apa.” Salma singkat. SALMA... ISTRIKU Siang itu, jalanan sangat sepi. Salma berdiri di depan rumah sakit tempat dia mengabdikan diri. Pintu gerbang ditutup dan dijaga oleh satpam. Pakaiannya lengkap dengan masker, dan sarung tangan. Di tangan kanannya memegang Thermo Gun, guna mengecek suhu tubuh orang yang keluar masuk. Salma berkali kali melirik arlojinya, “ah sudah jam 13.20.” Salma terlihat gelisah. Dandi yang ditunggu untuk menjemputnya belum datang juga. “Bip… bip.. bip… ponsel Salma berbunyi pelan, karena SOP dari rumah sakit begitu. Salma segera mengaangkat dan menjawab “Assalammualaikum Uda. Udah udah sampai dimana?” Salma duluan membuka pembicaraan. “Waalaikumsalam dek. Maaf dek, uda belum sampai disana, karena uda tadi melarang anak-anak untuk mau ikut. Mereka semua rindu kamu dek.” Dandi mohon maaf karena terlambat. “Gak apa apa uda, hati-hati di jalan.” Salma dan Dandi sama sama menutup ponselnya, agar tidak membuang waktu.
SALMA... ISTRIKU Tidak sampai setengah jam, Dandi sudah datang menjemput. Salaman mereka hanya jarak jauh, karena Salma paham akan SOPnya. Salma duduk di bangku belakang, handel pintu mobil dibuka dengan melapisi sapu tangan sebelumnya. Dandi paham. Selama perjalanan tidak banyak bicara, walau banyak yang ingin dikatakan. Dia rindu pelukan hangat suaminya, dia ingin bercerita, menumpahkan apa yang sejak kemaren dia tahan. Tapi, karena dia belum mandi dang anti pakaian, keinginan itu dia tahan. Mobil berhenti depan rumah, Dandi membiarkan Salma membuka pintu mobil. Dandi buru-buru membuka pagar dan pintu belakang rumah. Salma masuk. Hasratnya ingin memeluk kedua buah hatinya tertahan. Salma langsung ke kamar mandi. Mandi sampai bersih. Berharap air yang diguyur melepaskan kepenatan dan kelelahannya. Ibunya datang mengantarkan handuk dan baju ganti Salma.
SALMA... ISTRIKU “Assalammualaikum ibu. Salma mencium tangan ibunya. Dua bocahnya Joko dan Gendis berlarian, bergantian mereka mencium ibunya. Sementara Dandi juga mandi. “Assalammualaikum anak anak ibu. Bagaimana khabar kalian? Sudah makan? Dan sholat?” Salma mengecup dengan mesra kedua buah hatinya. “Udah dong bu. Ibu kok lama banget kerjanya? Kan aku dan bang Joko rindu ibu.” Gendis berujar dengan lincah. “Iya nak, ibu kerja untuk keselamatan orang banyak. Sering sering doakan ibu ya.” Gendis dan Joko hanya mengangguk. Lalu kembali bermain di ruang tamu, membiarkan ibunya makan siang ditemani nenek. “Assalammualaikum Salma.” Dandi yang sudah segar menyapa Salma. Salma beerdiri dan menyambut salam suaminya. Satu kecupan di keningnya dari suami seperti obat kelelahannya. Mereka makan berdua, sementara ibunya menemani anak anak bermain. “Bagaimana dengan kerjamu nak? Kamu baik baik saja?” Ibunya Salma memulai peercakapan saat Salma menyiapkan makan siang juga untuk Dandi suaminya. “Alhamdulillah bu, baik. Ibu jangan lupa jaga kesehatan, jangan banyak keluar rumah, begitu juga anak anak.” Salma selesai menyiapkan piring dan gelas untuk makan bersama suaminya. Selesai makan, Salma bercerita tentang beberapa pasien yang ada di rumah sakitnya. “Uda selalu jaga kesehatan ya, ingatkan anak anak jangan main keluar. Covid19 sudah mebahayakan.” Ujar Salma. Dandi hanya menggangguk. Dalam pikirannya, “sungguh mulia hatimu dek, aku ikhlas kamu bekerja membantu keselamatan orang banyak, sedikitpun aku tak marah. Hatimu terlalu lembut dan tulus dek.” Dandi berujar dalam hatinya.
SALMA... ISTRIKU “Maaf uda, uda bisa antarkan Salma kembali ke rumah sakit sekarang?” Salma bangkit dan memasukan beberapa pakaian ke dalam tas kecilnya yang baru ia keluarkan dari dalam lemari. “Kenapa balik lagi dek, kan baru sampai di rumah, bukannya besok saja balik?” Dandi bertanya heran. “Uda… dokter yang bersama Salma kemaren sekarang sedang dirawat, kondisinya memprihatinkan, jadi Salma harus kembali ke rumah sakit.” Salma menjelaskan. “Uda… maafkan Salma ya uda, Salma harus balik ke rumah sakit sekarang uda. Kalau uda nggak bisa ngantar, nanti ada yang jemput Salma kok.” Salma mencium punggung tangan suaminya. Salma berangkat meninggalkan rumahnya. Tetes air mata jatuh dipelupuk matanya. Terbayang kerinduan yang belum terbayarkan. Salma dijemput mobil rumah sakit. Dandi dan anak anaknya melepas Salma di depan pintu. “Joko… Gendis… Maafkan ibu ya, ibu harus balik lagi kerja. Jaga diri kalian baik baik ya, jangan keluar rumah. Sering sering cuci tangan pakai sabun ya.” Salma mencium pipi dan kening anak anaknya. Gendis merasa sedih. “Maafkan Salma ibu. Salma harus balik lagi.” Salma pamit sama ibunya. “Kamu baik baik ajakan Salma?” Ibunya mengkhawatirkan Salma. “Salma baik baik saja ibu.” Jawabnya. Selang berapa lama, Salma tidak berkhabar. Dandi paham. Tetiba beberapa orang berpakaian seperti astronot datang, mengetuk pintu rumahnya. Dandi membuka pintu. “Maaf pak, izinkan kami menjalankan protokol kesehatan untuk anggota keluarga tenaga medis.”
