MAKALAH
DASAR-DASAR PENERJEMAHAN AL-QURAN III
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar-Dasar Penerjemahan Al-Quran
Dosen Pengampu : Abdul Kholiq, MA.
Disusun oleh
Ahmad Quraisy Said (191410012)
Ahmad Shofa (191410013)
Fadlil Muttaqin (191410023)
INSTITUT PERGURUAN TINGGI ILMU AL-QURAN JAKARTA
FAKULTAS USHLUHUDDIN
JURUSAN ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR
TAHUN AKADEMIK 2020-2021
1
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, kami panjatkan
puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah dan inayah-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa kita curahkan
kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman
terang-benderang. Makalah ini berisi tentang dasar-dasar penerjemahan al-quran. Makalah ini
telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga
dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan dari
susunan kalimat, tata bahasa, maupun format makalah. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kedepannya kami dapat membuat
makalah yang lebih baik lagi.
27 September 2020
Penulis
2
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang ........................................................................................................... 4
4
Rumusan Masalah...................................................................................................... 4
Tujuan Makalah ......................................................................................................... 5
7
BAB II PEMBAHASAN 7
9
Taqdim wa Ta’khir..................................................................................................... 9
Tahdzif........................................................................................................................ 11
12
Ziyadah ......................................................................................................................
Tabdil .........................................................................................................................
Praktik Menerjemah Ayat ..........................................................................................
BAB III PENUTUP
Kesimpulan ................................................................................................................
Daftar Pustaka............................................................................................................
3
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Al-Quran adalah warisan Nabi Muhammad SAW yang paling berharga bagi umat
Islam, yang patut dijaga dan dilestarikan. Apabila para sahabat, tabi’in dan ulama-
ulama begitu gigih melestarikan Al-Quran dengan baik dengan pengumpulannya,
penulisannya, penafsirannya, dan penerjemahannya maka kita pun dituntut untuk
melestarikan Al-Quran dengan kemampuan yang kita miliki. Seperti dengan gerakan
penerjemahan Al-Quran ke dalam berbagai bahasa di dunia.
Penerjemahan Al-Quran menjadi penting karena stagnasi penerjemahan Al-Quran
akan dibarengi dengan penguatan penerjemahan destruktif, suatu upaya yang
sistematis yang sengja dibuat untuk membentuk opini publik yang tidak
menguntungkan umat Islam. Maka gerakan penerjemahan harus dihidupkan bukan
ditiadakan atau hanya cukup berdasarkan penerjemahan resmi pemerintah.
Dalam mempelajari dasar-dasar penerjemahan Al-Quran, diperlukan strategi-
strategi dan cara-cara tertentu agar memudahkan penerjemah dalam menerjemahkan
Al-Quran dari bahasa sumber (Bsu) ke dalam bahasa sasaran (Bsa).
b. Rumusan Masalah
1. Apa itu taqdim wa ta’khir ?
2. Apa itu tahdzif ?
3. Apa itu ziyadah ?
4. Apa itu tabdil ?
5. Bagaimana praktik menerjemah QS. As-Shaffat ayat 6-7, 83-86 dan 99?
c. Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui strategi dalam penerjemahan
2. Untuk memahami model dan dinamika penerjemahan Al-Quran
3. Untuk memahami praktik menerjemah Al-Quran
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Taqdim wa Ta’khir
Taqdim wa Ta’khir dalam Al-Quran adalah penyebutan suatu lafadz dengan
mendahulukan atau mengakhirkan atas lafad yang lain. Jika penyebutannya mendahului,
maka dalam hal ini adalah muqaddam. Sebaliknya, lafad yang disebutkan setelahnya
adalah muakhkhar.
Secara esensial, jika lafadz dalam redaksi Al-Quran yang mengandung muqaddam-
muakhkhar tersebut dibolak-balik, maka tidak mempengaruhi dari apa yang dikandung
olehnya. Namun, kaidah muqaddam dan muakhkhar ini bisa mempertegas apa yang
diinginkan oleh teks Al-Quran sekaligus memperindah dalam segi redaksinya.
