Untuk Ibu, Ayah, Kakak, dan Adik,
Terima kasih sudah selalu percaya dengan mimpi-mimpiku.
Terima kasih kuucapkan kepada pembaca karena telah bersedia meluangkan waktunya
membaca kisah ini.
Teruntukmu,
Kata demi kata yang kian berkembang menjadi kalimat sudah menjadi buku yang siap untuk
kau baca. Jika kau bertanya mengapa aku tidak pernah memberi tahu kepadamu tentang
alasan aku menulis tentangmu, jawabannya sederhana. Karena kau terlalu disayangkan untuk
dilupakan. Terima kasih telah mengukir aksara indah ini selama tujuh tahun. Ku berharap kita
selalu bisa menuliskan kisah yang lebih indah lagi.
Semua hal pasti membuai kenangan
Kepada rindu yang selalu menyanggah untuk meminta pertemuan
Semesta juga selalu punya cara untuk waktu yang terus berjalan
Teruntuk pertemuan yang tidak kita paksakan
Penantian
Di waktu istirahat kedua, aku berdiri di hadapannya. Kami saling memandang tanpa
suara. Menatap matanya yang bersemangat dan alis yang tebal adalah hal yang tidak aku
sangka selama ini.
“Aku nyaman kalau ada kamu,” ucapnya memecahkan lamunanku.
“Emang kenapa?” tanyaku dengan heran.
“Iya nggak papa. Rasanya beda aja gitu kalau dekat sama kamu, beda sama teman-teman
yang lain.”
“Oh… begitu ya. Emang bedanya gimana tuh?”
“Iya gitu. Nggak tau mau jelasin kayak gimana lagi.”
Kami kembali terdiam dan berdiri bersebelahan. Memandanginya yang terdiam dan
terlihat memikirkan sesuatu, entah tugas, organisasi, atau apa? Yang jelas dia terlihat sedang
memikirkan sesuatu. Setelah 20 menit berlalu, bel sekolah berbunyi untuk melanjutkan
pelajaran. Kami berpamitan karena berbeda kelas.
“Ya sudah, Lawana, terima kasih ya!” kata Davendra padaku sambil menyentuh bahuku.
“Iya, terima kasih juga Davendra,” balasku dengan cepat.
Setelah Davendra menyentuh bahuku, rasanya aku ingin terbang bebas. Melayang bebas
tanpa batas. Aku langsung tersenyum dengan sendirinya dan arghh… andai dia tahu
perasaanku saat ini.
“Lawana ini kenapa ya? Tiba-tiba hatinya berseri-seri seperti ini?” kata Putri padaku
sambil terheran-heran.
“Nggak papa kok hehehe…” Jawabku dengan kalem agar tidak salah tingkah.
Sepanjang hari aku terus memikirkan kejadian tadi, sambil memikirkan apa yang terjadi
dengan diriku. Saat aku pertama menatap matanya dengan serius, cara berbicara yang halus,
dan perkataan yang tidak seperti biasanya malah membuat diriku semakin salah tingkah kalau
diingat-ingat lagi.
Pagi ini, mentari bersinar cerah dan burung berkicau nan merdu. Kuucapkan selamat pagi
kepada Tuhan dan bersyukur atas nikmat hari ini yang bisa ku terima.
“Ma, aku berangkat ke sekolah dulu ya!” ucapku pada mama.
“Iya, hati-hati. Baik-baik di sekolah, selamat bersenang-senang dengan Davens ya,” tutur
mama kepadaku sambil mengedipkan satu mata seolah itu adalah hal yang paling keren di
dunia ini.
“Iya, Ma…”
Davens. Itu adalah nama keren yang diucapkan mama ketika menyebut nama Davendra.
Ya walau terdengar sedikit lebih menarik, tapi aku masih biasa saja ketika mendengar
namanya. Lama-kelamaan, panggilan Davens lebih menarik di telingaku ketimbang sebutan
“kulkas seribu pintu berjalan”. Aku juga tidak mengerti, mengapa sekarang dia menjadi pusat
semestaku? Akan tetapi, hatiku masih belum sepenuhnya yakin karena dia juga belum
memberi kepastian.
“Halo Lawana!” kata Davendra ketika kami masuk ke pintu gerbang sekolah.
“Hei! Halo juga!” ucapku dengan semangat.
“Kamu sudah ulangan fisika?”
“Sudah, hari Senin yang lalu.”
“Eh, gimana tuh soalnya? Spill dikit-dikit dong.”
“Nanti ada empat soal, rumusnya sama persis yang ada di catatan. Ya intinya hafalin aja
rumusnya.”
“Huft… kenapa sih fisika itu banyak rumus? Kalau nggak rumus ya banyak gaya.”
“Soalnya kalau nggak banyak gaya nanti jadi mati gaya.”
“Ish… apa sih?”
“Loh bener kan? Biar ga monoton makanya banyak variasinya. Hahaha…”
“Hah?!”
“Ah… pagi-pagi diajak ngobrol juga sudah tidak nyambung. Kurang air putih ya?”
