The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by reveninghdmautey, 2023-09-20 21:49:49

Buku_Panduan_MPLS_2022-2023

Buku_Panduan_MPLS_2022-2023

Buku Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru Tahun Pelajaran 2021/2022 SMP Negeri 1 Malaka Timur Jln. Jurusan Atambua, Boas - Desa Dirma Kec. Malaka Timur, Kabupaten Malaka 2021


2 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Panduan Pelaksanaan dan Materi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Tahun Pelajaran 2022/2023 Penyusun : Panitia PPDB/MPLS Penyunting : Panitia PPDB/MPLS Penerbit : - Cetakan : 5 - Malaka, 2022 Buku ini dibuat untuk penggunaan dalam masa pengenalan lingkungan sekolah bagi siswa baru tahun pelajaran 2022/2023 dan hanya dipergunakan di kalangan SMP Negeri 1 Malaka Timur; tidak untuk diperjualbelikan. Segala bentuk penggandaan, penerjemahan dan atau reproduksi baik melalui media cetak maupun elektronik harus seijin panitia PPDB/MPLS. Perpustakaan SMP Negeri 1 Malaka Timur Panitia PPDB/MPLS 2022 Buku Panduan Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru Cet 5 – Malaka; SMPN 1 Malaka Timur, 2022 iv + 64 hal; 19,5 cm


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 3 Kata Pengantar Pengenalan Lingkungan Sekolah diperuntukan bagi peserta didik baru SD, SMP, SMA, SMK dengan mengikut sertakan siswa yang lain, Kepala Sekolah, dan Guru, serta Staf Karyawan sekolah. Setiap jenjang memiliki ciri-ciri khusus yang membedakannya dengan jenjang pendidikan sebelumnya, kekhususan ini merupakan hal yang wajar dan memang harus dilalui. Hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan cara-cara penyampaian bahan pembelajaran dan materi pendidikan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan pertumbuhan fisik dan mental psikologis peserta didik. Adanya ciri khusus pada setiap jenjang pendidikan menyebabkan beberapa kebiasaan belajar yang dikembangkan di jenjang sebelumnya perlu disempurnakan dan diubah dengan cara belajar yang baru yaitu pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan sesuai perkembangan fisik dan mental psikologis peserta didik. Berkenan hal tersebut, maka penyelenggaraan PLS perlu dilaksanakan dalam rangka memberikan pengenalan mengenai lingkungan sekolah yang menjadi pilihannya untuk menuntut ilmu, sekaligus sebagai upaya mengenalkan peserta didik baru dengan lingkungan barunya. Dasar hukum diadakannya PLS diantaranya: Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan, Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 tentang Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru, Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 Tentang Penguatan Pendidikan Karakter dan Surat Edaran Kemendikbud Nomor 5 Tahun 2019 tentang Kegiatan Penumbuhan Wawasan Kebangsaan dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah. Sesuai dengan pengantar di atas maka buku ini disusun untuk dapat digunakan sebagai panduan pelaksanaan PLS yang akan diadakan di SMP Negeri 1 Malaka Timur terhitung tanggal 11-13 Juli 2022.


4 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Daftar Isi Halaman Halaman Judul ................................................................. 1 Kata Pengantar ................................................................ 3 Daftar Isi ........................................................................... 4 Struktur Organisasi SMPN 1 Malaka Timur ...................... 5 Surat Keputusan Kepanitiaan PPDB/MPLS 2022/2023 .... 6 Jadwal Kegiatan MPLS .................................................... 9 Materi MPLS 2022 A. Wawasan Wiyatamandala ........................................... 10 B. Pendidikan Karakter .................................................... 16 C. Program dan Cara Belajar ........................................... 23 D. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara ........................ 31 E. Tata Krama ................................................................. 38 F. Kurikulum Merdeka Belajar ......................................... 43 G. Pramuka ...................................................................... 47 H. Peraturan Baris Berbaris ............................................. 51 Lampiran Salinan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kemdikbudristek Nomor 6998/A5/HK.01.04/2022 tentang Pelaksanaan PPDB Tahun Ajaran 2022/2023 ................................................... 62


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 5


6 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 7


8 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 9


10 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Materi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Siswa Baru Tahun Pelajaran 2022/2022 A. Wawasan Wiyatamandala (60 Menit) Pendahuluan Dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional, iklim belajar mengajar yang dapat menumbuhkan percaya diri dan budaya belajar dikalangan masyarakat perlu terus dikembangkan agar tumbuh sikap dan perilaku kreatif, inovatif, dan keinginan untuk maju. Sekolah sering dianggap sebagai satu-satunya tumpuan untuk mendidik anak, sehingga lupa pada factor-faktor lain yang menyebabkan beban sekolah menjadi semakin berat. Oleh karena itu perlu diciptakan suatu pandangan atau wawasan yang dipakai untuk mengelola sekolah. Wawasan itu dikenal dengan istilah wawasan wiyata mandala. Dalam mencipatakan wawasan wiyata mandala perlu diciptakan kondisi yang dinamis dan iklim yang menguntungkan disekolah agar proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan tertib, aman dan dalam suasana kekeluargaan. Oleh karena itu partisipasi seluruh komponen baik kepala sekolah, guru maupun karyawan Sekolah Dan Fungsinya Sekolah sebagai tempat penyelenggara proses belajar mengajar, menanamkan dan mengembangkan berbagai nilai, Iptek, keterampilan dan wawasan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. Hal ini berarti bahwa sekolah merupakan lembaga formal yang utuh dan bulat, yang memiliki makna sebagai suatu kesatuan yang didalamnya terdiri dari bagian-bagian yang saling berperan dan berkaitan teranyam menjadi satu. Apabila terjadi kekurangan atau tidak berfungsinya bagian-bagian itu maka


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 11 akan menyebabkan fungsi sekolah akan terganggu sehingga akan menghambat pencapaian tujuan. Bagian-bagian itu antara lain gedung, perabot, bangku, meja, papan tulis, perpustakaan, laboratorium, aula (bentuk fisik dan kurikulum peserta didik, instruktur dan karyawan). Keadaan fisik sekolah perlu dirawat dan dijaga dengan baik serta digunakan sesuai dengan fungsinya. Siswa dapat merawat dan menjaganya dengan berpedoman pada prinsip 5K yaitu Kebersihan, Keamanan, Ketertiban, Keindahan dan Kekeluargaan. Sekolah pada dasarnya mempunyai fungsi dan tugas menyelenggarakan proses pendidikan secara terencana, tertib dan teratur. Sekolah juga dapat dipandang sebagai masyarakat belajar yang utuh dan bulat yang memiliki kepribadian tersendiri. Sebagai masyarakat belajar maka sekolah tidak dapat dilepaskan dengan kehidupan masyarakat pada umumnya, karena sekolah sebenarnya merupakan sub system dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Arti & Makna Wawasan Wiyata Mandala Wawasan secara harafiah berarti pandangan, penglihatan atau tanggapan inderawi. Dan juga dapat diartikan sebagai cara memandang atau cara melihat atau cara meninjau. Kata wawasan berarti pengajaran atau pendidikan sedangka mandala berarti lingkungan atau lingkaran atau daerah. Jadi Wawasan Wiyata Mandala berarti cara pandang kalangan pendidikan tentang keberadaan sekolah sebagai pengemban tugas dan fungsi sekolah di lingkungan masyarakat. Agar tujuan pendidikan dan fungsi serta tugas sekolah dapat terlaksana dengan baik maka diperlukan pandangan yang sama dari seluruh warga mengenai sekolah sebagai lembaga pendidikan. Setiap sekolah wajib menyelenggarakan seluruh proses pendidikan di seklahnya. Kesatuan pandang yang disebut Wawasan Wiyata Mandala merupakan kebijakan di lingkungan sekolah.


