The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by hidayahsusatri38, 2023-01-06 07:09:24

BP_Hidayah Susatri, S.Pd., M.Pd

BP_Hidayah Susatri, S.Pd., M.Pd

PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN
BERDIFERENSIASI MENGGUNAKAN METODE
COACHING DAN MEDIA GOOGLE SITES

MAKALAH BEST PRACTICE PENGAWAS

Oleh

Nama : Hidayah Susatri, S. Pd, M. Pd.
NIP : 197403081999032004
NUPTK : 364075263300012
Jabatan : Pengawas SMP

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MALANG
PROVINSI JAWA TIMUR
TAHUN 2022

i

LEMBAR PERNYATAAN ORISINILITAS KARYA
Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : Hidayah Susatri, S.Pd, M.Pd

NIP : 197403081999032004

NUPTK : 3640752653300012
Jabatan : Pengawas SMP

Instansi : Dinas Pendidikan Kabupaten Malang

Provinsi Jawa Timur

Judul Laporan : Pendampingan Implementasi Pembelajaran

Berdiferensiasi Menggunakan Metode Coaching dan

Media Google Sites

Menyatakan bahwa Laporan Best Practice yang disusun seluruhnya asli karya

sendiri, bukan plagiat.

Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya. Demikian pernyataan ini

dibuat dengan sebenarnya.

Malang, 20 Desember 2022
Yang Menyatakan,

Hidayah Susatri, S.Pd, M.Pd
NIP.197403081999032004

ii

LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini mengesahkan Makalah Best Practice Pengawas yang
berjudul : Pendampingan Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Menggunakan
Metode Coaching dan Media Google Sites., yang dibuat oleh :

Nama : Hidayah Susatri, S.Pd., M.Pd
Jabatan : Pengawas SMP
Kabupaten : Malang
Provinsi : Jawa Timur

Malang, 20 Desember 2022
Koordinator Pengawas,
Dinas Pendidikan Kab. Malang

Parkiyo, S.Pd, M.Pd
NIP. 196304281984031002

iii

PENDAMPINGAN IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN
BERDIFERENSIASI MENGGUNAKAN METODE COACHING

DAN MEDIA GOOGLE SITES

Hidayah Susatri, S. Pd., M. Pd.
Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kab.Malang, Jawa Timur

ABSTRAK

Makalah ini berisikan tentang gambaran kegiatan pengawas selama melaksanakan
pendampingan terhadap guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi pembelajaran
berdiferensiasi pada empat sekolah binaan. Kurikulum Merdeka Mandiri Berubah yang
dilaksanakan di tahun pembelajaran 2022/2023 merupakan kurikulum yang dipilih oleh sekolah
yang terlibat dalam pendampingan. Dengan memilih IKM Level 2 ini berarti pembelajaran
berdiferensiasi merupakan bentuk pembelajaran yang harus dilaksanakan guru di sekolah.
Berdasarkan coaching yang dilakukan kepada guru dan kepala sekolah, diperoleh bahwa ternyata
guru masih belum memahami tentang pembelajaran berdiferensiasi, dan kepala sekolah pun
masih kesulitan bagaimana melaksanakan supervisinya. Untuk itu maka dilakukanlah
pendampingan implementasi dan supervisi menggunakan metode coaching dan media Google
Sites. Coaching yang dilakukan menggunakan model GROW dan Google Sites digunakan sebagai
panduan bagi guru dalam membuat perencanaan sekaligus tempat untuk mendokumentasikan
produk dan proses pembelajaran. Hasil pendampingan menunjukkan bahawa guru dapat
melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dan kepala sekolah juga mampu melaksanakan
supervisi kelas dengan baik. Satu hal yang masih harus ditingkatkan adalah ketrampilan guru
dalam menyusun instrumen penilaian dan melaksanakannya di kelas.

