Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 51 - Kau adalah kata kata. Yang kerap memperkosa ku. Padahal aku hanyalah lembaran kertas. Aku tak bisa mengelak, ketika noda Perlahan mulai meraba dan menggores kan ditabuh ku. Sehingga aku hanya bisa pasrah menikmati keadaan dalam balutan kegelapan. Saat orgasme tiba. ketika puncak kenikmatan itu datang, walaupun bercampur kegelisahan Diiringi desahan angin malam. Maka sebuah sajak itu akan keluar dariku. Dan Aku titipkan sajak itu kepadamu. Agar Kelak nanti menjadi karya abadi.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 52 - Mari singgah dan berkisah lah
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 53 - Ini cerita malam ku Angin yang syahdu Mampu membawa ku Ke puncak kenikmatan jiwa ku Asap asap yang bertebaran Mendamaikan kegelapan Aroma yang menenangkan Menghilangkan kegelisahan Tapi imajinasi ku Hanya sebatas cangkir itu Minuman yang menenangkan keadaan Dan pelarian dari sebuah permasalahan Walaupun tak bisa membawaku Melayangkan pikiran Walaupun tak bisa mengantarkan ku Ke ketinggian angan Namun damai Kuras malam ini Lebih indah dari sang Dewi Ketika membawamu ke alam mimpi Ini suasana yang membuat aku bahagia Aku harap ndak ada habisnya Hingga malam tergantikan dengan cahaya Ini perasaan Yang membuatku tenang Dan berharap pada Tuhan Hingga bintang menenggelamkan malam
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 54 - Membingungkan Cewe itu membingungkan Kadang ia menganggap cowo itu nggak peka Tapi apakah ia sadar dan merasa Bahwa dirinya itu belum bisa terbuka Cewe itu membingungkan Saat cowo menyapa Kadang ia cuek aja Karna ia gengsi dan suka sandiwara Cewe itu membingungkan Dia suka boong dengan perasaan Sehingga menutupi kejujuran Akhirnya sering menangis dalam senyuman Cewe itu membingungkan Dia mengganggap cowo itu hanya ngasih harapan Tanpa memberi kepastian Padahal cewe yang Nggak memperhatikan Cewe itu membingungkan Saat cowo nggak lagi perhatian Dia mengganggap, cowo hanya mengisi hati saat kekosongan Sehingga menjadikan dia gelisah dalam pikiran Cewe itu membingungkan Kadang ia memilih yang istimewa Bukan yang selalu ada Saat yang selalu ada udah tak lagi ada, dia baru kecewa Cewe itu membingungkan Kadang dia suka memendam rasa Tapi tak mau cerita Sehingga menjadi luka
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 55 - Cewe itu membingungkan Kadang dia selalu cemburuan Saat ditanya cemburu sama siapa, Dia tak ngasih jawabann Sehingga cowo yang menanggung beban pikiran Cewe itu membingungkan dia tak mau berbagi keadilan Dia mau meminta kebebasan Saat giliran cowo selalu dilarang Semoga kamu Tetap menawan Dan selalu perhatian Walaupun selalu membingungkan
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 56 - Apa pagi Menurutmu? Aku harap pagi mu adalah bahagia. Bahagia tersadar dari ketiduran. Bahagia melihat dunia lagi. Bahagia masih diberi kesempatan untuk melakukan kebaikan. Hiraukan sejenak masalah yang akan siap menghadang kala siang nanti. Pagi itu mengajak menyambut hari dengan tersenyum. Pagi itu mengajak menyambut hari dengan bersyukur. Bukan untuk memikirkan dunia yang selalu kufur Sisakan sedikit pikiranmu, Untuk memikirkan tentang keindahan, Untuk kebahagiaan, Untuk menikmati ciptaan tuhan Setidaknya kala bangun pagi Hati kita bisa riang. Maka tak akan menyesal Ketika siang menunggunya dengan kejam Pagi itu, Awal dari bahagia Tapi juga bisa, Menjadi awal dari masalah muncul. Besarkan hati mu untuk kebahagiaan pagi. Besarkan pikiranmu untuk keindahan pagi Maka sambut lah dengan kenikmatan. Bukan dengan kemarah marahin