12 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Wawasan Wiyata Mandala harus merupakan satu kesatuan yang menjamin berlangsungnya proses pendidika di sekolah secara efisien dan efektif. Wawasan Wiyata Mandala merupakan wawasan yang mengikat seluruh warga sekolah sebagai suatu wahana menuju tercapainya suatu tujuan pendidikan nasional. Unsur-unsur Wawasan Wiayata Mandala : a. Sekolah merupakan lingkungan pendidikan b. Kepala sekolah mempunyai wewenang dan tanggun jawab penuh atas penyelenggaraan pendidikan dalam lingkungan sekolahnya. c. Antara guru dan orang tua siswa harus ada saling pengertian dan kerjasama yang erat untuk mengemban tugas pendidikan. d. Para warga sekolah di dalam maupun diluar sekolah, harus senantiasa menjunjung tinggi martabat dan citra guru. e. Sekolah harus bertumpu pada masyarakat sekitarnya mendukung antar warga. Sebagai Lingkungan Pendidikan Dikarenakan sekolah sebagai Wiyata Madala atau lingkungan pendidikan maka sekolah tidak boleh digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang memiliki tujuan yang bertentangan dengan tujuan pendidikan. Sekolah merupakan tempat siswa belajar dan guru mengajar, tempat untuk menuntut ilmu, tempat membina dan mengembangkan pandangan hidup dan kepribadian bangsaa, tata karma, nilainilai agama, Iptek serta berbagai macam keterampilan siswa. Oleh karena itu sudah sewajarnya kita mempunyai kewajiban moral untuk senantiasa menjunjung tinggi nama baik sekolah, menghormati sekolah, serta menjaga dan melindungi sekolah dari segala macam unsure yang dapat menganggu proses pendidikan. Disini diperlukan


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 13 kemanunggalan, persatuan dan kesatuan warga sekolah untuk menghadapi segala kemungkinan yang dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar disekolah. Setiap warga sekolah harus dapat menunjukan loyalitas atau pengabdian kepada sekolah. Untuk itu maka peran aktif siswa dan guru dalam proses belajar mengajar sangat diperlukan. Tugas guru dan siswa adalah menciptakan suasana kelas sedemikian rupa sehingga terjadi interaksi yang mendorong para siswa untuk belajar interaktif. Dalam hal ini yang mendapat perhatian adalah : a. Bentuk pengaturan perabot disesuaikan dengan situasi kelas. b. Jumlah kelompok dalam kelas c. Jumlah siswa dalam kelompok Keaktifan siswa dapat tercipta dengan langkah sebagai berikut: a. Siswa ikut secara aktif dalam pelajaran b. Sikap positif siswa dalam mengikuti pelajaran c. Menggunakan kesempatan baik dalam mengambil keputusan d. Sikap guru yang positif dalam mengambil keputusan Dalam hal ini perlu juga dukungan dari semua pihak untuk berlangsungnya kegiatan ekstrakurikuler disamping kegiatan kurikuler. Kondisi yang mendukung kegiatan Wawasan Wiyata Mandala : a. Menaati tata tertib sekolah Tata tertib sekolah disusun secara operasional untuk mengatur tingakah laku dan sikap siswa dan guru serta karyawan. Dalam tata tertib sekolah dikemukakan tentang


14 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah hal-hal yang diharuskan, dianjurkan dan yang tidak boleh dilakukan dalampergaulan di lingkungan sekolah. b. Hormat dan taat pada guru Guru memiliki tugas professional yaitu mendidik dalam rangka mengembangkan keterampilan. Tugas berat guru adalah tugas kemasyarakatan yaitu ikut serta mengembangkan terbentuknya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. c. Kerjasama antar warga sekolah Antara warga sekolah dan masyarakat harus ada saling pengertian dan kerjasama yang erat untuk mengembangkan tugas pendidikan. Kerjasama ini akan menimbulkan saling pengertian dan akan lebih membuka cakrawala pandangan oran tua siswa tentang hal-hal yang menjadi tugas dan tanggungjawab dalam mendidika anaknya. Ketahanan Sekolah Dalam Wawasan Wiyata Mandala Ketahanan sekolah adalah suatu kondisi dinamis yang berisi kemampuan dan ketangguhan dlam menghadapi tantangan dan hambatan yang timbul dari dalam dan dari luar sekolah yang langsung ataupun tidak langsung dapat mengganggu proses belajar mengajar. Kondisi dinamik yang dimaksud adalah suatu keadaan yang menunjukan adanya kekuatan positif yang sumbernya antara lain dari siswa yang aktif melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsi masingmasing, maupun unsru kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, staf tata usaha dan anggota masyarakat di lingkungan sekolah. Untuk mencipta ketahanan sekolah maka perlu dicipta : a. Menaati dan memenuhi tata tertib sekolah b. Menjaga nama baik diri sendiri, orang tua, keluarga dan sekolah


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 15 c. Menghormati kepala sekolah, guru dan karyawan d. Belajar keras, teratur dan terencana e. Melaksanakan upacara bendera dengan tertib, disiplin, khidmat dan penuh kesungguhan. f. Memelihara 7 K Penutup Seperti telah diuraikan diatas bahwa Wawasan Wiyata Mandala diartikan sebagai suatu pandangan atau tinjauan mengenai lingkungan pendidikan. Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan secara ideal harus mempunyai kelengkapan yang memadai. Suasana kondusif dan dinamis dukungan partisipasi keluarga, masyarakat dan pemerintah yang lebih positif juga sangat diperlukan. Disamping itu semua komponen harus memiliki rasa memiliki dan rasa tanggungjawab terhadap terpeliharanya dan terbinanya lebaga pendidikan sehingga terjamin kelancaran proses belajar mengajar yang mendukung masukan yang diharapkan.