Kata Kunci: Pembelajarn Berdiferensiasi, Coaching, Google Sites

A. PENDAHULUAN
Sejak ditetapkan Surat Keputusan Final Badan Standar Kurikulum dan Asesmen

Pendidikan (BSKAP) nomor 034/H/KR/2022 tentang Satuan Pendidikan Pelaksana
Implementasi Kurikulum Merdeka secara mandiri dengan tiga pilihan yakni pilihan 1 :
mandiri belajar, pilihan 2 : mandiri berubah, dan pilihan 3 : mandiri berbagi pada tahun
pelajaran 2022/2023, semua sekolah tak terkecuali 23 sekolah negeri dan swasta di
Wilayah Kecamatan Gondanglegi yang menjadi binaan penulis selaku pengawas sekolah
Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, berpacu untuk menyiapkan diri dan mempelajari
bagaimana mengimplementasikan Kurikulum Merdeka, mulai dari menganalisis Capaian
Pembelajaran (CP), Menyusun Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), modul ajar dan yang
paling banyak muncul pertanyaan adalah bagaimana menyiapkan Proyek Penguatan

1

Profil Pelajar Pancasila (P5) sebagai kegiatan kokurikuler yang berbeda dengan proyek
mata pelajaran di kurikulum 2013. Satu hal lagi yang terpenting bagi guru adalah
bagaimana mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi yang mengakomodir
kebutuhan siswa di kelas mereka. Setelah memiliki dokumen CP, ATP, guru harus berpikir
bagaimana menyusun RPP atau modul ajarnya, menentukan asesmen dan membuat
instumen yang tepat, serta seperti apa pelaksanaannya di dalam kelas. Meski sudah ada
contoh di PMM dan boleh mengadopsi contoh yang disediakan, namun belum semua
mata pelajaran modulnya tersedia dengan cukup, di samping itu sebagai guru memang
dituntut untuk mau dan mampu menyusun rancangan pembelajaran sendiri agar
pembelajarannya menjadi menarik, menyenangkan, dan bermakna bagi siswa dengan
mengakomodir kesiapan belajar, gaya belajar, dan minat siswa seperti yang sedang
dikembangkan di kurikulum merdeka sekarang ini.

Sebagai seorang pengawas dengan sekolah binaan yang cukup banyak di mana
ada hampir 400 guru membuat penulis harus berpikir bagaimana melaksanakan
pembinaan dan pendampingan Implementasi Kurikulum Merdeka di masing-masing
sekolah binaan agar berjalan efektif dan efisien karena waktu yang tersedia di awal tahun
pelajaran 2022/2023 sangatlah terbatas, hanya sekitar 2 minggu di awal bulan Juli 2022
kemarin, belum lagi harus mempersiapkan (membina dan mendampingi 3 sekolah yang
harus melaksanakan visitasi akreditasi sekolah), serta agenda kegiatan sekolah yang
sangat padat di akhir tahun, sehingga sekolah rata-rata baru mempersiapkan Kurikulum
Merdeka di sekolahnya setelah proses PPDB selesai dan mereka mendapat kepastian
tentang SK Penetapan sekolah pelaksana IKM mandiri sesuai pilihan masing-masing
sekolah. Ada juga beberapa sekolah yang sudah menjemput bola dengan mengadakan
workshop lebih dulu untuk menyongsong kurikulum merdeka.

Kabupaten Malang ditetapkan sebagai pelaksana PSP Angkatan 3 yang baru akan
dilaksanakan tahun depan, dan alhamdulillah penulis lolos sebagai Fasilitator PSP
Angkatan 3 dengan 2 sekolah swasta binaan yang sudah ditetapkan menjadi Sekolah
Penggerak, semoga akan banyak manfaat untuk tugas pokok dan fungsi penulis sebagai
pengawas baru. Perlu juga diketahui 23 sekolah binaan ini terdiri dari 2 sekolah negeri
dan 21 sekolah swasta yang semuanya berbasis pondok pesantren. Di antaranya ada 5

2

sekolah yang baru berdiri dan sangat perlu pembinaan dan pendampingan dalam segala
hal. Selain sekolah negeri dan beberapa sekolah swasta besar, rata-rata di tiap sekolah
sangat terbatas GTK nya yang sudah terdaftar di dapodik dan memiliki akun belajar.id,
bahkan ketika penulis bertanya ada yang belum tahu apa itu akun belajar.id. Beberapa
sekolah juga masih sangat kurang kompetensi dan pengalaman gurunya, ada yang masih
kuliah sudah mengajar, kuliahnya pun asal (bukan LPTK yang memang mencetak guru
profesional), mengajarnya pun masih banyak yang tidak sesuai kualifikasi akademiknya,
lulusan pesantren langsung mengajar (sebagai bentuk pengabdian) juga ada dan tentunya
sambil mulai kuliah.

