JALUR PERNIAGAAN KUNO ABAD IX-X BENGAWAN MADIUN Handout Sejarah GENTUR ISRA'J MAULANA
Materi Pokok: JALUR PERNIAGAAN KUNO ABAD IX-X BENGAWAN MADIUN Kompetensi Dasar: kompetensi 3.6 Menganalisis perkembangan kehidupan masyarakat, pemerintahan dan budaya pada masa kerajaan-kerajaan HinduBuddha di Indonesia. Tujuan Pembelajaran: 3.6.1 Siswa dapat menganalisis kehidupan masyarakat,pemerintahan dan budaya pada kerajaankerajaan indu buddha di Indonesia 3.6.2 Siswa dapat menunjukan bukti-bukti pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang masih ada pada kehidupan masyarakat Indonesia masa kini. Handout Sejarah Indonesia JALUR PERNIAGAAN KUNO ABAD IX-X BENGAWAN MADIUN
Daftar Isi Kompetensi Dasar Daftar Isi Peta Konsep Isi Materi Evaluasi Daftar Pustaka
JALUR PERNIAGAAN KUNO ABAD IX-X BENGAWAN MADIUN Geografis Bengawan Madiun. PETA KONSEP Indonesia Masa Kerajaan Hindu-Buddha Transportasi Sungai dan Perekonomian Pada Masa Jawa Kuno abad IX-X. Perniagaan Kuno Bengawan Madiun dan Budaya Pendukung.
Bengawan Madiun merupakan penyatuan dari beberapa sungai kecil yang berada di pegunungan Ponorogo hingga membentuk sebuah sungai besar dengan hilir di Kabupaten Ngawi menyatu dengan bengawan solo BAB 1 KONDISI GEOGRAFIS BENGAWAN MADIUN Foto 1:Kali tempuk Bengawan Madiun & Bengawan Solo (Sumber: Dokumentasi Pribadi. 2021) Bengawan Madiun merupakan anak sungai dari Bengawan Solo yang berhilir di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Bengawan Madiun merupakan anak sungai terbesar dari Bengawan Solo yang mana berhulu di pegunungan daerah Ponorogo, sehingga Bengawan Madiun ini melintasi mulai dari Ngawi, kota Madiun hingga ke Ponorogo Pada dasarnya topografinya cukup datar dan banyak sekali anak sungainya, sehingga memudahkan masyarakat dalam mengembangkan sektor pertanian. Pada musim hujan sungai ini juga seringkali meluap sampai membanjiri daerah sekitarnya, bekas tanah yang di banjiri ini membuat tanah menjadi subur dan dapat ditanami apa saja selain padi. Kondisi ini membuat masyarakat di sekitar Bengawan Madiun ini sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani.
BAB 2 Transportasi Sungai dan Perekonomian Pada Masa Jawa Kuno abad IX-X Penggunaan transportasi air utamanya di pedalaman jawa dapat diketahui dari beberapa pada prasasti yang ada sejak awal abad X Masehi di Jawa Tengah, namun untuk data epigrafi, menunjukkan bahwa di Jawa Timur lebih banyak penyebutan untuk transportasi air ini. Para pedagang menggunakan sampan untuk berniaga ke pedalaman jawa melalui sungai-sungai besar yang membentang membelah pulau jawa untuk dapat menjangkau ke daerah pedalaman Foto 2.1: Perahu kecil milik warga di aliran Bengawan Madiun (Sumber: Dokumentasi Pribadi. 2021) Ramainya jalur perdagangan dan lalu lintas kapal yang melintasi sungai ini juga ditulis dalam prasasti Kamalagyan 959 Saka (1037 M) yang berisi menceritakan tentang ramainya pelabuhan Hujung Galuh di aliran sungai Brantas Dua sungai besar yang membentang melintasi Jawa Timur ini sangat penting karena mampu membawa para pedagang dari daerah pesisir menuju pedalaman begitupun sebaliknya. Sungai yang memiliki banyak percabangan disepanjang hulu menuju hilir ini dapat dilewati prahu dan sampan karena memiliki arus yang tenang dan tetap, tepianya landai untuk berlabuh dan juga sangat lebar untuk melintas