16 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah B. Pendidikan Karakter (60 Menit) Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character education) dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter. Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakanbahwa karakter yang baikdidukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan di bawah ini merupakan bagan kterkaitan ketiga kerangka pikir ini. A. Pendidikan Karakter menurut Lickona Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 17 B. Pendidikan Karakter menurut Suyanto Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. C. Pendidikan Karakter menurut Kertajaya Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010). D. Pendidikan Karakter menurut Kamus Psikologi Menurut kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982: p.29). Nilai-nilai dalam pendidikan karakter Ada 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif, Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli sosial, Tanggung jawab. Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari


18 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal. Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Di antara metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan, metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman. Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.Pembentukan karakter merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama. Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character that is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya). Memahami Pendidikan Karakter Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 19 Lickona, tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif. Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil secara akademis. Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilainilai luhur universal, yaitu: 1. Karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya 2. Kemandirian dan tanggungjawab 3. Kejujuran/amanah, diplomatis 4. Hormat dan santun 5. Dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama; 6. Percaya diri dan pekerja keras 7. Kepemimpinan dan keadilan 8. Baik dan rendah hati, dan 9. Karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan. Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan. Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan.


20 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak. Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat. Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak. Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan. Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik. Dampak Pendidikan Karakter Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan oleh Character Education Partnership. Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-kelas yang secara


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 21 komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik. Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins, et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan berkomunikasi. Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya. Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan, tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya. Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis berdampak positif pada pencapaian akademis.


22 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 23 C. Program dan Cara Belajar (60 Menit) Arti Pentingnya Belajar Belajar adalah usaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu pengetahuan. Balajar juga dapat diartikan sebagai kegiatan berlatih. Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Perubahan tingkah laku dari belum dapat melakukan sesuatu menjadi dapat melakukan sesuatu disebut belajar. Prinsip-Prinsip Belajar Tugas utama seorang siswa adalah belajar. Oleh karena itu kita harus belajar dengan sebaik-baiknya. Sebagai seorang siswa harusmengetahui prinsip-prinsip belajar, antara lain : a. Untuk belajar kita membutuhkan dorongan atau motivasi. Dorongan itu ada yang dating dari dalam maupun dari luar diri sendiri. Dorongan dari dalam antara lain keinginan untuk lebih maju, cita-cita yang akan diraihnya. Sedangkan dorongan dari luar misalnya adanya system rengking di kelas, karena pujian, takut mendapat malu dan sebagainya. b. Untuk dapat belajar baik kita harus memusatkan perhatian pada hal-hal yang sedang kita pelajari. Hal yang dapat mengganggu pemusatan perhatian adalah pikiran yang tertuju pada hal-hal yang mungkin sedang mempengaruhi perasaan seperti kesedihan, patah hati, kemarahan, iri hati, kebencian, dll. c. Kita harus berusaha untuk mengerti lebih dulu yang kita pelajari sebelum menghapal. Hal yang dimengerti akan lebih mudah untuk dihafal. d. Untuk dapat mengerti sesuatu yang dipelajari dapat ditempuh dengan cara : 1. Menanyakan pada diri sendiri mengenai hal yang kita pelajari


24 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 2. Membuat ringkasan atau skema untuk memudahkan memahami 3. Mencoba menghubungkan dengan masalah yang lebih besar dan menyeluruh 4. Mencoba menelaah dari berbagai macam segi agar menjadi lebih jelas. 5. Mencoba menyusun singkatan (jembatan keledai) untuk hal-hal yang panjang sebagai rumus. Misalnya nama keluarga Matahari menjadi MERCVEM Yang Sangat Ulung Nan Pandai : Merc = Mercurius, V = Venus, E = Earth, M = Mars, Yang = Yupiter, Sangat = Saturnus, Ulung = Uranus, Nan = Neptunus, Pandai = Pluto 6. Untuk lebih memantapkan hal yang kita pelajari disekolah sebaiknya jangan merasa cukup hanya mendengarkan penjelasan guru di sekolah. Setibanya di rumah perlu dibaca kembali dan melengkapi dengan ringkasan skema. e. Kita harus meyakini bahwa semua pelajaran yang diterima akan berguna bagi kita nanti, walaupun kita sudah tidak sekolah lagi. f. Agar yang kita pelajari lebih meresap adalah dengan beristirahat untuk mengedapankan semua hal yang sudah diperoleh dari belajar. g. Hasil belajar yang sudah kita peroleh dapat digunakan untuk mempelajari yang lain. Missal pola Bahasa Indonesia untuk mempelajari bahas asing. h. Menghindari hal-hal yang dapat menghambat belajar, seperti perasaan takut, malu, marah, kesal, dsb. Cara Belajar a. Belajar di Sekolah; Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang mempunyai tugas dan fungsi menyelenggarakan proses belajar untuk mencapai tujuan


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 25 pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan siswa perlu memahami hal-hal sebagai berikut : 1. Siswa harus memahami tujuan pendidikan 2. Siswa harus memiliki sifat terbuka, artinya dapat menerima guru sebagaimana adanya. 3. Siswa harus mempelajari dan menyiapkan alat pelajaran untuk esok harimya. 4. Siswa harus penuh minat dan perhatian dalam menerima pelajaran dan menyingkirkan hal yang mengganggu konsentrasi dalam menerima pelajaran. 5. Siswa hendaknya bersikap kritis dalam menerima pelajaran 6. Siswa harus memiliki dorongan dan semangat yang kuat untuk maju, memiliki sifat ingin tahu dan ingin menguasai ilmu pengetahuan. 7. Siswa hendaknya menghindari sifat malu bertanya untuk meminta penjelasan mengenai hal-hal yang kurang dipahami. 8. Sisa harus berusaha untuk mencapai nilai yang setinggi-tingginya dengan prestasi sendiri tanpa menggantungkan dengan orang lain. 9. Siswa harus mengikuti pelajaran dengan aktif, artinya siswa tidak hanya mendengarkan tapi juga berinisiatif dalam memahami pelajaran dengan membuat catatan yang perlu. 10.Setibanya dirumah, siswa harus mengulangi kembali hasil pelajaran yang dipelajari di sekolah. b. Belajar dirumah; Siswa dalam menuntut ilmu harus melakukan konsentrasi dalam belajar. Untuk dapat belajar dirumah secara baik hendaknya memilih waktu dan tempat yang tepat serta nyaman. Meja dan tempat duduk yang kurang enak dapat mengganggu konsentrasi dalam belajar. Siswa perlu dan harus belajar di rumah setiap hari dalam waktu tertentu bukan terus menerus tanpa henti.