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 57 - Maafkan aku, Jika keindahanmu tak aku instagram kan Karna keindahanmu terlalu Menawan. Cukup aku Aja yang memandang Maafkan aku, Jika rindu ku tak aku facebook an Biarkan rindu ini bernaung Dalam rimbunnya keheningan Maafkan aku. Kabar ku tak aku whatsapp kan Karna aku selalu berharap kabar mu baik baik saja Tanpa harus selalu mengganggu kesibukan mu kerja Maafkan aku. Curhatanku ku ndak aku twiter kan Karna aku ndak mau mengubar Tentang pikiranku yang dilema Maafkan aku, Jika sayang ku ndak aku sampaikan Jika cintaku ndak aku ungkapkan. Karna aku masih menjaga sebuah rasa Agar tidak pudar untuk selamanya Dan Maafkan aku, Jika ada alasan yang masih Kusimpan Kenapa aku ndak memberi kepastian Agar kelak tidak menjadi perpecahan. Tau ndak tau. Sadar ndak sadar. Aku ucapkan terima kasih Padamu. Karna tanpa kau mengetahui alasan ku, Aku tak akan pernah terlena
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 58 - Kopi yang kau sajikan itu, Terlalu panas untuk aku sedu. Maka aku diamkan terlebih dahulu. Karna aku tak mau terburu buru. Rasa yang kau sajikan itu, Terlalu cepat untuk aku nikmati. Aku butuh waktu untuk memahami Biar menjadikan kenikmatan rasa yang lebih berarti Tapi ketika kopi yang disajikan mulai hangat. Ketika itu pula aromanya berubah menjadi nikmat. Untuk mulai aku tenggak dengan perlahan Ternyata kopi mu sudah diambil tanpa alasan Saat aku mulai memahami hatimu Saat itu pula aku telah berkelahi dengan waktu Tapi tiba tiba kau membuka hatimu untuk siapapun Yang mau singgah dalam beranda kenyamanan Tak mengapa. Andaikan kau tak mau menyuguhkan kopi lagi Untuk aku yang sudah siap menikmati Suguhan yang telah kamu beri Maka mungkin aku harus tau diri Rasa mu, mungkin telah sirna Entah hilang diterpa apa Atau Mungkin larut bersama masa Yang selalu menggoda Aku harus pamit Karna, mungkin kopi yang kau sajikan terlalu pahit
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 59 - Jika pundak adalah tempat bersandar kala duka Maka tangan ku adalah tempat bersandar kala manja Kacamata mu bukan hujan yang sering dibuat menyamarkan air mata Tapi adalah air yang jernih sering diibaratkan hati yang bening Untuk menembus kebahagiaan Pipi mu bukan bakpao yang menggemaskan Tapi adalah pipi sungguhan tanpa ada yang mampu mengibaratkan Jaga keindahan bibirmu Walau natural tanpa Gincu Jaga kening bersihmu Walau tanpa make up yang baru Bola matamu layaknya purnama Kala kabut menerpa dengan manja Yang malu menampakkan keindahan
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 60 - Senyum mu adalah gempa Yang menggentarkan hati ku Sedangkan kehadiran mu adalah banjir Yang melanda kebahagiaan pada ku Jangan sampai rasa mu akan menjadi erosi Yang terkikis tatkala terhantam sadis nya ombak permasalahan Sehingga dapat mengurangi kecantikan cinta yang dulu sudah kokoh Layaknya karang yang tak akan pernah runtuh Menari dibibir samudra Sembari menanti senja Pulang ke pangkuan semesta Itu akan selalu menjadi cerita Sayang, Ombak yang berisik Tak akan pernah mengusik Kebahagiaan kita yang sangat menarik Walaupun hanya menjadi cerita klasik Sayang, Pasir pasir itu membelai dengan lembut Hati yang selalu membuatku takut Akan kehilangan mu yang selalu sibuk Sayang, Kala pohon pohon itu mengangguk Isyarat mengiyakan pertemuan kita Disebelah utara samudra Hindia Yang tak akan ada dua nya Sayang, Jangan pernah kau lupa Bawa cerita kita Yang telah kita ukir di bibir samudra