penduduk desa di tepi bengawan solo dan sungai berantas dapat membawa para pedagang dan dagangan mereka dengan perahu, sekaligus dapat berhubungan langsung dengan pedagang yang datang dari pulau-pulau di luar jawa dan dari kerajaan-kerajaan di luar nusantara yang mempuntai pelabuhan-pelabuhan di jawa pada kedua sungai itu. Ramainya jalur perdagangan melalui sungai ini mendukung perekonomian masyarakat di pedalaman, terlebih salah satu pendapatan utama kerajaan kuno di jawa selain menarik pajak pada suatu wilayah kekuasaanya juga menarik pajak barang dan komoditi perdagangan Keberadaan prau dan tambangan menjadi alat transportasi utama bagi masyarakat Nusantara, khususnya masyarakat Jawa. Prau dan keberadaan tambangan di Jawa sudah ada sejak ratusan tahun silam. Prasasti Telang I dan II (825 Saka = 7 Januari 904), yang ditemukan di daerah Wonogiri Memuat pokok isi tentang penetapan wanua (desa) Mahe, Tlang dan Paparahuan sebagai perdikan (swatantra, sima) berkenaan penyeberangan sungai,” Foto 2.2: Nambangan yang masih ada sampai sekarang di aliran Bengawan Madiun (Sumber: Dokumentasi Pribadi. 2021)
Foto 2.3: Pasar tradisional yang ramai pada hitungan hari Jawa di sekitar aliran Bengawan Madiun (Sumber: Dokumentasi Pribadi. 2021) Kegiatan ekonomi adalah sebuah upaya dari manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam perkembanganya kegiatan perekonomian yang awalnya hanya sebatas untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia berkembang menjadi kebutuhan sosial. Ketika sebuah hasil produksi di suatu tempat telah mengalami pemenuhan atau bahkan surplus disisi lain permintaan akan barang hasil produksi meningkat di daerah lain maka hal ini mendorong adanya kegiatan ekonomi. Indikasi perdagangan dilakukan menggunakan moda transportasi ini dapat disimpulkan dari banyaknya penyebutan kelompok masamwyawahāra berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kesepakatan yang saling menguntungkan. Istilah masamwyawahāra dalam prasasti Jawa Kuno biasanya terkait dengan orang yang melakukan kegiatan perdagangan, pengrajin, dan warga kilalān yang secara harfiah berarti orang-orang yang dikenai pajak, di antaranya termasuk orang asing dan kaum professional sistem perdagangan terintegrasi muncul dalam masyarakat bertingkat yang ditandai dengan adanya kelas yang tidak memproduksi makanan yang biasanya terdiri atas kaum elit dan kaum tidak elit, seperti kelompok profesional dan semi profesional yang memproduksi barang kebutuhan sehari-hari dan jasa. Sejak masa Jawa Kuno, perdagangan telah terbagi menjadi dua, yaitu perdagangan internal dan perdagangan eksternal. Salah satu indikasi adanya perdagangan internal adalah keberadaan pasar atau dalam prasasti disebut pkan. Perdagangan internal Jawa Kuno berkembang dari bawah, dimulai dari tingkat desa dengan populasi lebih padat.
Jika melihat aktivitas ekonomi pada masa jawa kuno pasar tradisional memiliki peranan penting sebagai tempat berlangsungnya kegiatan ekonomi. Pasar menjadi lokasi berkumpulnya para pedagang dari berbagai daerah untuk melakukan transaksi jual beli. Pasar menjadi tolak ukur kesuksesan dari seorang penguasa wilayah karena dianggap berhasil memberikan perlindungan bagi rakyatnya untuk melakukan kegiatan ekonomi, pasar juga sebagai alat kontrol terhadap wilayahnya dengan melihat hasil bumi yang diperjual belikan di pasar maka ia dapat mengetahui tingkat keberhasilan panen pada saat itu. Pasar juga memberikan sumbangsih pajak yang besar bagi kerajaan Di jawa sendiri sampai sekarang pasar tradisional masih mengenal jenis-jenis hari untuk menentukan buka tutupnya dari pasar itu sendiri, contohnya pada pasar tradisional kita sring mengenal Pasar legi, pahing, pon, kliwon dan wage. Hal ini merupakan bukti bahwa eksistensi pasar yang sudah ada sejak pada masa jawa kuno dengan menganut sistem hari jawa masih dipertahankan sampai sekarang. Penjelasan mengenai adanya orang-orang yang berkumpul untuk berdagang pada hari-hari pasar dituliskan pada prasasti pangumulan yang berangka tahun 824 Saka (902 M) disebutkan bahwa ada empat orang pedagang beras yang melintas di Desa Tungalanin pada saat upacara penetapan sima dan ia diberi perak Foto 2.4: Gudang di pasar tradisional di sekitar aliran Bengawan Madiun masih sangat terasa kuno (Sumber: Dokumentasi Pribadi. 2021)
