The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by amalina4433, 2022-07-09 06:26:48

MODUL 22 PDF

MODUL 22 PDF

1

DAFTAR ISI

COVER ....................................................................................... .. 1
DAFTAR ISI ................................................................................ .. 2
SELAYANG PANDANG ............................................................. .. 3

PROFIL SMA NEGERI 1 REJOTANGAN

VISI & MISI SMA NEGERI 1 REJOTANGAN .............................. 4

SEJARAH SINGKAT SMA NEGERI 1 REJOTANGAN ............. .. 5

TATA TERTIB PESERTA DIDIK SMA NEGERI 1 REJOTANGAN 11

BENTUK-BENTUK PELANGGARAN ........................................ .. 16

MARS SMARETA JAYA & HYMNE SMA NEGERI 1 REJOTANGAN. 22

SUSUNAN PENGURUS OSIS MASA BHAKTI 2021/2022 SMA NEGERI

1 REJOTANGAN ........................................................................ .. 23

SUSUNAN PENGURUS MPK MASA BHAKTI 2021/2022 SMA NEGERI

1 REJOTANGAN .......................................................................... 24

EKSTRAKURIKULER SMA NEGERI 1 REJOTANGAN ........... .. 25

MATERI MPLS 2022 26
31
ARTI DAN MAKNA WAWASAN WIYATA MANDALA ............... .. 33
MATERI KURIKULUM 2013 ....................................................... .. 38
MATERI CARA BELAJAR EFEKTIF .......................................... .. 42
MATERI PENDIDIKAN KARAKTER .......................................... .. 44
MATERI TATA KRAMA SISWA ................................................. .. 46
MATERI MOS PEMBINAAN MENTAL AGAMA DI SEKOLAH . ..
MATERI KESADARAN BERBANGSA DAN BERNEGARA..........

2

Tahun 1992 berdirilah SMA Negeri 1 Rejotangan, yang saat ini dikenal
dengan nama keren SMARETA.
Di awal berdiri hanya 1 rombongan belajar setiap gradenya. Tahun 2022 ini
kelas XII sudah 10 rombel; kelas XI 10 rombel; kelas X 10 rombel. Bahkan
Smareta mempunyai SMA Terbuka yang tahun ini siswa barunya 10 rombel.
Waktu demi waktu berkembanglah SMARETA dengan sarana dan
prasarana yang semakin lengkap dan prestasi-prestasi lulusan yang masuk
ke PTN tanpa tes semakin bertambah serta prestasi-prestasi non akademik.
Harapan ke depan SMARETA semakin berkembang dan berprestasi.
Selamat menempuh pendidikan di SMARETA anak-anakku. Pilihanmu
insyaAlloh adalah yang terbaik. SMARETA akan mengantarkanmu ke masa
depan yang gemilang.
Jayalah Smareta... Maju Bersama Hebat Semua

Mengetahui,
Kepala SMAN 1 Rejotangan

Agung Ismiharto,S.Kom.,M.Pd
NIP.196603231987101001

3

VISI & MISI SMAN 1 REJOTANGAN

VISI

VISI
MENJADI SEKOLAH YANG MENGHASILKAN LULUSAN BERIMTAQ

DAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

MISI
1. MELAKSANAKAN KEGIATAN IBADAH SESUAI AGAMA YANG

DIANUT.
2. MELAKSANAKAN KEGIATAN PERINGATAN HARI-HARI BESAR

AGAMA DAN NASIONAL.
3. MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN BERBASIS TIK.
4. MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF DAN

MENYENANGKAN.
5. MENGEMBANGKAN BAKAT, MINAT DAN KETRAMPILAN SISWA

MELALUI KEGIATAN EKSTRAKURIKULER.
6. MENGEMBANGKAN POTENSI AKADEMIK SISWA MELALUI

KEGIATAN PEMBIMBINGAN
DAN PENDAMPINGAN.
7. MENJADI LINGKUNGAN SEKOLAH YANG (HIJABER SEIMAN)
HIJAU, BERSIH, SEHAT, INDAH, AMAN DAN NYAMAN.
8. MEMBUDAYAKAN WARGA SEKOLAH PEDULI TERHADAP
LINGKUNGAN.
9. MENGINTEGRASIKAN NILAI PEDULI LINGKUNGAN DALAM
PROSES PEMBELAJARAN.

4

SEJARAH SINGKAT SMA NEGERI 1 REJOTANGAN

SMA Negeri 1 Rejotangan didirikan secara resmi pada tanggal 6 Mei
1992 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia Nomor 0216/O/1992. Surat Keputusan tersebut berisi
tentang Pembukaan dan Penegerian Sekolah Tahun Pelajaran
1991/1992 yang berlokasi di wilayah Kabupaten Tulungagung bagian
timur, tepatnya di Jalan Raya Buntaran, Desa Buntaran, Kecamatan
Rejotangan.

Seiringan dengan waktu dan tuntutan perkembangan zaman, SMA
Negeri 1 Rejotangan senantiasa berbenah dan berusaha meningkatkan
serta melengkapi sarana prasana pendidikan, baik melalui swadaya
sekolah maupun bantuan pemerintah yang berupa blok grant. Saat ini,
SMA Negeri 1 Rejotangan telah memiliki 30 ruang belajar teori, 3 ruang
laboratorium IPA, 1 ruang perpustakaan, masjid, 3 ruang laboratorium TIK
yang lengkap dengan jaringan internet dan hotspot, 1 lapangan basket, 2
lapangan bola voli, dan masih banyak sarana prasarana lain yang mampu
mendukung peningkatan prestasi peserta didik.

Berikut nama pemimpin SMA Negeri 1 Rejotangan sesuai periodenya.

1. Drs. Winarto, M.M. Periode Tahun 1992 s.d. 1997

2. Drs. Achmadi, M.M. Periode Tahun 1997 s.d. 2005

3. Drs. Hendro Pilih Umantoro, M.Pd. Periode Tahun 2005 s.d. 2006

4. Drs. H. Budiono, M.M. Periode Tahun 2006 s.d. 2009

5. Drs. Rusmadi, M.Pd. Periode Tahun 2009 s.d. 2014

6. Muji Rahayu, S.Pd., M.Pd. Periode Tahun 2014

7. Heru Mudjiono, S.Pd., M.M. Periode Tahun 2014

8. Drs. Herry Siswondo Periode Tahun 2014 s.d. 2019

9. Indiyah Nurhayati, M.Pd. Periode Tahun 2019 s.d. 2020

10. Agung Ismiharto, S.Kom.,M.Pd. Periode Sekarang

5

DAFTAR NAMA PENDIDIK
SMA NEGERI 1 REJOTANGAN

NO NAMA MENGAMPU

NIP MATA
PELAJARAN

AGUNG ISMIHARTO, 19660323 TIK
1. S.Kom.,M.Pd.
198710 1 001 SENI RUPA
2. Drs. ROKANI
19651220 KIMIA
3. Dra. SUMAR SUSILOWATI, MATEMATIKA
M.Pd. 199003 1 011 BAHASA
ARAB
4. Hj. KIBDHIATI, S.Pd. 19621015 EKONOMI
5. Drs.H. NURJUWAINI 198703 2 007 EKONOMI
6. MUJI HARIANTI, S.Pd. BIOLOGI
7. Hj. DEWI MASITOH, S.Pd. 19650911 SEJARAH
198803 2 011 BAHASA
8. Dra. SITI NAFIAH INGGRIS
9. Dra. SUMI RAHAYU 19630212 MATEMATIKA
10. Drs. H. SUPRIADI M.Pd. 198903 1 014 PENJASKES
11. Drs. KENTUT SETYO GEOGRAFI
19640207 BK
UTOMO 198703 2 007 FISIKA
12. EDI SANTOSA, S.Pd. PENJASKES
13. Dra. Hj. RIRIN SOELISTINA 19660414 TIK
14. Dra. Hj. TUTIK SRI WINARTI 198901 2 002
15. BUDIONO, S.Pd.
16. WINOTO,S.Pd. 19680815
17. MUHAMMAD HASAN, M.Pd. 199601 2 001

19670129
199512 2 002

19631224
199601 1 001

19640908
199601 1 001

19690117
199512 1 001

19670524
199512 2 002

19640319
199512 2 003

19690301
199401 1 001

19670310
199512 1 003

19680924
199412 1 003

6

NO NAMA NIP MENGAMPU
MATA
18. SRI WILIS, S.Pd. 19710502
200501 2 010 PELAJARAN
19. LILIK WARDATUL ALIFAH,
S.Pd. 19710817 BAHASA
200604 2 028 INDONESIA
20. PURWO ADI SUROYO, BAHASA
M.Pd. 19730828 INGGRIS
200604 1 015 PKN
21. HENDRIANTO, S.Pd. BAHASA
19721124 INGGRIS
22. ENDANG RAHAYU, S.Pd. 200604 1 008 BIOLOGI

23. SUSTI YULI WINARNI, 19670519 MATEMATIKA
S.Pd. 200701 2 012
MATEMATIKA
24. MUJIATI, S.Pd. 19670718
200801 2 008 FISIKA
25. MASTI ANJAR, S.Pd.
19691204 KETRAMPILAN
26. HARJONO, M.Pd. 200801 2 019
GEOGRAFI
27. EMI HANURAWATI, M.Pd. 19740507
200604 2 016 BK
28. ASNA KUMAIDAH, S.Pd. BAHASA
19741010 INDONESIA
29. DIAN ANSORI, M.Pd. 200901 1 008 PKN

30. GIBRAN JALU SAROTAMA, 19840304 SOSIOLOGI
S.Pd. 200901 2 007
BK
31. HENDRA MAULIDIANSYAH, 19800723
M.Pd. 200903 2 006 BK

32. ANIS SATUR ROHMAH, 19810103 SENI BUDAYA
S.Pd. 200604 1 017 BAHASA
JAWA
33. ALDEFFINA NADINTYA S. 19950327 BAHASA
H., S.Psi. 201903 1 011 INDONESIA

34. MOHAMMAD ALI RIDHLO, 19851125
S.Pd. 202221 1 011

35. APRILIA SAFITRI, S.Pd. 19810213
202221 2 013
36. DARYANTI,S.Pd.
19830924
202221 2 026

19900214
202221 1 012

19920416
202221 2 020

19931018
202221 2 020

7

NO NAMA NIP MENGAMPU
MATA
37. HAPPY GITA KELANA, 19941117
S.Pd. 202221 1 009 PELAJARAN

38. ASMIK IKHFINA, SHI. 19830704 PENJASKES
202221 2 035
39. PURBARANI JATINING GEOGRAFI
PANGLIPUR, S.Pd. 19940725 BAHASA
202221 2 020 INDONESIA
40. YUYUN MIFTACHUR BAHASA
ROHMAH, S.Pd. 19940427 INDONESIA
202221 2 026 SENI BUDAYA
41. KIKI ARISANDY, S.Pd.
- BK
42. MARATUS SHOLIHAH,
S.Psi. - SOSIOLOGI

43. WISNU AJI DWI CAHYONO, - MATEMATIKA
S.Pd. BAHASA
- JAWA
44. HARIRATUS ZULFA, S.Pd. EKONOMI
-
45. ARI WAHYU KURNIAWAN, MATEMATIKA
S.S. -
- FISIKA
46. ERNA NANI WIJAYA, S.Pd.
- BIOLOGI
47. ARUM SULISTYO -
PAWESTRI,M.Pd AGAMA
- TIK
48. FITRI AMALIYAH, S.Pd. - AGAMA
-
49. ANGGIR RETNO YUNITA KIMIA
D., S.Pd. -
SEJARAH
50. M. AGIL ZAMZAMI, S.Pd. -
AGAMA
51. IKA PUTRI PURWITASARI - EKONOMI
-
52. M. QOYYIN UDDIM, S.Pd.