Strategi ini mengharuskan seorang penerjemah mengedepankan kata dalam bahasa
sumber (Bsu) yang diakhirkan dalam bahasa sasaran (Bsa) dan mengakhirkan kata bahasa
sumber (Bsu) yang dikedepankan dalam bahasa sasaran (Bsa).1
Contoh :
654 3 2 1
Islam telah membatasi poligami
31 2 456
Pada contoh tersebut, kata dalam Bsu yang semula berurutan 123456, saat
diterjemahkan urutannya berubah menjadi 312456, ada yang kata asalnya didahulukan
dalam Bsu, kemudian ketika diterjemahkan kata tersebut diakhirkan. Ini terkait dengan
kaidah pembuatan kalimat antara Bsu dan Bsa yang berbeda. Dalam Bsu, dimungkinkan
kalimat dengan urutan 123456, sementara dalam Bsa tidak dimungkinkan adanya kalimat
dengan urutan kalimat seperti itu.
Pada kitab al-Itqan fi Ulum al-Quran, masalah ini dibagi menjadi dua macam.
Pertama, yang maknanya musykil, ditinjau dari sisi zahirnya. Ketika diketahui bahwa
hal itu termasuk dari bab yang didahulukan dan diakhirkan maka maknanya menjadi jelas.
Bagian ini layak untuk dijadikan kitab tersendiri. Ulama salaf telah memberikan perhatian
terhadap permasalahan ini pada beberapa ayat.
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Qatadah pada firman Allah :
َولَََت َعجََب َكََا َم َوالَ َهَمَوَأَوَلَدَهَمََإََنمَاَيَرَيََدَّللاَََأ َنَيَ َعَذبَ َهمََبَ َهاَفَىَالدَنَيَا
“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah
menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu” (QS. At-
Taubah: 85). Dia berkata, “Ini termasuk pembicaraan yang didahulukan dan diakhirkan.
Maknanya adalah ‘janganlah harta-harta dan anak-anak mereka itu menarik hatimu pada
kehidupan dunia. Tetapi Allah itu hendak menyiksa mereka di akhirat.”
1 Moch. Syarif, Tarjim Al-An; Cara Mudah Menerjemah Arab-Indonesia, h.29.
5
Dia meriwayatkan darinya pada ayat :
وََلوَ َلَكَلَمَةََسََبَقتََمَ َنَرَبَ َكَلَ َكانَََل َزامَاَ َوَأ َج َلَمَ َس َمى
“Dan sekiranya mereka tidak ada sesuatu ketetapan dari Allah yang telah terdahulu dan
tidak ada ajal yang telah ditentukan, pasti (adzab itu) menimpa mereka” (QS. Thaha:
129). Dia berkata, “Ini termasuk pembicaraan yang didahulukan dan diakhirkan.
Maknanya adalah ‘jika tidak karena ketetapan dan ajal yang pasti maka jadilah itu hal yang
pasti’.”
Kedua, yang maknanya tidak demikian. Al-‘Allamah Syamsuddin bin ash-Shaigh telah
menyusun sebuah kitab tentang hal ini yang berjudul al-Muqaddimah fi Sirril Alfadz al-
Muqaddamah. Dia berkata, “Hikmah yang umum pada masalah ini adalah untuk
memberikan perhatian kepadanya, seperti yang dikatakan oleh Imam Sibawaih di dalam
kitabnya, ‘Mereka mendahulukan sesuatu yang lebih penting untuk dijelaskan dan lebih
diperhatikan’.
Dia berkata, “Ini adalah hikmah secara global. Adapun penjelasan secara detail dan
terperinci terhadap permasalahan yang didahulukan dan diakhirkan pada Al-Qur’an maka
aku berpendapat ada sembilan macam sebab :
1. Untuk tabarruk, seperti mendahulukan nama Allah Ta’ala pada urusan-urusan yang
penting. Contohnya pada firman Allah Ta’ala :
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan
Dia. Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu juga
menyatakan yang demikian itu.” (QS. Ali Imran: 18).
2. Untuk ta’dzim (mengagungkan), seperti dalam firman Allah Ta’ala :
“Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisa: 69).