“Nggak ah…”
Hari Rabu ini aku disambut dengan dia yang tidak bersemangat ke sekolah karena
ulangan fisika. Mata pelajaran yang katanya banyak tidak disukai namun dicintai oleh orang
yang tepat, seperti kata pepatah kita akan dicintai oleh orang yang tepat. Hari ini juga ada
pelajaran fisika di kelas, aku tetap berusaha untuk bisa memahami materinya walau materinya
“selalu ngelunjak” kalau kata Ratna.
Ting!
Aku melihat notifikasi handphone-ku yang berbunyi dan langsung memikirkan kira-kira
apa yang akan terjadi pada waktu istirahat kedua nanti.
“Masih pagi jangan melamun!” kata Nayla sedikit membentak.
“Aku nggak melamun kok,” jawabku dengan santai.
“Nggak melamun? Tadi keliatan banget kepikiran. Emang masalah apa? Davendra kah?
Gimana hubunganmu sama dia?”
“Iya masih gitu-gitu aja,” jawabku dengan datar.
“Haduh… punya teman gini amat. Nggak pernah ada perkembangan.”
“Hah?! Perkembangan? Maksudnya gimana?”
“Ya pacaran gitu. Masa tujuh tahun kenal nggak ada perasaan? Yakin?”
“Ya kalau dari aku yakin-yakin aja, aku nggak ada perasaan sama dia. Nggak tau kalau
dari dia.”
“Lawana… Lawana… Nggak habis pikir aku sama kamu,” ucap Nayla sambil
menggelengkan kepala dan mengakhiri pembicaraan.
Waktu berlalu dengan cepat, sampailah pada waktu istirahat kedua.
Kring!
Aku langsung mengambil tas makan dan bergegas keluar kelas. Tampak dia yang sudah
lebih dulu keluar kelas dan bersandar pada dinding kelas. Sama seperti kemarin, kembali dia
menatap mataku sambil bercerita tentang ulangan fisika tadi. Aku hanya diam mendengarkan
ceritanya sambil melirik ke kanan dan ke kiri, lalu melihat matanya yang masih terus menatap
mataku. Sejujurnya aku sangat canggung dan bingung harus melakukan apa. Mengapa dia
terus menatapku seperti itu? ucapku dalam hati.
“Aku tadi sudah ulangan fisika. Soalnya ada 4 nomor, benar katamu semua rumusnya
pakai yang ada di catatan. Tapi tadi aku malah lupa mendadak karena terlalu takut. Awalnya
aku hanya menulis diketahui dan ditanya saja, jawabannya nggak tau harus ditulis gimana.
Aku takut remidi, Lawana. Kalau remidi ya sudah, terima nasib saja.” Tuturnya dengan nada
kecewa.
“Daven, kalau kamu hari ini belum bisa ngerjain ulangan, it’s okay. Artinya kamu harus
lebih berjuang lagi buat bisa memahami materinya. Aku juga sama kok, aku remidi fisika
juga. Masih ada kesempatan buat memperbaiki di remidi besok. Tapi juga perlu diingat,
nggak setiap kali ulangan malah remidi. Jangan gitu, itu namanya malah nyusahin diri sendiri
harus kerja dua kali,” jelasku padanya sambil meyakinkan.
“Hmm… oke deh…” Ucapnya sambil menarik nafas seolah-olah meyakinkan dirinya
untuk bisa menghadapi situasi ini. “Kamu mau makan kan? Jajan ke kantin, nggak?”
“Kalau aku nggak sih. Kalau kamu?”
“Aku mau jajan di kantin. Mau ke kantin bareng?” sambil menganggukkan kepalanya.
“Oke.”
Untuk pertama kalinya kami pergi ke kantin berdua saja. Banyak sepasang mata yang
melihat kami dan aku bersikap cuek seakan tidak terjadi apa-apa.
“Daven, jujur, aku malu banget. Hahahaha… dilihat sama orang banyak nih,” kataku
berbisik sambil tertawa malu.
“Udah… nggak papa… santai aja, santai…” Dia menoleh ke arahku sambil menaikkan
satu alisnya.
“Idih… alisnya pakai naik satu segala…”
“Nggak papa dong. Biar cool…”
“Hmm… si paling cool boy.”
Setelah selesai, kami kembali ke atas dan duduk bersebelahan untuk makan. Aku
menikmati waktu bersamanya dengan bertukar cerita dan tertawa bersama. Seandainya aku
bisa memohon kepada semesta untuk bisa menghentikan waktu ini, pasti akan kulakukan.
Perasaan ternyaman diantara kami yang tidak ingin terpisahkan oleh siapa pun. Aku
memperhatikan setiap kali dia berbicara denganku pasti tatapan matanya berubah, terlihat
berbeda ketika zaman SMP dulu. Kini tatapannya semakin mendalam, kupandangi dirinya
yang kalau diperhatikan ternyata berwajah manis dan selalu tertawa melihat kumisnya. Aku
selalu teringat ketika SD tubuhku jauh lebih tinggi dari dia namun sekarang malah
kebalikannya.
