INTERAKSI SOSIAL
PENGAMATAN
Cobalah amati gambar berikut!
S etelah Anda mengamati gambar tersebut, apa yang bisa Anda jelaskan tentang hubungan
dengan orang lain! Apakah kita bisa bermain sepak bola sendirian? Apakah kita bisa
mengerjakan semua sendiri tanpa bantuan orang lain?
Berdasarkan gambar tersebut tentunya kita menyadari bahwa, kita sebagai manusia hidup
dalam suatu kehidupan bersama orang lain. Dalam kehidupan masyarakat, kita tidak akan dapat
terlepas berhubungan dengan orang lain. Pada dasarnya manusia memiliki ketergantungan dengan
orang lain, dalam memenuhi berbagai kebutuhannya sehingga manusia akan selalu menyatu
dengan lingkungan masyarakatnya. Pada pertandingan sepak bola kita membutuhkan sebuah tim
yang terdiri dari sebelas orang untuk bekerjasama memenangkan sebuah petandingan atau
kompetisi. Pada masyarakat desa ketika membangun rumah, mereka akan mengundang dan
meminta bantuan tetangganya, begitu juga pada saat punya hajatan atau sedang terkena musibah
membutuhkan orang lain untuk bisa membantunya.
Berdasarkan kenyataan tersebut maka, individu pasti akan berhubungan dengan orang lain
di dalam kehidupan masyarakat. Hasrat manusia untuk selalu menyatu atau bergaul dengan orang
lain dalam suatu kelompok atau msyarakat ini disebut dengan gregoriusness.
A. Individu dan Kelompok dalam Hubungan Sosial
Pada dasarnya manusia memiliki dua dimensi yaitu manusia sebagai individu yang memiliki
perasaan, kehendak, dan kemauan untuk bertindak, di lain sisi manusia juga sebagai makhluk
sosial yang hidup bersama orang lain, sehingga individu harus mampu menyesuaikan dengan
kehidupan orang lain atau kelompok di sekitarnya. Hasrat manusia untuk selalu berkumpul dengan
manusia lain oleh para ahli filsafat sering disebut manusia sebagai social animal.
Menurut Malinowski(1949), salah satu tokoh ilmu Antropologi dari Polandia menyatakan
bahwa ketergantungan individu terhadap individu lain dalam kelompoknya dapat terlihat dari usaha-
usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan biologis dan kebutuhan sosialnya yang dilakukan
melalui perantaraan kebudayaan
Pada materi berikut kita akan mendalami lebih lanjut tentang keberadaan individu (diri),
individu lain (orang lain), kita sebagai anggota kelompok, mereka sebagai anggota kelompok lain,
serta hubungan sosial di dalam masyarakat.
1. Individu dalam Hubungan dengan Orang Lain
Individu berasal dari kata yunani yaitu “individium” yang artinya “tidak terbagi”. Istilah
individu menekankan kepada kenyataan-kenyataan hidup yang istimewa dan mempengaruhi
kehidupan manusia (Abu Ahmadi, 1991: 23). Individu bukan berarti manusia sebagai suatu
keseluruhan yang tidak dapat dibagi, melainkan sebagi kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai
manusia perseorangan (diri).
Individu adalah seorang manusia (diri) yang tidak hanya memiliki peranan khas di dalam
lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik
dirinya. Menurut Roucek dan Warren, Kepribadian yang dimiliki individu satu dengan yang
lain mungkin akan berbeda karena kepribadian seseorang sangat dipengaruhi oleh 3 unsur
yaitu:
a. Faktor sosiologis atau lingkungan
Yaitu faktor yang membentuk kepribadian seseorang menjadi sesuai dengan perilaku dan
kepribadian kelompok atau lingkungan masyarakatnya.
b. Faktor psikologis atau kejiwaan
Sifat seseorang yang mempengaruhi kepribadian individu antara lain unsur temperamen,
agresifitas, pemarah, pemalu, hasrat, keinginan, dan sebagainya. Selain itu keterampilan
dan kemampuan belajar juga dapat mempengaruhi kepribadian seseorang.
c. Faktor biologis atau fisik
Yaitu faktor fisik seseorang yang memengaruhi kepribadian seorang individu baik yang
sifatnya genotif maupun fenotif.
Manusia sebagai individu salalu berada di tengah-tengah kelompok individu yang
sekaligus mematangkannya untuk menjadi pribadi yang prosesnya memerlukan lingkungan
yang dapat membentuk pribadinya. Namun tidak semua lingkungan menjadi faktor pendukung
pembentukan pribadi tetapi ada kalanya menjadi penghambat proses pembentukan pribadi.
Pengaruh lingkungan masyarakat terhadap individu dan khususnya terhadap
pembentukan individualitasnya adalah besar, namun sebaliknya individupun memiliki
kemampuan untuk mempengaruhi masyarakat.
Individu (diri) sebagai makhluk sosial akan selalu berhubungan dengan individu yang
lain (orang lain) seperti pada gambar berikut:
Individu Saya Kamu
Hubungan individu dengan individu lain misalnya hubungan pertemanan, hubungan
ketetanggaan, hubungan jual beli dan sebagainya.
2. Pembentukan Kelompok Sosial
Hubungan Individu dengan individu lain yang terjalin secara intensif akan mendorong
terbentuknya ikatan diantara mereka. Ikatan tersebut melibatkan tidak hanya satu individu
dengan satu individu saja tetapi dengan banyak individu lainnya, sehingga ikatan tersebut
terdiri dari beberapa individu.
Ketertarikan dan ketergantungan antara individu satu dengan yang lainnya mendorong
manusia untuk membentuk kelompok-kelompok dalam masyarakat yang disebut kelompok
sosial atau social group. Apa itu kelompok sosial? Menurut Roland L. Werren berpendapat
bahwa kelompok sosial meliputi sejumlah manusia yang berinteraksi dan memiliki pola interaksi
yang dapat dipahami oleh para anggotanya secara keseluruhan.
Kelompok sosial merupakan himpunan atau kesatuan-kesatuan manusia yang hidup
bersama. Hubungan itu antara lain menyangkut ikatan timbal balik yang saling mempengaruhi
dan juga suatu kesadaran untuk saling menolong. Menurut Soerjono Soekanto, himpunan
manusia baru dapat dikatakan sebagai kelompok sosial apabila memiliki beberapa persyaratan
berikut :
1. Adanya kesadaran sebagai bagian dari kelompok yang bersangkutan
2. Ada hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan yang lainnya dalam kelompok
itu
3. Ada suatu faktor pengikat yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok,
sehingga hubungan diantara mereka kembali erat. Faktor tadi dapat berupa kepentingan
yang sama, tujuan yang sama, ideologi politik yang sama, dan lain-lain
4. Memiliki struktur, kaidah dan pola perilaku yang sama
5. Bersistem dan berproses.
Contoh kelompok sosial adalah keluarga, masyarakat desa, koperasi, kelompok pelajar,
kekerabatan, kelompok kepentingan dan sebagainya.
Kelompok sosial paling kecil yaitu keluarga dan hampir semua manusia menjadi anggota
kelompok keluarga. Walaupun setiap saat para anggotanya menyebar, akan tetapi mereka
pada saat-saat tetentu berkumpul kembali dan saling bertukar pengalaman, sehingga pada
akhirnya dalam keluarga akan terjadi perubahan-perubahan. Oleh sebab itulah, maka
kelompok-kelompok sosial akan mengalami perubahan-perubahan, baik dalam bentuk maupun
aktivitasnya.
Salah satu syarat pembentukan kelompok yaitu adanya hubungan sosial diantara
anggota. Bagaimana hubungan sosial antarindividu yang terjadi di dalam kelompok, perhatikan
bagan berikut:
Kelompok sosial
Saya
Individu lain
Berdasarkan bagan di atas cobalah kamu deskripsikan bagaimana kamu berhubungan dengan
teman-teman yang ada di kelas kamu?
Dalam perkembangannya, kelompok sosial mengalami perkembangan dengan melalui
berbagai tahap. Menurut Sarwono, ada beberapa tahapan perkembangan kelompok, antara
lain:
a. Tahap otoritas
Tahap ini merupakan tahap paling awal dari suatu kelompok yang sedang terbentuk. Pada
tahap ini mencakup beberapa bagian, yaitu:
1) ketergantungan pada otoritas
2) pemberontakan; dan
3) pencairan
b. Tahap pribadi
Tahap ini merupakan tahap pemantapan saling ketergantungan antaranggota kelompok.
Pada tahap ini terdiri dari beberapa tahap , yaitu:
1) Tahap harmoni
2) Tahap identitas pribadi; dan
3) Tahap pencarian masalah pribadi
Dalam suatu masyarakat terdapat banyak sekali kelompok sosial yang terbentuk, seperti
juga individu yang melakukan hubungan sosial maka diantara kelompok sosial juga terjalin
hubungan sosial. Hubungan sosial yang terjadi berbentuk hubungan antarkelompok sosial.
Untuk lebih jelasnya perhatikan bagan berikut:
Kelompok sosial
Hubungan antarkelompok
Sebagai anggota dari suatu kelompok, individu memiliki kesadaran sebagai bagian dari
kelompoknya. Kesadaran kelompok dibentuk dan diperkuat dengan adanya simbol atau tanda
yang digunakan sebagai alat untuk membedakan dengan kelompok lainnya. Selain itu simbol
atau tanda tersebut juga memiliki makna-makna tertentu yang hanya dipahami oleh anggota
kelompoknya. Sebagai contoh sekolah sebagai suatu kelompok memiliki identitas tertentu yang
membedakan dengan sekolah lain, seperti seragam, aturan sekolah, dan sebagainya.
Kesadaran kelompok akan sangat berpengaruh terhadap sikap dan perillaku anggota
kelompok terhadap kelompok lain. Menurut William Graham Summer (1940) berdasarkan
sikap anggota terhadap kelompoknya dan kelompok lain, membedakan kelompok menjadi dua
yaitu : kelompok kita (we-group) atau kelompok dalam (in-group) dan kelompok orang
lain (others-group) atau kelompok luar (out-group). In-group adalah kelompok sosial yang
menjadi tempat bagi individu-individu anggotanya mengidentifikasikan dirinya. Secara umum
para anggota in-group memiliki sikap keterkaitan dengan menonjolkan simbol-simbol
kelompoknya. Sedangkan out-group adalah kelompok sosial yang oleh para anggotanya
diartikan sebagai lawan in-groupnya. Sikap out-group sering ditandai dengan antagonisme dan
antipati seperti rasa kebencian, permusuhan dsb.
Anggota in-group sering kali menggunakan istilah “kami”, atau “kita” dan mengatakan out-
groupnya dengan sebutan “mereka”. Contohnya “kami siswa SMA” merupakan in-groupnya
maka out-groupnya “mereka siswa SMK” atau “kami guru” dan “mereka pengusaha”. Sikap-
sikap in-group umumnya didasarkan pada faktor simpati pada kelompoknya dan mempunyai
hubungan atau perasaan dekat dengan anggota-anggota kelompoknya.Sehingga di jumpai
persahabatan, kerjasama, ketentraman dan kedamaian bahkan terkadang mereka
menganggap kelompok mereka sendiri sebagai pusat segala-galanya (etnocentrisme).
A KTIVITA S
Cobaah kalian mencari satu berita tentang tawuran antarpelajar yang sering terjadi di
kota- kota besar. Analisislah faktor penyebab terjadinya tawuran tersebut dengan
mengaitkan konsep kelompok kita (we-group) atau kelompok dalam (in-group) dan
kelompok orang lain (others-group) atau kelompok luar (out-group).
B. Masyarakat
Istilah “masyarakat” merupakan terjemahan dan kata society (Inggris). Sedangkan
istilah society berasal dan societas (Latin) yang berarti “kawan”. Lantas, apa masyarakat itu?
Dalam literatur ilmu-ilmu sosial, ada banyak definisi mengenai masyarakat. Beberapa
pengertian masyarakat menurut para ahli adalah sebagai berikut:
1. Richard T. Schaefer dan Robert P. Lamm, Masyarakat adalah sejumlah besar orang yang
tinggal dalam wilayah yang sama, relatif independen dan orang orang di luar wilayah itu, dan
memiliki budaya yang relatif sama.
2. John J. Macionis, Masyarakat adalah orang orang yang berinteraksi dalam sebuah wilayah
tertentu dan memiliki budaya bersama.
3. Linton, Masyarakat adalah sekelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerja
sama sehingga dapat terbentu organisasi yang mengatur setiap individu dalam masyarakat
tersebut dan membuat setiap individu dalam masyarakat dapat mengatur diri sendiri dan
berpikir tentang dirinya sebagai satu kesatuan sosial dengan batasan tertentu.
4. M,J. Heskovits, masyarakat adalah sebuah kelompok individu yang mengatur,
mengorganisasikan, dan mengikuti suatu cara hidup (the way life) tertentu.
5. S.R. Steinmentz, masyarakat didefinisikan sebagai kelompok manusia yang terbesar meliputi
pengelompokan-pengelompokan manusia yang lebih kecil yang mempunyai perhubungan
erat dan teratur
6. J.L Gillin mengartikan masyarakat sebagai sebuah kelompok manusia yang tersebar yang
memiliki kebiasaan (habit), tradisi (tradition), sikap (attitude) dan perasaan persatuan yang
sama.
7. Mack Iver, arti Masyarakat sebagai suatu sistem dari cara kerja dan prosedur, otoritas dan
saling bantu-membantu yang meliputi kelompok-kelompok dan pembagian-pembagian
sosial, sistem pengawasan tingkah laku manusia dan kebebasan. Sistem yang kompleks dan
selalu berubah dari relasi sosial.
8. Selo Soemardjan memberikan pengertian masyarakat sebagai orang-orang yang hidup
bersama dan menghasilkan kebudayaan.
Menurut Soerjono Soekanto mengemukakan bahwa ciri-ciri kehidupan masyarakat sebagai
berikut:
1. Adanya sekelompok manusia yang hidup bersama. Dalam hal ini, tidak dipersoalkan berapa
jumlah manusia yang hidup bersama itu. Sedikitnya ada dua orang.
2. Kehidupan hersama tersebut berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Ungkapan “cukup
lama” bukanlah sebuah ukuran angka. Melainkan, hendak menunjukkan bahwa kehidupan
bersama tersebut tidak bersifat insidental dan spontan, namun dilakukan untuk jangka
panjang.
3. Adanya kesadaran di antara anggota bahwa mereka merupakan satu kehidupan bersama.
Dengan demikian, ada solidaritas di antara warga dan kelompok manusia tersebut.
4. Kelompok manusia tersebut merupakan sebuah kehidupan bersama. Maksudnya, mereka
memiliki budaya bersama yang membuat anggota kelompok saling terikat satu sama lain.