53. PUSTIKA WULANDARI,
S.Pd.

54. HAFID ROFI PRADANA,
S.Pd.

55. LAILATUL BADRIYAH, S.H

56. FITRI MUJAHIDAH

8

NO NAMA MENGAMPU
57. RIMA KUSUMASTUTI NIP MATA

PELAJARAN

- SOSIOLOGI

DAFTAR NAMA TENAGA KEPENDIDIKAN
SMA NEGERI 1 REJOTANGAN

NO NAMA NIP JABATAN

1. MUNTARIED RUDY 19720804 STAF TU
H., S.Sos. 200701 1 012 (KEPEGAWAIAN)

2. HARI 19690101 PESURUH
200701 1 055
3. AHMAD ZAENURI STAF TU
19780702 (LABORATORIUM)
4. WIJI WINARSIH, SE 200801 1 008 STAF TU
(KURIKULUM)
5. RINAWATI, SE 19780128
200801 2 010 STAF TU (SARANA)
6. ANDI PRASETYO,
S.Pd 19820204 STAF TU
200801 2 019 (KEUANGAN)
7. SUDARMAJI
19850301 PENJAGA MALAM
8. LINA MUSTIKA 200901 1 002
DEWI, S.Pd KOPERASI
- SEKOLAH
9. AHMAD DIMYATI, STAF TU (LAB.
S. Kom. - KOMPUTER)
STAF TU
10. BAYU SAPUTRO, - (KESISWAAN)
S.Pd
- PESURUH
11. ZAENAL
-
12. YUSUF ROSYADI
- PENJAGA MALAM
13. ALVIN VIVIT M.,
Amd. Keb. - UKS

14. MUHAMAD FAUZI - PETUGAS
PERPUSTAKAAN
15. LANTUR BUBUT,
S.E. - SATPAM

9

NO NAMA NIP JABATAN
16. M. DENNY ROZAQ
17. IMAM WICAKSONO - STAF TU
18. JASMAN (KEUANGAN)

- STAF TU

- PESURUH

10

TATA TERTIB PESERTA DIDIK SMA NEGERI 1 REJOTANGAN

I. DASAR HUKUM :
1.1 Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional.
1.2 Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang standar Nasional
Pendidikan pasal 52 poin G.
1.3 Permendikbud No. 45 Tahun 2014 temntang pakaian seragam
sekolah.
1.4 Undang-undang No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan
lambang Negara.
1.5 Permendikbud.No. 39 Tahun 2008 tanggal 22 juli 2008 tentang
Pembinaan Kesiswaan.

II. HAL MASUK SEKOLAH

2.1 Bel masuk dibunyikan pukul 06.55. dan peserta didik hadir di

sekolah 5 menit sebelum bel berbunyi.
2.2 Sebelum memulai pembelajaran, Peserta didik berdo’a bersama

dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza dengan

sikap sempurna, dan literasi selama 15 menit.

2.3 Jam belajar:

 Senin s.d. Kamis :X, XI, XII Pukul 07.00 - 15.15 WIB.

 Khusus Hari Jumat :Kelas X, XI, XII Pukul 07.00 - 11.50

WIB/ 13.30 - 15.00 WIB.

 Sholat Jumat/ Kegiatan Kerohanian Pukul 11.50 - 13.30 WIB

(Warga SMARETA).

2.4 Peserta didik dinyatakan terlambat jika, peserta didik datang ke

sekolah setelah bel masuk dibunyikan.

2.5 Peserta didik yang dinyatakan terlambat wajib lapor kepada petugas

piket. Berikut konsekuensi peserta didik yang terlambat.

a. Mengisi Buku Siswa Terlambat dan menyerahkan kunci motor

bagi yang membawa sepeda motor, selanjutnya diperbolehkan
masuk kelas mengikuti KBM dengan menunjukkan surat izin
masuk dari guru piket.

b. Siswa yang terlambat wajib mengikuti Program Penguatan

Pendidikan Karakter (PPK), antara lain literasi, perawatan taman,

bersih-bersih lingkungan sekolah, dll.

11

c. Siswa yang terlambat dipulangkan minimal pukul 16.15 WIB,
setelah mengisi absensi terlambat.

d. Ketentuan terlambat di atas berlaku dalam 1 semester dan
berdasarkan hari efektif (kalender pendidikan/ kecuali ada
kebijakan dari sekolah).

2.6 Peserta didik yang tidak masuk sekolah karena sakit atau keperluan
penting lain wajib memberi informasi tertulis dari orang tua/ wali
peserta didik paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal tidak masuk.
Apabila informasi tertulis diterima lebih dari 2 hari peserta didik
dianggap atau dicatat alpa (membolos).

2.7 Peserta didik tidak boleh meninggalkan kelas selama jam pelajaran
berlangsung, sebelum mendapat izin dari guru di kelas, disertai
surat permohonan izin.

2.8 Peserta didik tidak boleh meninggalkan sekolah selama jam
pelajaran berlangsung sebelum mendapat izin dari guru di kelas,
guru piket, wakil kepala sekolah.

2.9 Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan do’a dan menyanyikan
salah satu lagu daerah/ nasional.

III. KEWAJIBAN PESERTA DIDIK
3.1 Peserta didik wajib menghormati dan taat pada Kepala Sekolah,
Guru, Staf TU dan Karyawan Sekolah.
3.2 Peserta didik ikut bertanggung jawab atas terselenggaranya
kebersihan, keindahan, kelestarian lingkungan dan keamanan,
serta kelancaran jalannya pelajaran di kelas.
3.3 Peserta didik wajib menumbuhkan dan memelihara rasa
kekeluargaan sesama warga sekolah.
3.4 Peserta didik memakai seragam dan atribut yang telah ditentukan.

A.Pakaian
1. Pakaian seragam Nasional (putih - abu-abu) adalah pakaian
yang dikenakan pada hari belajar oleh peserta didik di sekolah,
yang jenis, model, dan warnanya sama berlaku secara
Nasional.
a. Pakaian seragam Nasional dikenakan pada hari Senin,
Selasa, dan pada hari lain saat pelaksanaan Upacara
Bendera (kecuali hari selasa minggu kedua tiap bulan,
berseragam JADUL).

12

b. Pada saat Upacara Bendera dilengkapi topi pet, ikat
pinggang warna hitam (logo SMARETA) dan dasi sesuai
warna seragam masing-masing, dilengkapi dengan logo tut
wuri handayani di bagian depan topi.
- Hari Rabu mengenakan pakaian seragam Almamater
SMARETA.
- Hari Kamis pakaian seragam Batik (sesuai dengan
ketentuan Sekolah/ SMARETA).
- Hari Jumat mengenakan seragam Pamuka lengkap
(atribut pramuka lengkap sesuai jenjan, menggunakan
topi/ hasduk).
- Siswa wajib menggunakan atribut sebagai kelengkapan
pakaian seragam nasional yang menunjukkan identitas
sekolah, terdiri dari badge organisasi kesiswaan, badge
merah putih, badge nama peserta didik, badge nama
sekolah dan nama kabupaten/ kota.

B.Sepatu hitam polos dan kaos kaki putih (dilarang keras
menggunakan sandal, kecuali ada udzur/ halangan).

C.Rambut dan make up.
1. Berambut pendek rapi, tidak gondrong dan tidak dicat warna
serta tidak gundul yang ada garis-garisnya juga tidak dimodel
panjang bagian belakangnya (untuk putra).
a. Tidak memakai anting, tindik, tato, kalung, gelang dan rantai
disaku (untuk putra).
b. Rambut disisir rapi, tidak boleh dicat warna, disambung, dan
disambung (untuk putri).
c. Tidak memakai perhiasan berlebihan, tato, tindik telinga lebih
dari satu (putri).
d. Alis tidak dicukur dan tidak memakai kosmetik berlebihan.
e. Tidak diperbolehkan pakai cat kuku (untuk putri).

3.5 Dilarang menggunaan HP pada saat KBM kecuali mendapat izin
guru pengajar.

3.6 Peserta didik wajib mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh
sekolah.

3.7 Peserta didik mengikuti 1 kegiatan ekskul wajib (kepramukaan) dan
1 kegiatan ekstra pilihan yang ada di sekolah.

13

3.8 Mengembangkan rasa ikut memiliki dan memelihara sarana
prasarana dan inventaris kelas yang ada di sekolah.

3.9 Menjaga nama baik sekolah, baik di dalam maupun di luar sekolah.
3.10 Menjaga kebersihan dan ketertiban masing-masing.

IV. LARANGAN PESERTA DIDIK
4.1 Peserta didik meninggalkan kelas/ sekolah tanpa izin.
4.2 Peserta didik melakukan kegiatan yang bertentangan dengan
norma hukum, agama, dan masyarakat.
4.3 Membawa barang di luar kebutuhan belajar dan alat komunikasi.
Apabila tetap membawa, segala resiko kehilangan dan kerusakan
menjadi tanggung jawab pribadi.
4.4 Peserta didik yang tidak memiliki SIM dan kelengkapan kendaraan,
mengendarai kendaraan bermotor ke sekolah (apabila terjadi
sesuatu menjadi tanggung jawab pribadi).
4.5 Peserta didik membawa, menggunakan dan mengedarkan.
A.Rokok.
B.Narkoba.
C.Minuman keras dan sejenisnya yang memabukkan.
D.Senjata tajam.
E.Serta barang yang lain tidak berhubungan dengan kegiatan
sekolah.
4.6 Peserta didik melakukan intimidasi (fisik dan psikis, bullying, dan
SARA).
4.7 Merusak sarana prasana sekolah.

V.HAK PESERTA DIDIK
5.1 Presensi kehadiran peserta didik terdata dalam absen/ jurnal.
5.2 Peserta didik menggunakan sarana dan prasarana sekolah setelah
mendapat izin sekolah;
5.3 Peserta didik mendapat perlakuan yang sama;
5.5 Peserta didik mengikuti kegiatan sekolah; dan
5.5 Peserta didik mendapatkan pelajaran agama sesuai yang
dianutnya.

14

VI. LAIN-LAIN
6.1 Hal-hal yang tidak tercantum dalam tata tertib ini akan diatur
kemudian melalui aturan khusus.
6.2 Tata tertib ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Mengetahui,
Kepala SMAN 1 Rejotangan
Agung Ismiharto,S.Kom.,M.Pd
NIP.196603231987101001

15

BENTUK - BENTUK PELANGGARAN

A.SIKAP PERILAKU SKOR
NO BENTUK PELANGGARAN SANKSI

1 Tidak membawa buku sesuai jadwal. 10
10
2 Membuat kegaduhan di kelas atau di sekolah. 10

3 Mencoret-coret atau mengotori dinding, pinttu, 10
meja, kursi, pagar sekolah.
10
4 Membawa atau bermain kartu remi dan
domino di sekolah. 10
10
5 Memparkir sepeda/ motor tidak pada 15
tempatnya. 20
20
6 Bermain bola di koridor dan di dalam kelas. 20

7 Menyontek. 20
25
8 Melindungi teman yang bersalah.
30
9 Menghidupkan handphone waktu KBM. 40
40
10 Berpacaran di sekolah. 40
50
11 Berperilaku jorok atau asusila baik di dalam
maupun di luar sekolah.

12 Merayakan ulang tahun berlebihan.

13 Menyalahgunakan uang SPP atau uang
sekolah.

14 Membawa atau menyembunyikan petasan.

15 Membuat surat izin palsu.

16 Meloncat jendela dan pagar sekolah.

17 Merusak sarana dan prasarana sekolah.

18 Bertindak tidak sopan/ melecehkan Kepala
Sekolah, Guru dan Karyawan Sekolah.

16

SKOR
NO BENTUK PELANGGARAN SANKSI

19 Mengancam/ mengintimidasi teman sekelas/ 75
teman sekolah. 100
100
20 Mengancam / mengintimidasi melecehkan 100
Kepala Sekolah, Guru dan Karyawan Sekolah.
150
21 Membawa/ merokok saat masih mengenakan
seragam sekolah.

