BAB VIII
TENTANG SELAMATKAN SLAMET
Kampanye Selamatkan Slamet pada Hari Bumi 22 April 2017
di Alun-Alun Purwokerto
Selamatkan Slamet merupakan aliansi masyarakat di Banyumas dan
sekitarnya yang peduli dengan kelestarian dan keselamatan Gunung Slamet dan
kehidupan di sekitarnya. Selamatkan Slamet dibentuk pada Maret 2017, yang
terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat pedesaan, pegiat lingkungan,
pegiat agraria, kelompok pecinta alam, mahasiswa, akademisi, jurnalis, pegiat
kesenian, dan dari berbagai organisasi, komunitas, maupun individu lainnya yang
bergabung secara sadar dan sukarela. Selamatkan Slamet dibentuk dalam rangka
merespon perusakan ekosistem yang diakibatkan oleh megaproyek Pembangkit
Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden, yang digarap oleh PT Sejahtera
Alam Energy (SAE) di Gunung Slamet.
Selamatkan Slamet menyatakan sikap untuk menolak PLTP Baturraden di
Gunung Slamet, dengan alasan :
1. Proyek tersebut cacat sejak perencanaan karena dibangun di zona merah
pergerakan tanah yang rawan bencana seperti longsor dan banjir bandang,
yang dapat mengancam keselamatan masyarakat yang tinggal di lereng
gunung;
51
2. Membabat 675,7 hektar hutan lindung yang dapat mengurangi serapan air
sehingga merusak sistem hidrologi, dan berakibat pada menurunnya
kualitas maupun kuantitas ketersediaan air yang selama ini menjadi
kebutuhan masyarakat untuk penghidupan dasar maupun kegiatan
ekonomi masyarakat pedesaan.
3. Mengancam keanekaragaman ribuan spesies flora dan fauna yang unik dan
langka, sebagai akibat dari deforestasi besar-besaran yang merusak habibat
mereka;
4. Mengekstraksi air permukaan dan air tanah di area hutan lindung guna
keperluan pengeboran eksplorasi maupun sumur injeksi, yang dapat
mengakibatkan krisis air.
Seringkali penolakan yang dilakukan oleh Selamatkan Slamet dianggap
sebagai menolak adanya PLTP sama sekali. Apa yang Selamatkan Slamet tolak
bukanlah PLTP-nya sebagai sebuah teknologi, Selamatkan Slamet bukan pula
menolak adanya pembangunan. Selamatkan Slamet hanya menolak pembangunan,
dalam hal ini PLTP Baturraden, karena merusak ekosistem Gunung Slamet. Apa
yang dilakukan oleh Selamatkan Slamet hanyalah upaya untuk memperjuangkan
hak atas lingkungan hidup yang sehat.
Hal ini pun dijamin oleh hukum tertinggi di Indonesia, yaitu Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Pasal 28H ayat (1), bahwa, “Setiap orang
berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan
lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan
kesehatan.”
Hak konstitusional ini kemudian dipertegas dalam Pasal 65 Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan dan Lingkungan
Hidup (UU PPLH) :
1) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai
bagian dari hak asasi manusia.
2) Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup, akses
informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas
lingkungan hidup yang baik dan sehat.
3) Setiap orang berhak mengajukan usul dan/atau keberatan terhadap
rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan
dampak terhadap lingkungan hidup.
52
4) Setiap orang berhak untuk berperan dalam perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
5) Setiap orang berhak melakukan pengaduan akibat dugaan pencemaran
dan/atau perusakan lingkungan hidup.
Selama ini sudah beredar kabar dan menjadi rahasia umum kalau pihak
pemerintah berusaha untuk menekan aktifitas dan aspirasi masyarakat dalam
kegiatan penolakan PLTPB Baturraden. Setiap kali mengadakan acara pemutaran
film di desa, maka masyarakat yang mengadakannya langsung didatangi oleh
Polisi maupun Pemerintah. Ditanya-tanyai seperti seorang penyidik yang sedang
menginterogasi seorang kriminal. Seolah-olah apa yang dilakukan masyarakat
merupakan suatu tindak kejahatan yang serius. Padahal masyarakat hanya sekedar
berusaha memperjuangkan haknya. Melindungi hutan dan alam yang masih
tersisa. Dan ini pun diatur dalam Pasal 66 UU No. 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup bahwa, “Setiap orang yang
memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat
dituntut secara pidana maupun digugat secara perdata.”
Bagaimana Cara Kerja Selamatkan Slamet?
Setiap elemen di Selamatkan Slamet tergabung secara sukarela. Elemen-
elemen masyarakat yang tergabung di Selamatkan Slamet memiliki kedudukan
yang sejajar satu sama lain. Keputusan dibentuk berdasarkan kesepatan bersama,
setelah didahului dengan diskusi secara bebas dan terbuka. Untuk memudahkan
dalam bergerak, dibentuk pembagian-pembagian tugas berdasarkan cakupan
kewilayahan dan berdasarkan fungsi, yang dikoordinir oleh koordinator. Adapun
untuk menghindari kebertumpuan pada seorang atau beberapa orang saja,
koordinator dapat diganti sewaktu-waktu sesuai kondisi yang terus berubah.