Dari berbagai pendapat tentang masyarakat, dapat disimpukan bahwa masyarakat adalah
sekelompok manusia yang bertempat tinggal di daerah tertentu dalam waktu relatif lama,
memiliki norma-norma yang mengatur kehidupannya menuju tujuan yang dicita-citakan
bersama. Sebab kenyataan yang tidak bisa dihindarkan bahwa manusia memiliki dua keinginan
yang selalu melekat di dalam dirinya, yaitu keinginan untuk menyatu dengan alam
lingkungannya dan keinginan untuk menyatu dengan manusia lain dalam rangka memudahkan
proses hidupnya dengan demikian, manusia memiliki kecenderungan untuk bersatu agar bisa
saling berhubungan.
Masyarakat sebagai suatu keseluruhan terdiri dari individu-individu yang hidup di
dalamnya. Bagaimana hubungan individu sebagai bagian dengan masyarakat sebagai
keseluruhan? Menurut Herbert Spencer individu memiliki kemampuan dalam mempengaruhi
masyarakatnya. Berbeda dengan pendapat Spencer, Emile Durkheim menganggap bahwa
masyarakat bukan sekedar kumpulan individu-individu belaka, akan tetapi masyarakat itu
merupakan satu benda (entity) yang memilki karakteritiknya terlepas atau bebas dari individu-
individu yang membentuknya. Menurut Durkheim individu lebih banyak dipengaruhi oleh
masyarakatnya.
Perhatikan bagan posisi individu dalam masyarakat berikut:
Individu Kelompok Masyarakat
Kalian sudah memahami pengertian masyarakat, sekarang kerjakan aktivitas kelompok berikut:
A KTIVITA S
Berdasarkan gambar tersebut cobalah kalian bandingkan kedua kehidupan masyarakat tersebut!
Presentasikan perbandingannya di depan kelas.
C. TINDAKAN SOSIAL
Naluri untuk hidup bersama dengan orang lain pada manusia ternyata sudah muncul
sejak ia lahir menjadi dewasa, tua dan sampai meninggal. Perilaku maupun tindakan masing-
maisng individu memiliki ciri tersendiri.
Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya manusia akan melakukan apa yang disebut
dengan tindakan ataupun tindakan sosial. Secara teoritis tindakan sosial dan interaksi sosial
adalah dua konsep yang berbeda arti. Tindakaan sosial adalah hal-hal yang dilakukan individu
atau kelompok di dalam interaksi dan situasi tertentu. Sedangkan interaksi sosial adalah proses
dimana antara individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan
kelompok berhubungan satu dengn yang lainnya.
Banyak ahli sepakat bahwa interaksi sosial adalah syarat utama bagi terjadinya aktivitas
dan hadirnya kenyataan sosial. Interaksi sosial senantiasa diawali dengan munculnya
tindakan/aksi sosial yang ditanggapi dengan reaksi. Aksi dan reaksi sosial merupakan tindakan
yang ditujukan dan dipertimbangkan untuk mendapatkan respon orang lain. Setiap tindakan
selalu didorong oleh kebutuhan hidup baik kebutuhan primer, sosial maupun integratif.
Tindakan adalah perilaku manusia dengan maksud subyektif demi memenuhi kepentingan
prbadinya.
Contoh :
Seseorang yang sedang menyanyi di kamar mandi sekedar menghibur dirinya sendiri.
Seorang pemuda yang diam-diam sedang menghayalkan gadis pujaannya dll.
Tindakan sosial adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki arti
subyektif bagi dirinya dan diarahkan kepada orang lain. Jadi tindakan sosial apapun yang
kita lakukan bisa jadi mempengaruhi atau dipengaruhi orang disekitar kita yang berasal
dari lingkungan keluarga sampai dengan mayarakat yang lebih luas.
Contoh :
Seorang penyanyi yang sedang menyanyi di depan publik.
Seorang pemuda yang melayangkan surat cinta atau sekuntum bunga pada gadis
pujaannya.
Pada dasarnya tindakan sosial menurut Max Weber dibedakan menjadi 4 macam / tipe
tindakan sebagai berikut :
1. Tindakan Sosial Instrumental (Zwerk Rational)
Tindakan sosial ini dilaksanakan dengan pertimbangan dan pilihan secara sadar
meliputi suatu proses sosial yang sistematis untuk mencapai tujuan yang sudah
direncanakan.
Contoh :
Ruben memutuskan untuk membeli komputer dari pada sepeda motor, alasannya komputer
lebih menunjang kegiatan belajarnya. Dan iapun memilih jenis komputer yang harganya
terjangkau sesuai dengan jumlah tabungannya.
2. Tindakan Sosial Berorientasi Nilai (Werk Rational)
Orang melakukan tindakan sebab hal itu dinilai baik dan benar oleh masyarakat,
yang diperhitungkan segi manfaat, tetapi tujuan tindakan tidak terlalu diperhitungkan.
Contoh :
Kita tidak mempersoalkan mengapa kita harus menjenguk tetangga yang sakit, tindakan itu
dilakukan karena masyarakat memandang bahwa tindakan tersebut adalah tindakan yang
baik, Memberi dan menerima sesuatu dengan menggunakan tangan kanan dll.
3. Tindakan Sosial Tradisional (Traditional Action)
Tindakan sosial dilakukan tanpa perhitungan yang matang melainkan lebih karena
kebiasaan yang berlaku selama ini dalam masyarakat. Tindakan ini cenderung dilakukan
tanpa suatu rencana untuk tujuan maupun caranya, karena pada dasarnya mengulang dari
yang sudah dilakukan sebelumnya.
Contoh :
Berbagai macam adat yang dilakukan mengikuti kebiasaan turun-temurun.
4. Tindakan Afektif (Affectual Action)
Tindakan afektif tergolong tindakan irasional sebab sebagian besar tindakan
didorong oleh perasaan (afeksi) ataupun emosi tanpa perhitungan secara matang. Berbagai
perasaan marah, sedih, cinta, gembira muncul begitu saja sebagai ungkapan langsung
terhadap keadaan tertentu, sehingga tindakan social ini lebih berupa tindakan spontan.
Contoh :
Menangis tersedu-sedu ketika ayahnya meninggal dunia
Kasih sayang ibu terhadap anaknya
Hubungan cinta kasih dua remaja yang dimabuk asmara dll
A KTIVITA S
Setelah Anda mempelajari tindakan sosial, carilah contoh jenis-jenis tindakan sosial sesuai tabel
berikut:
No Tindakan Sosial Contoh Kasus Keterangan
1 Instrumental
2 Berorientasi Nilai
3 Tradisional
4 Afektif
D. INTERAKSI SOSIAL
Sebelum Anda mempelajari tentang interaksi sosial sebagai bahan awal diskusi, perhatikan
gambar berikut!
12
34
Berdasarkan gambar di atas, kalian deskripsikan perbedaan diantara gambar-gambar
tersebut! Apakah mereka melakukan interaksi sosial? Diskusikan dengan teman dalam
kelompok kemudian sampaikan pendapatmu di depan kelas.
1. PENGERTIAN INTERAKSI SOSIAL
Manusia merupakan mahkluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain.
Oleh karena itu, manusia perlu berinteraksi dengan manusia lainnya. Interaksi sosial yang
menjadi syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial merupakan hubungan sosial yang
dinamis. Interaksi sosial menyangkut hubungan antarindividu, antarkelompok, atau antara
individu dengan kelompok.
Interaksi sosial terjadi jika masing-masing pihak sadar akan kehadiran orang lain. Jadi
walupun orang-orang saling bertatap muka tetapi tidak saling bicara, tetap telah terjadi
interaksi sosial. Hakikat manusia sebagai mahluk sosial di dalam dirinya terdapat hasrat
untuk berkomunikasi. Hasrat ini timbul bukan hanya karena kebutuhan lahiriah, melainkan
karena hasrat itu sendiri; bahwa ia butuh berkomunikasi, bergaul, dan bekerja sama dengan
orang lain. Karena itulah, interaksi dengan orang lain merupakan kebutuhan mendasar
dalam diri manusia. Setiap manusia berkenalan, bekerja sama, berorganisasi, berkonflik
untuk mendapatkan sesuatu.
Apa yang dimaksud dengan interaksi sosial ?
Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu, individu dengan kelompok atau
kelompok dengan kelompok dalam masyarakat.
2. SYARAT TERJADINYA INTERAKSI SOSIAL
a) Kontak Sosial
Kontak sosial adalah hubungan antara satu pihak lain yang merupakan awal
terjadinya interaksi sosial dan masing-masing pihak saling bereaksi meski tidak harus selalu
bersentuhan secara fisik.
Dalam kehidupan sehari-hari kontak sosial dapat dibedakan sebagai berikut :
a. Kontak sosial menurut cara-cara yang dilakukan terdiri dari :
1) Kontak langsung (primer), yaitu kontak yang terjadi pada saat awal komunikasi sosial
itu berlangsung, berlangsung secara tatap muka (face to face) secara fisik.
Contoh : rapat warga di rumah pak RT di hadiri seluruh warga.
2) Kontak Tidak langsung (sekunder), yaitu apabila pesan dari komunikator
disampaikan kepada komunikan melalui pihak ketiga atau melalui media komunikasi.
i. Kontak sekunder langsung, apabila kedua belah pihak secara fisik tidak bertemu
langsung, tetpi mereka dapat mengadakan hubungan langsung melalui media
komunikasi. Contoh : Ayah sedang menelpon anaknya di luar kota.
ii. Kontak sekunder tidak langsung, apabila kedua belah pihak tidak dapat bertemu
langsung secara fisik, tetapi melalui pihak ketiga sebagai perantaranya.
Contoh : Pak guru titip pesan kepada murid-muridnya agar orang tuanya datang
besok pagi
b. Kontak sosial berdasarkan sifatnya :
1) Kontak positif yaitu kontak sosial yang mengarah kepada suatu kerjasama, misalnya
kontak antara pedagang dengan pembeli
2) Kontak negatif yaitu kontak sosial yang mengarah kepada suatu pertentangan,
misalnya perkelahian antara dua pelajar
b) Komunikasi Sosial
Komunikasi berasal dari bahsa Latin communicare yang berarti berhubungan. Jadi
secara harfiah komunikasi berarti berhubungan atau bergaul dengan orang lain. Kontak
sosial lebih menekankan pada orang atau kelompok yang
berinteraksi, sedangkan komunikasi lebih menekankan pada
bagaimana pesannya itu diproses.
Komunikasi dapat terjadi apabila memenuhi
syarat/proses sebagai berikut :
1. Ada pengirim (sender/komunikator) yaitu pihak yang
mengirimkan pesan kepada pihak lain
2. Pesan (massage) adalah isi atau maksud yang akan
disampaikan kepada pihak lain
3. Media, yaitu alat untuk menyampaikan pesan, dapat berupa Telepon seluler merupakan media
lisan, gambar, tulisan dll. komunikasi yang populer
4. Penerima pesan (receiver/komunikan) yaitu pihak yang
menerima pesan.
5. Umpan balik (feed back) adalah tanggapan dari penerima pesan atau isi pesan yang
disampaikannya.
- Pengkodean atau penyandian (encoding) adalah proses konversi informasi dari
suatu sumber (objek) menjadi data, yang selanjutnya dikirimkan ke penerima atau
pengamat,
- Pengawakodean atau pengawasandian (decoding) adalah proses kebalikannya,
yaitu konversi data yang telah dikirimkan oleh sumber menjadi informasi yang
dimengerti oleh penerima.
Untuk lebih memperjelas perhatikan bagan proses komunikasi berikut”
Komunikasi dibedakan menjadi dua yaitu :
a. Komunikasi lisan (verbal) yaitu komunikasi dengan menggunakan kata-kata.
b. Komunikasi non verbal yaitu komunikasi dengan menggunakan gerak-gerik atau
isyarat
3. CIRI-CIRI INTERAKSI SOSIAL
Ciri-ciri interaksi sosial menurut kajian ilmu sosiologi adalah sebagai berikut :
Jumlah pelakunya lebih dari satu orang
Terjadinya komunikasi diantara pelaku melalui kontak sosial
Mempunyai maksud dan tujuan yang jelas
Ada dimensi waktu yang akan menentukan sikap aksi yang sedang berlangsung
4. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INTERAKSI SOSIAL
Interaksi sosial, sebagai aksi dan reaksi yang timbal balik, dipengaruhi oleh faktor-faktor
di luar individu. Ada beberapa faktor yang menjadi dasar proses interaksi sosial.
a) IMITASI
Imitasi yaitu tindakan seseorang untuk meniru sikap tindakan, tingkah laku/
penampilan fisik orang lain. Mula-mula seorang anak akan meniru tingkah laku dari orang
tuanya, setelah ia bertemu dengan orang diluar keluarganya, maka ia akan meniru orang
lain tersebut.
Proses imitasi ada sisi baiknya tetapi yang ditiru anak adalah hal-hal untuk mematuhi
nilai dan norma dalam masyarakat.Namun, imitasi juga dapat berpengaruh negatif,
apabila yang ditiru adalah perilaku-perilaku menyimpang. Selain itu anak yang terus
menerus meniru dan mengkuti perintah atau kehendak orang lain akhirnya tidak dapat
mengembangkan daya kreativitasnya sendiri.
Contoh :
Seorang siswa SMA yang meniru penampilan seorang bintang terkenal, seperti
rambut gondrong, memakai anting, memakai gelang dan kalung secara berlebihan.
Andini yang meniru penampilan ibunya, yaitu berpakaian rapi, berbicara sopan dan
rajin bekerja.
b) IDENTIFIKASI
Identifikasi adalah kecenderungan/keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi
sama dengan pihak lain. Identifikasi lebih mendalam daripada imitasi, karena dengan
identifikasi seseorang mencoba menempatkan diri dalam keadaan orang
lain,”mengidentikkan” dirinya dengan orang lain, bahkan menerima kepercayaan dan nilai
yang dianut orang lain menjadi kepercayaan dan nilainya sendiri. Jadi, proses
indentifikasi dapat membentuk kepribadian seseorang. Hal tersebut merupakan contoh
identifikasi (secara tidak sadar) atau berlangsung dengan sendirinya, sedangkan contoh
dari identifikasi yang disengaja yaitu seorang remaja yang mengidolakan penyanyi
terkenal Nidji Giring. Remaja tersebut mengidentifikasikan dirinya menjadi artis idolanya
dengan meniru model rambut, gaya menyanyi, dan menganggap dirinya sama dengan
artis tersebut.
c) SUGESTI
Sugesti adalah pemberian pengaruh/pandangan dari satu pihak ke pihak lain.
Akibatnya, pihak yang dipengaruhi akan mengikuti pengaruh/ andangan itu dan
menerimanya secara sadar / tidak sadar tanpa berpikir panjang.
