CARA MENGELOLA
NYERI
Disusun Oleh :
AFIFATUL MUFIDAH A.Md.Kep.
Cara mengelola nyeri
Pengertian nyeri:
nyeri merupakan sensasi tidak menyenangkan yang terjadi bila kita
mengalami cedera atau kerusakan pada tubuh kita . Nyeri dapat terasa
sakit, panas, gemetar, kesemutan seperti terbakar, tertusuk atau tertikam
Pembagian nyeri:
1. nyeri akut (<6 bulan)
nyeri akut biasanya terjadi secara tiba tiba
2. nyeri kronis (> 6 bulan)
nyeri kronis adalah nyeri yang menetap yang dirasakan lebih dari 6
bulan
Tanda dan gejala nyeri:
1. Suara
-menangis
-merintih
- menarik/menghembuskan nafas
2. Ekspresi wajah
-meringis
-mengatupkan gigi
-menggigit bibir
-menutup rapat/membuka mata atau mulut
3. Pergerakan tubuh Interkasi sosial
-disorientasi waktu
-berfokus aktifitas mengurangi nyeri
Penatalaksanaan nyeri
Penatalaksanaan nyeri dikelompokkan menjadi dua, yaitu secara
farmakologi dan non farmakologi.
1. penatalaksanaan nyeri secara farmakologi
menggunakan obat obatan
2. penatalaksanaan nyeri secara non farmakologi
tanpa menggunakan obat obatan
Macam-macam Cara Mengelola Nyeri Tanpa Obat
1. Hipnoterapi
Hipnosis sendiri merupakan teknik
komunikasi untuk menanamkan sugesti
kepada seseorang melalui pikiran bawah
sadar, sugesti yang bersifat terapeutik.
Tahapan Hipnoterapi
Pertama, menggunakan teknik induksi, dimana pasien akan dibimbing untuk
mencapai relaksasi fisik yang kemudian nanti akan diikuti relakasasi mental.
Begitu seseorang sudah merasa rileks, pikiran bawah sadarnya akan semakin terbuka
untuk menerima sugesti. Setelah masuk lebih dalam lagi ke ruang bawah sadar
pikirannya atau biasa disebut kondisi teta, maka akan mulai dimasukan sugesti yang
diinginkan pasien. Sugesti yang dimasukan harus berupa kalimat sederhana, positif,
dan diucapkan berulang-ulang
Contoh “Ketika kamu membuka pintu, kamu mungkin melihat keluargamu yang
tercinta di sisi lain.”
2. Distraksi: mengalihkan perhatian terhadap nyeri dan efektif untuk
nyeri ringan sampai sedang.
Distraksi visual
(melihat TV atau pertandingan bola)
Distraksi
(mendengar musik atau radio)
3. Guided Imagery (Imajinasi Terbimbing)
Terapis meminta klien untuk berimajinasi
membayangkan hal-hal yang menyenangkan
(Mulai dengan melemaskan seluruh tubuh anda, tarik
nafas perlahan sambil memejamkan mata dengan
lembut…ketika anda telah merasa rileks, coba anda
imajinasikan bahwa anda kembali ke suatu masa yang
sangat berkesan, indah dan paling membahagiakan
dalam hidup anda)
4. Kompres hangat
Dilakukan dengan menempelkan kantong karet
yang diisi air hangat atau handuk yang telah
direndam di dalam air hangat, ke bagian tubuh
yang nyeri. Sebaiknya diikuti dengan latihan
pergerakan atau pemijatan
5. Kompes dingin
kompres menggunakan air dingin. Kantong
karet atau handuk ditempelkan pada bagian
tubuh yang nyeri. Melakukan kompres dingin
harus hatihati sehingga sebaiknya tidak lebih
dari 30 menit.
6. Pemijatan/masase
Massase kulit memberikan efek penurunan
kecemasan dan ketegangan otot.
Contoh Pijat Leher
1. Rendahkan dan jauhkan kedua bahu dari telinga.
2. Tegakkan leher dan punggung.
3. Cari lokasi yang nyeri di leher. Tekan bagian
tersebut menggunakan jari.
4. Gerakkan secara melingkar jari secara perlahan.
5. Ulangi gerakannya dengan arah yang
berlawanan.
6. Lakukan selama 3-5 menit.
7. Teknik Relaksasi
Relaksasi otot rangka dapat menurunkan
nyeri karena mengendorkan ketegangan
otot.
Langkah Teknik Relaksasi :
1. Menarik napas dalam dan menahannya di dalam paru
2. Secara perlahan-lahan keluarkan udara dan rasakan tubuh menjadi
kendor
3. Bernapas dengan irama normal dalam beberapa waktu
4. Ambil napas dalam kembali dan keluarkan secara perlahan-lahan,
sambil biarkan telapak kaki relaks. Pada tahap ini terapis dapat
membantu Anda untuk mengkonsentrasikan pikiran pada kaki yang
terasa ringan dan hangat.
5. Ulangi langkah ke-4
6. Setelah Anda merasa rileks, dianjurkan untuk bernapas secara
perlahan. Bila nyeri menjadi hebat, Anda bernapas secara dangkal
dan cepat.