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 61 - Bukan kah dulu aku mengingatkan mu Bagaimana cara menjaga perasaanmu Aku hanya seorang Bajingan Tapi aku selalu berusaha untuk tidak menjadi seorang pecundang. Yang gemar memakai topeng kemunafikan Untuk sebuah keamanan Aku diajari melakukan keterusterangan Jika itu menimbulkan perdebatan Jika itu menimbulkan keributan Tapi akan menjadi keterbukaan tanpa rasa yang mengganjal Andaikan kekasihmu Adalah orang yang pandai Adalah orang yang cakep Ataupun orang yang cukup Maka ajari dia tentang sebuah nyali pejuang Datanglah dengan permisi Ketika mengetuk pintu hati Datang dengan kepala tegak Ketika ingin memenangkan mu dengan telak Tatap matanya Lalu sampaikan padanya Bagaimana cara mu menyambutnya Dengan sangat ceria Berikan senyum untuk nya Agar dia mengetahui juga Bagaimana cara mu untuk mengungkapkan Sebuah rasa yang telah lama kamu simpan Percayalah. Aku bukan seorang pecundang Yang datang dari belakang. Ketika pergi secara diam diam
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 62 - Kau adalah nyawa dalam puisiku Kau adalah nafas dalam rangkaian aksara Ku Sehingga jangan sampai kau menjadi darah di setiap goresan penaku Karna aku tak mau ada luka dalam setiap lembaran-lembaran cerita ku
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 63 - Bercanda Ketika aku meraba kabut dengan mesra. Ketika aku membelai rintikan hujan dengan manja. Ketika aku bercumbu dengan gulita. Maka fana itu akan mengajak ku bercanda. Jangan ada canda di antara kita. Jika kamu tidak mau aku ajak bercinta. Karna itu yang akan menjadikanmu terluka Dengan mengetahui aku yang sebenarnya Jangan ada keseriusan antara kita. Jika kamu tidak mau ada rasa kecewa. Dengan aku meninggalkan mu tiba tiba Yang bisa mengingatkan mu ketika aku masih dekat dan bersama Luka mu mungkin akan menjadi bahagiaku. Kala kamu mengajaku bermain memutar waktu. Permainan yang akan menjadi luka yang membekas dibenakmu Permainan yang sudah aku hilangkan di tempo dulu. Aku tak bisa main perasaan Jika aku tidak diajari untuk melakukan keseriusan. Dan ingat Bahagiamu akan menjadi semangat ku.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 64 - Bumi adalah galeri. Galeri seni dari Illahi. Berbagai jenis lukisan yang dipamerkan Hingga berbagai macam musik yang dimainkan Berkanvas kan langit Tuhan melukiskan Menggoreskan tinta seperti layaknya ombak samudra Dengan bintang bintang sebagai hiasan layaknya mutiara. Angin yang mulai bersuara Diikuti pepohonan yang menari Menjadi lebih sempurna Tuhan menyuguhkan sebuah seni
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 65 - Sayang Jangan pernah cemburu Dengan kisah persahabatan ku Yang telah lama aku ukir dari dulu Mungkin dari sebelum kamu tau Sayang Jika cemburu Adalah cara mu untuk menyayangi ku Jangan lakukan itu Karna akan menjadikan benci kepada sahabatku Sayang Percayalah padaku Walaupun aku seperti itu Tapi ada hati yang harus kamu jaga Didalam raga mu yang selalu aku puja Sayang Itu hatiku Yang berada dibenakmu Biarkan mengalir bersama nadi mu Agar tak terpisah hingga akhir waktu