Sugesti biasanya dilakukan dari orang-orang yang berwibawa dan memiliki
pengaruh besar di lingkungan sosialnya, akan tetapi sugesti dapat pula berasal dari
kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas, ataupun orang dewasa terhadap
anak-anak. Wujud sugesti bisa berbentuk sikap, pendapat, saran dll.
Contoh :
Pimpinan parpol melakukan kampanye di hadapan khalayak ramai agar memilih
parpolnya.
Iklan shampo di TV yang menawarkan agar rambutnya lebih lembut, lurus dan
mudah diatur.
d) MOTIVASI
Motivasi adalah dorongan, rangsangan, pengaruh yang diberikan seorang individu
kepada individu lainnya sehingga orang yang diberikan motivasi menuruti/melaksanakan
apa yang dimotivasikannya secara kritis, rasional dan bertanggungjawab. Wujudnya
sama dengan sugesti yaitu berupa saran, sikap, pendapat.
Contoh : Seorang guru yang memberi nasehat kepada murid-muridnya untuk belajar rajin
dan disiplin menggunakan waktu.
e) SIMPATI
Simpati adalah proses kejiwaan dimana seorang individu merasa tertarik kepada
seseorang/sekelompok orang karena sikapnya, penampilannya, wibawanya/
perbuatannya. Perasaan simpati bisa juga disampaikan kepada seseorang/sekelompok
orang atau suatu lembaga formal pada saat-saat khusus. Perasaan simpati lebih
ditekankan kepada peristiwa yang bersifat menyenangkan/membahagiaakan seseorang.
Misalnya : pada saat lulus ujian, naik jabatan, perayaan ultah.
f) EMPATI
Empati hampir sama dengan simpati, tetapi tidak semata-mata perasaan kejiwaan.
Empati jauh lebih mendalam dan melibatkan emosi kedalam diri seseorang. Perasaan
empati lebih ditujukan kepada peristiwa yang menyedihkan/tidak menyenangkan seperti
bencana atau musibah yang menimpa seseorang.
Contoh : Saat kita menyaksikan korban tanah longsor yang tertimbun longsoran tanah,
kita
seolah-olah ikut merasakan sakitnya.
A KTIVITA S
Perhatikan gambar berikut!
Seorang anak kecil memberi uang pada Seorang anak meniru perilaku ibunya
pengemis
Dukun kecil Ponari yang dipercaya mampu Pemberian penghargaan pada siswa
menyembuhkan berbagai penyakit berprestasi di sekolah
Berdasarkan gambar di atas cobalah Anda identifikasi faktor-faktor penyebab interaksi
sosialnya!
E. JENIS-JENIS INTERAKSI SOSIAL
Dalam kehidupan sehari-hari interaksi sosial dilihat dari jumlah pelakunya dibagi menjadi tiga
jenis yaitu :
1. Interaksi antara individu dengan individu
Interaksi antara individu dengan individu merupakan interaksi yang sangat kongkrit, Interaksi
yang bersifat kongkrit misalnya jika dua orang bertemu langsung atau bertatap muka
langsung dan keduanya memberikan respon atau rangsangan. Wujud interaksinya dapat
berupa tatapan muka, jabat tangan, atau saling menyapa kemudian diteruskan saling
berbicara. Selain bersifat kongkrit interaksi tersebut juga bersifat positif. Namun Interaksi
dapat pula bersifat negatif misalnya saling melototkan mata, saling memaki dan akhirnya
menjadi perkelahian.
Konsultasi antara seorang siswa dengan
seorang guru merupakan contoh
interaksi sosial antarindividu
2. Interaksi antara individu dengan kelompok
Hubungan antara individu dengan kelompok bisa terjadi ketika seseorang berinteraksi
dengan sekumpulan orang yang memiliki kesadaran yang sama sebagai suatu kelompok
sosial. Bentuk interaksi sosial antara individu dengan kelompok dapat dilihat pada contoh
berikut : Contoh : sekarang kita sedang belajar di dalam kelas, dan sehingga terjadi proses
belajar mengajar. Di ruang ini ada seorang guru yang sedang mengajar dan sejumlah siswa
dalam kelas, guru dan siswa yang sedang mengadakan proses belajar mengajar inilah
merupakan contoh dari interaksi antara individu dengan kelompok.
Guru sedang mengajar di kelas
merupakan contoh interaksi sosial
antara individu dengan kelompok
3. Interaksi antara kelompok dengan kelompok
Hubungan sosial dapat terjadi antara sekumpulan orang sebagai kelompok dengan
kelompok lainnya. Dalam interaksi ini kepentingan individu-individu dalam kelompok
merupakan kesatuan dan berhubungan dengan kepentingan individu-individu dalam
kelompok lain, sehingga yang nampak adalah interaksi antara dua kelompok.
.
Peristiwa demonstrasi yang dilakukan
oleh sekelompok orang yang dihadang
oleh polisi merupakan bentuk interaksi
sosial antara kelompok dengan
kelompok
A KTIVITA S
Anda telah memahami materi hubugan sosial. Sekarang saatnya Anda menerapkan
pengetahuan Anda dengan melakukan aktivitas berikut:
1. Bentuklah kelompok terdiri dari 4 sampai 5 orang untuk melakukan aktivitas
2. Lakukan pengumpulan data dokumentasi tentang interaksi sosial di luar kelas
3. Data dapat berupa foto-foto aktivitas sosial yang terjadi di masyarakat
4. Klasiikasikan foto-foto tersebut berdasarkan jenis hubungan sosial
5. Presentasikan hasil aktivitas anda di depan kelas
F. STATUS, PERANAN, DAN HUBUNGAN INDIVIDU DALAM INTERAKSI SOSIAL
Status dan peranan merupakan unsur-unsur pokok dalam struktur sosial yang melandasi
terbentukny sistem sosial. Sistem sosial mengatur hubungan timbal balik antarindividu yang
terwujud dalam bentuk keseimbangan antara status dan perannya dalam masyarakat.
Perbedaan status akan sangat mempengaruhi seseorang dalam berinterksi dengn orang lain,
begitu juga status akan nenentukan bagaimana seseorang berbuat atau beraktiviats di
masyarakat.
a. Status atau Kedudukan
Status atau kedudukan seringkali dibedakan dengan kedudukan sosial (social status).
Kedudukan adalah sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial,
sehubungan dengan orang lain dalam kelompok tersebut, atau tempat suatu kelompok
sehubungan dengan kelompok-kelompok lain di dalam kelompok yang lebih besar.
Sedangakan kedudukan sosial adalah tempat seseorang secara umum dalam masyarakat
sehubungan dengan orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya, prestisenya, hak-hak
dan kewajiban-kewjibannya. Dengan demikian kedudukan sosial tidaklah semata-mata
merupakan kumpulan kedudukan-kedudukan seseorang dalam kelompok yang berbeda,
tapi kedudukan sosial tersebut mempengaruhi kedudukan orang tadi dalam kelompok sosial
yang berbeda.
Unsur utama dalam pembentukan sistim pelapisan sosial masyarakat adalah status
karena status mengandung aspek structural dan fungsional.
1. Aspek struktural, yaitu aspek yang menunjukkan adanya tinggi rendahnya dalam
hubungan antar status.
2. Aspek fungsionoal, yaitu aspek yang menunjukkan adanya hak-hak dan tanggung jawab
yang harus dilaksanakan oleh orang-orang yang menyandang status tententu.
Cara memperoleh status atau kedudukan melalui 3 (tiga ) cara yaitu :
1. Ascribed Status
Yaitu status seseorang yang diperoleh oleh seseorang melalui kelahiran Misalnya :
Keturunan bangsawan, raja atau kasta. Pada umumnya ascribed status dijumpai pada
masyarakat dengan system pelapisan tertutup.
2. Achieved Status
Yaitu status seseorang yang diperoleh melalui usaha-usaha yang disengaja. Misalnya
: Gelar Dokter, Insinyur, yang diperoleh seseorang tidak datang begitu saja tetapi
didapatkan karena kerja keras tergantung pada kemampuannya.
3. Assigned Status
Yaitu status seseorang yang diperoleh karena telah berjasa kepda masyarakat.
Misalnya : Pemberian Kalpataru pada orang yang telah berjasa menyelamatkan
lingkungannya.
Dalam kehidupan masyarakat sering terjadi seseorang memiliki lebih dari satu status,
sehingga tidak jarang pada saat-saat tertentu seseorang dihadapkan pada
pertentangan. Hal inilah yang disebut dengan pertentangan status (status conflict).
Misalnya: Seorang guru yang kebetulan juga mengajar anaknya di sebuah sekolah.
Apabila anaknya tersebut melanggar peraturan sekolah maka dengan kedudukannya
sebagai guru akan menasehati atau memberi sanksi hukuman kepada anaknya.
b. Peranan (Role)
Merupakan rangkaian dan perilaku yang dijalankan seseorang sesuai dengan status
sosialnya dalam masyarakat. Perubahan status sosial akan membawa dampak peranan
sosial yang dijalankan. Peranan sosial dapat kita bedakan menjadi empat macam yaitu :
1) Peranan Pilihan (Achieved Roles)
Yaitu peranan yang diperoleh melalui usaha tertentu didasrkan pad keputusannya
sendiri, misalnya seseorang yang memutuskan untuk menjdi dokter, memilih jurusan dn
sebagainya.
2) Peranan Bawaan (Ascribed Roles)
Yaitu perolehan yang diperoleh secara otomatis bukan karena usaha tertentu, misalnya
peranan sebagai kakek, anak dan sebagainya.
3) Peranan Yang Diharapkan (Expected Roles)
Yaitu peranan yang dilaksanakan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan bersama.
Peranan ini amat penting dan tidak dapat dirawar dan harus dilaksanakan karena untuk
memelihara keteraturan sosial. Misalnya peranan hakim, peranan polisi, dan sebaginya.
4) Peranan Yang Disesuaikan (Actual Roles)
Yaitu peranan yang dilaksanakan sesuai situasi, oleh karena bila situasi berubah maka
peranan yang dijalankanpun turut berubah.
Seiring dengan adanya konflik antara kedudukan-kedudukan, maka ada juga
konflik peran (conflict of role) dan bahkan pemisahan antara individu dengan peran yang
sesungguhnya harus dilaksanakan (role distance). Role distance terjadi apabila si
individu merasakan dirinya tertekan, karena merasa dirinya tidak sesuai untuk
melaksanakan peran yang diberikan masyarakat kepadanya, sehingga tidak dapat
melaksanakan perannya dengan sempurna atau bahkan menyembunyikan diri.
Dalam masyarakat individu menjalankan peran untuk kepentingan memenuhi
kebutuhan hidup sesuai dengan hakikat atau jati diri manusia. Kebutuhan dapat
dikelompokkan dengan mempertimbangkan fungsinya sebagai berikut ;
a. Kebutuhan primer, kebutuhan yang berifat mendasar sesuai dengan status manusia
sebagai makhluk biologis (homo biologis). Fungsinya unutk mempertahankan hidup
misalnya, makan, minum, pakaian, kesehatan dan lain-lain.
b. Kebutuhan sosial, sesuai dengan statusnya sebagai makhluk sosial (homo socius),
individu memiliki kebutuhan unutk berhubungan dengan orang lain atau
bermasyarakat, misalnya kerjasma, komunikasi, pendidikan dan lain-lain.
c. Kebutuhan integratif, sesuai dengan status manusia sebagi makhluk beradab dan
berbudaya (integrasi moral dan akal). Kebutuhan integratif berguna untuk
menjalankan tugas hidup sebagai makhluk bebudaya misalnya, prinsip benar-salah
(logika), keindahan, etika dan lain-lain.
G. MENGUKUR HUBUNGAN INDIVIDU DALAM INTERAKSI SOSIAL
Ketika seseorang telah melakukan interaksi sosial dengan orang lainnya, maka kita
akan dapat mengukur tingkat hubungan interaksi tersebut. Untuk mengukur akrab tidaknya
seseorang umumnya digunakan sosiometri dengan prinsip sebagi berikut:
1. Makin sering seseorang bergaul dengan orang lain hubungannya akan semakin baik,
sebaliknya makin sedikit atau jarang bergaul dengan orang lain maka pergaulannya menjadi
kurang baik, bahkan secara ekstrim seseorang bisa menjadi terisolir atau terasing dari
pergaulan.Sering atau tidaknya seseorang bergaul ini disebut frekuensi dalam pergaulan.
2. Makin sering seseorang bergaul dengan temannya makin intim hubungannya, sebaliknya
makin jarang bergaul dengan temannya hubungannya semakin tidak intim. Banyak
sedikitnya teman seseorang dalam bergaul disebut popularitas.
3. Dalam pergaulan seseorang akan memilih atau menolak siapa yang akan menjadi
temannya. Tindakan ini disebut tindakan pemilihan
Secara umum derajat hubungan antarindividu dapat digambarkan sebagai berikut :
AA
A
B C H B B Sangat erat C
Erat
GX C A
A D
F E
E BE B
DC X = Orang DC
populer
Intensitennya Intensitennya sangat
kuat kuat
Menurut Hall (2005) dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain. Bagaimana kedekatan
hubungan sosial seseorang sangat tergantung dengan bagaimana seseorang tersebut berinteraksi
dengan orang lain dalam ruang dan jarak tertentu. Hall membagi menjadi empat “zona jarak” yang
berlainan:
1. Jarak intim, berjarak sekitar 45 cm dari tubuh kita. Kita menggunakan ruang ini untuk
merangkul, menghibur, melindungi, dan sentuhan intim. Contoh saat kita berinteraksi dengan
anggota keluarga kita seperti orang tua atau saudara.
2. Jarak pribadi. Zona ini berjarak antara 45 cm sampai 1,2 m. Kita menggunakan ruang ini untuk
teman dan kenalan dalam percakapan biasa.
3. Jarak sosial. Zona ini berkisar antara 1,2 m sampai 4 m, menandai hubungan tidak pribadi atau
formal. Kita menggunakan zona ini untuk hal-hal seperti wawancara, lamaran kerja.
4. Jarak Publik. Zona ini yang berjarak lebih formal lagi. Zona ini digunakan unntuk memisahkan
orang terkemuka dan pembicara publik dari kalayak umum.
A. BENTUK-BENTUK INTERAKSI SOSIAL
Secara umum para ahli sosiologi sepakat bahwa bentuk interaksi sosial dibedakan menjadi
dua, yaitu: interaksi sosial yang mengarahpada penyatuan (asosiatif) dan interaksi sosial
yangmengarah pada bentuk pemisahan (disosiatif).
1. Proses Asosiatif
Proses ini dibagi menjadi 4 yaitu:
a) Kerjasama (cooperation)
Kerjasama timbul apabila masing-masing pihak memiliki kepentingan-kepentingan yang
sama dan pada saat bersamaan mereka mempunyai kesadaran untuk bekerja sama dalam
mencapai kepentingan mereka.