Selamatkan Slamet memiliki beberapa divisi antara lain Divisi Riset & Media,
Divisi Usaha Dana dan Divisi Pengorganisiran per Kecamatan, Desa, Kampus,
dan jaringan Kota. Setiap elemen terlibat aktif di dalam divisi berdasarkan
kemampuan dan kesanggupan masing-masing.
Dalam rangka membantu operasional, Selamatkan Slamet membiayai diri
secara independen melalui penjualan karya-karya seperti kaos sablon, stiker, dan
sebagainya, serta donasi tidak terikat. Selamatkan Slamet menolak dengan tegas
53
keterlibatan dari suatu partai politik atau lembaga apapun untuk mengintervensi
sikap dan kemandirian aliansi. Dalam tindakannya, Selamatkan Slamet percaya
pada gerakan massa yang didasarkan pada riset ilmiah, dan menolak cara-cara
kompromi yang bermaksud mengurangi atau membelokkan sikap politik aliansi.
Selamatkan Slamet telah memiliki dukungan sebanyak 22.500 orang yang
menandatangani Petisi Online, sekitar 2000 tandatangan Petisi Fisik dari berbagai
desa, kecamatan, bahkan kabupaten, dan dukungan dari puluhan organisasi dan
komunitas yang menuntut dicabutnya Izin PLTPB Baturraden di Gunung Slamet.
Informasi selengkapnya mengenai Selamatkan Slamet dapat disimak melalui :
Twitter : @SaveMTSlamet
Instagram : selamatkanslamet
Facebook : Selamatkan Slamet
LINE : @odz4060d
54
DAFTAR PUSTAKA
Annisa, R. A. 2010. Hubungan Morfologi Tanah Bekas Tambang Batubara
dengan Sifat Kimia, Fisik dan Biologi Tanah di PT. Kaltim Prima Coal.
Institut Pertanian Bogor.
Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas. 2010. Data Sumber Mata Air di
Kabupaten Banyumas.
J. A. Bradshaw, Coray. 2007. Global Evidence that Deforestation Amplifies Flood
Risk dan Severity in the Depeloving World, Jurnal Global Change Biology
Volume 13 Issue 11
Islamiyah, Wardah. 2014. Kajian Efisiensi Konversi Energi pada Star Energy
Geothermal (Wayang Windu) ltd., Jawa Barat. Fakultas Teknik.
Universitas Brawijaya.
Kusumayadi Henri, Prakosa Rachwibowo, Wahju Krisna Hidajat. 2014. Kajian
Daerah Rawan Bencana Alam Gerakan Tanah Berdasarkan Analisis
Faktor Pengontrol di Wilayah Kecamatan Cilongok, Kabupaten
Banyumas Jawa Tengah. Undip Geological E-Journal Volume 6 Nomor 2
Tahun 2014.
LIPI dan LPPM Unsoed, 2012, Ekologi Gunung Slamet, Jakarta : LIPI Press
Moediyono. 2010. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi /
Goethermal Energy ( PLTPB ). Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
Nirmala Dewi, Cinantya. et al,. 2014. Penerapan Metode Audio Magnetotelurik
dan Magnetotelurik untuk Identifikasi Litologi Bawah Permukaan Pada
Lapangan Panasbumi. Fakultas MIPA Brawijaya. LIPI Indonesia.
Pudjiharta, A. 2008. Pengaruh Pengelolaan Hutan pada Hidrologi, Jurnal Info
Hutan Volume V Nomor 2 Tahun 2008.
Taufik, Muhammad. 2016. Simulasi Daya Listrik yang Dihasilkan PLTPB dengan
Menggunakan Beberapa Fluida Kerja. Departemen Teknik Elektro
Universitas Padjajaran.
Internet
http://www.tribunnews.com/regional/2017/08/03/warga-lereng-slamet-geger-
banyak-satwa-liar-turun-gunung
http://regional.liputan6.com/read/3065758/petani-vs-babi-hutan-tak-mempan-
diracun-bertarung-di-ladang
55
https://purwokertokita.com/lingkungan/proyek-panas-bumi-di-gunung-slamet-
ancam-sumber-mata-air-masyarakat-banyumas.html. Diakses pada 9 September
2017, 10:30 WIB.
https://bappeda.wonosobokab.go.id/peran-vegetasi-dalam-pengendalian-erosi-
dan-longsor/. Diakses pada 9 September 2017, 11:13 WIB.
http://www.antaranews.com/berita/26789/luas-hutan-di-pulau-jawa-tinggal-11-
persen
56