Lokasi pasar pada masa jawa kuno juga diperhitungkan dengan matang. Hal ini disebabkan karena pasar tradisional memiliki beberapa sarat dalam pendirianya diantaranya adalah biasanya terletak di tempat-tempat strategis seperti diantara beberapa desa, dilewati lalu-lintas perdagangan (sungai). Lokasi pasar tradisional yang berdekatan dengan sungai ini sampai sekarang masih banyak dan bisa ditemui apabila kita menyadarinya. (Sumber: Dokumentasi Pribadi. 2021) Foto 2.5: Pasar tradisional di Jawa yang letaknya disekitar aliran Bengawan Madiun dan Kondisi Nambangangan yang masih ada sampai sekarang
BAB 3 Perniagaan Kuno Bengawan Madiun dan Budaya Pendukung Bengawan Madiun sejak zaman Hindu-Buddha sampai masa kolonial memiliki sejarah panjang. Pada buku “Ekspedisi Bengawan Solo” oleh harian kompas menyatakan bahwa tepat di Desa Banjar, Kecamatan Ngawi, Kabupaten ngawi atau yang sekarang tempat ini biasa dikenal oleh masyarakat yaitu disebut dengan “Ngawi Purba” dapat dijumpai aktivitas perniagaanya. Tempat ini menjadi penting dalam sejarah karena disinilah titik temu antara Bengawan Madiun dan Bengawan Solo yang sudah banyak disebutkan dalam beberapa prasasti tentang adanya aktivitas perniagaan dan penambangan serta beberapa Naditirapradesa. Pertemuan dua sungai besar seringkali dijadikan tempat berkumpulnya para pedagang yang mengarungi sungai dari berbagai daerah, bahkan dapat dikatakan menjadi pelabuhan-pelabuhan, hal ini juga dapat ditemui di Ngawi purba ini karena bertemunya Bengawan Madiun dan bengawan solo ini banyak sekali ditemukan berbagai tinggalan arkeologis seperti: Arca, serpihan keramik cina dan banyak lagi Foto 3.1: Kondisi Bengawan Madiun sekarang. Menjadi sumber air utama yang mengaliri persawahan disepanjang aliran sunggai (Sumber: Dokumentasi Pribadi. 2021)
Ngawi memiliki banyak sekali tinggalan Hindu-Buddha mulai dari arca hingga prasasti, akan tetapi banyak kondisinya yang telah aus dan rusak. Pendukung selanjutnya adalah dalam Prasasti Canggu yang berangka tahun 1280 Saka (1358 Masehi) disebutkan bahwa Ngawi merupakan salah satu desa Panambangan (Nomor 35 dari hilir). Dapat disimpulkan bahwa Ngawi merupakan desa perdikan dengan kehidupan sosial budaya. Keberadaan tambangan di ngawi ini membuktikan bahwa kawasan tersebut sangat strategis dari sisi geografis karena merupakan pertemuan dua sungai besar dimana Bengawan Solo yang menjadi akses ke pedalaman sampai daerah hulu sungai dan juga Bengawan Madiun yang masuk hingga sampai pedalaman melalui daerah Ngawi, Madiun, Magetan dan Ponorogo. Foto 3.2: Situs Reco Banteng yang berada di Ngawi. Banyak situs peninggalan Hindu-Buddha di ngawi akan tetapi kondisi kurang terawat (Sumber: Dokumentasi Pribadi. 2021)