Kring!
Bel sekolah kembali berbunyi dan kami harus menerima realita kehidupan lagi untuk
melanjutkan pelajaran. Aku berdiri dan kepalaku tiba-tiba berputar, namun berusaha untuk
tetap baik-baik saja.
“Kamu kenapa? Sakit kah?” ucapnya sambil memegang tanganku dan terlihat khawatir.
“Nggak papa kok, Daven,” jawabku berusaha meyakinkannya.
“Serius kamu? Kalau sakit jawabnya nggak papa-nggak papa terus.”
“Iya, Daven.” Aku menatap matanya berusaha untuk lebih meyakinkan dia lagi.
“Ya udah, aku antar kamu masuk kelas ya.”
Dia menuntunku masuk ke dalam kelas dan berpamitan denganku. Tak lupa dia
mengatakan kepadaku jangan sampai sakit. Meski kenyataannya hari ini aku ke sekolah harus
menguatkan diri karena sedang kurang enak badan. Pelajaran pun selesai, aku pulang dan
langsung beristirahat.
Aku terbangun karena tiba-tiba aku bermimpi dikejar bola yang sangat besar dan
langsung kaget. Aku menarik nafas dalam-dalam dan membuka chat dari Davendra. Ternyata
dia sangat khawatir dan aku kembali meyakinkannya aku baik-baik saja.
“Jika rasa ini tidak bisa hilang
dan semakin tumbuh, ku harap
kau juga mengerti.” Kataku pada
awan supaya dapat
menghantarkan pesan ini
kepadamu. Sudahkah itu?
“Sebentar, mau memastikan. Kita ini pacaran atau sahabatan aja?”
Aku terdiam seribu bahasa. Tak pernah aku sangka hari ini adalah penantian setelah
sekian lama. Aku tidak mengharapkan, tidak meminta, dan tidak menyangka. Ternyata selama
ini dia ada perasaan sama aku, pikirku. Terungkap sudah mengapa Nayla mengatakan hal itu
kemarin. Benar perkataan mama, aku tidak pernah bisa peka mengenai perasaan laki-laki.
Kalimat yang dia ucapkan juga tidak romantis, melainkan singkat, padat, jelas. Mau jadi
pacarku tidak? misalnya. Hal seperti itu sepertinya mustahil keluar dari mulutnya yang
menjelma sebagai kulkas seribu pintu berjalan ini.
“Aku manut kamu, Dav,” ucapku lirih karena masih belum yakin.
“Iya aku juga manut kamu,” balasnya cepat.
Di sinilah kami mengeluarkan pendapat kami masing-masing dari kata “manut” selama
kurang lebih lima menit.
“Kalau kamu mau beneran pacaran, aku bakal jaga jarak sama semua perempuan di
kelasku. Biar fokusnya ke kamu aja. Tapi kalau kamu masih mau fokus ke pelajaran juga
nggak papa,” katanya mengawali pembicaraan setelah puas mengeluarkan pendapatnya.
Aku masih terdiam, berusaha tidak salah tingkah. Walau ingin secepatnya mengatakan
iya, namun aku masih mau membuatnya grogi. Sangat terlihat jelas bahwa dia sangat gugup.
“Iya nggak papa dong, masalah belajar kan kewajiban.”
“Oke, sekarang kita pacaran ya…”
Aku tersenyum malu dihadapannya dan berusaha menyakinkan diri bahwa semua ini
benar-benar nyata. Hari ini aku berterima kasih kepada semesta karena telah mempertemukan
seorang laki-laki yang sangat hebat. Laki-laki yang tangguh terhadap idealismenya sendiri
tentang apa yang dia inginkan, maka harus dia dapatkan, seperti saat ini misalnya. Dia yang
bertanya, dia juga yang menjawab. Seseorang yang sangat pendiam namun selalu bekerja
keras untuk mencapai targetnya.
Hatiku berbunga-bunga hari ini. Kegiatan pembelajaran yang membosankan akhirnya
menjadi berubah karena hatiku tidak seperti biasanya. Aku merangkai tulisan di buku
menceritakan tentangnya.
Teruntukmu,
Kata demi kata kutuliskan kala matahari sedang bersinar cerah
Seperti hatiku yang kian gembira
Aku ingin menceritakan sejarah
Sejarah tentang ribuan cerita kita
Masih ingatkah ketika kita pertama bersua?
Apakah menurutmu itu indah?
Katamu, kita harus selalu bersama
Kataku, biarlah semesta yang menentukan
Karena baiknya kita menjalani dengan tanpa paksaan
Biarlah Tuhan yang merencanakan,
Kemudian kita yang menjalankan
Pada akhirnya kita bertemu lagi
Walau kita pernah asing dalam sekejap
Ku pikir ini akan selesai
Namun ternyata kita masih sempat bercakap-cakap
Satu hal yang harus kau tahu,
Aku bangga bisa mengenalmu
Aku bahagia bisa menjadi orang terpenting dalam hidupmu
Aku bercerita kepada dewi malam tentangmu
Semoga kisah kita kan abadi
Semoga…