3. Untuk tasyrif, seperti :
Penyebutan orang yang hidup sebelum orang yang mati, contoh :
“Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari
yang hidup.” (QS. Al-An’am: 95)
Penyebutan laki-laki sebelum wanita, pada QS. Al-Ahzab ayat 35
Penyebutan orang yang merdeka sebelum budak, pada QS. Al-Baqarah ayat 178
Pendahuluan rasul daripada nabi, pada QS. Al-Hajj ayat 52
4. Untuk munsabah (persesuaian), yaitu berupa penyesuaian terhadap sesuatu yang lebih
dahulu disebutkan dalam konteks pembicaraan, seperti dalam firman Allah Ta’ala :
“Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.” (QS. Al-
Anbiya: 79).
5. Mendorong untuk mengerjakannya dan mengingatkan untuk tidak meremehkan,
seperti penyebutan wasiat dahulu daripada utang :
“... setelah wasiat yang dia wasiatkan atau utang...” (QS. An-Nisa: 11).
6
6. Keterdahuluan, yaitu dapat berupa keterdahuluan masa, seperti penyebutan malam
sebelum siang, kegelapan sebelum cahaya, Nabi Adam sebelum Nabi Nuh, dll.
“Allah telah memilih utusan-utusan Nya dari malaikat dan dari manusia.” (QS. Al-
Hajj: 45).
7. Untuk sababiyah (menunjukkan sebab), seperti mendahulukan peribadatan sebelum
permintaan pertolongan :
“Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan meminta pertolongan.” (QS. Al-
Fatihah: 5).
8. Menunjukkan lebih banyak :
“Maka diantara kalian ada yang beriman dan ada yang kafir.” (QS. At-Taghabun: 2).
9. Meningkat dari yang lebih rendah kepada yang lebih tinggi.
B. Tahdzif
Tahdzif adalah salah satu strategi dalam penerjemahan Al-Quran dimana penerjemah
harus membuang kata dalam Bsa yang disebut dalam Bsu.2
Contoh :
109 87 6 5 4 3 2 1
Suatu hari, Ahmad (pergi) mengunjungi ibunya
1 26 5 8 910
Pada contoh tersebut, jumlah kata dalam Bsu yang semula berjumlah 10 kata, ketika
diterjemahkan menjadi 7 kata. Ada beberapa kata yang tidak diterjemahkan, karena
kata-kata itu tidak perlu untuk kepetingan pengalihan Bsu ke Bsa. Bahkan, apabila
kata-kata itu dimunculkan dan tidak dibuang, maka mungkin pesannya menjadi
menyimpang.
C. Ziyadah
Kata Ziyadah secara etimologi berakar dari huruf د-ي- زyang berarti tambahan,
kelebihan. Secara terminologi, ulama berbeda pendapat tentang definisi ziyadah yang
satu sama lain saling berkaitan, meskipun ada perbedaan yang signifikan. Perbedaan
itu disebabkan tujuan mereka menggunakan ziyadah. Diantara ulama tersebut adalah:
- Ulama nahwu mengatakan bahwa ziyadah adalah lafadz yang tidak memiliki posisi
dalam i’rab. Artinya, ziyadah bagi mereka bukan terletak pada makna, tapi terletak
pada lafadz-lafadz tersebut. Begitupun yang dimaksud oleh ulama tashrif.
2 Moch. Syarif, Tarjim Al-an; Cara Mudah Menerjemahkan Arab-Indonesia, h.31
7
- Ulama bahasa berpendapat bahwa ziyadah adalah penambahan huruf atau lafadz
yang tidak mempunyai arti dan faedah sama sekali, hanya sebagai penghias kata.
- Ulama tafsir cenderung berpendapat sama dengan ulama nahwu, terlebih bahwa
ziyadah tidak mungkin terjadi dalam Al-Quran jika yang dimaksud ziyadah adalah
penambahan huruf atau lafadz yang tidak berfaedah atau sia-sia. Hanya ulama
tafsir memperingatkan agar waspada menggunakan istilah ziyadah karena dapat
menimbulkan kesalahpahaman dan kebimbangan dalam masyarakat awam.
Berdasarkan penjelasan tersebut, yang dimaksud ziyadah adalah penambahan huruf
atau lafadz yang mempunyai tujuan dan faedah tertentu yang tidak didapatkan ketika
lafadz tersebut dibuang. Namun, ketika makna dasarnya tidak rusak atau berubah.