Jika berbicara mengenai perniagaan kuno Bengawan Madiun tidak bisa terlepas dari adanya aliran sungai utama yaitu Bengawan Solo. Peran dua sungai ini dalam sejarah sudah terlihat sejak zaman prasejarah, Hindu Budha sampai masa selanjutnya kolonialisme di Indonesia, akan tetapi dalam pokok bahasan kali ini akan menyoroti perananya pada masa Hindu-Buddha yang mana dua sungai ini menjadi “Pintu Keluar” Kerajaan di pedalaman jawa. Kondisi bengawan solo dan Bengawan Madiun yang cukup lebar dan dapat dilalui oleh perahu memberikan dampak ramainya lalu lintas transportasi air pada saat itu. Para pedagang dapat menyalurkan maupun berdagang hasil bumi dari pedalaman jawa menuju hilir begitupula sebaliknya. Selain perahu perdagangan yang berukuran besar, banyak sampan atau perahu kecil sebagai moda transportasi masyarakat antar desa yang sampai sekarang masih dapat ditemui pada aliran sungai bengawan madiun. Pasar-pasar tradisional di sekitar tepian bengawan madiun juga sampai saat ini masih eksis keberadaaanya, terlebih yang terdapat tambangan (penyebrangan menggunakan perahu) menjadi bukti budaya pendukung bahwa aliran bengawan madiun ini adalah urat nadi perniagaan. BAB 3 Perniagaan Kuno Bengawan Madiun dan Budaya Pendukung (Sumber: Dokumentasi Pribadi. 2021) Foto 3.3: Salah satu Nambangan yang masih aktif di Ngawi. Biasanya digunakan sebagai menyebrangkan para pedagang pasar
Wengker (ponorogo), Pamotan (magetan), Singasari, Pajang, Lasem, Kabalan, Paguhan, Matahun, dan sebagainya. Daerah Madiun Raya sangat kaya dengan peninggalan peninggalan arkeologi, walaupun telah terjadi pencurian dan tak terpeliharanya lagi situs-situs itu. letak Gelang-Gelang di Wurawan, Di wilayah Madiun juga terdapat sisa bangunan yang diduga candi di Mawatsari. Prasati Wurudu Kidul berupa jayapattra atau putusan hukum berasal dari wilayah Maospati dan Ngawi, karena memuat nama desa Grih, Pagerruyung, Marangin, disamping Kahuripan itu sendiri. Selain ditemukan nama Kahuripan, dari prasasti Wurudu Kidul ini (922 Masehi) kita juga mengetahui bahwa ada warga kilalan (warga dari negara asing) yang telah dikenal penduduk. Tentunya daerah itu berada di jalur perdagangan dengan orang asing. Di dekat desa-desa itu ada Sungai Madiun yang bermuara di Bengawan Solo dan pada masa itu sungai-sungai besar seperti Sungai Brantas, Bengawan Solo, dan Sungai Madiun, merupakan jalur lalu lintas utama. Foto 3.4: Fragmen Angka Tahun peninggalan kerajaan Gelang-Gelang di Ngurawan, Madiun (Sumber: Dokumentasi Pribadi. 2021)
Prasasti Trowulan atau prasasti Canggu tahun 1280 Saka atau 1358 Masehi memuat nama-nama desa yang ditetapkan sebagai desa penyeberangan. Desa-desa itu bukanlah pelabuhan yang mempunyai akses ke Laut Jawa. Kebanyakan desa desa itu berada di Bengawan Solo, di cabang-cabang dan anak sungainya. Beberapa prasasti Trowulan yang tak ditemukan atau hilang, yaitu keping no. 3, 6, dan 7 sehingga hanya sebagian desa naditirapradesa atau desa anambangi yang masih dapat dicari. Prasasti ini juga memuat nama-nama pelabuhan yang penting di Pulau Jawa, misalnya Hujung Galuh Ketapang, Kedal, dan Jipang. Foto 13: Arca peninggalan kerajaan Gelanggelang di Ngurawan, Madiun (Sumber: Dokumentasi Pribadi. 2021) Belanda membangun benteng Van Den Bosch di Tempuran Sungai Madiun dan Bengawan Solo. Saat ini benteng tersebut lebih dikenal sebagai benteng Pendem. Ini menunjukkan bahwa pada masa itu, Bengawan Solo dan Sungai Madiun merupakan jalan transportasi utama yang perlu dipertahankan. Jika melihat dari letak beberapa kerajaan dan kadipaten besar yang pernah berdiri di sekitar aliran Bengawan Madiun seperti, Ngurawan, Wengker, Pagutan maka kedudukan Bengawan Madiun ini sama dengan kedudukan sungai Brantas dan juga Bengawan Solo, terlebih lagi pada tahun selanjutnya tepatnya pada prasasti canggu yang menuliskan Ngawi sebagai naditirapradesa atau desa anambangi maka sudah bisa dipastikan dan memperkuat kedudukan Bengawan Madiun itu sebagai salah satu jalur perniagaan kuno abad IX-X.
