MUH. YUSUF
MUH. YUSUF DARMAWAN K.
PENGERTIAN HUKUM OHM
Dalam Ilmu Elektronika, Hukum dasar Elektronika
yang wajib dipelajari dan dimengerti oleh setiap
Engineer Elektronika ataupun penghobi
Elektronika adalah Hukum Ohm, yaitu Hukum
dasar yang menyatakan hubungan antara Arus
Listrik (I), Tegangan (V) dan Hambatan (R). Hukum
Ohm dalam bahasa Inggris disebut dengan
“Ohm’s Laws”. Hukum Ohm pertama kali
diperkenalkan oleh seorang fisikawan Jerman
yang bernama Georg Simon Ohm (1789-1854)
pada tahun 1825. Georg Simon Ohm
mempublikasikan Hukum Ohm tersebut pada
Paper yang berjudul “The Galvanic Circuit
Investigated Mathematically” pada tahun 1827.
HUKUM OHM 1
Bunyi Hukum Ohm
Pada dasarnya, bunyi dari Hukum Ohm adalah :
“Besar arus listrik (I) yang mengalir melalui sebuah penghantar
atau Konduktor akan berbanding lurus dengan beda potensial /
tegangan (V) yang diterapkan kepadanya dan berbanding
terbalik dengan hambatannya (R)”.
Secara Matematis, Hukum Ohm dapat dirumuskan
menjadi persamaan seperti dibawah ini :
V=IxR
I=V/R
R=V/I
Dimana :
V = Voltage (Beda Potensial atau Tegangan yang satuan
unitnya adalah Volt (V))
I = Current (Arus Listrik yang satuan unitnya adalah Ampere
(A))
R = Resistance (Hambatan atau Resistansi yang satuan
unitnya adalah Ohm (Ω))
Dalam aplikasinya, Kita dapat menggunakan Teori Hukum
Ohm dalam Rangkaian Elektronika untuk memperkecilkan Arus
listrik, Memperkecil Tegangan dan juga dapat memperoleh
Nilai Hambatan (Resistansi) yang kita inginkan.
Hal yang perlu diingat dalam perhitungan rumus Hukum Ohm,
satuan unit yang dipakai adalah Volt, Ampere dan Ohm. Jika
kita menggunakan unit lainnya seperti milivolt, kilovolt,
miliampere, megaohm ataupun kiloohm, maka kita perlu
melakukan konversi ke unit Volt, Ampere dan Ohm terlebih
dahulu untuk mempermudahkan perhitungan dan juga untuk
mendapatkan hasil yang benar.
HUKUM OHM 2
Contoh Kasus dalam Praktikum Hukum
Ohm
Untuk lebih jelas mengenai Hukum Ohm, kita dapat melakukan
Praktikum dengan sebuah Rangkaian Elektronika Sederhana
seperti dibawah ini :
Kita memerlukan sebuah DC Generator (Power Supply),
Voltmeter, Amperemeter, dan sebuah Potensiometer sesuai
dengan nilai yang dibutuhkan.
Dari Rangkaian Elektronika yang sederhana diatas kita dapat
membandingkan Teori Hukum Ohm dengan hasil yang
didapatkan dari Praktikum dalam hal menghitung Arus
Listrik (I), Tegangan (V) dan Resistansi/Hambatan (R).
HUKUM OHM 3
Menghitung Arus Listrik (I)
Rumus yang dapat kita gunakan untuk menghitung Arus Listrik
adalah I = V / R
Contoh Kasus 1 :
Setting DC Generator atau Power Supply untuk menghasilkan
Output Tegangan 10V, kemudian atur Nilai Potensiometer ke 10
Ohm. Berapakah nilai Arus Listrik (I) ?
Masukan nilai Tegangan yaitu 10V dan Nilai Resistansi dari
Potensiometer yaitu 10 Ohm ke dalam Rumus Hukum Ohm
seperti dibawah ini :
I=V/R
I = 10 / 10
I = 1 Ampere
Maka hasilnya adalah 1 Ampere.
Contoh Kasus 2 :
Setting DC Generator atau Power Supply untuk menghasilkan
Output Tegangan 10V, kemudian atur nilai Potensiometer ke 1
kiloOhm. Berapakah nilai Arus Listrik (I)?
Konversi dulu nilai resistansi 1 kiloOhm ke satuan unit Ohm. 1
kiloOhm = 1000 Ohm. Masukan nilai Tegangan 10V dan nilai
Resistansi dari Potensiometer 1000 Ohm ke dalam Rumus
Hukum Ohm seperti dibawah ini :
I=V/R
I = 10 / 1000
I = 0.01 Ampere atau 10 miliAmpere
Maka hasilnya adalah 10mA
HUKUM OHM 4
Menghitung Tegangan (V)
Rumus yang akan kita gunakan untuk
menghitung Tegangan atau Beda Potensial
adalah V = I x R.
Contoh Kasus :
Atur nilai resistansi atau hambatan (R)
Potensiometer ke 500 Ohm, kemudian atur
DC Generator (Power supply) hingga
mendapatkan Arus Listrik (I) 10mA.
Berapakah Tegangannya (V) ?
Konversikan dulu unit Arus Listrik (I) yang
masih satu miliAmpere menjadi satuan unit
Ampere yaitu : 10mA = 0.01 Ampere.
Masukan nilai Resistansi Potensiometer 500
Ohm dan nilai Arus Listrik 0.01 Ampere ke
Rumus Hukum Ohm seperti dibawah ini :
V=IxR
V = 0.01 x 500
V = 5 Volt
Maka nilainya adalah 5Volt.
HUKUM OHM 5
Menghitung Resistansi / Hambatan (R)
Rumus yang akan kita gunakan untuk
menghitung Nilai Resistansi adalah R = V / I
Contoh Kasus :
Jika di nilai Tegangan di Voltmeter (V) adalah
12V dan nilai Arus Listrik (I) di Amperemeter
adalah 0.5A. Berapakah nilai Resistansi pada
Potensiometer ?
Masukan nilai Tegangan 12V dan Arus Listrik
0.5A kedalam Rumus Ohm seperti dibawah ini
:
R=V/I
R = 12 /0.5
R = 24 Ohm
Maka nilai Resistansinya adalah 24 Ohm
HUKUM OHM 6