The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buletin Epidemiologi oleh Puskesmas Kecamatan Cilandak

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Epidemiologi PKM Cilandak, 2019-10-24 11:58:09

Buletin Epidemiologi Edisi Oktober Vol 1

Buletin Epidemiologi oleh Puskesmas Kecamatan Cilandak

Edisi : 01 – Oktober/2019

GANDARIA SELATAN

Mengenal
Penyakit
Potensi
KLB

© Epidemiologi Puskesmas Kecamatan Cilandak

1

Pelindung : dr. LUIGI, MPH
Penasihat : Sumarno, AmKL

Penulis dr. Tri Novia Maulani
Datin : Selestin Nisfu Choiriyah, SKM
: Tri Rusdiana, STP

Sumber Data :

Rekam Medis Elektronik Puskesmas, Surveilans Puskesmas Cilandak,
dan Data Program

Kritik dan Saran :
[email protected]

KONTEN 2

Metode Analisis Data

Penjelasan alur penyusunan laporan penyakit potensi KLB pada buletin ini, dimulai dari
data sekunder hingga berbentuk data deskriptif

Gambaran Wilayah Kecamatan Cilandak

Apa Itu Penyakit Potensi KLB?

Menjelaskan definisi apa yang dimaksud penyakit potensi KLB (Kejadian Luar Biasa).
Membahas jenis penyakit yang berpotensi penularan cepat dan meluas.

A. Penyakit Diare dan Infeksi Saluran Pencernaan

1. Diare
Diare Berdarah/ Suspect Kolera
Gambaran Kasus Diare, Diare Berdarah, atau Suspect Kolera
di Kecamatan Cilandak

2. Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut (HFMD)
Gambaran Kasus Penyakit Tangan, Kaki, dan Mulut (HFMD)

B. Penyakit Arbovirus 3

1. Suspect Demam Dengue
Gambaran Kasus Demam Dengue di Kecamatan Cilandak

2. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Gambaran Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di
Kecamatan Cilandak

3. Chikungunya
4. Demam Kuning (Yellow Fever)
5. Malaria
6. Filariasis

KONTEN C. Penyakit Zoonosis

1. Antrax
2. Flu Burung / Avian Influenza (H5N1)
3. Leptospirosis
4. PES
5. Rabies / Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR)

D. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

1. Campak
Gambaran Kasus Campak di Kecamatan Cilandak

2. Difteri
Gambaran Kasus Difteri di Kecamatan Cilandak

3. Pertusis
4. Poliomyelitis

4

Pengumpulan Data

Pengambilan data sekunder Editing/ Cleaning Data
melalui rekam medis elektronik
Membersihkan data dobel,
setiap minggu berdasarkan karena angka kasus baru yang
kalender epidemiologi dihitung. Serta pasien dalam

Hari-1 Tiap Minggu wilayah kecamatan

Metode Hari-1 s/d 2 Tiap Minggu
Analisis
Koding atau Kategori Data
Data
Mengelompokan data agregat
TIMELINE berdasarkan kebutuhan variable

Deskripsi Data dan data individu sesuai jenis
variabel

Tahap mendeskripsikan data Hari- 2 Tiap Minggu
menjadi informasi kepada
Telusur Hubungan Antar
Data pembaca

Apabila ada data yang bisa Hari- 1-4, Minggu ke-4
dihubungkan dan memiliki
keterkaitan satu dengan yang lain.

Hari-4-5, Minggu ke-4

Kalender Epidemiologi 2019 5

CIPETE SELATAN 6

GANDARIA SELATAN • Luas Wilayah : 2,32 km2
• Jumlah Penduduk Tahun 2019 :
• Luas Wilayah : 1,77 km2
• Jumlah Penduduk Tahun 2019 : 35.647 Jiwa
17.847, 17.800
25.262 Jiwa
12.640 12.622 • Jumlah RW : 7

• Jumlah RW : 7

LEBAK BULUS CILANDAK BARAT
• Luas Wilayah : 4,11 km2
• Jumlah Penduduk Tahun 2019 : • Luas Wilayah : 6,04 km2
• Jumlah Penduduk Tahun 2019 :
41.505 Jiwa
20.592 20.913 59.765 Jiwa
29.785, 29.980
• Jumlah RW : 9
• Jumlah RW : 13
Sumber : Data BPS
PONDOK LABU Gambaran
Umum
• Luas Wilayah : 3,10 km2 Wilayah
• Jumlah Penduduk Tahun 2019 :
Kecamatan
43.262 Jiwa Cilandak

21.722, 21.540
• Jumlah RW : 10

Apa Itu Penyakit Potensi KLB? 7

DEFINISI KLB
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang
bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang
menjurus pada terjadinya wabah. (Permenkes No. 1501 Tahun 2010)

KRITERIA KLB

1. Timbulnya suatu 2. Peningkatan kejadian 3. Peningkatan kejadian Jumlah penderita baru
penyakit menular kesakitan terus kesakitan dua kali atau 4. dalam waktu periode
menerus selama 3
tertentu sesuai Pasal 4 kurun waktu dalam lebih dibandingkan 1 bulan menunjukkan
kenaikan dua kali atau
yang sebelumnya jam, hari, atau minggu dengan periode lebih dibandingkan
angka rata – rata per
tidak ada atau tidak berturut – turut sebelumnya dalam bulan dalam tahun
sebelumnya
dikenal disuatu daerah menurut jenis penyakit kurun waktu jam, hari,

atau minggu

5. Rata – rata jumlah kejadian 6. Angka kematian kasus suatu 7. Angka proporsi penyakit
kesakitan per 1 bulan selama 1 penyakit (Case Fatality Rate) dalam penderita baru pada satu
periode menunjukkan kenaikan
tahun menunjukkan kenaikan 1 tahun kurun waktu tertentu ada dua kali atau lebih

dua kali atau lebih kenaikan 50% atau lebih dibanding dibandingkan satu periode

dibandingkan angka rata – rata dengan angka kematian kasus pada sebelumnya dalam kurun

jumlah kejadian kesakitan per periode sebelumnya dalam kurun waktu yang sama

bulan pada tahun sebelumnya waktu yang sama

A. Penyakit 1.1. Diare
Diare dan Diare Berdarah atau Suspect Kolera

Infeksi 1.2. Penyakit Tangan, Kaki dan Mulut/ Hand
Saluran Foot Mouth Disease (HFMD)
Pencernaan

Pic : g-excess.com

Diare 9

Diare akut adalah buang air besar yang frekuensinya lebih sering dari biasanya (pada umumnya 3 kali atau lebih) per hari dengan konsistensi cair
dan berlangsung kurang dari 7 hari.

Penyebab : Diare adalah penyakit dimana penyebabnya adalah infeksi, malabsorpsi, keracunan pangan, dan yang terkait
penggunaan antibiotik (DTA/AAD). Di Indonesia penyebab utama KLB diare adalah Vibrio cholerae, kelompok
disentri (Entamoeba histolytica, Shigella dysentriae, Salmonella, Campylobacter jejuni, dan Escherichia coli), dan
Rotavirus.

Masa Inkubasi : Masa inkubasi penyakit sesuai dengan etiologi diare (bakteri yang menyebabkan diare)

Sumber dan Cara Penularan : Cara penularan diare adalah secara fecal-oral. Tinja penderita diare mengandung kuman yang dapat mencemari
sumber air bersih dan makanan. Penyebarannya melalui lalat, tangan tercemar dan sanitasi yang buruk.

