TITIK KOMA
; Pukul dua belas empat puluh lima siang.
Ketika tongkat penopang murid-murid itu melangkah lebar-lebar, Renjana justru masih
berpaku pada kanvas lima belas kali lima belas sentimeternya itu. Latarnya suram, cat acrylic
hitamnya terbuka lebar, menampak sisa-sisa cat yang berkerak. Renjana melirik, seisi ruangan
ini musnah. Manusia-manusia yang sebelumnya memenuhi bangku-bangku usang itu kini
sudah lenyap. Udara hangat keluar dari hidungnya. Belasan jam sudah ia berkutat dengan
kanvasnya.
Renjana bangkit, ia melangkah keluar dari kelas, meninggalkan kanvas dan segala
peralatannya di atas meja. Angin koridor selalu menyejukkan, semua murid di SMA Negeri 1
Kuta Selatan tahu itu. Sembari menikmati sejuknya angin yang menerbangkan beberapa helai
rambutnya, tiba-tiba terlintas suatu hal dipikiran Renjana, bahwa dirinya dapat menikmati
sejuknya angin di koridor sekolah ini hanya dalam beberapa bulan lagi, karena dalam hitungan
bulan ia akan lulus dan sudah harus meninggalkan sekolah ini. Meninggalkan semuanya.
Tak memakan waktu yang lama, lelaki jangkung menghampirinya. Semua orang tahu
bagaimana seorang Tambora Maharaja menganggap semua murid OSAKA adalah kawannya.
Dan kali ini, Renjana tentu akan menjadi kawannya yang lain.
“Kenapa sendirian?” bibir tipis itu bersuara selepas pemiliknya mensejajarkan
tubuhnya di sebelah Renjana.
Renjana mengalihkan kiblatnya, bukan main ia harus berhadapan dengan Tambora.
“Cuma mau nikmatin spot favorit aja.”
“Iya deh. Emang, ya, siswa-siswi disini, tuh, punya spot favoritnya masing-masing.”
“Dan kemudian kamu harus sadar kalau kita akan jarang nikmatin spot favorit kita lagi
di OSAKA. Hitungan bulan lagi, Tam.” Renjana berucap, rambutnya masih bermain dengan
angin. “Pengen, deh, sebelum lulus aku ninggalin sesuatu di tempat ini.”
Tambora melirik ke dalam kelas, mendapati peralatan Renjana menjadi satu-satunya
hal yang menarik netranya. “Kanvas itu?”
“Itu adalah satu utusan atas keinginanku sendiri, Tam. Sesuatu yang aku pengenin
untuk ninggalin jejak disini.” Renjana kembali berbalik, memusatkan netranya pada papan
identitas ruangan yang tergantung di atas pintu kelas. XII MIPA 2.
Tambora tiba-tiba saja melangkah masuk, tentu ia tertarik dengan kanvas suram itu.
“Mau ngelukis apa?”
Renjana kembali merasakan udara hangat melalui kedua lubang hidungnya. “Titik
koma.” ucapnya penuh penekanan.
Tambora tentu tidak paham. Wajahnya memelas meminta penjelasan.
Renjana kembali merebahkan tubuhnya dan meraih kuas catnya, bersiap melanjutkan
utusan atas keinginannya kembali. “Kamu tahu filosofi titik koma?” Tanyanya seraya
menyapu kuasnya dengan cat acrylic emas.
Tambora menggeleng.
“Kelas ini punya sisi humanisnya tersendiri untuk ngebentuk cerita masa-masa SMA-
ku, Tam.” Renjana mulai mengaplikasikan cat emasnya itu ke atas kanvas suram. Wajahnya
fokus, netranya meng-elang tak ingin berkedip. “OSAKA dan seluruh isinya selalu istimewa.
Ya walaupun kadang bikin kesel juga, sih.”
Tambora menaikkan bulan sabitnya, menyetujui penuturan terakhir Renjana.
“Dan sebentar lagi, empat bulan lagi, semua hal yang sebelumnya selalu mendekap kita
dalam hangat, akan langsung melepas kita hanya dalam satu jabat tangan perpisahan. OSAKA
nggak akan milik kita lagi yang akan berjuang di rentang masa selanjutnya, Tam.”
Tambora diam, tidak mudah baginya untuk membayangkan apa yang dimaksud seorang
seniman di hadapannya itu. Renjana masih menyapu kuasnya di atas kanvas, membentuk satu
hal yang Tambora sendiripun tak paham.
“Kembali lagi ke keinginanku yang tadi, aku pengen ninggalin jejak di SMA ini,
ninggalin satu hal untuk tempat yang selalu nerima aku di setiap harinya.” Renjana
menghentikan tangannya. “Titik koma, simbol yang pas untuk mereka yang sedang berjuang.
Seperti kita yang akan berjuang selepas meninggalkan tempat ini.”
Lelaki jangkung itu menegakkan badannya, menangkap benang merah yang sedari tadi
dicarinya.
“Kalau kata Amy Bluel, si Pencetus Projek Titik Koma, “sebuah tanda titik koma
digunakan ketika seorang penulis bisa memilih untuk mengakhiri kalimat, tapi mereka memilih
untuk tidak mengakhirinya”. Kita mungkin bisa memilih untuk mengakhiri kisah kita di
OSAKA, tapi di samping itu kita juga bisa memilih untuk tidak mengakhirinya. Maka titik
koma menjadi satu-satunya sekat yang ada untuk keduanya.” Renjana kini benar-benar
mengakhiri gerakan kuasnya.
Tambora melirik ke arah kanvas suram itu. Sebuah mahakarya dari rangkaian kalimat
si Seniman yang tiada henti itu telah selesai. Renjana tersenyum, ia lantas menegakkan kanvas
suramnya itu dan tersenyum akan hasil lukisannya sendiri.
Sebuah tanda titik koma berwarna emas telah terajut manis di atas kanvas suram.
;
sebuah tanda mata bahwa kami tidak ingin mengakhiri semua hal di OSAKA
; renjana maheswari