Ziyadah dapat diartikan sebagai berikut :
ََحرصاَعلَى,َوَإَزالةََاللبسَوالغموضَعنه,إَ َضافَ َةََلفَ َظ َةَلَتَوَضََيحََاَل َم َعَنىَاَلمََق َصوََد
خلََفيَةَوثقافةَاللغةَالتيَيترجمَإليها
“TambahanَLafadzَuntukَmemperjelasَmaknaَyangَdimaksud,َdanَmenghilangkanَََ
kesamaranَdanَketidakjelasan darinya (makna), untuk menjaga perbedaan dan budaya
bahasa yang menjadi bahasa penerjemahan (Bsa).”3
Ziyadah merupakan salah satu strategi dalam penerjemahan Al-Quran. Disini
penerjemah diharuskan menambah kata dalam Bsa.4
Contoh :
543 2 1
Gratis atau tidak diperjualbelikan
1 12
Pada kata tersebut, kata dalam Bsu yang berjumlah 5 kata, cukup diterjemahkan dengan
satu kata atau dua kata saja. Ini terkait dengan kelaziman penggunaan konsep dari
struktur itu dalam Bsa. Kapan diterjemahkan menjadi gratis dan kapan diterjemahkan
menjadi tidak diperjualbelikan, sepenuhnya dikaitkan dengan konteks yang
melingkupinya.
3 Abdur Rahman Abu al-Majid, Tarjamah Ma’ani Al-Quran, diakses dari
https://www.alukah.net/sharia/0/7668/
4 Moch. Syarif, Tarjim Al-an; Cara Mudah Menerjemahkan Arab-Indonesia, h. 31.
8
D. Tabdil
Tabdil adalah :
اَ َستَ َخَدَمََلفَظَ َةَغيراللَفَ َظةََالَ َحَقَيقَةََلَيَ َص َلَالىَاَلمَ َعنىَالَ َمقَ َص َوَد
“ Menggunakan lafadz yang bukan merupakan lafadz yang hakiki (kiasan) untuk
sampai kepada makna yang dimaksud.”5
Tabdil adalah salah satu strategi penerjemahan Al-Quran dimana penerjemah harus
mengganti struktur kata dalam Bsu dengan memperhatikan makna dalam Bsa.6
Contoh :
يدَّللاَفوقَأيديه َم
Disini penerjemah bukan menggunakan terjemah ‘tangan’, tetapi dirubah dan
diperhatikan maknanya dalam Bsu, dan akhirnya dirubah dengan terjemah
‘kekuasaan’, karena tidak mungkin Allah menyerupai makhluk-Nya.
E. Praktek Menerjemah QS. As-Saffat ayat 6-7, 83-86, dan 99
QS. As-Saffat ayat 6-7
َو َحفظاَمنَكلَشيطانَمَارَد,إناَزيناَالسماءَالدنياَبزينةََالكواكب
“Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit dunia (yang terdekat) dengan hiasan
bintang-bintang (6), Dan (Kami) telah menjaganya dari setiap syaithan yang durhaka
(7).”
Dalam menerjemahkan kata حفظاdalam potongan ayat tersebut, yang secara kedudukan
i’rab sebagai maf’ul mutlaq, penerjemah menambahkan terjemahan dengan ‘Dan Kami
telah menjaganya’ dan tidak hanya menerjemahkan kata حفظاsemata, namun
menggunakan kata kerjanya/fi’ilnya agar mudah dipahami oleh pembaca. Dengan
demikian, penerjemah dalam hal ini melakukan strategi ziyadah dalam
menerjemahkannya.
Dalam menerjemahkan السماء َالدنيا, penerjemah juga menggunakan strategi ziyadah
untuk memberikan pemahaman yang lebih detail kepada pembaca bahwa lafadz َالدنيا
secara harfiah bermakna yang terdekat. Oleh karenanya, disamping menerjemahkan
secara istilahi, penerjemah menambahkan penjelasan makna الدنياdengan
menambahkan kata-kata yang terdekat yang dia gunakan sebagai penjelas dari terjemah
kata ‘langit’.