Sebagai pengawas yang baru bertugas sejak Januari 2022 (sebelumnya sebagai guru)
hal ini merupakan tantangan besar yang harus ditemukan solusinya, memang semua
masih belajar tentang kurikulum merdeka dan sebagai pengawas harus belajar dan tahu
lebih dulu agar dapat membimbing Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) di wilayah
binaan. Alhamdulillah banyak yang bisa kita peroleh melalui Platform Merdeka Mengajar
(PMM) di samping mengikuti sesi-sesi webinar yang dilaksanakan oleh Kemdikbudristek
dan APSI. Pada bulan Maret 2022 penulis sudah melaksanakan workshop/pembinaan
tentang pemanfaatan akun belajar.id, mulai dari aktivasi akun, mempelajari beberapa
fitur Google Workspace for Education yang sangat diperlukan oleh guru dan tenaga
kependidikan seperti gmail, google slide, google drive, dan google formulir, serta
sosialisasi Platform Merdeka Mengajar yang sangat diperlukan oleh guru dalam mencari
referensi dalam Implementasi Kurikulum Merdeka saat ini.

Saat menjadi guru penulis memiliki cukup pengalaman yang dapat memberikan bekal
dalam melakukan tugas sebagai pengawas. Pengalaman itu di antaranya adalah menjadi
Waka Kurikulum di sekolah, menjadi Instruktur dan Pendamping Implementasi
Kurikulum 2013 selama 4 tahun, menjadi mentor daring Program Guru Pembelajar,
menjadi IN program Peningkatan Keprofesian Berkelanjutan (PKB), menjadi Guru Inti
Program Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP), menjadi Ketua MGMP
Matematika SMP Kabupaten Malang dengan lebih dari 550 anggota, menjadi Fasilitaor
Program Organisasi Penggerak (POP), serta memiliki kemampuan IT yang cukup karena
penulis juga sering memberikan pelatihan online baik tentang fitur-fitur Microsoft

3

maupun Google. Saat ini penulis sudah selesai mengikuti Program Google Master Trainer
(GMT) Level 3 dan lolos menjadi Google Certified Educator (GCT), menjadi mentor
teman-teman GMT Level 1, sekaligus telah mengikuti Program Persiapan Trainer untuk
Program Orbit Guru Merdeka Kerjasama Microsoft dan Kemdikbud yang akan segera
digelar pelatihannya. Dengan Menjadi Google Certified Educator dan Google Certified
Trainer, penulis mendapat kesempatan mempelajari PMM lebih dulu sekaligus diundang
menjadi kontributornya. Berbekal pengalaman dan kemampuan IT yang cukup penulis
sudah melakukan pembimbingan dan pendampingan baik luring maupun daring agar
waktunya bisa efisien sesuai kebutuhan.

Ketika sekolah sudah memilih opsi IKM minimal level 2 yakni mandiri berubah,
maka gurunya harus memahami tentang apa dan bagaimana pembelajaran berdiferensiasi.
Selanjutnya setelah memahami, yang harus dilakukan guru adalah bagaimana
melaksanakannya dalam pembelajaran mereka. Menurut Tomlinson (2014),
pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di
kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. Pembelajaran
berdiferensiasi merupakan serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang
dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Terdapat beberapa hal yang
harus dipersiapkan guru sebelum menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Tomlinson
(2014) menyampaikan bahwa kita dapat mengkategorikan kebutuhan belajar murid, paling
tidak berdasarkan 3 aspek. Ketiga aspek tersebut adalah kesiapan belajar (readiness) murid,
minat murid, dan profil belajar murid.

