MATERI AJAR
PENGARUH KEBUDAYAAN HINDU-BUDDHA YANG
MASIH BERLAKU PADA KEHIDUPAN MASYARAKAT INDONESIA MASA KINI
PENYUSUN :
ADE KURNIAWAN, S.Pd
Sekolah : SMKS KHARISMAWITA 2 JAKARTA
Mata Pelajaran : Sejarah Indonesia
Kelas/Semester : X / Ganjil
Materi Pokok : Pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia
Alokasi Waktu : 2 JP x 30 Menit
A. Kompetensi Inti
KI-1 dan KI-2:Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong,
kerjasama, toleran, damai), bertanggung jawab, responsif, dan pro-aktif dalam berinteraksi
secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah,
masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan kawasan
internasional”.
KI 3: Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan,
teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan
pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah
KI4: Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara
efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan
B. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
Kompetensi Dasar Indikator
3.3 Menganalisis berbagai teori tentang Mengidentifikasi proses akulturasi kebudayaan
proses masuknya agama dan Hindu-Buddha di Indonesia pada sistem
kebudayaan Hindu dan Buddha serta kepercayaan, bangunan, serta aksara dan sastra
pengaruhnya terhadap kehidupan
masyarakat Indonesia (pemerintahan, Menganalisis pengaruh kebudayaan Hindu-
budaya) Buddha yang masih berlaku pada kehidupan
masyarakat Indonesia masa kini
4.3 Mengolah informasi tentang berbagai Menyajikan hasil penalaran tentang nilai-nilai
teori masuknya agama dan dan unsur budaya serta pengaruh kebudayaan
kebudayaan Hindu dan Buddha serta Hindu-Buddha pada kehidupan masyarakat
pengaruhnya terhadap kehidupan Indonesia masa kini dalam bentuk tulisan
masyarakat Indonesia (pemerintahan,
budaya)
C. Tujuan Pembelajaran
Melalui kegiatan membaca buku dan mengamati video (Condition) Peserta didik (Audience)
mampu mengidentifikasi (Behavior) proses akulturasi kebudayaan Hindu-Buddha di
Indonesia pada sistem kepercayaan, bangunan, serta aksara dan sastra dengan tepat
(Degree). TPCK
Peserta didik (Audience) mampu menganalisis (Behavior) pengaruh kebudayaan Hindu-
Buddha yang masih berlaku pada kehidupan masyarakat Indonesia masa kini melalui model
pembelajaran Problem Based Learning dengan baik dan benar (Degree). PCK
Melalui metode diskusi (Condition) dan pengamantan melalui Nearpod peserta didik
(Audience) mampu menyajikan (Behavior) informasi dalam bentuk tulisan (laporan) tetang
nilai-nilai dan unsur budaya serta pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha pada kehidupan
masyarakat Indonesia masa kini dengan benar dan tepat (Degree). TPCK
D. Pendahuluan
Sudah bukan ha lasing lagi jika budaya dan agama Hindu Buddha seudah ada sejak lama di
Indonesia. Bahkan, sudah ada sejak abad ke-5 hingga ke-15. Datangnya budaya dan agama
Hindu Buddha menghasilkan sebuah akulturasi budaya dengan budaya Indonesia. Maka dari
itu, banyak sekali bangunan bersejarah Indonesia yang bercorak Hindu dan Buddha.
Akulturasi budaya Hindu dan Buddha dengan budaya Indonesia dapat terjadi karena adanya
pencampuran budaya tidak menghilangkan budaya asli Indonesia. Adanya akulturasi budaya
Hindu dan Buddha dengan budaya Indonesia memberikan pengaruh bagi kehidupan
masrayakat Indonesia.
E. Petunjuk Penggunaan Materi
BACALAH MATERI AJAR INI HINGGA
TUNTAS DAN PAHAM
IKUTI PETUNJUK KEGIATAN
BELAJAR YANG ADA PADA
MATERI AJAR
CEK PEMAHAMANMU MELALUI
KEGIATAN EVALUASI
BELAJARLAH SECARA MANDIRI JIKA
MEMERLUKAN BANTUAN HUBUNGI
GURU
F. Uraian Materi
Kamu pasti sudah tidak asing dengan candi Borobudur maupun candi Prambanan.