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan

• Muntah • Optimalisasi PHBS
• Dehidrasi • Cuci tangan sebelum dan
• Sakit perut yang hebat
• Lendir di BAB sesudah makan atau ketika
kontak
• Fasilitas sanitasi yang baik

Tren Kejadian Diare di Kecamatan Cilandak Minggu 1 – Minggu 41 10
Pada Tahun 2018 dan Tahun 2019

Kasus Diare Insiden Kasus Diare Mingguan Kecamatan Total

120
100

80
60 59 54
40
20 21 17 22

0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41
2018 39 51 62 45 56 67 65 62 60 36 55 57 36 55 69 44 43 38 58 60 40 34 40 22 46 62 66 81 58 73 63 76 47 74 80 69 58 73 80 86 90
2019 54 77 78 81 66 53 69 47 44 50 55 39 48 40 49 21 59 43 36 28 24 17 17 54 75 76 80 72 66 80 68 84 68 77 85 65 100 74 58 36 64

Sumber : Data Rekam Medis Kunjungan Pasien Diare Per Wilayah

• Data Terkini (September) • Riwayat Data Setahun (2019)

Kasus diare Minggu 36 – 40 di Terdeteksi ada potensi KLB diare pada Minggu 17
wilayah Kecamatan Cilandak dan Minggu 24 di wilayah Kecamatan Cilandak.
tidak menunjukkan potensi Hal ini karena ada kenaikan kasus 2x lipat dari
KLB periode minggu sebelumnya dan 2x lipat pada
minggu yang sama di tahun sebelumnya. Kasus
tidak tercluster.

Distribusi Wilayah dan Usia Penderita Diare Sampai September 2019 11

Distribusi Insiden dan Proporsi Diare di Kecamatan Cilandak 700 51% 49%
Sampai September 2019 600
500
2.50 584 597 400
2.00 509 496 300
200
1.50 1.38 100 5% Distribusi Kasus Berdasarkan Usia 0-7 HR
0 8 - 28 HR
1.00 PONDOK <1TH
LABU 3% 1% 1% 4%
141
3%
0.50

0.24 1.43 1.96 1.41

0.00
CILANDAK CIPETE GANDARIA LEBAK
BARAT SELATAN SELATAN BULUS

Proporsi Kasus Insiden Kasus 1-4 TH

Sumber : Data Rekam Medis Kunjungan Pasien Diare Per Wilayah 8% 21% 5-9 TH
10-14 TH

• Data Proporsi Kasus : Kasus diare/Jumlah Penduduk x 100% 15-19 TH

Berdasakan data proporsi kasus diare, Kelurahan Gandaria Selatan 10% 20-44 TH
merupakan wilayah tertinggi proporsi kejadian diare (1,96) dan 32% 45-54 TH
Kelurahan Cilandak Barat terendah (0,24).
55-59 TH
• Data Insiden Kasus : Kasus diare baru pada periode waktu 1 th
6% 60-69 TH
Berdasarkan data insiden kasus, Kelurahan Pondok Labu 6% 70+ TH
merupakan wilayah dengan kasus diare terbanyak (597 kasus).
Sementara Kelurahan Cilandak Barat dengan kasus diare terkecil Sumber : Data Rekam Medis Kunjungan Pasien Diare Per Wilayah
(141 kasus)
• Distribusi Usia

Kelompok usia terbanyak penderita diare adalah usia
produktif 20 – 40 tahun (32%), usia balita 1 – 4 tahun (21%),
dan usia anak sekolah dasar 5 – 9 tahun (10%).

Diare Berdarah 12

Diare berdarah atau disentri adalah diare dengan darah dan lendir dalam tinja dapat disertai dengan adanya tenesmus (perasaan buang air besar
yang belum tuntas). Diare berdarah dapat disebabkan oleh kelompok penyebab diare, seperti oleh infeksi bakteri, parasit, alergi protein susu
sapi, tetapi sebagian besar disentri disebabkan oleh infeksi bakteri. Penularannya secara fekal oral, kontak dari orang ke orang. Infeksi ini
menyebar melalui makanan dan air yang terkontaminasi dan biasanya terjadi pada daerah dengan sanitasi dan hygiene perorangan yang buruk.

Penyebab : Bakteri Shigella, Salmonella, Campylobacter jejuni, Escherichia coli (E. coli), dan Entamoeba histolytica.

Masa Inkubasi : Masa inkubasi penyakit sesuai dengan etiologi diare (sesuai jenis bakteri penyebab diare)

Sumber dan Cara Penularan : Cara penularan diare berdarah adalah secara fecal-oral. Tinja penderita diare mengandung kuman yang dapat
mencemari sumber air bersih dan makanan. Penyebarannya melalui lalat, tangan tercemar dan sanitasi yang buruk.

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan

• Muntah • Optimalisasi PHBS
• Dehidrasi • Cuci tangan sebelum dan
• Sakit perut yang hebat
• Lendir di BAB sesudah makan atau ketika
• BAB disertai darah kontak
• Fasilitas sanitasi yang baik

Tren Kejadian Diare Berdarah di Kecamatan Cilandak Minggu 1 – 13
Minggu 41 Pada Tahun 2018 dan Tahun 2019

Axis Title Insiden Kasus Diare Berdarah Mingguan Kecamatan Total

4.5
44

3.5
3

2.5
2

1.5
11

0.5
0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52
2018 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 3 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0
2019 0 2 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 1 0 0 2 0 0 1 1 0 0 0 1 0 0 4 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Sumber : Data Rekam Medis Kunjungan Pasien Diare Berdarah Per Wilayah

• Data Terkini (September) • Riwayat Data Setahun (2019)

Kasus diare berdarah Minggu 36 – Terdeteksi ada potensi KLB diare berdarah pada
40 di wilayah Kecamatan Cilandak Minggu 32 di wilayah Kecamatan Cilandak.
tidak menunjukkan potensi KLB. Hal ini karena ada kenaikan kasus 4x lipat dari
Muncul 1 kasus di minggu ke 33 periode minggu sebelumnya dan 3x lipat pada
yang sebelumnya 0 kasus, tapi minggu yang sama di tahun sebelumnya. Namun
tidak terjadi penambahan kasus di secara epidemiologis kasus tidak berhubungan
sekitar penderita karena kasus tersebar.

Distribusi Wilayah dan Usia Penderita Diare Berdarah Sampai September 2019 14

Distribusi Kasus dan Proporsi Kasus Diare Berdarah di
Kecamatan Cilandak Sampai September 2019

0.020 0.017 0.016 0.016 8 50% 50%
0.015 7
0.010 0.002 7 6 Distribusi Kasus Berdasarkan Usia
0.005 1 PONDOK 5
0.000 064 4
LEBAK LABU 3
CILANDAK CIPETE GANDARIA BULUS 2
BARAT SELATAN SELATAN 1
0

Kasus Proporsi Kasus 17% 17% <1TH
1-4 TH
Sumber : Data Rekam Medis Kunjungan Pasien Diare Berdarah Per Wilayah 22% 5-9 TH
39% 20-44 TH
• Data Proporsi Kasus : Kasus diare berdarah/Jumlah Penduduk x 100% 60-69 TH

Berdasakan data proporsi kasus diare berdarah, Kelurahan Cipete 5%
Selatan merupakan wilayah tertinggi proporsi kejadian diare
berdarah (0,017) dan Kelurahan Cilandak Barat terendah (0). Sumber : Data Rekam Medis Kunjungan Pasien Diare Berdarah Per Wilayah

• Data Insiden Kasus : Kasus diare berdarah baru periode waktu 1 th • Distribusi Usia

Berdasarkan data insiden kasus, Kelurahan Pondok Labu merupakan Kelompok usia terbanyak penderita diare berdarah adalah
wilayah dengan kasus diare berdarah terbanyak (7 kasus). usia produktif 20 – 40 tahun (39%), usia balita 1 – 4 tahun
Sementara Kelurahan Cilandak Barat dengan kasus diare terkecil (0 (22%), dan usia lanjut 60 - 69 tahun (17%).
kasus)

HFMD 15

Penyakit Tangan Kaki Mulut atau penyakit tangan, kaki dan mulut, yang dikenal dengan Hand, Foot, and Mouth Disease (HFMD) ini, adalah
penyakit berupa demam yang disertai kemerahan pada kulit dengan atau tanpa ulkus pada mulut. Sedangkan kemerahan dapat berbentuk
papulovesikuler yang terdapat pada telapak tangan atau telapak kaki atau keduanya, pada beberapa kasus kemerahan berbentuk makulopapular
tanpa vesikel yang dapat mengenai bokong,lutut dan siku pada balita dan bayi. Umumnya penyakit ini menyerang anak usia dibawah 10 tahun.