EVALUASI 1.Bengawan Madiun memiliki kondisi geografis dengan luas sungaia yang cukup besar, hal ini dikarenakan hulu dari Bengawan madiun merupakan gabungan dari banyak sungai kecil di sepanjang Ponorogo-Kota Madiun, apa yang menjadikan sebagian besar masyarakat di sekitar aliran Bengawan Madiun bermata pencaharian sebagai petani? a.Mudah Banjir b.Sungainya lebar c.Kondisi topografi yang mendukung sektor pertanian d.Program lumbung padi pemerintah e.Hanya dapat ditanami padi 2.Di Indonesia dengan kondisi geografisnya yang banyak sekali sungai membentang khususnya di Jawa menjadikan transportasi sungai pada masa lampau menjadi transportasi utama, mengapa demikian? a.Transportasi darat tidak memadai b.Belum adanya Jalan yang pasti untuk menuju ke pedalaman jawa dari daerah pesisir c.Produksi prahu dan sampan sangat banyak d.Akses yang sangat mudah e.Pada zaman dahulu sungai jarang terjadi banjir 3.Di Jawa bagian timur banyak kita jumpai pernah berdiri kerajaan Hindu-Buddha yang besar, seperti Kadiri, Singhasari, Majapahit. Di Madiun raya sendiri Kerajaan dan kadipaten yang cukup terkenal juga banyak seperti Wengker, Glang-glang , Jagaraga dll. Mengapa di daerah Jawa khususnya Jawa bagian timur banyak berkembang kerajaan-kerajaan Hindu pada masa lampau? a.Padat penduduk b.Kondisi geografis dengan banyaknya pegunungan dan dialiri sungai besar menjadikan jawa bagian timur menjadi lokasi strategis c.Kondisi di jawa bagian tengah dan barat banyak terjadi bencana alam d.Kerajaan di Jawa bagian timur kuat dalam menghadapi ekspansi kerajaan lain e.Silsilah kerajaan yang menjadikan wilayah kekuasaan turun-temurun
4.Banyaknya prasasti yang menceritakan tentang transportasi sungai pada masa Hindu-Buddha yang tersebar di Indonesia, Biasanya prasasti ini sebagai penanda atau putusan raja untuk suatu wilayah yang memiliki keistimewaan bagi kearajaan, Salah satunya adalah prasasti Kamalagyan 959 Saka (1037 M), Apa isi dari prasasti kamaglagyan yang membuktikan tentang penggunaan transportasi sungai? a.Penetapan hukum karma b.Penetapan desa bebas pajak/ Sima c.menceritakan tentang ramainya pelabuhan Hujung Galuh di aliran sungai Brantas d.Menetapkan 44 naditirapradeca anamabangi disepanjang sungai Bengawan Solo dan Bengawan Madiun e.Penetapan daerah kekuasaan kerajaan 5.Salah satu prasati peninggalan kerajaan majapahit yang menceritakan kondisi pada saat masih Berjaya di nusantara adalah prasasti Canggu atau Trowulan 1, Meskipun beberapa keeping lempeng dari prasasti ini belum ditemukan akan tetapi sudah dapat memperlihatkan kondisi tranportasi sungai Brantas dan Bengawan Solo menceritakan secara spesifik apa dari Prasasti Canggu (trowulan 1)? a.Memuat nama-nama desa yang ditetapkan sebagai desa penyeberangan naditirapradeca anambangi b.Penetapan Hukum karma c.Penetapan desa bebas pajak/sima d.Pemberian anugrah kerajaan e.menceritakan tentang ramainya pelabuhan Hujung Galuh di aliran sungai Brantas 6.Jika melihat lebih jauh terkait letak dan kondisi topografinya kita bisa melihat bahwasanya kerajaan-kerajaan besar di Jawa Timur memiliki kecenderungan untuk berada dekat dengan sungai. Tiga sungai besar Bengawan Solo, Brantas, dan Bengawan Madiun menjadi pusat peradaban kerajaan Hindu-Buddha di Jawa Timur seperti Majapahit, Singhasari, kadiri Glang-Glang, Wengker dll apa alasanya? a.Menjadi pintu gerbang utama kerajaan-kerajaan di jawa timur pada saat itu b.Sumber daya alam di sungai tersebut melimpah c.Air adalah pusat kebutuhan manusia d.Sering terjadi banjir besar e.Memudahkan akses mobilitas 7.Pada masa Jawa Kuno pasar menjadi tempat berkumpulnya msayarakat, mulai dari masyarakat asli maupun para pedagang dari luar. Lokasi pasar sangat dipengaruhi dengan mudahnya akses untuk dijangkau menggunakan moda transportasi. Jika kita sadari lokasi pasar tradisional yang masih asli dengan ditandai HariHari jawa memilik kriteria dan aspek tertentu. Kriteria seperti apa yang digunakan dalam pemilihan penempatan pasar tradisional pada zaman dahulu? a.Memilih dekat dengan jalur perdagangan/jalur lalu lintas utama (sungai) b.Pusat kota kerajaan c.Disebelah istana raja d.Diantara dua wilayah kerajaan e.Disebelah utara alun-alun