26 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah c. Belajar berkelompok Belajar dalam berkelompok banyak sekali manfaatnya. Siswa yang belum memahami sesuatu hal dapat memperoleh penjelasan teman yang sudah paham. Sebaliknya siswa yang sudah paham akan lebih mahir karena ia mengutarakan hal yang sudah diketahui. Dalam kelompok belajar hendaknya ada ketua kelompok dan dalam pembentukan kelompok belajra perlu memperhatikan jarak rumah dan jumlah anggota kelompoknya. Pemanfaatan Perpustakaan a. Pentingnya perpustakaan Di setiap sekolah terdapat perpustakaan, karena perpustakaan merupakan sumber utama untuk memperoleh bahan bacaan bagi siswa. Di dalam perpustakaan disediakan buku-buku yang diperlukan siswa di sekolah. Memang perpustakaan berarti kumpulan buku-buku. Oleh karena itu didalam perpustakaan disediakan buku baik berupa buku pelajaran maupun buku yang berhubungan dengan ilmu pengetahun dan teknologi. Buku-buku tersebut akan memberikan wawasan yang lebih luas kepada para siswa dan komponen sekolah yang memanfaatkannya. b. Cara Memanfaatkan Perpustakaan Adanya perpustakaan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Untuk dapat memanfaatkan perpustakaan perlu memperhatikan halhal sebagai berikut : 1. Mengetahui jadwal kerja perpustakaan 2. Mengetahui peraturan yang berlaku di perpustakaan 3. Mengetahui tata cara menjadi anggota perpustakaan. Hal ini penting karena dengan menjadi anggota perpustakaan maka dapat memanfaatkan semua fasilitas yang ada diperpustakaan. 4. Mengetahui system pengelompokan buku yang digunakan oleh perpustakaan tersebut. Biasanya buku


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 27 yang memiliki subyek sama diletakan ditempat yang sama. 5. Mengetahui penggunaan kartu catalog yang biasanya disusun menggunakan alphabet nama pengarang. 6. Pemahaman secara khusus tentang cara meminjam dan mengembalikan buku yang dapat dibawa pulang. 7. Mulailah membaca buku di perpustakaan dengan memulai judul buku, nama pengarang, penerbit, dan tahun terbit. 8. Bacalah buku tersebut dari halaman pertama sampai dengan halaman terakhir secara tepat. 9. Ulangi membaca buku dari bab ke bab secara teliti sambil mengingat-ingat. 10.Ulangi mebaca buku tersebut secara pelan-pelan dari bab ke bab sambil memeberi tanda pada kalimat yang dianggap penting. 11.Salinlah kalimat yang telah diberi tanda ke dalam buku catatan 12.Pahami dan atau hapalkan hasil catatan tersebut hingga mengerti. 13.Buatlah pertanyaan dan jawaban sebagai test diri (selftest) untuk mengetahui letak kekurangan kita. Pemanfaatan Waktu a. Pentingnya Waktu Sebagai manusia kita hidup dalam lingkup ruang dan waktu. Kita hidup dalam suatu ruang tertentu dan dalam waktu tertentu yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ruang dan waktu dapat dibedakan tetapi sulit untuk dapat dipisahkan. Kita perlu memperhatikan penggunaan waktu yang kita miliki, sebab waktu yang telah lewat tidak akan terulang lagi. Tuhan telah menyediakan waktu kepada kita untuk hidup, dan kita perlu memanfaatkan waktu hidup kita dengan sebaikbaiknya. Siswa perlu memiliki motto bahwa “Time is time,


28 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah waktu adalah waktu.” Waktu makan untuk makan, waktu istirahat gunakan untuk istirahat, waktu belajar gunakan untuk belajar. Gunakan waktu luang sebaik-baiknya. Tanpa memperhatikan penggunaan waktu maka hidup kita akan kacau dan tanpa teratur. Banyak siswa kurang dapat mengatur dan menggunakan waktu dengan sebaikbaiknya, akibatnya akan mengganggu dalam belajar. Dalam hal ini sering terjadi jika besok pagi akan ujian atau test menjadi bingung belajar dengan alas an tidak punya waktu. Hal ini karena waktunya telah terbuang sia-sia akibat tidak dapat menggunakan waktu dengan baik. b. Mengatur Waktu Tidak dapat dipungkiri bahwa orang berhasil mencapai sukses dalam hidup adalah orang yang hidup teratur dan berdisiplin menggunakan waktu. Mereka mungkin pedagang, politikus, ilmuwan, guru dan karyawan yang disiplin dengan waktu. Disiplin seperti ini tidak datang dengan sendirinya akan tetapi melalui latihan yang ketat dan disiplin yang tinggi. Oleh karena itu waktu yang tersedia oleh siswa harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Setiap siswa harus memiliki jadwal kegiatan sehari demi sehari dan mentaatinya dengan baiknya. Dengan membuat jadwal kegiatan setiap hari dan motto TIME IS TIME pasti akan mempermudah mewujudkan harapan dan cita-citanya. Belajar Dengan Model Tutor Sebaya Salah satu metode pembelajaran grup yang diangap mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang aktif, kondusif, efektif dan menyenangkan adalah metode/pendekatan tutor sebaya. Dengan mengambil tutor dari kalangan teman sebaya, diharapkan dapat memberikan suasana lain yang mungkin muncul pada pembelajaran biasa (guru sebagai tutor), terutama munculnya perasaan senang


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 29 dan hilangnya perasaan takut. Menurut WS. Winkel (1986: 30-31), perasaan merupakan faktor psikis non intelektual yang khusus berpengaruh terhadap semangat atau gairah belajar siswa. Perasaan senang akan menimbulkan minat dan jika diperkuat dengan sikap positif maka akan sangat menunjang hasil belajar. Sebaliknya, rasa takut dan cemas yang mendalam dapat membuat siswa tidak tenang, gelisah, dan gugup, kalut dalam berpikir dan berperasaan tidak senang, sehingga akan menghambat dalam belajar. Khusus berkaitan dengan metode tutor sebaya, Sawali Tuhusetya (2007) memberikan catatan tentang tugas-tugas tutor antara lain : (1) Memberikan tutorial (transrformasi pengetahuan) kepada anggotanya; (2) Mengkoordinir proses diskusi agar berlangsung kreatif dan dinamis; (3) Menyampaikan permasalahan pada guru pembimbing jika ada materi ajar yang belum dikuasai; (4) Menyusun jadwal diskusi; (5) Melaporkan perkembangan akademis anggotaanggotanya kepada guru pembimbing. Melihat gambaran tugas yang dibebankan terhadap tutor tersebut, perlu sekali dipertimbangkan beberapa kriteria seorang tutor, yaitu : a. Memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata b. Mampu menjalin kerja sama dengan sesama siswa c. Memiliki inovasi yang tinggi untuk meraih prestasi akademis yang baik d. Memiliki sikap toleransi dan tenggang rasa dengan sesama e. Memiliki motivasi yang tinggi untuk menjadikan kelompok diskusinya sebagai yang terbaik. f. Bersikap rendah hati, pemberani dan bertanggungjawab g. Suka membantu sesama yang mengalami kesulitan. Yang perlu diperhatikan dalam metode tutor sebaya, proses belajar dan penyelesaian tugas dilaksanakan dari/oleh siswa dan untuk siswa, jadi peran guru hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas yang hanya


30 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah melakukan intervensi ketika betul-betul diperlukan siswa. Melalui metode tutor sebaya, siswa tidak hanya dijadikan sebagai obyek pembelajaran, melainkan juga sebagai subyek pembelajaran, yaitu siswa diajak untuk menjadi tutor atau sumber belajar dan tempat bertanya bagi temannya, sehingga diharapkan terjadi proses belajar yang kreatif, dinamis, dan berlangsung multiarah. Dengan metode tutor sebaya diharapkan siswa dapat dengan mudah dan leluasa menyampaikan masalah-masalah yang dihadapinya sehingga mereka dapat lebih terpacu dan dapat belajar lebih baik. Penutup Sekolah adalah lembaga pendidikan temapat pendidikan tempat berlangsungnya kegiatan pendidikan. Dalam pelaksanaannya Kepala dibantu oleh wakil kepala, guru mata pelajaran, guru BP, karyawan dan siswa. Setiap siswa harus tunduk dan mentaati tata tertib sekolah dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar serta mau berperan serta dalam melaksanakan memelihara dan menjaga keamanan sekolah. Agar siswa dapat berhasil dengan baik maka setiap siswa harus belajar dengan tekun dan teratur. Waktu yang ada hendaknya digunakan dengan sebaik-baiknya untuk kerperluan belajar dan hal-hal yang berguna demi masa depan siswa. Masa depan hanya dapat dinikmati oleh orang yang mau belajar.