Penyebab : Disebabkan oleh human enteroviruses spesies A (HEV-A), Coxsackievirus A16 dan Enterovirus 71 (EV71). Genus
Enterovirus family Picornaviridae. Serotipe HEV-A yang lain adalah Coxsackie virus A6 dan Coxsackievirus A10, serta
Echovirus.

Masa Inkubasi : Masa inkubasi 3-7 hari dan masa infeksius minggu pertama sejak timbul gejala

Sumber dan Cara Penularan : Secara kontak langsung dengan cairan tubuh penderita (cairan hidung, mulut, vesikel) melalui batuk, berbicara dan
bersin (droplet). Secara oral fecal melalui tangan, mainan, dan alat-alat lain yang tercemar oleh feses penderita.

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan

• Demam (38-39 derajat C) • Optimalisasi PHBS
• Nafsu makan turun dan nyeri malam • Cuci tangan sebelum dan sesudah
• Timbul vesikel dan ruam di dalam mulut
• Vesikel ditemukan di lidah, gusi, atau mukosa pipi makan atau ketika kontak
• Ruam dengan vesikel dapat juga ditemukan pada telapak • Fasilitas sanitasi yang baik
• Membersihkan alat – alat yang
tangan, kaki, dan bokong
• Nyeri otot terkontaminasi dengan air dan sabun
• Muntah • Memperhatikan kontak penderita
• Diare
• Nyeri perut secara ketat dalam satu rumah
• Konjungtivitis

Tren Kejadian HFMD di Kecamatan Cilandak Minggu 1 – Minggu 41 16
Pada Tahun 2018 dan Tahun 2019

Insiden Kasus HFMD Mingguan Kecamatan Total

4.5

4

3.5

3

Kasus 2.5

22

1.5

11 1 11
0.5

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41

2018 0 1 0 0 0 0 2 0 1 0 0 0 0 0 2 1 2 3 1 2 0 0 0 0 4 3 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0

2019 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 1 2 0 0 1 0 0 1 1 0 0 2 0 0 0 0 0

Sumber : Data Rekam Medis Kunjungan Pasien HFMD Berdarah Per Wilayah

• Data Terkini (September) • Riwayat Data Setahun (2019)

Kasus HFMD berdarah Minggu 36 Terdeteksi potensi KLB HFMD pada minggu 6,
– 40 di wilayah Kecamatan 22,29,32, dan 36. Hal ini kemunculan kasus HFMD
Cilandak terdapat potensi KLB yang pada minggu sebelumnya tidak ada.
pada minggu 36. Pada minggu
tersebut muncul 2 kasus yang
sebelumnya 0.

Distribusi Wilayah dan Usia Penderita HFMD Sampai September 2019 17

0.015 Distribusi Kasus dan Proporsi Kasus HFMD Kecamatan 6 27% 73%
Cilandak Sampai September Tahun 2019 5
4
5 3
2
0.010 1
0
2 2

0.005 1 1

0.000 0.002 0.003 0.008 0.012 0.005

CILANDAK CIPETE GANDARIA LEBAK PONDOK Distribusi Usia
BARAT SELATAN SELATAN BULUS LABU

Proporsi Kasus Kasus <1TH
1-4 TH
Sumber : Data Rekam Medis Kunjungan Pasien HFMD Berdarah Per Wilayah 9% 9% 5-9 TH
9% 10-14 TH
• Data Proporsi Kasus : Kasus HFMD/Jumlah Penduduk x 100% 15-19 TH
27% 46% 20-44 TH
Berdasakan data proporsi kasus HFMD, Kelurahan Lebak Bulus 45-54 TH
merupakan wilayah tertinggi proporsi kejadian HFMD (0,012) dan
Kelurahan Cilandak Barat terendah (0,002). Sumber : Data Rekam Medis Kunjungan Pasien HFMD Berdarah Per Wilayah

• Data Insiden Kasus : Kasus HFMD baru periode waktu 1 th • Distribusi Usia

Berdasarkan data insiden kasus, Kelurahan Lebak Bulus merupakan Kelompok usia terbanyak penderita HFMD adalah usia
wilayah dengan kasus HFMD terbanyak (5 kasus). Sementara produktif 1-4 tahun (46%) dan 5 -9 tahun (27%).
Kelurahan Cilandak Barat dan Cipete Selatan dengan kasus terkecil
(1 kasus)

B. Penyakit 2.1. Suspect Demam Dengue
Arbovirosis 2.2. Demam Berdarah Dengue
2.3. Chikungunya
Pic : g-excess.com 2.4. Demam Kuning/ Yellow Fever
2.5. Malaria
2.6. Filariasis

Tren Kejadian Demam Dengue di Kecamatan Cilandak Minggu 1 – 19
Minggu 41 Pada Tahun 2018 dan Tahun 2019

Insiden Kasus Demam Dengue Mingguan Kecamatan Total

4.5

44 4 4

Kasus Demam Dengue 3.5

33

2.5

22

1.5

11

0.5 0 0 0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41

2018 0 1 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 2 0 0 0 2 0 0 1 2 0 0 0 0 0

2019 2 1 4 1 1 0 4 1 0 0 3 2 0 0 2 0 0 2 1 1 1 0 0 1 2 4 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Sumber : Data Rekam Medis Kunjungan Pasien Demam Dengue Per Wilayah

• Data Terkini (September) • Riwayat Data Setahun (2019)

Kasus Demam Dengue Minggu 36 Terdeteksi ada potensi KLB Demam Dengue pada Minggu 3,
– 40 di wilayah Kecamatan Minggu 7, Minggu 11, Minggu 24, Minggu 25, dan Minggu 26 di
Cilandak tidak menunjukkan wilayah Kecamatan Cilandak. Kenaikan kasus 4x lipat dibanding
potensi KLB. minggu yang sama pada tahun sebelumnya terjadi di Minggu ke 3
dan 7, serta 3x lipat pada minggu 11. Pada periode 3 minggu
berturut – turut (Minggu 24-26) terjadi kenaikan kasus 2x lipat per
minggu nya. Kasus berpola menyebar pada tiap Kelurahan.