Salah satu aspek terpenting dalam strategi pembelajaran berdiferensiasi adalah aspek
kesiapan belajar. Kesiapan belajar (readiness) adalah kapasitas untuk mempelajari materi
baru. Sebuah tugas yang mempertimbangkan tingkat kesiapan murid akan membawa murid
keluar dari zona nyaman mereka, namun dengan lingkungan belajar yang tepat dan dukungan
yang memadai, mereka tetap dapat menguasai materi baru tersebut. mengatakan bahwa
merancang pembelajaran berdiferensiasi mirip dengan menggunakan tombol equalizer
pada mixer, stereo atau pemutar CD. Menurut Pratama (2022), menerapkan strategi
pembelajaran berdiferensiasi yang tepat akan mampu meningkatkan kualitas
pembelajaran di kelas termasuk dalam kegiatan pembiasaan membaca.

4

Menurut Pane (2022), model Pembelajaran Differensiasi memiliki pengaruh terhadap
kemampuan berpikir kreatif, dapat diterapkan oleh guru kepada murid sehingga proses
pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Sedangkan menurut Herwina, W. (2021),
pembelajaran berdiferensiasi mampu membantu murid mencapai hasil belajar optimal,
karena produk yang akan mereka hasilkan sesuai minat mereka. Oleh karenanya proses
pembelajaran berdiferensiasi harus memberikan ruang yang luas kepada murid untuk
mendemostrasikan apa-apa yang telah mereka pelajari. Produk yang dihasilkan oleh
murid dapat disajikan dalam sebuah artikel, lagu, puisi, infografis, poster, video
performance, video animasi atau bentuk lain sesuai keterampilan dan minat kelompok
masing-masing. Selain itu, karena kreativitas abad 21 akan terus berkembang, maka
pembelajaran diferensiasi termasuk pendekatan yang sangat direkomendasikan untuk
diterapkan dalam pembelajaran sehingga mempermudah ketercapaian tujuan
pembelajaran.

B. MASALAH UTAMA DAN PEMBAHASAN

Fokus pada pelaksanaan pendampingan Implementasi Pembelajaran
Berdiferensiasi penulis menggunakan metode coaching dengan media Google Sites. Pada
bulan April 2022 penulis sempat diundang pelatihan untuk 20 pengawas semua jenjang
oleh LPPKSPS (sebelum resmi menjadi BBGP Jateng) untuk 3 propinsi melalui seleksi
online, materinya tentang coaching. Dari Jawa Timur hanya 4 pengawas dari jenjang SD,
SMP, SMA dan SMK. Hasilnya sangat berguna bagi penulis dalam melaksanakan
pendampingan. Berbekal ilmu tentang coaching yang diperoleh, penulis sudah
mengcoaching Kepala Sekolah dan sebagian guru di sekolah binaan menggunakan
coaching model GROW (Goal, Reality, Option, Will). Menurut Whitmore (2010),
coaching memberikan hasil dalam jumlah besar karena hubungan kerja yang kuat
diciptakan, dan sarana serta gaya komunikasi yang digunakan. Orang yang dibina
(coachee) memperoleh fakta dan mengembangkan keterampilan dan perilaku baru, bukan
dengan diberitahu atau diajar tetapi dengan menemukan dari dalam, dirangsang oleh
pembinaan. Tentu saja, tujuan untuk meningkatkan kinerja adalah yang terpenting.
Menurut Kauffman, C., & Bachkirova, T. (2008), coaching membantu membangun
tanggung jawab ke dalam diri orang lain (coachee) dengan meningkatkan kemampuan

5

mereka untuk membuat pilihan dan memiliki keputusan sendiri. Sementara menurut
Smith (2017), coaching dapat dianggap sebagai proses eksplorasi tentang mendukung dan
membimbing orang untuk mewujudkan tujuan mereka sendiri untuk meningkatkan
kinerja mereka atau mewujudkan resolusi.