Bangunan-bangunan bersejarah tersebut merupakan pengaruh kebudayaan Hindu- Buddha
yang berkembang di Indonesia pada abad ke 5 hingga 15. Kedatangan agama Hindu-Buddha di
Indonesia ini menimbulkan interaksi kontak budaya atau akulturasi dengan budaya Indonesia.
Lalu, apakah kamu tahu apa saja interaksi dan akulturasi tersebut? Dan apa saja pengaruh
kebudayaan Hindu-Buddha di Indonesia? Kita simak yuk penjelasannya pada materi ajar
berikut ini.
1. Pengaruh Hindu dan Buddha di Indonesia
a. Bidang Agama.
Sebelum masuknya pengaruh kebudayaan India ke Nusantara, masyarakat masih
menganut kepercayaan anismisme dan dinamisme. Kepercayaan ini dipegang teguh oleh
masyarakat Indonesia ketika kebudayaan India masuk ke Indonesia. Bangsa India turut serta
membawa kepercayaan baru dalam hubungan dengan bangsa Nusantara. Kepercayaan tersebut
adalah agama Hindu dan agama Buddha. Setelah masuknya kedua agama ini, kepercayaan
anismisme dan dinamisme tidak lantas ditinggalkan begitu saja, melainkan telah terjadi
percampuran (akulturasi) di antara keduanya. Hal ini dapat dilihat dari segi pemujaan dewa-
dewa dan roh nenek moyang.
b. Bidang Sosial dan Budaya
Awalnya masyarakat Nusantara hidup berbaur dan bergotong royong dan tidak
mengenal adanya tingkatan masyarakat. Setelah masuknya kebudayaan India ke
Nusantara, terjadi perubahan dalam tata kehidupan masyarakat Nusantara. Sebenarnya dalam
masyarakat Indonesia sebelumnya sudah memiliki hierarki sosial atau tingkatan masyarakat
secara sosial namun tidak spesifik seperti setelah adanya pengaruh kebudayaan India. Ketika
kebudayaan itu datang diperkenalkanlah sistem kasta. Sistem kasta merupakan pembagian
masyarakat berdasarkan kedudukan dalam masyarakat. Kasta dikenal dalam struktur
masyarakat Hindu. Saat itu dikenal empat kasta, yaitu:
a) Kasta Brahmana, golongan paling atas. Brahmana adalah orang yang mengabdikan dirinya
dalam urusan bidang spiritual seperti sulinggih, pandita dan rohaniawan. Selain itu
disandang oleh para pribumi.
b) Kasta Ksatria, golongan tingkat kedua. Golongan Ksatria adalah para kepala dan anggota
lembaga pemerintahan. Seseorang yang menyandang gelar ini tidak memiliki harta pribadi
semua harta milik negara.
c) Kasta Waisya, golongan tingkat ketiga. Golongan Waisya adalah orang yang telah
memiliki pekerjaan dan harta benda sendiri petani, nelayan, pedagang, dan lain-lain.
d) Kasta Sudra, golongan tingkat keempat. Golongan Sudra adalah pelayan bagi ketiga kasta
di atasnya.
Sedangkan di luar sistem kasta tersebut, ada pula istilah:
a) Kaum Paria, golongan orang rendahan yang tugasnya melayani para Brahmana dan
Ksatria.
b) Kaum Chandala, golongan orang yang berasal dari Perkawinan
Antar Warna, bangsa asing.
Berbeda dengan ajaran agama Hindu, dalam agama Buddha hanya terdapat golongan biksu
atau biksuni, dan upasaka atau upasika (masyarakat Buddha yang tingkatannya masih seperti
masyarakat kebanyakan). Pembagian golongan ini tidak mengarah pada pembagian
masyarakat secara vertikal, yang berarti tidak ada tingkatan sosial masyarakat dalam agama
Buddha.
c. Bidang Arsitektur
Pengaruh India dalam bidang arsitektur dapat dilihat dari bangunan candi, meskipun
bangunan candi ini merupakan pengaruh dari India, namun dalam arsitekturnya dapat
perpaduan dengan arsitektur megalitikum. Hal ini dapat dilihat pada umumnya candi-
candi yang berundak-undak, seperti Candi Borobudur.