Ayat 83-86
َ,َإذَقالَِلبيهَوقوَمهَماََذاَتعبدون,َإذَجاءَربهَبقل َبَسليم,وإنَمَنَشيعتهََلبراهيم
َأَإفكاَءالهةَدونَّللاَتريدون
“Dan sungguh, Ibrahim termasuk golongannya (Nuh) (83), (Ingatlah) ketika dia
datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci (84), (Ingatlah) ketika dia berkata
5 Abdur Rahman Abu al-Majid, Tarjamah Ma’ani Al-Quran, diakses dari
https://www.alukah.net/sharia/0/7668/
6 Moch. Syarif, Tarjim Al-an; Cara Mudah Menerjemahkan Arab-Indonesia, h. 31.
9
kepada ayahnya dan kaumnya, ‘Apakah yang kamu sembah itu?’ (85), Apakah kamu
menghendaki kebohongan dengan sesembahan selain Allah itu (86).”
Dalam terjemahan ayat ini, penerjemah menggunakan strategi taqdim wa ta’khir,
dimana lafadz وانَمنَشيعتهdalam potongan ayat Al-Quran di atas terletak di awal ayat
diterjemahkan dengan didahulukan letaknya oleh penerjemah, dan dengan
mengakhirkan lafadz laibrahim. Hal ini dilakukan penerjemah untuk menyesuaikan
dengan uslub dan style bahasa sasaran, yaitu bahasa Indonesia, dimana dalam bahasa
Indonesia tidak dikenal struktur bahasa menerangkan-diterangkan (dalam bahasa Arab
yaitu khobar muqaddam dan mubtada muakhkhar).
Dalam menerjemahan potongan ayat 85, penerjemah melakukan strategi ziyadah
dimana penerjemah menambahkan terjemah kata ‘ingatlah’ dimana kata tersebut tidak
ada padanannya dalam Bsu, agar pembaca memberikan perhatian khusus pada kalimat
tersebut.
Dalam menerjemahan potongan ayat 86, penerjemah melakukan strategi taqdim wa
ta’khir, dimana penerjemah mendahulukan menerjemahkan lafadz َأتريدونdan
mengakhirkan terjemahan lafadz اإفكاَألهة
Ayatَ99
َوَقا َلَإَنَيَذَا َهبََاَلىَرََب َيَ َسَيهَدََي َن
“ Dan dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada
Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’”
Dalam potongan ayat 99, penerjemah menggunakan strategi ziyadah, dimana
penerjemah menambahkan terjemah kata ‘menghadap’ yang tidak terdapat padanan
katanya dalam Bsu, agar pembaca memahami alur makna dari ayat tersebut.
10
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Ada beberapa strategi dalam penerjemahan Al-Quran agar dapat memudahkan penerjemah
dalam menerjemahkan ayat-ayat Al-Quran, yakni :
1. Taqdim wa Ta’khir, yakni penyebutan suatu lafadz dengan mendahulukan atau
mengakhirkan atas lafad yang lain.
2. Tahdzif, yakni membuang kata dalam Bsa yang disebut dalm Bsu.
3. Ziyadah, yakni tambahanَlafadzَuntukَmemperjelasَmaknaَyangَdimaksud,َdanَ
menghilangkanََkesamaranَdanَketidakjelasan darinya (makna), untuk menjaga
perbedaan dan budaya bahasa yang menjadi bahasa penerjemahan (Bsa).
4. Tabdil, yakni menggunakan lafadz yang bukan merupakan lafadz yang hakiki (kiasan)
untuk sampai kepada makna yang dimaksud
Dalam praktik penerjemahan QS. As-Saffat ayat 6-7, 83-86, dan ayat 99, strategi yang
dilakukan penerjemah adalah memakai taqdim wa ta’khir dan ziyadah.
11
DAFTAR PUSTAKA
Abdur Rahman Abu al-Majid, Tarjamah Ma’ani Al-Quran, diakses dari
https://www.alukah.net/sharia/0/7668/
Hidayatullah, Mochammad Syarif. 2011. Tarjim Al-an; Cara Mudah Menerjemahkan Arab-
Indonesia. Jakarta: Dikara
Az-Zarqani. Abdul Azhim. Manahil al-Irfan fi ‘Ulum al-Quran. Mesir: Maktabah ‘Isa al-
Baby al-Halaby
As-Suyuthi, Al-Hafidz Jalaludin. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Quran. Mesir: Daar Alamiyyah
12