Berdasar hasil coaching dengan Kepala Sekolah dan guru baik secara daring maupun
luring selama bulan Mei-Juni, maka di awal bulan Juli sebelum memasuki tahun pelajaran
baru 2022/2023 penulis mengadakan pembinaan berbentuk workshop/pelatihan dalam
persiapan Implementasi Kurikulum Merdeka. Karena banyaknya sekolah dengan waktu
terbatas sekolah binaan dikelompokkan menjadi 4 kelompok dengan sekolah besar
sebagai tempat pelaksanaan. Pelatihan di masing-masing tempat berpola in-on-in. In
pertama berdurasi 2 hari full dengan materi semua tentang Kurikulum Merdeka termasuk
Pembelajaran Berdiferensiasi, dengan dilanjutkan tugas on untuk praktik menyusun
KOSP/KTSP, Menyusun ATP dan modul ajar berdiferensiasi. Setelah memasuki awal
tahun pelajaran penulis melanjutkan pembinaan di masing-masing kelompok (in 2),
sampai akhirnya dokumen tiap sekolah siap di tandatangani, dijilid dan disyahkan.

Pada saat melakukan monev ANBK, penulis mengajak berdiskusi (coaching ) dengan
3 Kepala Sekolah dengan opsi Kurikulumnya sama yakni opsi 2 (Mandiri Berubah) dan
2 Kepala Sekolah yang gurunya mengikuti Program Organisasi Penggerak (POP),
kebetulan juga modul yang dipelajari saat itu adalah tentang Pembelajaran Berdiferensiasi
dan penulis merupakan salah satu fasilitatornya. Dari hasil coaching mereka
menginginkan agar penulis memberikan contoh bagaimana melaksanakan supervisi kelas
agar guru-guru mau dan mampu menerapkan pembelajaran berdiferensiasi yang
merupakan hal baru bagi mereka. Tiga sekolah itu terdiri dari satu sekolah negeri dengan
Kepala Sekolah baru atau mutasi dari sekolah lain dan baru memiliki masa kerja sebagai
KS selama 6 bulan dan merupakan KS Cadangan PSP, dua sekolah lain adalah sekolah
swasta yang satu KS baru juga dan lolos PSP dan satunya KS senior tapi belum lolos dan
berhenti di seleksi tahap 2 PSP. Ketiganya ingin benar-benar mengerti tentang
pembelajaran berdiferensiasi. Untuk 2 KS yang lain adalah sekolah swasta, yang juga
menginginkan penulis mendampingi gurunya yang mengikuti Program Organisasi
Penggerak (POP) dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi di kelas.

6

Dalam fokus pendampingan implementasi pembelajaran berdiferensiasi di sekolah
binaan, kegiatan yang penulis lakukan adalah sebagai berikut :
1. Membentuk grup Whatshapp

Grup ini adalah grup whatshapp baru selain grup KS dan Waka Kurikulum yang
sudah ada untuk mengawali kegiatan pendampingan agar informasi bisa disampaikan
dan diterima dengan fokus. Grup terdiri dari KS dan guru-guru yang terlibat dalam
pendampingan. Masing-masing sekolah ada yang 4 guru, 3 guru, dan 2 guru dengan
mapel bervariasi.
2. Membuat media Google Sites

Menurut Harsianto (2017), Google Sites merupakan salah satu produk dari
google sebagai tools untuk membuat situs, menarik untuk dipelajari, gratis dan
mudah dibuat. Google Sites memungkinkan pengguna untuk berkolaborasi dalam
pemanfaatannya. Tersedia penyimpanan online dan dapat ditelusuri dengan mesin
pencarian google. Pengguna dapat mengupload dan mengunduh dokumen dalam
berbagai file dengan mudah. Menurut Nyoto (2020), yang menarik dari google sites
adalah kita dapat membuat website secara terstruktur dengan aksesori yang menarik
tanpa harus memiliki kemampuan pemrograman. Semua proses penambahan
halaman dapat dilakukan melalui proses wizard yang mudah. Dengan bekal
pengalaman menjadi Google Certified Trainer (GCT) dan seringkali memberikan
pelatihan tentang pembuatan Google Sites, maka dalam pendampingan implementasi
pembelajaran berdiferensiasi ini penulis menguunakan media Google Sites.