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 31 D. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara (60 menit) Di era globalisasi ini banyak tantangan memang bagi negeri kita, namun kesadaran berbangsa dan bernegara sudah selayaknya rakyat dan pemerintah untuk bersama sama memberikan pemahaman bagi rakyatnya, khususnya kaum muda. Pemerintah ikut bertanggung jawab mengemban amanat untuk memberikan kesadaran berbangsa dan bernegara bagi warganya, bila rakyat bangsa Indonesia sudah tidak memiliki kesadaran berbangsa dan bernegara, maka ini merupakan bahaya besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, yang mengakibatkan bangsa ini akan jatuh ke dalam kondisi yang sangat parah bahkan jauh terpuruk dari bangsa-bangsa yang lain yang telah mempersiapkan diri dari gangguan bangsa lain. Mengingat kondisi bangsa kita sekarang, merupakan salah satu indikator bahwa warga bangsa Indonesia di negeri ini telah mengalami penurunan kesadaran berbangsa dan bernegara. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai daerah sering bergejolak diantaranya tawuran antar warga, perkelaian pelajar, ketidakpuasan terhadap hasil pilkada, perebutan lahan pertanian maupun tambang, dan lain-lain. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara mempunyai makna bahwa individu yang hidup dan terikat dalam kaidah dan naungan di bawah Negara Kesatuan RI harus mempunyai sikap dan perilaku diri yang tumbuh dari kemauan diri yang dilandasasi keikhlasan/kerelaan bertindak demi kebaikan Bangsa dan Negara Indonesia. Berbagai masalah yang berkaitan dengan kesadaran berbangsa dan bernegara sebaiknya mendapat perhatian dan tanggung jawab kita semua. Sehingga amanat pada UUD 1945 untuk menjaga dan memelihara Negara Kesatuan wilayah Republik Indonesia serta kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan.


32 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Hal lain yang dapat mengganggu kesadaran berbangsa dan bernegara di tingkat pemuda yang perlu di cermati secara seksama adalah semakin tipisnya kesadaran dan kepekaan sosial di tingkat pemuda, padahal banyak persoalan-persoalan masyarakat yang membutuhkan peranan pemuda untuk membantu memediasi masyarakat agar keluar dari himpitan masalah, baik itu masalah sosial, ekonomi dan politik, karena dengan terbantunya masyarakat dari semua lapisan keluar dari himpitan persoalan, maka bangsa ini tentunya menjadi bangsa yang kuat dan tidak dapat di intervensi oleh negara apapun, karena masyarakat itu sendiri yang harus disejahterakan dan jangan sampai mengalami penderitaan. Di situ pemuda telah melakukan langkah konkrit dalam melakukan bela negara. Kesadaran Bela Negara Kesadaran bela negara adalah dimana kita berupaya untuk mempertahankan negara kita dari ancaman yang dapat mengganggu kelangsungan hidup bermasyarakat yang berdasarkan atas cinta tanah air. Kesadaran bela negara juga dapat menumbuhkan rasa patriotisme dan nasionalisme di dalam diri masyarakat. Upaya bela negara selain sebagai kewajiban dasar juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran, penuh tanggung jawab dan rela berkorban dalam pengabdian kepada negara dan bangsa. Keikutsertaan kita dalam bela negara merupakan bentuk cinta terhadap tanah air kita. Nilai-nilai bela negara yang harus lebih dipahami penerapannya dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara antara lain: 1. Cinta Tanah Air Negeri yang luas dan kaya akan sumber daya ini perlu kita cintai. Kesadaran bela negara yang ada pada setiap masyarakat didasarkan pada kecintaan kita kepada tanah air kita. Kita dapat mewujudkan itu semua dengan


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 33 cara kita mengetahui sejarah negara kita sendiri, melestarikan budaya-budaya yang ada, menjaga lingkungan kita dan pastinya menjaga nama baik negara kita. 2. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara Kesadaran berbangsa dan bernegara merupakan sikap kita yang harus sesuai dengan kepribadian bangsa yang selalu dikaitkan dengan cita-cita dan tujuan hidup bangsanya. Kita dapat mewujudkannya dengan cara mencegah perkelahian antar perorangan atau antar kelompok dan menjadi anak bangsa yang berprestasi baik di tingkat nasional maupun internasional. 3. Pancasila Ideologi kita warisan dan hasil perjuangan para pahlawan sungguh luar biasa, pancasila bukan hanya sekedar teoritis dan normatif saja tapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita tahu bahwa Pancasila adalah alat pemersatu keberagaman yang ada di Indonesia yang memiliki beragam budaya, agama, etnis, dan lain-lain. Nilai-nilai pancasila inilah yang dapat mematahkan setiap ancaman, tantangan, dan hambatan. 4. Rela berkorban untuk Bangsa dan Negara Dalam wujud bela negara tentu saja kita harus rela berkorban untuk bangsa dan negara. Contoh nyatanya seperti sekarang ini yaitu perhelatan seagames. Para atlet bekerja keras untuk bisa mengharumkan nama negaranya walaupun mereka harus merelakan untuk mengorbankan waktunya untuk bekerja sebagaimana kita ketahui bahwa para atlet bukan hanya menjadi seorang atlet saja, mereka juga memiliki pekerjaan lain. Begitupun supporter yang rela berlama-lama menghabiskan waktunya antri hanya untuk mendapatkan tiket demi mendukung langsung para atlet yang berlaga demi mengharumkan nama bangsa.


34 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 5. Memiliki Kemampuan Bela Negara Kemampuan bela negara itu sendiri dapat diwujudkan dengan tetap menjaga kedisiplinan, ulet, bekerja keras dalam menjalani profesi masing-masing. Kesadaran bela negara dapat diwujudkan dengan cara ikut dalam mengamankan lingkungan sekitar seperti menjadi bagian dari Siskamling, membantu korban bencana sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia sering sekali mengalami bencana alam, menjaga kebersihan minimal kebersihan tempat tinggal kita sendiri, mencegah bahaya narkoba yang merupakan musuh besar bagi generasi penerus bangsa, mencegah perkelahian antar perorangan atau antar kelompok karena di Indonesia sering sekali terjadi perkelahian yang justru dilakukan oleh para pemuda, cinta produksi dalam negeri agar Indonesia tidak terus menerus mengimpor barang dari luar negeri, melestarikan budaya Indonesia dan tampil sebagai anak bangsa yang berprestasi baik pada tingkat nasional maupun internasional. Apabila kita mengajarkan dan melaksanakan apa yang menjadi faktor-faktor pendukung kesadaran berbangsa dan bernegara sejak dini, yakni dengan mengembalikan sosialisasi pendidikan kewarganegaraan di sekolah-sekolah, juga sosialisasi di masyarakat,niscaya akan terwujud.. Pada pendidikan kewarganegaraan ditanamkan prinsip etik multikulturalisme, yaitu kesadaran perbedaan satu dengan yang lain menuju sikap toleran yaitu menghargai dan mengormati perbedaan yang ada. Perbedaan yang ada pada etnis dan religi sudah harusnya menjadi bahan perekat kebangsaan apabila antar warganegara memiliki sikap toleran.