Candi Plaosan Klaten (atas) dan Punden Berundak (bawah)
Candi merupakan bangunan suci keagamaan. Terdapat sebuah kitab pedoman yang
secara khusus memuat informas mengenai candi, yaitu kitab Silpasastra. Candi di
Nusantara yang dbangun dengan memenuhi pedoman dari Silpasastra menggabungkan
unsur Nusantara. Walaupun sama-sama bangunan keagamaan, candi Hindu dan candi
Buddha memiliki perbedaan. Perbedaannya dapat dilihat dari tabel berikut, yaitu:
No Aspek Candi Hindu Candi Buddha
1 Fungsi Candi makam atau tempat Tempat pemujaan dewa.
memakamkan abu jenazah
raja.
2 Bagian Dibagi menjadi tiga: Dibagi menjadi tiga:
Bhurloka (bawah candi) Kamadhatu (dasar candi)
melambangkan dunia fana. melambangkan kehidupan
Bhurvaloka (tubuh candi) manusia yang penuh dosa.
melambangkan dunia Rupadhatu (tengah candi)
pembersih atau pemurnian. melambangkan kehidupan
Svarloka (atap candi) manusia yang hanya
melambangkan dunia para mementingkan nafsu.
dewa. Arupdhatu (atas candi)
melambangkan manusia
telah mencapai nirwana.
3 Puncak Terdapat Ratna. Terdapat Stupa.
4 Arca Arca Trimurti. Arca Buddha.
Contoh candi Hindu yang ada di Indonesia antara lain Candi Prambanan, Candi
Gedong Songo, Candi Sewu, Candi Arjuna, dan Candi Tikus. Sedangkan contoh candi
Buddha yang ada di Indonesia antara lain Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Muara
Takus, Candi Sari, Candi Muara Bahal, dan Candi Ngawen. Baik candi Hindu maupun
Buddha dapat kita temukan di berbagai wilayah di Indonesia.
d. Bidang Politik dan Pemerintahan
Lahirnya berbagai kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Indonesia merupakan
salah satu bukti adanya pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia. Pada awalnya, masyarakat
Indonesia belum mengenal corak pemerintahan dengan sistem kerajaan. Sistem
pemerintahan yang berlangsung di Indonesia masih berupa pemerintahan kesukuan
yang dipimpin oleh seorang kepala suku. Dengan demikian, masuknya pengaruh India
membawa pengaruh pada terbentuknya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di
Indonesia. Kerajaan tersebut antara lain Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, Mataram kuno,
Medang, Kediri, Singasari, Majapahit.
e. Bidang Seni
Relief Sang Buddha Sidharta
Pengaruh seni rupa India telah masuk ke Indonesia seiring dengan masuknya
kebudayaan India ke Indonesia. Kesenian ini dapat dilihat dari relief-relief candi.
Candi Borobudur mempunyai relief yang menceritakan kisah sang Buddha dan
suasana alam Indonesia. Berbeda dengan Candi Borobudur, Candi Prambanan
mempunyai relief yang menceritakan kisah Ramayana. Selain relief terdapat pula
pengaruh seni rupa India berupa patung Buddha berlangganan Gandara yang ditemukan di
kota Bangun, Kutai Kertanegara (Kalimantan Timur) dan berlanggam Amarawati yang
ditemukan di Sikendeng, Sulawesi.
Relief-relief yang terdapat pada candi-candi terutama candi Borobudur dan
Prambanan menunjukan adanya bentuk tari-tarian yang berkembang pada masa itu.