Gambar 1. Halaman Muka Media Google Sites

7

Media Google Sites dibuat untuk membantu dan memberikan panduan bagi guru
dan KS pada proses pendampingan. Dalam Google Sites terdiri dari beberapa
halaman yang masing-masing isinya dijelaskan sebagai berikut :
a. halaman “muka/home” berisi ucapan selamat datang dan tombol-tombol untuk

menuju ke halaman lain,
b. halaman “panduan” berisi tentang materi pdf, google slides terkait pembelajaran

berdiferensiasi yang berasal dari kemdikbudristek, dan powerpoint yang dibuat
ketika penulis menjadi narasumber suatu kegiatan,
c. halaman “contoh RPP Berdiferensiasi” dibuat agar dapat dijadikan referensi
bagi guru dalam menyusun modul ajar/RPP. Di dalamnya juga terdapat tautan
padlet tentang referensi pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi.
d. halaman “instrumen pengamatan pembelajaran” sebagai acuan dalam praktik
pembelajaran, instrument dibuat sendiri oleh penulis dengan mengacu pada
regulasi yang berlaku, untuk model penulisan bebas, yang terpenting selain ada
kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup, guru juga harus mengembangkan
ketrampilan 4C, mengembangkan literasi, mengembangkan penguatan karakter
Profil Pelajar Pancasila, dan berbasis HOTS, yang sudah baik di Kurikulum 2013
tetap harus dilanjutkan,
e. halaman “video” berisi beberapa contoh video praktik baik guru penggerak/guru
di sekolah penggerak yang sudah melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi.
f. halaman “RPP implementasi” berisi tautan link google drive untuk guru
mengupload RPP yang dibuat sendiri atau modifikasi dari PMM dan digunakan
guru di kelas pendampingan. Penulis memberikan masukan jika sebelum
pendampingan di kelas guru sudah mengumpulkan RPP. Namun sebagian besar
guru baru upload RPP ketika hari itu ada pendampingan, sehingga harus ada
revisi setelah pelaksanaan.
g. halaman “dokumentasi” berisi foto-foto dan link cuplikan video masing-masing
guru saat pendampingan.
Secara lengkapnya halaman-halaman Google Sites tersebut disajikan pada
gambar berikut ini :

8

Gambar 2. Halaman-halaman Google Sites

Setelah memberikan panduan melalui Google Sites selama dua minggu, penulis
kemudian menyusun dan membagikan jadwal pendampingan dengan satu sekolah
maksimal dua hari pendampingan. Dalam pelaksanaan pendampingan, penulis
bersama Kepala Sekolah mendampingi guru selama 2 jam pelajaran penuh,
mengamati dan mendokumentasikan poin-poin penting yang muncul dalam kegiatan
pembelajaran. Jika ada waktu penulis mengajak guru berbincang sebentar terkait
kesiapannya sebelum masuk kelas, tetapi banyak yang tidak sempat karena sudah
harus berganti kelas ketika satu guru selesai mengajar. Setelah guru melaksanakan
pembelajaran penulis berbincang dengan guru, meminta guru merefleksi
pembelajarannya, bagaimana perasaannya mengajar sambil didampingi, sudahkah
sesuai dengan perencanaan yang dibuat, dan yang terpenting menyampaikan catatan
pada saat pengamatan, menunjukkan kelebihan guru dan memberi alternatif solusi
dan masukan terhadap kekurangan yang ada. Guru minta dimerevisi RPP sesuai
catatan yang diberikan dan hasil revisi diupload di halaman RPP Implementasi pada
Google Sites. Kegiatan pendampingan di kelas ini memerlukan waktu 5 hari dalam
kurun dua minggu untuk seluruh guru yang dilibatkan.