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 35 Nasionalisme Nasionalisme adalah sikap mencintai bangsa dan negara sendiri. Nasionalisme terbagi atas: 1. Nasionalisme dalam arti sempit Yaitu sikap mencintai bangsa sendiri secara berlebihan sehingga menggap bangsa lain rendah kedudukannya, nasionalisme ini disebut juga nasionalisme yang chauvinisme, contoh Jerman pada masa Hitler. 2. Nasionalisme dalam arti luas Yaitu sikap mencintai bangsa dan negara sendiri dan menggap semua bangsa sama derajatnya. Hans Kohn dalam bukunya Nationalism its meaning and history mendivinisikan nasionalisme sebagai berikut : 1. Suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan individu tertinggi harus diserahkan pada negara. 2. Perasaan yang mendalam akan ikatan terhadap tanah air sebagai tumpah darah. Ada 3 (tiga) hal yang harus kita lakukan untuk membina nasionalisme Indonesia: 1. Mengembangkan persamaan diantara suku-suku bangsa penghuni nusantara 2. Mengembangka sikap toleransi 3. Memiliki rasa senasib dan sepenanggungan diantara sesama bangsa Indonesia Selain itu ada 4 (empat) hal yang harus kita hidari dalam memupuk sermangat nasionalisme, yaitu: 1. Sukuisme, menganggap msuku bangsa sendiri paling baik. 2. Chauvinisme, mengganggap bangsa sendiriu paling unggul. 3. Ektrimisme, sikap mempertahankan pendirian dengan berbagai cara kalau perlu dengan kekerasan dan senjata.


36 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 4. Provinsialisme, sikap selalu berkutat dengan provinsi atau daerah sendiri. Patriotisme Sikap patriotisma adalah sikap sudi berkorban segalagalanya termasuk nyawa sekalipun untuk mempertahankan dan kejayaan negara. Sikap patriotisme bangsa indonesia telah dimulai sejak jaman penjajahan, dengan banyaknya pahlawan pahlawan yang gugur dalam rangka mengusir penjajah seperti Sultan Hasanudin dari Makasar, Pangeran Diponogoro dari Jawa tengah, Cut Nyak Dien Tengku Umar dari Aceh dll. Sikap patriotis memuncak setelah proklamasi kemerdekaan pada periode perjuangan fisik antara tahun 1945 sampai 1949 yaitu periode mempertahankan negara dari keinginan Belanda untuk kembali menjajah Indonesia. Ciri-ciri patriotisme adalah: 1. Cinta tanah air 2. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara 3. Menempatkan persatuan dan kesatuan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan 4. Berjiwa pembaharu 5. Tidak kenal menyerah dan putus asa. Implementasi sikap patriotisme dalam kehidupan sehari hari : 1. Dalam kehidupan keluarga Menyaksikan film perjuangan, Membaca buku bertema perjuangan, dan Mengibarkan bendera merah putih pada hari-hari tertentu. 2. Dalam kehidupan sekolah Melaksanakan upacara bendera, mengkaitkan materi pelajaran dengan nilaiu-nilai perjuangan, belajar dengan sungguh-sungguh untuk kemajuan. 3. Dalam kehidupan masyarakat


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 37 Mengembangkan sikap kesetiakawanan sosial di lingkungannya, Memelihara kerukunan diantara sesama warga. 4. Dalam kehidupan berbangsa Meningkatkan persatuan dan kesatuan, Melaksanakan Pancasila dan UUD 1945, Mendukung kebijakan pemerintah, Mengembangkan kegiatann usaha produktif, Mencintai dan memakai produk dalam negeri, Mematuhi peraturan hukum, Tidak main hakim sendiri, Menghormati, dan menjungjung tinggi supremasi hukum, Menjaga kelestarian lingkungan.


38 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah E. Tata Krama (60 menit) Pengertian Tata Krama yang biasa disebut etiket telah menjadi bahan dalam hidup kita, ia telah menjadi persyaratan dalam hidup sehari-hari, malahan menjadi meningkat dan sangat berperan untuk memudahkan manusia diterima di masyarakatnya. Pada waktu anda masih kanak-kanak, secara tidak sadar orang tua anda telah melatih anda agar menerima pemberian orang dengan tangan kanan,lalu mengucapkan terima kasih. Kebiasaan ini merupakan tata cara yang lahir dalam hubungan antar manusia. Kebiasaan ini muncul karena adanya aksi dan reaksi dalam pergaulan. Sebagai contoh, kalau orang indonesia setuju dengan apa yang dikemukakan ia akan mengangguk- anggukan kepalanya. Sebaliknya di negeri lain ada yang menyatakan setuju dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Secara harfiah tata krama terdiri dari dua kata yaitu tata dan krama. Tata berarti adat, aturan, norma atau peraturan. Sedangkan krama berarti cara, langkah, tindakan, kelakuan atau perbuatan yang baik. Dengan demikian tata krama adalah tata cara, sopan santun,tata susila. Sebutan lain dari tata krama adalah etiket atau etika. Keduanya berasal dari yunani kuno yaitu ethikos dan ethos berarti cara yang baik, kesusilaan, tata krama. Tata krama terdapat dan diperlakukan dimana saja, dahulu sekarang dan yang akan datang. Pengalaman menunjukkan bahwa tata krama dapat menciptakan kebaikan, keselarasan, kedamainaan, kebahagiaan dan keselamatan. Pentingnya Tata Krama Orang tua anda juga melatih anda cara makan,minum, menyapa, memberi hormat, berbicara, berpakaian, dan bersikap jika ada tamu yang datang kerumah anda. Lama