22 Menyalahgunakan media sosial yang
merugikan pihak lain yang berhubungan
dengan sekolah.

23 Berjudi dalam bentuk apapun di sekolah.

24 Membawa senjata tajam, senjata api dsb. di 150
sekolah. 150

25 Terlibat langsung maupun tidak langsung 150
perkelahian/ tawuran di sekolah, di luar 250
sekolah atau antar sekolah. 200

26 Mengikuti aliran/ perkumpulan/ geng terlarang/ 200
komunitas LGBT dan radikalisme.

27 Membawa, menggunakan atau menegedarkan
miras dan narkoba.

28 Membawa dan/ atau membuat VCD porno,
buku porno, majalah porno atau sesuatu yang
berbau pornografi dan pornoaksi.

29 Mencuri di sekolah dan di luar sekolah.

30 Memalsukan stempel sekolah, edaran sekolah 250
atau tanda tangan Kepala Sekolah, Guru dan
Karyawan Sekolah. 250
250
31 Terlibat tindakan kriminal, mencemarkan
nama baik sekolah.

32 Terbukti hamil atau menghamili.

33 Terbukti menikah. 250

17

B.KERAJINAN SKOR
NO BENTUK PELANGGARAN SANKSI

1 Datang terlambat. 10
10
2 Tidak mengikuti pelajaran tanpa izin. 10
10
3 Meninggalkan kelas tanpa izin. 10
10
4 Di kantin saat jam pelajaran. 10

5 Tidak mengikuti dan melaksanakan piket 7K. 20
20
6 Tidur di kelas saat pelajaran berlangsung. 20
20
7 Tidak membawa buku yang berkaitan dengan 20
pelajaran.

Pulang sebelum waktunya tanpa izin dari
8 sekolah.

9 Tidak masuk sekolah tanpa keterangan.

10 Tidak mengikuti upacara.

11 Tidak mengikuti kegiatan sekolah.

12 Tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

C.KERAPIAN BENTUK PELANGGARAN SKOR
NO SANKSI

1 Tidak berseragam sesuai ketentuan. 10
2 Tidak memasukkan baju. 10
3 Melipat lengan baju, baju tidak dikancingkan. 10
4 Seragam yang dicoret-coret. 10
5 Celana atau rok bawah tidak dikelim. 10

18

SKOR
NO BENTUK PELANGGARAN SANKSI

6 Celana atau rok sobek. 10
10
7 Tidak memakai kaos kaki. 10
10
8 Memakai kaos kaki tidak sesuai ketentuan 10
(senin-kamis putih, jum’at hitam). 10
10
9 Tidak memakai ikat pinggang. 10

10 Memakai ikat pinggang tidak sesuai dengan
ketentuan (hitam).

11 Seragam atribut tidak lengkap.

12 Tidak memakai sepatu hitam (selain olah raga).

13 Berambut panjang terurai (peserta didik putri).

KETERANGAN
Hal-hal lain yang belum tercantum dalam bentuk pelanggaran di atas/
berkaitan dengan ketertiban yang belum diatur dalam peraturan ini
akan diatur secara tersendiri, dengan tetap memperhatikan rasa
keadilan dan tetap mengedepankan unsur edukatif.

D.FASE/ TAHAPAN PENANGANAN PELANGGARAN

NO KATEGORI RENTANG TINDAK LANJUT
SKOR
PELANGGARAN PELANGGARAN

1 Pelanggaran 10 – 35 Peringatan ke I
ringan 36 – 55 (Petugas
Ketertiban).

Peringatan ke II
(Koord.
Ketertiban).

19

56 – 75 Panggilan Orang
tua ke I (Wali
Kelas).

2 Pelanggaran 76 – 95 Panggilan Orang
sedang tua ke II (Guru
BK).

96 – 150 Panggilan Orang
tua ke III (Koord.
BK).

3 Pelanggaran 151 – 249 Skorsing
berat 250 – ke atas (Wakasek
Kepesertadidikan).

Dikembalikan ke
orang tua
(Kepala Sekolah).

KETERANGAN :
Hitungan akumulasi skor belaku untuk masa dua (2) tahun.

E.PENGHARGAAN

BENTUK KRITERIA POINT
NO PENGHARGAAN
100
1 BERPRESTASI Membawa nama baik 75
50
AKADEMIK & sekolah dengan mengikuti 25
10
NON AKADEMIK kejuaraan, kompetisi atau
pagelaran:

a. Tingkat Nasional

b. Tingkat Provinsi

c. Tingkat Kota/ Kabupaten

d. Tingkat Kecamatan

e. Mengikuti lomba sebagai
peserta (tidak juara)

20

NO BENTUK KRITERIA POINT
PENGHARGAAN

2 TIDAK a. Tidak pernah alpa (bagi

BERPRESTASI peserta didik yang 25
AKADEMIK & mempunyai catatan

NON AKADEMIK pelanggaran).

b. Tidak pernah terlambat

selama 1 bulan berturut- 15
turut (bagi peserta didik

yang mempunyai catatan

pelanggaran).

c. Mampu menunjukkan

catatan pelajaran lengkap

dalam waktu yang telah 30

ditentukan.

Dari 3 (tiga) ketentuan di atas, yang boleh mendapat
pengurangan point hanya peserta didik yang sudah mencapai
point pelanggaran di atas 75.

Catatan : Penghargaan di atas akan menjadi pertimbangan
pengurangan nilai-nilai sanksi bagi peserta didik yang
melanggar

21

MARS SMARETA JAYA HYMNE SMA NEGERI 1
Pencipta : Gabriel-Dita dkk REJOTANGAN

SMART Pencipta : H. Purwanto-Ratna
(SMART)
Ditempat ini
Kita bisa senang Mari kawanku
Tempat kecil nan indah Mari blajar dengan gembira
mengagumkan Menuntut ilmu untuk nusa dan
Tempat mendidik pelajar bangsa
Meraih impian Jangan lah lengah,berputus asa
Di SMA Negeri satu Rejotangan Mari bersungguh-sungguh
menggapai cita – cita
Melangkah maju
Ukir prestasimu SMA Negeri Rejotangan
Wujudkan harapan dari Mendidik pelajar jiwa raganya
mimpimu Mari menjaga kemajuannya
Mari bersama-sama Pelajaran ……
Meraih cita-cita Tata tertibnya,…
Di SMA Negeri Satu agar tetap sempurna
Rejotangan
Reff :
Jayalah smareta
Sekolahku tercinta
Semangat baru telah membara
Disini kita bisa
Belajar dengan gembira
Majulah maju … SMARETA
JAYA

22

SUSUNAN PENGURUS OSIS MASA BHAKTI 2021/2022
SMA NEGERI 1 REJOTANGAN

No Jabatan Pengurus OSIS Nama NIS Kelas
1. Ketua Umum Fernanda Nova Medika 8165 X MIPA 4
2. Ketua 1 Reihan Putra Setyantana 8285
3. Ketua 2 M. Wahyu Firmansyah 8236 X MIPA 1
4. Sekretaris 1 Ayu Wulandari 7650
X MIPA 2
5. Sekretaris 2 Arin Tunjungsari 8086
7870 XI MIPA
6. Bendahara 1 Salsabila Tahtahirani 8128 2
7880 X MIPA 4
7. Bendahara 2 Diah Tunjung Cahyani
XI IPS 4
8. Koordinator Sekbid Keimanan Shima Khotimah
X MIPA 4
dan Ketaqwaan Tuhan Yang
XI MIPA
5

Maha Esa

9. Anggota Sekbid Keimanan dan Adinda Amelia Yonnaning T. 8035 X IPS 4

Ketaqwaan Tuhan Yang Maha

Esa

10. Koordinator Sekbid Budi Faruq Reygar Fauzan 8157 X MIPA 1

Pekerti Luhur atau Ahklak

Mulia

11. Koordinator Seksi Kepribadian Kukuh Prayogi 7758 XI MIPA
2
Unggul ,Wawasan
8362 X MIPA 4
Kebangsaan, dan Bela Negara

12. Koordinator Seksi Prestasi Wisnu Putra Handono W.

Akademik,Seni, dan atau Olah

Raga Sesuai Minat Bakat

13. Anggota Seksi Prestasi Eka Putri Amanda 9468 X MIPA 3

Akademik,Seni, dan atau Olah

Raga Sesuai Minat Bakat

14. Koordinator Seksi Adillia Kartika Shandra 8032 X MIPA 3

Demokrasi,Hak Asasi Manusia,

Pendidikan Politik,Lingkungan

Hidup,Kepekaan dan Toleransi

Sosial dalam Masyarakat Plural

15. Koordinator Seksi Aggil Dewa Agus S. 7618 XI MIPA
2
Pembinaan,Kreativitas,Keteram
8352 X MIPA 1
pilan, dan Kewirausahaan
8081 X MIPA 2
16. Anggota Seksi Veronica Cindy Aura

Pembinaan,Kreativitas,Keteram

pilan, dan Kewirausahaan

17. Koordinator Seksi Pembinaan Apri Ahsana Amala T.W

Kualitas Jasmani,Kesehatan,

dan gizi terbasis sumber gizi

yang terdiverifikasi

23

18. Koordinator Sekbid Pembinaan Nurina Ayu Sofia 8269 X MIPA 3
Sastra dan Budaya 8181 X MIPA 4
0196 X IPS 4
19. Koordinator Sekbid Teknologi Ista Kholisatun Nawa
Informasi dan Komunikasi NIS KELAS
(TIK)

20. Koordinator Sekbid Komunikasi Nicola Ajig Satrio
dalam Bahasa Inggris

SUSUNAN PENGURUS MPK
MASA BHAKTI 2021/2022

SMA NEGERI 1 REJOTANGAN

NO JABATAN PENGURUS MPK NAMA

1 Ketua Umum Shandy Dharma Prayoga 8322 X MIPA 4
2 Wakil Ketua Rismadatul Amalia Sofa
7864 XI MIPA
3 Sekertaris Umum Amanda Amelia Yonnaning 4
Tyas
4 Bendahara 1 Amanda Azizah A. 8060 X MIPA 5
5 Bendahara 2 Nugrahani Gheriya P.
6 Koordinator 1 Madhavan Rafky Firmansyah 7632 XI IPS 2
9735
7 Koordinator 2 Aditya Saputra 7769 X MIPA 3
8 Komisi A Ulfa Tujarok XI MIPA
9 Komisi B Nawaf Azril Annaufal 7615
10 Komisi C Bernice Anastacia A 8345 2
8249 XI IPS 1
8101
X MIPA 2
X MIPA 2

X IPS 2

24

EKSTRAKURIKULER
SMA NEGERI 1 REJOTANGAN
1. PASKIBRAKA
2. PRAMUKA
3. PMR
4. DANCE
5. CINEMATO
6. JURNALISTIK
7. FOTOGRAFI
8. BASKET
9. VOLLY
10.FUTSAL
11.TARI
12.KARATE
13.PENCAK SILAT
14.MUSIK
15.KARAWITAN
16.ENGLISH CLUB
17. REMAS

25

Pelaksanaan Kegiatan MPLS

Tujuan dari diadakan kegiatan MPLS adalah untuk membatu peserta didik dalam
beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekolah yang baru. Pengenalan itu mencakup aspek
keamanan, kondisi lingkungan, sarana prasarana belajar dan keadaan sosial sekolah. Maka
setelah kegiatan MPLS selesai diharapkan peserta didik sudah terbiasa dengan kondisi
lingkungan sekolah.