Distribusi Wilayah dan Usia Penderita Demam Dengue Sampai September 2019 20

Distribusi Kasus dan Prevalensi Kasus Demam Dengue di
Kecamatan Cilandak Sampai September 2019

0.0600 23 25
20
0.0500 15 44% 56%
10
0.0400 5
0
0.0300 3 1 0 9 Distribusi Kasus Berdasarkan Usia
0.0200
0.0100 0.0050 0.0028 0.0217 0.0532
0.0000
LEBAK PONDOK
CILANDAK CIPETE GANDARIA BULUS LABU 8% 8% 1-4 TH
BARAT SELATAN SELATAN 17% 5-9 TH
10-14 TH
Prevalensi Kasus Kasus 25% 15-19 TH
20-44 TH
Sumber : Data Rekam Medis Kunjungan Pasien Demam Dengue Per Wilayah 25% 45-54 TH
17%
• Data Proporsi Kasus : Kasus demam dengue/Jumlah Penduduk x 100%
Sumber : Data Rekam Medis Kunjungan Pasien Demam Dengue Per Wilayah
Berdasakan data proporsi kasus demam dengue, Kelurahan Pondok
Labu merupakan wilayah tertinggi proporsi kejadian demam dengue • Distribusi Usia
(0,0532) dan Kelurahan Gandaria Selatan terendah (0).
Kelompok usia terbanyak penderita demam dengue adalah
• Data Insiden Kasus : Kasus demam dengue baru periode waktu 1 th usia produktif 20 – 44 tahun dan usia anak 10-14 tahun
(25%), usia anak sekolah dasar 5 – 9 tahun dan 15 - 19 tahun
Berdasarkan data insiden kasus, Kelurahan Pondok Labu merupakan (17%).
wilayah dengan kasus demam dengue terbanyak (23 kasus).
Sementara Kelurahan Gandaria Selatan dengan kasus demam
dengue terkecil (0 kasus).

DBD 21

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus yang ditularkan oleh nyamuk aedes aegypty.

Penyebab : Virus Dengue

Masa Inkubasi : Terdapat masa inkubasi ekstrinsik dan masa inkubasi intrinsik. Masa inkubasi ekstrinsik merupakan periode waktu
perkembangbiakan virus dalam kelenjar liur nyamuk sampai dapat menularkan pada manusia yang berkisar 8 – 10
hari. Masa inkubasi intrinsik merupakan periode waktu perkembangbiakan virus didalam tubuh manusia sejak
masuk sampai timbulnya gejala penyakit yang berkisar 4 - 6 hari

Sumber dan Cara Penularan : Sumber penularan penyakit adalah manusia dan nyamuk Aedes. Manusia tertular melalui gigitan nyamuk Aedes
yang telah terinfeksi virus dengue, sebaliknya nyamuk terinfeksi ketika menggigit manusia dalam stadium viremia.
Viremia terjadi pada satu atau dua hari sebelum awal munculnya gejala dan selama kurang lebih lima hari pertama
sejak timbulnya gejala. Terdapat 2 jenis vektor, yaitu Ae. aegypti dan Ae. albopictus. Ae. aegypti merupakan vektor
utama.

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan

• Panas tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung • Menerapkan 3M+++
• PSN rutin
selama 2 – 7 hari • Melindungi diri dari gigitan nyamuk
• Tidak ada nafsu makan
• Mual, muntah, sakit kepala, nyeri ulu hati, dan tanda –

tanda pendarahan berupa bintik merah pada kulit (petekia)
• Mimisan, perdarahan pada mukosa, perdarahan gusi atau

hematoma, melena dan hati membengkak
• Perdarahan dengan trombositopenia 100.000/µl atau

kurang
• Hemokonsentrasi atau kenaikan hematokrit lebih dari 20%

Tren Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Cilandak 22
Minggu 1 – Minggu 41 Pada Tahun 2018 dan Tahun 2019

70 Insiden Kasus DBD Per Bulan di Kecamatan Cilandak

62 65 65

60

Kasus DBD 50 46 41 43
39
19
40 14

30 22 28 29 27
2 22 19
2 21 7
20 13 14 12 9 7 5 1 10 0 13 11
14 2 7 131 3 08 2 0 09 0 3 4
46 11 9 1 2 11 0 5
10 19 25 6 2
3 5 0 1
0 11 1 131 3 3 0 27 0 12
1 7 7 13 5
2018 1 1 4 7 3
2019 14 62 1
MIN 1 21 191330 11
MAX 39 4
R ( 5 th terakhir ) 13 323300

151020

65 65 28 41 43 29

22 19 12 9 7 5

Sumber : Surveilans Dinkes DKI DBD Kecamatan Cilandak

• Data Terkini (September) • Riwayat Data Setahun (2019)

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) bulan September Terdeteksi potensi KLB Demam Berdarah Dengue pada Triwulan I, lonjakan
2019 sebanyak 0 kasus di Kecamatan Cilandak. kasus di Januari – Februari, dibanding tahun 2018 ada kenaikan 14x lipat.
Memasuki triwulan IV melihat pola kasus 5 tahun Bahkan kasus Januari melebihi 1 kasus rata – rata DBD 5 tahun terakhir. Bila
terakhir, kasus DBD cenderung menurun. Namun tiap dilihat dari max kasus lima tahun terakhir dan rata – rata kasus, DBD
wilayah perlu waspada, karena kasus DBD di tahun 2018 cenderung mengalami kenaikan di bulan Maret ke April sampai Mei.
pada triwulan terakhir tetap ada. Namun di 2019, kasus dari Maret hingga Mei cenderung menurun.

Distribusi Kasus DBD Kecamatan Cilandak s/d September 2019 23

Grafik IR DBD Banding ABJ sampai September 2019

60.00 98.6 99
50.00 98.4 98.5
40.00 98
30.00 97.5 97.5 97.5
20.00 97.1 97
10.00 96.5
15.06 47.69 7.92 12.05 30.05 96
-
PONDOK
CILANDAK CIPETE GANDARIA LEBAK LABU
BARAT SELATAN SELATAN BULUS

IR DBD ABJ

Sumber : Surveilans Dinkes DKI DBD Kecamatan Cilandak dan Silantor Cilandak

• Data Terkini (September)

Distribusi Usia Kasus DBD Kecamatan Cilandak • Berdasarkan analisa kasus, DBD sampai September, kasus tertinggi berada di Kelurahan
7% 1-4 TH
Cipete Selatan. Urutan kedua yaitu Kelurahan Pondok Labu, dan Cilandak Barat.
• Berdasarkan IR DBD, urutan IR dari yang tertinggi yaitu Kelurahan Lebak Bulus, Pondok

Labu, Cilandak Barat, Gandaria Selatan, dan Cipete Selatan.
• Untuk analisa Angka Bebas Jentik Minggu terakhir bulan September, semua wilayah ABJ

sudah diatas standar (>95%)

13% 5-9 TH • Distribusi Usia DBD 38% 62%
18% 10-14 TH
15-19 TH • Kasus DBD terbanyak pada
20% 20-44 TH kelompok usia 15 – 19 tahun (24%)

24%
18%

45-54 TH

Untuk mempertahankan IR DBD tetap aman (<49/100.000), maka tiap wilayah 24
Kelurahan harus waspada dengan jumlah kasus DBD maksimal pada tahun 2019.

Kasus DBD maksimal Per Kelurahan

29 17 20 21

18 17

16 Sudah 12 13
mencapai
14 100% kasus Sudah
mencapai
12 Sudah 61% kasus
10 9 mencapai
17% kasus 5
8 Sudah
6 mencapai 2 Sudah
4 31% kasus mencapai
25% kasus
2

0

Cilandak BaratCipete Selatan Gandaria Lebak Bulus Pondok Labu

Kasus 2019 Selatan

Kasus DBD Kecamatan Cilandak sampai September Tahun 2019

Sumber : Surveilans Dinkes DKI DBD Kecamatan Cilandak

RW Rawan DBD Sampai dengan September Tahun 2019 25

KEL RW
78
1 2 3456 9 10 11 12 13
JML
GS 1 0 0010 0 2

CS 2 4 3026 0 17

CB 1 1 1121 1 0 0 00 01 9

LB 0 0 1100 0 3 0 5
PL 1 3 4000 1 0 1 3 13
KEC 46
Sumber : Surveilans Dinkes DKI DBD Kecamatan Cilandak

Chikungunya 26

Chikungunya atau demam chik adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus chikungunya yang bersifat self limiting diseases, tidak
menyebabkan kematian dan diikuti dengan adanya imunitas didalam tubuh penderita, tetapi serangan kedua kalinya belum diketahui. Penyakit ini
cenderung menimbulkan kejadian luar biasa pada sebuah wilayah.