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 39 kelamaan prilaku anda terbentuk menjadi suatu kebiasaan, tanpa memikirkan mengapa anda harus bertindak seperti yang demikian. Tata krama yang semula berlaku dalam lingkungan terbatas, lama kelamaan dapat merambat kelingkungan masyarakat yang lebih luas. Banyak manusia yang memiliki jenis manusia tipe durian, yaitu orang yang penampilannya tidak menarik, kasar, dan tidak mengundang simpati, namun berhati emas. Hatinya diliputi sifat-sifat terpuji, seperti rendah hati, suka memaafkan, suka menolong, dan menghargai orang, serta tidak menyakiti orang lain. Manusia tipe kedongdong akan dijauhi orang setelah merasakan betapa asam sifat-sifatnya. Disinilah letak betapa pentingnya tata krama. Orang yang mengenal dan menerapkannya akan melahirkan penampilan yang menarik seperti kulit kedongdong,dan perhatian itu tepancar dari hati seperti isi durian. Menurut pemaparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Pengertian Tata krama adalah kebiasaan sopan santun yang disepakati dalam lingkungan pergaulan antar manusia setempat. Tata krama terdiri atas tata dan krama. Tata berarti adat, aturan , norma, peraturan. Krama berarti sopan santun, kelakuan tindakan, perbuatan. Dengan demikian, tata krama berarti adab sopan santun, kebiasaan sopan santun, atau sopan santun. Perwujudan tata krama dalam pergaulan khususnya bagi pelajar ada 3 yaitu: Tata krama di lingkungan rumah (dalam keluarga) Keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam pembentukan jati diri dan kepribadiaan seseorang yang berhubungan langsung dengan anggota keluarga. Contoh: a. Menghormati orang tua dan melaksanakan perintahnya dengan baik


40 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah b. Menyambut ajakan orang dengan wajah riang dan gembira c. Menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda Bila diajak bicara harus memperhatikan d. Minta ijin pada orang tua sebelum berangkat sekolah e. Mengucapkan salam bila masuk dan keluar rumah. Tata krama di lingkungan sekolah Sekolah merupakan tempat bersosialisasi penting bagi anak dalam lembaga formal yang memiliki aturan yang harus dipatuhi. Contoh: a. Bersikap sopan pada guru dan karyawan b. Mengucapkan salam bila bertemu guru, karyawan dan teman c. Saling menghargai antar teman d. Mematuhi tata tertib sekolah Tata krama di lingkungan masyarakat Sebagai kontrol sosial yang berangkat dari kebiasaan, adat istiadat dan norma disebabkan dalam masyarakat merupakan tempat bertemunya berbagai lapisan masyarakat yang berbeda latar belakang serta budayanya. Contoh: a. Mengucapkan salam apabila bertemu orang yang lebih tua, saudara dan teman b. Membiasakan mengetuk pintu bila bertamu c. Tata cara makan untuk menikmati hidangan d. Saling menolong sesama tetangga e. Menghargai saran dan pendapat orang lain Komunikasi dalam pergaulan Komunikasi adalah proses pertukaran pesan yang dikirimkan seseorang kepada satu atau lebih penerima secara sadar dengan maksud untuk mempengaruhi tinngkah laku si penerima. Pesan yang dikirim bias berbentuk bahasa


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 41 verbal atau kata-kata, dan dalam bentuk non verbal seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh, penggunakan jarak mendekat atau menjauh, sentuhan, pakaian dan segala sesuatu yang dianggap memiliki makna. Kunci pokok keberhasilan komunikasi dalam pergaulan sehari-hari adalah: a. Perlakukan orang lain sebagaimana kita diperlakukan b. Menyadari adanya perbedaan setiap individu c. Perlu membuka diri agar tidak tertutup d. Memupuk rasa percaya dan rela berkorban Jenis-jenis tata karma Secara garis besar ada beberapa jenis tata krama yang erat kaitanya dalam kehidupan sehari-hari yaitu: 1. Tata krama berbicara Dalam berbagai hubungan antar manusia diperlukan pembicaraan antar sesama manusia. Tata krama dalam pembicaraan diantaranya sebagai berikut: a. Dengan siapa kita berbicara b. Menggunakan kalimat yang tepat c. Tempat dimana pembicaraan dilakukan d. Sikap ketika kita berbicara Adapun hal-hal yang perlu dihindari: a. Memotong pembicaraan orang lain b. Menguasai pembicaraan c. Tidak menatap atau memandang lawan bicara d. Tidak menghiraukan pembicaraan teman yang berbicara 2. Tata krama pergaulan Beberapa hal yang penting dalam etika bergaul antara lain: a. Siapa yang dihadapi (teman, orang tua, guru) b. Tempat dimana pergaulan itu berlangsung c. Bagaimana cara kita bersikap dan bertingkah laku


42 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Beberapa bentuk etika pergaulan yang baik: a. Memberi salam ketika bertemu seseorang yang kita kenal b. Perhatian terhadap orang lain c. Mengetuk pintu sebelum memasuki rumah orang lain d. Mengucapkan terimakasih setelah menerima bantuan dari orang lain e. Rendah hati, tidak menang sendiri f. Mohon maaf ketika melakukan kesalahan g. Siap member bantuan sesuai kemampuan h. Sanggup menyesuaikan diri dengan lingkungan i. Melakukan perintah dengan lapang dada 3. Tata krama dalam penampilan a. Rapi, pantas dan sederhana b. Cara berpakaian disesuaikan dengan waktu dan tempat c. Pilih pakaian yang tidak terlalu longgar dan tidak terlalu sempit d. Jangan asal mengikuti mode, karena belum tentu mode yang berlaku sesuai dengan keadaan


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 43 F. Kurikulum Merdeka Belajar (75 menit) Latar Belakang Apa itu Kurikulum Merdeka? Esensi dari Kurikulum Merdeka ini adalah Merdeka Belajar. Menteri Pendidikan Republik Indonesia, Nadiem Makarim menjabarkan bahwa Merdeka Belajar merupakan konsep yang dibuat agar siswa bisa mendalami minat dan bakatnya masing-masing. Misalnya, kata Nadiem, jika dua anak dalam satu keluarga memiliki minat yang berbeda, maka tolok ukur yang dipakai untuk menilai tidak sama. Kemudian anak juga tidak bisa dipaksakan mempelahari suatu hal yang tidak disukai. "Kita sebagai orangtua tentu tidak bisa memaksakan anak kita yang menyukai seni untuk belajar secara mendalam komputer dan sebaliknya," kata Nadiem. Nadiem mengatakan, anak itu pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu dan keinginan belajar. "Jadi tidak ada anak pemalas atau anak yang tidak bisa," tegasnya. Implementasi Merdeka Belajar Merdeka Belajar merupakan terobosan Kemendikbud-ristek untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul melalui kebijakan yang menguatkan peran seluruh insan pendidikan. Kebijakan ini diimplementasikan melalui empat upaya perbaikan, yaitu: 1. Perbaikan pada infrastruktur dan teknologi; 2. Perbaikan kebijakan, prosedur, dan pendanaan, serta pemberian otonomi lebih bagi satuan pendidikan 3. Perbaikan kepemimpinan, masyarakat, dan budaya, dan; 4. Melakukan perbaikan kurikulum, pedagogi, dan asesmen. Kurikulum Merdeka dirancang sebagai bagian dari upaya Kemendikbudristek untuk mengatasi krisis belajar yang telah lama kita hadapi, dan menjadi semakin parah karena pandemi. Krisis ini ditandai oleh rendahnya hasil