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 66 - Aku: purnama tak seperti biasa nya. Malam itu purnama memperlihatkan betapa sadis dan kejamnya dia untuk para penikmatnya. Walaupun dia tetap mempesona. Tapi maaf jika aku termasuk orang yang egois. Aku tidak mau membagikan momen tersebut. Karna hanya dengan mata saja aku mengabadikannya. Dia: Terkadang ada beberapa momen yg terlalu indah untuk diabadikan, cukup mata dan hati ada yg perlu tahu Aku: Dan yang perlu kita sadari, ternyata sebaik baik nya kamera untuk mengabadikan dan mengambil obyek nya, lebih baik mata ini yang melihatnya dan biarkan otak serta pikiran ini yang menyimpannya Dia: Namun kebanyakan orang memilih untuk memotret dan menyebarluaskan demi ketenarannya, memang sulit untuk kita menahannya tapi itu perlu Aku: Ya itu memang perlu dan tidak dapat dipungkiri juga, memang kebanyakan begitu. Tapi jika kita telah diperbudak demi sebuah ketenaran. Tak akan pernah kita menemukan benih benih kebahagian. Karna kita akan dipaksa dengan sebuah beban. Dan harus menutup dengan topeng kemunafikan demi ketenaran tersebut.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 67 - Di bawah pancaran purnama kali ini Ku tuliskan ekspresi sebuah rasa Ku rangkai agar penuh makna Di setiap cerita yang ku simpan dan ku jaga Aku datang ke dalam kehidupanmu Aku rusak sedikit pikiranmu Aku sakiti hatimu Demi sebuah permainan ku Tak dapat aku pungkiri Mungkin kesalahan ku terlalu tinggi Kamu salah menyajikan ketika aku menyinggahi Ternyata tersisip sebuah hati di dalam secangkir kopi Tolong bebaskan lah dirimu Jangan batasi kebebasan mu akan kehadiranku Karna akan menjadikan mu Menjadikan rasa kesal dalam pikiranmu Membangunkan sebuah rasa Di dalam sebuah hati Lalu meninggalkan begitu saja Mungkin Itu adalah aku, bukan lelaki sejati
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 68 - Aku menanti akan keindahan Atas apa yang Tuhan ciptakan Aku ingin menjadi saksi kebesaran Atas keagungan Tuhan yang diberikan Sepertiga malam Membangunkan ku untuk memandangi Aku pun melangkahkan kaki Untuk memanjakan mata ini Dari sudut di mana tempat ku memanjatkan doa Terlihat jelas keelokan nya Sebuah pancaran dari purnama Yang sangat menggoda mata Walaupun dibarat sana Purnama tetap mempesona Walaupun seperti senja Sebelum tenggelam purnama memberi warna pada cahaya Tebalnya kabut berusaha menutupi Tapi purnama memanfaatkan kabut yang menghalangi Purnama bersinar dengan memantulkan cahayanya Sehingga mampu memberi lukisan keemasannya Andaikan waktu tak mengikat mu Aku tak pernah ragu Untuk selalu menunggu Di setiap larut malam mu Purnama tak akan pernah mengingkari Purnama selalu menepati Saat purnama mengikat janji Di setiap orang yang ingin menikmati
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 69 - Gunung yang menyatukan kita. Canda yang terlontar di antara rumput sabana. Tak peduli kita baru mengenalnya, Kita menggila bersama. Hamparan bunga abadi, Menjadi tempat pertama kita diskusi. Sambil menikmati roti, Kita mengobrol tentang keelokan negeri. Tapi sayang, Burung yang membawa terbang kebahagiaan. Angin yang menerpa kegelisahan. Padahal aku lagi merasakan kenikmatan. Pada akhirnya kabut yang memisahkan. Aku hanya punya asa. Di antara belantara mana lagi kita akan jumpa. Di hamparan bunga abadi mana lagi kita akan bisa mengukir cerita Dan semoga tidak ada kabut lagi di antara kita. Entah rindu ini akan membeku. Yang hanya akan menjadi kenangan. Ataupun kenangan ini akan abadi. Yang hanya akan menjadi koleksi di almari waktu ku nanti. Akan tetapi, Aku percaya Jika kita memang sehobi. Pasti kita akan dipertemukan lagi. Entah di mana.