9

Dari hasil instrumen pengamatan pembelajaran menunjukkan bahwa dari 12 guru
yang melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi bisa digambarkan seperti berikut :

Gambar 3. Diagram hasil instrumen pengamatan
Jika dirinci dari 13 poin dalam instrumen pengamatan yang ada maka diperoleh bahwa
guru sudah melaksanakan kegiatan pendahuluan yakni melakukan apersepsi,
memberikan motivasi dan menyampaikan tujuan pembelajaran dengan sangat baik,
tetapi baru 3 guru yang sudah menyampaikan rencana kegiatan pembelajaran kepada
siswa secara lengkap dan baik sebelum masuk ke kegiatan inti. Pada kegiatan inti
sendiri tercatat semua guru sudah melaksanakan diferensiasi dalam pembelajaran.
Diferensiasi pembelajaran yang dilakukan bervariasi ada 2 guru yang melakukan satu
jenis diferensiasi yakni diferensiasi proses, ada 9 guru melakukan dua jenis diferensiasi
misalnya konten dan proses, proses dan produk, konten dan produk atau dua jenis yang
lain, serta baru ada 1 guru yang melakukan diferensiasi 3 jenis sekaligus yakni konten,
proses, dan produk. Tercatat juga 8 guru sudah mengembangkan kegiatan literasi siswa
dengan baik seperti literasi membaca, literasi numerasi, dan literasi digital.

Semua guru sudah mengembangkan karakter yang terdapat dalam 6 dimensi Profil
Pelajar Pancasila. Ada 8 guru yang sudah mengembangkan ketrampilan abad 21
(berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif) dengan baik. Untuk poin
penilaian baru 3 orang guru yang sudah menyusun instrumen dan melakukan penilaian
dengan baik mencakup ranah sikap, pengetahuan, dan ketrampilan serta sesuai dengan

10

panduan penilaian. Karena setiap guru sudah melakukan diferensiasi dalam
pembelajaran berdasarkan hasil asesmen diagnostik baik kognitif maupun non kognitif
maka hampir semua siswa terlibat aktif dalam pembelajaran, meskipun siswa pondok
yang padat kegiatan ternyata tidak ada yang mengantuk dalam proses pembelajaran.

Berikut ini disajikan kumpulan dokumentasi kegiatan pendampingan yang sudah
dilakukan oleh penulis :

Gambar 4. Dokumentasi Kegiatan Pendampingan
Hasil pendampingan ini tentu akan berdampak bagi peningkatan kompetensi guru
dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada siswa. Guru sudah berusaha untuk
mengakomodir kebutuhan siswa baik berdasarkan gaya belajar, kesiapan belajar, dan
minat belajar siswa. Menyajikan proses pembelajaran yang melibatkan siswa untuk
selalu aktif dengan berbagai kegiatan yang menantang dan menyenangkan sesuai
sarana dan prasarana yang tersedia. Tentu kekurangan program pendampingan ini juga
masih banyak, di antaranya belum semua guru memanfaatkan panduan yang penulis

11

siapkan di Google Sites. Baru 12 orang guru dari 4 sekolah yang sudah didampingi
dari 23 sekolah dan sejumlah guru binaan yang ada, baru 17%. Tentunya program ini
akan terus dijalankan dan dikembangkan untuk menjangkau semua sekolah binaan.
Empat orang kepala sekolah yang gurunya sudah didampingi, sudah dihimbau untuk
meneruskan pendampingan gurunya melalui program supervisi yang menjadi tupoksi
Kepala Sekolah selain manajerial dan kewirausahaan. Untuk proses dan hasil
pelaksanaannya akan dipantau melalui Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS).
Berdasarkan hasil instrumen pengamatan terlihat bahwa guru masih lemah di bagian
penilaian, maka selanjutnya akan dilaksanakan pembinaan atau bimbingan yang lebih
intensif dengan fokus terkait penilaian pembelajaran.