Selain bertujuan untuk pengenalan terhadap kondisi sekolah pelaksanaan MPLS juga
berfungsi sebagai penumbuh kembangan kreativitas, rasa tanggung jawab, interaksi sosial,
pengembangan spiritual dan kegiatan yang menggali potensi diri peserta didik.

ARTI DAN MAKNA WAWASAN WIYATA MANDALA

A. Wawasan : Suatu pandangan atau sikap yang mendalam terhadap suatu hakikat.
Wiyata : Pendidikan Mandala : Tempat atau lingkungan Wiyata Mandala adalah sikap
menghargai dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekolah sebagai tempat
menuntut ilmu pengetahuan. Unsur - unsur wiyata mandala :
1. Sekolah merupakan lingkungan pendidikan
2. Kepala sekolah mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh atas
penyelenggaraan pendidikan dalam lingkungan sekolah.
3. Antara guru dan orang tua siswa harus ada saling pengertian dan kerjasama erat
untuk mengemban tugas pendidikan (hubungan yang serasi)
4. Warga sekolah di dalam maupun di luar sekolah harus menjunjung tinggi martabat
dan citra guru.
5. Sekolah harus bertumpu pada masyarakat sekitarnya dan mendukung antarwarga.

B. SEKOLAH DAN FUNGSINYA
Sekolah merupakan tempat penyelenggaraan PBM, menanamkan dan mengembangkan

berbagai nilai, ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan. Sekolah merupakan lembaga
pendidikan formal tempat berlangsungnya PBM untuk membina dan mengembangkan:
1. Ilmu pengetahuan dan teknologi
2. Pandangan hidup/kepribadian
3. Hubungan antara manusia dengan lingkungan atau manusia dengan Tuhannya
4. Kemampuan berkarya.

26

C. FUNGSI SEKOLAH

Fungsi sekolah adalah sebagai tempat masyarakat belajar karena memiliki aturan/tata
tertib kehidupan yang mengatur hubungan antara guru, pengelola pendidikan siswa dalam
PBM untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dlam suasana yang dinamis.

D. CIRI-CIRI SEKOLAH SEBAGAI MASYARALAT BELAJAr

Ciri-ciri sekolah sebagai masyarakat belajar adalah :

1. Ada guru dan siswa, timbulnya PBM yang tertib

2. Tercapainya masyarakat yang sadar, mau belajar dan bekerja keras.

3. Terbentuknya manusia Indonesia seutuhnya.

E. PRINSIP SEKOLAH

Sekolah sebagai Wiyata Mandala selain harus bertumpu pada masyarakat sekitarnya,
juga harus mencegah masuknya faham sikap dan perbuatan yang secara sadar ataupun tidak
dapat menimbulkan pertentangan antara sesama karena perbedaan suku, agama,
asal/usul/keturunan, tingkat sosial ekonomi serta perbedaan paham politik. Sekolah tidak boleh
hidup menyendiri melepaskan diri dari tantangan sosial budaya dalam masyarakat tempat
sekolah itu berada.

Sekolah juga menjadi suri teladan bagi kehidupan masyarakat sekitarnya, serta mampu
mencegah masuknya sikap dan perbuatan yang akan menimbulkan pertentangan. Untuk itu
sekolah memiliki prinsip - prinsip sebagai berikut :

1. Sekolah sebagai wadah/lembaga yang memberikan bekal hidup.

Dalam hal ini sekolah seharusnya bukan hanya sekedar lembaga yang mencetak para
intelektual muda namun lebih dari itu sekolah harus menjadi rumah kedua yang memberikan
pelayanan dan pengalaman tentang hidup, mulai dari berorganisasi, bermasyarakat
(bersosialisasi), pendidikan lingkungan hidup (PLH) atau bahkan pengalaman hidup yang
sesungguhnya.

2. Sekolah sebagai institusi tempat peserta didik belajar dibawah bimbingan pendidik.

Bimbingan lebih dari sekedar pengajaran. Dalam bimbingan peran pendidik berubah
dari seorang pendidik menjadi seorang orangtua bahkan menjadi seorang kakak.

3. Sekolah sebagai lembaga dengan pelayanan yang adil/merata bagi stakeholdernya.

Hal tersebut bisa berupa pemerataan kesempatan mendapatkan transfer of knowledge,
maupun transfer of experience, dengan tanpa membedakan baik dari segi kemampuan
ekonomi, kemampuan intelegensia, dan juga kemampuan fisik (gagasan sekolah inklusi).

4. Sekolah sebagai lembaga pengembangan bakat dan minat siswa.

Prinsip ini sejalan dengan teori multiple intelligence (Howard Gardner) yang
memandang bahwa kecerdasan intelektual bukanlah satu-satunya yang perlu diperhatikan oleh
lembaga pendidikan, terutama sekolah. Kemampuan bersosialisasi, kemampuan kinestik,

27

kemampuan seni dan kemampuan - kemampuan lainnya juga perlu diperhatikan secara
seimbang.

5. Sekolah sebagai lembaga pembinaan potensi di luar intelegensi.

Peningkatan kemampuan intelektual, emosional maupun kemampuan-kemampuan
lainnya mendapat perhatian yang seimbang.

6. Sekolah harus memberikan perhatian serius untukmengembangkan kemampuan
emosional dan sosial, kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi, kemampuan bekerjasama
dalam kelompok, dan lain-lain.

7. Sekolah sebagai wahana pengembangan sikap dan watak.

Sikap sederhana, jujur, terbuka, penuh toleransi, rela berkomunikasi dan berinteraksi,
ramah tamah dan bersahabat, cinta negara, cinta lingkungan, siap bantu membantu khususnya
kepada yang kurang beruntung merupakan sikap dan watak yang perlu dibentuk di dalam
lingkungan sekolah.

8. Sekolah sebagai wahana pendewasaan diri.

Di dalam dunia yang berubah begitu cepat, salah satu kompetensi dasar yang harus
dimiliki tiap peserta didik adalah kompetensi dasar: belajar secara mandiri. Dengan proses
pendewasaan yang diberikan di sekolah, pendidik tidak lagi perlu menjejali pemikiran peserta
didik dengan perintah. Lebih dari itu peserta didik akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih
besar ketika ia mencari dan mendapatkan apa yang ia butuhkan untuk hidupnya.

9.Sekolah sebagai bagian dari masyarakat belajar (learning society).

Sekolah bukan hanya sebagai tempat pembelajaran bagi peserta didik, namun juga
seharusnya sekolah mampu menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat di lingkungan sekitar.

F. PENGGUNAAN SEKOLAH

Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan yang diperuntukan sebagai tempat proses
kegiatan belajar mengajar, tidak diperbolehkan dijadikan sebagai tempat :

1. Ajang promosi /penjualan produk-produk perniagaan yang tidak berhubungan dengan
pendidikan.

2. Sekolah merupakan lingkungan bebas rokok bagi semua pihak.

3. Penyebaran aliran sesat atau penyebarluasan aliran agama tertentu yang bertentangan dengan
undang-undang.

4. Propaganda politik/kampanye.

5. Shooting film dan atau sinetron tanpa seijin Pemerintah Daerah.

6. . Kegiatan-kegiatan yang dapat menimbulkan kerusakan, perpecahan, dan perselisihan,
sehingga menjadikan suasana sekolah tidak kondusif.

28

G. PENATAAN WIYATA MANDALA DALAM UPAYA KETAHANAN SEKOLAH

1. Ketahanan sekolah lebih menitikberatkan pada upaya-upaya yang bersifat preventif.

2. Untuk menjadikan sekolah sesuai dengan tujuan dan fungsinya, perlu dilakukan penataan
Wiyata Mandala di sekolah melalui langkah-langkah :

a) Meningkatkan koordinasi dan konsolidasai sesama warga sekolah untuk dapat
mencegah sedini mungkin adanya kegiatan dan tindakan yang dapat mengganggu
proses belajar mengajar.

b) Melaksanakan tata tertib sekolah secara konsisten dan berkelanjutan.

c) Melakukan koordinasi dengan Komite sekolah dan pihak keamanan setempat untuk
terselenggaranya ketahanan sekolah.

d) Mengadakan penyuluhan bagi orangtua dan siswa yang bermasalah

e) Mengadakan penyuluhan dan pembinanan kesadaran hukum bagi siswa.

f) Pembinaan dan pengembangan keimanan, ketaqwaan, etika bermoral Pancasila,
kepribadian sopan santun dan berdisiplin.

g) Pengembangan logika para siswa, rajin belajar, gairah menulis, gemar membaca/
informasi/penemuan para ahli.

h) Mengikutsertakan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri.

i) Mengadakan karya wisata dalam rangka pengembangan iptek.

H. TUGAS, WEWENANG DAN TANGGUNGJAWAB KEPALA SEKOLAH DALAM
HAL PELAKSANAAN WIYATA MANDALA

Kepala Sekolah sebagai pimpinan utama, bertugas dan bertanggungjawab memimpin
penyelenggaraan belajar mengajar serta membina pendidik dan tenaga kependidikan serta
membina hubungan kerja sama dan peran serta masyarakat. Kepala Sekolah dalam
melaksanakan penataan Wiyata Mandala di sekolah, dengan melakukan kegiatan - kegiatan :

1. Melaksanakan program-program yang telah disusun bersama Komite Sekolah.

2. Menyelenggarakan musyawarah sekolah yang melibatkan pendidik, OSIS, Komite Sekolah,
tokoh masyarakat serta pihak keamanan setempat.

3. Menertibkan lingkungan sekolah baik yang berbentuk perangkat keras (sarana prasarana)
dan perangkat lunak (peraturan - peraturan, tata tertib, tata upacara dan lain lain).

4. Mengadakan pertemuan baik rutin maupun insidentil yang bersifat intern sekolah (kepala
sekolah, pendidik, orangtua siswa, siswa).

5. Menyelenggarakan kegiatan yang dapat menunjang ketahanan sekolah seperti PKS,
Pramuka, PMR, Paskibraka, kesenian dan sebagainya.

29

I. MEKANISME DALAM PELAKSANAAN WIYATA MANDALA
Dalam rangka pelaksanaan Wiyata Mandala perlu upaya penang - gulangan secara dini

setiap permasalahan yang timbul sehingga dapat menghilangkan dampak negatifnya, yaitu
dilaksanakan secara terpadu, bertahap dan berlanjut sebagai berikut :
1. Tahap Preventif Upaya untuk meniadakan peluang-peluang yang dapat memungkinkan
terjadinya kasus-kasus negatif di sekolah, melalui antara lain :

`a) Memelihara sekolah, dan lingkungan sekolah serta menciptakan kebersihan dan
ketertiban agar siswa merasa nyaman dan menyenangkan dan tidak ada tempat tertentu
yang dijadikan siswa untuk hal-hal negatif.
b) Menciptakan suasana yang harmonis antara pihak pendidik/staf dan siswa serta
penduduk di sekitar sekolah.
c) Membentuk jaring-jaring pengawasan/kontrol dan razia terhadap kegiatan siswa di
lingkungan sekolah.
d) Menghilangkan bentuk-bentuk perpeloncoan pada saat MOS.

e) Meminimalisir keterlibatan kelompok maupun perorangan dalam kegiatan sekolah.
f) Mengisi jam-jam kosong dengan pelajaran atau kegiatan ekstra lainnya.
g) Meningkatkan kegiatan ekstra kurikuler pada masa awal/akhir semester dan masa
liburan sekolah.
h) Peningkatan keamanan dan ketertiban khususnya pada saat berangkat/ usai sekolah.
2. Tahap Represif Upaya untuk menindak siswa yang telah melanggar peraturan-peraturan dan
tata tertib sekolah. Upaya Represif seperti :
a) Mendamaikan para pihak yang terlibat perselisihan berikut orangtua/pendidik
pembinanya.
b) Membatasi areal tempat terjadinya aksi.
c) Menetralisir isu-isu yang berkembang dan mencegah timbulnya isu-isu baru.
d) Berkoordinasi dengan pihak keamanan apabila terdapat pihak luar sekolah yang
melanggar keamanan, ketertiban dan perbuatan kriminalitas di lingkungan sekolah.
e) Mengungkap lebih lanjut keterlibatan pihak luar sekolah atas kasus yang timbul dan
menyelesaikan secara hukum.
f) Mengikutsertakan para ahli untuk mengadakan bimbingan dan penyuluhan.
g) Memberikan sanksi sesuai tata tertib yang berlaku.