Penyebab : Virus Chikungya

Masa Inkubasi : Masa inkubasi penyakit 2-12 hari

Sumber dan Cara Penularan : Penularan demam chik terjadi apabila penderita yang sakit (dalam keadaan viremia) digigit oleh nyamuk penular
Aedes sp, kemudian nyamuk tersebut menggigit orang lain. Biasanya penularan terjadi dalam satu rumah, tetangga,
dan dengan cepat menyebar ke satu wilayah ( RT/RW/ dusun/desa ).

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan

• Demam mendadak • Menerapkan 3M+++
• Nyeri pada persendian dan ruam makulopapuler (kumpulan • PSN rutin
• Melindungi diri dari gigitan nyamuk
bintik-bitnik kemerahan) pada kulit yang kadang disertai

gatal
• Nyeri otot
• Sakit kepala
• Menggigil
• Kemerahan pada konjungtiva
• Pembesaran kelenjar getah bening di bagian leher
• Mual, muntah
• Pada beberapa penderita mengeluh nyeri di belakang bola

mata dan bisa terlihat mata kemerahan dan mata berair

• Data Terkini (September)

Tidak ada kasus Chikungunya di
Wilayah Kecamatan Cilandak.

Demam Kuning/ 27
Yellow Fever

Demam Kuning (Yellow Fever) adalah penyakit demam hemoragik virus akut yang ditularkan oleh nyamuk yang terinfeksi virus “Demam Kuning/
Yellow Fever”. Istilah "kuning" mengacu pada gejala ikterus yang muncul pada beberapa pasien.

Penyebab : Virus Demam Kuning

Masa Inkubasi : Masa inkubasi 3-6 hari

Sumber dan Cara Penularan : Nyamuk Aedes adalah vektor utama penyakit ini, yang membawa virus dari satu pejamu ke pejamu yang lain,
terutama antar kera, dari kera ke manusia, dan antar manusia. Beberapa spesies yang berbeda dari nyamuk
Haemogogus juga dapat menularkan virus ini.

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan

• Fase akut ; berlangsung selama 4-5 hari dengan manifestasi • Menerapkan 3M+++
: - Demam mendadak - Sakit kepala atau sakit punggung - • PSN rutin
Nyeri otot - Mual - Muntah - Mata merah (injeksio • Melindungi diri dari gigitan nyamuk
konjungtiva

• Fase beracun (toxic phase) : - Ikterus - Urine berwarna gelap
- Produksi urin menurun (oliguria) - Perdarahan dari hidung,
gusi atau pada tinja (melena) - Muntah darah
(hematemesis) - Cegukan (hiccups) - Diare - Denyut nadi
melambat dalam hubungannya dengan demam

• Data Terkini (September)

Tidak ada kasus Demam
Kuning/ Yellow Fever di Wilayah
Kecamatan Cilandak.

Malaria 28

Penyakit Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Malaria (plasmodium) bentuk aseksual yang masuk ke dalam tubuh manusia yang
ditularkan oleh nyamuk malaria (anopheles) betina (WHO, 1981) Penyakit Malaria endemis di beberapa wilayah Indonsia, Parasit Malaria yang
terbanyak ditemukan di Indonesia adalah plasmodium vivax, falcifarum atau campuran keduanya. Sementara plasmodium ovale dan malariae
hanya pernah ditemukan di Sulawesi dan Irian Jaya.

Penyebab : Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, dan Plasmodium malariae

Masa Inkubasi : Masa inkubasi pada tubuh manusia (disebut masa inkubasi intrinsik), yaitu waktu manusia digigit nyamuk yang
infected (masuknya sporozoit) sampai timbul gejala klinis/demam. kira-kira 12 hari untuk plasmodium falciparum, 15
hari untuk Plasmodium vivax, P. malariae 28 hari dan P. ovale 17 hari

Sumber dan Cara Penularan : Sumber penyakit adalah manusia yang merupakan Host intermidiate dan nyamuk anopheles betina yang terinfeksi
sebagai host definitive. Penyakit malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina yang siap menularkan
(infected) dimana sebelumnya nyamuk tersebut telah menggigit penderita malaria yang dalam darahnya
mengandung gametosit (gamet jantan dan betina).

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan

• Meniggigil (15-60 menit) • Menerapkan 3M+++
• Demam (2-6 jam) antara 37,5° - 40° C • PSN rutin
• Berkeringat (2-4 jam) • Melindungi diri dari gigitan nyamuk saat
• Sakit kepala, mual atau muntah
• Diare serta nyeri otot atau pegal – pegal pada orang dewasa bepergian ke daerah endemis malaria
• Memakai kelambu pada daerah endemis

malaria

• Data Terkini (September)

Tidak ada kasus Malaria di
Wilayah Kecamatan Cilandak.

Filariasis 29

Filariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria yang menyerang saluran dan kelenjar getah bening. Penyakit ini
dapat merusak sistem limfe, menimbulkan pembengkakan pada tangan, kaki, payudara, dan scrotum, menimbulkan cacat seumur hidup serta
stigma sosial bagi penderita dan keluarganya. Secara tidak langsung, penyakit yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk, dapat berdampak pada
penurunan produktivitas kerja penderita, beban keluarga dan menimbulkan kerugian ekonomi bagi negara yang tidak sedikit.

Penyebab : Filariasis di Indonesia disebabkan oleh 3 spesies cacing filaria yaitu, Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia
timori

Masa Inkubasi : Masa inkubasi filariasis tergantung dari jenis spesies yang menginfeksi. Pada infeksi oleh Brugia spp masa inkubasi
berlangsung selama 2 bulan, sedangkan pada spesies Wuchereria bancrofti masa inkubasi selama 5 bulan.

Sumber dan Cara Penularan : Sumber penularan Filariasis adalah nyamuk. Di Indonesia, telah teridentifikasi 23 spesies nyamuk yang menjadi
penular filariasis. Seorang dapat tertular filariasis apabila orang tersebut mendapat gigitan nyamuk infektif, yaitu
nyamuk yang mengandung larva cacing stadium 3. Pada saat nyamuk infektif menggigit manusia, larva ini akan
keluar dari probosis dan tinggal di kulit sekitar lubang gigitan nyamuk. Saat nyamuk menarik probosisnya, larva ini
akan masuk melalui luka bekas gigitan nyamuk dan bergerak menuju sistem limfe. Kepadatan nyamuk, suhu dan
kelembaban sangat berpengaruh terhadap penularan filariasis. Mobilitas penduduk dari daerah endemis filariasis ke
daerah lain atau sebaliknya, berpotensi menjadi media penyebaran filariasis antar daerah.

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan
• Menerapkan 3M+++
• Gejala Klinis Akut : Limfadenitis, limfangitis, adenolimfangitis, orkitis, • PSN rutin
epididymitis, dan funikulitis yang disertai demam, sakit kepala, rasa lemah, dan • Melindungi diri dari gigitan nyamuk saat
abses. Abses dapat pecah dan mengalami penyembuhan dengan meninggalkan bepergian ke daerah endemis malaria
jaringan parut terutama di daerah lipat paha dan ketiak • Memakai kelambu pada daerah endemis
malaria
• Gejala Klinis Kronis : terdiri dari limfedema, lymph scrotum, kiluria (urin seperti
susu), dan hidrokel. • Data Terkini (September)

• Gambaran klinis yang tampak tergantung dari cacing penyebab filariasis. Pada Tidak ada kasus Filariasis di
infeksi Brugia, pembengkakan terjadi pada kaki terdapat di bawah lutut, pada Wilayah Kecamatan Cilandak.
lengan di bawah siku. Pada infeksi Wuchereria brancrofti pembengkakan terjadi
pada seluruh kaki, seluruh lengan, scrotum, penis, vulva, vagina dan payudara.