Demikian gambaran pelaksanaan praktik baik yang sedang dilakukan dan akan
terus dikembangkan dalam pendampingan guru pada implementasi pembelajaran
berdiferensiasi baik bagi sekolah yang memilih opsi mandiri berubah atau mandiri
belajar di sekolah binaan. Semoga memberikan manfaat terutama bagi sesama
pengawas sekolah, kepala sekolah, dan terlebih lagi dapat bermanfaat serta berdampak
pada peningkatan kompetensi guru baik pedagogik dan professional serta utamanya
bagi peningkatan kompetensi dan hasil belajar murid. Mari semua bergerak dan
menggerakkan, Serentak Berinovasi Wujudkan Merdeka Belajar.

C. SIMPULAN
Pendampingan implementasi pembelajaran berdiferensiasi menjadi tugas penting

bagi seorang pengawas sekolah sebagai salah satu bagian penting dalam Implementasi
Kurikulum Merdeka di sekolah binaan. Bagaiamana memastikan guru melaksanakannya
di kelas mereka, diperlukan adanya supervisi perangkat pembelajaran dan supervisi kelas
yang dilakukan oleh kepala sekolah, sehingga kepala sekolah juga harus memahami apa
itu pembelajaran berdiferensiasi, bagaimana pelaksanaannya sehingga guru mampu
melaksanakannya di kelas pembelajaran mereka. Metode Coaching dan penggunaan
media Google Sites dapat dijadikan salah satu alternatif dalam melaksanakan kegiatan
pendampingan pembelajaran berdiferensiasi bagi sekolah yang menerapkan kurikulum
merdeka.

12

DAFTAR PUSTAKA
Harsanto, B. (2017). Inovasi pembelajaran di Era Digital: menggunakan Google sites dan media

sosial. Unpad Press.
Herwina, W. (2021). Optimalisasi kebutuhan murid dan hasil belajar dengan pembelajaran

berdiferensiasi. P Ilmu Pendidikan, 35(2), 175-182.
Ives, Y. (2008). What is' coaching'? An exploration of conflicting paradigms. International

Journal of Evidence Based Coaching & Mentoring, 6(2).
Kauffman, C., & Bachkirova, T. (2008). The evolution of coaching: An interview with Sir John

Whitmore. Coaching: An International Journal of Theory, Research and Practice, 1(1), 11-15.
Pane, R. N. P. S., Lumbantoruan, S., & Simanjuntak, S. D. (2022). Implementasi Pembelajaran

Berdiferensiasi Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Peserta Didik. BULLET:
Jurnal Multidisiplin Ilmu, 1(03), 173-180.
Pratama, A. (2022). Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi Meningkatkan Kemampuan Literasi
Membaca Pemahaman Siswa. Jurnal Didaktika Pendidikan Dasar, 6(2), 605-626.
Smith, S. (2017). Using a blended style of coaching. International Journal of Evidence Based
Coaching and Mentoring, 15(1), 65-77.
Tomlinson, C. A. (2014). The differentiated classroom: Responding to the needs of all learners.
Ascd.
Whitmore, J. (2010). Coaching for Performance: The Principles and Practice of Coaching and
Leadership Fully Revised 25th Anniversary Edition. Hachette UK.

13

BIODATA PENULIS MAKALAH

NAMA : Hidayah Susatri, S.Pd., M.Pd.

NIP : 197403081999032004

PANGKAT/GOL : Pembina TK I, IV/b

TEMPAT/TGL LAHIR : Jombang, 8 Maret 1974

JENIS KELAMIN : Perempuan

RIWAYAT PENDIDIKAN :

1. SD Negeri Sembung, Perak , Jombang

2. SMP Negeri 1 Perak, Jombang

3. SMA Negeri 2 Jombang

4. S1 Pend. Matematika IKIP Surabaya /Unesa

5 S2 Pend. Matematika Universitas Negeri Malang / UM

INSTANSI : Dinas Pendidikan Kabupaten Malang
HP : 085234878477
EMAIL : [email protected]

Malang, 20 Desember 2022
Penulis,

Hidayah Susatri, S.Pd., M.Pd.
NIP. 197403081999032004

14


Click to View FlipBook Version