SALMA... ISTRIKU Beberapa orang mengecek suhu seluruh orang yang dirumah. Kemudian, mereka berujar. “Untuk sementara bapak sekeluarga dilarang keluar rumah, dua orang anggota kami menemani keluarga bapak.” Salah seorang dari mereka berkata. Dandi panik, pikirannya ke Salma. Ada apa dengan Salma? Kenapa Salma tidak memberitahukan keberadaannya? Dandi duduk terdiam di kursi ruang tamu, ditemani anak anak dan ibu mertuanya. Joko dan Gendis tampak pucat menyaksikan orang berpakaian astronot memasuki rumahnya. Jelang maghrib, Dandi memimpin keluarganya mengaji. Kemudian sholat maghrib berjamaah. Selesai melaksanakan sholat maghrib berjamaah, Dandi dan keluarganya berdoa. Belum waktu Isya masuk, ponsel Dandi berbunyi, di sana tertulis ‘Salma Sayang’. Ups… Salma menelpon. “Hallo Assalammualaikum dek Salma. Bagaimana keadaanmu? Tadi beberapa orang dari rumah sakit memerika kami semua. Kenapa kamu tidak berkhabar dek?” Dandi menyerocos saja karena kerinduan dan ketegangannya. “Waalaikumsalam. Oh ini pak Dandi. Saya Merry pak, sahabat Salma. Kami harapa bapak bisa datang ke rumah sakit sekarang. Salma sakit pak.” Dandi serasa disambar petir. Bergegas dia mematikan ponselnya dan berganti pakaian. “Bu titip anak anak ya bu. Mereka butuh kami bu. Dandi ke rumah sakit. Iringi Dandi dengan doa bu.” Dandi menstarter motornya. Karena dengan motor akan lebih cepat sampai di rumah sakit. Joko dan Gendis tidak berkata apa apa, air mata mereka meleleh keluar, isakan tangis yang tertahan keluar dari mulut Gendis, si bontot.
SALMA... ISTRIKU Dandi memacu sepeda motornya membelah malam yang sedikit berkabut. Berkali kali dia pegang kantong celananya, dimana dia meletakkan ponselnya, khawatir ada yang menelpon. Tinggal beberapa belokan lagi, Dandi sampai di rumah sakit. Dandi sudah tidak sabar, dia akan datang menemani Salma istrinya, dia akan memberi semangat buat Salma. Dia akan menjadi obat buat Salma tercinta. Pikirannya membayangkan Salma yang sedang memanggil namanya di rumah sakit. Memang Salma akan sedikit merasa kuat jika Dandi ada di sampingnya, sama seperti melahirkan Joko dan Gendis dulu. Praaak….!!! Beberapa pasang mata melongo, melihat sebuah sepeda motor terjungkal masuk got. Pengendaranya terkapar, dan mengeluarkan suara ringisan. “Aduh… tolong… tolong….” Teriakannya nyaris tak terdengar. Beberapa orang yang melihat tadi mendekat, tapi tidak satupun yang menolong, semua khawatir dengan covid19. Akhirnya sebuah sedan putih berhenti, dan mengangkat tubuh korban, lalu membawanya ke rumah sakit yang hanya berjarak seratusan meter.
SALMA... ISTRIKU Korban dimasukan ke ruang UGD, hanya beberapa tenaga medis yang membantu. “Aku dimana? Aku dimana?” suara korban merintih. “Mana istriku” Mana Salma?” “Tenang pak, bapak segera kami tangani, luka lecet bapak lumayan serius.” Ujar suster yang siap dengan peralatannya. Dandi tidak sadarkan diri selang setengah jam, kemudian dia sadarkan diri. Salah seorang perawat berdiri di sampingnya. “Bapak pak Dandi, suami bu Salma?” Tanya perawat tadi. “Iya iya suster. Bagaimana istri saya?” Dandi bangkit dan bertanya dengan cemas. “Tapi bapak tenang ya. Hanya Allah yang Maha Kuasa. Kami akan antarkan bapak ke ruangannya, dengan syarat bapak harus tenang, karena bapak juga dalam kondisi lemah.” Perawat tadi menaikan Dandi ke kursi roda, dan mendorongnya. Tangan dandi penuh dengan balutan perban, kepala dililit perban, ada bekas darah di sana. Dandi terkesiap, mulutnya mengatup erat, gigi bergemertak, matanya berair dan meleleh. Suaranya tertahan… Semakin ditahan semakin tidak kuat.
SALMA... ISTRIKU “Salma…. Salma… kenapa kau dek?” Dandi tidak kuasa melihat tubuh Salma sudah dibungkus. Dari balik kaca, Dandi menatap perawat perawat menyelesaikan kerjanya terhdap Salma. Dandi ingat pesan terakhir Salma untuk selalu menjaga anak dan ibunya. Kini dia juga dalam kondisi lemah, ingin rasanya dia ikut bersama Salma. “Salma… kau istriku tercinta, pengorbananmu hanya Allah yang akan membalas. Aku ikhlas melepas kepergianmu. Insha Allah anak anak dan ibu juga ikhlas. Kau adalah pahlawan keluarga, kau adalah penyemangat kami. Pergilah dek dengan pengabdianmu dan pengorbananmu.