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 70 - Aku malu pada malam Bulan pun rindu Sudah lama namanya tak ku sandingan dengan kekasihku Bintang pun bertanya tanya Masihkah dia dibuat nama samaran yang berada pada sifat sifat kekasihku Kau adalah ratu, Yang bersinggasana pada malam Yang didampingi keindahan keindahan pada saat kegelapan datang, Apakah purnama masih tersipu malu Ketika pacaran matamu ikut membuat bahagia hatiku Apakah sabit pun masih ragu, Ketika senyumnya masih kalah dengan lengkungan senyuman dari bibir manismu Malam ku agak kacau, Karna burung itu masih sering menyampaikan kabar yang dibawa angin . Serta Dingin masih mendekap pada sifatmu.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 71 - Lamunan ini jelas mengganggu, Pikiran yang resah saling mencari jalan Hanya ingin mengetahui keadaanmu Maaf jika aku membahas tentang perasaan. Aku bangga padamu, Kamu salah satu wanita yang mampu mematahkan pikiran. Memberhentikan kata. Kamu juga menguras semua alasanku. Tak mungkin ku beralasan lagi. Kenapa begitu? Aku rindu. Aku pengen ketemu. Setidaknya aku pengen bicara panjang lebar dengan mu. Akan tetapi, apakah masih pantas kata rindu itu terlontar dariku. Apakah masih sudi kau bertemu denganku. Dan apakah masih mau ngobrolin panjang lebar yang ga penting menurutmu. Karena, sudah berapa kata rindu yang aku sampaikan. Sudah berapa kali pertemuan yang aku lewatkan. Dan sudah berapa kali omong kosong yang belum sempat aku bereskan.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 72 - Benar saja, magrib menjemputnya dengan ceria. Betapa tidak? Bulan itu melengkung memamerkan senyum nya. Bintang yang gemerlap diantara langitnya. Fana merah jambu pun gak lupa ikut serta memeriahkan sore yang terbentuk dari serangkaian keindahanya. Sore ini tercipta dari untaian-untaian rindu. Tergabung dari angin yang merdu. Tak ada yang lebih indah dari pertemuan, ketika rindu itu terus saja berusaha menang menguasai pikiran. Katamu rindu adalah rasa sedangkan pertemuan adalah nyata. Kenyataan itu akan tercipta ketika diperjuangkan bukan? Bagaimana aku bisa mengobati rindu? Sedangkan sindoro tampak gagah disebelah barat kampungku. Di bawah Sindoro itu, melahirkan salah satu wanita yang istimewa. Wanita yang selalu menyembunyikan rahasia. Demi sebuah kejutan, Demi sebuah pembuktian. Bahwa dia adalah wanita hebat, yang tidak salah ketika aku terus saja mengaguminya. Betapa bahagianya, semesta telah melukiskan keindahanya, Mengingatkan ku kepada salah satu penghuninya yang istimewa. Dan ku ucapkan terima kasih kepada tuhan. Terima kasih telah menuntun ku untuk berpikir positif. Telah menyetujui puisiku. Telah mendengarkan lirih jeritan dari seorang laki laki yang jauh dari sikap yang patuh.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 73 - Selepas subuh Dua bintang yang tak mau berpisah. Mungkin hanya tuhan yang bisa memisahkan. Aku masih terpukau dengan ufuk timur. Sabit terus saja mengajakku merenung, Merenungkan rasa yang selalu saja menang menguasai hatiku. Iya rindu. Buka subuh yang salah Bukan pula kesejukan yang membuat ku resah. Aku rindu kekasih, semesta. Kenapa kau menambah racikan rindu agar lebih nikmat. Dengan mendatangkan sabit yang sungguh memikat. Mengingatkan ku pada seseorang yang selalu menjadi alasanku untuk semangat. Aku tau, ini masih subuh. Sejuk selalu terselimut padanya. Tapi bukan begini caranya.