30

Materi kurikulum 2013

Tahap pelaksanaan pembelajaran kurikulum 2013 meliputi:

a. Kegiatan Pendahuluan Dalam kegiatan pendahuluan, guru:

1) mengondisikan suasana belajar yang menyenangkan.
2) mendiskusikan kompetensi yang sudah dipelajari dan dikembangkan sebelumnya
berkaitan dengan kompetensi yang akan dipelajari dan dikembangkan;
3) menyampaikan kompetensi yang akan dicapai dan manfaatnya dalam kehidupan
sehari-hari; dan

4) menyampaikan garis besar cakupan materi dan kegiatan yang akan dilakukan.

5) menyampaikan lingkup dan teknik penilaian yang akan digunakan
b. Kegiatan Inti Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi,
yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta
didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas,
dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta
didik. Kegiatan inti menggunakan pendekatan saintifik yang disesuaikan dengan karakteristik
mata pelajaran dan peserta didik. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan proses
mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar/mengasosiasi, dan
mengomunikasikan. Dalam setiap kegiatan guru harus memperhatikan perkembangan sikap
peserta didik pada kompetensi dasar dari KI-1 dan KI-2 antara lain mensyukuri karunia Tuhan,
jujur, teliti, kerja sama, toleransi, disiplin, taat aturan, menghargai pendapat orang lain yang
tercantum dalam silabus dan RPP.

c. Kegiatan Penutup Kegiatan penutup terdiri atas:

1) Kegiatan guru bersama peserta didik yaitu:

(a) membuat rangkuman/simpulan pelajaran;

(b) melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; dan

(c) memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.

2) Kegiatan guru yaitu:

(a) melakukan penilaian;
(b) merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program
pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individual
maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar peserta didik; dan

31

(c) menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya. Daya Dukung
Proses pembelajaran memerlukan daya dukung berupa ketersediaan sarana dan
prasarana pembelajaran. Sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media
pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan
lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan
berkelanjutan. Prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan
pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium,
ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat
berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat
lain yang

ASPEK PENILAIAN

Pengetahuan
Aspek pengetahuan merupakan aspek yang ada di dalam materi pembelajaran untuk menmbah
wawasan siswa di suatu bidang. Di dalam struktur kurikulum ini,jenjang SD memiliki
pengetahuan sebanyak 20% dan 80% aspek karakter,jenjang SMP memiliki bobot pengetahuan
40% dan 60% aspek karakter,dan jenjang SMA memiliki bobot pengetahuan 80% dan 20%
aspek karakter. Pada Kurikulum 2013 memang diintergrasikan dengan pendidikan karakter
yang sebelumnya telah dicanangkan pemerintah sebelum terbentuknya kurikulum ini.
Keterampilan
Aspek keterampilan bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam
membuat,melaksanakan,dan mengerjakan suatu soal atau proyek sehingga siswa dapat terlatif
sifat ilmiah dan karakter yang merujuk pada aspek keterampilan. Aspek keterampilan dapat
berupa keterampilan pengerjaan soal, keterampilan pengerjaan dan pelaksanaan
proyek,keterampilan membuat teks,dan keterampilan dalam menjawab soal lisan.
Sikap dan Perilaku
Aspek penilaian sikap dan perilaku merupakan aspek penilaian dengan menilai sikap dan
perilaku peserta didik selama proses pembelajaran. Aspek penilaian ini dinilai oleh guru dalam
jurnal harian,teman sejawat dalam sebuah lembaran nilai,dan diambil oleh diri masing-masing
siswa.

32

MATERI CARA BELAJAR EFEKTIF

Belajar yang efektif adalah proses belajar mengajar yang berhasil guna, dan proses
pembelajaran itu mampu memberikan pemahaman, kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan
mutu / kualitas yang lebih baik serta dapat memberikan perubahan perilaku dan dapat
diaplikasikan atau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga hasil dari pembelajaran itu
akan dapat menghasilkan sumber daya manusia yang unggul.

Dan untuk mencapai belajar yang efektif tentu saja dalam proses belajarnya harus
dilakukan dengan baik dan benar. Berikut ini adalah tips-tips belajar yang baik dan benar :

1. Belajar Kelompok

Belajar kelompok dapat menjadi kegiatan belajar menjadi lebih menyenangkan karena
ditemani oleh teman dan berada di rumah sendiri sehingga dapat lebih santai. Namun sebaiknya
tetap didampingi oleh orang dewasa seperti kakak, paman, bibi atau orang tua agar belajar tidak
berubah menjadi bermain. Belajar kelompok ada baiknya mengajak teman yang pandai dan
rajin belajar agar yang tidak pandai jadi ketularan pintar. Dalam belajar kelompok kegiatannya
adalah membahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian kelompok belajar
baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru.

2. Rajin Membuat Catatan Intisari Pelajaran

Bagian-bagian penting dari pelajaran sebaiknya dibuat catatan di kertas atau buku kecil
yang dapat dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca di mana pun kita berada. Namun
catatan tersebut jangan dijadikan media mencontek karena dapat merugikan kita sendiri.

3. Membuat Perencanaan Yang Baik

Untuk mencapai suatu tujuan biasanya diiringi oleh rencana yang baik. Oleh karena itu
ada baiknya kita membuat rencana belajar dan rencana pencapaian nilai untuk mengetahui
apakah kegiatan belajar yang kita lakukan telah maksimal atau perlu ditingkatkan. Sesuaikan
target pencapaian dengan kemampuan yang kita miliki. Buat rencana belajar yang
diprioritaskan pada mata pelajaran yang lemah. Buatlah jadwal belajar yang baik.

4. Disiplin Dalam Belajar

Apabila kita telah membuat jadwal belajar maka harus dijalankan dengan baik.
Contohnya seperti belajar tepat waktu dan serius tidak sambil main-main dengan konsentrasi
penuh. Jika waktu makan, mandi, ibadah, dan sebagainya telah tiba maka jangan ditunda-tunda
lagi. Lanjutkan belajar setelah melakukan kegiatan tersebut jika waktu belajar belum usai.
Bermain dengan teman atau game dapat merusak konsentrasi belajar.

Sebaiknya kegiatan bermain juga dijadwalkan dengan waktu yang cukup panjang
namun tidak melelahkan jika dilakukan sebelum waktu belajar. Jika bermain video game
sebaiknya pilih game yang mendidik dan tidak menimbulkan rasa penasaran yang tinggi
ataupun rasa kekesalan yang tinggi jika kalah.

33

5. Menjadi Aktif Bertanya dan Ditanya

Jika ada hal yang belum jelas, maka tanyakan kepada guru, teman atau orang tua. Jika
kita bertanya biasanya kita akan ingat jawabannya. Jika bertanya, bertanyalah secukupnya dan
jangan bersifat menguji orang yang kita tanya. Tawarkanlah pada teman untuk bertanya kepada
kita hal-hal yang belum dia pahami. Semakin banyak ditanya maka kita dapat semakin ingat
dengan jawaban dan apabila kita juga tidak tahu jawaban yang benar, maka kita dapat
membahasnya bersama-sama dengan teman.

6. Belajar Dengan Serius dan Tekun

Ketika belajar di kelas dengarkan dan catat apa yang guru jelaskan. Catat yang penting
karena bisa saja hal tersebut tidak ada di buku dan nanti akan keluar saat ulangan atau ujian.
Ketika waktu luang baca kembali catatan yang telah dibuat tadi dan hapalkan sambil
dimengerti. Jika kita sudah merasa mantap dengan suatu pelajaran maka ujilah diri sendiri
dengan soal-soal. Setelah soal dikerjakan periksa jawaban dengan kunci jawaban. Pelajari
kembali soal-soal yang salah dijawab.

7. Hindari Belajar Berlebihan

Jika waktu ujian atau ulangan sudah dekat biasanya kita akan panik jika belum siap.
Jalan pintas yang sering dilakukan oleh pelajar yang belum siap adalah dengan belajar hingga
larut malam / begadang atau membuat contekan. Sebaiknya ketika akan ujian tetap tidur tepat
waktu karena jika bergadang semalaman akan membawa dampak yang buruk bagi kesehatan,
terutama bagi anak-anak.

8. Jujur Dalam Mengerjakan Ulangan dan Ujian

Hindari mencontek ketika sedang mengerjakan soal ulangan atau ujian. Mencontek
dapat membuat sifat kita curang dan pembohong. Kebohongan bagaimanapun juga tidak dapat
ditutup-tutupi terus-menerus dan cenderung untuk melakukan kebohongan selanjutnya untuk
menutupi kebohongan selanjutnya. Anggaplah dengan nyontek pasti akan ketahuan guru dan
memiliki masa depan sebagai penjahat apabila kita melakukan kecurangan.

9. Jadilah Seorang Pemimpin. Latihlah rasa tanggung jawabmu.

Apabila guru meminta bantuanmu untuk mengerjakan sesuatu misalnya membersihkan
kelas, jangan ragu untuk menerimanya. Ajak beberapa teman kelas dan pimpin mereka untuk
membersihkan kelas bersama-sama.

10. Mendengarkan Penjelasan Guru Dengan Baik.

Jawablah setiap pertanyaan yang diajukan oleh guru apabila kamu mengetahui
jawabannya. Jangan menunggu guru untuk memanggil kamu untuk menjawab pertanyaan.

11. Jangan Malu Untuk Bertanya.

Selalu ajukan pertanyaan kepada guru apabila tidak mengerti tentang sesuatu hal.

34

12. Kerjakan PR

Kerjakan PR dengan baik, jangan selalu mencari alasan untuk tidak mengerjakannya.
Jangan malas mengerjakan PR dengan alasan lupa atau menunda-nunda mengerjakannya. Enak
kan kalau kita cepat mengerjakan PR, jadi masih punya banyak waktu untuk bermain dan
nonton TV deh!

13. Selalu Mengulang Pelajaran yang Sudah diajarkan

Setiap pulang dari sekolah, selalu mengulang pelajaran yang tadi diajarkan. Nanti
sewaktu ada ulangan jadi tidak banyak yang harus dipelajari! Asyik!

14. Cukup Istirahat, Makan Dan Bermain

Semuanya dilakukan secara berimbang. Setelah pulang sekolah, kita sering ingin cepat-
cepat bermain dan melupakan segala hal penting lainnya, contohnya makan dan istirahat.
Padahal setelah seharian di sekolah, tak terasa badan kita membutuhkan masukan energi
tambahan yang bisa didapatkan dari istirahat dan makanan yang kita makan. Oleh karenanya
kita harus dapat membagi waktu untuk makan, istirahat dan bermain. Kalau semuanya
dilakukan dengan baik, badan jadi segar setiap hari! Jadi tidak sering mengantuk di kelas!

15. Banyak Berlatih Pelajaran Yang Kurang Disukai

Apabila kamu tidak menyenangi suatu mata pelajaran, contohnya matematika, maka
banyak-banyaklah berlatih, mengikuti kursus atau belajar berkelompok dengan teman. Sehabis
belajar bisa bermain dan menambah teman baru di tempat kursus. Selain itu, siapa tahu dari
kurang menyukai matematika, kalian malahan menyukainya.