Tarian perang, tuwung, bungkuk, ganding, matapukan (tari topeng) merupakan jenis
tarian yang terlihat di relief candi tersebut. Alat gamelan nampaknya digunakan untuk
mengiringi tarian tersebut. Alat-alat gamelan tersebut, antara lain gendang, gong,
kecer, gambang, saron, dan kenong. Hiasan pada candi atau sering disebut dengan
relief yang terdapat pada candi- candi di Indonesia didasarkan pada cerita-cerita epik
yang berkembang dalam kesusastraan yang bercorak Hindu ataupun Budha. Epik yang
tertera dalam relief candi Prambanan misalnya mengambil dari cerita Ramayana dan
relief pada candi Penataran mengambil epik kisah Mahabharata.
f. Bidang Aksara dan Sastra
Aksara Pallawa dan Perkembangannya di Nusantara
Selain bahasa dan aksara, turut berkembang pula seni sastra di masyarakat
Nusantara. Sastra pada masa ini bercorak tradisional dan bersifat istana sentris. Artinya,
karya yang ada masih terbatas pada kalangan istana saja. Pada masa kerajaan Hindu-
Buddha di Indonesia, seni sastra sangat berkembang terutama pada aman kejayaan kerajaan
Kediri. Karya sastra itu antara lain,
a) Arjunawiwaha, karya Mpu Kanwa yang disusun pada masa politik
Airlangga.
b) Bharatayudha, karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh disusun pada aman
kerajaan Kediri.
c) Gatotkacasraya, karya Mpu Panuluh disusun pada aman
kerajaan Kediri.
d) Arjuna Wijaya, karya Mpu Tantular yang disusun pada aman
kerajaan Majapahit.
e) Sutasoma, karya Mpu Tantular yang disusun pada aman
kerajaan Majapahit.
f) Negarakertagama, karya Mpu Prapanca disusun pada aman
kerajaan Majapahit.
g) Wretta Sancaya dan Lubdhaka, karya Mpu Tanakung yang disusun pada
aman kerajaan Majapahit.
g. Bidang Pendidikan
Pengaruh Kebudayaan India turut mengubah sistem pendidikan di Indonesia.
Kedatangan mereka yaitu untuk memberikan pendidikan mengenai agama Kebudayaan
India kepada masyarakat Indonesia. Para pendeta tersebut kemudian mendirikan tempat-
tempat pendidikan yang disebut pasraman. Di tempat inilah masyarakat mendapatkan
berabagi ilmu agama dan pengetahuan. Pada perkembangannya, tempat ini mencetak para
lulusan yang terpelajar. Para pelajar ini kemudian menyebar hingga ke India untuk
memperdalam agama Kebudayaan India, sekembalinya dari India mereka menyebarkan
agama Hindu Buddha. Bahasa pengantar pengajaran yang mereka gunakan menggunakan
bahasa setempat sehingga mudah dipahami.
2. Terjadinya Akulturasi Budaya
Sebelum masuknya kebudayaan Hindu-Budha, masyarakat telah memiliki kebudayaan
yang cukup maju. Unsur-unsur kebudayaan asli Indonesia telah tumbuh dan berkembang
dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Bangsa Indonesia yang sebelumnya memiliki
kebudayaan asli tidak begitu saja menerima budaya-budaya baru tersebut. Kebudayaan yang
datang dari India mengalami proses penyesuaian dengan kebudayaan asli Indonesia sehingga
terjadi peleburan antara budaya asli Indonesia dengan budaya Hindu Budha. Proses inilah
yang disebut dengan akulturasi. Proses akulturasi tersebut dapat di lihat dari berbagai
bidang. Antara lain sebagai berikut.
Bidang Keagamaan
Pada awalnya, masyarakat Indonesia banyak menganut animisme dan dinamisme.Setelah
masuknya pengaruh India, kepercayaan asli bangsa Indonesia ini kemudian berakulturasi
dengan agama Hindu-Budha. Akulturasi kebudayaan tersebut menghasilkan sinkretisme
antara kebudayaan agama Hindu-Budha dengan kebudayaan asli bangsa Indonesia.
Bidang Politik
Sistem pemerintahan kerajaan dikenalkan oleh orang-orang India. Sebelumnya, masyarakat
masa pra aksara mengenal sistem kepemimpinan berdasarkan primus inter pares.