Interaksi ini dibagi menjadi 4:
a. Bargaining
Yaitu perjanjian mengenai tawar menawar atau pertukaran barang dan jasa antar
individu atau kelompok.
b. Cooperation
Yaitu suatu proses penerimaan unsure-unsur baru dalam kepemimpinan atau
pelaksanaan politik dalam suatu organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari
kekacauan.
c. Coalition
Yaitu kombinasi antara dua organisasi / lebih yang mempunyai tujuan yang sama.
d. Joint Venture
Kerja sama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu dengan perjanjian pembagian
keuntungan menurut porsi masing-masing yang disepakati.
b) Akomodasi / Accomodation
Yaitu proses penyesuaian antara individu dengan individu / antar kelompok dengan
kelompok dengan tujuan untuk mengurangi atau mengatasi ketegangan dan kekacauan.
Tujuan akomodasi:
1. Untuk mengurangi terjadinya perselisihan kelompok-kelompok yang berselisih.
2. Mencegah sementara meluasnya / meledaknya perselisihan.
3. Memungkinkan terjadinya kerja sama antar kelompok yang terpisah
4. Usaha peleburan bagi kelompok-kelompok yang terpisah dengan cara pembaruan.
Bentuk-bentuk akomodasi sebagai berikut :
1. Koersi (Coertion)
Yaitu akomodasi yang dilakukan dengan kekerasan dan paksaan.
Bentuk ini biasanya dilakukan oleh kelompok yang lebih kuat / berpengaruh terhadap
kelompok yang lemah.
2. Arbitrase (Arbitrage)
Yaitu akomodasi yang dilakukan dengan cara meminta bantuan pihak ketiga yang
dipilih oleh kedua belah pihak / oleh badan yang kedudukannya lebih tinggi dari pihak-
pihak yang bertikai. Keputusan yang diambil oleh pihak ketiga bersifat memikat.
Contoh : perselisihan antar pemilik usaha dengan buruh kemudian keduanya meminta
bantuan badan penyelesaian perburuhan (BPP) departemen tenaga kerja sebagai
pihak ketiga.
3. Kompromi (Compromise)
Yaitu akomodasi yang dilakukan dengan cara masing-masing kelompok/pihak yang
berselisih bersedia mengurangi tuntutannya sehingga terjadi kesepakatan penyelesaian
konflik.
4. Mediasi (Mediation)
Yaitu penyelesaian konflik dengan meminta bantuan pihak ketiga yang disepakati
bersama oleh pihak yang berkonflik. Namun keputusan yang diambil oleh pihak ketiga
sifatanya hanya sebagai nasihat.
Contoh : perkelahian antara dua remaja yang berasal dari dua kampung yang berbeda
dengan meminta kepala desa untuk mendamaikan.
5. Konsiliasi (Consiliation)
Yaitu proses akomodasi dengan jalan mempertemukan keinginan pihak-pihak yang
berselisih untuk dicapai persetujuan / kesepakatan bersama.
Contoh : perundingan bersama antara GAM dengan pemerintah RI agar dicapai
perdamaian di nangroe Aceh Darussalam.
6. Toleransi (Toleration)
Yaitu sikap saling menghargai dan menghormati pendirian masing-masing pihak yang
bertikai.
7. Stalemat (Stalimate)
Yaitu bentuk akomodasi dengan cara masing-masing pihak yang bertikai berhenti tanpa
bisa maju / mundur karena memiliki kekuatan yang seimbang.
Bentuk akomodasi ini disebut juga Moratorium.
8. Ajudikasi (Ajudication)
Yaitu bentuk akomodasi yang dilakukan melalui
pengadilan.
Contoh : sengketa warisan
9. Segregasi (Segregation)
Yaitu upaya untuk saling memisahkan diri dan saling
menghindar diantara pihak-pihak yang bertikai dalam
rangka mengurangi ketegangan dan menghilangkan
konflik.
10. Genjatan senjata Penyelesaian masalah melalui jalur
Yaitu penangguhan permusuhan / peperangan untuk pengadilan merupakan akomodasi
jangka waktu tertentu sambil mengupayakan yang disebut ajudikasi
terselenggaranya upaya-upaya penyelesaian konflik
diantara pihak-pihak yang bertikai.
11. Majority rule
Yaitu penyelesaian konflik dengan pengambilan suara terbanyak
12. Konversi
Yaitu satu pihak mengalah mengikuti kemauan pihak lain
c) Asimilasi (assimilation)
Yaitu suatu proses sosial yang ditandai adanya usaha mengurangi perbedaan antar
kelompok serta usaha menyamakan kesatuan sikap, mental dan tindakan demi mencapai
tujuan bersama.
Dalam pengertian yang berbeda khususnya berkaitan dengan interaksi dan benturan-
benturan kebudayaan, asimilasi diartikan sebagai bercampurnya unsur-unsur kebudayaan
luar dengan kebudayaan lokal menjadi unsur kebudayaan baru yang berbeda.
Faktor Pendorong dan Penghambat Asimilasi
No Faktor Pendukung No Faktor Penghambat
1 Adanya toleransi antar kebudayaan 1 Letak geografis yang terisolasi /
yang berbeda tertutup
2 Kesempatan yang sama dalam 2 Rendahnya pengeluaran tentang
bidang ekonomi kebudayaan lain
3 Sikap menghargai terhadap orang 3 Adanya ketakutan yang
asing dan kebudayaannya berlebihan terhadap kebudayaan
lain
4 Sikap terbuka dari golongan 4 Adanya sikap superior yang
berkuasa menilai tinggi kebudayaan sendiri
5 Kesamaan dalam unsur 5 Perbedaan ciri ras yang mencolok
kebudayaan kedua belah pihak
6 Terjadinya perkawinan campuran 6 Adanya perasaan in-group yang
(Amalgamasi) kuat
7 Adanya musuh bersama dari luar 7 Adanya perbedaan kepentingan
d) Akulturasi / Kontak Kebudayaan
Merupakan proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan suatu
kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing edemikian rupa
sehingga unsur-unsur kebudayaan itu lambat laun diterima dan diolah kedalam
kebudayaannya, tanpa menghilangkan sifat khas kepribadian kebudayaan asal.
Contoh : 1. Kebudayaan Hindu di Indonesia bertemu dengan kebudayaan Islam yang
menghasilkan kebudayaan Islam yang bercorak Hindu.
2. Musik melayu bertemu dengan musik Spanyol menghasilkan musik
keroncong.
2. Proses Disosiatif
Proses interaksi yang dissosiatif dalam ilmu sosiologi terdapat tiga macam yaitu :
a) Persaingan (Competition)
Yaitu proses sosial yang ditandai adanya saling berlomba/bersaing antar kelompok yang
ada untuk mengejar suatu nilai tertentu agar lebi maju, lebih baik, lebih besar/kuat.
Secara garis besar persaingan dibedakan menjadi dua sifat :
a. Personal Competition (Persaingan antar individu yang terjadi secara langsung), seperti
perebutan orang-orang dalam suatu organisasi untuk menduduki jabatan ketua. Tipe
persaingan seperti ini disebut Rivalry.
b. Impersonal Competition (Persaingan antar kelompok)
Contoh : persaingan PDIP dan partai Golkar dalam memenangkan suara pada pemilu.
Perlombaan balapan perahu dayung
merupakan bentuk kompetisi
4 fungsi persaingan sebagai berikut :
a. Sebagai penyalur keinginan-keinginan dari orang perorang / kelompok-kelompok yang
bersifat kompetisi. Misalnya ada orang-orang / kelompok yang senang bersaing /
berlomba, maka dengan adanya kompetisi keinginan-keinginan mereka dapat
tersalurkan.
b. Sebagai jalan agar nilai-nilai dan sesuatu yang terbatas serta diperebutkan banyak
orang bisa diperebutkan secara baik.
c. Sebagai alat untuk mengadakan seleksi atas dasar jenis kelamin dan seleksi sosial
d. Sebagai alat untuk menyaring warga dalam mengerjakan tugas-tugas sehingga terjadi
pembagian tugas.
b) Pertikaian / Conflic
Yaitu proses interaksi sosial yang ditandai dengan adanya persaingan dengan cara
menyingkirkan bahkan memusnahkan pihak satu terhadap pihak lain. Oleh karena itu
pertikaian merupakan bentuk interaksi sosial yang bersifat negative.
Contoh : pertikaian antar suporter dalam pertandingan sepak
bola, dll.
Sebab-sebab terjadinya pertikaian :
a. Perbedaan kepribadian, yaitu perbedaan karakter, emosi
dll.
b. Perbedaan kebudayaan, dimana disatu sisi masing-
masing menonjolkan kebudayaan lawannya. Contoh :
pertikaian antara orang-orang dari suku dayak dengan
madura.
c. Perbedaan kepentingan
Yaitu bentrokan yang disebabkan tidak dapat
disatukannya kepentingan masing-masing. Contoh :
kelompok orang pendukung Gusdur (pada saat menjabat Konflik antarwarga
presiden) dengan kelompok penentang Gusdur.
d. Perubahan Sosial
Perubahan sosial yang terlalu cepat juga dapat menimbulkan gondangan dalam sendi-
sendi kehidupan masyarakat, baik yang menyangkut tatanan strukturnya maupun
tatanan nilai dan norma. Contoh pertikaian antara kelompok yang pro reformasi dengan
kelompok yang pro status quo ketika terjadi perubahan di Indonesia.
(Pembahasan lebih dalam tentang konflik sosial di kelas XI semester 1)
c) Kontravensi / Contravention
Yaitu suatu bentuk proses sosial yang merupakan paduan antara persaingan dengan
pertikaian. Kontravensi yang terjadi pada seseorang disebabkan oleh adanya gejala
ketidakpastian serta keraguan, atau perasaan tidak suka yang disembunyikan terhadap
pribadi orang lain. Contoh : program KB oleh beberapa kalangan agama tertentu ada yang
tidak setuju, namun mereka tidak mau menolak karena takut.
4 proses kontravensi yaitu :
a. Proses yang umum, meliputi perbuatan-perbuatan seperti : penolakan, keengganan,
perlawanan, perbuatan menghalang-halangi, kekerasan, mengacaukan rencana pihak
lain.
b. Proses yang sederhana, meliputi perbuatan-perbuatan menyangkal pernyataan orang
lain di muka umum, memaki-maki orang lain, penolakan melalui surat selebaran,
memfitnah, melemparkan beban pembuktian kepada pihak lain, dsb.
c. Proses yang intensif, seperti mengumumkan rahasia pihak lain, perbuatan berkhianat,
dsb.
d. Proses yang bersifat taktis, misalnya mengejutkan lawan,
mengganggu/membingungkan pihak lain, memaksa pihak lain untuk menyesuaikan diri
dengan memakai kekerasan, mengadakan profokasi, menakut-nakuti (intimidasi) dsb.
Apabila dibandingkan kompetisi dan konflik, maka kontravensi sifatnya agak tertutup dan
rahasia. Perang dingin contoh bentuk kontravensi karena tujuannya adalah untuk membuat
lawan tidak tenang karena diliputi rasa curiga dan penuh rahasia. Dalam hal ini lawan tidak
diserang secara fisik, tetapi secara psikologis karena itu juga disebut perang urat saraf
(psikological warfare).
I. Sosialisasi dan Pembentukan Diri dan Sosial
Ketika individu dilahirkan, pertama kali lingkungan yang dikenalnya adalah keluarga. Di
lingkungan keluarga anak diajari cara berperilaku, bertindak dan berbicara sehingga anak
mampu berperan ketika mereka hidup di tengah
masyarakat. Individu diajarkan tentang nilai dan norma
yang berlaku, sehingga individu akan mengetahui hal-
hal yang boleh dilakukan dan hal-hal apa yang tidak
boleh dilakukan. Setelah individu dewasa mereka akan
dapat menyesuaikan diri (conform) dengan lingkungan
yang lebih luas baik itu dengan teman sebaya maupun
dengan lingkungan tetangganya melaui proses belajar
(learning process) bukan karena proses-proses yang
bersifat kodrati atau karena keturunan. .Proses
individu dalam mempelajari peran-peran yang harus
dilakukan di lingkungannya itulah yang disebut dengan
sosialisasi Dalam sebuah perusahaan, karyawan
Sosialisasi merupakan proses belajar seorang baru menjalani proses sosialisasi
tentang cara dan sistem pekerjaannya
anggota masyarakat dalam mengenal, menghayati,
menerima dan menyesuaikan diri dengan unsur-unsur
kebudayaan berupa cara bersikap, bertindak dan berinteraksi, sehingga setiap individu
kemudian akan merasa menjadi bagian dari kelompok masyarakat.
Beberapa definisi sosiologi menurut pendapat yang dikemukakan para ahli sebagai berikut
:
a. Charlotte Buhlen
Sosialisasi adalah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri
bagaimana cara hidup, berpikir kelompok nya agar dia dapat berperan dan berfungsi dalam
kelompok nya.
b. Bruce J Cohan
Sosialisasi adalah proses-proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam
masyarakat untuk memperolah kepribadian dan membangun kapasitasnya agar berfungsi
dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompoknya.
c. Peter Berger
Sosialisasi adalah suatu proses dimana seorang anak belajar menjadi seorang anggota
yang berprestasi dalam masyarakat.
d. Prof. Dr. Nasution, SH
Sosialisasi adalah proses membimbing individu ke dalam dunia sosial ( sebagai warga
masyarakat yang dewasa ).
e. Sukandar Wiraatmaja
Sosialisasi adalah proses belajar mulai bayi untuk mengenal dan memperoleh sikap,
pengertian, gagasan dan pola tingkah laku yang disetujui oleh masyarakat
f. Jack Levin dan James L Spates
Sosialisasi adalah proses pewarisan dan pelembagaan kebudayaan dalam kepribadian
individu.
g. John C. Macionis
Sosialisasi adalah pengalaman sosial seumur hidup di mana individu dapat
mengembangkan potensinya dan memmpelajari pola-pola kehidupan masyarakat.
Dari berbagai pendapat di atas, maka pengertian sosialisasi dapat dijabarkan sebagai berikut :
Sosialisasi ditempuh seorang individu melalui proses belajar.
Sosialisasi ditempuh seorang individu secara bertahap dan berkesinambungan sejak lahir
sampai akhir hayat.
Dalam sosialisasi terjadi saling pengaruh antara individu berserta potensi kemanusiaannya
dengan masyarakat beserta ke budayaan.
Melalui sosialisasi individu menyerap pengetahuan, kepercayaan, nilai-nilai, norma, sikap
dan ketrampilan-ketrampilan dari kebudayaan masyarakat.