8.Kabupaten Ngawi menjadi wilayah yang cukup istimewa pada masa kerajaan Hindu-Buddha, Di wilayah ini memiliki berbagai macam peninggalan masa kerajaan Hindu-Budha, Ngawi juga muncul dalam prasasti Canggu dan disebut sebagai salah satu naditirapradeca yang disebutkan dalam prasasti Canggu apa alasan utama yang dapat menjadikan Ngawi sebagai naditirapradeca anambangi pada saat itu? a.Ngawi pusat kerajaan hindu terbesar b.Ngawi memiliki dua percabangan sungai besar yaitu Bengawan Solo dan Bengawan Madiun yang menjadi pintu gerbang utama keluar masuknya pedagang ke kerajaan di pedalaman jawa c.Ngawi memiliki komoditas ekspor yang baik d.Ngawi adalah daerah istimewa keraajan majapahit e.Karena banyak pelabuhan dan penyebrangan warga 9.Madiun raya tercatat pernah berdiri beberapa kerajaan yang cukup besar dan cukup istimewa kedudukanya di Jawa, diantaranya adalan Wengker, Glang-Glang, Jagaraga. Kondisi geografis yang mendukung peradaban kerajaan maju pada saat itu, dengan adanya dua sungai besar yang melintasi yaitu Bengawan Solo dan Bengawan Madiun. Mengapa Bengawan Madiun menjadi titik keluar kerajaan-kerajaan pada masa Hindu-Buddha yang ada di daerah Madiun raya seperti? a.Hilir Bengawan Madiun yang berujung di Ngawi menyatu dengan Bengawan Solo membuat akses transportasi mudah dan ramai akan pendatang b.Hanya ada jalur air di wilayah madiun raya c.Kondisi geografis yang hanya memungkinkan melewati sungai d.Belum ada jalur darat e.Ketiga kerajaan tersebut merupakan penghasil perahu yang baik pada saat itu 10.Jika kita mengamati di wilayah sepanjang aliran Bengawan Madiun masih banyak dijumpai Bukti transportasi air pada zaman dulu dan masih dapat ditemui disekitar aliran Bengawan Madiun. Manakah yang masih ada dan digunakan sampai sekarang? a.Penyebrangan menggunakan kapal besar b.Penyebrangan antar desa menggunakan perahu kecil di sekitar Bengawan Madiun dan Bengawan Solo c.Perahu speedboat bantuan dari pemerintah d.Penyebrangan menggunakan kapal bermesin besar e.Menggunakan kapal ferry
DAFTAR PUSTAKA Wignjosoebroto, W. MENCARI JEJAK KAHURIPAN; Kerajaan Hindu Tertua dan Terlama di Tanah Jawa. Penerbit K-Media. Junghuhn, Franz Wilhelm; Hasskarl, Justus Karl (1854). Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart, Volume 2. Arnold. hlm 331, 363 Fauzi, A. N. (2015). Study Komparatif Peran Bengawan Solo dan Sungai Brantas Dalam Perkembangan Ekonomi Abad Ke-10 M-15 M di Jawa Timur. Avatara, 3(3). Fuadillah, I. (2016). Situs Ngurawan Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun (Latar Sejarah Dan Upaya Pelestariannya). AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA, 6(02). Nastiti, Titi Surti. Peranan Pasar di Jawa Pada Masa Mataram Kuno.Abad ke VIIIXI Masehi.Thesis, Progam Pasca Sarjana Universitas Indonesia Pengkhususan Arkeoogi Lombard, D. 2005. Nusa Jawa Silang Budaya. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Subur Tjahjono. 2008. Ekspedisi Bengawan Solo Laporan Jurnalistik Kompas Kehancuran Peradaban Sungai Besar. Jakarta: PT. Kompas Media Nusantara. Susilowati, E. (2011). Peranan jaringan sungai sebagai jalur perdagangan di Kalimantan Selatan pada paroh kedua Abad XIX. Citra Lekha, (1), 1-8. Nurhidayati, S. (2014). Epigrafi Indonesia Kuno “Perdagangan Masa Mataram Jawa Tengah Abad 8-10 M”. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya, UI. Fauzi, A. N. (2015). Study Komparatif Peran Bengawan Solo dan Sungai Brantas Dalam Perkembangan Ekonomi Abad Ke-10 M-15 M di Jawa Timur. Avatara, 3(3).