• Penegakan diagnosis berdasarkan pemeriksaan sediaan apus tebal darah jari yang
dilakukan malam hari. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif bila ditemukan
mikrofilaria pada sediaan darah

C. Penyakit 3.1. Antrax
Zoonosis 3.2. Flu Burung/ Avian Influenza (H5N1)
3.3. Leptospirosis
Pic : g-excess.com 3.4. PES
3.5. Rabies/ GHPR

Antrax 31

Penyakit Antrax merupakan penyakit zoonosis yang menular. Penyakit Antrax merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menimbulkan
wabah, sesuai dengan undang – undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular dan Peraturan Menteri Kesehatan No.1501 Tahun
2010.

Penyebab : Bacillus anthracis terutama pada hewan memamah biak (sapi dan kambing).

Kelompok Berisiko : Pekerjaan yang berhubungan dengan peternakan, petani, pekerja tempat pemotongan hewan, dokter hewan,
pekerja pabrik yang menangani produk – produk hewan yang terkontaminasi oleh spora antraks, misalnya pabrik
tekstil, makanan ternak, pupuk, dan sebagainya.

Masa Inkubasi : Masa inkubasi penyakit Antrax adalah 1-7 hari, pada umumnya berkisar antara 2-5 hari.

Sumber dan Cara Penularan : Sumber penyakit Antrax adalah hewan ternak herbivora. Manusia terinfeksi Antrax melalui kontak dengan tanah,
hewan, produk hewan yang tercemar Antrax. Penularan juga bisa terjadi bila mengkonsumsi daging hewan yang
terinfeksi atau menghirup spora dari produk hewan yang sakit seperti kulit dan bulu.

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan
• Memasak daging secara matang
• Antrax Kulit : 90% kejadian. Gejala adanya papula pada inokulasi, rasa gatal • Mengolah daging mentah secara higienis
tanpa disertai rasa sakit, yang dalam waktu 2-3 hari membesar menjadi vesikel • Segera melaporkan petugas peternakan
berisi cairan kemerahan, kemudian haemoragik dan menjadi jaringan nekrotik apabila curiga terhadap hewan yang sakit
berbentuk ulsera yang ditutupi kerak berwarna hitam, kering yang disebut
Eschar (patognomonik). • Data Terkini (September)
Tidak ada kasus Antrax di
• Antrax Saluran Pencernaan : timbulnya rasa sakit perut hebat, mual, muntah, Wilayah Kecamatan Cilandak.
tidak nafsu makan, demam, konstipasi, gastroenteritis akut yang kadang-
kadang disertai darah, hematemesis.

• Antrax Paru – paru : Dalam waktu 2-4 hari gejala semakin berkembang dengan
gangguan respirasi berat, demam, sianosis, dispneu, stridor, keringat
berlebihan, detak jantung meningkat, nadi lemah dan cepat. Kematian
biasanya terjadi 2-3 hari setelah gejala klinis timbul.

• Antrax Meningitis : Gambaran klinisnya mirip dengan meningitis purulenta
akut yaitu demam, nyeri kepala hebat, kejang-kejang umum, penurunan
kesadaran dan kaku kuduk.

Flu Burung/ Avian 32
Influenaza (H5N1)

Flu Burung (FB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus Influenza yang ditularkan oleh unggas. Virus influenza terdiri dari beberapa
tipe, antara lain tipe A, tipe B, dan tipe C.

Batasan KLB Flu Burung adalah ditemukannya 1 (satu) Kasus Konfirmasi H5N1 pada pemeriksaan laboratorium dengan RT-PCR.

Penyebab : Virus Influenza H5N1

Masa Inkubasi : Masa inkubasi penyakit Flu Burung pada manusia rata – rata 3-5 hari (1-7 hari), meskipun belum dapat dipastikan
oleh WHO

Sumber dan Cara Penularan : Avian Influenza (H5N1) dapat menyebar dengan cepat diantara populasi unggas dengan kematian yang tinggi,
bahkan dapat menyebar antar peternakan, dan menyebar antar daerah yang luas. Penyakit ini menular ke manusia
dapat melalui,

• Kontak langsung dengan secret/ lendir atau tinja binatang yang terinfeksi melalui saluran pernafasan atau
mokusa konjungtiva (selaput lendir mata)

• Melalui udara yang tercemar virus Avian Influenza (H5N1) yang berasal dari tinja atau secret/lendir ungags atau
binatang lain yang terinfeksi dalam jarak terbatas

• Kontak dengan benda yang terkontaminasi virus Avian Influenza (H5N1).

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan

• Kasus suspect : Batuk, sakit tenggorokan, pilek, dan sesak • Menggunakan masker saat berinteraksi dengan unggas
nafas. Dengan tambahan gejala pernah ada kontak dengan • Memperhatikan kesehatan unggas
unggas sakit/mati • Segera lapor kepada petugas kesehatan dan peternakan

apabila mendapat gejala dan ditemukan unggas mati atau
sakit
• Hindari kontak tangan langsung dengan unggas mati

• Data Terkini (September)

Tidak ada kasus Flu Burung di
Wilayah Kecamatan Cilandak.

Leptospirosis 33

Leptospirosis adalah penyakit zoonosis akut disebabkan oleh bakteri Leptospira dengan spectrum penyaki yang luas dan dapat menyebabkan
kematian.

Penyebab : Bakteri Leptospira

Masa Inkubasi : Masa inkubasi penyakit Leptospirosis antara 2-30 hari ( biasanya rata – rata 7 – 10 hari

Sumber dan Cara Penularan : Manusia dapat terinfeksi Leptospirosis karena kontak secara langsung atau tidak langsung dengan urin hewan yang
terinfeksi Leptospira.

 Penularan Langsung :

• Melalui darah, urin, dan cairan tubuh lain yang mengandung kuman Leptospira masuk ke dalam tubuh
penjamu.

• Dari hewan ke hewan merupakan penyakit akibat pekerjaan, terjadi pada orang yang merawat hewan atau
menangani organ tubuh hewan misalnya pekerja potong hewan, atau seseorang yang tertular dari hewan
peliharaannya

• Dari manusia ke manusia meskipun jarang, dapat terjadi melalui hubungan seksual pada masa kovalesen atau
dari ibu hamil ke janin melalui plasenta dan air susu ibu

 Penularan Tidak Langsung :

• Terjadi melalui genangan air, sungai, danau, selokan saluran air dan lumpur yang tercemar urin hewan

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan

• Kasus suspect : Demam akut (>= 38,5°C) dengan atau • PHBS
tanpa sakit kepala hebat disertai, myalgia (pegal-pegal), • Penggunaan Alat Pelindung Diri seperti sepatu boot, sarung
malaise (lemah), dan conjunctival suffusion. Ada
riwayat kontak dengan lingkungan yang terkontaminasi tangan saat bekerja di lingkungan potensial penularan bakteri
bakteri Leptospira dalam 2 minggu sebelumnya.
Leptospira • Data Terkini (September)

Tidak ada kasus Leptospirosis di
Wilayah Kecamatan Cilandak.

PES/ Sampar 34

Penyakit Pes atau sampar merupakan penyakit zoonosa terutama pada tikus dan rodent lain dan dapat ditularkan kepada manusia. Pes pada
manusia yang pernah dikenal sebagai black death pada perang dunia II dan mengakibatkan kematian yang sangat tinggi.