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 74 - SEPENGGAL KATA Kamu bertanya tentang sepenggal kata? Padaku, yang selalu ada dibenaku? Mungkin tak hanya sepenggal. Yang tertanam. Yang bersemayam. Yang selalu ku rawat. Dan yang ku simpan dalam-dalam dengan erat. Ribuan aksara. Jika ku sampaikan semua. Serta beberapa cerita. Yang masih tersusun di memo suara. Tapi, aku belum sanggup, Untuk menyelesaikan semuanya. Katamu, semuanya hanyalah fatamorgana. Ketika membicarakan. Ketika mengungkapkan. Tentang ku, yang menurutmu adalah hal yang mustahil. Percayalah, aku masih menyetubuhi malam. Mengeksplore langit tuhan. Bukannya aku suka pada kegelapan. Apalagi menyayangi gulita. Karna aku ingin selalu menghiraukan kegelapan. Agar bisa menyambut percikan percikan cahaya terang dan memandang bintang Bintang yang ku tatap masih sama. Bintang barat yang selalu menjadi penunjuknya. Bukan nya aku berada pada lautan lepas, Aku hanya ingin memandangi rindu itu biar terbalas dengan ikhlas. Katamu perpisahan adalah hal yang paling dibenci. Semoga saja itu tidak menjadi alibi. Ketika kamu berkata tak bisa dihubungi. Tiba tiba menghilang, mungkin dengan alasan kesibukan mu saat ini. Katamu, aku sering buat berantakan hatimu. Ketika hatimu baru saja dibereskan. Tapi kataku, kamu cukup membuat kacau pikiranku. Padahal belum sempat aku damaikan lagi.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 75 - Tapi tak mengapa. Andaikan kamu kelak merindukanku. Cari dan tataplah bintang fajar. Lalu pandangilah dengan tenang. Percayalah aku masih setia di bawah pancarannya.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 76 - DOA Pergilah sejenak sayang Ke tempat di mana kita bisa berdamai dengan semesta ini Bercumbu, menikmati, mensyukuri. Apa yang telah kita terima menjadi makhluk bumi. Diamlah sejenak. Di tempat di mana kita merasa paling nyaman. Menyepi, berdiskusi, bercerita kepada Tuhan. Tentang keadaan saat ini yang sedang kita alami Menjadi hamba yang terus saja berkeluh kesah. Doa Doa adalah untaian angan angan. Yang diucapkan, dideklarasikan. Kepada sang pencipta
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 77 - MATA MU Sayang, matamu memang puisi. Yang belum sempat aku selesaikan. Tapi melihat bola mata mu mengeluarkan air mata. Yang menjadikan luka aku tidak rela Sayang, maafkan aku yang belum bisa menopang mu. Maaf kan aku yang belum bisa dekat dan menemani di setiap hari harimu. Mengusap air mata mu. Menyediakan bahu Menyulurkan tangan Mengajakmu berdiri. Serta membangkitkan semangatmu untuk kembali melangkah, berjalan dan berlari lagi. Sayang, harapan mu tidak salah. Tapi keadaan ku yang belum bisa mendukung dan masih resah. Menyambutmu setiap hari. Menemani bercerita. Mendengarkan keluh kesah Serta memastikan kembali bahwa keadaan kamu benar benar bahagia dan baik baik saja. Sayang, bukan hal yang mudah bagiku. Meskipun itu hanya meruntuhkan tentang jarak. Tentang letak geografis, yang selalu sadis mungkin bisa menjadikan kita saling menangis. Aku sedih. Ketika melihatmu terpaksa Sendiri, menyepi, mengasingkan diri. Akan tetapi, Aku cemburu Melihat kamu pergi, berkelana bersama orang lain yang kamu sebut sebagai kawan. Entahlah. Perasaanku ini bagaimana Hatiku ini mau nya apa Keadaan ini kenapa Sehingga pikiranku di mana-mana Dan mengapa ini terjadi? Sebuah kisah yang belum pernah terjadi.