Sosialisasi melahirkan kepribadian seseorang menjadi satu pribadi yang unik dan akan
melestarikan kebudayaan masyarakat (enkulturasi).
Melalaui proses sosialisasi, individu-individu masyarakat belajar mengetahui dan
memahami tingkah laku-tingkah laku apa yang harus dilakukan dan tingkah laku apa yang tidak
dilakukan di dalam masyarakat. Melalui sosialisasi warga masyarakat akan saling mengetahui
peranan masing-masing, dan karenanya kemudian dapat beitingkah laku sesuai dengan
peranan sosial masing-masing dalam masyarakat, sebagaimana diharapkan oleh norma-norma
sosial yang ada. Dengan adanya sosialisasi maka keberlangsungan norma-norma sosial di
masyarakat akan menjamin terjadinya tertib sosial.
Tertib sosial merupakan kondisi dimana individu-individu dalam masyarakat menjalankan
perannya sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Tertib sosial akan terwujud tidak secara
otomatis tetapi melalui dua usaha yaitu melalui transfer nilai dan norma sosial (proses
sosialisasi) dan melalui kontrol sosial (pengendalian sosial) yang disertai dengan
sanksi/hukuman bagi para pelanggar nilai dan norma sosial.
Dalam proses sosialisasi ada dua hal penting yang disosialisasikan yaitu pengetahuan,
norma, nilai serta keterampilan hidup terutama yang berlaku di lingkungannya. Menurut Smiley
Blanton menjelaskan, bahwa pelajaran pertama dalam proses sosialisasi orang tua kepada
anak adalah iman dan ketabahan. Sosialisasi merupakan proses individu belajar nilai, norma,
dan peran sosial melalui proses interaksi dengan lingkungan guna membentuk kepribadian
yang sesuai dengan kebudayaan masyarakat
1. Proses Sosialisasi
Pada dasarnya proses sosialisasi diikuti oleh dua belah pihak: pihak pertama adalah
pihak yang mensosialisasi, dan pihak kedua adalah pihak yang disosialisasi. Aktivitas pihak
yang mensosialisasi disebut aktivitas melaksanakan sosialisasi, sedangkan aktivita pihak
yang disosialisasi disebut aktivitas internalisasi
Aktivitas melaksanakan sosialisasi dilakukan oleh person-person tertentu yang
dianggap mewakili masyarakat. Mereka ini bisa dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. Personperson yang mempunyai wibawa dan kekuasaan atas individu-individu yang
disosialisasi. Misalnya: ayah, ibu, guru. Atasan, pemimpin dan sebagainya.
b. Person-person yang mempunyai kedudukan sederajat dengan individu-individu yang
tengah disosialisasi. Misalnya, saudara sebaya, teman sebaya, kawan sekelas, dan
sebagainya.
Internalisasi adalah sebuah proses yang dikerjakan oelh pihak yang tengah menerima
proses sosialisasi. Proses ini bukanlah proses yang pasif, melainkan merupakan rangkaian
proses psikologis yang aktif. Dalam proses menerima sosialisasi individu aktif
menginterpretasikan atau menafsirkan makna dari apa-apa yang disampaikan kepadanya,
atau makna dari apa-apa yang dia saksikan atau dia hayati. Pada langkah berikutnya dia
aktif meresapkan dan mengorganisir hasil penafsirannya ke dalam ingatan, perasaan, dan
batinnya.
Tahap-tahap sosialisasi sesorang menurut George Herbert Mead terbagi menjadi
empat tahap yaitu :
1. Tahap persiapan (prepatory stage)
Tahap ini dimulai sejak manusia dilahirkan,
seorang anak mempersiapkan diri
mengenal dunia sosialnya termasuk untuk Seorang anak belajar
mengambil peran
memperoleh pemahaman diri. Contoh : orang-orang diseki-
tarnya. Ia meniru peran
seorang ibu mengajarkan memanggil nama
“mama” makna kata tersebut belum
dipahami secara tepat oleh anak, kata yang yang dijalankan orang
diucapkan baru “ ma”. tuanya, seperti menyetir
mobil
2. Tahap meniru (play stage)
Pada tahap ini anak telah menyadari posisi
diri, siapa nama kakak dan orang tua, anak
mulai menyerap nilai dan norma yang ada.
Anak juga sudah menirukan tingkah laku keluarganya. Contoh : Anak menirukan ibunya
menidurkan anak dengan boneka atau menirukan gaya seorang guru.
3. Tahap siap bertindak (game stage)
Pada tahap ini anak mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan
bekerja sama dengan teman. Teman berinteraksi semakin banyak dan hubungannya
semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman sebaya diluar rumah.
Bersama dengan itu anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku
diluar keluarganya.
4. Tahap penerimaan norma kolektif (generalized other)
Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Manusia dewasa menyadari
pentingnya peraturan, kemampuan bekerjasama, bahkan dengan orang lain yang tidak
dikenalnya menjadi mantap, dapat diartikan juga manusia telah menjadi warga
masyarakat sepenuhnya.
3. Pola Sosialisasi (dalam keluarga)
1. Pola represif atau otoriter (repressive socialization)
Yaitu sosialisasi yang mengutamakan pendapat dan keinginan orang tua tanpa
memperhitungkan peran anak. Dalam pola sosialisasi seperti ini maka ketidakpatuhan
dan kesalahan yang dilakukan anak akan mendapat hukuman.
Ciri-ciri sosialisasi represif yaitu :
Menghukum perilaku yang keliru.
Hukuman dan imbalan material.
Kepatuhan anak pada orang tua.
Komunikasi sebagi perintah.
Komunikasi non verbal.
Sosialisasii berpusat pada orang tua.
Anak memperhatikan keinginan orang tua.
Keluarga merupakan dominasi orang tua (significant order).
Contoh : Orang tua membuat aturan bangun pagi jam 05.00, untuk melatih disiplin,
apabila anak bangun siang mendapat hukuman atau dimarahi.
Sosialisasi represif menghasilkan kepribadian anak yang menunggu perintah dan
kurang memiliki inisiatif.
2. Pola sosialisasi partisipatif atau ekualitatif (participatory socialization)
Yaitu sosialisasi yang yang lebih mengutamakan penggunaan motivasi, komunikasi
dua arah dan penghargaan terhadap anak.
Ciri-ciri sosialisasi partisipatif yaitu :
Memberi imbalan pada perilaku yang baik.
Hukuman dan imbalan simbolis.
Otonomi anak.
Komunikasi sebagai interaksi.
Komunikasi verbal.
Sosialisasi berpusat pada anak.
Orang tua memperhatikan keinginan anak.
Keluarga merupakan kerjasama kearah tujuan (generalized order).
Contoh : Ketika anak mendapat nilai jelek, orang tua memberi motivasi sehingga anak
mengambil inisiatif sendiri untuk berubah menjadi anak yang rajin.
Sosialisasi partisipatif akan menghasilkan kepribadian anak yang memiliki kreatifitas dan
menghargai orang lain.
4. Bentuk Sosialisasi Berdasarkan Waktunya/tempatnya
1. Sosialisasi Primer
Menurut L Berger dan Luckman mendefinisikan sosialisasi primer sebagai
sosialisasi yang pertama bagi individu sejak kecil dengan belajar menjadi anggota
masyarakat. Sosialisasi primer berlangsung saat anak usia 1 sampai 5 tahun atau saat anak
belum masuk sekolah. Anak mulai mengenal keluarga dan lingkungannya serta dapat
membedakan dirinya dan keluarga.
Warna kepribadian anak dipengaruhi oleh interaksi yang terjadi antara anak dan
keluarga dekatnya. Maka sosialisasi primer bukanhanya mengacu pada awal sosialisasi
dalam keluarga tetapi apapun yang diserap anak dimasa tersebut. Contoh : seorang anak
kecil yang dibimbing belajar mengucapkan kata ”mama” , ”papa”, ”makan” dsb.
2. Sosialisasi Sekunder
Sosialisasi sekunder merupakan sosialisasi lanjutan. Proses sosialisasi sekunder
terjadi di luar lingkungan keluarga seperti sekolah, lingkungan bermain, dan lingkungan
kerja. Contoh : seorang karyawan baru akan belajar menyesuaikan dengan aturan kerja
yang baru di perusahan tersebut.
Dalam proses soaialisasi sekunder sering dijumpai proses yang bentuknya adalah
desosialisasi dan resosialisasi desosialisasi adalah kondisi ketika seorang kehilangan
statusnya.. Resosialisasi adalah identitas baru yang diterimanya ketika seseorang
mendapat status baru. Contoh: status yang diperoleh dari SMP masuk ke SMA, maka
statusnya akan berganti yang ditandai dengan pakaian seragam yang berubah, perilaku,
gaya bicara dan sebagainya.
5. Pelaksanan Sosialisasi
Dalam mampengaruhi anak,sosialisasi digolongkan dalam tiga kategori,yaitu:
a. Metode ganjaran dan hukuman.
b. Metode didacting teaching, anak diajarkan berbagai macam pengetahuan dan
keterampilan melalui pemberian informasi, ceramah dan penjelasan.
c. Metode pemberian contoh, dilakukan dengan malalui proses imitasi dan sugesti baik
sadar dan tidak sadar.
6. Tipe Sosialisasi
Ada dua tipe sosialisasi yaitu :
a. Formal yaitu sosialisasi yang terjadi melalui lembaga-lembaga formal yang berwenang
menurut ketentuan yang berlaku dalam negara, seperti sekolah, pendidikan dan
pelatihan, pendidikan militer dan sebagainya.
b. Informal yaitu sosialissi yang dilakukan di masyarakat atau pergaulan yang bersifat
kekeluargaan, seperti sahabat, anggota kelompok tertentu, tetangga dan sebagainya
7. Tujuan sosialisasi secara umum dapat dijabarkan sebagai berikut
Menumbuhkan disiplin dasar dengan menanamkan nilai-nilai dan kepercayaan kepada
individu.
Menanamkan cita-cita individu dimasa yang akan datang.
Mengajarkan peran sosial dengan menanamkan kemampuan berkomunikasi secara
efisien.
Mengajarkan keterampilan berpartisipasi dalam masyarakat.
Dari hal di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pokoknya adalah membentuk kepribadian
yang ideal (sesuai nilai dan norma sosial masyarakat)
8. Fungsi sosialisasi
Proses sosialisasi memiliki dua fungsi utama yaitu :
a. Dilihat dari kepentingan individu, sosialisasi berfungsi agar individu bisa mengenal,
mengakui dn menyesuaikan diri dengan nilai-nilai, norma-norma, dan struktur sosial
yang ada di dalam masyarakat.
b. Dilihat dari kepentingan masyarakat, sosialisasi berfungsi sebagi alat pemersatu,
penyebarluasan, dan pewrisan nilai-nilai serta norma-norma yang ada dalam
masyarakat, supaya tetap ada dan terpelihara oleh seluruh anggota masyarakat.
Dari hal di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi sosialisasi adalah menanamkan nilai,
norma, dan peran sosial untuk dipelajari oleh individu sebagai anggota masyarakat
9. Arah sosialisasi
Bagi anak-anak dan remaja sosialisasi mengarah pada pembentukan kepribadian
sesuai dengan nilai dan norma yang dipedomaninya.
Bagi orang dewasa sosialisasi mengarah pada penyesuaian terhadap jabatan serta
lingkungan baru dimana dia tinggal.
Secara umum dengan adanya sosialisasi diharapkan individu dapat memiliki
kepribadian yang sesuai dengan aturan sosial (conform). Apabila terjadi gangguan atau
hambatan dalam bersosialisasi akan menimbulkan kepribadian yang menyimpang.
Tidak semua proses sosialisasi dilakukan dengan baik, kadang kala dalam
melakukan proses sosialisasi ditemukan banyak kendala seperti penolakan dan ini dapat
dilihat dengan perilaku penyimpangan yang dilakukan oleh manusia. Sedangkan indikator
keberhasilan proses sosialisasi berjalan dengan baik apabila:
1. Meningkatnya status yang sering kali diikuti dengan meningkatnya kepercayaan dan
meningkatnya peranan sosialisasi lingkungan baru.
2. Terintegrasi secara kuat dengan masyarakat setempat dalam setiap aktivitas yang
ditandai dengan keakraban dan persaudaraan di antara masyarakat lainnya.
3. Dapat menyesuiakan diri dengan lingkungan sosial maupun lingkungan fisiknya
Jadi melalui sosialisasi seseorang secara bertahap dapat mengembangkan
kemampuannya. Agar seseorang anak berhasil dalam proses sosialisasinya maka harus
dipenuhi beberapa hal-hal sebagai berikut:
Harus diberi keterampilan yang dibutuhkan bagi hidupnya kelak di masyarakat.
Harus mampu berkomunikasi secara efektif dan mengembangkan kemampuan
komunikasinya untuk membaca, menulis dan berbicara.
Pengendalian fungsi-fungsi organik harus dipelajari melalui latihan mawas diri yang
tepat.
Setiap individu harus dibiasakan dengan nilai-nilai dan kepercayaaan pokok yang ada
dalam masyarakat
10. MEDIA SOSIALISASI
1. Keluarga (kinship)
Keluarga merupakan lingkungan sosialisasi yang pertama dan utama bagi setiap
individu. Proses pola sosialisasi dalam keluarga terbagi menjadi dua macam yaitu :
a. Cara represif (repressive socialization)
Yaitu sosialisasi yang mengutamakan pendapat orang tua tanpa memperhitungkan peran
anak.
b. Cara sosialisasi partisipatif (participatory socialization)
Yaitu sosialisasi yang mengutamakan adanya partisipasi dan keterlibatan dari anak.
Contoh yang terlihat nyata di masyarakat adalah bagaimana keluarga mengajarkan
bahasa yang dipakai dalam komunikasi sehari-hari, maka begitu juga anak dari keluarga
tersebut akan berkomunikasi dengan orang di luar keluarganya, misalnya dalam bahasa Jawa
dikenal adanya bahasa Krama inggil, anak yang dididik dengan karma inggil maka ia juga akan
menggunakan bahasa itu ketika ia berbicara dengan orang lain.
2. Kelompok bermain (peer group)
Dalam hal ini anak dituntut untuk bersikap toleran, menghargai orang lain dan
memahami suatu peran, tetapi pada saat remaja, peranan teman sebaya seringkali lebih besar
pengaruhnya dari peran oarng tua. Anak kadang tidak bisa dikendalikan orang tua karena
kuatnya pengaruh teman sebaya.
Contoh : seorang anak yang tinggal di lingkungan yang teman bermainnya cenderung
nakal maka anak tersebut meskipun sedikit akan terkena imbasnya, misal perkelahian menjadi
hal yang biasa dalam kelompok bermain anak yang cenderung nakal tersebut.