16. Ikutilah Kegiatan Ektrakurikuler Yang Kamu Senangi

Cari tahu kegiatan apa yang cocok dan kamu suka. Contohnya apabila kalian suka
pelajaran tae kwon do, cobalah untuk mengikuti kursus dari kegiatan tersebut, sehingga selain
belajar pelajaran-pelajaran yang diajarkan di sekolah, kalian juga dapat mendapatkan pelajaran
tambahan di luar sekolah.

17. Cari Seorang Pembimbing Yang Baik

Orangtua adalah pembimbing yang terbaik selain guru. Apabila ada yang kurang jelas
dari keterangan guru di sekolah, kalian dapat menanyakan hal tersebut kepada orang tua. Selain
itu, kalian juga dapat belajar dari teman yang berprestasi.

18. Jangan Suka Mencontek Teman

Kalau mencontek, kamu bisa bodoh karena tidak berpikir sendiri. Lagipula belum tentu,
teman yang kamu contek itu menjawab pertanyaan dengan benar. Belum lagi kalau ketahuan
guru dan teman lain, malu kan? Kalau kamu rajin belajar, pasti bisa menjawab semua
pertanyaan dengan benar sehingga ulangan dapat nilai baik.

35

19. Niat Dengan Sungguh-Sungguh

Kalau belajar tidak sungguh-sungguh ataupun tidak niat, yang ada malah pikiran kita
melayang kemana-mana. Entah itu tentang makanan, games, lawan jenis, dll. Oleh sebab itu,
belajar yang baik dimulai dengan niat yang sungguh-sungguh.

20. Lokasi dan Situasi Yang Kondusif

Jikalau kita belajar, tidak mungkin kalau kita lakukan di tengah jalan raya? Ataupun
ketika kita sedang makan. Cara yang paling efektif untuk belajar adalah mencari tempat yang
nyaman dan tidak terlalu banyak gangguan agar kita bisa lebih konsentrasi.

21. Hindari Sikap Tidak Jujur

Sekarang ini banyak siswa membuat catatan untuk mencontek saat ada ulangan atau
ujian. Dengan belajar dengan jadwal yang teratur seorang murid akan selalu siap jika ada
ulangan dadakan dan tidak perlu mencontek.

22. Metode Imitasi

Proses belajar bisa berjalan dengan sempurna melalui metode imitasi atau meniru.
Metode ini di realisasikan ketika seorang meniru orang lain atau gurunya, metode ini sering di
gunakan anak kecil untuk melafal kata bahasa dari orang tuanya, Begitu juga jika ia meniru
berbagai perilaku,etika dan tradisi

23. Trial and Error

Manusia juga belajar dari eksperimen pribadi.dia akan berusaha secara mandiri untuk
memecahkan masalah yang di hadapi.terkadang beberapa kali dia melakukan kesalahan dalam
memecahkan masalah, namun dia juga beberapa kali mencoba untuk melakuakan kembali.
Sampai pada akhirnya dia mampu untuk menyelesaikan permasalahan dengan benar.

24. Conditioning

Manusia bisa belajar dengan pengkondisian. Seseorang di katakan belajar dengan
pengkondisian jika ada stimulun dari indrawi yang merangsangnya. Ketika itulah seseorang
menanggapi stimulus tersebut. Tanggapan yang ia berikan ialah suatu respon yang juga di
barengkan dengan stimulus netral. Kemudian respon menyertai stimulus netral itu akan di
ulang beberapa kali.

Setelah di lakukan pengulangan beberapa kali, kita akan menjumpai bahwa stimulus
netrsl bisa memberikan respon dengan sendirinya sekalipun stimulus indrawi sudah tidak ada
lagi.contoh klasi yang dilakukan psikolog Rusia Ivan pavlov dalam experimennya yang cukup
masyur. Dia membunyikan lonceng (stimulus netral) pada waktu dia meletakkan sedikit
makanan di mulut anjing (indrawi).biasanya, jika makanan itu di letakkan di deapn mulut
anjing maka anjing tersebut akan meneteskan air liur (respon).dengan demikian air liur
berbarengan dengan bunyi lonceng.

36

Ketika hal ini di ulangi beberapa kali, maka peneliti mencoba untuk membunyikan
lonceng tanpa meletakkan makanan pada mulut anjing tersebut. Maka hasilnya anjing tersebut
tetap meneteskan air liur ketika ia mendengar suara lonceng, sebuah respon baru yang belum
pernah dialami oleh anjing. Sekarang anjing tersebut merespon bunyi lonceng dengan
meneteskan air liurnya.padahal sebelum di lakukan eksperimen anjing tersebut tidak
meneteskan air liur kalau hanya mendengar bunyi lonceng.

25. Metode Berpikir

Proses belajar juga bisa berjalan sempurna dengan melalui metode berpikir, dengan
metode ini seseorang sering kali mampu menyelesaikan masalah hidupnya, dia akan memilki
kesamaan dan apa saja yang tidak memiliki kemiripan.

Dengan demikian dia akan bisa menarik kesimpulan, dengan pilihan tersebut. Maka
pada kuncinya berilah anak-anak kita pertanyaan yang menurut dia mudah, dengan demikian
anak tersebut akan selalu belajar dan berpikir.

26. Mulailah Dari yang “Kecil”

Mulailah belajar dari topik yang paling anda kuasai / gampang. Setelah itu barulah
dilanjutkan dengan topik yang lebih “menantang”. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak
langsung down dan putus asa jika mengerjakan soal-soal sulit terlebih dahulu.

27. Sering-seringlah “Practice”

Latihan dan latihan itulah kunci untuk mahir dalam suatu mata pelajaran. Semakin
banyak anda mengerjakan dan memahami soal semakin terbiasa pula anda dalam
mengerjakannya.

28. Fokus

Ketika belajar, kita dituntut untuk serius. Jangan setengah hati. Karena pikiran kita tidak
dapat melakukan / memikirkan beberapa kegiatan / hal dalam satu waktu.

29. Mohon Bimbingan-NYA

Jangan lupa banyak-banyak berdoa. Karena selain dari nilai religi-nya, hal tersebut
dapat membuat kita lebih fokus ketika belajar dan dapat membuat pikiran kita lebih tenang.

30. Menggunakan Media dan Sumber-Sumber Yang Relevan

Jika kita hanya menggunakan 1 buku sebagai bahan patokan untuk belajar. Apapun
hasil yang kita dapat belum tentu maksimal. Untuk itulah, cobalah untuk mencari-cari hal yang
terkait kita pelajari dengan menggunakan Sumber dan Media yang sudah ada. Kita bisa
mencarinya dengan menggunakan Internet, Koran, Buku lain, Majalah, dan lain-lain. Tentu
kita juga tidak mau ilmu yang kita dapat hanya segitu saja karena hanya mempunyai 1 buku
atau sumber yang tidak lengkap. Untuk itulah, Sumber dan Media hanyalah sebagai pelengkap
dalam belajar yang baik dan benar.

37

MATERI PENDIDIKAN KARAKTER

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Ahli

Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter (character
education) dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang
melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas,
maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja,
kebiasaan menyontek, penyalahgunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang
lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas, oleh
karena itu betapa pentingnya pendidikan karakter.

Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap
moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini
dapat dinyatakanbahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan,
keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan. Bagan di bawah ini
merupakan bagan kterkaitan ketiga kerangka pikir ini.

1. Pendidikan Karakter Menurut Lickona

Secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang
dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk mengetahui pengertian
yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan karakter yang disampaikan oleh
Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu
usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami,
memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti.

2. Pendidikan Karakter Menurut Suyanto

Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang
menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga,
masyarakat, bangsa, maupun negara.

3. Pendidikan Karakter Menurut Kertajaya

Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas
tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta
merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan
merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).

4. Pendidikan Karakter Menurut Kamus Psikologi

Menurut kamus psikologi, karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik tolak etis atau
moral, misalnya kejujuran seseorang, dan biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif
tetap (Dali Gulo, 1982: p.29). Nilai-nilai dalam pendidikan karakter. Ada 18 butir nilai-nilai
pendidikan karakter yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri,
Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi,
Bersahabat/komunikatif, Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli sosial,
Tanggung jawab.

38

Pendidikan karakter telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka
mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga
negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat
diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character
development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah/madrasah
untuk membantu pembentukan karakter secara optimal.

Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan
dapat tercapai. Di antara metode pembelajaran yang sesuai adalah metode keteladanan, metode
pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman.

Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu
untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap
mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.Pembentukan karakter
merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003
menyatakan bahwa di antara tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi
peserta didik untuk memiliki kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia.

Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu bermaksud agar pendidikan tidak hanya
membentuk insan Indonesia yang cerdas, namun juga berkepribadian atau berkarakter,
sehingga nantinya akan lahir generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang
bernafas nilai-nilai luhur bangsa serta agama.

Pendidikan yang bertujuan melahirkan insan cerdas dan berkarakter kuat itu, juga
pernah dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni; intelligence plus character… that is the goal
of true education (kecerdasan yang berkarakter… adalah tujuan akhir pendidikan yang
sebenarnya).

Memahami Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yangmelibatkan aspek
pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Menurut Thomas Lickona,
tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif.

Dengan pendidikan karakter yang diterapkan secara sistematis dan berkelanjutan,
seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi ini adalah bekal penting dalam
mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena seseorang akan lebih mudah dan
berhasil menghadapi segala macam tantangan kehidupan, termasuk tantangan untuk berhasil
secara akademis.

Terdapat sembilan pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu:

1. Karakter cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya

2. Kemandirian dan tanggungjawab

3. Kejujuran/amanah, diplomatis

4. Hormat dan santun

5. Dermawan, suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama;

39

6. Percaya diri dan pekerja keras

7. Kepemimpinan dan keadilan

8. Baik dan rendah hati, dan

9. Karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Kesembilan pilar karakter itu, diajarkan secara sistematis dalam model pendidikan holistik
menggunakan metode knowing the good, feeling the good, dan acting the good. Knowing the
good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja. Setelah knowing the
good harus ditumbuhkan feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai
kebajikan menjadi engine yang bisa membuat orang senantiasa mau berbuat sesuatu kebaikan.
Sehingga tumbuh kesadaran bahwa, orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta
dengan perilaku kebajikan itu. Setelah terbiasa melakukan kebajikan, maka acting the good itu
berubah menjadi kebiasaan.

Dasar pendidikan karakter ini, sebaiknya diterapkan sejak usia kanak-kanak atau yang
biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat
menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika
anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun, dan 20% sisanya
pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua. Dari sini, sudah sepatutnya pendidikan karakter
dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter
anak.

Namun bagi sebagian keluarga, barangkali proses pendidikan karakter yang sistematis
di atas sangat sulit, terutama bagi sebagian orang tua yang terjebak pada rutinitas yang padat.
Karena itu, seyogyanya pendidikan karakter juga perlu diberikan saat anak-anak masuk dalam
lingkungan sekolah, terutama sejak play group dan taman kanak-kanak.

Di sinilah peran guru, yang dalam filosofi Jawa disebut digugu lan ditiru, dipertaruhkan.
Karena guru adalah ujung tombak di kelas, yang berhadapan langsung dengan peserta didik.

Dampak Pendidikan Karakter

Apa dampak pendidikan karakter terhadap keberhasilan akademik? Beberapa penelitian
bermunculan untuk menjawab pertanyaan ini. Ringkasan dari beberapa penemuan penting
mengenai hal ini diterbitkan oleh sebuah buletin, Character Educator, yang diterbitkan
oleh Character Education Partnership.