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 78 - MALAM Maaf, jika aku selalu menuliskan tentang malam. Bukannya aku suka pada gulita. Bukannya aku suka pada kegelapan. Tapi aku menyukai tentang keindahan yang seeing dihiraukan sebagian orang. Malam ini, Ku tatap dengan penuh keseriusan. Tentang bintang barat. Yang berada di antara ribuan bintang bintang lainnya. Yaaa, masih bicara tentang rindu. Yang kau sebut sebagai wacana. Tapi selalu aku sebut sebagai asa. Suara hewan itu sangatlah jelas, mengganggu kesunyian yang sudah terlanjur syahdu. Andaikan kamu bisa ku kasih kabar, tak banyak yang akan aku sampaikan. Pada malam ini dan pada saat ini. aku hanya ingin minta tolong. Andaikan kamu berkenan. Agar kamu dapat keluar bentar. Untuk menatap bulan yang sedang tersenyum. Tapi, ku pikir kamu tetap tersenyum. Meskipun kabar itu hanya sampai pada angan angan. Dan terbang melayang layang. Entah angin itu memberhentikan ke mana. Suatu saat, akan ku beritau. Bahwa di bawah bintang fajar, Ada aku yang selalu merindu. Tataplah, Amatilah, Dan bayangkanlah. Bahwa aku masih juga menatap bintang barat.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 79 - PEJALAN Maafkan aku sayang, Aku masih belum selesai melakukan perjalanan ku sendiri. Belum bisa mewujudkan mimpi yang pernah kujanjikan pada diriku sendiri sebelum berhenti. Bukannya aku puas dengan keadaan. Bukannya aku telah nyaman dengan yang namanya menjadi seorang pejalan. Entah ini adalah kebetulan. Ataupun ini memang kenyataan. Bagiku Kampus terindah adalah alam raya Mahasiswa nya para pejalan ilmunya dari berbagai sumber dan pengalaman Disinilah bahagiaku terukir Dari situlah pikiranku ingin aku duakan. Maka, hati ini yang semoga selalu menjadi garda depan. Dalam menyikapi sesuatu kejadian. Mengambil sudut pandang. Agar selalu menjadi tumbuhan yang berupa kasih sayang. Tapi kamu jangan jadi pejalan. Karna, ini adalah hal yang sebenarnya aku takutkan Ketika aku telah nyaman berdamai dengan kehidupan yang seperti ini. Yang bisa menjadikan aku lupa diri Yang mungkin akan menjadi duri dari keindahan sebuah kehidupan masa depan Doakan aku, Semoga setiap perjalanan ku adalah ilmu.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 80 - AKHIR PEKAN Selamat siang, Walaupun pagi mu tidak cerah Serta siang menyambutmu dengan sadis Dengan langit yang sedang begis Aku harap, Kamu terus berpetualang. Menikmati keindahan Merasakan kesyahduan Walaupun awan hitam selalu menghalang. Jangan berhenti berjuang, Mencari rumah rumah. Mencari tempat singgah. Yang dibuat berlabu hati dan jiwamu Ketika muak dengan keadaan kota yang selalu belagu. Andaikan hujan menyambutmu tanpa permisi. Ajak in aja bersahabat, biar bisa menyatu dalam keindahan yang kamu nikmati. Semoga, Dalam kesunyian, Yang kamu rasakan. Bisa membuat mu tetap riang. Dan mengalihkan keramaian yang selama ini kamu dengarkan dari mesin mesin perusahaan Dalam pepohona yang hijau. Kamu bisa memanjakan mata. Mengalihkan tatapan. Dari gedung gedung perkotaan. Dan semoga. Semuanya yang kamu nikmati, Semua yang kamu rasakan. Aku harap dibawa pulang. Agar suasana dalam keseharian mu lebih ceria. Selamat berakhir pekan.