Peran positif persahabatan antara lain :
Anak merasa aman dan dianggap penting dalam kelompoknya
Perkembangan kemandirian remaja tumbuh dengan baik dalam kelompok persahabatan
kelompok merupakan tempat me nyalurkan berbagai aspirasi, penyaluran rasa kecewa,
takut, khawatir dan gembira yang tidak tersalurkan dirumah
Melalaui interaksi dalam kelompok, remaja dapat mengembangkan keterampilan sosial
yang berguna bagi kehidupan kelak.
Anggota kelompok dapat me ngembangkan ketrampilan berorganisasi dan kepemimpinan,
menumbuhkan rasa kesetiakawanan sosial yang kuat, rela berkorban untuk sesama
anggota kelompok dan menyalurkan patriotisme yang tinggi.
3. Lingkungan Sekolah
Sekolah pada dasarnya merupakan lingkungan
formal pertama bagi seorang anak. Pada pendidikan
tingkat dasar peran guru sangat besar bahkan dominan
melebihi peran orang tua. Pada tahap sekolah
menengah remaja mulai memiliki sikap dan sudah
berani melontarkan kritik jika menemui kondisi yang
tidak memuaskan
Contohnya adalah penerapan disiplin untuk
belajar yang diterapkan oleh sekolah akan membentuk
pribadi yang disiplin ketika ia berada diluar lingkungan Sekolah memberikan ketrampilan dalam
sekolah. mengembangkan potensi anak
Fungsi sekolah sebagai media sosialisasi natara lain:
Mengembangkan potensi anak untuk mengenal kemampuan dan bakatnya.
Melestarikan kebudayaan dengan cara mewariskannya dari generasi ke generasi
berikutnya.
Merangsang partisipasi demokrasi melalui pengajaran ketrampilan berbicara dan berpikir
secara rasional dan bebas.
Memperkaya kehidupan dengan intelektual dan cita rasa keindahan kepada para siswa
serta meningkatkan kemampuan menyesuaikan diri melalui bimbingan dan penyuluhan.
Meningkatkan taraf kesehatan melelui pendidikan olahraga dan kesehatan.
Menanamkan rasa cinta tanah air yang menunjang proses integrasi antar suku dan budaya.
Mengadakan pekan olahraga dan kesenian.
4. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja juga berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian
seseorang lingkungan kerja ditandai dengan adanya tuntutan kerja yang besar. Pada
lingkungan ini individu dituntut untuk dapat menyesuaikan diri dengan suasana kerja yang tidak
selalau sesuai yang diharapkan.
Contoh : seseorang yang berkerja sebagai anggota TNI akan dididik dalam suasana
disiplin, tegas cekatan dan taat pada pemimpin, maka begitu juga kemungkinan besar
pendidikan yang akan diterapkan oleh anggota TNI tersebut dalam keluarganya
5. Media massa
Media massa yang terdiri dari media cetak maupun elektronik merupakan alat
komunikasi yang dapat menjangkau masyarakat secara luas. Berbagai hal yang disampaikan
media akan memberikan pengaruh terhadap pembentukan kepribadian individu.
Contoh pengaruh media massa :
Penayangan Smack Down dalam televisi mempengaruhi perilaku anak yang cenderung
sadis dan dapat menimbulkan korban jiwa.
Penayangan sinetron yang tidak mendidik, misalnya penampilan pelaku yang berpakain
tidak sesuai norma yang berlaku.
Penayangan sinetron yang bertema klenik dan takhayul yang mempengaruhi kehidupan
beragama
Penayangan berita berisi kekerasan dan tawuran yang juga mempengaruhi pola pikir dan
kehidupan anak sekolah
I. Interaksi Sosial dan Keteraturan Sosial
Pada kegiatan belajar sebelumnya kita telah membahas tuntas mengenai interaksi sosial.
Kita sadari bahwa interaksi sosial salalu dilakukan oleh setiap individu dalam bermasyarakat, hal
ini dikarenakan kondisi manusia yang terbatas dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pross
sosial terjadi dalam bentuk pola hubungan pertentangan atau kerjasama. Dengan adanya proses
sosial baik asosiatif maupun disosiatif tersebut, maka dalam kehidupan sosial sangat diperlukan
pola-pola hubungan sosial agar kehidupan menjadi teratur sehingga tujuan sosial dapat tercapai.
Untuk mencapai tertib sosial tersebut maka diperlukan kaedah(norma dan nilai) atau peraturan
dan alat untuk mengaturnya. Alat untuk mengatur kehidupan sosial tersebut disebut dengan
lembaga sosial (social institution).
1. NILAI DAN NORMA SOSIAL
Nilai merupakan bagian terpenting dari kebudayaan. Suatu tindakan dianggap sah -artinya
secara moral dapat diterima- kalau sesuai dengan nilai-nilai yang disepakati dan dijunjung
oleh masyarakat dimana tindakan itu dilakukan. Ketika di masyarakat berlaku bahwa nilai
kebaikan menolong orang adalah sesuatu yang dijunjung tinggi maka bila ada orang yang
suka menolong orang yang kesusahan pasti akan mendapat penghargaan yang tinggi,
sebaliknya apabila ada orang yang tidak peduli dengan orang lain yang sedang kesusahan
maka otomatis akan menjadi bahan gunjingan. Di dalam masyarakat yang terus berkembng
nilai akan senantiasa mengalami perubahan. Perubahan ini mengikuti kebiasaan dan tata
kelakuan masyarakat.
nilai sosial adalah sikap-sikap dan perasaan yang diterima oleh masyarakat secara luas dan
merupakan dasar untuk menentukan apa yang benar, baik, penting, pantas bagi masyarakat.
Jenis-Jenis Nilai Sosial
A. Menurut Notonegoro
1. Nilai Material, adalah segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.
Contoh : makanan, pakaian dll
2. Nilai Vital, adalah segala sesuatu yang berguna bagi manusia agar dapat melaksanakan
aktivitas kehidupan. Contoh : kalkulator dibutuhkan oleh seorang akuntan
3. Nilai Kerohanian, adalah segala sesuatu yang berguna bagi pemenuhan kebutuhan rohani
(spiritual) manusia. Nilai kerohanian terbagi menjadi :
a. Nilai Kebenaran, yaitu nilai yang bersumber dari proses berpikir atau akal manusia
(cipta)
b. Nilai Keindahan/Estetika, yaitu nilai yang bersumber dari perasaan / rasa manusia
c. Nilai Moral (etika), yaitu nilai yang bersumber dari kehendak atau kemauan manusia
(karsa)
d. Nilai Keagamaan/Religius, yaitu nilai yang bersumber dari wahyu Tuhan yang berisi
keyakinan/kepercayaan kepada Tuhan.
B. Menurut ciri-cirinya
1. Nilai dominan, adalah nilai yang dianggap lebih penting dibandingkan nilai lainnya.
Contoh : keadilan, kejujuran lebih penting dari nilai lainnya
Ukuran dominan atau tidaknya suatu nilai didasarkan pada hal-hal berikut:
a. Banyaknya orang yang menganut nilai tersebut
b. Berapa lama nilai itu dianut atau digunakan
c. Tinggi rendahnya usaha orang untuk memberlakukan nilai tersebut
d. Prestise atau kebanggaan orang-orang menggunakan nilai di masyarakat
2. Nilai yang mendarah daging (internalized value), adalah nilai yang telah menjadi
kebiasaan dan kepribadian, serta telah tersosialisasi sejak kecil, sehingga apabila tidak
melakukannya akan merasa malu atau bersalah.
Contoh : makan menggunakan tangan kanan, apabila tidak memakai tangan kanan
maka akan merasa malu karena merasa tidak sopan
C. Menurut Wujudnya
1) Nilai Material (nilai jasmani), adalah nilai yang berwujud, mudah dilihat dan diraba serta
cenderung mudah berubah. Contoh : karya seni, rumah, pakaian, dll.
2) Nilai Immaterial (nilai rohani), adalah nilai yang menggunakan nurani dan dibantu oleh
panca indera, akal, perasaan dan keyakinan.
Contoh : Ideologi, gagasan dll.
Nilai sosial memiliki beberapa ciri sebagai berikut :
- Merupakan hasil interaksi sosial antar warga masyarakat
- Terbentuk melalui proses belajar
- Bervariasi antara kebudayaan yang satu dengan yang lain
- Mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap setiap orang dalam masyarakat
- Dapat mempengaruhi pengembangan pribadi seseorang baik positif maupun negatif
- Merupakan asumsi-asumsi dari bermacam-macam objek di dalam masyarakat
- Dapat diteruskan dan ditularkan dari satu orang atau kelompok lain melalui proses sosial
- Dapat melibatkan emosi atau perasaan
- Selalu memberikan pilihan dari sistem-sistem nilai yang ada, sesuai dengan tingkatan
kepentingannya
- Cenderung berkaitan satu dengan yang lain dan membentuk pola-pola dan sistem nilai
dalam masyarakat
- Memiliki peranan dalam usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial
Fungsi nilai sosial antara lain :
1. Sebagai faktor pendorong, untuk mewujudkan cita-cita atau harapan sesuai dengn
peranannya sebagai individu dan anggota masyarakat
2. Sebagai penunjuk arah dari cara berpikir dan bertindak
3. Sebagai alat pengawas dengan daya tekan dan pengikat tertentu
4. Sebagai alat solidaritas di kalangan kelompok atau masyarakat
5. Sebagai benteng perlindungan atau penjaga stabilitas kelompok atau masyarakat
Apakah kalian biasa berpamitan pada ayah dan ibu ketika akan berangkat ke sekolah?
Pasti sebagian besar akan menjawab ya. Sejak kecil kita diajarkan untuk berpamitan pada kedua
orang tua ketika akan pergi ke luar rumah. Kebiasaan berpamitan ini mencerminkan rasa hormat
kita pada orang tua. Kita juga diajarkan untuk selalu memberikan salam ketika bertemu orang
lain. Apa yang akan terjadi jika kita langsung masuk begitu saja ke rumah orang tanpa memberi
salam? tentunya kita akan dianggap sebagai orang yang tidak tahu sopan santun, dicibir orang,
dan lama-kelamaan terasa akan dikucilkan. Berpamitan dan memberi salam merupakan contoh
norma yang berlaku di masyarakat.
Demikianlah norma sosial merupakan kaedah dan petunjuk hidup bermasyarakat yang berisi
larangan dan perintah yang dilengkapi dengan sanksi bagi yang melanggar.
Ciri-ciri norma sosial
a. Pada umumnya tidak tertulis, meskipun juga ada sebagian kecil norma sosial yang berlaku
di masyarakat sudah tertulis
b. Hasil kesepakatan bersama
c. Ditaati bersama oleh warga atau anggota masyarakat
d. Bagi pelanggar diberikan sanksi
e. Mengalami perubahan sesuai perkembangan masyarakat dan peradabannya
Jenis-jenis norma sosial
A. Menurut tingkat sanksinya
Berdasarkan tingkatan sanksi yang di terapkan terhadap pelanggaran norma maka
norma di dalam masyarakat dibedakan menjadi empat :
1) Cara (Usage)
Cara adalah suatu bentuk perbuatan tertentu yang dilakukan oleh individu-individu
dalam suatu masyarakat, tetapi tidak secara terus menerus. Norma ini berdaya ikat
lemah sehingga pelarangan terhadapnya tidak akan mendapatkan hukuman / sanksi
yang berat, pelajaran norma ini disebut tidak sopan dari anggota masyarakat lainnya.
Contoh : makan berdecak, makan sambil berjalan, bersendawa pada waktu makan dll.
2) Kebiasaan (Folkways)
Kebiasaan merupakan suatu bentuk perbuatan yang berulang-ulang dengan bentuk
yang sama serta dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan-tujuan jelas yang
dianggap baik dan benar oleh masyarakat tersebut.
Contoh : memberi salam sewaktu bertemu, bertutur kata sopan, menghormati orang tua,
memakai pakaian bagus pada waktu pesta, dll.
Sanksi terhadap pelanggaran norma ini berupa teguran, sindiran, diperguncingkan dan
sebagainya yang sifatnya ringan saja, sehingga folkways disebut norma ringan.
3) Norma Tata Kelakuan/Norma Kesusilaan (Mores)
Mores adalah sekumpulan perbuatan yang mencerminkan sifat-sifat hidup dari
sekelompok manusia yang dilakukan secara sadar guna melaksanakan pengawasan
oleh kelompok masyarakat terhadap anggota-anggotanya. Dalam tata kelakuan
terdapat unsur memaksa atau melarang suatu perbuatan. Fungsinya agar para anggota
masyarakat menyesuaikan perbuatan-perbuatannya dengan tata kelakuan tersebut.
Contoh : Berzina, membunuh, mencuri, menikah dengan kerabat dekat.
Pelanggaran terhadap mores akan disebut jahat sanksinya berat, sehingga mores
disebut norma berat.
4) Adat-Istiadat (Custom)
Norma adat istiadat adalah sekumpulan tata kelakuan yang paling tinggi
kedudukannya karena bersifat kekal dan berintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat
yang memilikinya.
Pelanggaran terhadap norma ini akan dikenai sanksi yang keras baik langsung maupun
tidak langsung.
Contoh : - Pelanggaran terhadap tata cara pembagian harta warisan
- Pelaksanaan upacara-upacara tradisional dll.
B. Menurut sumbernya
Menurut sumbernya norma sosial dibedakan menjadi :
1. Norma Agama
Norma agama adalah peraturan sosial yang sifatnya mutlak dan tidak dapat ditawar-
tawar atau diubah ukurannya karena berasal dari Tuhan. Pelanggaran terhadap
norma agama dikatakan berdosa.Misalnya, melaksanakan sholat atau
penyembahan kepadaNya, jujur, tidak boleh mengambil sesuatu milik orang lain dll.
2. Norma Kesusilaan
Norma kesusilaan adalah peraturan sosial yang berasal dari hati nurani yang
menghasilkan aklak, pelanggaran terhadap norma ini berakibat sanksi pengucilan
secara fisik (diusir) atau secara batin (dijauhi).Norma kesusilaan bersifat universal,
artinya setiap orang di dunia ini memilikinya, hanya bentuk dan perwujudannya
berbeda, misalnya perilaku menyangkut nilai kemanusian seperti pembunuhan dan
pengkhianatan pada umumnya ditolak masyarakat.
3. Norma Kesopanan
Norma kesopanan adalah peraturan sosial yang mengarah pada hal-hal yang
berkenaan dengan bagaimana seseorang harus bertingkah laku wajar dalam
kehidupan bermasyarakat.
Pelanggaran terhadap norma ini akan mendapat celaan kritikan, pengucilan,
tergantung dari tingkat pelanggarannya. Norm ini bersifat relative artunya
penerapanny disetiap tempat atau masyarakat akan berbeda-beda.