7. Teknik relaksasi perlu dilakukan beberapa kali agar mencapai hasil
optimal
8. Alat TENS
Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) merupakan
stimulasi pada kulit dengan menggunakan arus listrik ringan yang
dihantarkan melalui elektroda luar. Alat ini biasa digunakan di poliklinik
fisioterapi/ rehabilitasi medik.
Kenapa transcutaneous electrical nerve stimulation
(TENS) diperlukan?
Indikasi dilakukan transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS)
adalah untuk meredakan nyeri akut (nyeri yang dirasakan dalam jangka
pendek) dan nyeri kronis (nyeri yang dirasakan dalam jangka panjang).
Siapa yang membutuhkan TENS?
Orang-orang yang membutuhkan prosedur TENS adalah yang
mengalami:
Pengapuran sendi atau osteoarthritis
Fibromialgia (nyer pada otot, tendon, dan persendian di seluruh
tubuh, terutama di area tulang belakang)
Tenditinis (inflamasi atau iritasi pada tendon)
Bursitis (inflamasi pada bantalan sendi)
Nyeri yang berhubungan dengan pekerjaan tertentu
Nyeri punggung belakang bawah
Nyeri panggul kronis
Neuropati diabetik (gangguan saraf tepi pada penderita diabetes)
Penyakit arteri perifer
Walaupun begitu, tidak semua orang merupakan kandidat yang baik
untuk menjalani TENS. TENS tidak dianjurkan pada orang yang:
Wanita hamil
Penderita epilepsi
Penderita penyakit jantung
Orang yang telah menjalani pemasangan pacu jantung atau implant
listrik/logam lainnya dalam tubuhnya.
Orang yang mengalami thrombosis vena dalam atau tomboflebitis
Orang yang mengalami gangguan pembekuan darah atau sedang
mengalami perdarahan aktif
Penderita kanker
Pada orang yang mengalami masalah komunikasi atau mengalami
gangguan mental yang tidak dapat mengkomunikasikan feedback
saat dilakukan tindakan
Apa saja persiapan sebelum menjalani TENS?
Persiapan yang dapat Anda lakukan sebelum menjalani prosedur TENS
antara lain:
Diskusikanlah dengan dokter mengenai manfaat dan risiko
prosedur
Komunikasikan dengan dokter bila Anda mengalami kondisi medis
tertentu untuk memastikan apakah prosedur ini aman untuk Anda
atau tidak
Bagaimana TENS dilakukan?
Mesin TENS dapat Anda beli dan gunakan sendiri di rumah. Pastikan
konsultasikan dulu dengan dokter apakah Anda boleh menggunakannya
sehari-hari. Secara garis besar cara penggunaan TENS adalah sebagai
berikut:
Pasangkan elektroda pada area tubuh yang nyeri atau pada titik
akupunktur.Titik akupunktur adalah titik pada tubuh yang akan
menghasilkan hormone penghilang nyeri endorphin ketika
dirangsang.
Pada pekerja tertentu, elektroda dipasang pada punggung bawah
belakang untuk mengurangi nyeri saat melakukan pekerjaan yang
berulang.
Ketika elektroda telah terpasang di tempat yang benar, nyalakan
mesin TENS. Mesin TENS dilengkapi dengan remote kontrol
untuk mengatur kekuatan impuls listrik yang dihasilkan. Mulailah
dengan impuls listrik yang kecil dan secara perlahan tingkatkan
impuls listrik tersebut sampai sensasinya terasa kuat namun tidak
menimulkan ketidaknyamanan.
Bila sudah selesai, matikan mesin TENS dan lepaskan elektroda
dari tubuh Anda.
Apa saja yang perlu diperhatikan setelah TENS?
Efektivitas TENS dalam mengurangi nyeri bervariasi antara satu
orang dengan yang lain. Beberapa orang melaporkan rasa nyeri kembali
setelah alat TENS dimatikan, namun ada yang bebas nyeri selama hampir
24 jam setelah menjalani prosedur TENS.Sebuah penelitian menyebutkan
bahwa efektivitas TENS dalam mengurangi nyeri meningkat dengan
semakin sering menjalani TENS. Namun hal ini juga menyebabkan
kondisi toleransi yang mengakibatkan seseorang akan membutuhkan
TENS dengan intensitas dan frekuensi yang lebih tinggi untuk
mendapatkan efek pengurangan nyeri yang sama.
Apa saja komplikasi transcutaneous electrical nerve stimulation
(TENS)?
Seperti prosedur medis lainnya, TENS juga memiliki beberapa
risiko, seperti: reaksi alergi terhadap pad elektroda dan risiko lain pada
orang-orang yang sedang hamil, telah menjalani pemasangan pacu
jantung, mengalami epilepsi, dan kondisi-kondisi medis lainnya.
.
nyeri sebagai pengalaman
sensori dan emosional yang
tidak menyenangkan akibat
dari kerusakan jaringan
yang aktual atau potensial.
CARA MENGELOLA NYERI