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 81 - PUISI KEPADA TUHAN Kalo aku boleh meminta. Ayok kita bacakan puisi puisi indah yang mungkin kita susun dipagi, disiang, atau dimalam hari. Dihadapan dan dikirimkan kepada tuhan Agar tuhan membisikan suara merdumu dan suara ku kepada telinga kita masing masing. Agar tuhan menjagakan sajak sajak itu dilangit langit Nya Dan kita hiasi semesat ini dengan untaian kata kata doa yang selalu kita ajukan pada tuhan. Dibawah pancaran purnama kali ini Ku tuliskan ekspresi sebuah rasa Ku rangkai agar penuh makna Di setiap cerita yang ku simpan dan ku jaga PENGECUT Aku datang kedalam kehidupanmu Aku rusak sedikit pikiranmu Aku sakiti hatimu Demi sebuah permainan ku Tak dapat aku pungkiri Mungkin kesalahan ku terlalu tinggi Kamu salah menyajikan ketika aku menyinggahi Ternyata tersisip sebuah hati didalam secangkir kopi Tolong bebaskan lah dirimu Jangan batasi kebebasan mu akan kehadiranku Karna akan menjadikan mu Menjadikan rasa kesal dalam pikiranmu Membangunkan sebuah rasa Didalam sebuah hati Lalu meninggalkan begitu saja Mungkin Itu adalah aku, bukan lelaki sejati
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 82 - RASA Betapa kuat nya kau! Setiap hari berani, menantang hati ku yang sunyi. Aku diam! Kata ku seraya rasa jantung mulai berayunan diatas perasaan yang kesal. Aku tak kesepian tanpa rasa itu. Tapi hatiku selalu berteriak diatas rasa, berteriak akan kegelisahan seorang laki laki. Samapai kapan kamu ingin percaya tuan? Entah iblis atau malaikat berbisik masuk telinga kanan kiriku. Sedang kan dia yang berada disana, yang kau dambakan bisa menjaga. Rasa dan cinta itu agar tetap ada. Ternyata kalah, menyerah, dengan kesunyian, dan kesendirian. Apakah mereka seperti anjing anjing yang tak pernah keluar dari kandangnya. Menggogok seenaknya. Atau kah seperti kucing yang sering dipelihara dan dicintai dewa dewa. Tak tau diri sekali, kucing yang sudah menaruh, berdiam, mendeklarasikan sebagai penjaga setia. Kabur! Ternyata telah mempunyai majikan baru.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 83 - DIPIKIR ULANG Masihkah kamu ingin bersama ku? Bersama makhluk yang selalu cuek. Selalu menghiraukan kondisi pribadinya? Raga yang tak pernah ku urus. Jiwa yang tak pernah ku rawat Otak yang tak pernah ku pupuk Hati yang selalu diselimuti kejelekan. Yakinkah? Kamu masih ingin bersanding? Dengan seseorang hamba yang selalu membangkang. Hanya sewajarnya pada urusan agama. Masih sering menghiraukan kewajiban pada sang pencipta. Belum bisa taat pada orang tua. Bisa dipikir lagi puan. Bagaimana masa depan mu. Menjalani kehidupan bersama ku. Keadaan yang tak beraturan. Pekerjaan yang tak pernah ada kata sempurna. Hingga kehidupan yang tak ada cita cita.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 84 - TERGERUS Aku pernah gila segila mungkin. Terus berjalan, melebar, meninggi lalu turun serendah serndahnya. Aku nggak tau bagaimana cara nya bangkit, naik lagi bahkan untuk flat saja. Diksi diksi ku hampir habis. Hanyut bersama keadaan dunia yang sadis. Kedamaianku hampir punah. Terhantam kenyataan yang semakin membuat resah. Sajak sajak yang biasanya berkeliaran. Dibalik isi kepala yang tak pernah memikirkan masa depan. Kini, hanya bekas bekas tinta yang tersisa.
Ruang rasa Sebuah perjalanan menuju itik temu- 85 - i Titik dimana rasa itu beradu, sayang itu bersemayam dan jiwa agar tetap bertahan pada realitas yang tak mudah, dengan perjalanan yang melewati banyak rintangan. Bagaimana pun ending nya semoga petualangan ini menyenangkan, karena aku mencoba menikmati setiap episode nya yang telah tuhan berikan. Keadaan ini yang membuat aku lebih tenang menjalani nya. Setiap jengkal, setiap detik adalah nikmat. Nikmat sakit sampai nikmat bahagia.