Contoh : Tidak meludah di sembarang tempat, tidak bertutur kata jorok dll
4. Norma kebiasaan
Merupakan hasil dari perbuatan yang dilakukan secara
berulang-uleng dalam waktu yang sama sehingga menjadi
kebiasan. Orang yang tidak melakukan norma ini biasanya
dinaggap anah oleh lingkungan sekitarnya. Misalnya,
kegiatan mudik pada hari raya, kebiasaan melakukan
slametan pada waktu akan membangun gedung.
5. Norma Hukum
Norma hukum adalah aturan sosial yang dibuat oleh
lembaga-lembaga tertentu (pemerintah), sehingga dapat
dengan tegas melarang serta memaksa orang untuk dapat
Pengadilan merupakan salah satu berperilaku sesuai dengan keinginan pembuat peraturan
lembaga penegak hukum itu.
Pelanggaran terhadap norma ini akan mendapat sanksi sesuai dengan aturan
secara tertulis yang berupa denda atau hukuman fisik (dipenjara atau bahkan
dihukum mati).
Contoh : wajib membayar pajak, mentaati rambu-rambu lalu lintas dll
6. Norma mode (fashion)
Merupakan cara dan gaya dalam melakukan dan membuat sesuatu yang sifatnya
berubah-ubah serta diikuti banyak orang. Dalam tingkah laku ada kecenderungan
manusia dipengaruhi atau mengikuti mode yang sedang trend, misalnya mode
rambut, pakaian dan kacamata.
Fungsi norma antara lain meliputi :
a. Mengatur tingkah laku masyarakat agar sesuai dengan nilai yang berlaku
b. Menciptakan ketertiban dan keadilan dalam masyarakat
c. Membantu mencapai tujuan bersama masyarakat
d. Menjadi dasar untuk memberikan solusi kepada warga masyarakat yang melanggar
norma
Norma dapat berfungsi dengan baik, apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. diketahui masyarakat
2. dipahami dan dimengerti
3. dihargai karena bermanfaat
4. ditaati dan dilaksanakan
Norma sebagai perwujudan dari nilai yang berlaku di masyarakat dapat bertahan
apabila sesuai dengan zamannya. Maksudnya adalah norma tersebut betul-betul dapat
berfungsi sebagai alat mengatur masyarakat karena berisi kaidah-kaidah yang sesuai
dengan tuntutan hati nurani dan merupakan kebutuhan masyarakat secara luas dan bukan
henya kebutuhan kelompok tertentu. Sebaliknya norma akan berubah apabila masyarkat
sudah tidak menghendaki norma tersebut, sehingga biarpun secara formal norma tersebut
masih dinyatakan berlaku, masyarakat cenderung tidak melaksanaknnya. Hal ini
disebabkan karena norma tersebut sudah ketinggalan zaman dan tidak mengakomodasikan
kehendak masyarakat lagi. Walaupun cenderung bersifat statis norma memiliki dinamika.
Oleh karena itu,perubahan norma merupakan hal yang biasa karena sejalan dengan
perubahan yang terjadi di masyarakat.
2. LEMBAGA SOSIAL
Terbentuknya lembaga sosial bermula dari kebutuhan masyarakat akan keteraturan
kehidupan bersama. Sebagaimana dikemukakan oleh Soerjono Soekanto bahwa tumbuhnya
lembaga sosial oleh karena manusia dalam hidupnya memerlukan keteraturan, maka
dirumuskan norma-norma dalam masyarakat.
Lembaga sosial merupakan terjemahan dari social institution. Akan tetapi, sampai
sekarang belum ada kesepakatan mengenai istilah Indonesia yang tepat untuk
menggambarkan isi konsep social institution tersebut. Istilah yang sering dipakai para
ilmuwan sosial di Indonesia disamping lembaga sosial juga pranata sosial, organisasi sosial,
bangunan sosial dan lembaga kemasyarakatan. Istilah “pranata sosial” atau “lembaga sosial”
berasal dari bahasa Inggris “Social institution”. Perbedaan penggunaan istilah ini terjadi
karena masing-masing pengguna memberi tekanan yang berbeda. Penggunaan istilah
“pranata” menekankan perlunya aturan main menyangkut berbagai kebutuhan hidup
masyarakat yang saling berkaitan (Koentjaraningrat). Sementara “lembaga” lebih
menekankan institusi yang memegang atau menjalankan aturan tersebut (Soerjono
Soekanto). Penggunaan kata “sosial” pada lembaga sosial dimaksudkan bahwa aturan
apapun tidak ada dengan sendirinya dan tidak terlepas dari manusia sebagai pelaku utama
dalam masyarakat.
Lembaga sosial merupakan aturan-aturan mengenai suatu aktivitas masyarakat yang
khusus, sedangkan badan atau institut merupakan sekelompok orang terorganisasi yang
bertugas melaksanakan aktivitas itu.
Beberapa definisi lembaga sosial menurut para Sosiolog dan Antropolog :
a. Koentjaraningrat
Pranata sosial adalah sistem-sistem yang menjadi wahana yang memungkinkan warga
masyarakat itu untuk berinteraksi menurut pola-pola resmi atau suatu sistem tata
kelakuan dan hubungan yang berpusat kepada aktivitas-aktivitas untuk memenuhi
komplek-komplek kebutuhan khusus dalam kehidupan masyarakat.
b. Paul B. Horton dan Chester L. Hunt
Lembaga sosial merupakan sistem norma untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan
yang oleh masyarakat dipandang penting, atau sekumpulan kebiasaan dan tata kelakuan
yang berkisar pada kegiatan pokok manusia.
c. Bruce J. Cohen
Lembaga sosial merupakan sistem pola yang tersusun rapi dan secara berkala relatif
bersifat permanen serta mengandung perilaku tertentu yang pokok dan terpdu demi
pemuasan dan pemenuhan kebutuhan pokok manusia.
d. Soerjono Soekanto
Lembaga sosial adalah himpunan norma dari segala tindakan yang berkisar pada suatu
kebutuhan pokok dalam kehidupan masyarakat.
Dari definisi-definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa lembaga sosial berkaitan dengan hal-
hal berikut :
1. Seperangkat norma yang saling berkaitan, bergantung, dan mempengaruhi.
2. Seperangkat norma yang dapat dibentuk, diubah, dan dipertahankan sesuai dengan
kebutuhan hidup.
3. Seperangkat norma yang mengatur hubungan antarwarga masyarakat agar dapat
berjalan dengan tertib dan teratur.
Pada hakekatnya lembaga sosial merupakan wadah dari sekumpulan norma atau
kaidah yang mengatur pendukungnya dalam rangka mewujudkan kebutuhan masyarakat
yang bersifat khusus. Norma itu bersifat abstrak (immaterial) dan merupakan aplikasi dari nilai
yang hidup dalam masyarakat, sehingga lembaga sosial merupakan sistem gagasan
terorganisasi yang ikut serta dalam perilaku. Untuk mengfungsikan sekumpulan norma atau
gagasan perilaku itu, setiap norma memiliki beberapa organisasi atau asosiasi
Diciptakannya lembaga sosial pada dasarnya mempunyai maksud serta tujuan yang
secara prinsipil tidak berbeda dengan norma-norma sosial, karena lembaga sosial
sebenarnya memang produk dari norma sosial.
Secara umum, tujuan utama diciptakannya lembaga sosial adalah selain untuk
mengatur agar kebutuhan hidup pokok manusia dapat terpenuhi secara memadai, juga
sekaligus untuk mengatur agar kehidupan sosial warga masyarakat bisa berjalan dengan
tertib dan lancar sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.Tanpa adanya lembaga sosial
kehidupan manusia nyaris bisa dipastikan bakal porak-poranda karena jumlah sarana dan
prasarana untuk memenuhi kebutuhan manusia relatif terbatas, sementara jumlah warga
masyarakat yang membutuhkan justru semakin lama-semakin banyak.
Untuk mewujudkan tujuannya, lembaga kemasyarakatan mempunyai fungsi, yaitu :
1. memberikan pedoman pada anggota masyarakat, bagaimana mereka harus bertingkah
laku atau bersikap di dalam menghadapi masalah-maslah dalam masyarakat, terutama
yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan.
2. Menjaga keutuhan masyarakat dari ancaman perpecahan atau disintegrasi masyarakat.
3. memberikan pegangan kepada masyarakat untuk mengadakanan sistem pengendalian
sosial (social contriol). Artinya, sistem pengawasan masyarakat terhadap tingkah laku
anggota-anggotanya serta sanksi terhadap pelanggaran norma-norma sosial.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka lembaga sosial pada dasarnya adalah untuk
menciptakan keteratutan sosial di masyarakat.
Lembaga sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Terdiri dari seperangkat organisasi dari pemikiran-pemikiran dan pola-pola perikelakuan yang
terwujud melaui aktivitas-aktivitas kemasyarakatan dengan kata lain terdiri dari sekumpulan
norma-norma sosial dan perannan sosial dalam kehidupan masyarakat
Contoh : Dalam keluarga terdapat norma atau aturan tentang bagaimana menghormati
orang yang lebih tua dan melindungi orang yang lebih muda serta menjalankan
perannya masing-masing.
2. Memiliki Simbol sendiri
Setiap lembaga sosial memiliki simbol tersendiri yang digunakan untuk menandai suatu kekhasan
atau memberi ciri khusus dari setiap lembaga yang akan memberikan identitas tertentu bagi anggota
masyarakat yang terlibat didalamnya.
Contoh :
- Dalam lembaga keluarga terdapat simbul cincin kawin
- Dalam lembaga politik terdapat simbul bendera
- Dalam lembaga hukum terdapat simbol seorang wanita memegang timbangan dan pedang
dengan mata tertutup
3. Usianya lebih lama (superorganis)
Pada umumnya usia lembaga sosial lebih lama dibandingkan dengan usia orang (individu-individu
karena merupakan pewarisan dari generasi ke generasi.
Contoh : Dalam keluarga, Pertunangan ataupun pewarisan sudah ada sejak lama hingga sekarang.
4. Memiliki alat perlengkapan
Lembaga sosial memiliki alat kelengkapan tertentu yang digunakan untuk mewujudkan tujuan
lembaga sosial tertentu.
Contoh : Dalam lembaga pendidikan; buku merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan proses
belajar mengajar
5. Memiliki ideologi, lembaga sosial memiliki ideologi sendiri. Ideologi atau sistem gagasan
mendasar yang dimiliki secara bersama dan dianggap ideal bagi pendukung lembaga.
6. Memiliki tingkat kekebalan / daya tahan (lembaga yang sudah terbentuk tidak akan lenyap begitu
saja).
Contoh :
- Lembaga sosial dalam adat istiadat dijadikan pedoman bertingkah laku dalam kehidupan
masyarakat.
- Lembaga pendidikan : kurikulum yang mengatur kegiatan belajar mengajar yang dapat
diwujudkan.
Menurut Koentjaraningrat, aktivitas manusia atau aktivitas kemasyarakatan untuk menjadi
lembaga sosial harus memenuhi syarat-syarat tertentu, yaitu ;
1. Suatu tata kelakuan yang baku, yang bisa berupa norma-norma dan adat istiadat yang hidup
dalam ingatan maupun tertulis.
2. Kelompok-kelompok manusia yang menjalankan aktivitas bersama dan saling berhubungan
menurut sisten norma tersebut.
3. Suatu pusat aktivitas yang bertujuan memenuhi kompleks-kompleks kebutuhan tertentu,
yang disadari dan dipahami oleh kelompok-kelompok yang bersangkutan.
4. Mempunyai peralatan dan perlengkapan.
5. Sistem aktivitas itu dibiasakan atau didasarkan kepada kelompok-kelompok yang
bersangkutan dalam suatu masyarakat untuk kurun waktu yang lama.
Tipe-tipe Lembaga sosisal menurut Gillin dan Gillin
A. Lembaga Sosial Dilihat dari Perkembangannya
1. Crescive Institution
Merupakan lembaga sosial yang tidak sengaja tumbuh dari adat istiadat masyarakat. Lembaga
sosial ini disebut lembaga primer. Contoh, lembaga hal milik, perkawinan, agama, dan lain-lain.
2. Enacted Institution
Contoh, lembaga utang piutan, lembaga perdagangan, Merupakan lembaga sosial yang sengaja
dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu. lembaga pendidikan, dan lembaga swadaya
masyarakat.
B. Lembaga Sosial Dilihat dari Sistem Nilai yang Diterima Masyarakat
1. Basic Institution
Merupakan lembaga sosial yang penting untuk memelihara dan mempertahankan tata tertib
dalam masyarakat. Contoh, keluarga, sekolah, Negara, dan lain-lain.
2. Subsidiary Institution
Merupakan lembaga sosial yang berkaitan dengan hal-hal yang dianggap oleh masyarakat
kurang penting. Contoh, kegiatan rekreasi.
C. Lembaga Sosial Dilihat dari Penerimaan Masyarakat
1. Approved atau Santioned Institution
Merupakan lembaga sosial yang diterima oleh masyarakat. Contoh, sekolah, perusahaan
dagang, dan lain-lain.
2. Unsantioned Institution
Merupakan lembaga sosial yang ditolak oleh masyarakat meskipun masyarakat tidak mampu
memberantasnya. Contoh, kelompok penjahat, pemeras, pencoleng, dan lain-lain.
D. Lembaga Sosial Dilihat dari Penyebarannya
1. General Institution
Merupakan lembaga sosial yang dikenal oleh sebagian besar masyarakat dunia. Contoh,
Lembaga agama.
2. Restricted Institution
Merupakan lembaga sosial yang hanya dikenal oleh masyarakat tertentu. Contoh, lembaga
agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha.
E. Lembaga Sosial Dilihat dari Fungsinya
1. Operative Institution
Merupakan lembaga sosial yang berfungsi menghimpun pola-pola atau tata cara yang
diperlukan untuk mencapai tujuan dari masyarakat yang bersangkutan. Contoh, lembaga
industri.
2. Regulative Institution
Merupakan lembaga sosial yang bertujuan mengawasi tata kelakuan yang ada dalam
masyarakat. Contoh, lembaga hukum seperti kejaksaan, pengadilan , dan lain-lain.