44 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah belajar peserta didik, bahkan dalam hal yang mendasar seperti literasi membaca. Krisis belajar juga ditandai oleh ketimpangan kualitas belajar yang lebar antar wilayah dan antar kelompok sosial-ekonomi. Tentu, pemulihan sistem pendidikan dari krisis belajar tidak bisa diwujudkan melalui perubahan kurikulum saja. Diperlukan juga berbagai upaya penguatan kapasitas guru dan kepala sekolah, pendampingan bagi pemerintah daerah, penataan sistem evaluasi, serta infrastruktur dan pendanaan yang lebih adil. Namun kurikulum juga memiliki peran penting. Kurikulum berpengaruh besar pada apa yang diajarkan oleh guru, juga pada bagaimana materi tersebut diajarkan. Karena itu, kurikulum yang dirancang dengan baik akan mendorong dan memudahkan guru untuk mengajar dengan lebih baik. Pokok-Pokok Kebijakan Merdeka Belajar Menindaklanjuti arahan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’ruf Amin untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, menetapkan empat program pokok kebijakan pendidikan “Merdeka Belajar”. Program tersebut meliputi Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN), Ujian Nasional (UN), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Zonasi. Perbandingan Pokok kebijakan kurikulum merdeka belajar dengan kurikulum sebelumnya dapat dilihat pada presentasi berikut ini:


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 45 Arah kebijakan baru penyelenggaraan USBN, kata Mendikbud, pada tahun 2020 akan diterapkan dengan ujian yang diselenggarakan hanya oleh sekolah. Ujian tersebut dilakukan untuk menilai kompetensi siswa yang dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis atau bentuk penilaian lainnya yang lebih komprehensif, seperti portofolio dan penugasan (tugas kelompok, karya tulis, dan sebagainya). “Dengan itu, guru dan sekolah lebih merdeka dalam penilaian hasil belajar siswa. Anggaran USBN sendiri dapat dialihkan untuk mengembangkan kapasitas guru dan sekolah, guna meningkatkan kualitas pembelajaran,” terang Mendikbud.


46 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Tahun 2020 merupakan pelaksanaan Ujian Nasional untuk terakhir kalinya. “Penyelenggaraan UN tahun 2021, akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter, yang terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter,” jelas Mendikbud. Pelaksanaan ujian tersebut akan dilakukan oleh siswa yang berada di tengah jenjang sekolah (misalnya kelas 4, 8, 11), sehingga dapat mendorong guru dan sekolah untuk memperbaiki mutu pembelajaran. Hasil ujian ini tidak digunakan untuk basis seleksi siswa ke jenjang selanjutnya. “Arah kebijakan ini juga mengacu pada praktik baik pada level internasional seperti PISA dan TIMSS,” tutur Mendikbud.


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 47 Sedangkan untuk penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Kemendikbud akan menyederhanakannya dengan memangkas beberapa komponen. Dalam kebijakan baru tersebut, guru secara bebas dapat memilih, membuat, menggunakan, dan mengembangkan format RPP. Tiga komponen inti RPP terdiri dari tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan asesmen. “Penulisan RPP dilakukan dengan efisien dan efektif sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk mempersiapkan dan mengevaluasi proses pembelajaran itu sendiri. Satu halaman saja cukup,” jelas Mendikbud.


48 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB), Kemendikbud tetap menggunakan sistem zonasi dengan kebijakan yang lebih fleksibel untuk mengakomodasi ketimpangan akses dan kualitas di berbagai daerah. Komposisi PPDB jalur zonasi dapat menerima siswa minimal 50 persen, jalur afirmasi minimal 15 persen, dan jalur perpindahan maksimal 5 persen. Sedangkan untuk jalur prestasi atau sisa 0-30 persen lainnya disesuaikan dengan kondisi daerah. “Daerah berwenang menentukan proporsi final dan menetapkan wilayah zonasi,” ujar Mendikbud.


Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 49 G. Gerakan Pramuka (60 menit) Pengertian Terdapat perbedaan antar istilah Pramuka, Kepramukaan dan Gerakan Pramuka. Adapun perdebaannya dapat dideskripsikan sebagai berikut: Pramuka adalah singkatan dari Praja Muda Karana, yang artinya orang-orang berjiwa muda dan suka berkarya. Kata berjiwa muda disini merupakan ukuran semangat untuk maju. Kepramukaan adalah nama kegiatan yang ada di dalam pramuka itu sendiri, kegiatan yang dimaksudkan disini adalah kegiatan yang menarik dan mengandung pendidikan. Ada banyak sekali kegiatan yang ada di Pramuka, sedangkan yang terakhir, Gerakan Pramuka adalah wadah atau organisasi tempat pramuka itu berkumpul dan menyelesaikan masalah secara bersama. tingkatan organisasi ini misalnya seperi Gerakan Pramuka Kwartir Daerah, Gugus depan dan lain sebagainya. Jadi secara harafiah, pramuka mengacu kepada orangnya, kepramukaan lebih menitikberatkan pada kegiatan yang ada dalam pramuka dan gerakan pramuka sendiri lebih mengacu kepada wadah/organisasi yang menaungi pramuka. Gerakan Pramuka Indonesia Gerakan Pramuka adalah lembaga yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi generasi muda Indonesia, Pendidikan dalam Gerakan Pramuka diselenggarakan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dengan menanamkam keterampilan kecakapan hidup (life skill) kepada para peserta didiknya. Dengan tujuan Mendidik generasi muda Indonesia agar menjadi manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha


50 Panduan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Esa, terampil, mandiri, bermental kuat, bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, keluarga, dan masyarakat. Dalam pendidikan kepramukaan anggota pramuka dibagi menjadi 4 golongan yaitu : 1. Golongan Siaga Terdiri dari anak usia 7-10 tahun dan di kelompokan berdasarkan Kecakapan yaitu Siaga Mula, Siaga Bantu dan Siaga Tata. 2. Golongan Penggalang Terdiri dari anak usia 11-15 tahun dan dikelompokan berdasarkan Kecakapan yaitu Penggalang Ramu, Penggalang Rakit dan Penggalang Terap. 3. Golongan Penegak terdiri dari anak usia 16-20 tahun dan dikelompokan berdasarkan Kecakapan yaitu Penegak Bantara dan Laksana. 4. Golongan Pandega terdiri dari anak usia 21-25 tahun dalam golongan Pramuka Pandega hanya ada satu Tingkatan Kecakapan yaitu Pandega. Sifat dan Fungsi Kepramukaan Berdasarkan Resolusi Konferensi Kepramukaan sedunia pada tahun 1924 bertempat di Kopenhagen Denmark Gerakan Kepramukaan mempunyai tiga sifat yaitu: 1. Nasional Artinya kepramukaan itu diselenggarakan di masingmasing Negara sesuai dengan kebutuhan Negara tersebut. 2. Internasional Artinya kepramukaan harus dapat mengembangkan rasa persaudaraan dan persahabatan antar sesama anggota kepanduan (pramuka) dan sebagai sesama manusia. 3. Universal, artinya kepramukaan itu dapat berlaku untuk siapa saja serta dapat diselenggarakan dimana saja.


Click to View FlipBook Version