Penyebab : Bakteri Yersinia pestis

Masa Inkubasi : Masa inkubasi penyakit PES tipe bubi 2-6 hari, tipe paru – paru 2-4 hari

Sumber dan Cara Penularan : Sumber penyakit Pes adalah hewan-hewan rodent (tikus,kelinci). Kucing dapat pula sebagai sumber penularan
kepada manusia. Di Amerika kecuali tikus, tupai juga merupakan sumber penularan yang penting. Ditularkan dari
tikus ke manusia, melalui gigitan pinjal yang merupakan vektor dari penyakit ini. Jenis pinjal yang dikenal sebagai
vektor penyakit pes antara lain : Xenopsylla cheopis, Culex iiritans, Neopsylla sondaica, Stivalius cognatus

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan

• Tipe Bubonik : dengan gejala demam, konstipasi, diare, • Menghindari kontak dengan penderita PES
muntah dan gejala spesifik lymphadenitis (pembesaran • Melakukan pemberantasan pinjal dengan dusting menggunakan
kelenjar getah bening di daerah ketiak dan lipat paha).
insektisida (fenithrothion) dan tepung pencampur (kaolin, gaplek)
• Tipe Pulmonik : dengan gejala malaise, sakit kepala, dengan perbandingan 1 : 20 dilakukan didalam dan diluar rumah
muntah, batuk dengan sputum yang produktif dan cair serta serta di sarang-sarang tikus
sesak nafas. • Sosialisasi terhadap petugas kesehatan, peternakan, karantina
hewan, Pemda, DPRD, Tokoh Agama (TOGA) dan Tokoh Masyarakat
• Stadium meningitis ditandai dengan gejala sakit kepala (TOMA).
hebat, kaku kuduk serta dapat berlanjut dengan kejang dan
koma.

• Data Terkini (September)

Tidak ada kasus PES/ Sampar di
Wilayah Kecamatan Cilandak.

Rabies/ GHPR 35

Penyakit rabies merupakan penyakit menular akut dari susunan syaraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Ditularkan oleh hewan penular
rabies terutama anjing, kucing dan kera melalui gigitan, aerogen, transplantasi atau kontak dengan bahan yang mengandung virus rabies pada
kulit yang lecet atau mukosa. Penyakit ini apabila sudah menunjukkan gejala klinis pada hewan dan manusia selalu diakhiri dengan kematian,
angka kematian Case Fatality Rate (CFR) mencapai 100% dengan menyerang pada semua umur dan jenis kelamin. Kekebalan alamiah pada
manusia sampai saat ini belum diketahui.

Penyebab : Virus Rabies

Masa Inkubasi : Masa inkubasi penyakit Rabies adalah 2-8 minggu

Sumber dan Cara Penularan : Sumber penyakit rabies adalah anjing (98%), kucing dan kera (2%). serta hewan liar lainnya (serigala,
raccoon/rakun, harimau, tikus, kelelawar). Cara penularan melalui gigitan dan non gigitan (aerogen, transplantasi,
kontak dengan bahan mengandung virus rabies pada kulit lecet atau mukosa).

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan
• Pembersihan luka bekas gigitan dengan sabun
Gejala Klinis Rabies terbagi menjadi 3 stadium berdasarkan diagnosa klinik:
• Stadium Prodromal, dengan gejala awal demam, malaise, nyeri tenggorokan selama 15 menit
• Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) apabila
selama beberapa hari.
• Stadium Sensoris, penderita merasa nyeri, panas disertai kesemutan pada ada risiko gigitan hewan penular rabies.

tempat bekas luka. Kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang • Data Terkini (September)
berlebihan terhadap rangsangan sensorik. Tidak ada kasus Rabies/ GHPR
• Stadium Eksitasi, tonus otot-otot dan aktivitas simpatik menjadi meninggi di Wilayah Kecamatan Cilandak.
dengan gejala hiperhidrosis, hipersalivasi, pupil dilatasi. Stadium ini mencapai
puncaknya dengan muncul macam – macam fobi seperti hidrofobi, fotofobi,
aerofobi. Tindak tanduk penderita tidak rasional dan kadang-kadang maniakal.
Pada stadium ini dapat terjadi apneu, sianosis, konvulsa dan takikardi.
• Stadium Paralyse, terjadi inkontinentia urine, paralysis flaksid di tempat gigitan,
paralyse ascendens, koma dan meninggal karena kelumpuhan otot termasuk
otot pernafasan.

D. Penyakit 4.1. Campak
yang Dapat 4.2. Difteri
4.3. Pertusis
Dicegah 4.4. Poliomyelitis
Dengan
Imunisasi
(PD3I)

Pic : g-excess.com

Campak 37

Penyakit campak adalah penyakit menular dengan gejala bercak kemerahan berbentuk makulo popular selama 3 hari atau lebih yang sebelumnya
didahului panas badan 380C atau lebih juga disertai salah satu gejala batuk pilek atau mata merah (WHO). Definisi Operasional untuk surveilans
Penyakit Campak di Indonesia adalah: adanya demam (panas), bercak kemerahan (rash), dan ditambah satu atau lebih gejala; batuk, pilek atau
mata merah (conjungtivitis) .

Penyebab : Virus golongan Paramyxoviridae (RNA) jenis Morbilivirus yang mudah mati karena panas dan cahaya

Masa Inkubasi : Masa inkubasi 7-18 hari. Rata – rata 10 hari

Sumber dan Cara Penularan : Sumber penularan adalah manusia sebagai penderita. Penularan dari orang ke orang melalui melalui percikan
ludah dan transmisi melalui udara terutama melalui batuk, bersin atau sekresi hidung. Masa penularan 4 hari
sebelum timbul rash, puncak penularan pada saat gejala awal (fase prodromal), yaitu pada 1-3 hari pertama sakit.

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan

• Demam >38°C selama 3 hari atau lebih • Imunisasi campak, saat :
• Disertai gejala batuk, pilek, mata merah atau berair Usia 9 bulan
• Gejala khas adalah koplik’s spot atau bercak putih keabuan Usia 18 bulan
Kelas 1 SD
dengan dasar merah di pipi bagian dalam (mucosa buccal) Imunisasi MMR
• Bercak kemerahan atau rash dimulai dari belakang telinga
• Menghindari kontak dengan penderita campak dengan
pada tubuh berbentuk maculopapular dan dalam beberapa menggunakan masker dan tidak menggunakan alat makan
hari (4-7 hari) menyebar ke seluruh tubuh bersama
• Selama 1 minggu sampai 1 bulan bercak kemerahan

berubah menjadi kehitaman (hiperpigmentasi) disertai kulit
bersisik
• Diagnosa banding yang menyerupai campai yaitu Rubella
yang ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening di
belakang telinga

Tren Kejadian Campak di Kecamatan Cilandak Minggu 1 – Minggu 38
41 Pada Tahun 2018 dan Tahun 2019

Insiden Kasus Campak Mingguan Kecamatan Total

7

66

5

Axis Title 4

33

22 2 22

1

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41
2018 0 1 0 2 3 1 2 1 1 1 1 2 4 4 4 0 3 0 3 2 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 2 3 1 1
2019 0 1 2 0 3 4 5 2 1 1 0 2 2 2 2 1 3 1 3 2 0 1 2 2 0 3 6 5 0 1 0 0 0 2 2 1 0 2 2 2 0

Sumber : Data Rekam Medis Kunjungan Pasien Campak Per Wilayah

• Data Terkini (September) • Riwayat Data Setahun (2019)

Kasus Campak Minggu 36 – 40 di Terdeteksi ada potensi KLB Campak pada Minggu 3 (kenaikan kasus 2x dari
wilayah Kecamatan Cilandak tidak minggu sebelumnya dan minggu yang sama pada tahun sebelumnya),
menunjukkan potensi KLB. Karena Minggu 23 (kenaikan kasus 2x dari minggu sebelumnya dan minggu yang
cenderung sama dengan jumlah sama pada tahun sebelumnya). Minggu 26 dan 27 (kenaikan kasus 2x lipat
kasus di minggu tahun selama 3 minggu berturut – turut dari periode minggu sebelumnya),
sebelumnya. Minggu 34 dan 35 (kenaikan kasus 2x lipat dari periode minggu
sebelumnya dan periode minggu yang sama di tahun sebelumnya).