Selain tipe-tipe lembaga sosial tersebut di masyarakat terdapat berbagai lembaga sosial
yang utama, memiliki fungsi dan peran penting dalam masyarakat antara lain:
1. Lembaga keluarga
2. Lembagaekonomi
3. Lembaga pendidikan
4. Lembaga agama
5. Lembaga politik
6. Lembaga hukum
(untuk mempelajari secara lengkap materi lembaga sosial, baca buku paket kelas XII
Kurikulum 2006 atau KTSP)
2. KETERATURAN SOSIAL
Keteraturan sosial adalah kondisi dinamis, di mana sendi-sendi kehidupan
bermasyarakat berjalan secara tertib dan teratur, sehingga tujuan kehidupan bermasyarakat
dapat tercapai. Suatu keteraturan sosial akan tercapai apabila setiap anggota masyarakat
bertindak dan bertingkah laku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di dalam
masyarakat. Hal yang penting dari keteraturan sosial adalah
a) Keteraturan sosial merupakan kesesuaian antara perilaku sosial dengan norma dalam
masyarakat
b) Individu dapat melaksanakan peran sosial sesuai dengan status yang dimiliki sehingga
kebutuhan hidup dapat dipenuhi dengan baik
c) Perilaku yang tertib (prosedural), sesuai tata kelakuan (orde sosial), memiliki pola atau
bentuk tertentu, dan berlangsung secara ajeg atau konstan (tidak labil)
Keteraturan sosial mempunyai beberapa unsur yaitu :
a. Tertib sosial
Suatu masyarakat dapat dikatakan telah mencapai kondisi tertib sosial apabila telah terjadi
keselarasan antara tindakan anggota masyarakat dengan nilai dan norma yang berlaku
dalam masyarakat.
Tertib sosial dicirikan sebagai berikut :
Terdapat suatu sistem nilai dan norma yang jelas
Individu dan kelompok dalam masyarakat mengetahui dan memahami norma-norma
sosial dan nilai nilai yang berlaku
Individu dan kelompok dalam masyarakat menyesuaikan tindakan-tindakannya
dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku.
Sebagai contoh dapat dikemukakan, bahwa kegiatan belajar mengajar di kelas
kalian tentu akan berlangsung dengan baik jika para siswa dan guru telah memahami
dan melaksanakan tata tertib sekolah.
b. Social order (orde sosial)
Adalah suatu sistem atau tatanan norma dan nilai sosial yang diakui dan dipatuhi oleh
warga masyarakat atau bila tertib sosial keberadaannya dapat berlangsung relatif sama
dan lama.
c. Keajegan
Keajegan adalah sustu keadaan yang memperlihatkan kondisi keteraturan sosial yang
tetap dan berlangsung terus menerus. Sebagai contoh adalah kegiatan seharian kalian jika
tidak libur sekolah. Setiap pagi harus berangkat sekolah, hari senin upacara bendera,
memakai pakaian seragam, masuk sekolah sebelum pelajaran dimulai, sebelum belajar
berdoa terlebih dahulu dan lain-lain.
d. Pola
Pola merupakan suatu bentuk umum dari interaksi sosial, yang merupakan adanya
keteraturan yang lebih baku jika dibandingkan dengan tertib sosial maupun keajegan. Pola
merupakan bentuk dari tindakan yang dilakukan secara terus menerus oleh masyarakat
Dari unsur-unsur tersebut dapat dijelaskan dengan contoh “Keteraturan perilaku bertegur
sapa (mengucapkan salam)”, sebagai berikut :
Tertib sosial : Tindakan memberi salam terlebih dulu, sebelum berbincang-bincang
(berjabat tangan)
Orde : Aturan memberi salam (bertegur sapa) ketika bertemu teman
Keajegan : Tindakan mengucapkan salam dilakukan terus menerus dimanapun
berada ketika bertemu dengan teman
Pola : Tindakan mengucapkan salam dengan bahasa yang lembut
Sebuah keteraturan sosial akan dapat dipelihara dan berjalan baik jika ada norma-
norma yang ditaati oleh masyarakat. Akan tetapi tidak semua masyarakat dapat selalu
mentaati norma sosial, sehingga diperlukan suatu sistem untuk mencegah dan mengawasi
anggota masyarakat agar tidak melakukan pelanggaran.
3. PENGENDALIAN SOSIAL
Pengendalian sosial (social control) adalah pengawasan dari suatu kelompok terhadap
kelompok lain untuk mengarahkan peran-peran individu atau kelompok sebagai bagian dari
masyarakat agar tercipta situasi kemasyarakatn sesuai dengan yang diharapkan.
Definisi pengendalian sosial menurut
beberapa sosiolog antara lain :
1. Joseph S Roucek, pengendalian sosial adalah
segala proses baik direncanakan maupun tidak,
yang bersifat mendidik, mengajak bahkan
memaksa warga-warga masyarakat agar
mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial
yang berlaku
2. Peter L Berger, pengendalian sosial adalah Demonstrasi mahasiswa merupakan salah
berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk satu bentuk pengendalian sosial oleh
menertibkan anggotanya yang menyimpang masyarakat terhadap negara
3. Bruce J Cohan, pengendalian social adalah cara-cara atau metode yang digunakan untuk
mendorong seseorang agar berperilaku selaras dengan kehendak kelompok atau masyarakat
luas tertentu
Ciri-ciri pengendalian sosial
Suatu cara/metode/teknik tertentu terhadap masyarakat.
Bertujuan mencapai keserasian antara stabilitas dengan perubahan-perubahan yang terus
terjadi di dalam suatu masyarakat.
Dapat dilakukan oleh suatu kelompok terhadap kelompok lainnya atau oleh suatu kelompok
terhadap individu
Dilakukan secara timbal balik meskipun terkadang tidak disadari oleh kedua belah pihak
Fungsi pengendalian sosial
a. Mempertebal keyakinan masyarakat terhadap norma sosial
Hal ini dilakukan dengan cara pendekatan dan sosialisasi norma sosial sehingga menjadi
alat pengendali sosial yang efektif karena perilaku masyarakat sesuai norma yang berlaku.
b. Memberikan imbalan kepada masyarakat yang mentaati norma
c. Mengembangkan rasa malu
d. Menciptakan sistem hukum
Yaitu memberikan jaminan kepastian hukum bahwa hukum ditegakkan bagi
siapapun artinya semua warga mempunyai kedudukan yang sama di muka hukum dan
berusaha menciptakan kesadaran hukum bagi semua warga.
Sifat-sifat pengendalian sosial berdasarkan waktu pelaksanaan dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Preventif
Adalah usaha pengendalian sosial yang dilakukan sebelum terjadi penyimpangan atau
pelanggaran, dengan tuntuk mencegah terjadinya pelanggaran. Contoh penyuluhan tentang
pemakaian helm standar demi keadaan bersepeda motor.
2. Represif
Adalah usaha pengendalian sosial yang
dilakukan setelah terjadi pelanggaran atau
penyimpangan dengan tujuan untuk
mengendalikan, menyadarkan dan
mencegah akibat yang lebih parah dengan
mengikuti norma yang berlaku.
3. Gabungan
Adalah usaha pengendalian sosial yang
dilakukan dengan menggabungkan antara
preventif dan represif Polisi lalu lintas memperingatkan pengendara dengan tujuan mencegah
terjadinya sepeda motor untuk menyalakan lampu sebagai pelanggaran
dan mengembalikan usaha preventif agar tidak terjadi kecelakaan lalu
penyimpangan lintas. kesadaran pelaku
sesuai dengan norma yang
berlaku. Contoh penerapan peraturan agar siswa tidak membolos pada jam pelajaran dengan
diadakan guru piket dan pengawas sekolah.
Cara-cara pengendalian sosial
1. Pengendalian melalui institusi dan Non-institusi
Cara pengendalian melalui institusi adalah cara pengendalian sosial melalui lembaga-
lembaga yang ada di dalam masyarakat seperti lembaga pendidikan, hukum, agama dan lain-
lain.
Contoh: orang yang melakukan kejahatan pembunuhan dimasukkan ke dalam penjara oleh
polisi atau lembaga peradilan.
Cara pengendalian melalui Non-institusi adalah cara pengendalian di luar institusi sosial
yang ada, seperti oleh individua atau kelompok massa.
Contoh: sekelompok massa yang melakukan pembakaran kepada orang yang dianggap
mencuri.
2. Pengendalian secara lisan, simbolik dan kekerasan
Pengendalian secara lisan dan simbolik sering juga disebut cara pengendalian persuasif.
Cara ini menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing anggota masyarakat agar
dapat bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku.
Cara pengendalian secara lisan dengan cara mengajak atau menasehati secara verbal.
Pengendalian secara simbolik dengan melalui tulisan, spanduk, pamflet, iklan. Cara
pengendalian melalui kekerasan disebut juga pengendalian koersif. Cara ini menekankan pada
tindakan atau ancaman yang menggunakan kekuatan fisik.
3. Pengendalian sosial melalui imbalan dan hukuman
Pengendalian melalui imbalan bersifat prefentif. Seseorang diberi imbalan atas
tindakannya agar berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.contoh seorang anak
yang nilai raportnya bagus mendapatkan hadiah dari orang tuanya.
Pengendalian melalui hukuman cenderung bersifat represif bertujuan untuk memulihkan
keadaan seperti sebelum pelanggaran terjadi, contoh: anak yang membolos mendapat hukuman
dari sekolah.
4. Pengendalian sosial formal dan informal
Cara pengendalian sosial formal dilakukan oleh lembaga-lembaga resmi yang memiliki
peraturan-peraturan resmi, seperti: perusahaan, lembaga pemerintah. Contoh: Saksi bagi
karyawan yang tidak disiplin.Cara pengendalian informal adalah cara pengendalian yang
dilakukan oleh kelompok kecil, akrab, bersifat tidak resmi dan tidak memiliki aturan-aturan
resmi yang tertulis. Contoh: aturan di sebuah keluarga, kelompok bermain.
5. Pengendalian sosial melalui sosialisasi
Dalam proses sosialisasi individu akan belajar menyesuaikan diri dengan nilai dan norma
yang berlaku dalam masyarakat. Jika norma dan nilai
sudah menginternalisasi dalam diri individu maka di
mana pun individu itu akan berperilaku konform atau
menyesuaikan diri.
6. Pengendalian sosial melalui tekanan sosial
Untuk dapat bisa diterima dalam suatu
kelompok maka individu harus selalu berusaha
mengikuti nilai dan norma yang berlaku di dalam
kelompok tersebut. Apabila individu tidak dapat
menyesuaikan dengan kondisi kelompoknya maka
individu akan tidak diterima oleh kelompok bahkan Rumah tahanan dibangun untuk menunjang
akan mendapatkan sanksi sosial. Contoh Dalam pengendalian sosial secara teratur.
kelompok pemabuk apabila ada anggota yang tidak
ikut mabuk maka akan mendapatkan tekanan dari teman-teman lainnya berupa ejekan,
ancaman.
Secara umum cara pengendalian sosial dapat dilakukan dengan:
a. Persuasif (Tanpa kekerasan )
Adalah pengendalian sosial yang menekankan pada usaha untuk mengajak atau membimbing dengan anjuran atau nasihat tanpa ada unsur
kekerasan.
b. Coersif (dengan kekerasan/paksaan)
Mengendalian sosial yang dilakukan dengan cara persuasive tidak berhasil sehingga harus dilakukan dengan paksaan atau kekerasan, contoh
: penggusuran.
c. Compultion (kompulsi)
Adalah pengendalian social dengan menciptakan suatu kondisi yang dapat mengubah sikap
dan perilaku yang negatif.
d. Pervasi
Adalah penanaman norma yang berlangsung secara terus menerus dengan harapan bahwa hal
itu akan membudaya, contoh ajaran tentang perilaku hidup bersih.
Bentuk-bentuk pengendalian sosial
Sarana yang digunkan untuk pengendalian sosial dapat berupa:
a. Cemoohan, pengendalian sosial yang dilakukan dengan cara mencemoh/mengejek
orang/kelompok orang yang menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
b. Teguran, merupakan kritik social yang dilontarkan secara terbuka oleh masyarakat terhadap
warga masyarakat yang berperilaku menyimpang. Dalam pelaksanaan teguran dibedakan
menjadi dua macam yaitu teguran lisan dan teguran tertulis.
c. Pendidikan, pendidikan dapat membina dan mengarahkan warga masyarakat terutama warga
belajar kepada pembentukan sikap dan tindakan yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri,
masyarakat, bangsa dan negara.
d. Agama, agama dapat mempengaruhi umat dalam berperilaku dalam pergaulan. Agama
memberikan tuntunan dalam kehidupan manusia dalam berinteraksi dengan Tuhan, sesama
manusia dan alam.
e. Gosip/desas desus, pengendalian sosial dengan melakukan kritik secara tertutup oleh warga
masyarakat terhadap warga yang berperilaku menyimpang.
f. Ostrasisme/pengucilan, pengendalian sosial yang dilakukan dengan cara mengucilkan pelaku
perilaku menyimpang dengan cara membatasi akses interaksi dengan lingkungannnya.
g. Fraundulens, pengendalian sosial yang ditempuh dengan cara meminta bantuan pihak lain
yang dianggap mampu mengatasi suatu penyimpangan.
h. Intimidasi, pengendalian sosial yang dilakukan dengan cara menekan, mengancam, menakut-
nakuti atau memaksa.
i. Hukum / sanksi, pengendalian sosial yang dilakaukn dengan penerapan hukum. Pengendalian
sosial ini dinilai paling efektif karena mempunyai aturan dan sanksi yang jelas.
j. Kekerasan fisik, pengendalian sosial yang dilakukan dengan menggunakan kekerasan
terhadap pelaku perilaku menyimpang.
Dalam pelaksanaan pengendalian sosial ada dua cara yaitu pengendalian sosial
formal dan pengendalian sosial non formal. Pengendalian sosial formal (secara resmi)
yaitu pengendalian sosial yang dilakukan lembaga resmi pemerintah, contoh polisi.
Pengendalian sosial non formal yaitu pengendalian sosial yang dilakukan oleh adat,
tokoh masyarakat dan tokoh agama.
Jenis lembaga-lembaga pengendalian sosial antara lain :
a. Lembaga Kepolisian
Lembaga kepolisian merupakan salah satu lembaga formal yang dibentuk dalam
rangka mengawasi semua bentuk penyimpangan terhadap hukum yang berlaku. Polisi
adalah personil keamanan dan ketertiban masyarakat, menangani pelaku pelanggar
hukum dan melakukan tindak lanjut penyelesaian pelanggaran hukum untuk
disampaikan ke kejaksaan.
b. Lembaga Pengadilan
Pengadilan bertugas membuat keputusan hukum terhadap warga yang berkaitan
dengan masalah hukum.
c. Lembaga Adat
Lembaga adat merupakan lembaga pengendalian sosial yang sangat vital terutama
pada masyarakat tradisional untuk mengatur warga dalam kehidupan sehari-sari
melalui keputusan perartuiran yang telah ditetapkan.
d. Tokoh masyarakat
Tokoh masyarakat adalah individu yang menjadi pemuka, panutan yang mempunyai
pengaruh, kharisma untuk mengatur masyarakat yang ikut mengendalikan kondisi
masyarakat.
e. Tokoh agama
Tokoh agama adalah panutan bagi umat beragama yang menjadi rujukan
pengetahuan, perilaku dalam kehidupan sesuai kaidah agama yang dianut.