Dalam buletin tersebut diuraikan bahwa hasil studi Dr. Marvin Berkowitz dari
University of Missouri- St. Louis, menunjukan peningkatan motivasi siswa sekolah dalam
meraih prestasi akademik pada sekolah-sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Kelas-
kelas yang secara komprehensif terlibat dalam pendidikan karakter menunjukkan adanya
penurunan drastis pada perilaku negatif siswa yang dapat menghambat keberhasilan akademik.

40

Sebuah buku yang berjudul Emotional Intelligence and School Success (Joseph Zins,
et.al, 2001) mengkompilasikan berbagai hasil penelitian tentang pengaruh positif kecerdasan
emosi anak terhadap keberhasilan di sekolah. Dikatakan bahwa ada sederet faktor-faktor resiko
penyebab kegagalan anak di sekolah. Faktor-faktor resiko yang disebutkan ternyata bukan
terletak pada kecerdasan otak, tetapi pada karakter, yaitu rasa percaya diri, kemampuan bekerja
sama, kemampuan bergaul, kemampuan berkonsentrasi, rasa empati, dan kemampuan
berkomunikasi.

Hal itu sesuai dengan pendapat Daniel Goleman tentang keberhasilan seseorang di
masyarakat, ternyata 80 persen dipengaruhi oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen
ditentukan oleh kecerdasan otak (IQ). Anak-anak yang mempunyai masalah dalam kecerdasan
emosinya, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul dan tidak dapat mengontrol emosinya.

Anak-anak yang bermasalah ini sudah dapat dilihat sejak usia pra-sekolah, dan kalau
tidak ditangani akan terbawa sampai usia dewasa. Sebaliknya para remaja yang berkarakter
akan terhindar dari masalah-masalah umum yang dihadapi oleh remaja seperti kenakalan,
tawuran, narkoba, miras, perilaku seks bebas, dan sebagainya.

Beberapa negara yang telah menerapkan pendidikan karakter sejak pendidikan dasar di
antaranya adalah; Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan Korea. Hasil penelitian di negara-negara
ini menyatakan bahwa implementasi pendidikan karakter yang tersusun secara sistematis
berdampak positif pada pencapaian akademis.

Seiring sosialisasi tentang relevansi pendidikan karakter ini, semoga dalam waktu dekat
tiap sekolah bisa segera menerapkannya, agar nantinya lahir generasi bangsa yang selain cerdas
juga berkarakter sesuai nilai-nilai luhur bangsa dan agama.

41

MATERI TATA KRAMA SISWA

Tata krama atau adat sopan santun atau sering disebut etiket telah menjadi bagian dalam
hidup, contoh; pada waktu Anda masih kanak-kanak, orang tua Anda sudah melatih Anda
menerima pemberian orang dengan tangan sebelah kanan dengan mengucapkan terima kasih.
Orang tua Anda melatih Anda cara makan, minum, menyapa, memberi hormat dan berpakaian.
Lama kelamaan perilaku Anda menjadi kebiasan. Tata krama adalah kebiasaan, yang lahir
dalam hubungan antar manusia. Tata krama yang semula berlaku dalam lingkungan terbatas
lama kelamaan dapat merambat ke lingkungan yang lebih luas. Tata krama telah menjadi
bagian dari pergaulan sehari-hari. Jadi dapat disimpulkan bahwa tata krama adalah kebiasaan
sopan santun yang disepakati dalam lingkungan pergaulan antara manusia setempat.....

Tata krama terdiri atas kata tata dan krama. Tata berarti adat, aturan, norma, peraturan.
Krama berarti sopan santun, kelakuan, tindakan, perbuatan. Tata krama berarti adat sopan
santun, kebiasaan sopan santun. Dalam pergaulan sehari-hari sering kita jumpai manusia
dengan type kedondong yaitu orang yang berpenampilan menarik dalam berpakaian, berbicara,
makan, minum, dan berjalan. Namun penampilan itu hanyalah polesan saja. Ternyata hatinya
dikuasai oleh sifat-sifat tak terpuji, suka dendam, egois, suka menyakiti hati. Ada juga manusia
yang bertype durian, penampilan tidak menarik, kasar, dan tidak mengundang simpati, namun
berhati emas, rendah hati, suka memaafkan, suka menolong dan menghargai orang lain.

Kulit durian memang tajam dan kasar, tetapi buah durian terasa enak kalau dimakan.
Makna tata krama yang sesungguhnya bukanlah seperti kedondong yang licin kulitnya dan
masam rasanya, demikian pula makna tata krama bulanlah seperti durian yang tajam tapi enak
rasanya. Kedua-duanya sama merugikan.

Macam-macam tata krama: Tata krama pergaulan § Komunikasi sebagai sifat alami
manusia § Komunikasi dan tata krama pergaulan adalah hal yang tidak dapat dipisahkan.

Ada beberapa kunci pokok yang perlu dicamkan dalam masalah komunkasi:

a) Perlakuan orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan.

b) Setiap orang mempunyai perbedaan-perbedaan perorangan tidak ada kembar satu
telur yang sama.

c) Kenal dulu baru sayang, makin kenal makin sayang, tak kenal makin tak sayang.

Tata krama berkenalan Kedua belah pihak saling menyebutkan nama, saling
memandang, berjabatan tangan, tidak mengayun-ayunkan tangan. Tata krama bertamu
Hendaknya berjanji dahulu dan datang tepat waktu. Tata krama berbicara

 § Berkata peliharalah lidah, jangan menyinggung perasaan
 § Jangan memotong pembicaraan orang lain
 § Perhatikan Anda berbicara dengan siapa

42

Tata krama berpenampilan
a. Cara menggunakan pakaian

 § Kalau pakai seragam sekolah harus dimasukkan pakai dasi sabuk hitam (seragam
putih abu-abu)

 § Pada waktu olahraga pakailah pakaian dan olahraga §
 Memakai pakaian harus cocock denagn situasi dan tempat
b. Cara berjalan bersama
 § Laki-laki harus melindungi wanita
 § Kalau ada dua wanita dan satu pria, pria berjalan di sisi yang berdekatan dengan lalu

lintas
 § Kalau ada dua pria dan satu wanita, wanita ada di tengah.
c. Tata cara makan
 § Cicipilah makan dan minuman dengan tidak bersuara.
 § Jika batuk pada waktu makan tutupi mulut.
 § Berdoa sebelum makan.
d. Tata cara menggunakan fasilitas umum
 § Buang sampah pada tem patnya
 § Jagalah kebersihan baik di dalam kelas maupun di sekitar halaman.
 § Taman umum harus ikut kita jaga kebersihannya.
 § Sopan berkendara di jalan.
e. Kebiasaan merokok...

43

Materi MOS Pembinaan Mental Agama Di Sekolah

Pendidikan dimanapun dan kapanpun masih dipercaya orang sebagai media ampuh
untuk membentuk kepribadian anak ke arah kedewasaan. Pendidikan agama adalah unsur
terpenting dalam pendidikan moral dan pembinaan mental. Pendidikan moral yang paling baik
sebenarnya terdapat dalam agama karena nilai-nilai moral yang dapat dipatuhi dengan
kesadaran sendiri dan penghayatan tinggi tanpa ada unsur paksaan dari luar, datangnya dari
keyakinan beragama.

Karenanya keyakinan itu harus dipupuk dan ditanamkan sedari kecil sehingga menjadi
bagian tidak terpisahkan dari kepribadian anak sampai ia dewasa. Melihat dari sini, pendidikan
agama di sekolah mendapat beban dan tanggung jawab moral yang tidak sedikit apalagi jika
dikaitkan dengan upaya pembinaan mental remaja. Usia remaja ditandai dengan gejolak
kejiwaan yang berimbas pada perkembangan mental dan pemikiran, emosi, kesadaran sosial,
pertumbuhan moral, sikap dan kecenderungan serta pada akhirnya turut mewarnai sikap
keberagamaan yang dianut (pola ibadah). Pada usia remaja, ditinjau dari aspek ideas and mental
growth, kekritisan dalam merangkum pemikiran-pemikiran keagamaan mulai muncul,
kekritisan yang dimaksud bisa berupa kejenuhan atau kebosanan dalam mengikuti uraian-
uraian yang disampaikan guru Agama di sekolah apalagi jika metodologi pengajaran yang
disampaikan cenderung monoton dan berbau indoktrinasi. Jadi mereka telah mulai
menampilkan respon ketidak sukaan terhadap materi keagamaan yang dipaketkan di sekolah.

Sebenarnya akar permasalahan yang timbul dari kekurang senangan remaja terhadap
paket materi pelajaran keagamaan di sekolah terletak pada minimnya motivasi untuk
mendalami agama secara lebih intens, yang lebih sederhana lagi ialah pelajaran agama yang
mereka dapat di sekolah kurang memberikan aplikasi dan solusi praktis dalam keseharian
mereka.

Apalagi waktu mereka lebih banyak dihabiskan dengan nonton teve, jalan-jalan ke mall,
ngeceng, pacaran dan hal-hal lain meski banyak juga remaja kita yang melakukan aktifitas
positif seperti remaja mesjid, berwiraswasta atau ikut organisasi eskul sekolah serta mengikuti
kursus-kursus keterampilan.

Jawaban dari permasalahan diatas adalah kembali pada sosok guru agama sebagai
tauladan dan sumber konsentrasi remaja yang menjadi pesertadidiknya. Mampukah ia
menjadikan dirinya termasuk masalah materi serta metodologi yang dipergunakan sebagai
referensi utama bagi peserta didiknya yang seluruhnya remaja itu dalam mengembangkan sikap
keberagamaan yang tidak sekedar merasa memiliki agama (having religion) melainkan sampai
kepada pemahaman agama sebagai comprehensive commitment dan driving integrating
motive, yang mengatur seluruh kehidupan seseorang dan merupakan kebutuhan primer yang
tidak bisa ditawar-tawar lagi. Sehingga nantinya remaja-remaja tersebut merasakan ibadah
sebagai perwujudan sikap keberagamaan intrinsik tersebut sama pentingnya atau malah lebih
penting dibanding nonton teve, jalan-jalan, hura-hura dan lain sebagainya.

44

Satu hal penting lainnya yang tidak boleh diabaikan oleh para guru Agama di sekolah
ialah materi pelajaran agama yang disampaikan di sekolah hendaknya selalu diorientasikan
pada kepentingan remaja, seorang guru Agama harus bisa menanamkan keyakinan bahwa apa-
apa yang ia sampaikan bukan demi kepentingan sekolah (kurikulum) atau kepentingan guru
Agama melainkan demi kepentingan remaja itu sendiri. Karenanya pemahaman akan kondisi
objektif kejiwaan remaja mutlak diperlukan oleh para guru Agama di sekolah. Seorang guru
Agama harus senantiasa dekat dan akrab dengan permasalahan remaja yang menjadi peserta
didiknya agar mampu menyelami sisi kejiwaan mereka. Dan materi pelajaran agamapun

harus terkesan akrab dan kemunikatif, sehingga otomatis sistem pengajaran yang
cenderung monolog (satu arah), indoktriner, terkesan sangar (karena hanya membicarakan
halal haram) harus dihindari, untuk kemudian diganti dengan sistem pengajaran yang lebih
menitik beratkan pada penghayatan dan kesadaran dari dalam diri. Hal ini mungkin saja
dilakukan baik dengan mengajak peserta didik bersama-sama mengadakan ritual peribadatan
(dalam rangka penghayatan makna ibadah) atau mengajak peserta didik terjun langsung ke
dalam kehidupan masyarakat kecil sehingga mereka bisa mengamati langsung dan turut
merasakan penderitaan yang dialami masyarakat marginal tersebut (sebagai upaya
menanamkan rasa solidaritas sosial). Jadi intinya mereka tidak hanya mendengar atau
mengetahui saja melainkan turut dilibatkan dalam permasalahan yang terdapat dalam materi
pengajaran agama di sekolah.