Distribusi Wilayah dan Usia Penderita Campak Sampai September 2019 39

Distribusi Kasus dan Proporsi Kasus Campak
Kecamatan Cilandak Sampai September 2019

0.070 27 30 50% 50%
0.060 25
0.050 18 20
0.040 15
0.030 10 8 7 10 Distribusi Berdasarkan Usia
0.020 5
0.010 0.017 0.022 0.028 0.043 0.062 0 <1TH
0.000 1-4 TH
4% 4% 13%
CILANDAK CIPETE GANDARIA LEBAK PONDOK 6%

BARAT SELATAN SELATAN BULUS LABU

Proporsi Kasus Kasus 5-9 TH
21%
Sumber : Data Rekam Medis Kunjungan Pasien Campak Per Wilayah
10-14 TH

• Data Proporsi Kasus : Kasus campak/Jumlah Penduduk x 100% 15-19 TH
52%
Berdasakan data proporsi kasus campak, Kelurahan Pondok Labu
merupakan wilayah tertinggi proporsi kejadian campak (0,062) dan 20-44 TH
Kelurahan Cilandak Barat terendah (0,017).
Sumber : Data Rekam Medis Kunjungan Pasien Campak Per Wilayah
• Data Insiden Kasus : Kasus campak baru periode waktu 1 th
• Distribusi Usia
Berdasarkan data insiden kasus, Kelurahan Pondok Labu merupakan
wilayah dengan kasus campak terbanyak (27 kasus). Sementara Kelompok usia terbanyak penderita campak adalah usia
Kelurahan Gandaria Selatan dengan kasus campak terkecil (7 kasus). balita 1-4 tahun (52%) dan usia anak SD 5-9 tahun (21%), dan
usia <1 tahun (13%)

Difteri 40

Penyakit Difteri adalah penyakit menular akut pada tonsil, faring dan hidung kadang-kadang pada selaput mukosa dan kulit. Difteri dapat
menyerang orang yang tidak mempunyai kekebalan.

Penyebab : Bakteri Corynebacterium diphteriae

Masa Inkubasi : Masa inkubasi 2-5 hari. Masa penularan 2-4 minggu sejak masa inkubasi, sedangkan masa penularan carier bisa
sampai 6 bulan

Sumber dan Cara Penularan : Sumber penularan adalah manusia baik sebagai penderita maupun carrier. Seseorang dapat menyebarkan bakteri
melalui pernafasan droplet infection atau melalui muntahan, pada difteri kulit bisa melalui luka di tangan. Kriteria
kasus dan kontak

• Kontak kasus : Adalah orang serumah, tetangga, teman bermain, teman sekolah, termasuk guru, teman kerja.

• Carrier : Adalah orang yang tidak menunjukkan gejala klinis, tetapi hasil pemeriksaan laboratorium positif C.
Diphteriae.

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan

• Demam kurang lebih 38° C • Imunisasi
• Pseudomembran putih keabu-abuan tidak mudah lepas dan • Hindari kontak langsung dengan penderita
• Menggunakan masker
berdarah di faring, laring, atau tonsil • Tidak menggunakan alat makan bersama
• Sakit waktu menelan • Konsumsi antibiotik teratur apabila
• Leher membengkak seperti leher sapi (bullneck)
• Karena pembengkakan kelenjar leher dan sesak nafas terdiagnosa, untuk menghindari penularan

disertai bunyi (stridor)

• Data Terkini (September)

Tidak ada kasus Difteri di
Wilayah Kecamatan Cilandak.

Pertusis 41

Pertussis atau Whooping Cough (dalam bahasa Inggris), di Indonesia lebih dikenal sebagai batuk rejan adalah satu penyakit menular yang
menyerang saluran pernapasan.

Penyebab : Bakteri Bordatella pertusis

Masa Inkubasi : Masa inkubasi 7-20 hari. Rata – rata 7 – 10 hari.

Sumber dan Cara Penularan : Saat ini manusia dianggap sebagai satu-satunya pejamu. Penularan terutama melalui kontak langsung dengan
discharge selaput lendir saluran pernapasan dari orang yang terinfeksi lewat udara, kemungkinan juga penularan
terjadi melalui percikan ludah. Seringkali penyakit dibawa pulang oleh anggota saudara yang lebih tua atau orang tua
dari penderita.

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan
• Imunisasi. Untuk usia :
• Tahap kataral (bertahap 7-10 hari setelah infeksi) : Anak dibawah 7 tahun : 4 dosis DPT – HB
menyerupai flu ringan, bersin – bersin, mata berair, nafsu • Penggunaan masker saat batuk
makan berkurang, lesu, batuk (awalnya malam hari tapi jadi • Hindari kontak dengan cairan batuk penderita
sepanjang hari) • Pemberian Eritromysin kepada kontak dekat

• Tahap paroksimal (timbul 10-14 hari dari gejala awal) : • Data Terkini (September)
Batuk 5-15 kali diikuti dengan menghirup nafas dalam Tidak ada kasus Pertusis di
dengan nada tinggi, nafas normal lalu batuk kembali dengan Wilayah Kecamatan Cilandak.
yang sama. Batuk disertai lender, kadang sampai hilang
kesadaran

• Tahap Kovalesens (waktu 4-6 minggu) : Batuk dan muntah
berkurang, kadang batuk terjadi selama berbulan – bulan,
akibat iritasi saluran nafas.

Poliomyelitis 42

Poliomyelitis anterior akut adalah penyakit dengan kelumpuhan dengan kerusakan motor neuron pada cornu anterior dari sungsum tulang
belakang akibat infeksi virus. Penyakit ini telah lama dikenal oleh manusia.

Penyebab : Virus Polio

Masa Inkubasi : Masa inkubasi 3-6 hari. Kelumpuhan terjadi dalam waktu 7 – 21 hari.

Sumber dan Cara Penularan : Virus ditularkan oleh infeksi droplet dari orofaring (saliva) atau tinja penderita yng infeksius. Penularan terutama
terjadi dari penularan langsung manusia ke manusia (fekal – oral atau oral-oral) pada waktu 3 hari sebelum dan
sesudah masa prodromal.

Gambaran Klinis/ Gejala Pencegahan

• Keadaan kiri yang memendek dan mengecil, telapak kaki pada • Imunisasi
posisi equinus, yang merupakan gambaran keadaan klinik • Penularan faecal – oral, hindari kontak
lumpuh layu
langsung dengan droplet dan tinja penderita
• Lumpuh layu mendadak tanpa ruda paksa tanpa alat pelindung
• Aseptic meningitis (non paralytic poliomyelitis) akibat virus

polio tidak dapat dibedakan dengan aseptic meningitis akibat
virus lain. Anak demam, lemas, sakit otot, hiperesthesia atau
paraesthesia, mual muntah, diare, pada pemeriksaan fisik
didapatkan kaku kuduk, tanda spinal, tanda head drop tanda
Brudzinsky dan Kernig positif, perubahan refleks permukaan
dan dalam

• Data Terkini (September)

Tidak ada kasus Poliomyelitis di
Wilayah Kecamatan Cilandak.

Referensi

• Buku Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dan
Keracunan Pangan . Tahun 2017. Subdit Surveilans Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan.
Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI

©2019


Click to View FlipBook Version
Previous Book
REVISTA TOLUNA - EDIÇÃO ESPECIAL OUTUBROROSA PT
Next Book
The Grainger Society Journal, July 1994, Vol 12, No 1