Guru Mapel SKI : Yadi Cahyadi SUNAN AMPEL
BIOGRAFI SUNAN AMPEL Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah Asal 1. Raden Rahmat 2. Sayyid Ali Rahmatullah Nama Asli Syekh Ibrahim As-Samarkandi Ayah Dewi Candrawulan (Putri kerajaan Campa) Ibu
Awal Mula Dakwah Datang ke pulau Jawa Bersama Ayah dan saudara tuanya yang Bernama Sayyid Ali Murtadho dan Raden Burereh, yang sebelumnya tinggal di campa. Datang Bersama sejumlah kerabat. Tahun Kedatangan Tahun 1440 M atas undangan dari Prabu Sri Kertawijaya Tujuan Kedatangan Untuk memperbaiki perilaku masyarakat Majapahit yang mengalami kemunduran dan kemerosotan moral Bagian 1 Karena adanya hubungan keluarga antara ibunya dan Istri Prabu Sri Kertawijaya, Dewi Darawati (Kerjaan Campa)
Bagian 2 Setelah beberapa lama di Majapahit, Raden Rahmat menikah dengan Nyai Ageng Manila, Putri Tumenggung Arya Teja (Bupati Tuban). Dan merupakan cucu Arya Lembu Sura (Raja Surabaya) Karena hubungan kekerabatannya membawa Raden Rahmat menjadi penguasa Surabaya. Dan juga didukung oleh Raja Majapahit, Prabu Sri Kertawijaya. Gelar sunan yang diberikan kepada Raden Rahmat karena sebagai Raja (Bupati) Surabaya. Dan juga guru di pesantren. Silsilah Istri Sunan Ampel Perkembangan dakwah
Wafat Sunan Ampel Tahun 1481 M di Demak, di makamkan disamping masjid Ampel, Surabaya.
Peran Sunan Ampel dalam Perkembangan Islam di Indonesia Dewi Murtasiyah (Putri Sunan Ampel) dinikahkan dengan santrinya Raden paku (Sunan Giri) Raden Usen dinikahkan dengan Putri Arya Baribin (Adipati Madura) Syekh Waliyul Islam dinikahkan dengan Putri Reno Sambodi. Seorang mubaligh Asal Rusia Selatan dekat Samarkand, ditugaskan mengislamkan masayarakat Sumenep, Madura Anak penguasa Pasuruan , Lembu Mirudha atau dikenal (Mbah Gunung Bromo) Syekh Maulana Gharib dinikahkan dengan Niken Sundari Putri Patih Majapahit (Mahodara) 1. Membentuk jaringan kekerabatan dalam menyebarkan Islam Murtasimah dinikahkan dengan raden Patah yang menjabat sebagai Adipati demak Salalh satu strategi Sunan Ampel dalam menyebarkan agam Islam ada dengan menikahkan para penyebar Islam dengan putra-putri Penguasa majapahiy
2. Melakukan perubahan menuju tradisi bernilai keislaman Sebelum kedatangan Islam, orang-orang majapahit mengenal upacara peringatan terhadap orang yang meninggal disebut Sraddha. Upacara Sraddha adalah upacara umat hindhu untuk mengenang kematian seseorang. Stelah kedatangan Sunan Ampel, peduduk majapahit mulai memperingati tradisi Kenduri. Dan memperingati hari kematian seseorang dengan hari ke-3, ke-7, ke-40, ke- 100 dan ke-1000 Dalam Praktiknya, masyarakat berkumpul mendatangi keluarga yang ditinggal, lalu acara diisi dzikir, tahlil dan doa
3. Membangun masjid dan pesantren sebagai pusat penyebaran islam Masjid didirikan tahun 1421 M. Model tumpang menggambarkan akulturasi budaya, Memadukan Arsitektur Hindhu-Budha dan Khazanah Islam untuk kepentingan dakwah.
“”
Sikap postif dalam pribadi Sunan Ampel 01 02 03 04 Berdakwah dengan penuh kearifan tanpa mencaci maki Toleran dan selalu menjaga hubungan baik Pemimpin yang merangkul tanpa memandang kasta dan jabatan Seorang pendidik yang menyampaikan ilmu dengan penuh keikhlasan