Namun diatas semua itu yang paling penting adalah keterpaduan unsur keluarga,
lingkungan masyarakat, kebijakan pemerintah disamping sekolah dalam rangka turut
menanamkan semangat beragama yang ideal (intrinsik) di kalangan para remaja. Karena tanpa
kerjasama terkait antar usur-unsur tersebut mustahil akan tercipta generasi muda (remaja) yang
berkualitas.

45

MATERI KESADARAN BERBANGSA DAN BERNEGARA

Di era globalisasi ini banyak tantangan memang bagi negeri kita, namun kesadaran
berbangsa dan bernegara sudah selayaknya rakyat dan pemerintah untuk bersama sama
memberikan pemahaman bagi rakyatnya, khususnya kaum muda. Pemerintah ikut bertanggung
jawab mengemban amanat untuk memberikan kesadaran berbangsa dan bernegara bagi
warganya, bila rakyat bangsa Indonesia sudah tidak memiliki kesadaran berbangsa dan
bernegara, maka ini merupakan bahaya besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, yang
mengakibatkan bangsa ini akan jatuh ke dalam kondisi yang sangat parah bahkan jauh terpuruk
dari bangsa-bangsa yang lain yang telah mempersiapkan diri dari gangguan bangsa lain.

Mengingat kondisi bangsa kita sekarang, merupakan salah satu indikator bahwa warga
bangsa Indonesia di negeri ini telah mengalami penurunan kesadaran berbangsa dan
bernegara. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai daerah sering bergejolak diantaranya tawuran
antar warga, perkelaian pelajar, ketidakpuasan terhadap hasil pilkada, perebutan lahan
pertanian maupun tambang, dan lain-lain. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara mempunyai
makna bahwa individu yang hidup dan terikat dalam kaidah dan naungan di bawah Negara
Kesatuan RI harus mempunyai sikap dan perilaku diri yang tumbuh dari kemauan diri yang
dilandasasi keikhlasan/kerelaan bertindak demi kebaikan Bangsa dan Negara Indonesia.

Berbagai masalah yang berkaitan dengan kesadaran berbangsa dan bernegara sebaiknya
mendapat perhatian dan tanggung jawab kita semua. Sehingga amanat pada UUD 1945 untuk
menjaga dan memelihara Negara Kesatuan wilayah Republik Indonesia serta kesejahteraan
rakyat dapat diwujudkan.

Hal lain yang dapat mengganggu kesadaran berbangsa dan bernegara di tingkat pemuda
yang perlu di cermati secara seksama adalah semakin tipisnya kesadaran dan kepekaan sosial
di tingkat pemuda, padahal banyak persoalan-persoalan masyarakat yang membutuhkan
peranan pemuda untuk membantu memediasi masyarakat agar keluar dari himpitan masalah,
baik itu masalah sosial, ekonomi dan politik, karena dengan terbantunya masyarakat dari semua
lapisan keluar dari himpitan persoalan, maka bangsa ini tentunya menjadi bangsa yang kuat
dan tidak dapat di intervensi oleh negara apapun, karena masyarakat itu sendiri yang harus
disejahterakan dan jangan sampai mengalami penderitaan. Di situ pemuda telah melakukan
langkah konkrit dalam melakukan bela negara.

Kesadaran bela negara adalah dimana kita berupaya untuk mempertahankan negara
kita dari ancaman yang dapat mengganggu kelangsungan hidup bermasyarakat yang
berdasarkan atas cinta tanah air. Kesadaran bela negara juga dapat menumbuhkan rasa
patriotisme dan nasionalisme di dalam diri masyarakat. Upaya bela negara selain sebagai
kewajiban dasar juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara yang dilaksanakan
dengan penuh kesadaran, penuh tanggung jawab dan rela berkorban dalam pengabdian kepada
negara dan bangsa. Keikutsertaan kita dalam bela negara merupakan bentuk cinta terhadap
tanah air kita.

46

Nilai-nilai bela negara yang harus lebih dipahami penerapannya dalam kehidupan
masyarakat berbangsa dan bernegara antara lain:

1. Cinta Tanah Air

Negeri yang luas dan kaya akan sumber daya ini perlu kita cintai. Kesadaran bela negara
yang ada pada setiap masyarakat didasarkan pada kecintaan kita kepada tanah air kita. Kita
dapat mewujudkan itu semua dengan cara kita mengetahui sejarah negara kita sendiri,
melestarikan budaya-budaya yang ada, menjaga lingkungan kita dan pastinya menjaga nama
baik negara kita.

2. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara

Kesadaran berbangsa dan bernegara merupakan sikap kita yang harus sesuai dengan
kepribadian bangsa yang selalu dikaitkan dengan cita-cita dan tujuan hidup bangsanya. Kita
dapat mewujudkannya dengan cara mencegah perkelahian antar perorangan atau antar
kelompok dan menjadi anak bangsa yang berprestasi baik di tingkat nasional maupun
internasional.

3. Pancasila

Ideologi kita warisan dan hasil perjuangan para pahlawan sungguh luar biasa, pancasila
bukan hanya sekedar teoritis dan normatif saja tapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-
hari. Kita tahu bahwa Pancasila adalah alat pemersatu keberagaman yang ada di Indonesia yang
memiliki beragam budaya, agama, etnis, dan lain-lain. Nilai-nilai pancasila inilah yang dapat
mematahkan setiap ancaman, tantangan, dan hambatan.

4. Rela berkorban untuk Bangsa dan Negara

Dalam wujud bela negara tentu saja kita harus rela berkorban untuk bangsa dan negara.
Contoh nyatanya seperti sekarang ini yaitu perhelatan seagames. Para atlet bekerja keras untuk
bisa mengharumkan nama negaranya walaupun mereka harus merelakan untuk mengorbankan
waktunya untuk bekerja sebagaimana kita ketahui bahwa para atlet bukan hanya menjadi
seorang atlet saja, mereka juga memiliki pekerjaan lain. Begitupun supporter yang rela
berlama-lama menghabiskan waktunya antri hanya untuk mendapatkan tiket demi mendukung
langsung para atlet yang berlaga demi mengharumkan nama bangsa.

5. Memiliki Kemampuan Bela Negara

Kemampuan bela negara itu sendiri dapat diwujudkan dengan tetap menjaga
kedisiplinan, ulet, bekerja keras dalam menjalani profesi masing-masing.

Kesadaran bela negara dapat diwujudkan dengan cara ikut dalam mengamankan
lingkungan sekitar seperti menjadi bagian dari Siskamling, membantu korban bencana
sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia sering sekali mengalami bencana alam, menjaga
kebersihan minimal kebersihan tempat tinggal kita sendiri, mencegah bahaya narkoba yang
merupakan musuh besar bagi generasi penerus bangsa, mencegah perkelahian antar perorangan
atau antar kelompok karena di Indonesia sering sekali terjadi perkelahian yang justru dilakukan
oleh para pemuda, cinta produksi dalam negeri agar Indonesia tidak terus menerus mengimpor
barang dari luar negeri, melestarikan budaya Indonesia dan tampil sebagai anak bangsa yang
berprestasi baik pada tingkat nasional maupun internasional.

47

Apabila kita mengajarkan dan melaksanakan apa yang menjadi faktor-faktor
pendukung kesadaran berbangsa dan bernegara sejak dini, yakni dengan mengembalikan
sosialisasi pendidikan kewarganegaraan di sekolah-sekolah, juga sosialisasi di
masyarakat,niscaya akan terwujud.. Pada pendidikan kewarganegaraan ditanamkan prinsip
etik multikulturalisme, yaitu kesadaran perbedaan satu dengan yang lain menuju sikap toleran
yaitu menghargai dan mengormati perbedaan yang ada. Perbedaan yang ada pada etnis dan
religi sudah harusnya menjadi bahan perekat kebangsaan apabila antar warganegara memiliki
sikap toleran.

Nasionalisme adalah sikap mencintai bangsa dan negara sendiri.
Nasionalisme terbagi atas ;

a. Nasionalisme dalam arti sempit, yaitu sikap mencintai bangsa sendiri secara berlebihan
sehingga menggap bangsa lain rendah kedudukannya, nasionalisme ini disebut juga
nasionalisme yang chauvinisme, contoh Jerman pada masa Hitler.

b. Nasionalisme dalam arti luas, yaitu sikap mencintai bangsa dan negara sendiri dan menggap
semua bangsa sama derajatnya.

Hans Kohn dalam bukunya Nationalism its meaning and history mendivinisikan
nasionalisme sebagai berikut :

 Suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan individu tertinggi harus diserahkan
pada negara.

 Perasaan yang mendalam akan ikatan terhadap tanah air sebagai tumpah darah.

Ada tiga hal yang harus kita lakukan untuk membina nasionalisme Indonesia :

a. Mengembangkan persamaan diantara suku-suku bangsa penghuni nusantara

b. Mengembangka sikap toleransi

c. Memiliki rasa senasib dan sepenanggungan diantara sesama bangsa Indonesia

Empat hal yang harus kita hidari ndalam memupuk sermangat nasionalisme adalah :

a. Sukuisme, menganggap msuku bangsa sendiri paling baik.

b. Chauvinisme, mengganggap bangsa sendiriu paling unggul.

c. Ektrimisme, sikap mempertahankan pendirian dengan berbagai cara kalau perlu dengan
kekerasan dan senjata.

d. Provinsialisme, sikap selalu berkutat dengan provinsi atau daerah sendiri.

Sikap patriotisme bangsa indonesia telah dimulai sejak jaman penjajahan, dengan
banyaknya pahlawan pahlawan yang gugur dalam rangka mengusir penjajah seperti Sultan
Hasanudin dari Makasar, Pangeran Diponogoro dari Jawa tengah, Cut Nyak Dien Tengku
Umar dari Aceh dll. Sikap patriotis memuncak setelah proklamasi kemerdekaan pada periode
perjuangan fisik

antara tahun 1945 sampai 1949 yaitu periode mempertahankan negara dari keinginan
Belanda untuk kembali menjajah Indonesia.

48

Sikap patriotisma adalah sikap sudi berkorban segala-galanya termasuk nyawa
sekalipun untuk mempertahankan dan kejayaan negara. Ciri-ciri patriotisme adalah:
a. Cinta tanah air.
b. Rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara.
c. Menempatkan persatuan dan kesatuan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan.
d. Berjiwa pembaharu.
e. Tidak kenal menyerah dan putus asa.

Implementasi sikap patriotisme dalam kehidupan sehari hari :
a. Dalam kehidupan keluarga ; Menyaksikan film perjuangan, Membaca buku bertema
perjuangan, dan Mengibarkan bendera merah putih pada hari- hari tertentu.
b. Dalam kehidupan sekolah ; Melaksanakan upacara bendera, mengkaitkan materi pelajaran
dengan nilaiu-nilai perjuangan, belajar dengan sungguh-sungguh untuk kemajuan.
c. Dalam kehidupan masyarakat ; Mengembangkan sikap kesetiakawanan sosial di
lingkungannya, Memelihara kerukunan diantara sesama warga.
d. Dalam kehidupan berbangsa ; Meningkatkan persatuan dan kesatuan, Melaksanakan
Pancasila dan UUD 1945, Mendukung kebijakan pemerintah, Mengembangkan kegiatann
usaha produktif, Mencintai dan memakai produk dalam negeri, Mematuhi peraturan hukum,
Tidak main hakim sendiri, Menghormati, dan menjungjung tinggi supremasi hukum, Menjaga
kelestarian lingkungan.

49


Click to View FlipBook Version