Dengan pengaruh Hindu-Budha, kelompok-kelompok kecil masyarakat bersatu dengan
kepemilikan wilayah yang luas. Kepala suku yang terbaik dan terkuat berhak atas tampuk
kekuasaan kerajaan. Kemudian, pemimpin ditentukan secara turun-temurun berdasarkan
hak waris sesuai dengan peraturan hukum kasta. Oleh karena itu, lahir kerajaan-kerajaan,
seperti Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, dan kerajaan bercorak Hindu-Budha lainnya.
Bidang Sosial
Masuknya kebudayaan Hindu menjadikan masyarakat Indonesia mengenal aturan
kasta, yaitu: Kasta Brahmana (kaum pendeta dan para sarjana), Kasta Ksatria (para prajurit,
pejabat dan bangsawan), Kasta Waisya (pedagang petani, pemilik tanah dan prajurit).
Kasta Sudra (rakyat jelata dan pekerja kasar). Namun, unsur budaya Indonesia lama
masih tampak dominan dalam semua lapisan masyarakat. Sistem kasta yang berlaku di
Indonesia berbeda dengan kasta yang ada di India, baik ciri-ciri maupun wujudnya. Hal ini
tampak pada kehidupan masyarakat dan agama di kerajaan Kutai. Berdasarkan silsilahnya,
Raja Kundungga adalah orang Indonesia yang pertama tersentuh oleh pengaruh budaya
India. Pada masa pemerintahannya, Kundungga masih mempertahankan budaya Indonesia
karena pengaruh budaya India belum terlalu merasuk ke kerajaan. Penyerapan budaya
baru mulai tampak pada waktu Aswawarman, anak Kundungga, diangkat menjadi raja
menggantikan ayahnya.
Bidang Arsitektur
Punden berundak merupakan salah satu arsitektur masa Megalitikum. Arsitektur tersebut
berpadu dengan budaya India yang mengilhami pembuatan bangunan candi. Jika
diperhatikan, Stupa Borobudur sebenarnya mengambil bentuk bangunan punden berundak
agama Budha Mahayana. Pada Candi Sukuh dan candi-candi di lereng Pegunungan
Penanggungan, pengaruh unsur budaya India. sudah tidak begitu kuat. Candi-candi tersebut
hanyalah pundenberundak.Begitu pula fungsi candi di Indonesia, candi bukan sekadar tempat
untuk memuja dewa- dewa seperti di India, tetapi lebih sebagai tempat pertemuan
rakyat dengan arwah nenek moyangnya. Candi dengan patung induknya yang berupa arca
merupakan perwujudan raja yang telah meninggal. Hal ini mengingatkan pada bangunan
punden berundak denganmenhirnya.
G. Rangkuman
Masuknya budaya Hindu-Buddha di Indonesia menyebabkan munculnya pengaruh dan
akulturasi kebudayaan Hindu-Buddha dengan kebudayaan asli Indonesia. Akulturasi
merupakan perpaduan dua atau lebih kebudayaan yang saling mengisi serta tidak
menghilangkan unsur-unsur asli dari kedua kebudayaan tersebut. Bentuk-bentuk pengaruh
dan akulturasi kebudayaan tersebut antara lain seni bangun, patung atau arca, seni sastra dan
bahasa, seni relief, politik dan pemerintahan, serta bidang pendidikan.
H. Sumber Belajar
Hapsari, Ratna dan M. Adil. Sejarah Indonesia untuk SMK/MAK Kelas X Jakarta: Erlangga,
2017.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah Indonesia. Jakarta: Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sejarah Indonesia: Buku Guru. Jakarta:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014
M. Habib Mustopo dkk. Sejarah Indonesia untuk SMA Kelas X Jakarta: Yusdhistira, 2013
Abdullah, Taufik dan Lapian, A.B.[ed]. 2010. Indonesia dalam Arus Sejarah
Kerajaan Hindu-Buddha. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.
https://youtu.be/x0LRw4X0G5w